Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Forty-six


__ADS_3

"Ya udah kalian aja yang nyupirin." Kata Shita.


"Ayo dah naik." Ajak Akifa.


Semuanya naik ke mobil.


Mobil berjalan meninggalkan penginapan.


Di belakang mobil mereka, seseorang mengikuti menggunakan motor.


Shita menyadari itu tapi dia bungkam.


Di dalam mobil suasana ramai karena suara merdu para cewek yang bernyanyi mengikuti nyanyian di radio mobil.


Sampai perkataan Bang Idan membuat takut seluruh penumpang mobil kecuali Shita.


"Kayanya mobil kita ada yang ngikutin deh dari depan." Kaya Bang Idan.


"Hah?!, beneran?, ngapain?, dan orang gila mana yang ngikutin coba?." Kata Akifa bertubi-tubi.


"Dia ngga jahat, emang gitu orangnya, kalo aku dapet wisatawan yang mau ke B29 atau sekitarnya dia ngikutin." Beri tahu Shita.


"Kenapa di ikutin?." Tanya Alfi.


"Dia ngga pernah mau ngasih jawaban kalo ditanya soal itu, aku ngga tau kenapa di ikutin." Jelas Shita.


"Siapa yang ngikutin?." Tanya Zarine.


"Rendra." Jawab singkat Shita.


Suasana hening.


"Yakin dia ngga bakal celakain kita?." Tanya Raina ragu.


"Aku yang bakal tanggung jawab kalo dia bahaya in kalian di sini." Tegas Shita.


Suasana kembali hening.


45 menit sudah perjalanan ke B29, mereka sampai di waktu yang tepat yaitu adzan subuh.


Mereka ke masjid sholat subuh.


Keluar dari mushollah mereka langsung menuju camp yang sudah mereka sewa tadi.


"Huuhhh, dingin." Kata Abdiel.


"Ini bukan dingin, tapi sejuk." Ralat Zarine.


"Ya, kamu bener." Sahut Shita.


"Aku pamit pergi sebentar, di sana ada kantin, kalian bisa pesan makanan disana, kalo mau liat matahari terbit dari sini juga bisa." Jelas Shita.


"Mau kemana?." Tanya Raina.


"Tanya in dia." Jawab Shita.


'Khemmmmm, huuffffh.'


Raina hanya dapat menghela nafas.


Shita pergi, suasana di tempat Raina hanya sunyi yang mendominasi suasana.


"Udah jam 5 pagi, bentar lagi matahari naik." Beri tahu Raina dengan melihat jam di tangan kirinya.


Yang di tunggu pun muncul.


6 serangkai, Bang Idan, Bang Rafa, Raina, dan Tika menyaksikan momen indah ini dengan bahagia.


Mereka berdiri dan bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing.


Para perempuan menyandarkan kepalanya kepundak pasangannya masing-masing.


Raina dan Tika juga tanpa sadar melakukan hal yang sama pada Bang Rafa dan Bang Idan.


Tentu saja Bang Idan dan Bang Rafa tak keberatan dengan sandaran itu.


Mereka berdua tersenyum bahagia dengan mata memandang matahari terbit didepan mata itu.


"Maa syaa allah." Puji Zarine.


"Allahu Akbar." Takbir Akifa.


"Indah banget." Celutuk Alfi.


"Alhamdulillah kita masih bisa menikmati ini." Ucap syukur Bang Rafa.


"Emmmm, Lo bener Bang." Timpal Rafka.


"Kuy kita sarapan." Ajak Akifa setelah matahari sudah terbit secara sempurna.


'


'


'


'


'


Di lokasi yang agak jauh dari para penikmat matahari terbit.


Shita, Rendra, Andi, dan Panji berdiri menatap matahari terbit juga.


"Ren, Ta, kita berdua ke kantin dulu, kalian kalo udah nyusul aja." Pamit Andi.


Dia pergi dengan Panji menuju kantin.


5 menit diam setelah kepergian Andi dan Panji mereka masih diam.


10 menit kemudian mereka baru berbicara.


"Kenapa ikutin kalo keadaan Lo masih belum sehat?." Tanya Shita sabar.


"... ." Rendra diam.

__ADS_1


"Gua akan ikut ke Jakarta sama Kak Rain awal Januari." Beri tahu Shita.


