MISTERI DUA PENGINAPAN

MISTERI DUA PENGINAPAN
BAB 29 (MENCARI KEBERADAAN TRIMO)


__ADS_3

"Yang harus kalian lakukan sekarang ada adalah mencari keberadaan Trimo, kemudian baru kalian akan tau apa yang di inginkan oleh ghaib yang mendatangi kalian dan pak Kaswadi" kata Suharto


"Karena semua itu berawal dari benda yang diambil oleh pak Kaswadi, dan kemudian benda itu dicuri oleh Trimo" kata Suharto


"Pak Kaswadi, saya mau tanya, ketika untuk pertama kalinya kotak itu nginep di rumah bapak, apakah ada ghaib yang mendatangi bapak?"


"Ada pak. Bahkan ada beberapa buruh tempat kerja saya yang kesurupan hingga kemudian saya dihantam oleh benda keras yang mengakibatkan saya gak sadar pak" jawab Kaswadi


"Berarti ketika benda itu sampeyan ambil, dan sampeyan bawa pulang melewati atau keluar dari pekarangan rumah tempat benda itu ditanam, kemudian baru muncul kejadian aneh-aneh?"


"Iya pak, yakinlah sumpah pak" jawab Kaswadi atas pertanyaan Suharto


"Berarti di sekitar rumah tempat barang itu dikubur ada pelindungnya, atau ada pagarnya atau ada ghaib yang sengaja melindunginya" kata Suharto sambil melihat bapaknya


"Eh pak To saya mau tanya sesuatu. Waktu kami sudah dikirim ke masa depan, lalu bagaimana dengan nasib mbok Ginten, pak The kee pho dan Misnah pak. Bukanya mereka itu ghaib pak?"


"Waktu kalian sudah pergi, kemudian Mak Nyat Mani dan Soebroto meninggalkan ruang bawah tanah, setelah itu Mbok Ginten dan Kee pho beserta Misnah keluar untuk mengecek segala sesuatunya"


"Sementara saya, ibu saya, Yu Jipah, dan Suparmi tetap ada di dalam situ menunggu kedatangan mereka bertiga, tapi kan saya tidak tau mengenai kotak besi itu mas. Pokoknya yang saya tahu keadaan aman, kemudian keluarga mempersiapkan pernikahan secepatnya"


"Tetapi tadi menurut ceritamu Kaswadi, katanya kamu dipaksa menelan ludah dari nenek-nenek yang suka meludah ya. Dia adalah Juriah, apa yang sebenarnya Juriah inginkan, dia ngomong apa sama kamu" kata mbah Wo atau pak Woto


"Mbok Ju dan Widodo harusnya tidak mengincar kotak itu, karena dia kan tidak memerlukan kotak itu, waktu itu dia mengincar kotak itu karena diiming-imingi hidup abadi oleh Dimas kan" kata Broni


"Tapi setelah Dimas mati dan pak Woto menikah dengan ibu Suparmi harusnya semua sudah selesai, lalu apa lagi yang dikejar oleh Juriah?" tanya Ali


"Saya tidak tau mas, memang ada baiknya kalian mencari mbok Ginten, pak Pho dan Misnah, harusnya mereka ada di rumah putih itu, kecuali mereka sudah selesai di dunia dan berangkat ke alam damai" kata mbah Wo.


"Pak Kaswadi, setelah bapak menelan cairan, apa yang sekarang bapak rasakan, apakah ada perubahan di dalam tubuh bapak atau bagaimana gitu?" tanya Suharto


"Yang saya rasakan, saya sekarang bisa melihat mahluk ghaib pak, dan bisa mendengar suara-suara mereka" Jawab Kaswadi


Ketika baru saja Kaswadi menjawab pertanyaan Suharto, tiba-tiba ponsel yang dibawa Kaswadi berbunyi. Ada nada panggil di ponsel yang sedang dikantongi Kaswadi.


"Maaf... maaf istri saya menelpon, saya ijin angkat telepon dulu" kata Kaswadi sambil malihat layar ponselnya, dan kemudian menjawab panggilan itu.


