
Kaswadi kembali mengikuti energi yang muncul, energi yang berasal dari pinggir sungai dimana di pinggir sungai sudah bergeletakan, Saeful, Ali, Broni, dan yang masih sedang akan berlangsung adalah Wildan.
Sementara itu mbok Ju dan Nang tetap berjaga jaga apabila Kaswadi makin dekat dengan keadaan mereka.
“Mas Wildan, kenapa kuntilanya gak bisa berdiri sih mas!” kata Novi yang juga sudah lelah dengan bibirnya yang makin dower
“Ya nggak eruh Nov, ya gini ini punyaku c*k” kata WIldan yang tetap memegangi kuntilanya yang sebesar pisang mas dan gembuk kayak ubi cilembu yang sudah di oven.
Novi berkali kali menempeleng kuntila WIldan, tetapi tetap tidak ada reaksi. Sementara itu tiba-tiba Nang berjalan dengan cepat menuju ke arah WIldan dan Novi.
“Cepat menyingkir kalian berdua Kaswadi tidak jauh lagi dari sini, kalian harus bersiap untuk mendorong Kaswadi ke dalam sungai” kata mas Nang
“Aduuuh mas Nang, Novi sudah sangat capek, apa ndak ada yang lainya yang bisa mendorong Kaswadi ke sungai mas, Novi sudah tidak punya tenaga lagi”
“Ini saja punya mas WIldan belum Novi apa-apain, tapi udah lemes kayak ubi cilembu yang sudah di oven mas” kata Novi sambil memakai pakaian nya
“Ya sudah saya akan minta pak Tembol dan yang lainya untuk mendorong Kaswadi yang posisinya mungkin tinggal beberapa belas meter lagi dari sini”
“Lalu gimana itu dengan yang sedang tidur keenakan itu mas” tunjuk Novi pada Saeful, Ali, Broni yang sudah lemas tak bertenaga sama sekali
“Coba saya bicarakan dengan pak Tembol dulu mbak Novi, sementara itu tutupi mereka dengan daun daun yang ada disini dulu saja”
Nang pergi meninggalkan Novi yang masih berbenah, sementara itu Wildan masih merenungi nasibnya, karena pisang masnya tidak bisa berubah menjadi pisang ambon.
Hingga beberapa saat kemudian Nang datang lagi…
“Pak Tembol berusaha alihkan Kaswadi yang masih menuju ke arah sini. Mbak Novi kayaknya energi itu bukan akibat dari hasil keluaran mbak Novi dan teman lainnya”
“Tetapi kayaknya energi itu berasal dari tubuh mbak Novi sendiri, dalam tubuh mbak Novi mempunyai energi yang menyebabkan Kaswadi mengikuti mbak Novi, tetapi cara mengeluarkanya ya mungkin dengan cara itu” kata Nang
“Kok bisa begitu mas Nang?” tanya Novi yang sedang membenahi rambutnya yang awut awutan
“Karena meskipun kalian sudah selesai, dan mas WIldan sebagai penutup yang kurang baik, tetapi Kaswadi tetap mengejar mbak Novi kan”
“Jadi sekarang pak Tembol, Tifano dan Petro sedang menggiring Kaswadi yang sekarang sedang berjalan menuju ke sini” kata mas Nang
“Tadi pak Tembol bilang agar mbak Novi agak menjauhi teman yang sedang tidur nyenyak ini mbak, jadi agak ke arah sungai dan menjauhi teman kita”
“Ayo nak Novi… ikut saya saja ke arah sana” kata mbok Ju yang tiba-tiba datang entah dari mana
“Mbok Ju dari mana sih, kok baru muncul?”
“Mbok Ju tadi datangi penguasa sini nak, karena penduduk ghaib disini marah akibat kalian melakukan kegiatan yang tidak senonoh disini. Tapi akhirnya mereka paham setelah mbok ju jelaskan tujuan ini untuk apa”
“Dan sekarang mereka akan melindungi teman kita yang sedang tidur itu, sementara nak Novi ke sisi lain yang lebih datar sehingga mudah untuk membuang Kaswadi disana nak”
“Ya sudah kalau begitu mbok, saya akan kembali ke tempat pak Tembol dan yang lainya, akan saya katakan kepada mereka apa yang terjadi disini” kata Nang
“Sekarang kita menuju ke sana nak Novi, untuk nak WIldan ada baiknya juga ikut dengan kita ke tempat nak Novi, biarkan ketiga teman kita disini dulu saja”
Mereka berdua bersama dengan mbok Ju berjalan mengikuti aliran sungai untuk mendapat tempat yang lebih landai untuk menenggelamkan Kaswadi.
