Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 207


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Assallammu'allaikum." Salam Agnez dan 6 serangkai kompak.


"Wa'allaikum sallam! Ya Allah Agnez!! Dari mana aja kamu hah?! Udah di bilangin kalo mau main pamit dulu, ini ditelpon ndak bisa, dicariin disekolah juga ndak ada! Kamu bikin Ibu jantungan tau ndak!." Panjang Ibu Agnez berbicara sambil menjewer telinga Agnez.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Aduhhh!! Ibu!! Lepas dulu dong Bu sakit telinga Agnez! Ibu?! Yah? Tolongin Agnez Yah!." Rengek Agnez sambil meringis kesakitan.


"Ibu? Wes sudah lepasin telinga Agnez, biarin dia jelasin semua nya sama kita, Ibu?." Tegur Ayah lembut.


Mendengar sang suami berucap lembut meminta melepas jeweran, Bu Dewi menurut.


"Ayo masuk dulu, ini sudah mau surup ndak baik ada di luar terus, ayo semua nya." Ajak Ayah Agnez pada semua orang.


6 serangkai tersenyum dan mengikuti Ayah, Ibu Agnez.


"Agnez? Kamu ngga papa kan?." Tanya Wulan kasihan melihat telinga Agnez yang memerah karena di jewer tadi.


Agnez mengelus telinga sambil meringis, mendapat pertanyaan itu dari Wulan, dia cengengesan menampak kan deretan gigi putih dan rapi nya.


"Hehehe... ndak papa kok Mbak, udah biasa kalo dapet jeweran kaya gini mah, memang dari awal semua salah Agnez." Cetus Agnez.


"Loh? Kok masih ada di luar sih? Ayo masuk!." Seru Ibu Dewi dari ambang pintu masuk ke dalam rumah.


Dengan cepat 6 serangkai dan Agnez masuk secara berganti an.


"Assallammu'allaikum." Salam 6 serangkai kompak.


"Wa'allaikum sallam, ayo silah kan duduk kalian ber 6." Ayah mempersilah kan 6 serangkai duduk.


Ayah, Ibu, Agnez, dan 6 serangkai duduk di ruang tamu, sebelum berbicara datang 2 orang ART meletak kan nampan berisi camilan dan minuman.


"Ayo di minum dulu, kalian pasti haus." Ibu Dewi mempersilah kan 6 serangkai minum dulu.


6 serangkai mengangguk meng iya kan dan meminum sedikit minuman nya.


3 menit kemudian setelah 6 serangkai melepas dahaga.


"Ada yang bisa jelasin sekarang? Kenapa Agnez busa pulang bareng kalian?." Tanya Pak Cakra tegas, raut wajah nya terlihat serius tapi tak menghilang kan pandangan teduh milik beliau.


6 serangkai saling melempar pandang. Lebih tepat nya 5 orang di sana menatap ke arah Angkasa memberi kode untuk menjelas kan.


Angkasa yang paham pun mengangguk kan kepala meng iya kan.


"Ehem! Maaf Om sebelum nya, ini semua salah saya, tapi sebelum membicara kan masalah Agnez biar kan kami memperkenal kan diri." Ucap Angkasa dengan nada tegas nya.


Ayah Agnez tersenyum kemudian mengangguk kan kepala mempersilah kan Angkasa memperkenal kan diri nya dan 5 orang lain nya.


"Kami senior Agnez di sekolah, lebih tepat nya senior satu tingkat lebih tua, nama saya Angkasa, di sebelah saya ini nama nya Damar, itu Albhi, itu Pamungkas, dua gadis di sebelah sana itu nama nya Wulan dan Kristal." Sebut Angkasa satu per satu pada sahabat nya, 5 orang yang di kenal kan itu tersenyum menyapa Ayah Agnez dan di balas angguk kan kepala sekali.


"Maaf saya Om, Agnez telat pulang ke rumah karena ke salahan saya, saat akan pulang saya menghenti kan Agnez dan membawa nya bermain di atas atap gedung sekolah SMA Merdeka, saya tidak ada maksud apa-apa mangajak nya ke sana, saya hanya ingin berteman dengan Agnez saja." Cerita Angkasa sejujur-jujur nya.


Dalam hati Angkasa bergumam 'Bukan mengajak nya berteman, lebih tepat nya mengajak nya menjalin hubungan serius, tapi Om jangan khawatir, bukan sekarang waktu yang tepat.' Begitu lah kurang lebih.


Ayah Agnez mencerna ucapan demi ucapan yang terlontar dari bibir Angkasa.


Lalu beliau menanya kan kebenaran itu pada Agnez.


