Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Ninety-seven


__ADS_3

Di dalam kamar Rafka Zarine kembali berpelukan dan menangis bersama.


"Alhamdulillah sayang, kita bakal jadi Mommy and Daddy." Senang Zarine.


"Alhamdulillah." Kata Rafka bahagia.


"Ya udah, ayo bersiap ke sekolah, dan usaha kan jangan ada yang tau dulu selain kita." Sambung Rafka yang mendapat angguk kan cepat Zarine.


Mereka berdua pun bersiap untuk sekolah.


Hasil dari test pack tadi adalah 2 garis merah.


Kalau mau tau hasil test pack Akifa dan Alfi, in syaa allah besok, sabar aja yaaa.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Beberapa jam yang lalu tepat nya setelah sholat subuh di rumah Abdiel Akifa.


Abdiel menyuruh sang istri mengambil alat uji kehamilan yang sudah di celup kan Akifa ke air seni di kamar mandi.


Akifa mengambil nya tapi belum melihat hasil nya, dia mau memperlihat kan nya pada Abdiel terlebih dahulu.


"Apa hasil nya?." Antusias Abdiel bertanya.


"Aku ngga tau, aku ngga mau liat, kamu aja dulu yang liat." Kata Akifa lalu menyerah kan test pack nya ke tangan Abdiel.


Abdiel menerima sambil memejam kan ke dua mata nya erat.


Dia menarik nafas kuat, lalu menghembus kan nya perlahan.


'Ya allah semoga hasil nya seperti apa yang aku harap kan.' Batin Abdiel berdoa.


"Huuhh... bismillah allahu akbar!." Setelah mengucap kan itu Abdiel membuka mata nya.


Dia diam terpaku tanpa mengeluar kan suara.


Mata nya bergantiana manatap test pack dan Akifa.


"Kenapa? Apa hasil nya? Ngga sesuai sama mimpi kita ya?." Tanya Akifa beruntun.


Abdiel diam tak menjawab juga tak memberi respon apa pun.


"Ya udah lah berarti be-." Ucapan Akifa terpotong.


'Grep.'


Abdiel memeluk Akifa erat, sambil menciumu pucuk kepala sang istri.


Tak terasa pula air mata Abdiel jatuh.


"Kita berhasil, kita bentar lagi punya Baby." Bisik Abdiel tepat telinga Akifa.


"Ma... mak... maksud kamu a... a... apa?." Tanya Akifa gagap.


Jantung nya sudah dah dig dug menunggy jawaban dari sang suami.


"2 garis merah, kamu positif mengandung Akifa." Jelas Abdiel memperjelas.


Akifa tersenyum lalu kemudian menangis bahagia, dia membalas Abdiel tak kalah erat.


"Terima kasih ya Allah." Ucap syukur Akifa.


"Alhamdulillah." Sahut Abdiel senang.


Mereka melepas pelukan dan saling memandang juga menghapus air mata yang masih tersisa di pipi masing-masing.


"Kita ke rumah sakit dan konsultasi sama dokter sekalian sama USG si Baby." Kata Abdiel.


"Iya aku ikutin kamu aja." Jawab Akifa.


Lalu mereka kembali berpelukan.


"Nanti kita berangkat sekolah pake mobil sendiri aja biar mudah ke rumah sakit nya, dan sementara jangan sampe ada yang tau selain kita." Pinta Abdiel pada sang istri.


"Iya." Singkat Akifa menjawab.


"Kita kumpul nanti di rumah Rafka Zarine bareng keluarga besar lain nya." Kata Abdiel.


Akifa tak menyahut dengan kata-kata dia hanya mengangguk kan kepala cepat.


Kita ke kediaman Abhi Alfi.


Abhi Alfi duduk di tepi ranjang dengan memejam kan mata nya.


Di tangan kanan Alfi ada alat uji kehamilan yang sudah muncul hasil nya.


"Kita buka mata setelah hitungan ke tiga ok." Instruksi Abhi.


"Ok, ayo kamu hitung." Kata Alfi.


"Bentar, huuhhh." Abhi menarik nafas gugup.


"Aku deg deg an." Gumam Alfi yang dapat di dengar Abhi.


"Sama aku juga gugup Yang." Balas Abhi.


"Udah cepet hitung." Suruh Alfi.


"Bismillah ya allah aku berharap ngga mengecewa kan." Doa Alfi.