“Nov, Kuntilaku sekarang sudah bisa berdiri Nov, memang butuh waktu agar dia bisa berdiri sendiri, tapi paling tidak kita bisa lakukan disana nanti, agar Kaswadi bisa mengarah ke sini hehehe” kata WIldan
“Walah mas, telat! Novi udah muak liat kuntila, apalagi punya mas Wildan kuntila lola gitu, tapi Novi penasaran dengan punya mas Wildan kok” jawab Novi
“Lha gitu Nov nek penasaran ayo kita lakukan disana, di tempat yang nanti mbok Ju katakan itu” paksa WIldan
“Sik tak tanya mbok Ju dulu saja mas, soalnya Novi udah capek, mulut Novi udah dower nih mas hihihih” jawab Novi
Lima menit mereka berjalan, dan akhirnya mereka sampai di sebuah lahan yang datar dan tidak terlalu besar, lahan datar yang berupa tanah itu sampingnya sudah sungai.
“Disini tempat yang disebutkan penjaga daerah sini, dan disini nanti kita akan mendorong Kaswadi hingga tenggelam” kata mbok Ju
“Eh mbok Ju, apakah Novi dan mas Wildan tidak perlu mengeluarkan energi untuk memancing Kaswadi Lagi?”
__ADS_1
“Nah itu kita tunggu dulu info dari Nang, kalau Kaswadi melenceng dari jalur, terpaksa nak Novi dan nak Wildan bisa mengeluarkan energi disini”
Sekitar lima menit mereka menunggu akhirnya Nang datang juga, tetapi wajah dia kelihatannya bingung.
“Kaswadi mulai kehilangan energi kamu lagi mbak Novi, keliatan mbak Novi sekali lagi harus melakukanya agar Kaswadi bisa berjalan ke arah sini”
“Aduuuh yang ada disini tinggal mas WIldan yang kuntianya gembuk seperti ubi cilembu yang sudah dioven mas, tapi ya sudahlah demi penduduk disini, akan Novi lakukan pada sebuah pisang mas yang gembuk” kata Novi
“Lhooo he Nov , ojok ngawur yoooo, kuntilaku saiki wis gak gembuk lagi, udah keras iki Nov” protes Wildan
“Heheheh, lambat sekali ya mas kuntila mas WIldan itu, beda sama yang lainya, udah lambat bentuknya mirip pisang mas juga hihihihi” kata Novi
Yah begitulah yang terjadi, tiap Kaswadi mulai kehilangan arah jalan, Novi pun bergerak dengan mengeluarkan energinya agar Kaswadi mengikuti dimana Novi berada.
Jadi disini ternyata ada salah pengertian bukan energi dua orang yang sedang dalam keadaan bhirahi, tetapi energi yang muncul dari dalam diri Novi ketika Novi dalam keadaan terangsyiang.
“Tapi maaf mas WIl, Novi sudah tidak bisa lagi mas, Tenaga Novi sudah terlalu lemah untuk melakukan itu lagi, bahkan Novi sudah tidak punya nafsyu lagi”
*****
“Gimana ini pak Tembol, mbak Novi sudah tidak bisa lakukan lagi pak, dia sudah terlalu lemah dan tidak bisa berbuat itu lagi pak” kata Nang ketika ada di tempat pak Tembol.
“Waduh, gimana ya nak Nang, coba kamu lihat itu Kaswadi, dia sekarang arahnya sudah beda dengan yang tadi kamu katakan itu” kata pak Tembol
“Eh kalau misal kita arahkan gimana pak, kita dorong pakek kayu saja dari jauh, yang penting dia kan tidak lihat ke arah kita pak” kata Tifano
“Lha tadi kan kita juga sudah mengarahkan seperti itu juga nak Tifano, memang berhasil membuat Kaswadi berjalan sesuai yang kita arahkan dengan memakai kayu itu tetapi……”
“Tetapi apa pak, ada yang tidak sesuai kah pak?”
