MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 220 (KECURIGAAN POLISI)


__ADS_3

Polisi itu berbicara dengan nada yang penuh kecurigaan..


“Pak Dollah, kalau orang yang bapak anggap gila itu ternyata kenal dengan pemilik hotel itu, dan apabila ternyata bos kamu juga kenal dengan orang itu, bagaimana pak?”


“Kok pak Polisi bisa menyimpulkan seperti itu? memangnya apa yang dia tadi katakan?” kata Dollah


“Apa yang dia katakan kepada kami  adalah hasil investigasi sesaat saja”


“Hanya keterangan sesaat yang akhirnya kami bisa simpulkan bahwa dia mengenal baik atasan bapak”


“Meskipun kadang dia bicara yang agak aneh juga” kata petugas kepolisian itu lagi


“Maaf pak, saya tidak ada urusan dengan orang gila itu, sekarang biarkan saya kembali ke hotel untuk meneruskan pekerjaan saya”


“Sekarang apakah saya sudah boleh meninggalkan kantor polisi ini?” tanya Dollah kebingungan


“Silahkan pak” kata petugas kepolisian itu


Dollah keluar dari kantor polisi kecil itu….


“Pak Handoko….bisa kita bicara sebentar pak” tanya petugas kepolisian


“Jelas bisa pak polisi, tetapi apa lagi yang bisa saya bantu, semua yang ditanyakan tadi kan sudah saya jawab pak” kata pak Han


“Iya Benar, tetapi ada sedikit yang ingin saya tanyakan, karena bapak kan sudah tinggal di hotel itu empat hari”


“Oh gitu monggo pak…”


“Begini pak, saya sebagai petugas kepolisian sebenarnya tidak mau ikut campur urusan hotel itu, juga tentang orang yang katanya gila yang masuk ke sana”


“Tetapi karena ada satu hal yang sempat diomongkan orang gila yang mengaku bernama Suharto anak dari almarhum bapak Marwoto itu membuat saya tergelitik untuk  menanyakan beberapa hal kepada bapak”


“Apakah hotel itu tidak ada penjaga malamnya?” tanya petugas itu


“Setahu saya ada pak, namanya Tono, tetapi entah kenapa malam itu dia tidak ada di posnya” jawab pak Han


“Bapak ini yang melihat pertama kali orang itu masuk kesana, dan melaporkan orang itu kepada pak Dollah, bagaimana reaksi penanggung jawab hotel itu?”


“Begini pak polisi, saya tidak mau mengadu apa-apa tetang hotel itu kepada bapak, karena selepas masalah orang yang gila itu saya sangat kerasan ada disana”


“Meskipun penjagaan disana minim sekali. Jadi saya tidak ada masalah apapun dengan manajemen hotel”


“Ini sebenarnya ada apa pak, kena hanya karena masalah orang yang masuk ke sana kok seolah olah menjadi berbelit belit gini?” tanya pak Han


“Cukup bapak tahan saja orang itu, dan kirim ke panti sosial kan cukup, kenapa saya harus ditanya-tanya hanya karena hal sepele ini” pak Han mulai sedikit emosi


“Maaf pak Handoko. Sebenarnya masalah ini tidak semudah yang bapak pikirkan. karena ada hal yang lain yang sedang kami selidiki disini”


“Dan kebetulan kok ada orang yang dianggap gila nyelonong masuk dan ternyata mengenal bos pemilik hotel itu”


“Hal yang mustahil bagi orang gila untuk menjelaskan secara detail tentang bos pemilik hotel itu. dan cara menjelaskanya  tidak seperti orang gila yang tidak ada arah tujuan”


“Orang yang sekarang kami tahan ini ingin bertemu dengan pemilik hotel itu karena suatu sebab yang akan kami dalami lagi”


“Sedangkan bapak sudah menginap disana selama empat hari lamanya dengan menyewa dua kamar, tentu juga punya tujuan tertentu juga” kata pak Polisi itu sambil tersenyum


“Lalu bapak mencurigai saya punya maksud di hotel itu?”


