
"Pak tembol memang rela menyerahkan nyawanya demi membunuh Dimas yang masih memiliki energi penghabisan"
"Tetapi tidak dengan Mak Nyat Mani, beliau benar-benar menolak dengan tegas ide dari Pak Pho dan pak Tembol" lanjut Supardi sambil meminum teh hangatnya.
"Fiuuuhhh saya pikir pak Tembol mati mas hehehe, kami sampek kaget, terus gimana lanjutanya mas" tanya Broni dengan tidak sabar
"Kata bapak saya, Mak Nyat Mani kemudian menghubungi Soebroto, dia meminta bantuan Soebroto. Kemudian setelah itu bapak saya tidak tau apa yang terjadi karena Mak Nyat Mani dan Soebroto masuk kembali ke ruangan yang ada Dimasnya"
Supardi kemudian berdiri dan menuju ke dapur untuk mengambil sebuah kaleng kue yang berisi krupuk dan peyek. Dia menyuruh kedelapan anak-anak itu untuk memakannya.
"Ayo sambil denger cerita saya, ini ada krupuk dan peyek. Enak kok ini, bikinan istri saya sendiri hehehe"
"Saya lanjutkan ya. Apa yang diceritakan bapak saya kepada saya, dan kemudian saya ceritakan kepada kalian ini tanpa saya kurangi atau tambahi, karena kalian memang perlu tau sejarahnya"
"Jadi setelah kedua orang itu masuk kembali ke ruangan yang terdapat Dimas, bapa saya termasuk pak Tembol yang di dalamnya masih ada arwah orang china itu hanya bisa menunggu kabar dari Soebroto dan Mak Nyat Mani"
"Cukup lama juga mereka ada di dalam untuk menghabisi setan yang ada didalam Dimas, hingga beberapa belas menit kemudian dua orang itu datang dengan wajah tersenyum"
"Sudah mati sampai akar-akarnya, begitu mereka berdua ngomong kepada bapaku dan orang-orang ada disana"
"Kemudian Mak Nyat Mani menawarkan kembali kepada pak Tembol untuk balik ke zaman dia, tetapi untuk saat ini pak Tembol tidak menolak tawaran Mak Nyat Mani"
"Seperti kalian juga, tubuh pak Tembol berasap dan kemudian hilang secara perlahan-lahan setelah dia berpamitan kepada orang-orang yang ada di sana dan setelah arwah orng china itu keluar dari tubuh pak Tembol"
"Jadi pak Tembol masih hidup ya mas" tanya Ukik
"Kalau dilihat dari cerita bapak saya, ya jelas masih hidup mas, hanya saja bapak saya tidak tau dimana pak Tembol muncul nya heheheh"
"Mau saya lanjutkan tidak ceritanya heheheh" tanya Supardi.
"Setelah pak Tembol dan kalian pergi dari sana, kemudian Soebroto dan Mak Mak Nyat Mani menyuruh bapak saya untuk mengantar pulang kelima orang yang berasal dari rumah sakit itu"
"Tapi sebelumnya Soebroto memanggil bapak saya, secara personal dia berkata bahwa dia berterima kasih kepada bapak saya atas ikut sertanya bapak saya dalam usaha yang mengerikan ini"
"Kemudian Soebroto bilang kepada bapak saya untuk mendirikan rumah di sebelah rumah putih ini, dan juga bapak saya besok harinya disuruh menuju ke batu raksasa yang ada di jurang bawah"
"Kata Soebroto di sana ada sesuatu untuk bapak saya sebagai ucapan terima kasih. Soebroto berbicara kepada bapak saya agak jauh dari orang-orang yang ada di sana, agar tidak ada yang mendengar omongan Soebroto"
__ADS_1
"Hari itu juga bapak saya mengantarkan kelima orang yang keadaanya lusuh ke rumah saki, dan setelah itu bapak saya sudah tidak bisa masuk ke ruangan bawah tanah itu lagi"
"Besoknya dia mencari apa yang dikatakan Soebroto kepada bapak saya. Ternyata di sebelah batu besar itu ada sebuah kotak dari bahan kayu, ketika dibuka isinya adalah uang Gulden dengan jumlah yang banyak"
"Nah kemudian bapak saya menikah dengan seorang perempuan yang merupakan ibu kandung saya hehehe, kemudian dia membangun sebuah rumah di sebelah rumah putih ini"
"Setelah bapak meninggal, ibu saya ikut dengan keluarga saya pindah ke kota Sby. Di sana kami buka warung kecil-kecilan yang cukup untuk menghidupi kami sekeluarga"
"Selama tinggal disini hingga saya tumbuh remaja, bapak belum sekalipun cerita tentang kalian, baru setelah saya dewasa, bapak mulai bercerita tentang rumah sebelah ini dan tentang kalian"
"Kemudian setelah bapak saya sakit, dia semakin getol dan bolak-balik bercerita kepada saya tentang kalian, cerita yang itu itu juga yang diceritakan, hingga saya hapal semuanya hahahah"
"Sebelum dia meninggal dia minta agar dokar ini dipajang di depan rumah, dan dia minta agar dikuburkan di sebelah dokar kesayangannya"
"Beberapa bulan setelah beliau meninggal, saya menjual sebagian uang Gulden pemberian bapak untuk membeli rumah di sby, dan kemudian saya, ibu saya, dan istri saya pindah ke sana"
"Pesan bapak, saya harus ada disini karena suatu saat ada yang akan datang dan mencari bapak saya, dan orang yang akan datang itu akan lihat dokar bapak saya yang dipajang di halaman depan"
"Dan setelah bertahun tahun, kalian baru datang hari ini heheheh"
"Terima kasih atas cerita yang benar-benar kami harapkan ini mas. Sekarang kami akan jelaskan alasan kami kesini, ke vila itu mas. Karena ada suatu hal yang harus diselesaikan di sana" kata Ali
Kemudian Ali dan ketujuh orang itu bercerita tentang apa yang mereka alami beberapa hari ini yang mengakibatkan mereka harus kembali lagi ke vila itu. Serta mereka ke sana untuk mencari pak Tembol, tapi yang ditemui malah wong edan.
