
17 tahun kemudian.
"Abang?!!!." Teriak seorang gadis dari lantai dua menggemah ke seluruh penjuru sebuah rumah mewah.
Seorang wanita cantik yang sudah berusia 36 tahun berlari dari dapur terburu-buru naik ke lantai dua.
Saat sampai di atas masih dekat tangga, seorang pria berlari dan kemudian bersembunyi di balik punggung wanita paruh baya itu, lalu terlihat gadis yang berteriak tadi berdiri di tengah pintu kamar nya dengan penampilan acak-acak kan, seperti nya dia baru bangun tidur.
"Why Baby?." Tanya wanita paruh baya itu lembut.
"Tanya aja sendiri sama Abang." Jawab gadis itu dengan bibir manyun nya.
Pria yang ada di belakang wanita paruh baya yang di sebut Abang oleh gadis di tengah pintu itu malah terkekeh kecil mendengar aduan adik nya.
"Ada apa ini Bang Damar?." Tanya wanita itu lembut.
Yup, benar, jika kalian menebak bahwa gadis yang berteriak tadi adalah Wulan dan cowok yang di sebut Abang tadi Damar, maka jawaban nya benar.
Mereka tumbuh menjadi Lelaki tampan dan juga Gadis yang cantik, dengan sifat yang hampir sama.
Mommy Zarine dan Daddy Rafka juga banyak perubahan, yang pasti perubahan yang baik dan lebih dewasa dari sebelum nya, tentu saja 36 tahun harus banyak berubah, tidak mungkin mereka masih seperti remaja.
Kembali ke pertengkaran antara Abang dan Adek yang terjadi di pagi buta tepat nya pukul 05.05 pagi.
"Ngga ada apa-apa Momm, Abang cuma mau bangunin adek aja." Balas Damar di sertai senyuman manis nya.
"Bangunin apa an?! Hampir aja aku kehabisan nafas gara-gara Bang Damar." Adu gadis mungil itu pada sang Mommy.
"Ehem!." Dehem seorang pria paruh baya menghenti kan suasana panas antara Abang Adek di lantai dua ini.
"Ada apa nih Momm?." Tanya pria paruh baya itu pada istri nya dengan nada datar.
"Biasa lah Dad, kaya ngga tau drama nya Damar Wulan aja kalo pagi." Jawab sang istri sambil terkekeh pelan.
"Dah, sekarang Bang Damar minta maaf sama Adek." Suruh Mommy pada anak laki-laki nya ini.
Bang Damar mengangguk kan kepala dan berjalan mendekat ke arah sang adik.
"Wulan ngga mau maafin." Kata anak gadi itu sambil menyilang kan tangan nya di depan dada.
"Kenapa?." Tanya Daddy dengan nada lembut kali ini.
"Wulan mau pukul Bang Damar dulu, baru nanti di maafin." Syarat Wulan yang terdengar aneh tapi itu sering terjadi di pagi hati yang indah ini.
"Ya udah pukul aja gih." Balas Bang Damar sambil mendekat kan tubuh nya ke Wulan.
'Buk!.' Tanpa mendapat komanda dua kali, Wulan memukul Abang tercinta nya.
Tapi sesaat kemudian... .
'Grep!.' Wulan menabrak kan diri ke dalam peluk kan Bang Damar nya tersayang.
"Maafin Wulan udah pukul Abang." Ucap Wulan lirih karena suara nya teredam oleh dada bidang dan kokoh milik Abang nya.
"Maafin Abang juga, udah keterlaluan bangunin Adek." Balas Bang Damar sambil mengusap pucuk kepala Wulan lembut.
"Dah! Balik kamar masing-masing." Daddy Rafka menghenti kan drama pagi putra putri nya ini.
Dan dengan cengengesan bak orang tanpa dosa mereka membubar kan diri masuk kamar masing-masing.
"Duh, masih jam 5 lebih 20 menit mereka dah bikin kacau rumah." Rutuk Daddy Rafka jengkel.
Zarine yang melihat sang suami menggerutu hanya terkekeh pelan, lalu dia mendorong sang suami untuk masuk kamar membantu nya bersiap pergi ke kantor.
Di dalam kamar Rafka Zarine.
"Ngga kerasa yah, udah 17 tahun aja, rasa nya kaya baru kemarin aku lahirin mereka." Kata Zarine dengan senyuman lembut nya.
"Waktu berputar terus Yang, ya pasti lah mereka tumbuh jadi remaja, bentar lagi siap ngga siap kita bakal lepas mereka nikah." Balas Rafka sambil merengkuh tubuh sang istri dalam peluk kan.
