Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 237


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


Di tengah perasaan bersalah pada Wulan itu, diam-diam dia berdoa untuk sang Ayah.


'Beri Ayah ku hidayah ya Rabb agar bisa kembali ke jalan-Mu yang benar dan tak melanggar perintah dan larangan-Mu.' Doa Haris sangat tulus dari hati yang paling dalam.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Waktu berlalu begitu cepat nya.


Hari sudah menginjak pagi hari yaitu pukul 05.00 pagi.


Semua wanita paruh baya melakukan kegiatan sehari-hari mereka saat di rumah dan di pagi hari.


Di dapur ini ada 2 wanita baru, yaitu Kak Rain dan Ibu Dewi.


Yap! Sesuai kesepakatan siang kemarin, Kak Rain, dan Agnez sekeluarga menginap di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka sampai hari kepindahan mereka semua.


Barang-barang milik orang-orang itu di ambil oleh orang suruhan dari Daddy Rafka atas ijin Tuan Rumah tentu saja.


Pukul 05.00 di ruang makan sudah ramai dengan suara dari 7 serangkai.


Para gadis sudah membantu para tetuah di dapur jadi mereka duduk di meja makan menunggu makanan di hidang kan.


"Bisa ngga sih kalo hari senin ngga ada?." Tanya Kristal dengan tangan nya memain kan gelas di atas meja.


Kepala nya juga ia rebah kan menghadap kanan menatap 6 orang lain nya di meja makan ini.


"Iya loh, kenapa yah hari senin itu bikin lesu, males, ndak bertenaga?." Tanya Agnez sambil menampak kan wajah cemberut nya.


"Gimana pun jelek nya hari senin, kita tetep harus sekolah, ngga baik kan kalo bolos, bentar lagi kalian ke kelas 12 harus rajin belajar dan masuk kelas." Itu suara Kak Rain, dia menasihati 6 serangkai.


Dalam pembicaraan itu membuat Agnez sedih. Dia ingat bahwa Angkasa dengan diri nya ada jarak, yaitu umur.


Agnez menatap Angkasa dengan tatapan yang sulit di arti kan.


Angkasa yang merasa ada yang memperhati kan diri nya dia pun menoleh pada Agnez, pandangan mereka bertemu.


Angkasa yang tau apa arti tatapan Agnez itu meraih tubuh mungil Agnez dan medekap nya.


"Aku ngga akan tinggalin kamu, aku akan tetap di sini, stay di sini, kuliah di sini, temenin kamu di mana pun, kapan pun, terus aku bakal antar jemput kamu tiap hari ke sekolah." Kata Angkasa sambil mengelus pucuk kepala Agnez.


"Janji?." Agnez menanya kan kepastian Angkasa pada diri nya.


"In syaa Allah, aku ngga bisa janji, ngucap janji itu kalau kita sanggup, aku kan ngga bisa kalo terus sama Agnez, jadi jawab nya in syaa Allah aku bakal luangin waktu se banyak-banyak nya dan semampu ku" Balas Angkasa di iringi senyum manis nya.


Karena drama itu Angkasa mau pun Agnez menganggap dunia bak milik mereka berdua seorang, lain nya gaib ngga di anggap, alias ngontrak😂.


Mereka tak sadar kalau para tetuah baik yang wanita mau pun pria menatap mereka berdua dengan senyum senang.


Sampai... .


"Udah! Pagi-pagi bukan nya bersiap ke sekolah malah nge drama di meja makan, pergi ke kamar masing-masing dan bersiap ke sekolah!." Perintah Ibu Agnez menggemah di meja makan.


Dengan gerak kan kilat 7 serangkai pergi dari meja makan.


Para pria dan wanita lain nya yang melihat terkekeh geli.


"Hah? Ini para pria nya kenapa ikut-ikutan masih ada di sini? Pergi sana ke kamar siap-siap ke kantor, jangan ikut-ikutan drama kaya Angkasa dan Agnez." Kata Mama Tika memerintah.


"Ayo bantu in, Papa ngga bisa pasang dasi sendiri nih Ma, salah lagi nanti." Ajak Papa Zaidan pada sang istri.