"Kalo mengecewa kan kita tinggal lebih giat bikin nya Yang." Celutuk Abhi.


"Udah jangan nyaut terus, aku capek tutup mata, cepet!." Seru Alfi.


"Iya iya ini OTW." Balas Abhi.


(Lagi gugup-gugup gitu masih sempet aja goda istri nya, dasar Abhi #AuthorGesrek).


'Bismillah.' Doa Abhi.


"Satu."


"Dua."


"Tiga!."


Kedua sejoli itu kompak membuka mata dan melihat hasil nya.


Terkejut.


Satu kata itu lah yang wamakili mereka.


Lalu... .


'Grep!.'


Abhi Alfi saling menabrak kan diri berpelukan.


"Hiks... hiks... aku ngga lagi mimpi kan Yang?." Tanya Alfi.


"Engga kamu ngga mimpi, ini nyata sangat sangat sangat nyata, alat itu menunjuk kan 2 garis merah, kita akan jadi Mami dan Papi." Jelas Abhi meyakin kan Alfi.


"Huaaa!! Abhi aku seneng banget, aku bahagia." Ucap Alfi semakin mengeras kan suara tangisan nya.


"Hei huts... huts... cup... cup... sayang, jangan kenceng-kenceng nangis nya nati ART pada panik dan tau." Kata Abhi menenang kan sang istri.


Alfi pun menghenti kan tangisan nya dan melepas pelukan nya pada tubuh Abhi.


"Kita harus cek ke rumah sakit, USG biar makin kuat hasil bukti nya." Kata Abhi.


"Ha aku setuju." Jawab Alfi.


"Ya udah kita nanti naik mobil sendiri aja, dan nanti malam kita ngumpul ama keluarga besar di rumah Rafka." Jelas Abhi.


"Iya aku ngikut semua kata kamu aja lah." Balas Alfi.


Setelah itu mereka bersiap-siap untuk berangkat sekolah.


Pukul 06.10 pagi.


Rafka Zarine sudah siap untuk berangkat, mereka sudah sarapan juga, tadi saat sarapan Bunda kembali menanya kan ada apa pagi-pagi Zarine berteriak, dan Rafka beralasan bahwa Zarine terkejut sesuatu, untung nya Bunda percaya dan tak menanyaka nya lagi.


Dan sekarang Rafka sedang mangambil mobil dari garasi.


"Gau suruh anak-anak pake mobil sendiri-sendiri deh untuk hari ini, bisa gawat kalo mereka ngikut mobil Gua." Rafka bermonolog.


Dia mempunya rencana membawa Zarine ke rumah sakit untuk memeriksa kan kandungan nya.


Tapi Zarine tak tau akan rencana Rafka itu.


Rafka mengirim pesan lewat grup chat whatsapp.


^^^Rafka : 'Yang numpang mobil Gua, hari ini kalian bawa mobil sendiri-sendiri, Gua mau berdua an sama Za.'^^^


Abhi : 'Gua juga mau berdua an sama Alfi, jadi kagak numpang, mungkin besok numpang lagi hahaha.'


Abdiel : 'Sama Gua juga mau ayang-ayang an sama Akifa, hari ini pengen nyetir, besok kita numpang lagi wkwkwkwk.'


^^^Rafka : 'Bagus deh kalo gitu, besok berangkat bareng lagi.'^^^


Tika : 'Nasib Gua gimana nih woy?😢 Kak Zaidan udab berangkat dulu an lagi😢.

__ADS_1


Abhi : 'Bawa motor atau mobil kan bisa Tik.'


Abdiel : 'Sorru Gua ngga mau ngasih tumpangan yak.'


^^^Rafka : 'Atau kalo ngga lo taksi online aja bisa juga ojol.'^^^


Tika : 'Iya udah kalo gitu, Gua mau liat di garasi ada motor apa ngga, Gua pamit assallammu'allaikum.'


Abdiel : 'Wa'allaikum sallam.'


Abhi : ' Wa'allaikum sallam.'


^^^Rafka : 'Wa'allaikum sallam.'^^^


"Rafka?! Kok lama sih Yang? Kamu ngapain?." Suara Ibu negara memanggil di depan garasi.


Posisi Rafka memang masih di garasi tapi dalam mobil.


"Oh lama ya? Maaf, aku tadi habis hubungin anak-anak." Kata Rafka.


Zarine berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalam.


"Kenapa hubungin anak-anak?." Tanya Zarine.