"Dah, ayo aku bantu in siap-siap ke kantor." Kata Zarine menghenti kan obrolan mereka.
Pukul 06.00 pagi di meja makan rumah Rafka Zarine.
Di kursi meja makan sudah ada Rafka, Zarine, dan Bang Damar.
"Ini tokoh utama yang satu nya lagi mana?." Tanya Mommy Zarine pada 2 pria kesayangan nya ini.
"Lagi pasang bulu mata kali Momm, tunggu in aja." Balas Bang Damar cuek.
"Assallammu'allaikum, selamat pagi semua nya?!." Sapa Wulan dengan gaya semangat dan antusias nya.
"Wah wah, anak Mommy cantik banget." Puji Zarine pada anak perempuan nya ini.
"Iya dong Momm, harus, hari ini kan hari pertama masuk kelas 11." Semangat Wulan membara.
"Terus? Apa hubungan nya masuk kelas 11 ama cantik? Kamu mau centil sama Adek kelas?." Tanya Bang Damar datar dan dingin.
'Buk!.' Satu tonjok kan maut dari Wulan mendarat mulus di lengan kekar Abang Damar sayang nya ini.
"Shht... ." Bang Damar hanya meringis mendapat tonjok kan yang lumayan menurut nya.
"Hah! Rasa kan, wlee." Wulan mengejek Bang Damar dengan menjulur kan lidah nya.
Gadis berhijab dan berkacamata bulat dengan tinggi 165 dan pipi cabby ini semakin imut jika menampil kan mimik wajah senang.
"Dah ayo sarapan, bentar lagi Bang Albhi sama Kristal dateng jemput kalian." Zarine melerai perdebatan Bang Damar dengan Wulan itu.
Wulan yang mendengar nama Albhi, dia tersenyum malu dengan pipi bersemu merah.
Ouh iya untuk yang tanya siapa Kristal itu, ia adalah anak Abdiel Akifa yang lahir 5 hari setelah Albhi anak Abhi Alfi.
Nama lengkap nya ialah, Kristaly Naila Gilbert, biasa di panggil Kristal, sahabat perempuan satu-satu nya Wulan dan sangat mencintai Bang Damar sejak kelas 6 SD bertahan hingga saat ini.
Melihat pipi sang putri memerah malu karena mendengar nama Albhi, Rafka Zarine juga Bang Damar saling pandang kemudian tertawa pelan.
"Dek? Kamu kenapa? Sakit kah? Kok merah pipi nya?." Tanya Bang Damar sengaja pura-pura tak tahu karena ingin menjahili adik tersayang nya ini.
Wulan sama seperti Kristal, dia mencintai Albhi bahkan sejak mereka masih ingusan dulu, awal nya Wulan menganggap Albhi seperti super hero nya setelah Daddy Rafka dan Abang Damar tentu nya, tapi lama kelamaan kagum itu berubah jadi cinta hingga saat ini.
"Ish! Apa an sih Bang Damar, udah diem!." Wulan mengalih kan topik.
"Cieee... ." Bang Dama menggoda Wulan sambil menoel-noel pipi cabby adik nya itu.
"Diem ih, Daddy? Uncle Rafa sama Uncle Idan kapan balik ke sini?." Tanya Wulan mengalih kan topik.
"Ngga tau juga deh, mungkin siang ini." Jawab Zarine tak pasti.
"Dulu kata nya 2 uncle mau menetap di sini pas Angkasa sama Pamungkas SMP, ngga ngga jadi sih Momm?." Tanya Bang Damar.
Nah, dua nama yang di sebut Bang Damar itu adalah anak-anak Bang Idan Tika, juga Bang Rafa Kak Rain.
Angkasa Bram Fathan anak dari Bang Idan Tika, lahir pada tanggal 10 Desember tahun yang sama dengan Damar Wulan pemuda yang lebih muda beberapa bulan dari Danar dan juga Wulan.
Sedang kan Pamungkas Rizky Ansharri adalah anak Bang Rafa Kak Raina, lahir 2 minggu setelah Angkasa yaitu tepat tanggal 28 Desember.
Posisi Bang Rafa dan Bang Idan saat ini masih jauh dari 6 serangkai, yaitu Surabaya dan London.
Dulu, saat Angkasa dan Pamungkas masih SMP, mereka berniat pulang ke berkumpul dengan 6 serangkai. Tapi karena ada kendala lagi mereka harus tinggal sedikit lebih lama lagi, dan akhir nya memutus kan untuk kembali saat Angkasa dan Pamungkas berusia 17 tahun.
