
Gilank terkapar dalam keadaan tidak sadar, dia terkena pukulan demit, yah lebih tepatnya dia terkena sabetan kuntila dari demit yang ada di terowongan.
Setelah menyabet Gilank, Demit itu dihajar oleh pak Handoko, sehingga yang ada sekarang tinggal Gilank yang terkapar pingsan.
“Mas Gilank terkena sabetan kuntila berduri milik Demit yang sudah saya binasakan itu. Sekarang dia pingsan, kalau seandainya mas Gilank mempunyai daya tahan tubuh yang kuat dia pasti tidak akan lama pingsannya” kata pak Handoko
“Kita tidak bisa meninggalkan dia disini pak, bagaimana kalau kita gotong dia pak” tanya Wildan
“Gilank iki rek, dari jaman dulu bersama pak Tembol selalu bikin ulah, dan dari ulah itu dia kemudian mendapatkan masalah huuufffff” kata Broni
Pak Handoko memegang dahi Gilank yang nampak Nggilani itu, pak Handoko memeriksa keadaan tubuh Gilank yang sekarang dalam keadaan pingsan.
“Iiiih pak Han, apa ndak jijik megang kepala dia pak, Novi litany aja jijik pak hiiiii” kata Novi
“Hehehehe ndaklah mbak Novi, mas Gilank kan butuh pertolongan kita mbak, masak kita biarkan saja dia pingsan mbak” jawab pak Handoko
“Hmmm keadaaan dia sih tidak apa-apa, hanya saja nanti ketika dia bangun mungkin ada sebagian dari organ tubuhnya yang kemungkinan untuk sementara waktu tidak bisa berfungsi atau mati rasa akibat sabetan dari khemaluan berduri milik demit yang tadi sudah saya bunuh itu mas”
“Lebih baik kita tunggu dulu saja hingga Gilank sadar pak” kata Ali
Akhirnya mereka semua menunggu hingga Gilank si pembuat onar itu sadar dari pingsannya, meskipun disitu keadaanya panas dan banyak mahluk tak kasat mata yang berkeliaran siap membuat masalah dengan mereka.
“Uuughhh khita dhimanhaa rhek?” tanya suara lemah yang berasal dari mulut Gilank
“Adhaa aphaa dhenghan khuu rheek” tanyanya lagi dengan suara dan intonasi kalimat yang aneh hehehehe
Mereka yang ada disana hanya bisa diam dan heran dengan keadaan Gilank yang petot, separuh tubuh Gilank mati rasa termasuk bibir, kuntila, dan salah satu telornya heheheh.
“Khenapha thubuh bhaghian khiriku thidhak bhisa di gherhakan prrrtttt rhek?”
“Wakakaka ikulah akibat dari bermain–main dengan demit disini, yawis rasakno aelah petot badanmu bagian kiri wakakakakak” teriak Broni
“Jhanchuukh pprrttttss khunthilaku prrrttss ghak kherashaaa rheek prrrtttt” kata Gilank lagi
“Hahahahaah liaten ta Kuntilamu iku lagi ngatjeng wahahahah, mosok gak terasa sih lank” kata Tifano
“Prrrtttsss, ghak prrttts, akhu ghimana prrrrtsss ihni” kata Gilank dengan suara memelas
“Sudahlah mas Gilank, biar Novi jelaskan ya mas, sekarang yang terjadi adalah tubuh bagian kiri mas GIlank itu mati rasa, termasuk telor dan kuntila mas gilank yang sedang Ngatjeng itu mas, jadi ya anggap saja ini kayak dulu mas, tapi dulu kan mas Gilank mati, kalau sekarang mas Gilank kan hidup hihihihi” kata Novi
__ADS_1
“Mas Gilank masih bisa jalan kan mas, itu hanya sementara saja kok mas, dengan usaha dan latihan keras semua akan kembali seperti semula mas, intinya mas Gilank ini seperti orang yang kena Stroke ringan mas . Makanya turuti kata saya mas hihihi” kata pak Handoko
“Bhisa phak, thaphi phelhan-phelhan prrrrtttsssss” jawab Gilank dengan suara yang aneh
“Mas Saeful ndak komentar dengan keadaan Gilank mas?” tanya Wildan
