
“Malam ini akan menjadi asik dengan interaksi dua dukun itu kepada Saeful mas hehehe, seumpama mas Saeful nanti ditangkap oleh mereka, kita ada alasan untuk membebaskanya mas” kata Novi
“Jangan gitu Nov, kalau tiba-tiba nanti Saeful di siksa dan dipaksa untuk mengaku atau dipaksa menunjukan tempat kita sembunyi bagaimana Nov?” kata Broni
“Hehehehe kita kawal dari jarak jauh mas. Apabila keadaan sudah mendesak, maka dukun yang akan bertindak, eh salah... Novi yang akan bertindak” jawab Novi dengan yakin.
*****
“Ada apa bapak-bapak memanggil saya” tanya Saeful kepada dua orang yang mengaku paranormal yang tadi memanggilnya
“Tunggu sebentar mas, kami tidak ingin menyakiti kamu, kami hanya akan bertanya sedikit kepadamu mas” kata mereka berdua yang sedang jalan mendekati Saeful
Saeful hebat juga, dia bisa santai menghadapi kedua orang yang kini hanya beberapa meter dari posisinya berdiri. Memang harus bersikap santai agar dua orang itu tidak curiga dengan Saeful.
“Eh gini mas, apakah kamu tau siapa yang melempar batu kepada kami?” tanya salah satu dari mereka
“Wah maaf pak, sya tidak tau pak, bisa jadi itu penunggu sini yang tidak suka sama kalian pak” kata Saeful dengan kalimat yang sedikit kurang ajar
“Hmm tidak mungkin mas, kamu pasti punya teman lagi di sini yang membantumu kan” tanya mereka lagi
“Asal mas tau, dua teman kami akhirnya meninggal setelah terkena lemparan batu dari siapapun itu , dan semua itu terjadi ketika mereka baru saja berbicara dengan sampeyan mas”
“Kan saya sudah pernah bilang, bahkan bolak-balik bilang sama kalian. Akan ada yang mati kalau nekat cari sesuatu disana. Dan saya juga diserahi pihak berwajib disini untuk menegur kalau-kalau ada orang seperti kalian yang nekat bermalam dan mencari harta yang ada disana pak” jawab Saeful
“Oh jadi teman kalian sudah mati ya, kemudian kalian kubur atau kalian bawa pulang ke tempat tinggal kalian pak?” tanya Saeful dengan wajah yang tidak bersalah sama sekali lagi
“Anak ini makin lama makin kurang ajar juga ya, kami tanya baik-baik tapi jawabanya malah kayak gini” kata Tompel
“Sabar Pel….sabar, ini masih pagi, kalau pagi gini harus sabar dulu” kata orang satunya yang dipastikan bernama Fathoni
“Sekarang saya tanya sekali lagi mas. Siapa yang jago melempar itu, dan akhirnya melempar kami berdua di rumah sebelah vila putih ini?” tanya orang yang bernama Fathoni lagi
“Sudah dibilang saya tidak tau pak, kok sampeyan berdua ngotot sih. Dah gini aja pak, yang mati dimana sekarang, mau saya laporkan ke pihak berwjib pak” kata Saeful yang makin sok sok an gaya bicaranya
“Maaf mas, teman kami yang meninggal sudah kami bawa pulang, kami kesini karena kami ingin mencari orang yang melempar batu, termasuk yang semalam melempar batu kepada kami berdua waktu ada di rumah sebelah vila ini”
“Dikandani saya ndak tau pak. Kalau gitu ya sudah pak, saya capek mau pulang dulu setelah semalaman cari demit tapi ndak ada yang cocok sama saya” kata Saeaful yang siap pergi dari hadapan kedua dukun itu
“Tunggu duluuuu, tidak semudah itu kamu pergi dari sini mas” kata Tompel yang memegang tangan Saeful
“Wah bapaknya ini suka dengan sama sejenis ya, kok megang-megang tangan saya pak” kata Saeful sambil tersenyum dan tambah ngawur tapi makin berani
“Tolong jaga omongan mas, kami bukan pecinta sejenis, kami masih normal kok” kata Tompel yang melepas tangan Saeful
Hehehe ternyata seorang dulun ada yang tolol juga ya macam Tompel ini , hanya dikatakan penyuka sesama jenis saja langsung melepas pegangan tangannya kepada Saeful hehehe.
