
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Gimana pertemuan Pamungkas sama gebetan nya? Lancar?." Tanya Rafka kepo.
Bukan nya menjawab pertanyaan, Zarine malah tertawa sendiri.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Daddy Rafka yang tak mendapat jawaban menatap sang istri heran.
"Mommy kenapa ketawa sendiri? Ih nakutin." Cetus Rafka menggoda sang istri.
"Aku ketawa ke inget sama cerita Wulan tadi, kata Wulan, si Pamungkas PDKT nya gercep, bahkan mereka udah dapat nomer telepon si Rain penyanyi berbakat di Cafe Rainbow itu." Ucap Mommy Za di akhiri tawa nya pelan.
"Ahahaha... anak muda kalo jatuh cinta lucu yah." Tambah Daddy Rafka senang.
"Kalo Kak Raina tau pasti bakal seneng banget kalo Pamungkas deket ama Rain." Terang Mommy masih tak lepas dengan senyum yang menghiasi bibir nya.
Suasana kamar Rafka Zarine hening sesaat sebelum pertanyaan Rafka memecah keheningan di antara mereka.
"Kamu sama lain nya tadi ke Cafe kah?." Tanya Rafka sambil mengelus pipi Zarine lembut.
"Hmm... aku ke sana, alhamdulillah di sana lancar jaya ngga ada masalah, kamu di kantor gimana? Lancar juga kan? Ngga ada masalah kan?." Tanya Zarine penuh kelembutan.
"Alhamdulillah kerjaan aku berjalan lancar, ngga ada hambatan sama sekali, kalo masalah-masalah kecil pasti ada lah." Jawab Rafka dengan menutup mata nya menikmati elusan tangan Zarine di kepala nya.
Ouh iya posisi Rafka Zarine sedang ada di atas ranjang dengan kepala Rafka ada di pangkuan Zarine.
"Yang? Jangan tidur! Mandi sana! Bau tau!." Suruh Zarine, istri Rafka ini sampai menjepit hidung nya berpura-pura tak tahan dengan bau menyengat badan sang suami.
Padahal Zarine sebenar nya sangat menyukai bau khas Rafka jika belum mandi seperti ini, entah lah mungkin bagi sebagian orang Zarine di anggap aneh, tapi memang seperti itu keadaan yang benar.
"Masa sih bau?." Tanya Rafka sambil mengendus bau ketiak nya sendiri.
"Mana? Engga kok." Kata Rafka kemudian.
"Ck! Udah sana mandi!." Zarine mendorong tubuh Rafka agar bangun dari rebahan nya.
"Mandi in dong Yang." Pinta Rafka manja penuh permohonan.
"Tapi aku udah mandi Yang." Polos Zarine menjawab.
"Ck! Apa susah nya sih mandi lagi, permintaan suami ngga boleh di tolak loh, dosa." Ancaman yang selalu Rafka guna kan jika Zarine tak mau menuruti nya.
Dengan helaan nafas pasrah, Zarine mengangguk kan kepala dan berjalan terlebih dahulu ke arah kamar mandi.
Rafka mengikuti dengan senyum penuh kemenangan.
Pukul 16.00 masih di kediaman Rafka Zarine.
Terlihat di tepi kolam renang, Damar Wulan duduk sambil memain kan air kolam yang jernih itu di temani kue kering dan jus semangka kesukaan mereka.
Mommy Za dan Daddy Rafka duduk di gazebo belakang dengan melihat ke arah anak kembar tak identik mereka.
"Ngga kerasa yah, udah 19 tahun kita nikah." Ujar Rafka di sela mata nya menatap anak-anak nya tertawa dan bercanda.
"Kita jalanin nya kan dengan bahagia, masalah kita hadapi dengan bersama-sama, jadi yah 19 tahun ngga kerasa, padahal itu lama banget." Panjang lebar Zarine berbicara tentang dia dan Rafka di masa lalu.
"Aku bangga punya kamu, dan anak-anak." Ucap Rafka di iringi senyum manis nya yang merekah indah di bibir nya.
Rafka mengecup kening Zarine penuh cinta.
Tiba-tiba... .
"Hayo! Mommy sama Dadsy kalau mesra-mesra an ngga tau tempat nih." Wulan merusak moment romantis ke dua orang tau nya.
Mommy Za malu mendengar godaan dari sang buah hati, pipi nya menghangat dan bersemu merah muda.
__ADS_1
"Mommy lucu deh kalo lagi malu gitu." Ledek Wulan makin gencar, kemudian tawa Daddy Rafka, Damar dan Wulan menggemah di gazebo dekat taman yang cantik di belakang rumah Rafka Zarine.
Kita beralih ke rumah kediaman Ayah Rafa dan Bunda Raina.
Terlihat anak semata wayang ke dua paruh baya itu tengah tersenyum-senyum sendiri di ayunan dekat kolam renang. Dia adalah Pamungkas, si ABG yang jatuh cinta dengan gadis dewasa yang berumur 22 tahunan.