"Apa benar Nez yang di ucap kan Mas ini?." Tanya Ayah.


"Iya bener Yah, kita di sana cuma liat bangunan yang tinggi-tinggi sama ngerasain angin sejuk Yah di sana, suer deh Agnez ndak berani bohong!." Seru Agnez cepat sambil menampil kan jari nya berbentuk huruf V.


"Terus kenapa ndak ijin sama Ayah dan Ibu kalo mau pulang telat?." Tanya Ayah lagi.


"HP Agnez ketinggalan Yah, hehehe... ." Kata Agnez sambil menyengir kuda bak orang tanpa dosa.


'Huufffhhh... .' Helaan nafas lega dan lelah terdengar dari hidung Ayah dan Ibu Agnez.


"Ya sudah kalo gitu terima kasih ya Mas Angkasa, dan kalian semua sudah mengantar anak saya pulang dengan selamat, buat Mas Angkasa, saya sudah maaf kan kesalahan nya, tapi minta tolong jangan di ulangi lagi." Ucap Ayah lenbut tapi tegas.


"Iya Om pasti, emm kalo boleh, apa saya boleh minta nomer ponsel nya Om atau Tante?." Ijin Angkasa.


"Buat apa? Mas mau ngapain?." Bukan Ayah kini yang sedabg bertanya , tapi Agnez sambil melotot kan mata nya menatap Angkasa.


"Ya buat hubungi Om atau Tante kalo kamu lagi sama aku lah, apa lagi?." Cetus Angkasa cuek.


"Ndak usah! Aku ndak mau ikut sama Mas Angkasa lagi." Jawab Agnez ketus.


"Kok ketus sih? Kita kan udah jadi temen, ngga baik tau kalo ketus sama temen." Kata Angkasa sambil terkekeh pelan.


5 orang sebelah Angkasa menepuk kening mereka dengan pelan sambil bergumam 'Bisa ngga sih kalo mau godain anak orang liat kondisi? Ini masih di depan Mak Bapak nya loh.' Begitu lah gumaman mereka, sama tanpa janjian.


Sedang kan Ayah dan Ibu Agnez saling pandang menlihat interaksi Agnez dan Angkasa.


Dua pasangan paruh baya itu kemudian mengangguk meng iya kan.


"Boleh kok Mas Angkasa, sini HP nya biar saya catat kan." Pinta Ayah Agnez.


"Ayah?! Kok di kasih sih?!." Tanya Agnez tak terima, dia menatap Angkasa dengan wajah kesal nya.


Ayah Agnez tak menjawab dan masih mencatat nomer ponsel nya, istri nya, dan juga Agnez di dalam ponsel Angkasa.


Angkasa terkekeh pelan begitu di tatap kesal oleh Agnez.


5 menit kemudian.


"Ini ponsel nya Nak Angkasa, sudah saya catat kan nomer kami semua di sana." Jelas Ayah Cakra.


"Kami semua? Ayah catat nomer Agnez juga yah?." Tanyan Agnez tak suka.


"Iya lah, nomer Ayah, Ibu, sama nomer mu." Jawab Ayah acuh.


"Ayahhhhh... ." Rengek Agnez manja.


"Sudah! Jangan merengek kaya anak kecil, ini udah mau maghrib, kamu mandi sana!." Perintah Ibu telak tak bisa di bantah.

__ADS_1


Agnez menurut, sebelum pergi dia berpamitan dulu dengan 6 serangkai.


Sepeninggalan Agnez.


"Kalian ber 6 sholat di sini saja sekalian juga makan malam di sini." Pinta Ibu Agnez lembut.


"Waduh, mohon maaf Tante, kami di tunggu orang tua di rumah, maaf tidak bisa makan malam di sini, maaf banget." Tolak Damar sopan dengan senyuman ramah nya.


"Ouh... ya sudah kalo gitu ndak papa, tapi lain kali harus bisa yah." Ujar Ibu Agnez.


"In syaa Allah Te." Balas Damar lagi.


"Kalo gitu... kami pamit pulang Te, makasih buat minum sama jajanan nya, dan maafin Angkasa sekali lagi karena udah buat Tante sama Om kepikiran sama Agnez, lain kali kalo Angkasa mau bawa Agnez main, Angkasa bakal hubungi Tante atau Om." Kata Angkasa panjang, penuh keramahan dan kelembutan.


"Iya ndak papa Mas, kami sudah maafin Mas Angkasa, Mas Angkasa mau berniat ngajak Agnez main lagi to? Berdua kah?." Tanya Ayah.


"Ber 7 Om, dengan kami semua." Jawab Angkasa cepat.