"Nyuruh buat pergi naik mobil sendiri-sendiri, hari ini aku mau bawa kamu ke rumah sakit buat USG si baby." Jelas Rafka.


"Tapi kita sekolah, gimana mau ke rumah sakit nya? Kalo nunggu pulang sekolah, dapat nomer berapa nanti antrian nya?." Tanya Zarine.


"Kita bisa ijin nanti, atau kamu doa in biar pulang pagi hari ini, doa in yah anak Daddy." Kata Rafka sambil mengelus perut Zarine yang masih rata.


"Iya Daddy Baby doa in." Jawab Zarine meniru kan suara seorang balita.


"Hahaha, ok kita berangkat sekarang." Ucap Rafka.


"Ayo!!." Seru Zarine semangat.


Mobil Rafka Zarine meluncur meninggal kan garasi dan rumah.


Kamudian dibelakang di susul mobil Akifa Abdiel, lalu di urutan terakhir ada mobil Abhi Alfi.


Mari kita lihat kondisi Tika di rumah nya😂.


"Dasar kalian semua, kenapa ngga bilang kemarin malem sih." Gerutu Tika pelan sambil mengerucut kan bibir nya kesal.


"Mana Kak Zaidan berangkat pagi buta, Gua lagi males nyetir, apa Gua ojol aja yak?." Pikir Tika.


Lama berpikir dia melihat jam yang melingkar di tangan kiri nya.


"Allahu Akbar udah siang! Ojol aja dah cepet." Putus Tika.


Dia memesan ojol, lalu selang beberapa menit sangv ojol pun sampe.


"Bang ngebut yak, saya telat ini, tadi di tinggal in ama temen-temen saya." Curhat Tika memelas.


"Iya Mbak saya usaha kan ngebut." Kata Abang Ojol.


Motor pun meluncur dan meninggal kan kediaman Tika.


3 mobil sampai di gedung sekolah SMA Merdeka.


Setelah memarkir kan mobil di tempat parkir mobil khusus mobil siswa.


Penumpang mobil yang adalah 6 serangkai keliar mobil.


"Jam berapa ini?." Tanya Abhi.


"Jam... 06.35 pagi." Jawab Alfi setelah melihat jam tangan di tangan kiri nya.


"Masih ada waktu, kita nongkrong di lapangan basket kuy." Ajak Akifa.


"Ayo." Sahut lain nya.


Sepanjang perjalanan ke lapangan basket out door banyak siswa siswi memuji mereka ber 6.


Tak hanya memuji yang menghujat pun banyak😂.


(Iri? Bilang Boss😂 #AuthorGesrek).


Sampi di lapangan, semua nya duduk berkumpul di tribun basket.


Di sana ada banyak siswa bermain basket yang bisa di lihat itu anak kelas 10 yang berarti junior 6 serangkai.


Setelah duduk para perempuan sibuk berceloteh panjang lebar, dan para laki-laki sibuk dengan ponsel nya masing.


Rafka mengirim pesan pada dokter kandungan terbaik di rumah sakit Harapan Bunda.


Nama dokter nya adalah Dokter Lexa.


Room chat.


^^^Rafka : 'Assallammu'allaikum dokter Lexa.'^^^


Dokter lexa : 'Wa'allaikum sallam, ada apa Rafka?.'


^^^Rafka : 'Dok saya mau konsultasi kehamilan dan sekalian melakukan USG, istri saya tadi pagi coba alat uji kehamilan dan hasil nya positif, untuk memperkuat kita mau USG.'^^^


Dokter Lexa : 'Langsung saja kemari Raf, saya tunggu.'


Dokter Lexa : 'Ya baik kalo gitu saya tunggu.'


^^^Rafka : 'Dok tolong jangan kasih tau keluarga saya dulu soal ini, biar saya sendiri nanti yang membicara kan nya, ok kalo begitu saya pamit dulu terima kasih Dok.^^^


Dokter Lexa : 'Iya saya akan tutup mulut, sama-sama.'


Chat dengan Dokter Lexa berakhir.


Sedikit tentang Dokter Lexa, beliau adalah teman Mama Rafka waktu di panti dulu.


Beliau berteman baik sampai sekarang, walau tak terlalu akrab pada keluarga lain nya tapi Dokter Lexa mengenal semua keluarga besar Rafka.