Bunda Raina yang melihat tingkah anak nya aneh, merasa khawatir, saking khawatir nya beliau sampai tak menghirau kan kedatangan sang suami yang baru pulang dari kantor.
Karena kesal tak di hirau kan, Ayah Rafa memeluk sang istri dari belakang sambil berbisik mengucap kan salam.
"Assallammu'allaikum Bunda ku Sayang." Suara lembut Ayah Rafa mengalun indah di telinga.
"Astaghfirullah! Ayah ngagetin aja sih, wa'allaikum sallam Ayah ku Sayang." Jawab Bunda Raina tak kalah lembut di iringi senyum manis nya.
"Bukan ngagetin, Bunda aja yang terlalu serius ngelamun nya, ngelamunin apa sih Bun? Sampe di panggil ngga jawab, salam juga ngga di jawab." Rajuk Ayah Rafa, bibur dan hidung nya sibuk menghirup aroma manis dari tengkuk sang istri.
Bunda Raina bukan nya menjawan malah menggeliat kegelian karna ulah sang suami.
"Jangan gini dong Yah! Geli tau! Malu kalo di liat Pamungkas!." Seloroh Bunda Raina bermaksud menghenti kan tingkah mesum suami tercinta nya yang sangat tak tau tempat itu.
"Bunda tadi ngelamunin apa?." Tanya Ayah Rafa.
"Liat tuh anak kita yang lagi duduk di ayunan." Tunjuk Kak Rain pada putra semata wayang nya.
Ayah Rafa mengikuti arah pandang sang istri.
Netra hitam pekat milik Ayah menangkap pandangan aneh saat menatap sang anak.
"Dia kenapa? Kesambet?." Tanya Ayah sambil terkekeh pelan.
"Ck! Serius dong Yah, anak nya aneh kok malah bercanda." Decak tak suka Bunda Raina pada sang suami.
"Ok ok, dia kenapa?." Tanya Ayah serius.
"Bunda juga ngga tau, udah 2 hari ini dia kaya gitu, senyum-senyum ngga jelas, kalo di tanya malah cengengesan." Adu Bunda Raina panjang.
"Hmmm... iya juga sih, aku juga ngerasa kalo si Pamungkas banyak perubahan, sering ngelamun, habis itu senyum-senyum sendiri, pas Ayah tanya 'Kamu kenapa Kas?' Eh dia malah geleng kepala terus pergi gitu aja." Jelas Ayah Rafa panjang lebar.
Bunda Raina dalam otak nya berpikiran banyak hal mendapat penjelasan panjang lebar dari sang suami tercinta nya ini.
"Apa jangan-jangan anak kita jatuh cinta Yah?." Bunda mengutara kan isi pikiran nya dengan sangat bahagia.
"Bisa jadi." Balas Ayah Rafa singkat.
Ekspresi Bunda Raina tiba-tiba berubah saat sadar apa yang dia ucap kan tadi, dan Ayah menyadari perubahaan mimik wajah sang istri tersayang nya ini.
"Why?." Tanya Ayah Rafa dengan nada biacara yang sexy.
"Bun? Kalo mereka jodoh pasti di ketemuin sama Allah, Bunda optimis aja, doa banyak-banyak supaya mereka jodoh." Panjang Ayah Rafa memberi kan penuturan pada istri nya.
"Ayah setuju kan kalo Pamungkas sama anak kecil yang kita temuin itu?." Tanya Bunda Raina penuh harap.
"Setuju lah, tapi sebelum menikah kan mereka, kita harus tau sifat anak itu, sekarang pasti dia udah jafi gadis dewasa yang usia nya terpaut 5 tahun sama Pamungkas, semoga aja si Pamungkas mau." Doa Ayah Rafa yang di aamiin kan oleh Bunda Raina.
"Ayah tolong cari in dia dong Yah." Pinta Bunda Raina manja sambil menampil kan mata memohon nya yang sangat imut Bak kelinci kecil.
Ayah Rafa yang melihat itu menghujani Bunda dengan ciuman bertubi di ke dua pipi cubby itu dan dengan sedikit menekan pipi itu sampai bibir Bunda mengerucut lucu.
"Duh Ayah! Kontrol dong gemes nya, sakit tau pipi Bunda!." Seru Bunda dengan nada bicara yang jengkel tak suka atas perlakuan dadi Ayah satu anak ini.
"Hahaha... udah ah jangan Pamungkas mulu yang di khawatirin, aku juga butuh kamu tau! Ayo bantu aku mandi, kalo perlu kita mandi bareng, udah 4 hari loh aku kurang sentuhan kamu." Muka memelas Ayah Rafa dengan mudah meluluh lantak kan hati Bunda Raina.
Dengan segera, Ibu dari Pamungkas itu mendorong sang suami untuk menuju kamar dan mandi, kali ini dengan bujuk rayu Ayah Rafa, Bunda Raina bersedia mandi bersama, hanya mandi, tak melakukan apa pun karena hari sudah merangkak semakin sore, dan tak memungkin kam jika melakukan hal yang aneh-aneh.