Rendra menoleh ke arah Shita dan menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Lo mau ninggalin Gua?." Tanya Rendra.


Pertanyaan Rendra sukses membuat Shita menoleh ke arahnya dan menatap mata Rendra dalam.


"Iya." Singkat Shita.


"Kenapa?." Tanya Rendra.


"Gua capek sendiri an di sini, Lo juga bakal nikah akhir Desember ini kan?, ngga ada alasan lagi buat Gua bertahan di sini." Terang Shita.


Rendra bungkam tak dapat menjawab.


Dia hanya mampu menatap wajah Shita dengan tatapan nanar.


"Kalo Gua minta Lo untuk menatap, apa Lo mau?." Tanya Rendra.


"Buat siapa Gua menetap? Andi? Panji?, Lo tau siapa orang yang Gua cinta Dra." Terang Shita.


"Jangan pergi Ta." Pinta Rendra.


"Jaga kesehatan kalo Gua pergi Dra, berenti berbuat hal konyol yang bisa bikin Lo luka bahkan mati." Pesan Shita yang mengalihkan pembicaraan Rendra.


"Ayo makan, Lo belum makan kan pasti." Ajak Shita dengan menarik lengan kemeja Rendra.


Rendra menurut mengikuti Shita di belakang.


Sampai di kantin.


Panji dan Andi duduk di bangku dekat Raina dan lainnya.


Rendra ikut duduk duduk dibangku Panji, Andi dan memesan makan.


"Pemandu wisata kita ada 4 nih sekarang." Celutuk Abdiel.


"Kenalin semuanya, dia Panji, sebelahnya itu Andi, dan paling ujung Rendra." Sebut Shita memperkenalkan 3 cowok itu.


"Hai Gua Abdiel, sebelah Gua Rafka, itu Abhi, 4 cewek itu namanya Akifa, Alfi, Zarine, Tika, buat 2 orang cowok bujang lapuk sebelah sana, namanya Bang Rafa dan Bang Idan." Kata Abdiel memperkenalkan satu per satu orang di sebelahnya.


"Bukan bujang lapuk lagi sekarang Diel, udah punya calon masa masih di sebut bujang lapuk?." Ralat Rafka.


"Hahaha, sory lupa." Tawa Abdiel konyol.


Bang Rafa dan Bang Idan mendengus jengkel pada Abdiel yang masih saja menyebut mereka bujang lapuk.


'Hehehe.' Semua orang terkekeh melihat ekspresi kecut Bang Rafa dan Bang Idan.


"Gua ucapkan Selamat datang di kota kami." Salam Rendra.


"Maaf buat sambutan yang kurang baik, kemarin ke adannya kacau jadi ngga bisa kenalan secara formal." Sambung Rendra dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.


"It's ok Bro, kita bisa paham kondisi kalian." Jawab Abhi.


Palayan pengantar makanan datang.


Mereka berhenti berbicara dan membiarkan Shita dan Rendra makan.


Di meja 6 serangkai serta Bang Rafa, Bang Idan, Tika juga Raina.


Shita yang mendelik melototkan mata saat Rendra akan menuang sambal ke Soto ayamnya membuat mereka tersenyum lucu.


Pasalnya mereka seperi melihat duplikat Akifa Abdiel yang bertengkar berebut makanan.


Raina yang melihat itu juga ikut tersenyum.


Dia sebenarnya tidak membenci Rendra.


Hanya saja dia tak suka sifat Rendra yang menggantungkan perasaan adik sepupu tersayangnya itu.


Padahal di mata Raina, Rendra juga mencintai Shita.


Entah apa alasannya sehingga membuat Rendra menyakiti Shita.


Selesai sarapan, mereka smeua berfoto ria di wisata B29 itu.


Rendra, Andi, Panji, dan Shita mendadak menjadi photographer.


Mereka di puncak B29 hingga sore tiba.


Disana juga 14 pemuda pemudi ini menikmati sunset yang indah dan cantik.


Ba'da maghrib mereka kembali ke penginapan dan rumah masing-masing.


Sampai di penginapan, mereka menjalankan kewajiban sebagai umat islam.


Pukul 9 malam mereka sudah terlelap menuju alam mimpi yang indah.


:


:


:


:


Pagi menjelang.


Di penginapan tepatnya kamar Rafka Zarine.