Pemulihan perusahaan Bang Idan dan Bang Rafa sebenar nya tak membutuh kan waktu bertahun-tahun, karena otak cerdas mereka hanya butuh waktu 10 bulan saja untuk pulih, tapi saat akan pulang kembali berkumpul dengan 6 serangkai, ada saja kendala-kendala yang harus mereka urus.
Maka dari itu kepulangan mereka untuk berkumpul dengan 6 serangkai harus tertunda lebih lama, bahkan lama sekali.
Kembali ke meja makan.
__ADS_1
"Boleh ngga Momm kita ngga sekolah ikut jemput Uncle Rafa sama Uncle Idan?." Tanya Wulan berharap.
"Kata nya masuk kelas 11 harus semangat, harus sekolah? Mana? Kok malah mau bolos?." Cibir Bang Damar pada adik tersayang nya yang tengah duduk di sebelah nya sambil menyantap sarapan nya.
Wulan yang mendapat cibira keras itu hanya cengengesan tak jelas.
Tiba-tiba... .
"Assallammu'allaikum Mommy Zarine Daddy Rafka?!." Salam semangat seorang gadis dengan sedikit berlari kecil masuk ke dalam rumah Rafka Zarine.
"Wa'allaikum sallam Kristal." Balas Rafka Zarine kompak.
Terlihat Kristal datang tak sendiri, di belakang nya ada seorang cowok yang tak kalah tampan dengan Damar, dia adalah Albhi.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Damar Wulan kompak.
Damar langsung memaling kan wajah nya saat mata nya tanpa sengaja bertabrak kan dengan mata bulat milik Kristal.
Damar tak membenci Kristal, dia hanya tak bisa menetral kan deguk kan jantung nya yang cepat saat melihat Kristal.
Kalo mimik wajah Wulan? Jangan tanya bagaimana melihat Albhi yang rapi berdiri di dekat nya.
Mata nya manatap intens dengan cipta an Allah satu ini.
"Maa syaa allah, ciptaan-Mu sungguh mengagum kan." Gumam Wulan lirih.
Albhi yang tau tengah di tatap oleh gadis mungil di depan nya ini memilih memasang wajah datar dan dingin nya, yang asli nya jantung nya berdetak tak karuan jika dekatan dengan si little girl nya ini.
Kristal yang melihat Damar memaling kan wajah, dia menghembus kan nafas lelah nya tapi senyum cantik nya tak luntur.
'Cuek banget sih kamu Damar, apa aku salah jatuh cinta sama kamu?.' Batin Kristal sedih.
"Ehem!." Deheman keras keluar dari Rafka, dan memecah kan keterdiaman 4 anak muda di depan nya ini.
"Gih kalian berangkat, udah siang ini." Suruh Rafka pada anak-anak nya.
"Ya Momm, kami pamit dulu, assallammu'allaikum." Salam 4 remaja itu kompak, dengan bergantian mereka mencium punggung tangan Mommy Zarine dan Daddy Rafka lalu pergi keluar rumah.
Setelah kepergian mereka.
"Dasar, cowok-cowok yang gengsi nya selangit, apa susah nya tinggal bilang 'Aku Mencintai mu' kalo di ambil orang aja baru tau rasa." Gerutu Mommy Zarine sambil geleng-geleng kepala.
"Momm? Iya kamu enak ngomong nya, kita para cowok ini jantung nya udah kaya mau loncat pas ngomong gitu, takut di tolak." Daddy Rafka menjawab mewakili anak pria nya.
"Tapi masa sih mereka ngga tau kalo saling mencintai." Zarine berapi-api menjawab.
"Sekarang kamu liat deh mereka, si Wulan, dia tuh anak nya memang terkesan menampak kan perasaan sama Albhi, tapi dia melakukan nya sembunyi-sembunyi kaya ngga peduli gitu, kalo Albhi, dia tuh dingin-dingin empuk orang nya, sama kaya aku dan Abhi, terus si Kristal, dia cewek bar-bar persis kaya Mama Papa nya, tapi kalo berhadapan sama Damar dia banyak kicep nya, Buat Damar, dia tuh pura-pura ngga ada apa-apa, padahal jantung nya mau meledak kalo deket Kristal." Panjang Rafka menjabar kan sifat anak-anak nya dan juga anak-anak sahabat nya.
"Aduh pusing, tau ah, lama-lama kalo mereka menetap di zona ngga jelas ini, aku mau kita turun tangan." Seru Zarine tegas pada suami tercinta.