"Ouh iya iya." Balas Ayah Agnez singkat.


"Kami pamit pulang Om, assallammu'allaikum." Salam 6 serangkai kompak sambil mencium punggung tangan Ayah Ibu Agnez.


"Wa'allaikum sallam, mari kami antar ke depan." Ajak Ayah Agnez.


Sampai di depan teras.


"Hati-hati kalian yah!." Pesan Ibu Agnez.


"Iya Te." Balas 6 serangkai bersamaan.


Mobil 6 serangkai yang di supiri Angkasa pun meluncur meninggal kan rumah Agnez.


Masih di teras rumah Agnez.


"Mas Angkasa itu kaya nya suka sama anak kita deh Yah." Cetus sang Ibu.


"Hmmm... Ayah juga ngerasa nya gitu, dari tatapan Mas Angkasa saja tadi Ayah sudah dengan mudah mengetahui isi hati nya." Panjang Ayah berucap.


Hening sesaat, sebelum tiba-tiba...


"Loh? Ini Mas-mas sama Mbak-mbak nya udah pulang to Yah? Bu?." Tanya Agnez.


"Iya sudah." Balas Ibu singkat.


Ayah dan Ibu Agnez masuk kembali ke dalam rumah tak lupa menutup pintu juga.


Mereka ber tiga kembali duduk di ruang tamu.


"Yah? Ibu? Agnez minta maaf udah bikin khawatir, ndak lagi-lagi deh kaya sekarang." Ucap Agnez penuh penyesalan, dia mengatakan itu dengan menunduk dan duduk berlutut di depan Ayah dan Ibu nya.


"Agnez? Ibu sama Ayah ndak ngelarang kamu main Nak, kamu boleh main, tapi dengan syarat harus ijin dulu sama Ayah atau sama Ibu, Mas Bambang nunggu in kamu dari jam setengah 4 sore sampek jam setengah lima sore loh, dia khawatir sama kamu." Ujar Ayah panjang lebar.


"Jangan ulangi lagi ya Nez, kamu itu anak perempuan, mbok ya sing manut gitu loh Nduk kalo di bilangin orang tua, ini juga demi kebaikan diri kamu sendiri, iya to?." Kata Ibu ikut berceramah.


"Iya Bu, Yah, lagi-lagi Agnez ndak gini deh, maafin Agnez Bu, Yah." Ucap Agnez lagi sambil memeluk Ayah dan Ibu nya.


5 menit kemudian peluk kan terlepas.


"Ngomong-ngomong... Mas Angkasa tadi guanteng ya anak nya, baik, tanggung jawab, tegas, berani, lembut lagi anak nya." Puji Ibu Agnez sambil msmbayang kan perangai Angkasa saat berbicara pada Ibu dan Ayah tadi.


"Ibu apa an sih?! Mas Angkasa tuh anak nya ndak gitu, dia ngeselin, njengkelno, ndak ada lembut-lembut nya." Sewot Agnez sambil alis nya menyatu bak Angry Bird.


"Mana ada kaya gitu, tadi pas ngobrol Mas Angkasa tegas tapi penuh kelembutan kok sama Ayah sama Ibu, dia bahkan tersenyum manis, Ayah langsung suka ngobrol sama Mas Angkasa." Kata Ayah tulus dari hati nya.


"Iya, Ibu juga suka sama Mas Angkasa, cocok sama kamu Nez Mas Angkasa tuh kaya nya." Ibu Agnez berucap sambil tersenyum bahagia.


"Ayah sama Ibu merestui kamu kok kalo sama Mas Angkasa." Cetus Ayah serius di angguki mantab oleh Ibu Agnez.


Bukan tanpa alasan Agnez mengalih kan topik pembicaraan, dia melakukan itu untuk menyelamat kan jantung nya yang berdebar kencang karena ucapan serius Ayah dan Ibu nya tadi.


Pertemuan pertama antara Ayah Ibu Agnez dengan Angkasa membuat Ayah Ibu Agnez jatuh cinta pandang pertama dengan Angkasa.


2 pasang paruh baya itu suka dengan perangai Angkasa. Dan sangat merestui jika Agnez menjalin hubungan dengan Angkasa, mereka bahkan berharap bisa menjadi kan Angkasa menantu nya.


Untuk Angkasa sendiri, dia berbicara lembut bukan dengan semua orang, hanya orang yang menurut nya spesial saja dia akan berbicara lembut, kalo soal dia yang menurut Agnez menyebal kan, itu lah cara nya mencintai Agnez, dengan membuat nya kesal dan merajuk.