“Pegang dia Pel, gimana kalau dia lari!” bentak yang bernama Fathoni itu
“Tenang pak, saya tidak akan lari, semua itu sudah ada garis tangannya. Bisa saja nanti kalian tiba-tiba saja mati disini, atau bisa saja saya yang mati disini pak, tenang relax heheheh” kata Saeful
“Wah gila orang ini Thon, dia ndak takut sama sekali”
“Sudahlah , pegang dan ikat dia!, dan ajak ke tenda kita saja. Saya tidak mau kembali ke rumah Supardi Pel. Kita cari sendiri harta itu memakai cara kita sendiri saja!” kata Fathoni
__ADS_1
“Enak aja dia minta pembagian 80% hanya karena dia tau dimana tempatnya dan kita yang harus gali” kata Fathoni sambil nggeremeng
“Kalian mau bawa saya ke vila putih? Apa kalian tidak takut dengan kematian lagi hihihihi” Kata Saeful yang dengan sukarela berjalan menuju ke fila putih tanpa di ikat
“Anak gila ini tidak takut dengan kita Thon” bisik Tompel yang berjalan di belakang Saeful bersama Fathoni
“Sekarang dia tidak takut, tapi nanti dia juga akan nangis minta pulang kalau setan peliharan kita yang ada di vila ini kita kumpulkan semua”
“Setan apa yang sedang kalian kumpulkan itu hahahaha, di dalam sana tidak ada setan sama sekali, yang ada hanya penuggu vila itu untuk membunuh kalian berdua hihihih” jawab Saeful
“Mas, kamu tau ndak siapa yang ambil tas kami?” tanya Tompel
“Tas apa pak, saya saja tidak pernah ke tenda kalian kok, saya kan sudah bilang kalau saya hanya cari demit di hutan atas itu untuk saya pellihara. Lalu kalau ada masalah tas hilang masak saya yang disalahkan?” sahut Saeful
“Tapi saya bangga bisa kalian bawa ke tempat kalian bapak-bapak jadi saya bisa tau dimana kalian sembunyikan mayak dua orang itu hihihihi” kata Saeful lagi
“KAMU ITU SUDAH DIKASIH TAU KALAU TEMAN KAMI SUDAH KAMI BAWA PULANG KOK MASIH SAJA TIDAK PERCAYA!” teriak Tompel emosi
“Sudah… sudah, biarkan anak gila ini bicara apa saja Pel, kita tetap tahan dia hingga teman dia yang sudah membuat kita kehilangan Matdra’I dan Gemblung datang untuk membantunya”
*****
“Hmm mereka membawa ke tenda, ya baguslah. Kita punya tempat banyak untuk sembunyi dari pada di rumah Supardi” kata Novi
“Aneh ya Saeful itu Nov, dia itu lho ndak punya rasa takut sama sekali, dia lho masih cengengesan” kata Broni
“Karena dia yakin kita akan menyelamatkanya mas, lagi pula gila juga itu Saeful bisa berani gitu dia dengan orang-orang yang menahannya” balas Novi
Saeful, Fathoni, dan Tompel sudah melewati tempat persembunyian Novi dan Broni, mereka bertiga menuju ke dalam vila untuk menahan Saeful disana. Tp anehnya dimana mereka menaruh mayat kedua temanya yang bernama Matdra’I dan Gemblung itu?.
“Mas Bron, kayaknya kita harus biarkan dulu Saeful ada disana mas, karena Novi pingin tau apa saja yang akan dilakukan mereka dulu mas, sekalian Saeful biar jadi mata-mata dulu mas” kata Novi
“Maksudmu gimana Nov, apa kita biarkan dia disana bersama kedua orang itu? kemudian biarkan Saeful mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan gitu?” tanya Broni kurang yakin dengan omongan Novi
Novi tidak menjawab pertanyaan Broni, dia hanya mengangguk dengan tersenyum manis, manis khasnya Novi ya manis-manis agak kecut gitu hihihih.