"Kita pikirin itu semua nanti, sekarang aku mau pergi kerja dulu, kamu kalo mau ke Cafe ayo sekalian bareng." Ajak Rafka oada sang istri.
"Aku sama Alfi, Akifa nanti jam 8 kamu pergi dulu aja deh ke kantor, ayo aku antar ke teras." Balas Zarine lembut.
Di dalam mobil perjalanan ke sekolah.
"Ih ini lucu banget, lagi tren tau mainan kaya gini." Di bangku belakang bising dengan suara Wulan dan Kristal yang tengah membahas hal-hal unfaedah menurut para pria.
"Ouh iya kita hari juga pembagian kelas, harap-harap kita masuk satu kelas!." Doa Kristal sambil menengadah kan tangan nya.
"Aamiin." Sahut Wulan dengan suara lantang nya.
"Bang Damar sama Bang Albhi ngga mau ngaminin?." Tanya Wulan pada dua pria kesayangan nya ini.
"Aamiin." Sahut mereka singkat.
Wulan dan Kristal mencebik kan bibir nya masam mendengar jawaban dua pria ini.
Mobil mereka tiba di parkiran mobil SMA Merdeka. Dan segera mereka keluar dan berlari ke arah Mading sekolah melihat kelas mereka, tapi karena ramai mereka memutus kan duduk dulu di taman depan kelas.
Dan untuk masalah membawa mobil ke sekolah, sebenar nya mereka belum genap 17 tahun, tapi karena mereka bandel jadi para orang tua membiar kan, dan tanpa sepengetahan mereka, para orang tua mengawasi mereka lewat mata-mata yang di pekerja kan khusus untuk menjaga 4 remaja itu.
Di bangku taman SMA Merdeka.
"Kita nunggu di lapangan basket out door yuk, bosen di sini." Ajak Wulan pada 3 sahabat nya ini.
"Kita di sini aja ngga usah ke mana-mana." Tolak Albhi.
Wulan mendengus pelan dan dia pasrah dengan penolak kan Albhi.
Setelah lama menunggu mading lenggang, segera Damar dan Albhi melihat pembagian kelas, Kristal dan Wulan menunggu di bangku taman.
Dan... ketemu. Mereka ada di kelas 11 IPS 3. Mereka yang arti nya, Albhi, Kristal, dan tentu saja Damar Wulan.
Sesudah melihat pembagian kelas, Albhi dan Damar tersenyum samar senang karena kembali satu kelas.
Segera 2 pria itu mengabar kan pada 2 gadis yang tengah asik mengobrol dan bercanda.
"Gimana? Kita satu kelas?." Tanya Wulan antusias.
"Sesuai doa kalian." Singkat para pria menjawab.
"Kyaaa!!!." Wulan dan Kristal berteriak senang hingga berpeluk kan.
"Di kelas mana?." Tanya Kristal.
"11 IPS 3." Singkat Damar menjawab.
"Ayo ke sana, eh emm... boleh ngga kalo tahun ini Wulan duduk sama Bang Albhi, dan Kristal sama Bang Damar." Ucap Wulan meminta ijin.
2 pria itu saling pandang kemudian mengarah kan pandangan nya kepada 2 gadis di depan mereka ini.
"Iya boleh." Jawab Damar meng iya kan.
"Alhamdulillah, ayo." Ajak Kristal senang.
Mereka ber empat naik ke lantai 3 kelas 11 berada.
Lalu menelusuri kelas 11 IPS 3.
Sampai di depan kelas tujuan mereka.
"Ini kah?." Tanya Wulan sambil melihat papan nama yang tergantung di atas depan kelas.
"Ruang Kelas 11 IPS 3, pasti bener ayo masuk." Kristal membaca papan nama itu dan dia yakin tanpa ada keraguan sama sekali.
Mereka ber 4 masuk ke dalam kelas.
"Assallammu'allaikum." Salam 4 remaja itu kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab para siswa siswi di dalam kelas ini.
Pemandangan yang mereka lihat pertama adalah, sudah banyak siswa siswi menduduki bangku pilihan masing-masing.
Kemudian Kristal dan Wulan memilih tempat duduk masing-masing.
Kali ini mereka memilih duduk di tepi, bukan di dekat jendela.
Tapi... .
"Pindah." Seru Damar dan Albhi kompak.
"Ini letak meja nya udah strategis." Kata Wulan menolak.
"Kalian pindah ke dekat jendela." Perintah Damar dan Albhi bersamaan.
__ADS_1
Dengan berat hati Wulan dan Kristal menuruti para pria itu.
'Emang kenapa sih kalo duduk di sana?.' Batin Wulan dan Kristal bertanya-tanya.