Abdiel dan Abhi di sebelah Rafka, mereka berdua juga menghubungi Dokter Lexa, juga mangatakan hal yang sama seperti yang di ucap kan Rafka.


Di ruangan nga Dokter Lexa bingung sendiri.


"Ini kenapa 6 serangkai main petak umpet sih, terus ini aku gimana dong? Mana dulu yang akan aku urus?." Pusing Dokter Lexa.


Beliau berpikir sebentar.


"Ok begini saja, Rafka Zarine pertama, Abhi Alfi kedua, dan Abdiel Akifa ketiga." Putus beliau.


Di tribun basket ada 3 wanita yang duduk di atas sana sambil memperhati kan junior kelas nya main basket.


Dari arah masuk lapangan, seseorang masuk sambil berlari lalu duduk di dekat Zarine.


'Hosh... hosh... hoh... .' Dia ngos-ngos an dan nafas nya tersendat-sendat.


"Lo kenapa lari Tik?." Tanya Abdiel.


"Gu... Gua... kira... dah masuk... takut telat Gua tuh, hah... hah... hah... ." Nafas masih belum teratur dan berbicara pun masih terbata-bata.


"Hehehe... maaf yak Tik, kagak bisa numpangin Gua." Ucap Abdiel.


"Kalian berdosa banget... seharus nya kalian tuh bilang dari kemarin malem biar Gua kagak bingung sendiri." Tika menampil kan wajah memelas nya.


"Ada apa Bang Idan berangkat pagi?." Tanya Rafka.


"Ada rapat perusahaan pagi ini." Jawab Tika singkat.


Lalu... .


'Test satu dua di coba... ehem! assallammu'allaikum anak-anak didik ku dari kelas 10 sampai kelas 12 hari ini setelah upacara bendera merah putih kalian boleh langsung pulang karena sekolah akan ada rapat di kantor pusat, terima kasih, wassalammu'allaikum.'


"Alhamdulillah pulang pagi!." Seru 6 serangkai kompak.


"Haaaahhhh!!! Tau gitu Gua kagak bakal masuk sekolah." Jerit Tika emosi.


"Hehehe sabar sabar, orang sabar di sayang ama suami." Hibur Zarine, Akifa, dan Alfi dengan mengusap dada, punggung, dan kepala Tika.


"Esmosi Gua tuh, huhuhuhu." Tika menangis di buat-buat.


'Tring... ring... ring... ." Bel tanda upacara di mulai berbunyi.


"Ayo segera ke lapangan." Ajak Zarine.


"Ngga usah!!." Cegah Rafka, Abdiel, dan Abhi.


"Eh buset, lebay oy kalian." Celutuk Tika.


"Udah kalian ber empat ada di sini aja, biar kita ijinin sama guru BK kalo kalian lagi sakit." Tegas Abdiel di angguki Abhi dan Rafka.


"Tapi-." Belum selesai Alfi protes Abhi menyela.


"Ngga ada tapi-tapi an nurut! Duduk yang manis di sini, assallammu'allaikum." Salam 3 cowok itu.


"Wa'allaikum sallam." Jawab 4 cewek yang masih bingung itu.


Mereka pergi.


"Ini... terus kita ngapain?." Tanya Tika.


"Duduk diam sambil main ponsel, jangan ngelawan 3 cowok itu, males debat aing." Putus Alfi.


"Iya bener tuh." Kata Zarine yang di angguki Akifa.


Diam.


Suasana hening tak ada suara.


hanya terdengar suara pembawa susunan upacara di lapangan.


"Girl's? Gua nanti pulang sama sape nih?." Tanya Tika sambil menoleh ke arah Zarine, Alfi, Akifa.


"Naik ojek online lagi aja Tik, nanti minta turun di depan kantor Bang Idan aja kalo Lo ngga mau sendiri di rumah." Saran Alfi.


"Atau kalo Lo mau sama Kak Rain sama Bunda, ya pulang aja kerumah." Kata Akifa.


"Gua pulang ke rumah aja deh, kalian nanti ngga langsung pulang kah? Kok nyuruh Gua naik ojek online?." Tanya Tika.

__ADS_1


"Abdiel ngajak kencan, kata nya dia pengen punya waktu ber dua ama Gua." Bohong Akifa lancar.


"Kalo Gua, Abhi bilang mau ngajakin ke suatu tempat." Lancar dan mulus mulut manis Alfi berbohong.


Lalu semua menatap Zarine meminta jawaban.


