
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Waduh gawat, iya tunggu dulu ini jalan nih." Ujar Abdiel menyuruh sang Istri bersabar ssbentar.
5 pria itu masuk mobil dan di sana di sambut oleh muka cemberut istri mereka masing-masing.
Setelah melewati drama panjang, kini 5 mobil itu meluncur meninggal kan gedung SMA Merdeka.
Susana di dalam mobil Rafka Zarine.
Zarine menghadap ke arah jendela mobil menatap keluar dengan pandangan kosong sambil menggigiti kuku nya pelan.
Zarine melamun dan itu di ketahui Rafka.
"Yang?." Panggil Rafka lembut sembari menepuk pundak sang istri lembut.
"Hm? Ada apa Raf?." Tanya Zarine terkejut.
"Kamu mikiri apa sih?." Tanya rafka lembut, pandangan nya sesekai menatap Zarine sebentar.
"Aku ngga papa, cuma lagi kepikiran sama sesuatu aja." Ujar Zarine bermaksud menenang kan Rafka sang suami.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Jawab jujur apa susah nya sih Yang." Jengkel Rafka, yang sekarang giliran suami dari Zarine ini yang merajuk bak anak kecil.
"Aku beneran ngga papa Yang, percaya deh sama aku." Ujar Zarine serius meyakin kan Rafka.
"Terus kenapa melamun kalo ngga papa?." Tanya Rafka ketus.
"... ." Zarine tak menemu kan jawaban dari pertanyaan Radka itu.
"Ngga bisa jawab kan? Maka nya jawab jujur aja, kamu kenapa? Kalo kamu diem aja, aku juga mau diem deh." Rafka mengancam Zarine agar mau membagi kesediahan dengan diri nya yang notabe nya adalah suami Zarine sendiri.
Zarine hanya membalas ancaman Radka dengan senyuman manis nya.
"Ngga kerasa yah, kita udah lulus SMA aja." Pembukaan Zarine.
"Hm... terus?." Tanya Rafka meminta lanjutan.
"Ya ngga ada terus nya." Cetus Zarine cuek.
Rafka diam tak menjawab dan fokus mengemudi.
Terdengar Zarine terkekeh pelan di sebelah nya.
"Aku takut kamu ngga punya waktu lagi buat aku." Ungkap Zarine akhir nya.
"Yang? Kita kan udah bahas ini, in syaa allah aku bisa bagi waktu antara Kuliah, kantor, kamu, dan Baby kita nanti." Jawab Rafka sambio tangan kiri nya mengelus perut Zarine yang membuncit.
"Aku percaya kok sama kamu, tapi pikiran aku ngga bisa di ajak kompromi." Jelas Zarine sambil menutup wajah nya dengan ke dua telapak tangan.
"Udah ah jangan bahas itu dulu, kamu juga ngga akan sendiri an kalo aku lagi sibuk, Akifa, Alfi, dan Kak Raina kan sama kamu." Hibur Rafka pada istri tersayang nya ini.
Zarine tersenyum, dia sedikit terhibur dengan perkataan Rafka, kapala nya mengangguk meng iya kan ucapan Rafka.
Beberapa menit perjalanan 5 mobil telah sampai di pantai.
Semua orang keluar dari mobil dan berdiri di dekat mobil dengan merentang kan ke dua tangan nya.
"Jam berapa sekarang guys?." Tanya Akifa.
"Jam... 9 pagi." Jawab Abdiel dengan melihat benda pengukur waktu di lengan tangan kirinya.
"Masih pagi yah, kita main air kuy." Ajak Akifa semangat.
"Males ah." Ujar Abdiel menolak.
"Ayo!!." Seru Zarine, Alfi, Tika, dan Kak Raina senang.
Tanpa menunggu persetujuan dari para suami 5 wanita itu berjalan ke arah pantai dengan sangat bahagia, ketawa ketiwi senang.
"Percuma Lo nolak, suara cewek tetep menang Bro." Ujar Rafka dengan menepuk pundak sahabat nya ini pelan sambil berjalan menyusul para wanita.
"Hmmm... bener kata Rafka, mau kita nolak gimana pun, suara cewek bakal tetep menang." Timpal Bang Rafa yang berjalan di belakang Rafka dengan melipat tangan di depan dada nya.
"Ahhkkkk!!!." Teriak Abdiel bak orang gila.
"Hahahaha... sabar Bro." Cetus Bang Idan dengan tawa nya.
Di tepi pantai, 5 perempuan itu melihat air sangat antusias dan semangat.
Mereka perlahan melangkah menuju air itu dengan bergandengan tangan bak orang yang hendak menyebrang jalan.