“Saya takut apabila yang ada di dalam diri Kaswadi itu tau bahwa kita sedang memukul tubuhnya agar bergerak sesuai dengan yang kita harapkan” kata pak Tembol
“Tapi bagaimana lagi nak. Eh gini saja…Nak Nang jarak ke tempat Novi masih jauh atau tidak?”
“Tidak pak, tidak ada beberapa belas meter dari sini pak. ayo saya pandu pak, tapi arahkan Kaswadi mengikut saya pak”
Nang melayang di atas Kaswadi karena dia takut terlihat oleh Kaswadi,kemudian pak Tembol membawa kayu panjang yang tadi dia sempat gunakan.
Sementara itu Petro tidak mengeluarkan Semprul dulu untuk sementara waktu, selain agar tidak terdeteksi oleh Rochman, jugaan keadaan di sana belum berbahaya.
Tifano juga membawa kayu yang digunakan untuk membelokan Kaswadi apabila Kaswadi berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan .
“Pak Tembol, Kalau seumpama kita tidak mengarahkan Kaswadi ke tempat Novi berada, atau kita langsung jatuhkan ke sungai yang terdekat dengan kita bagaimana pak?” tanya Petro
“Hmm bisa juga seperti itu nak, tetapi kata nak Nang tadi, posisi disana itu sangat mudah mendorong Kaswadi, hingga dia akan terjatuh dengan sendirinya tanpa kita susah payah untuk mendorongnya”
*****
“Lama sekali mereka, saya harap tidak ada yang terjadi dengan mereka. Sebenarnya mudah sekali untuk melumpuhkan Kaswadi, hanya saja yang sulit itu adalah agar kita tidak terlihat oleh mata dia” kata pak Handoko
“Yang saya takutkan ini adalah keadaan mereka yang sudah mengeluarkan energi ekstra untuk mengarahkan Kaswadi yang ada disana, bisa saja mereka kehabisan tenaga” kata Dimas
“Lalu bagaimana ini Dimas, apakah kita diam saja dengan keadaan yang seperti ini?”
“Bukan diam saja Handoko, kita tetap bergerak, disana kan ada Tembol dan beberapa anak yang bisa memecahkan masalah apabila ada sesuatu yang mereka tidak bisa pecahkan”
“Lagipula kita disini juga sedang siaga apabila ada Suharto datang, orang itu sekarang berbahaya sekali, dan bisa saja dia akan masuk ke sini”
“Karena dia tau disini ada anak dan istrinya, selain itu disini juga adalah tempat harta yang sedang dia cari selama ini” lanjut DImas
“Eh ngomong-ngomong yang di kamar atas siapa ya?” tanya pak Han
“Ada Dogel dan Blewah disana Handoko, mereka berdua sedang mengamati keadaan di luar vila. Saya punya perasaan kalau kalau habis ini ada lagi yang akan datang kesini” lanjut DImas
Jelas mereka berdua bingung, karena musuh mereka bukanya berkurang, tetapi makin bertambah dengan adanya Suharto, apalagi keahlian Rochman sekarang berbeda dengan dulu.
__ADS_1
Rochman yang sekarang sudah melek teknologi sehingga apa yang sedang dia lakukan itu mungkin penggabungan teknologi kuno dan masa kini.
*****
“Gel coba lihat disana itu apa Gel. kok aku lihat ada sesuatu yang bergerak kesini” tunjuk Blewah pada objek yang ada di sekitar luar pagar vila
“Mana Wah, gak ono siapa-siapa disana gitu kok” Dogel berusaha mencari apa yang tadi ditunjuk oleh Blewah
“Itu Lho, sekarang yang sedang gerak itu ada di luar pagar..sik… sik, dia berjalan di depan pintu gerbang vila Gel!” cepat ke bawah bilang kepada pak Han dan Dimas!”