Pukul 06.00 pagi semua orang berkumpul di meja makan di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.


Semua orang duduk berhadap-hadapan dengan pasangan nya, kecuali Albhi Wulan, dan Angkasa Agnez.


Mereka memilih mendekat pada gadis masing-masing.


Pamungkas yang duduk di hadapan Kak Rain menganalisa penampilan Kak Rain dari rambut sampai baju nya.


"Kak Rain? Ngga kerja kah?." Tanya Pamungkas karena melihat Kak Rain mengguna kan baju santai nya.


"Hehehe... Kak Rain ambil shift sore di resto, dan di Cafe nya siang." Jelas Kak Rain detail.


"Wah siang, jam berapa Mbak?." Tanua Agnez antusias.


"Jam... 2 an lah." Jawab Kak Rain yang meredup kan ke antusiasan Kak Rain.


"Kenapa? Little mau nonton Kak Rain manggung?." Tanga Angkasa lembut.


"Iya lah, siapa sih yang ndak mau denger dan liat performa dari Mbak Rain? Aku mau banget malah." Cetus Agnez semangat.


"Kak Rain kan sering konser dadakan di sini, jadi ngapain kita nonton konser nya." Enteng Angkasa berucap.


"Huh!." Agnez mendengus tak suka dengan jawaban enteng Angkasa.


"Apa? Salah kah aku little girl?." Tanya Angkasa polos.


Agnez tak menjawab dia malah melengos tak menjawab pertanyaan Angkasa.


Saat Angkasa hendak membuka suara kembali, Ibu Agnez menyela.


"Dah jangan debat! Makan makanan kalian, waktu ngga nunggu kalian, tapi kalian yang ngejar waktu, cepat!." Perintah Ibu Agnez tegas.


Tanpa banyak cakap lagi, semua orang melanjut kan memakan sarapan nya dengan lahap tak ada perbincangan atau suara-suara lain nya selain dentingan sendok yang bergesekan dengan piring.


Pukul 06.15, semua orang pergi ke kantor dan ke sekolah.


Tapi lagi-lagi drama terjadi.


Di teras depan rumah Momny Za dan Daddy Rafka.

__ADS_1


Agnez duduk di anak tangga dengan ke dua sepatu yang masih ada di tangan nya, bukan nya memakai nya, tapi dia malah menatap sepasang sepatu itu dengan tatapan jengkel nya.


"Nez? Ayo berangkat." Ajak Wulan pada gadis mungil itu.


Agnez mendongak dan menatap Wulan dengan pandangan sedih.


Wulan menyadari ekspresi sedih Agnez pun menanya kan ke adaan nya, dia ikut duduk di sebelah gadis manis itu.


"Why? Are you okay?." Tanya Wulan serius.


"Agnez ndak sekolah wes Mbak." Putus Agnez dengan melempar sepatu nya itu pelan.


Sepatu itu mendarat di kaki Angkasa, pemuda itu memungut nya dan menghampiri Agnez.


"Why little girl? Ada masalah?." Tanya serius Angkasa.


"Agnez ngga mau sekolah kata nya Bang." Jawab Wulan lugas.


"Kenapa?." Tanya Angkasa lagi.


"Sepatu nya ndak suka Agnez, kenapa di bawa in yang ada tali nya? Agnez ndak bisa tau kalo sepatu gitu, nali nya yang ndak bisa." Gerutu Agnez kesal dengan alis nya hampir menyatu.


"Allah, aku pikir apa, ya udah aku pasangin." Kata Angkasa cepat menjawab.


Dia mendekat pada kaki Agnez yang sudah terpasang kaos kaki dan memasang kan sepatu sekaligus menali kan nya.


2 menit kemudian.


"Wah! Cantik." Seru Agnez senang.


"Dah! Ayo berangkat ini udah siang, telat ini entar kita ke sekolah nya." Ajak Damar dengan langkah kaki berjalan menuju kemudi, di susul Kristal yang duduk di sebelah kemudi.


7 serangkai pergi ke sekolah dengan mobil yang di kemudi kan oleh Damar.


Beberapa menit perjalanan mereka pun sampai.