“Nanti malam kita bebaskan Saeful mas, sekalian kita kasih pelajaran mereka juga mas, kalau sekarang kan kedok kita malah tebongkar mas hehehe”
Ada benarnya juga omongan Novi itu, memang lebih baik bebaskan Saeful pada malam hari saja untuk menghindari kedok mereka berdua terbongkar, selain itu agar Saeful tau apa saja yang akan dilakukan oleh kedua cecunguk Trimo itu hihihihi.
Singkat cerita malam hari pun tiba, kini saatnya dua dukun akan mendapat pelajaran dan membebaskan Saeful dari mereka berdua.
“Eh mas Bron, bisa lihat ndak dimana posisi kedua orang itu sekarang mas?” tanya Novi yang kesulitan melihat di dalam gelap karena pandangan dia terhalang oleh rumput dan ilalang yang ada di sekitarnya
“Bisa Nov, agak jelas disisi sini”
Untuk diketahui Broni dan Novi ada di sisi berbeda, karena mereka masing-masing harus bisa lihat keadaan tenda dan isi tenda dari sudut yang berbeda, dan kebetulan dari sisi Novi tidak bisa kelihatan dimana posisi kedua dukun itu.
“Mereka kayaknya mau masuk ke area vila Nov, mereka juga membawa Saeful yang tangannya terikat untuk masuk ke dalam vila putih”
“Biarkan dulu mereka jalan mas Bron nanti setelah mereka melangkah, batru kita ikuti langkah mereka mas. Ingat kita ikuti langkah mereka dalam artian tiap mereka melangkah kita juga melangkah jadi suara kaki kita tersamar dengan suara langkah mereka mas” kata Novi
Dan benar juga, tidak lama kemudian kedua dukun itu berdiri dan keluar dari tenda, diantara mereka atau ditengah mereka adalah Saeful yang dalam keadaan terikat, karena mereka menggunakan sepati boot ala rocker, maka langkah kaki mereka terdengar agak keras dibanding langkah kaki Saeful yang memakai sandal jepit.
__ADS_1
Tiap dukun itu melangkah selalu diikuti oleh langkah Broni dan Novi, begitu seterusnya hingga ketiga orang itu ada di teras vila putih yang kusam.
“Kamu masuk dulu sana mas…capaaaatt” suruh salah satu dari dukun itu kepada Saeful
“kenapa saya harus masuk dulu pak, di dalam bahaya lho pak, ada ularnya disana pak” bujuk Saeful kepada kedua orang itu
“Atau memang kalian tidak berani masuk ke dalam sana dan menyuruh saya masuk duluan pak?” ucap Saeful lagi
“Sudahlah jangan banyak omong, kamu cepat masuk kesana sebelum saya bunuh kamu” ancam salah satu dari mereka yang bernama Tompel
“Hihihihi yang mati sih bukan saya pak, melainkan kalian berdua yang akan mati disini, karena saya orang sini dan saya bukan pencari harta pak, sedangkan kalian pendatang pencari harta yang sudah jelas akan mati disini hehheh”
“Ah banyak omong kamu” jawab Tompel yang kemudian akan memukul Saeful, tetapi tangan dia ditepis oleh Fathoni
“Jangan main pukul disini, kita harus jaga sopan santun di dalam sini sesuai dengan apa kata dari perewangan kita itu pel!” kata Fathoni
“Tenang pak kalau kelakuan kamu seperti ini saya yakin tidak lama kemudian kamu akan mati sia-sia disini pak. Saya adalah penduduk asli sini pak, dan saya tau persis keadaan vila ini pak. Saya yakin kalian kan juga dukun, pasti juga bisa lihat mahluk tak kasat mata yang sedang memperhatikan kita pak hehehe” kata Saeful
*****
Sementara itu Broni dan Novi mulai jalan tanpa bersuara sama sekali, langkah mereka benar-benar sepi kayak ada fitler suaranya. Sekarang jarak antara Novi dan kelompok dukun itu mungkin sekitar 10 meteran, masih jauh untuk meleparkan batu yang ada di tangan Novi.