“Ehhm begini pak Handoko…”


“Intuisi saya, bapak bukan tanpa sebab sampai menginap disana hingga empat hari…”


“Dan selama empat hari itu ada hal-hal yang sebelumnya tidak terjadi disana kemudian terjadi….”


“Dasarnya apa pak, kok sampek sampean bisa bilang seperti itu?” tanya pak Han


“Tadi saya juga mencari keterangan dari pak Dollah. Jadi saya crosscheck saja dengan bapak yang sudah selama empat hari disana”


“Dengan kejadian-kejadian yang terjadi disana selama bapak ada menginap disana”


“Tetapi bukan itu yang saya permasalahkan. Saya tidak permasalahkan tentang dua pompa air yang rusak secara tiba-tiba dan juga tentang bapak yang jarang tidur malam hari” kata petugas polisi yang bernama Bowo itu


“Apakah yang tadi bapak ceritakan tentang saya itu berdasarkan omongan Dollah?”


“Ya.. betul sekali pak, Dolah hanya cerita tentang apa yang saya tanyakan, tetapi saya yang mengolah sendiri jawaban Dollah hingga saya punya pikiran harus banyak tanya ke bapak”


 “Jadi ini sudah bukan lagi masalah orang gila yang masuk ke hotel lagi? disini bapak mencurigai saya melakukan tindak kejahatan disana?” tanya pak Han


“Betul dan tidak pak. Betulnya karena sudah diluar konteks orang gila. Dan tidaknya saya sama sekali tidak menuduh bapak”


“Saya hanya ingin tahu apa sebenarnya yang bapak lakukan disana” kata Bowo

__ADS_1


“Bapak ini sudah mencurigai saya sedang melakukan suatu tindakan disana gitu?”


“Bisa dikatakan seperti itu pak Han. Bapak sudah menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk tinggal disana dengan menyewa dua kamar. betul tidak pak Han?”


“Hahahaa… begini saja pak Bowo… coba pak Bowo katakan kepada saya, sebenarnya bapak ini sedang menyelidiki apa?”


Seketika wajah petugas polisi yang bernama Bowo itu berubah, dia tidak lagi nampak santai dengan pertanyaan pak Han.


Meskipun petugas polisi itu sudah terlatih, tetapi pak Han yang dasarnya bukan makhluk nyata itu tentu bisa membaca apa yang sedang dipikirkan petugas itu.


Hanya saja pak Han berusaha agar perlahan-lahan petugas itu bercerita tentang apa yang ada di pikirannya  itu.


“Maaf pak, kami tidak diperbolehkan menceritakan apa yang yang sedang kami selidiki ini” jawab Bowo


“Kalau begitu saya juga tidak berhak bercerita kepada orang lain tentang apa yang sedang saya pikir” kata pak Han


“Okelah kalau begitu, saya pamit dulu, hari sudah siang saya belum mandi dan belum makan sama sekali” kata pak Han sambil tersenyum penuh arti


“Saya anggap masalah kita ini sudah selesai pak Bowo, penyusup kan sudah bapak tangkap, pihak Hotel yang diwakili Dollah juga sudah pulang kan, jadi saya mohon pamit pak” kata pak Han


“Boleh saya antar hingga ke hotel pak” tawar petugas itu


“Oh dengan senang hati pak Bowo”


Pak Han memang sengaja, pak Han tau kalau Bowo sebenarnya ingin cerita banyak, tetapi mereka berdua sedang ada di kantor polisi, dan tidak mungkin Bowo menceritakan apapun yang mungkin dia sedang selidiki di sana.


*****


Pak Warjito menyerahkan empat …lima buah kunci kepada Ali dan Novi…


“Saya jelaskan dulu ya nak, kunci ini untuk apa saja…”


“Yang besar ini kunci gembok pintu harmonika, kemudian yang kedua ini kunci pintu harmonika, jadi agar aman pakai dua kunci. satu gembok dan sifatnya kunci pintu itu sendiri.