"Disini saja, jangan diluar, ndak enak sama tetangga" kata mbah Wo ketika melihat Kaswadi berdiri dan akan menuju keluar rumah untuk menjawb panggilan telepon


"Ada apa bu....iyaaa..iya, ini sama tetua disini aku bu, iyaaa. Di sms saja alamtnya bu, ya wis. makasih" Kaswadi menutup ponselnya


"Tadi itu istri saya ngabari kalau saudarnya berhasil mendapatkan alamat baru Trimo yang ada di sby, sebentar lagi istri saya akan sms alamatnya" kata Kaswadi dengan wajah yang berbinar


"Kalau begitu setelah makan malam, kalian segera saja berangkat, semakin cepat menemukan kotak itu semakin baik" kata mbah Wo

__ADS_1


Suharto kemudian masuk ke ruang tengah, dia memanggil istrinya untuk menyiapkan makan malam bagi mereka semua. Dan setelah mereka makam malam, rencananya mereka akan mencari alamat Trimo yang ada di Sby.


Berarti memakan waktu sekitar 2-3 jam dari daerah sini sampai ke kota Sby. Tiba-tiba ada bunyi sms yang bersal dari ponsel jadulnya Kaswadi.


Nggl Jy sltn.... begitu yang tertulis di ponsel jadul Kaswadi.


"Aku eruh alamat ini rek" kata Wildan


"Ayo kita makan malam, setelah makan malam kalian segera cari alamat itu dan secepatnya bawa kesini kotak itu, kotak itu akan lebih aman ada disini. Tapi nanti setelah makan kalian duduk dulu di sini, saya akan buka kalian agar bisa melihat ghaib lagi"


"Iya pak Wo, kami sekarang sudah tidak bisa melihat mahluk tak kasat mata lagi heheheh" kata Tifano


"Ya sudah, kalian makan dulu saja sekarang" suruh mbah Wo


Mereka makan dengan lahap seolah mereka sedang melupakan apa yang terjadi dengan mereka saat ini. Tpi memang sial bener keluarga mbah Wo kedatangan delapan orang begundal penguras makanan ini, makanan itu habis bersih tidak tersisa lagi.


"Ayoo jangan leyeh-leyeh, masih ada yang harus kalian kerjakan rek hehehe" kata mbah Wo ketika melihat ketujuh laki-laki plus Kaswadi itu yang sedang tiduran duduk santai di lantai ruang tamu karenan kekenyangan, sedangkan Novi membantu mantu mbah Wo bersih-bersih piring dan gelas kotor


"Sekarang kalian duduk bersila, akan saya buka mata ketiga kalian seperti dahulu kala, agar kalian bisa waspada dalam mencari kotak besi itu. Ingat kalian belum tau siapa lawan kalian kan, tapi yang pasti kalian sedang menghadapi sesuatu yang tidak kasat mata"


Mereka duduk bersila, satu persatu mata ketiga mereka dibuka oleh mbah Wo, kejadian seperti ini kayaknya sama ketika mereka dibuka oleh pak Tembol waktu di dasar jurang heheh, waktu Gilank mati itu.


Tidak sampai sepuluh menit kegiatan membuka mata ketiga mereka sudah selesai, termasuk si Novi juga, kecuali Kaswadi yang sudah bisa melihat hal Ghaib karena menelan ludah mbok Ju.


"Jelas berbahaya! kamu bisa mati tiba-tiba kalau melawan permintaan nenek-nenek itu, tetapi kamu akan selamat dan tidak akan terasa apa-apa kalau kamu dekat dengan mereka" jawab mbah Wo sambil menunjuk ke arah delapan remaja sontoloyo itu.


Mbah Marwoto ini juga sontoloyo, dia kelihatanya sengaja menakut nakuti Kaswadi agar Kaswadi menurut dan tidak melakukan hal aneh-aneh dan selalu terbuka menyampaikan informasi kepada delapan remaja Sutopo itu.


"Pak Wo, mas Suharto , dik syantik dan mbak menik( mantu pak Woto) kami mohon diri dulu,dan terimakasih atas sajianya yang luar biasa enak itu"


Mereka semua berpamitan dan tidak lupa salim tangan kepada mbah Woto.