“Gak jelas sama sekali Wah, tapi aku lihat ada yang sedang bergerak, mungkin dia sedang merayap ya?”
“Iya Gel merayap\, tapi bukan hewan c*k\, lihat dengan teliti\, itu ada kakinya dan ada tangan nya\, dia itu manusia c*k”
“Iyo Wah… tak laporkan dulu sama yang ada di bawah sana wis….”
Dogel berlari ke bawah, meskipun Dogel belum lihat apa yang sedang berjalan atau bergerak dengan merayap itu, tetapi dengan kata-kata dari Blewah dia harus memberitahu orang yang ada di bawah.
Sementara itu Blewah tetap ada d kamar atas, dia tetap mengawasi dari lantai atas kepada objek yang tadi kata Blewah sedang berjalan menuju ke arah pintu gerbang vila.
*****
“Pak, di depan pagar vila ada sesuatu yang sedang merayap, tapi itu bukan hewan atau biawak, tapi itu manusia pak” kata Dogel di ruang tengah
“Dimas, kamu tunggu disini dulu, saya mau lihat di atas. saya kok merasa kita sedang dipecah belah agar kita kalah” kata pak Han
“Harusnya ini kan Ide kamu Dimas, tetapi kenapa mereka bisa membaca pikiranmu? Sudahlah, saya akan ke atas dulu, kamu tunggu di bawah bersama mas Dogel”
Pak Handoko bergerak ke atas, dia akan ada diatas bersama Blewah untuk mengamati apa yang ada di luaran sana.
*****
“Itu memang manusia mas, saya yakin itu manusia yang sedang berusaha masuk ke dalam vila ini’ kata pak Handoko kepada Blewah yang sudah ada di kamar atas
“Nah itu pak Tadi saya juga bilang begitu sama Dogel, tetapi dia tidak percaya dengan omongan saya pak”
“Dia bukan Trimo, bukan juga Rochman, kemungkinan besar dia adalah Suharto, tetapi tidak yakin karena saya belum lihat wajahnya”
“Lagipula saya tidak tau bagaimana wajah Suharto itu” kata pak Han
“Dia tidak akan bisa masuk kesini, tapi ada baiknya akan saya infokan ke Dimas, agar dia tau siapa yang akan datang itu”
Pak Handoko kemudian turun ke bawah untuk menemui Dimas yang masih berjaga di ruang tengah bersama Dogel.
*****
“Menurut saya itu Suharto anak Marwoto, dia ada di depan vila, tetapi saya ragu kalau dia bisa masuk ke dalam vila ini Dimas” kata pak Han
“Kita biarkan saja dulu Han, kita tunggu teman kita yang ada di pinggir sungai dulu saja, saya masih belum fokus pada yang sekarang apabila belum ada kabar baik dari mereka semua”
“Kenapa sampai sekarang belum ada yang kesini untuk memberitahu tentang keadaan mereka ya?”
“Kita tunggu sampai setengah jam lagi saja,kalau mereka belum muncul juga, nanti saya yang akan lihat kesana” kata Dimas
“Ya itu lebih baik Dimas, karena yang mereka hadapi itu sebenarnya tidak berbahaya, tetapi bisa membahayakan teman kita yang ada di rumah Rochman, itu yang jadi masalah sebenarnya”
“Saya tau Han, maka dari itu saya masih belum bisa santai meskipun di depan sana ada Suharto”
*****
Pak Tembol dan dua orang lainya dengan susah payah berusaha mengarahkan Kaswadi menuju ke sungai yang jaraknya tidak terlalu jauh lagi.
Mereka menggunakan kayu untuk mendorong Kaswadi agar bisa jalan menuju ke pinggir sungai yang sudah ditunjuk oleh mbok Ju, hingga jarak mereka dengan sungai itu tidak lebih dari lima meter lagi.
“Nak Petro, nak Dogel, di depan kita sudah ada sungai, ini bagian terakhir bagi Kaswadi nak, ayo kita dorong dan arahkan ke sungai itu” kata pak Tembol
__ADS_1
Suara aliran sungai sudah terdengar jelas, bahkan Nang pun sudah memberikan tanda apabila aliran sungai itu tidak jauh lagi dari tempat mereka berdiri.