Ba'da isya' di rumah Mama Akifa dan Papa Abdiel.
3 orang ini tengah duduk di meja makan menikmati hidangan yang ada di depan mereka ini.
"Gimana hari kamu si sekolah Kris?." Tanya sang Ibunda penasaran.
"Ya gitu deh Ma, berjalan lancar tanpa hambatan dan masalah." Jawab Kristal lempeng.
"Tadi pulang jam berapa sayang?." Tanya Papa Abdiel.
"Tadi sebener nya pulang jam setengah 2 an Pa, tapi karena kita mampir ke Cafe Rainbow dulu, jadi kita pulang nya hampir ashar deh." Jelas Kristal jujur.
"Kok tumben pulang cepet?." Tanya Mama Akifa sambil mengerut kan kening nya ingin penjelasan lebih detail dari sang anak tunggal nya yang sedang duduk di hadapan nya ini.
"Iya ada rapat di sekolah tadi." Jawab singkat Kristal.
Hening setelah pembicaraan itu, lalu 5 menit kemudian, meja makan kembali ramai dengan pertanyaan yang meluncur bebas dari bibir Mama Akifa yang kepo.
"Adek?." Panggil Mama Akifa.
Tanpa menjawab, Kristal menatap mata sang Mama bermaksud bertanya 'Ada apa?' Ya kurang lebih seperti itu.
"Perasaan Adek sama Bang Damar gimana sih? Mama kepo tau." Tanya Akifa yang kontan membuat Kristal menunduk malu dengan muka memerah bak kepiting rebus.
"Mama tanya nya apa an sih? Bikin malu aja." Kata Kristal malu.
Mama yang melihat sang anak blushing malah gencar menggoda.
__ADS_1
"Kristal gimana emang perasaan nya ke Damar?." Tanya Papa Abdiel lembut bertanya.
"Ya gitu deh, suka, sayang, dan cinta lebih dari seorang sahabat pasti nya." Jawab jujur anak dari pasangan Abdiel dan Akifa ini.
"Bang Damar nya tau ngga Dek?." Tanya Mama Akifa pura-pura tak tau.
"Engga!." Balas Kristal lirih.
"Adek ngga ngasih tau emang?." Tanya Papa.
"Engga, Kristal takut di tolak, dan yang paling utama alasan nya, Kristal malu, masa perempuan dulu yang ungkapin rasa?! Kan ngga enak!." Seru Kristal lebih ke gerutuan tak terima.
"Kenapa emang? Khadijah istri Rosulullah dulu ungkapin perasaan lebih dulu tanpa rasa malu tuh." Fakta yang tak dapat di tampik oleh Kristal.
Bibir Kristal mengerucut lucu saat mendapati jawaban panjang dari sang Ibu, dia mengangguk pasrah mem benar kan semua perkataan sang Ibu ratu tercinta nya.
"Terus? Kristal harus contoh kaua gitu?." Tanya polos gadis yang mengaku memcintai Damar ini.
"Kalo kamu berani tanggung resiko nya yah silah kan, tapi menurut Mama ngga usah deh, biarin aja berjalan seada nya, kalo jodoh ngga akan kemana kok sayang." Hibur Akifa sambil menampil kan senyum manis nya ke arah sang anak semata wayang nya.
Setelah pembicaraan yang agak membuat hati Kristal tak nyaman, makan malam di kediaman Abdiel Akifa ini pun selesai.
Kita berpindah ke kediaman Papa Zaidan dan Mama Tika.
Angkasa, Papa Zaidan, dan Mama Tika tengah duduk santai di depan TV dengan Angkasa duduk di karpet bulu dan ke dua orang tua nya duduk di atas sofa empuk dia atas nya.
"Malem-malem gini enak nih kalo makan martabak manis." Cetus Mama Tika tiba-tiba.
2 pria kesayangan Mama Tika saling padang, mereka tau maksd dari perkataan singkat padat dan jelas milik Ibu ratu mereka itu.
"Angkasa? Berangkat!." Perintah Papa Idan tegas tak terbantah kan.
"Lah?!." Protes Angkasa sambio menaik kan ke dua alis nya tinggi-tinggi.
"Apa 'Lah?!' Berangkat sana! Nih uang nya, pake motor aja, atau kalo ngga pake sepeda." Titah Papa Idan wajib di penuhi.
"Ck! Iya ini mau berangkat, ijin ambil jaket ama kunci motor dulu." Kata Angkasa dengan terpaksa.
10 menit kemudian.
"Angkasa berangkat cari martabak manis dulu, assallammu'allaikum." Salam Angkasa sambil mencium punggung tangan Papa Idan dan Mama Tika.
"Iya wa'allaikum sallam, jangan lama-lama Bang! Mama udah pengen!." Pesan sang Ibu ratu mutlak.
"In syaa Allah! Mama kaya orang ngidam aja!." Balas Angkasa di iringi dengan gerutuan yang hanya di balas kekehan oleh Mamanya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.