"Hati-hati dijalan, ingat ojo ngebut, tugas kalian belum selesai, jangan mati dulu ya heheheh" kata pak Marwoto


"Eh mas, bisa minta no ponsel kalian mas. Mungkin nanti bapak mau memberikan instruksi kepada kalian mas" kata Suharto


"Oh iyoo yo, lali aku. Tadi saya juga mau minta nomor ponsel keluarga sini, tetap kok lupa, untung mas Suharto ngingatkan heheheh" kata Ali


Setalah Ali , WIldan , dan Dani memberikan nomor ponsel mereka kepada Suharto anak pak Marwoto, mereka pun pergi meninggalkan desa ini.


*****


Pukul 19.01 mobil mulai jalan menuju ke sby, perjalanan kali ini mereka membawa misi untuk menemui Trimo adik dari istri Kaswadi.

__ADS_1


Setelah dua setengah jam perjalanan yang mendebarkan, kerena Dani membawa mobil dengan gaya pembalap internasional, dan kadang disertai dengan teriakan kecil Novi dan doa-doa dari Kaswadi.


"Kita langsung ke kosan dia aja Li, soale ini sudah jam 21.00 an " tanya Dani


"Langsung saja Dan, kita harus segera menemui Trimo, aku takut kalau kita terlambat rek" kata Ukik


Mobil masuk ke komplek perumahan yang lumayan lawas tapi lumayan bagus, disini memang banyak rumah yang dikoskan, dan rata-rata harga kos disini diatas 1,5 juta karena ada fasilitas pendingin udaranya.


"Itu sebelah kanan nomor 50 rek, kos kosan mewah keliatanya rek" kata Gilank


"tapi ini kan sudah malam rek, lalu gimana kita masuk ke kamar dia atau gimana caranya cari Trimo?" tanya Tifano


"Ya tinggal gedor dan tanya ada yang namanya Trimo ae kan beres Tif heheheh" kata Broni


"Jangan turun semua, aku sama Wildan saja yang turun biar ndak mencurigakan, kalian tunggu di dalam mobil saja" kata Ali


Mobil mereka parkir di pinggir jalan kosan. Kemudian Ali dan Wildan turun dari mobil. Mereka nekat dan mengambil resiko untuk bertemu dengan Trimo. Tapi kita lihat saja apa yang akan terjadi berikut ini hehehe.


"Itu ada bel di pagarnya Wil, kita bel saja dan pasti nanti yang keluar adalah penjaga kosan, kosan sebesar dan semewah ini gak mungkin gak ada penjaganya" kata Ali


"Iyo Li, apalagi pasti mereka penghuni kosan rata-rata pada bawa mobil ya" kata Wildan yang sedang mengintip melalui celah-celah pagar


Beberapa kali Ali memencet bel yang terpasang disamping pagar, tidak lama kemudian langkah kaki yang berjalan mendekati pintu pagar.


Pintu pagar kosan terbuka, seorang laki-laki yang mungkin berusia sekitar 30 tahunan keluar dari balik pagar.


"Cari siapa mas?" tanyanya dengan ogah-ogahan


"Kami cari pak Trimo yang kos disini mas" jawab Ali


"Oh masuk aja mas, kamarnya sudah tau kan?" tanya laki laki itu lagi


"Maaf mas kami tidak tau, kami dari pct, dari kakakya Trimo mas. Bisa antar kami ke kamarnya mas?" kata Wildan


"Oh ya sudah, ayo ikut saya" kata laki-laki penjaga pintu itu


Pintu gerbang kosan dibuka lebih lebar agar mereka bisa masuk ke dalam, ternyata di dalam ini adalah parkiran mobil para penyewa kosan. Mereka berdua mengikuti langkah Panjaga kos, kemudian mereka naik tangga menuju ke lantai dua.


Beberapa saat kemudian mereka berhenti di kamar nomor 15.


"Ini kamarnya mas, saya tunggu dibawah saja ya" kata penjaga Kosan itu


"Ndak usah mas, sampeyan tunggu disini saja, kami cuma sebentar kok. Kami ndak enak sama penghuni lain kalau tidak mas temani disini" kata Ali.

__ADS_1


__ADS_2