“Nah yang kurus ini kunci pintu kaca, kemudian yang dua ini kunci pintu kamar. jadi semua ada lima kunci ya nak” kata pak Warjito


“Baik pak, jadi semua lima kunci ya… ok pak” kata Ali


“Betul nak, semuanya lima anak kunci”


“Ya sudah pak Warjito, ini uang sewa untuk sebulan dulu, semoga kami cocok disini sehingga kami bisa sewa untuk jangka waktu setahun” kata Ali sambil menyerahkan uang satu juga rupiah kepada pak Warjito


“Brenti dulu mas, Novi mau telepon pak Tembol dulu”


“Memangnya kenapa Nov?”


“Novi tidak enak kalau harus balik ke rumah itu lagi mas, karena kita kan bukan pemilik rumah, lagian kita kan laki perempuan, takutnya penduduk sana curiga sama kita mas”


“Kok bisa lakik dan perempuan sih Nov hihihihi, kalau digerebek penduduk kampung kamu kan bisa tunjukin kuntilamu aja, aman kan hahahahah”


“Mas Ali ini lhooooo bikin Novi down aja sih mas!”


“Kita cari tempat yang santai dulu saja Nov, nanti kamu bisa telpon teman kita yang ada di  vila putih”


“Cari tempat yang santai dimana mas, di hotel gitu? kita check ini gitu ta mas?”


“Lheeee nantang ta kamu Nov, ayo kita ngadem check ini sisan heheheh”


“Terus dia kamar ngapain mas?”


“Ya bubu-bubuk siang aja Nov, sambil icik icik fu fu fu … pokoke kamu jangan keluarkan senjata andalanmu ae heheheh”


“Aku akan berusaha berpikir kamu ini perempuan wis hihihihi” kata Ali


“Mosok cuma bubuk-bubuk tok mas, rugilah, ya paling tidak kita ngapain gitu lho mas, mumpung tidak ada anak-anak lainya hehehe” Novi mulai kumat


“Kasih ide dong Nov, aku buntu lho iki”


“Gimana nek kita sedot sedotan mas heheheh”


“Ndasmu c*K!”


Ali mengarahkan motor ke sebuah warung soto, yang letaknya tidak jauh dari toko Gemezzz.


Keadaan warung soto ini sepi, sehingga Ali dan Novi lebih santai ngobrol..


“Mas, Novi mau telepon pak Tembol dulu ya….”


Novi kemudian menghubungi ponsel yang dibawa oleh Saeful.


“Assalamualaikum mas Saeful hehehehe, lagi ada di mana ini mas?”

__ADS_1


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh… kami lagi ada di vila putih mbak, keadaan aman terkendali mbak. Mbak Novi mau bicara sama pak Tembol kan?”


“Ih mas Saeful ini lho, Nov kan pengen bicara sama mas Saeful sebenarnya……”


“Halooo gimana nak Novi… ini saya pak Tembol” sahut suara di seberang


“Aduuuh mas Saeful ini gimana sih pak heheheh, belum juga ngomong mau bicara sama siapa kok langsung dikasihkan ke pak Tembol sih hehehe”


“Yah  begitulah nak Saeful nak Novi dia itu paling cocok kalau dijadikan suami heheheh” jawab pak Tembol


“Bagaimana nak Novi, ada yang mau dibicarakan dengan saya?”


“Iya pak… Novi sama mas ALi sudah kontrak toko  Gemezzz pak, jadi besok kita bisa masuk ke sana”


“Sip mbak Novi, ya sudah sampai ketemu lagi ya…”


“Eh sebentar pak, Novi dan mas Ali ini kan tidak mungkin lah ke rumah mbah Putrinya mas Dogel, karena kita kan bukan pemilik rumah, lagi pula nanti Novi takut digrebek pak”


“Terus maksudnya nak Novi gimana, mau ijin nyewa kamar hotel sambil menunggu kita sampai ke Mjkt… gitu?” tanya pak Tembol


“Ya nggak gitu pak, Novi sama mas Ali mau ke vila putih… gimana pak?”


