
Liburan Rafka, Zarine, & lainnya berjalan dengan lancar.
Hari ini adalah hari kamis, itu berarti sudah 4 hari mereka di London setelah kedatangan mereka.
Hari ini rencananya mereka akan berdiam diri dirumah sampai besok, kemudian hari sabtunya mereka kepusat perbelanjaan untuk membelikan orang rumah oleh-oleh.
Pukul 9.30 waktu London.
"Loh kok masih ada dirumah? Kagak jalan-jalan kalian?." Tanya Bang Idan.
"Ngga Bang, hari ini sama besok, kita ada dirumah, sabtunya baru kita jalan lagi." Terang Akifa dangan memakan keripik kentang balado.
"Kenapa ada dirumah?." Tanya Bang Idan lagi.
"Capek, 3 hari kita jalan mulu." Kata Abdiel yang diangguki Bang Idan.
"Terus mau ngapain? Mau rebahan ampe punggung kalian capek?." Katanya lagi.
"Bang Idan punya usul?." Tanya Zarine.
Bang Idan mengedikkan bahu dengan berlalu dari ruang santai lalu mengatakan.
"Ngga punya, kalian cari aja sendiri, ahahaha." Kata Bang Idan dengan tertawa renyah.
"Huuuu, eh tunggu Bang, Lo kok ngga ngantor?." Tanya Abdiel.
"Kenapa? Suka-suka Gua dong, kan Gua Bossnya." Kata Bang Idan angkuh.
"Jangan punya sifat angkuh Bang, entar ngga ada yang mau Lo." Ejek Alfi yang disambut tertawa renyah oleh Akifa dan Abdiel dan mendapat tatapan tajam dari Bang Idan yang berbalik menghadap Alfi lalu berjalan lagi meninggalkan mereka yang tertawa.
"Kita ketaman belakang rumah ini ajakuy biar ngga suntuk." Usul Abdiel setelah suara tawanya mulai mereda.
"Mau ngapain disana?." Tanya Zarine.
"Ya liat pemandangan aja." Jawab Abdiel.
"Ayo." Kata Rafka dengan menggandeng jemari Zarine.
Mereka semua pun berjalan kearah taman belakang rumah.
Sesampainya disana.
"Hahhhhh, sejuk banget disini." Kata Akifa dengan mengehembuskan nafas kasar dari mulutnya.
Mereka semua kecuali Zarine duduk berbaris ditepi kolam dengan mencelupkan kakinya kedalam air.
"Kita beli apa aja hari sabtu?." Tanya Abhi.
"Liat ditokonya ada apa aja besok." Kata Alfi yang diangguki lainnya
"Ouh ya Al, Lo gimana ceritanya bisa dibolehin ikut kita kesini?." Tanya Abdiel.
"Iya, gimana Lo ngomongnya sama Om Nawwar? Maaf kemarin-kemarin kita ngga sempet nanya." Tanya Rafka.
"Ok ngga papa, kalo soal gimana ngomongnya, bukan Gua yang minta ijin dan ngomong sama Papi." Kata Alfi.
"Terus siapa yang ngomong?." Tanya Zarine.
Alfi melirik Abhi yang diam memainkan ponselnya untuk mengecek pekerjaan dari kantor Papanya.
Merasa diperhatikan, Abhi mendongak.
__ADS_1
Sedangkan semuanya yang mendengar cerita Alfi yang belum selesai tapi tak dilanjutkan oleh Alfi, ikut melihat arah lirikan matanya.
"Udah ketebak sih." Kata Abdiel yang diangguki Akifa.
Abhi yang peka dengan sekitarnya, menjawab.
"Iya Gua yanh ijinin." Jujur Abhi akhirnya.
"Kalo kita ngga lengkap, Gua ngga mau pergi." Lanjut Abhi lagi.
Semuanya tersenyum menggoda pada mereka berdua.
"Elah, alesan Lo sa ae Bambank." Ejek Abdiel yang disambut kekehan oleh lainnya.
Mereka berbincang sampai waktu Dzuhur tiba.
---Hari sabtu.---
"Yoklah berangkat." Ajak Abdiel.
"Kuylah, terus kalo masih banyak waktu kita jalan-jalan lagi." Timpal Akifa.
Semuanya mengiyakan dan berjalan menuju mobil di ikuti oleh Hans.
Sesampainya pusat perbelanjaan terbesar di London. Mereka semua masuk dikawal oleh Hans menjelajahi toko-toko yang menarik perhatian mereka.
Sekarang mereka berada disalah satu beautique ternama didalam pusat perbelanjaan itu.
"Girl's bagus ngga?." Tanya Akifa menunjukkan dress warna maroon.
"Bagus kok, in syaa allah kalo kamu yang pake itu cocok." Pendapat Zarine.
Setelah memilih-milih baju juga hadiah untuk orang rumah, mereka semua keluar dari pusat perbelanjaan dan meluncur menuju tempat wisata Trafalgar Square.
Mereka berfoto ria disana dan Hanslah menjadi photographernya.
Tiba-tiba.