'Aku ngga ikhlas kalo kamu entar ngerumpi ama cowok kalo duduk di tepi.' Batin Damar dan Albhi juga bersamaan tanpa bekerja sama.
Tak berselang lama dari 4 serangkai masuk kelas, bel tanda upacara akan segera di laksana kan berbunyi nyaring se antero sekolah.
Buru-buru semua siswa siswi turun ke lapangan untuk mengikuti kegiatan rutinan itu tak terkecuali 4 serangkai juga.
45 menit kemudian upacara selesai.
Pembahasan di lapangan upacara itu berisi penyambutan siswa siswi baru di SMA Merdeka tercinta ini.
Di dalam kelas 11 IPS 2.
Hari ini tak ada pelajaran di kelas, hanya pemilihan ketua kelas dan anggota-anggota nya saja, serta menyusun segala sesuatu yang di butuh kan oleh kelas.
'Ring... ring... ring... .' Bel tanda istirahat tiba.
Wulan dan Kristal bukan nya bersiap untuk keluar dari kelas, malah menelungkup kan kepala nya di atas meja di lipatan ke dua tangan nya.
"Kalian ngga istirahat?." Tanya Damar pada dua wanita di depan nya ini.
"Males, ngga mood buat turun dan ngga mood jalan keluar kelas." Jawab Wulan yang di angguki Kristal.
"Kalian mau apa? bilang aja Biar kita beli in." Kata Albhi pada 2 wanita itu.
"Roti aja sama air putih dingin." Jawab Wulan mengutara kan ke inginan nya.
"Ya udah tunggu sini, jangan ke mana-mana." Pesan Damar tegas tak mau di bantah.
Dengan patuh dua wanita itu mengangguk kan kepala cepat.
Di tengah ke gabutan 2 wanita itu, mereka bersenandung tak jelas hingga memenuhi seluruh kelas.
Beberapa menit berlalu, para pria kembali dan saat hendak memasuki kelas suara merdu 2 wanita itu menggemah di telinga mereka, bukan hanya karena suara, tapi juga lagu yang di nyanyi kan Wulan dan Kristal membuat hati mereka tersenyum sendiri.
🎶Salah kah bila diri ku
Terlalu mencintai mu
Jangan tanya kan mengapa
Karena aku tak tau
Aku pun tak ingin bila
Kau pergi tinggal kan aku
Masih kah ada hasrat mu
Tuk mencintai ku lagi.🎶
"Apa coba maksud mereka nyanyi lagu gitu?." Tanya Albhi dengan terkekeh pelan.
"Mewakili hati nya kali." Jawab Damar juga ikut terkekeh.
"Ayo masuk, udah kek penagih hutang aja berdiri tengah pintu kek gini." Kata Albhi dengan langkah kaki nya menuju dalam kelas.
"Girl's? Nih roti ama air nya, maaf lama ngantri dulu tadi soal nya." Ucap Damar sambil memeberi kan bungkusan plastik pada Wulan dan Kristal.
"Iya ngga papa, makasih yah Boy's." Kata Krital tulus.
"Sama-sama." Balas ke dua cowok tampan itu kompak.
Di tengah 2 gadis ini makan.
"Abang-abang ini ngga mau makan sekalian?." Tanya Wulan dengan pandangan mata menatap dua cowok di depan dan di samping nya ini.
"Kaliam aja yang makan, kita udah minum satu botol air tadi di kantin, udah ngga laper sekarang." Jawab Albhi datar.
"Tuh di plastik masih banyak Bang, jangan nahas laper, kalo sakit nanti yang susah kalian sendiri." Nasihat Wulan paa Albhi.
Tangan nya membuka plastik pembungkus roti itu dan memberi kan roti nya ke Akbhi.
Albhi tak menerima roti itu malah menatap Wulan intens.
'Nih jantung kenapa ngga bisa di ajak kompromi sih?! Detak nya up normal banget.' Batin Albhi merutuki jantung nya.
Karena lama tak mendapat respon dari Albhi, Wulan menyuapi Albhi dengan tangan nya sendiri.
"Nih! Bang Albhi pegang sendiri." Suruh Wulan. Albhi dengan kebingungan nya hanya menerima roti itu dan lanjut memakan nya dengan masih fokus menatap wajah Wulan yang cantik dan imut itu.
Bang Damar dan Kristal melihat 2 sejoli itu hanya menggeleng kan kepala.
Lalu pandangan Kristal mengarah pada Damar.
"Damar? Kamu ngga mau makan juga kah?." Tanya Kristal pelan.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1