"A... i.. itu... a.. anu aku sama Ra... Rafka juga mau pergi, tapi a... aku sendiri ngga tau ke... kemana, aku cuma ngikut aja." Gagap dan gugup takut ketahuan, itu yang Zarine rasakan.


Pasal nya Zarine itu sangat susah jika di suruh berbohong atau cari alasan.


Maka nya saat ini dia deg deg an takut 3 sahabat cewek nya ini tidak percaya dengan bicara nya.


"Ohhh... ok ok." Jawab ke tiga nya bersamaan.


'Huuuuh.' Zarine menghembus kan nafas lega mendengar jawaban sahabat nya ini.


'Bisa juga ternyata aku berbohong.' Kata Zarine membangga kan diri.


'Tapi itu kan dosa, masa aku bangga karena udah buat dosa sih.' Sedih Zarine.


Beberapa menit terlewati.


Upacara pun selesai, Rafka, Abhi, dan Abdiel kembali ke lapangan basket untuk menjemput istri-istri mereka masing-masing.


Saat sampai di lokasi.


"Loh?, mereka kemana?." Tanya Abdiel.


"Pasti ke kantin, ayo susulin." Ajak Rafka dan 2 pasukan nya mengangguk kan kepala.


Mereka meyusul ke kantin.


Terlihat di meja pojok kantin, 4 cewek sedang memakan jajan kantin dengan di selingi canda tawa.


Lalu 3 cowok itu menghampiri.


"Wa udah selesai ternyata, ayo sini makan dulu." Ajak Zarine yang melihat ke hadiran mereka.


Para laki-laki itu duduk di sebelah istri masing-masing.


"Udah dar tadi kah kalian di sini?." Tanya Rafka.


"10 menit yang lalu kurang lebih." Jawab Zarine.


"Udah makan jajanan apa aja tadi?." Tanya Abhi.


"Siomay, batagor, dan ini terakhir bakso." Jelas Abhi.


"Udah kenyang?." Tanya Abdiel.


"Sebener nya sih belum." Jawab Akifa bergumam.


"Astaghfirullah hal adzim." Ketiga cowok itu beristighfar secara bersamaan dan mengelus dada nya sabar.


"Bini kalian bertiga nih aneh bat, Gua aja habis satu piring siomay udah kenyang, eh mereka tambah batagor sama bakso, itu beneran perut?." Tanya Tika heran.


'Kalo makan buat perut sendiri sih pasgi kenyang Tik, bini Gua kan makan nya buat Baby juga ya pasti gini deh jadi nya.' Batin Rafka, Abdiel, dan Abhi sama tanpa perjanji an atau kerja sama.


"Beb? Ayo pergi." Ajak Abdiel.


"Mau kemana?." Tanya Abhi.


"Kencan dong." Sombong Abdiel.


"Sombong amat Lu, Gua juga mau kencan ye sama Alfi, come on Bee kita pergi." Ajak Abhi.


"Ayo Yang." Ajak Rafka.


6 pasangan itu pergi meninggal kan kantin dan Tika sendiri di sana.


"Jahat kalian semua! Awas aja kalian!." Tila berteriak yang seluruh kantin mendengar nya.


Tapi 6 serangkai hanya mengacung kan Ibu jari nya ke atas tanpa menoleh ke Tika.


Di parkiran mobil, mereka masuk ke mobil masing-masing dan melajukan mobil nya ke arah berbeda.


Begini lah jika sahabat saling menyembunyi kan sesuatu dan pergi ke tempat yang sama, mereka berusaha agar tak di ketahui satu sama lain.


Dokter Lexa telah mengatur sedemikian rupa jadwal konsultasi 3 keluarga junior ini.


Meski agak ribet tapi Dokter Lexa mampu mengatur nya.


Sesuai jadwal, Rafka Zarine yang terlebih dahulu masuk ruangan.


Mereka telah tiba di rumah sakit dan Rafka Zarine tengah duduk di hadapan Dokter Lexa untuk membicara kan tentang kehamilan ini.


"Sudah berapa minggu Zarine terlambat kedatangan tamu bulanan?." Tanya Dokter.


"Bulan Januari kemarin saya telat Dok, dan bulan ini pun telat." Jawab Zarine.


"Biasanya kalo tamu nya datang tanggal berapa?." Tanya Dokter.


"Biasanya awal bulan Dok." Jelas Zarine.


"Emmmm... sudah cek dengan test pack?." Tanya beliau kembali.