"Aku ngga mau pulang!!." Seru Akifa setelah kaki nya menyentuh air pantai itu.
"Hus! Jangan teriak-teriak rame orang tau!." Tegur Tika keras.
Akifa celinguk kan mencari yang di maksud Tika tadi.
"Mana? Ngga ada tuh." Cetus Akifa.
Tika ikut celinguk kan.
"Eh iya, cuma ada kita yah di sini, hahahaha... ." Tawa Tika terdengar bak orang tanpa dosa itu.
"Ayo lanjut main." Zarine mengalih kan pembicaraan 2 orang sahabat nya ini.
Saat para wanita sibuk dengan bermain air, berbeda dengan para pria yang sibuk melihat senyum yang merekah di bibir mereka.
"Entah mengapa, hati Gua makin hari makin ngga tenang." Cetus Bang Rafa tiba-tiba.
"Soal apa?." Tanya Rafka.
"Ngga tau." Jawab Bang Rafa yang membuat 4 orang di sebelah kanan kiri nya bingung.
"Apa itu soal 5 wanita di depan kita?." Tanya Abdiel bertanya lagi.
"Engga, bukan." Jawab Bang Rafa lagi.
"Apa soal keberangkatan para tetuah laku-laki?." Tanya Abhi tanpa menatap Bang Rafa yang tepat sebelah kanan nya.
"... ." Bang Rafa diam tak menjawab.
"Jangan mikir yang aneh-aneh lah, lusa kita resepsi tau, masa Lu mikir nya aneh gitu sih Bang." Ujar Abdiel bertujuan menenang kan.
__ADS_1
"Kita berdoa aja semoga ngga ada kejadian apa-apa baik di masa depan dan di masa kini, Gua masih pengen banget bahagia bareng kalian, apa lagi sama para tetuah kita." Cetus Abhi berdoa.
"Aamiin." Sahut 4 pria lain nya.
'Byurr!!.'
Sesaat setelah 5 pria itu membahas hal yang menegangkan tiba-tiba ada air yang mengguyur mereka dengan yang mengakibat kan mereka setengah basah.
"Hehehe... peace." Kekeh para wanita sambil menunjuk kan 2 jari nya yang membentuk huruf V.
Ternyata dalang di balik penyiraman air adalah para wanita.
"Kalian kurang kerjaan sampe siram-siram ha?." Tanya Abhi lembut sampai membuat para wanita merinding.
"Marah yah? Marah kah?." Tanya Alfi dan lain nya.
Pria-pria itu tak menjawab dan hanya menatap para istri mereka dengan senyuman manis bak gulali.
"Sinyal nya tiba-tiba ngga ngenakin." Bisik Akifa.
"Iya nih, aku juga gitu." Timpal Zarine ikut berbisik.
"Lari girl's!." Seru Kak Raina memberi aba-aba.
Tapi belum sempat 5 wanita itu lari, para pria sudah menangkap nya dan memeluk nya.
"Mau kemana? Kurang kerjaan banget sih istri aku ini siram-siram suami nya, di kira tanaman yah." Ujar Rafka lembut di telinga Zarine.
"Maaf, cuma main-main, beneran deh, lagian kalian tadi seru banget, ngerumpi in apa an sih?." Tanya Zarine dengan tawa pelan nya.
5 padang suami istri itu bermain air bersama, dan berakhir duduk di pasir berjemur di bawah terik sinar matahari, jam mnunjuk kan pukul 9.40 pagi.
"Ngga nyangka yah, kita semua jadi kaya gini sekarang." Cetus Alfi berbicara tiba-tiba.
"Nikah muda dulu ngga ada tau dalam list kehidupan aku." Timpal Akifa juga.
"Terus kenapa mau nikah muda?." Tanya Zarine yang sibuk bermajn dengan jari tangan sang suami.
"Penasaran aja, hahahaha... ." Tawa Akifa pecah.
"Hus! Jangan banyak ketawa, sakit perut nanti kamu!." Tegur Abdiel pada istri tercinta nya ini.
Akifa menjawab dengan cengiran khas yang dia punya.
"Kslo kamu dulu nikah muda karena apa Za?." Tanya Kak Raina.
"Aku? Kenapa yah? Entah lah." Jawab Zarine tak tau kemudian di iringi tawa pelan.
"Dulu... aku nikah sama Rafka karena perjodohan, almarhum Ayah dulu ngomong nya dadak kan, masa ngasih tau nya pas tanggal udah di tetap kan? Haduh... aku yang pas di jodohin sama Rafka awal nya ragu." Cerita Zarine yang gantung.