“Ndak mas Wildan, biar saja yang bersalah akan mendapat azab sesuai dengan yang dijalaninya, makanya kita harus selalu bertindak dan jalan di jalan yang diridhoi oleh Allah SWT mas” jawab Saeful dengan baik dan benar hihihi
“Jadi sudah ya, kita bisa lanjutkan jalan ya, untuk mas Gilank usahakan bererak dengan normal mas, karena itu akan mempercepat penyembuhan mas, tapi itu berlaku untuk kaki dan tangan, kalau untuk yang lainya saya tidak tau mas heheheh” kata pak Handoko
“Kuntilamu biar sembuh, coba sering-sering buat comly aja Lank hihihihi” teriak Broni
“Iya bener mas Ghilank, kalau kaki kan dilatih dengan jalan, tangan dilatih dengan banyak gerak, mulut dengan berbicara yang benar. Lha kalau kuntila sama telornya ya harus banyak comly mas hehehe biar bisaa lemes lagi” kata Novi
“Jhanchuk prrrrttttss” jawab Gilank
“Hati-hati anak-anak, di depan kita semakin banyak yang mulai berani memamerkan kekuatanya dengan kita, kalian harus bisa konsentrasi dan banyak berdoa ya” kata pak Handoko
Ternyata apa yang dikatakan pak Handoko memang benar, mereka sekarang sedang melewati beraneka ragam mahlukk halus yang mengerikan, tetapi rata-rata mereka hanya berani menantang rombongan itu dari depan saja, ketika demit-demit itu mulai mendekati rombongan itu mereka lari menjauh.
Termasuk ketika mereka hendak mendekati Gilank yang sekarang mirip orang stroke, kawanan demit itu hanya bisa mendekati mereka tanpa berani menyerang mereka sama sekali. Paling juga ini karena ada campur tangan dari mbah Sarijemb. Mungkin tanpa ada mbah Sarijemb semua ini tidak akan terjadi.
Setelah beberapa menit kemudian mereka sudah ada di mulut pintu keluar terowongan, keadaan diluar ternyata masih gelap gulita, mereka tidak tau apakah harus keluar sekarang atau tidak.
Mulut terowongan ini ditutupi dengan tanaman semak belukar, sehingga bagi yang tidak teliti pasti tidak akan bisa melihat mulut terowonan ini dari luar.
“Sekarang sudah pukul berapa anak-anak, Jam saya tidak ada lampunya nih” kata pak Handoko
“Sekarang pukul 04.15 pak, sebentar lagi sudah subuh pak, tapi kita tidak tau ada dimana pak, karena disini sama gelapnya dengan ada di terowongan sana pak” jawab Wildan.
“Tenang mas, yang penting kita sekarang ada di Pct, dan kemungkinan kita ada di sekitar hotel Waji mas, coba yang bawa senter selain saya, ayo sini maju, kita coba terangi daerah yang sedang kita tuju ini” kata pak Handoko
Broni dan Tifano maju kedepan, karena mereka juga membawa senter selain pak handoko. Mereka menyalakan senter mereka hingga keadaan diluar terowongan itu terlihat jelas sekali dengan mereka.
“Hmm mulut terowongan yang penuh semak belukar ini benar-benar menyamarkan terowongan ini anak-anak, dan diluar sana ternyata adalah sebuah taman, kemungkinan besar kita ada di sebuah taman hotel, dan kemungkinan besar kita ada di hotel Waji anak-anak” kata pak Handoko
“Apakah diluar sana aman bagi kita pak?” tanya Tifano
“Saya kira aman mas, karena ini juga sudah menjelang subuh, saya kira diluar sana tidak ada apa-apa sama sekali mas” jawab pak Handoko
__ADS_1
Setelah pertimbangan yang matang, mereka putuskan untuk keluar dari sana, mereka menuju ke taman yang mereka tidak tau harus kemana dengan taman yang luas tetapi penuh denan semak belukar itu.