"Ayo bangun Yang?." Kata Zarine dengan mengusap pipi Rafka pelan.


"Nanti aja, aku masih betah nih peluk kamu." Jawab Rafka manja.


"Ini udah siang, udah jam setengah 8 loh." Kata Zarine lagi.


"Biarin aja, aku yakin lainnyapun belum bangun." Acuh Rafka.


Dia makin menelusupkan wajahnya ke dada Zarine.


Rafka mengunyel-unyel di daerah sana.


"Yang geli." Ucap Zarine dengan cekikikan.

__ADS_1


"Yang?, aku minta 'itu' boleh?." Tanya Rafka dengan nada serak.


Zarine yang tau maksud kata 'itu' langsung saja pipinya memerah malu.


"Emmmm, aku maunya di lakukan di rumah kita sendiri." Ucap Zarine dengan mengalihkan pandangan tak mau menatap Rafka karena malu.


"Lama dong." Cemberut Rafka dengan menatap Zarine yang hanya di balas senyuman manis oleh Zarine.


Mereka ber dua kemudian saling tatap.


Rafka mendekatkan wajahnya ke arah Zarine.


Semakin dekat dan... .


'Cup.'


Rafka mengecup bibir ranum Zarine.


Setelah itu kening ke duanya menyatu.


Pipi Zarine terasa panas dan jantung kedua suami istri ini berdetak cepat jika melakukan kegiatan ini.


Padahal cuma kecupan juga sering dilakukan, dan mereka sudah 1 tahun juga menikah, tapi rasanya seperti baru melakukannya.


-


-


-


Pukul 8 pagi.


Semua orang berkumpul di meja makan rumah Raina.


Mereka sarapan dengan di selingi canda tawa.


"Kita kemana lagi nih bentar lagi?." Tanya Bang Idan.


"Ke kebun teh mau ngga?." Usul Shita.


"Kebun teh?." Beo Abdiel.


"Ada disini?." Tanya Akifa.


"Ada dong." Jawab Raina.


"Kuylah." Kata Alfi dan Abhi kompak.


Pukul 9 pagi mereka bersiap dan akan berangkat.


Seperti kemarin, Rendra, Andi, dan Panji kembali mengikuti.


30 menit perjalanan mereka semua telah sampai di tujuan.


"Kalo pagi tadi kesini kita pasti bakal dapet udara yang sejuk banget." Beri tahu Rendra yang sudah berdiri di samping Shita.


"Ya udah ngga papa deh, lagi pula kita ngga buat janji malamnya." Kata Shita.


"Ayo masuk." Ajak Panji.


Mereka semua masuk.


Kebetulan pagi ini pemilik kebun ada ditempat.


Jadi mereka bisa berkeliling dan mendapat ilmu juga oleh-oleh teh langsung dari pemilik kebun.


Pukul 4 sore.


14 pemuda-pemudi ini kembali ke penginapan.


Di dalam mobil suasana sangat ramai.


"Besok kemana nih?." Tanya Alfi.


"Ke air terjun gimana?." Usul Raina.


"Wah boleh tuh." Setuju Abdiel yang di angguki lainnya.


"Kita berangkat agak siangan besok, semoga aja ngga banyak orang yang kesana." Ucap Shita.


"Kok gitu?." Tanya Bang Rafa.


"Biar kita bisa menikmati airnya alias mandi disana, aku ngga pernah ngerasain airnya soalnya, boro-boro ngerasain airnya, ketempat air terjun nya aja aku ngga pernah, hahaha." Jelas Shita panjang lebar.


"Ngga pernah kesana?, tapi tau jalannya?." Tanya Bang Idan.


"Hehehe, taulah." Kata Shita dengan cengengesan.


"Lah? Kok gitu?." Tanya Akifa.


"Aku tau tempatnya dari temen-temen." Jawab Shita.


"Hehehe, aneh ya, ngga tau tempatnya tapi, tau jalannya." Kekeh Alfi.


Mereka terus berbincang hingga sampai di rumah.


Mereka langsung masuk ke dalam penginapan dan rumah.


Kalau Rendra, Andi, Panji mereka ber 3 pulang ke rumahnya masing-masing setalah berpamitan dan Shita memberi tahu kalau besok perjalanan mereka ke air terjun.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2