"Ragu kenapa?." Tanya Tika.
"Takut Rafka ngga mau dan takut Rafka mencintai cewek lain, yang paling nakutin sih yang ke dua, aku ngga mau jadi penggalang Rafka ama cinta nya." Zarine menerang kan perasaan nya dulu.
"Mana ada dia mencintai cewek lain Za, dia tuh terlanjue bucin ama kamu, masa nih yah dulu waktu masih SMA kelas 10 dia di sukai Kakak kelas nya, orang nya cantik, pinter juga, bisa di kata kan primadona sekolah SMA Merdeka, dia nolak mentah-mentah bahkan nolak nya di depan semua orang." Jelas Abdiel panjang lebar.
"Beneran Yang?." Tanya Zarine tak percaya.
"Ya jangan salahin aku, salahin aja diri dia sendiri, kenapa ngutarain perasaan nya di depan umum? Aku kan ngga mau munafik, jadi aku jawab aja di sana." Jawab Rafka tanpa dosa sama sekali.
"Mana nolak nya pake wajah datar banget lagi, kasian cewek nya Gua, dia sampe nangis karena malu loh, setelah Rafka nolak dia lari pergi menjauh, dan setelah hari memalu kan itu dia menjauh dari Rafka ngga berani mendekat lagi." Lanjut Abdiel bercerita.
"Jahat banget yak." Cetus Bang Rafa dengan melirik sang adik ipar nya ini.
"Kalo Kak Raina? Dulu pernah nolak siapa?." Tanya Rafka yang ingin tahu kakak ipar nya ini.
"Nolak? Hahahaha... aku dulu semasa SMK ngga ada kaya gitu, cowok yang deket sama aku semua nya ngga ada yang asli pengen deket, semua nya cuma pengen tau." Jelas Kak Raina panjang lebar.
"Masa sih? Satu aja ngga ada?." Tanya Bang Rafa.
Kak Raina berpikir.
"Siapa?." Tanya Bang Rafa.
Sebenar nya hal yang paling tak di sukai para 5 pria ini adalah membahas masa lalu, tapi bagi para wanita, membahas masa lalu adalah hal biasa, karena bagi mereka yang nama nya masa lalu ya masa lalu, arti nya masa yang telah berlalu.
Tapi para pria membiar kan para wanita membahas masa lalu karena memang mereka juga ingin tahu, terutama masa lalu tentang Kak Raina di masa SMK dulu.
"Siapa? Pertanyaan yang bagus, bentar aku ingat-inhat dulu, agak samar ingatan ku soal dia." Kata Kak Raina dengan cengengesan menampil kan gigi putih dan rapi nya.
Suasana hening menunggu penjelasan selanjut nya dari Kak Raina.
5 menit kemudian.
"Ah aku dah ingat, nama nya Akbar, dia anak Pak Kepala Sekolah." Jelas Kak Raina detail.
"Kamu juga suka sama dia?." Ketus Bang Rafa bertanya dan itu di sadari Kak Raina.
"Engga." Jawab Kak Rain singkat.
"Terus kok pacaran sama dia?." Tanya Bang Rafa lagi.
"Emang aku tadi ngomong kalo pacaran sama dia?." Tanya balik Kak Raina.
"... ." Bang Rafa tak menjawab karena tadi Kak Rain tak mengatakan bahwa berpacaran dengan si Akbar dari masa lalu nya itu.
"Kalian kan tdi cuma tanya ada ngga sih cowok yang bener-bener suka sama aku? Iya kan? Tadi tanya itu kan?." Tanya Kak Raina yang di angguki oleh orang-orang di sebelah nya.
"Terus si Akbar itu sekarang di mana?." Tanya Bang Rafa.
"Ngga tau juga aku, dulu kata nya dia pindah ke Kampung halaman nya." Jawab Kak Raina.
"Di mana kampung halaman nya?." Tanya Zarine.
"Kalo ngga salah sih Medan, tapi ngga tau juga deh aku." Kata Kak Raina yang tak pasti.
"Bapak nya tau kalo anak nya suka sama kamu?." Tanya Bang Rafa yang masih sewot.
"Tau, tapi beliau don't care aja dulu." Tutur Kak Raina memberi penjelasan.
"Si Akbar pernah ngungkapin perasaan nya kah ke Kakak?." Tanya Akifa.
"Pernah, tapi dia ngga berani ngungkapin perasaan nya di depan umum, takut jawaban aku bikin malu kata nya, hahahaha... ." Tawa tanpa dosa Kak Raina terdengar.