Kalau kebanyak kan orang ingin pujaan hati nya bahagia, kalo Angkasa ingin melihat wajah imut menggemas kan saat Agnez merajuk.


Tapi jangan salah, Angkasa akan selalu punya cara nya sendiri untuk membuat Agnez bahagia, itu yang dia camkan dalam hati nya.


Waktu terus berlalu.


Tak terasa jam sudah menunjuk pada angka 20.00 malam.


Angkasa sudah berbaring di atas ranjang nya dengan posisi nyaman.


Dia membuka ponsel nya dan memgecek kontak baru di ponsel nya.


Di aplikasi WA ada 3 kontak baru dengan nama Ibu Agnez, Ayah Agnez, dan Agnez.


Pada kontak Agnez, Angkasa mengganti nya dengan nama 'My Girl' dengan tanda hati merah di akhir nya.


Room Chat.


Angkasa : 'Assallammu'allaikum, lagi apa?.'


Di rumah Agnez.


Agnez tengah asik menonton drama di laptop nya, tiba-tiba ponsel yang ada di samping nya ini berbunyi.


'Tring!.'


Dengan malas Agnez melihat chat itu.


"Mas Angkasa? Mau apa dia?." Tanya Agnez oada diri nya sendiri.


Kembali ke Angkasa.


3 menit menunggu.


Agnez mengetik... .


Agnez : 'Wa'allaikum sallam, lagi baring sambil liat drama, ada apa to Mas?.'


Angkasa : 'Tidur! Udah malem! Besok aku jemput, jam 6 lebih 5 aku udah sampe di sana!.'


Di kamar Agnez.


Dia sedang membaca pesan Angkasa.


"Dih! Ndak mau aku kalo di jemput, aku kan udah punya Mas Bambang yang anter jemput tiap hari." Cetus Agnez pelan.


Agnez : 'Ndak usah jemput, aku bisa berangkat sama supirku.'


Back to Angkasa.


"Pasti dia mau berangkat ama Mas Bambang, cih! Ngga akan aku biarin!." Seru Angkasa berdecih.


Angkasa : 'Ngga ada penolak kan! Kalo kamu masih mau berangkat sama Pak Bambang aku bakal suruh Ayah kamu buat pecat dia, dan aku yang akan ganti in dia jadi supir kamu!.'


Sifat pengancam yang di miliki Angkasa muncul, terbit senyum miring saat pesan nya di baca oleh Agnez.

__ADS_1


Di kediaman Agnez tepat nya di kamar Agnez, gadis itu memberungut kesal.


"Mau nya Mas Angkasa ini opo to? Ini juga jantung ku sama bibir ku! Kok ndak sejalan ama otak ku seh?! Jantung ku detak nya kenceng banget pas Mas Angkasa bilang mau jemput, ini bibir ku juga ngomel tanda tak mau, dan otak ku bilang aku harus tolak, ck! Dasar aku aneh." Agnez bermonolog.


Tiba-tiba Angkasa mengirim pesan lagi.


Angkasa : 'Aku anggap kamu menerima tawaran ku, ralat maksud ku perintah ku, aku jemput kamu besok, tidur sekarang!.'


Begitu lah pesan terakhir Angkasa, setelah itu tanpa mau repot-repot menunggu protesan Agnez, Angkasa sudah off.


"Mas Angkasa egois! Dasar cowok ngeselin!." Jengkel Agnez. Tapi dia tetap menuruti perintah Angkasa yang menyuruh nya tidur.


Dia memati kan laptop nya juga lampu utama kamar nya dan memposisi kan tubuh nya berbaring nyaman di kasur Queen size nya.


Entah reflek atau karena apa, inti nya tubuh Agnez sekarang patuh akan titah Angkasa, hati nya tak menolak, bibir nya dan otak nya yang medumel tak jelas.


Memang yah, urusan cinta itu ngga bisa di urus pake logika, kalo ngurus nya pake akal ngga akan nemu jalan keluar nya, cinta itu soal perasaan, soal hati, soal rasa, bibir dan otak mengata kan tidak, tapi hati dan tubuh berkata iya, aneh, tapi itu kenyataan nya.


Bulan sudah berganti dengan matahari.


Pagi ini Angkasa sangat begitu semangat pergi ke sekolah, dia sudah menghubungi Damar Wulan dan lain nya jika hari ini dia tak kan berangkat bersama, dia akan pergi ke sekolah mengguna kam motor sprot nya.


Di meja makan rumah Mama Tika dan Papa Zaidan.


"Bang? Pagi ini semangat banget, ada apa sih?." Tanya sang Mama kepo.


"Sesuatu yang spesial Ma." Jawab Angkasa yang malah berteka teki.