"Excuse me, are you Rafka Fathan?. (Permisi, apakah Anda Rafka Fathan?)." Tanya seseorang Cewek berambut pirang, tinggi bak model, dan senyum manisnya dari arah samping Rafka yang membuat Zarine dan lainnya bingung dan bertanya-tanya siapa Cewek ini? Tapi mereka semua menahan penasaran itu.
"Yes, I'm Rafka Fathan. (Ya, aku Rafka Fathan)." Jawab Rafka.
"Hi Raf, how are you? Nice to see you again. (Hai Raf, apa kabar? Senang bertemu denganmu lagi)." Kata Cewek tadi dengan mengulurkan tangannya berniat bersalaman.
"Sorry, who are you?. (Maaf, kamu siapa?)." Tanya Rafka dingin dan datar.
Mendengar pertanyaan itu Cewek itu menurunkan tangannya yang menggantung lalu tersenyum manis.
Pembicaraan itu dimengerti olek Zarine dan lainnya hanya saja mereka lebih fokus mendengar dan tak berminat ikut mengobrol.
"Looks like you forgot me, I'm Niken, we met at a company meeting at my father's office. (Sepertinya kamu melupakan aku, aku Niken, kita bertemu di rapat perusahaan di kantor ayahku)." Kata Cewek itu yang ternyata bernama Niken.
"Niken? Ouh, are you the daughter of Mr. William ?. (Niken? Ouh, apakah kamu putri Tuan William?)." Tanya Rafka dengan ingatan samar.
"Yes, you're right. What are you doing here Raf? And who are they?. (Ya, kamu benar. Apa yang kamu lakukan di sini Raf? Dan siapa mereka?)." Tanya Niken.
"I'm on vacation here, they are my friends, and next to me this is my wife Zarine. (Aku sedang berlibur di sini, mereka adalah temanku, dan di sampingku ini istriku Zarine)." Jawab Rafka dengan menekankan kata 'My Wife.'
Niken tertegun mendengar Rafka menyebut kata 'My Wife.' Lalu dia sesegera mungkin menormalkan ekspresinya.
"Wife? Are you married? When?. (Istri? Apakah kamu sudah menikah? Kapan?)." Tanya Niken berusaha tenang.
__ADS_1
"We've been married for 5 months. (Kami sudah menikah selama 5 bulan)." Jawab Rafka tegas.
Karena tidak ada pertanyaan lagi, Rafka memutuskan untuk pamit pulang.
"Ok Niken is pleased to meet you, we say goodbye to go home first. Excuse me. (Ok Niken senang bertemu denganmu, kami pamit pulang dulu. Permisi)."
Tanpa mendapat jawaban dari Niken, Rafka menggandeng tangan Zarine dan membawanya berjalan kearah mobil untuk pulang kerumah kakaknya.
Didalam mobil tak ada percakapan sama sekali.
Semuanua hanya terlarut dalam lamunannya sendiri.
Rafka melamun dengan memeluk pinggang Zarine possesive.
Sampai dirumah mereka semua menurunkan barang belanjaan dibantu Hans kemudia masuk kekamar masing-masing dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah itu mereka semua turun untuk makan siang lalu naik lagi setelah para Cewek membersihkan meja makan.
Dikamar, Zarine sedang memasukkan bajunya dan baju Rafka kedalam koper karena besok mereka akan pulang, dan kegiatan itu dilakukan oleh seluruh penghuni kamar atas.
Tiba-tiba Rafka memeluk Zarine yang sedang mengambil baju dari lemari.
"Maafin aku." Kata Rafka.
"Kenapa minta maaf?." Tanya Zarine dengan menata baju.
"Kamu ngga marah soal di-."
"Buat apa aku marah sih Yank? Aku percaya sama kamu, aku yakin kamu ngga ada apa-apa sama dia." Kata Zarine memotong perkataan Rafka.
"Makasih, tapi aku tetep minta maaf sama kamu." Kata Rafka dengan memeluk Zarine lebih erat.
"Aku maafin Yank, kamu ngga punya salah, emang sih aku sempet mikir aneh-aneh, tapi sekali lagi aku bangkitin rasa yakin kalo kamu cuma punya aku, hanya aku." Kata Zarine jujur.
"Ya, aku emang punya kamu dan kamu hanya punya aku." Balas Rafka tegas.
Lalu Rafka pun membantu Zarine membereskan baju-baju mereka.
---Makan malam.---
"Raf, Lo tadi ketemu ama Niken kah?." Tanya Bang Idan yang diangguki Rafka.
"Emang dia itu siapa sih Bang?." Tanya Abdiel.
"Anak dari client kantor Gua." Jawab Bang Idan.
"Tadi Za liat pandangannya ke Raf-."
"Biarin aja, aku ngga peduli, yang aku sayang cuma kamu, dan yang aku cinta juga kamu." Kata Rafka tegas memotong perkataan Zarine dengan menggenggam tangan istrinya itu erat.
Semuanya hanya diam menyasikan Rafka dengan tersenyum senang.
'Gua bangga ama Lo Dek.' Batin Bang Idan.
'Asli ngga pernah main-main nih anak.' Batin Abdiel.
Kemudian mereka melanjutkan makan malam masing-masing.
Setelah selesai semuanya masuk kekamar masing-masing untuk tidur agar besok lebih segar.
__ADS_1