"Dulu Kakak jawab apa sama dia?." Tanga Akifa yang penasaran ending dari cerita Kak Raina.
"Aku jawab gini dulu, 'Akbar? Kamu baik, ganteng, terbaik, hampir sempurna, tapi maaf aku ngga mau pacaran, aku punya cita-cita nikah sama orang yang usia nya di atas aku dan tentu nya udah punya pekerjaan tetap, bukan aku meremeh kan kamu, tapi aku emang ngga ada niatan buah main-main, pacaran bagi aku itu ngga ada, maaf sekali lagi, aku menolak ajak kan kamu pacaran' kurang lebih nya gitu." Panjang lebar Kak Raina menjelas kan.
"Dia reaksi nya gimana?." Tanya Tika.
"Kecewa, itu jelas banget aku lihat di mata nya, tapi habis itu aku pergi ngga mau lihat dia sedih, hahahaha... kalo inget itu, aku jadi kasian sama dia." Cetus Kak Raina dengan tawa pelan nya.
"Dia ngga ada ngontek kamu?." Tanga Bang Rafa, hati nya sedikit iba mendengar cerita Akbar itu.
"Ngga ada, karena setelah kejadian itu aku yang menjauh dari dia." Balas Kak Raina dengan senyumannya.
"Kalo Kakak di kasih kesempatan ketemu sama dia Kakak mau ngapain?." Tanya Zarine.
"Ngapain yah? Entah lah, mungkin peluk, hahahaha... ." Tawa Kak Raina dan perkataan nya barusan membuat Singa yang sedang tidur terbangun.
"Ngga ada peluk-peluk, kamu cuma boleh peluk aku aja." Cetus Bang Rafa dengan tangan nya melingkar di perut Kak Raina yang tangan duduk di hadapan nya.
Posisi para wanita saat ini adalah duduk di hadapan suami masing-masing dengan bersandar pada dada bidang mereka sambil melihat deburan air pantai yang menerpa kaki mereka.
"Adoy possesive nyaaaa... tolong di kendali kan ya Wak." Kata Alfi dengan malas.
"Hahaha... aku ngga akan bisa ketemu dia lagi, aku aja ngga tau dia di mana." Ujar Kak Raina menghibur Bang Rafa suami tercinta nya ini.
"Udah ah jangan bahas masa lalu, males ungkit-ungkit hal yang udah lalu!." Kata Bang Rafa menghenti kan pembicaraan masa lalu itu.
"Hi ilih, biasa nya yang ngga mau bahas masa lalu tuh cewek, ini kok kebalik?." Cetus Kak Raina.
__ADS_1
"Bahas yang lain." Sahut Bang Rafa meminta.
"Kalo bahas lain nya aku ngga dapet topik." Kata Kak Raina yang di angguki para wanita lain nya.
"Kalian aja para cowok cari topik pembicaraan." Suruh Akifa dengan senyuman nya.
"Kalo ngga ada topik mending kita pulang, mandi terus tidur." Ajak Bang Idan.
"Ngga mau pulang!." Keras para wanita menolak untuk pulang.
"Ck! Panas loh yang, manding pulang, kita makan siang di rumah, ayo." Ajak Rafka membujuk Zarine.
"Bener kata Rafka ayo pulang." Giliran Abhi yang memaksa pulang.
Raut cemberut singgah di wajah para wanita cantik calon Ibu muda ini.
"Ayo pulang." Bujuk para pria ini lembut di telinga para wanita nya masing-masing.
"Ok ayo deh." Sahut mereka meng iya kan akhir nya.
Para wanita berdiri dan membersih kan tubuh nya dari pasir, kemudian mereka berjalan kemobil.
"Untung mau di ajak pulang." Cetus Abdiel.
"Ayo segera nyusul mereka sebelum ada drama kaya tadi." Ajak Rafka.
Para pria berlari ke arah mobil masing-masing dan masuk ke dalam mobil.
Segera mobil meluncur meninggal kan pantai.
Jendela mobil di buka lebar oleh para wanita. Pancaran kebahagiaan masih terpampang jelas di mata mereka.
"Hati-hati Yang, tutup lagi aja tuh jendela nya." Saran Rafka pada sang istri.
"Iya bentar." Seru Zarine yang masih asik menikmati keindahan alam cipta an Allah ini.
Lama menikmati hembusan angin dari jendela, Zarine menutup kaca dan kini beralih menatap sang suami tercinta nya dengan intens.
"Kenapa? Kok liatin nya gitu banget?." Tanya Rafka sambil terkekeh pelan.