Semua orang keluar mobil dengan senyuman manis yang merekah indah di bibir, ralat! Bukan semua, tapi hanya para gadis saja yang tersenyum, para pria tak ada yang tersenyum mereka memasang wajah cuek, dingin, dan datar nya, ouh jangan lupa kan tatapan tajam bin menusuk mereka.


"Girl's?." Panggil Damar lembut pada para gadis.


3 gadis itu kontan menolah semua dengan tatapan bertanya-tanya.


"Ada apa Dam?." Tanya Kristal.


"Kalian pergi aja ke kelas atau ke lapangan upacara langsung, kita ada yang mau di urus bentar, ingat! Jangan misah, ke mana pun kalian harus bareng." Peringatan tegas Damar layang kan pada para gadis.


3 gadi itu mengangguk kan kepala nya dengan kompak meng iya kan semua peringatan Damar.


"Ya sudah kami pergi ke lapangan upacara dulu, kalian nyusul aja nanti, jangan sampai ngga ikut upacara, kita tunggu loh, assallammu'allaikum." Salam Wulan dengan melangkah menjauh dan melambai kan tangan nya ke arah 4 pria itu.


4 pria itu pun membalas nya dengan senyuman manis mereka tentu saja.


Sepeninggalan para gadis.


"Dengar! Haris ada di sini, jangan sampai lengah jaga para gadis, yang di incar di sini bukan satu gadis, tapi dua sekaligu!." Kata Damar serius.


"Kita semua akan bersatu menjaga 3 gadis itu." Cetus Pamungkas serius.


Tiba-tiba... .


"Wah wah... pada ngumpul di sini to, Gua cari in kalian ke seluruh sekolah loh ngomong-ngomong, ouh iya ada berita bagus nih buat kalian, kita ngga cuma satu sekolah, tapi juga satu kelas, kalian semua ada di kelas 11 IPS 3 kan? Gua juga di tempatin di sana tuh ama kepala sekolah." Kata Haris dengan nada mengejek nya.


"Haris?! Mending Lo jangan main-main sama kita! Ini peringatan pertama dari Gua sebagai Abang dan sebagai calon dari Kristal." Kata Damar dengan nada bicara yang tajam.


"Gua ngga ngincer Kristal kok, Gua juga ngga ngincer Kak Rain, yang Gua mau tuh cuma Agnez dan Wulan." Cetus Haris enteng.


"Sadar diri itu penting! Sampah kaya Lo ngga pantes dapet 2 gadis yang baik dan lugu kaya mereka!." Sini Albhi berucap.


"Lo mau jadi pebinor? Murahan banget, kaya kagak ada cewek lain aja Lo." Sungut Pamungkas ikut-ikutan menghina Haris.


Hati Haris panas di kata kan pebinor dan murahan, tangan nya mengepal erat dengan mata menatap 4 pria di depan nya ini tajam.


"Pebinor? Emang kalian semua udah pada nikah? Belum kan, jadi berhenti sok jadi suami mereka, kalian ngga ada yang tau masa depan, ya siapa tau di masa depan kalian bakal kehilangan gadis kalian masing-masing." Ucapan Haris berhasil membuat Angkasa terbakar emosi.


Pria nya Agnez itu sudah akan maju hendak meninju Haris, tapi Damar, Albhi, dan Pamungkas mencegah nya dan menenang kan Angkasa yang hendak kalap.


"Dia cuma mau pancing kit biar marah, udah jangan di ladenin dia tuh kaya setan! Suka goda in orang." Kata Damar mengeras kan suara nya.


"Elu semua yang setan! Enak aja wajah ganteng-ganteng gini di bilang setan! Huh! Ngga menghargai cipta an Allah Lu!." Haris kesal sampai membawa-bawa nama Tuhan alam semesta.


"Heh! Allah emang cipta in Lu sempurna, bahkan pake banget! Tapi sayang wajah sempurna Lo percuma kalo sifat Lo buruk! Gampang percaya sama orang!." Seru Pamungkas, dia juga menyindir Haris tentang Ayah nya.


"Dah! Berhenti ngurusin si kecoa ini, lebih baik kita ke lapangan nyusulin para gadis." Kata Albhi acuh, dia berjalan meninggal kan semua pria itu.