"Oh begitu jadi kalian ini serempak diberi tanda untuk datang kembali kesini gitu?" tanya Supardi
"Tidak semua mas, hanya yang sudah bertanda tangan cap jempol darah saja yang didatangi oleh sosok hitam yang mengerikan, macam saya, Dani, Novi, Tifano, Ukik, Ali dan satu lagi pak Tembol"
"Kalau Wildan dan Gilank ini tidak, karena mereka pada waktu itu berupa hantu kan, kalau Broni ini pada waktu itu sedang kerja di vila putih itu bersama Rochman sebagi buruh bangunan" jawab Dani
Setelah lama juga mereka istirahat di rumah Supardi, mereka kemudian pamit untuk pulang ke Sby, setelah mereka tidak berhasil menemukan pak Tembol disana.
Memang tujuan mereka ke vila itu untuk mencari pak Tembol untuk diajak menuju ke proyek desa sebelah tempat pak Tembol mengubur kotak yang berisi uang dan kepemilikan rumah putih.
Mereka keluar dari rumah Supardi untuk menuju ke mobil Novi yang diparkir tidak jauh dari sana. Kedelapan orang ini tidak sadar bahwa ada satu orang yang sedang berjalan menuju ke rumah putih.
Setelah berbasa basi dengan Supardi dengan menanyakan kapan dia akan pulang dan mengajak Supardi untuk bareng ke Sby, akhirnya mereka berjalan menuju mobil Novi.
__ADS_1
"Bener nih mas Supardi ndak mau bareng ke Sby" tanya Ukik sekali lagi menawari Supardi
"Ndak usah dan terimakasih mas, saya mungkin besok pagi saja baliknya mas" jawab Supardi
Ketika kedelapan orang itu berjalan ke arah mobil Novi yang diparkir di depan pintu gerbang vila, tiba-tiba ada seseorang yang berjalan dari arah Gebang, orang itu terlihat letih dan dan terengah-engah.
Kedelapan orang itu awalnya tidak memperdulikan orang yang sedang jalan menuju ke arah mereka, karena mereka pikir orang itu adalah penduduk setempat yang sedang mencari rumput untuk pakan ternaknya.
Tetapi ketika orang itu sampai di dekat mobil Novi, tiba-tiba orang itu berhenti.
"Maaf saya mau tanya mas, apakah betul ini rumah putih" tanya orang itu dengan keringat yang membasahi tubuhnya sambil menunjuk ke vila putih
"Iya betul pak, bapak cari siapa?" kata Novi dengan ramah sambil memberikan satu buah botol air mineral yang masih belum dibuka yang dia ambil dari dalam mobilnya.
Setelah laki-laki itu meneguk dan menghabiskan air mineral yang diberi oleh Novi, kemudian laki-laki itu menjelaskan akan alasan dia ke rumah itu.
Tidak lama kemudian Supardi datang karena ingin tau apa yang sedang terjadi disitu.
"Nama saya Kaswadi, asal saya dari Pct, saya kesini karena disuruh mbah Wo yang ada di desa Bs mas" kata Kaswadi dengan tergesa gesa
"Desa Bs katamu pak, gini aja pak tolong ceritakan pelan-pelan pak, kok aneh bapak mau cari rumah putih ini" kata Ali
Kaswadi pun menceritakan apa saja yang dia alami selama ini, semua dia ceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Cerita Kaswadi itu membuat heran dan geram kedelapan orang itu, karena kotak itu hilang.
"Kemudian saya tadi ke desa Bs untuk mencari tetua disana, untuk saya tanyakan tentang sejarah desa yang sekarang sudah diratakan oleh alat berat itu mas"
"Di sana saya ketemu dengan mbah Wo, eh namanya itu Marwoto mas, beliau menyuruh saya kesini, katanya disini ada orang yang akan membantu saya" kata Kaswadi mengakhiri ceritanya
Sontak kedelapan remaja plus Supardi kaget mendengar cerita orang itu. Plus yang makin bikin kaget, ternyata orang ini habis dari rumah Marwoto yang sekarang masih hidup dan sudah menjadi mbah-mbah.
"Sebentar pak Kaswadi, jadi kotak yang berisi uang dan tiga buah surat bertuliskan huruf mandarin itu sekarang hilang dicuri, kemudian bapak diteror dan diludahi oleh nenek-nenek yang suka meludah, kemudian sampeyan ketemu sama Marwoto?" tanya Wildan
"I..iya benar mas" jawab Kaswadi heran
"Kotak itu berisi dua gulung uang Gulden dan tiga lebar kertas yang mirip kain dan penuh dengan coretan dan ada tanda darah keringnya?" tanya Ukik
"Iya mas, betul seperti itu m..mas" jawab Kaswadi makin heran dengan perkataan kedelapan remaja yang ada di sana.
__ADS_1