“Ndak usah nak Novi, terlalu jauh kalau ke sini, mending nak Novi dan nak Ali nyewa losmen saja hehehe,  tunggu kami datang ke sana ok heheheh”


“Pokonya nak Novi jangan ngapa ngapain mas Ali lho ya hehehe”


“Ih memangnya Novi ini apaan sih pak, yang jelas mas Ali yang bakal ngapa-ngapain Novi pak heheheh”


*****


Pak polisi yang bernama Wibowo Pramono itu mengantar pak Han menuju ke hotel Asri, mereka ada di mobil patroli.


“Pak Bowo..mending kita cari makan dulu saja, sekalian pak Bowo ceritakan kepada saya apa yang pak Bowo selidiki di sana”


“Memangnya pak Han tau apa yang sedang saya selidiki?” tanya pak Bowo keheranan


“Dari nada bicara pak Bowo dari tadi ketika mulai meminta keterangan dari saya, pak Bowo ini sedang  menyelidiki sebuah kasus yang agak berat ya?”


“Saya yakin pak Bowo sedang menyelidiki Hotel Asri kan, betul tidak”


Pak Bowo menghela nafas dan kemudian diam…


“Ya sudah… cari makan dulu saja bagaimana pak Handoko, saya tau tempat yang makanannya enak dan nyaman untuk digunakan ngobrol”


Mobil diarahkan pak Bowo sedikit ke arah turun, setelah beberapa menit kemudian di sebuah depot sate kambing pak Bowo berhentikan mobilnya.


“Yuk pak kita makan siang dulu, sekalian kita ngobrol yang enak”


Setelah memesan makanan dan duduk dengan santai di tempat yang agak sedikit menjauh dari pelanggan lainya…


“Ok pak Handoko, akan saya katakan kenapa saya begitu tertarik dengan apa yang terjadi di hotel Asri. Tetapi saya hanya akan cerita secara garis besar saja”


“Saya sebenarnya dinas di kota S, pada saat itu team kami sedang menyelidiki adanya beberapa kasus orang hilang tiba-tiba, setelah dua minggu penyelidikan, ternyata mengerucut ke hotel Asri”


“Ada laporan orang hilang, setelah diselidiki ternyata keluarga yang kehilangan salah satu anggota keluarganya pernah bermalam di hotel Asri ini”


“Tetapi jarak hilangnya anggota keluarga dengan waktu mereka menginap di Asri tidak ada yang sama”


“Dan anehnya rata-rata mereka tidak pernah merasa kehilangan, hingga keluarga jauh mereka yang menanyakan tentang keluarganya yang hilang itu”


“Kemudian saya ditugaskan di polsek disini pak, agar saya mudah memantau apa yang terjadi disini”


“Sudah berapa lama pak Bowo ada disini?” tanya pak Han


“Saya baru beberapa hari ini pak, kemudian tadi pagi ada laporan orang gila itu”


“Heheheh, Saya atau kami ada di hotel itu juga karena suatu sebab yang terjadi masa lampau. Sampeyan pasti tidak akan percaya apabila saya jelaskan pak” kata pak Han


“Bukanya tadi orang yang kami tahan juga bicara tentang masa lalu pak” kata pak Bowo dengan keheranan


“Yah memang… tetapi yang mengalami itu bukan saya, melainkan teman teman saya. Ceritanya sangat panjang pak, lebih baik bapak Fokus yang masa sekarang saja” kata pak Han


“Untuk bapak ketahui yang bapak lawan ini bukan manusia, bahkan yang bapak tahan  yang bernama Suharto itu dalamnya sudah bukan disusupi arwah pada masa lalu yang bernama mbok Ginten”


“Ingat waktu dia teriak-teriak, bahwa nama dia adalah mbok Ginten kan”


Pak Bowo hanya diam saja ketika pak Han mulai bercerita tentang siapa yang jadi lawannya itu,


“Saya tidak paham sama sekali pak” kata pak Bowo.


“Begini saja, coba jelaskan tidak usah detail, jelaskan secara global saja, bagaimana kok tiba-tiba pak Bowo kok mencurigai pemilik hotel Asri yang dulunya bernama hotel Waji?”

__ADS_1


__ADS_2