"Ngga papa, bosen aja liat alam, di sebelah aku juga ada makhluk cipta an Allah paling ganteng, hahaha... ." Tawa Zarine pecah memenuhi mobil.
"Hus! Jangan ketawa terus, sakit perut kamu nanti." Ujar Rafka memperingat kan sang istri tercinta ini.
"Yang?." Panggil Zarine lembut penuh kasih sayang.
"Hm? Apa Yang? Kamu pengen apa?." Tanya Rafka tak kalah lembut.
"Kamu ngga nyesel kan nikah sama orang yang manja nya kebangetan kaya aku?." Tanya Zarine di iringi senyum manis nya.
"Ngaco! Berenti bagas aneh!." Tegas Rafka berucap dengan wajah datar tanpa eskpresi.
"Jawab dong." Ujar Zarine mamaksa.
Rafka mengerem mendadak dan untung nya Zarine memakai sabuk pengaman nya jadi dia tak membentur sesuatu di depan nya.
"Jangan bertanya aneh! Kalo aku nyesel nikah sama kamu, kenapa ngga dari dulu aku ninggalin kamu?! Jangan ngaco! Aku ngga suka kamu bahas hal aneh kaya gini, kamu-." Rafka menghenti kan ngomel panjang lebar nya karena peluk kan dari Zarine yang sangat erat.
"Maaf." Ujar Zarine dengan suara yang bergetar, air mata nya menetes dan Rafka tau itu.
'Khemmmmm huufffhhhh... .' Helaan nafas lelah terdengar dari hidung mancung Rafka, suami Zarine ini membalas peluk kan Zarine juga.
"Berhenti membahas hal-hal konyol!." Tegas Rafka berucap dengan memeluk Zarine dan mengecupi pucuk kepala Zarine lembut.
"Ya aku takut aja." Ujar Zarine dengan suara bergetar.
Dia takut dengan omelan Rafka yang panjang lebar tadi, maka nya dia secepat kilat memeluk Rafka sebelum omelan nya makin panjang.
"Aku punya Ibu dan beliau perempuan, aku bayangin kalo Mama di posisi kamu, pasti aku bakal marah banget, maka nya aku hati-hati banget sama kamu, bukan hanya takut kamu sakit, karena kalo kamu sakit aku juga pasti ngerasa in itu Za, itu pasti." Panjang lebar Rafka menjelas kan dengan sedikit penekanan tentunya.
"Bang Rafa juga bilang ke aku Za, kalo seandai nya suatu saat nanti aku di posisi udah ngga sayang dan ngga cinta sama kamu, aku akan kembali in kamu ke dia, tapi dalam hati aku, lahir batin aku, ngga ada kaya gitu, sampai mati sekali pun aku ngga akan lepasin kamu atau pulangin kamu ke tangan dia, garis keras! Ngga akan pernah!." Sambung Rafka jelas.
"Terima kasih, Rafka Arsha Fathan aku mencintai kamu." Bisik Zarine kemudian dia tertidur di peluk kan Rafka yang nyaman dan hangat itu. Peluk kan yang mampu membuat Zarine tensng dalam keadaan sedih, terpuruk, dan kalut.
"Selamat tidur My Queen, I Love You Too." Balas Rafka lembut di telinga.
Zarine di rebah kan di kursi nya oleh Rafka.
"Capek nangis yah, maaf udah ngomelin kamu panjang lebar, habis nya kamu bahas nya yang engga-engga sih, jadi aku harus jelasi panjang lebar deh, jangan di ulangi Za, aku mohon ini yang terakhir, in syaa allah aku ngga akan ninggalin kamu kalo bukan Allah semdiri yang jemput aku." Rafak berbicara pada Zarine yang tengah tidur.
Setelah itu mobil kembali melaju meninggal kan tempat berhenti mereka tadi.
Mobil Bamg Rafa melaju di sebelah Rafka.
"Ada apa Raf?." Tanya Bang Rafa khawatir.
"Ngga ada papa." Jawab Rafka dengan di iringi senyum menenang kan sang kakak ipar nya ini.
"Kami ngga bohong kan Raf?." Tanya Raina yang khawatir.
"Bener Kak, aku sama Za ngga papa, noh dia lagi pules, kalian dulu aja gih, jangan bawa mobil jejer gini, di marahin sama pengguna jalan lain entar kita." Suruh Rafka pada ke dua Kakak ipar nya.
"Ok, hati-hati kita dulu an, assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Raina.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Rafka dan mobil Bang Rafa pun meluncur meninggal kan mobil Rafka.
'Khemmm huuuffhhh.' Helaan nafas lega terdengar dari Rafka.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1