“Saya yakin kita ada di taman belakang sebuah penginapan mas, karena tadi saya sempat lihat ada tembok bangunan yang tinggi di sebelah sana” kata pak Han sambil menyorotan cahaya senternya ke arah yang dia tuju”
“Iya pak, benar juga, kelitanya itu adalah tembok bangunan pak, tapi apa kita yakin kalau itu adalah bangunan dari hotel Waji pak?” tanya Ali
“Sementara ini kita harus yakin mas, karena akhir dari terowongan itu kan hotel Waji mas, dan kita sudah ada di akhir dari terowongan itu mas” jawab pak Handoko
“Pak, ada baiknya kita tunggu di mulut terowogan hingga ada matahari terbit pak, kita tidak tau apa-apa tentang hotel ini pak”
“Takutnya kita salah langkah pak, atau takutnya kita terjerembab di sekitar sini pak. Siapa tau disini ada kolam renang yang sudah terbengkalai dan di dalamnya penuh dengan binatang yang mengerikan pak” kata Tifano
“Hmm benar juga katamu mas, ayo kita kembali ke mulut gua saja, kita tunggu hingga matahari sudah menyinari area sini” kata pak Handoko
Akhirnya mereka kembali lagi ke dalam terowongan, disana mereka menunggu hingga matahari sudah bersinar, tapi apabila sudah ada matahari, lalu apa yang akan mereka lakukan disana, lagipula mereka kan belum tau wajah Totok. Tapi kalau wajah Rochman mereka pasti sudah hapal lah.
Pelan-pelan matahari mulai memunculkan sinarnya, semakin lama daerah sekitar goa semakin terang, kini saatnya mereka keluar dari dalam goa untuk melakukan hal yang tidak mereka ketahui heheheh.
“Ayo kita keluar dari sini anak-anak, diluar sudah mulai terang, kita bisa mencari sesuatu yang menurut kalian janggal, dan jangan lupa tetap hati-hati karena yang ada diluar sana itu bukan tempat yang kalian biasa datangi
“Saya dan Tifano pernah kesini pak, kami diajak anak-anak Bluekuthuq kesini kalau benar ini adalah hotel Waji pak, kami kesini dan kemudian terjadi hal yang agak mengerikan pak” kata Broni
Broni menceritakan kepada pak handoko dan teman lainya ketika Broni dan Tifano diajak anak-anak Bluekuthuq untuk menginap disana, kejadian itu terjadi sebelum mereka mengadakan acara di vila putih, dan sebelum mereka mengalami kejadian yang mengerikan di vila putih.
“Berarti memang hotel ini ada sesuatunya mas, jadi kita nanti bisa ke kamar tempat mas Broni dan mas Tifano menginap, kita lihat di sana ada apanya” kata pak Handoko
“Tapi untuk pagi ini ada baiknya kita cari sarapan dulu saja, mengingat apa yang akan kita kerjakan nanti itu mungkin akan menyita waktu kita nak” lanjut pak Handoko
Mereka semua berjalan perlahan lahan diantara rerumputan dan ilalalang yang tinggi, cara jalan mereka yang pelan dan hati-hati memang sangat diperlukan untuk menjejak agar tidak terperosok di sekitar sini.
“Mas Gilank gimana, apa masih bisa jalan?” tanya pak Handoko yang ada di depan
“Prrrttssss pffff bhisyaaa phak” jawab Gilank dengan suara aneh hihihihi
Mereka jalan hingga tiba di sebuah bangunan yang aneh, berupa bangunan segi empat yang rendah bangunan itu ditumbuhi tanaman liar hingga hampir menutupi sebagian dari bagunan itu, di atas bagunan ada semacam cerobong asap yang sudah patah.
“Bangunan apa ya itu anak-anak, kok bentuknya aneh gitu ya” kata pak Han
“Jangan-jangan sapiteng pak hihihihi” jawab Wildan
__ADS_1
“Kalau sapiteng tidak mungkin sebesar itu mas, dan tidak mungkin bangunanya muncul seperti itu, saya curiga dengan bangunan itu, karena hawa dan energinya aneh mas” kata pak Handoko.