“Kita harus lebih maju lagi mas Bron, karena batu Novi ini belum cukup jaraknya untuk mengenai kepala kedua dukun itu mas” kata Novi
Novi dan Broni lebih maju lagi ke depan , mereka berjalan tanpa bersuara, sebenarnya angkah kaki mereka bersuara juga, hanya saja saat ini di daerah itu banyak sekali suara belalang malam yang bersuara keras, sehingga langkah kaki Broni dan Novi tidak terdengar sama sekali.
“Apa yang kalian mau lakukan kepada saya disini” tanya Saeful dengan suara keras
“Hehehe sudah jangan banyak tanya, kami hanya menjalankan permintaan dari penunggu vila ini kok hehehe, karena mereka minta tumbal, maka kamu akan kami tumbalkan disini heheheh” kata orang yag bernama Fathoni dengan kejam.
“Hahahahah mana ada penunggu disini yang minta tumbal pak! Saya tau persis dimana saja tempat demit berada. Sedangkan demit disini itu tidak butuh tumbal sama sekali hahahah. Mungkin demit dari tempat bapak yang minta tumbal itu hahahah” kata Saeful
Tidak lama kemudian tiba-tiba orang yang bernama Tompel kerasukan, tubuh Tompel menegang dengan mata memejam kemudian melotot, orang yang bernama Tompel itu meraung beringas dan merangkak di teras vila putih. Sementara itu yang bernama Fathoni sibuk merapal beberapa kalimat mantra yang tidak bisa dipahami sama sekali.
“Heh pak , temanmu ini kesurupan, kok kamu malah manggil setan pak, setannya itu ada di dalam tubuh temanmu pak” teriak Saeful dengan santai
Tetapi tidak ada jawaban dari Fathoni, dia malah makin keras merapalkan kalimat-kalimat mantra aneh entah untuk memanggil setan yang mana.
*****
“Nov., kayaknya sekarang saatnya kamu lempar kepala orang itu Nov, dia mulai mengucapkan kalimat aneh yang mungkin menyebabkan temanya itu kesurupan Nov” kata Broni
“Iya mas, kita lebih dekat lagi saja mas, agar lemparan Novi langsung mengena kebagian kepala mereka mas, apalagi yang sedang merapalkan kalimat ndak jelas itu mas, rasanya Novi gemes pingin sobek-sobek mulutnya mas” jawab Novi makin emosi
Akhirnya setelah berjalan dengan pelan, mereka pun sampai sekitar tiga meteran dari tempat dua dukun dan Saeful itu berada.
Ada yang aneh yang akan terjadi disana ketika Novi dan Broni sudah dekat dengan mereka. Tiba-tiba Tompel orang yang kesurupan itu berteriak kesakitan. Dia berteriak teriak merasa kesakitan dan meminta tolong.
“DOL KADUT DIIIAAAAM! Saya masih konsentrasi manggil Nyai Cepol agar kesini, kamu malah kesakitan dan minta tolong. Diam sekarang!!” bentak Fathoni kepada Tompel yang dipanggilnya Dol Kadut
“ARRGHHH TOLOOONG SAKIIITTTT..PANAASSSSS. KELUARKAN AKU DARI TUBUH INI SEKARAAAAANG!!!!....” teriak Tompel kesakitan
“DIAAAAAM DOL KADUT, AKU TIDAK BISA KONSENTRASI MEMANGGIL ISTRIMU!” bentak Fathoni kepada Tompel yang sedang dirasuki demit bernama Dol Kadut
__ADS_1
Sementara Tompel atau Dol Kadut bergerak-gerak kesakitan dan kepanasan sampek ndelosor-ndelosor di teras vila seperti cacing kepanasan, tidak jauh dari situ Novi dan Broni tertawa.
“Lihat mas Bron, semakin dekat Novi ke sana, orang itu akan semakin kepanasan dan kesakitan” kata Novi yang berjalan pelan menuju ke arah mereka berdua