Papa dan Mama Angkasa hanya saling pandang tak paham maksud sang anak.


"Kalo anak muda yang tingkah nya ngga karuan gini, pasti ada apa-apa, iya kan Ma?." Cetus Papa Zaidan yang berusaha mengorek info.


"Hmmm... bener banget, tingkah ABG yang kaya gini nih biasa nya dia lagi jatuh cinta, bener yah! Kamu lagi jatuh cinta yan?!." Sergah Mama Tika antusias.


Angkasa tak menjawab malah senyum-senyum sendiri bak orang gila.


"Bang? Mama bener yah? Abang jatuh cinta sama siapa? Anak mana? Mama kenal ngga?." Tanya Mama Tika beruntun.


Angkasa tak menjawab dan sekali lagi hanya senyum sendiri.


"Bang?." Tegur sang Papa.


Cowok ganteng itu tersenyum manis kepada ke dua orang tua nya.


"Iya Angkasa lagi jatuh cinta, tapi maaf orang nya ngga bisa Angkasa bawa sini dulu, Mama sama Papa ngga marah kan kalo Angkasa jatuh cinta?." Tanya Angkasa serius.


"Jatuh cinta boleh sayang, tapi jangan sampai mengganggu waktu belajar kamu, Mama sama Papa ngga marah kamu jatuh cinta, itu wajar, apa lagi kita normal, pasti bakal ada rasa jatuh cinta, tapi... yang kamu sukai itu cewek kan Nak?." Tanya Mama cemas.


"Ya iya lah Ma, masa aku suka sama cowok? Masa aku jeruk makan jeruk." Cetus Angkasa dengan cemberut.


"Hahaha... ok ok Mama minta maaf udah seudzon." Ucap Mama Tika tulus sambil mengelus pucuk kepala Angkasa lembut.


"Yang di kata kan Mama kamu bener Angkasa, kita juga pernah muda, jatuh cinta itu boleh, tapi tetep kewajiban kamu sebagai pelajar harus di prioritasin! Kalo sampe nilai kamu anjlok hanya gara-gara cinta, detik itu juga, Papa bakal kirim kamu ke luar negeri, tinggal di asrama tanpa fasilitas yang biasa kamu guna in, teruma HP dan Laptop." Tegas Papa Zaidan berucap.


"Siiap Pa! Angkasa tetap akan memprioritas kan kewajiban Angkasa sebagai pelajar, Papa ngga usah khawatir, in syaa Allah Angkasa bisa handle semua nya." Ujar Angkasa penuh ke mantab an.


Setelah pembicaraan serius itu, Angkasa dan Mama Tika juga Papa Zaidan melanjut kan makan nya.


Pukul 05.50 pagi Angkasa sudah bersiap ingin berangkat sekolah.


"Loh Bang? Ini masih pagi banget loh, kamu bakal sendiri an di sekolah kalo berangkat jam segini." Celutuk Mama Tika sambil melihat jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kiri nya.


"Hehehe... Angkasa mau jemput 'Big Baby' dulu Ma." Balas Angkasa sambil cengengesan.


"Nama nya siapa sih Bang? Kasih tau Papa dong." Pinta Papa Zaidan.


"Mama juga mau tau nama nya dong Bang, kasih tau dong." Mama Tika ikut-ikutan memohon.


"Nama nya Agnez Oktavian Ma Pa, dia gadis asli orang Jawa Tengah." Jawab Angkasa walau tak detail.


"Nama orang tua nya? Kamu tau ngga? Siapa tau aja Papa kenal." Tanya Papa Zaidan.


"Angkasa ngga tau nama orang tua nya Ma, Pa, hehehe... ." Tutur Angkasa sambil cengengesan.


"Ya udah biar nanti Papa cari tau sama asisten Papa." Ujar Papa Zaidan sambil tersenyum lembut pada anak dan istri nya.


"Angkasa pergi ke rumah calon mantu Mama sama Papa dulu deh, assallammu'allaikum." Salam Angkasa sambil mencium punggung tangan ke dua orang kesayangan nya itu.


"Wa'allaikum sallam, bawa motor nya hati-hati loh Bang, kalo ada waktu bawa ke sini calon Mama itu, atau bawa aja ke Cafe." Kata Mama Tika yang hanya di balas oleh acungan 2 jempol oleh Angkasa.


Di rumah Agnez.


Gadis manis itu sedang sarapan bersama di meja makan bersama ke dua orang tau nya dengan memasang wajah kusut.


"Kenapa muka di tekuk gitu to Nduk?." Tanya Ibu Agnez lembut pada Agnez.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2