Saat melewati Haris, dengan sengaja dia menabrak pundak Haris dengan keras hingga Haris bergeser beberapa centi ke belakang.


Waktu terus berputar.


Sekarang semua orang telah memasuki kelas masing-masing setelah menyelesai kan upacara bendera beberapa menit yang lalu.


Di kelas 11 IPS 3.


Ucapan Haris di parkiran tadi ternyata bukam bualan semata, dia benar-benar di tempat kan di kelas 11 IPS 3 bersama Damar Wulan, Albhi, Kristal, Pamungkas, dan Angkasa.


Sekarang Haris tengah di perkenal kan oleh guru yang membawa nya ke kelas 6 serangkai itu.


"Anak-anak perkenal kan, sebelah saya ini adalah murid baru nama nya Haris, dia murid pindahan dari luar negeri, saya harap kalian semua bisa berteman dengan baik dengan nya, baik karena membuang waktu itu tak baik, mari kita mulai pelajaran pertama kita hari senin indah ini, Haris? Kamu duduk di bangku yang kosong di sana yah, bagi yang mau kenal Haris lebih lanjut bisa di terus kan saat jam istirahat nanti tiba." Kata Bu Guru yang memperkenal kan Haris tadi.


Kedatangan Haris di kelas 11 IPS 3 ini tentu saja menggeger kan semua murid gadis, kecuali Wulan dan Kristal.


2 gadis itu tampak tak peduli dan acuh tak acuh.


Pelajaran pertama di kelas 11 IPS 3 pun di mulai.


Semua mata fokus menatap papan tulis di depan dengan khusyuk tak terkecuali Haris.


Dia tak melirik sana atau lirik sini, fokus nya hanya ke buku dan papan tulis.


Jam terus berputar dengan tanpa menghirau kan apa pun.


Sekarang di SMA Merdeka telah sampai di jam istrirahat.


Bel sudah berbunyi sekitar 4 menit yang lalu. Dan tentu saja di kelas sudah kosong jarang orang.


Semua nya pergi ke kantin untuk mengisi amunisi agar bisa berperang dengan buku di jam pelajaran berikut nya.


Di kelas 11 IPS 3 ada 7 orang yang masih tak bergerak dari tempat duduk nya, mereka stay di bangku masing-masing.


Tapi... karena memang Haris yang hobi membuat keributan dengan 6 serangkai, dia mengajak Wulan dan Kristal mengobrol.


Kebetulan Wulan dan Kristal keluar dari bangku nya dan hendak pergi ke kantin seperti nya.


Di belakang 2 gadis itu tentu saja ada 4 pria yang selalu setia menjadi bodyguard mereka berdua.


Kesempatan pergin ke kantin ini tak di sia-sia kan oleh Haris.

__ADS_1


"Emmm... maaf permisi kantin di sini sebelah mana yah?." Haris bertanya dengan wajah bingung, sopan, polos, dan lugu nya.


Jika di mata 2 gadis itu Haris sopan, maka di mata para pria Haris sangat menyebal kan.


"Kamu mau ke kantin juga kah?." Tanya Wulan basa-basi.


"Iya, tapi ngga tau di mana letak nya, tadi pagi aku emang berangkat awal, tapi ngga sempet keliling ada urusan sama kepala sekolah dan beberapa siswa di sini." Haris mengucap kan kata-kata terakhir nya dengan melirik ke arah Damar, Albhi, Pamungkas, dan Angkasa.


Ada seringai kecil di bibir Haris, dan itu tentu saja di sadari oleh para 4 pria itu.


Mereka mengetat kan rahang nya keras dengan mengepal kan tangan nya erat.


'Awas aja Lo Haris! Habis Lu bentar lagi!.' Batin 4 pria itu bersamaan.


"Kira sekalian aja kalau gitu ke kantin nya, kami semua juga mau ke sana." Ajak Kristal tulus.


"Boleh kah?." Tanya Haris dengan wajah polos nya.


"Boleh lah, kenapa engga?." Balas Wulan dengan ramah.


"Itu 4 cowok di belakang kalian ngga keberatan kah?." Tanys Haris lagi.