"Sudah dok dan hasil nya 2 garis merah." Jawab Zarine bahagia.


"Emmm... baik, ayo sekarang Zarine berbaring di ranjang sana." Instruksi Dokter Lexa.


Zarine menurut lalu di bantu Rafka dia naik ke ranjang rumah sakit itu.


Perawat mengoles kan jel di atas perut Zarine lalu meratakan nya.


Dokter Lexa menempelkan alat di atas perut Zarine lalu menggerak kan nya.


"Usia nya 8 minggu ya Zarine Rafka dan... oh selamat Baby kalian kembar, wah wah hamil pertama langsung di karuniai Baby twins ya, selamat untuk kelian, detak jantung bayi pun sudah mulai terdenger." Panjang lebar Dokter Lexa menjelaskan perkembangan Baby mereka berdua.


Beliau juga menjelaskan semua resiko hamil di usia muda mulai dari yang ringan sampai kematian sang Ibu dan Baby.


Selain menjelas kan tentang resiko, beliau juga menjelas kan menjaga Baby dengan baik, makanan apa saja yang baik untuk sang Ibu saat masih mengandung, melahirkan, sampai dengan menyussui.


Semua nya dokter jelas kan dengan terperinci.


Setelah 2 jam lama nya berkonsultasi, 2 sejoli muda itu pun pamit pulang, sebelum itu Rafka menebus vitamin dan lain nya yang di perlu kan sang istri di apotik, sampai membeli susu untuk Ibu Hamil.


Lalu setelah semua lengkap, Rafka Zarine pun pulang.


Selang 5 menit Abdiel Akifa masuk ke ruangan Dokter Lexa.


Beliau melakukan apa yang telah di lakukan pada Zarine sebelum nya.


"Usia kandungan Akifa... 4 minggu janin masih berbentuk embrio sebesar biji bayam, di jaga ya Akifa, makan makanan yang sehat dan bergizi." Nasihat Dokter Lexa.


Kemudian selsai berkonsultasi dan USG Abdiel Akifa keluar ruangan menuju ke apotik menebus obat, vitamin, dan membeli susu.


Dan ini yang terakhir, Abhi Alfi.


Mereka mendapat dongeng panjang dari dokter Lexa tentang hamil di usia muda.


Lalu Alfi di USG.


"Usia janin nya... 5 minggu ya Alfi Abhi, itu liat di layar monitor, jantung si Baby sudah mulai berdenyut." Beri tahu Dokter.


Abhi Alfi bisa mendengar suara denyut jantung buah cinta mereka.


"Jangan sering melakukan perkerjaan barat, jangan sampai lelah, jika lelah segera istirahat jangan memaksakan diri." Nasihat Dokter Lexa panjang lebar.


Pukul 11.00 siang Abhi Alfi pulang setelah tadi dari opotik menebus berbagai macam vitamain yang di resep kan Dokter Lexa.


Di kamar Rafka Zarine.


Mereka duduk saling di atas ranjang denga posisi Zarine bersandar di dada bidang Rafka sambil melihat foto USG tidak.


"Aku tadi masih belum percaya kalo kita bakal jadi Daddy Mommy, detak jantung nya buat aku terharu Yang, hati aku rasa nya bergetar terharu banget deh pokok nya." Jelas Rafka panjang lebar tentang perasaan nya.


Lalu dia berpindah posisi ada di pangkuan Zarine sambil mengelus perut yang masih rata hanya sedikit berisi.


"Baik-baik ya sayang di sana, jangan nakal." Rafka berbicara pada perut Zarine.


"Iya Daddy, Baby twins ngga akan nakal." Balas Zarine menirukan suara anak kecil.


"Hahaha." Tawa ke dua nya pecah.


"Aku makin bahagia tau kamu hamil anak aku, makasih Yang, aku harap kamu ngga nyesel punya aku." Kata Rafka sembil menitih kan air mata.


"Aku ngga pernah nyesel punya kamu, aku juga bahagia banget tau kalo aku di dalam perut ku ini ada kehidupan, aku seharus nya yang makasih ke kamu." Ucap Zarine ikut menetes kan air mata.


Mereka berdua berpelukan sambil mata mengeluar kan air.


"Aku mencintai kalian bertiga" Ucap Rafka.


"Aku juga."


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalo garing😢🙏


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Maaf banget kalo makin hari ceritaku ngga menarik.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2