"Ya engga lah, iya kan? Kalian ngga keberatan kan?." Tanya Wulan.


Spontan 4 pria itu melunak kan ekpresi wajah nya dan tersenyum paksa sambil mengangguk kan kepala nya kaku.


"Nah mereka ngga keberatan, ayo berangkat ke kantin bareng." Ajak Wulan sopan.


"Ouh iya boleh kenalan? Nama kalian siapa aja?." Tanya Haris sopan sambil mengulur kan tangan nya.


4 pria yang sudah jengkel dengan sikap Haris menepis tangan Haris kasar.


"Lo ngga bisa baca atau buta?! Baca name tag kita aja semua!." Seru Damar tajam.


"Abang?!."


"Damar?!."


Itu suara Wulan dan Kristal yang bersamaan memanggil Damar lengkap dengan delik kan mata meraka berdua yang tajam.


"Yang sopan dong!." Peringat Kristal pelan.


'Huuffhhh... .' Damar hanya mampu menghela nafas pasrah sambil menatap lembut Kristal.


Tawa Haris sudah akan meledak melihat ekspresi Damar yang bak kucing kecil itu, tapi buru-buru Haris menghenti kan niat nya untuk tertawa karena Wulan dan Kristal menatap nya dengan wajah bersalah.


"Maaf kan omongan Damar yah Ris, dia lagi PMS aja tuh, maka nya kasar." Kata Kristal tak enak hati.


"Hehehehe... ngga papa kok." Balas Haris sambil terkekeh pelan.


"Dah ayo ke kantin, nih pasti littlte girl sedang nunggu in kita di kantin." Ajak Angkasa sambil berlari kecil meninggal kan lain nya.


"Little girl?." Beo Haris sok tak tau, akting nya sangat bagus, tolong beri dia penghargaan ekspresi Haris yang tak tau menahu itu mendukung semua kata-kata nya.


"Panggilan itu Angkasa cipta in untuk-." Belum selesai Wulan berucap Damar sudah menyela.


"Ngapain kamu kepo banget sih 'Anak Baru!' Jangan sok kenal deh." Damar menekan kata Anak Baru dan Sok Kenal agar Haris diam.


Tapi dia malah terkekeh pelan sambil berucap "Aku kan cuma tanya, aku mau berteman sama kalian, apa salah nya sih?." Tanya Haris.


Di dalam kalimat Haris itu penuh dengan keseriusan yang sangat-sangat kental, Damar, Pamungkas, dan Albhi bisa merasa kan itu.


Tapi jelas saja mereka tak kan mudah percaya, mengingat Haris adalah anak dari Andre, pembunuh Ayah dari Mommy Za dan Ayah Rafa.


Tiba-tiba Damar, Albhi, dan Pamungkas menghenti kan langkah kaki nya, Haris dan 2 gadis juga ikut berhenti, sedang kan Angkasa? Jangan bertanya soal pria bucin itu, dia sudah hilang menyusul Agnez ke kantin.


"Wulan? Kristal? Kalian pergi ke kantin aja sana susulin si Angkasa, kalo dia biarin berdua an sama Agnez bisa kalap entar dia." Damar mengusir 2 gadis itu secara halus agar tak merasa bahwa meraka tengah di usir.


"Ouh... gitu yah... bener juga sih, ayo kalo gitu Kristal kita susul mereka, kita pamit dulu semua nya, jangan lupa nyusul entar di kantin, kami pergi dulu, assallammu'allaikum." Salam Wulan dan melangkah kan kaki nya pergi menjauh dari para pria itu dengan menyeret Kristal sekalian.


Sepeninggalan 2 gadis itu yang di telan belok kan.


'Grep!.'


Albhi yang sedari tadi sudah menahan emosi nya akhir nya tersalur kan juga.


Dia mencengkram kerah seragam Haris erat sampai mengakibat kan Haris sedikit terangkat.


Pamungkas dan Damar menenang kan Albhi agar tak menghajar Haris, 2 pria muda itu mengingat kan Albhi kalau ada CCTV di sepanjang koridor ini.


Dengan berat hati Albhi pun melepas cengkraman nya dan memilih berbicara baik-baik.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2