
"Di meja makan ada banyak makanan loh Za." Kata Bunda.
Zarine cemberut dan menatap berbagai hidangan makanan di meja makan.
"Tapi Za ngga tertarik, ngga ada yang bikin nafsu makan Za naik, Za mau makan telur buatan Rafka." Kata Zarine telak.
Bunda dan lain nya menggelang-geleng kan kepala nya pusing.
"Persis banget kaya waktu kamu hamil Zah." Bisik Mama Radka pada Bunda Zarine yang duduk di sebelah nya.
"Haduhhh, aku sendiri heran, kok bisa sama yah, eh jangan cuma aku dong, kamu dulu waktu hamil Rafka juga manja nya bikin istighfar." Sungut Bunda.
"Hahahaha iya kamu bener." Kata Mama Rafka dengan tertawa pecah.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Di dapur rumah Rafka Zarine.
Zarine duduk di kursi yang di siap kan Rafka ada di dekat kulkas.
"Kamu yakin ngga mau di masakin nasi goreng?." Tanya Rafka.
Zarine menggeleng kan kepala ke kanan dan ke kiri dengan perlahan.
"Ngga mau, aku mau telur nya aja." Kata Zarine.
Rafka pun meng iya kan lalu mulai memasak telur ceplok yang di minta oleh sang istri tercinta.
Tak butuh waktu lama, telur pun sudah matang.
Zarine pun memakan telur dengan nasi dan kecap.
Rafka juga ikut makan tapi dengan lauk sudah ada di meja, sebelum makan makanan nya sendiri Zarine melayani Rafka terlebih dahulu.
Sebagian orang di meja makan ini, sudah selesai makan dan sedang menikmati makanan penutup.
Di sela makan nya Zarine berbicara.
"Mama Papa sama lain nya jadi nginep kan?." Tanya Zarine dengan mengalih kan fokus nya dari nasi nya.
"Maaf ya sayang, kita semua bakal pulang, Papa ada tamu nya nanti ba'da isya'." Kata Mama menjelas kan.
"Yahh... kalo Tante sama Om pulang, kalian semua pulang dong." Akifa kecewa.
"Besok kan kita semua ketemu lagi Yang." Hibur Abdiel pada istri tercinta.
"Iya deh iya." Pasrah Akifa.
"Kapan kalian semua akan pulang?." Tanya Alfi.
"Ini kita mau pamit." Jawab Papi.
"Kita pamit Ya anak-anak, kalian kalo mau nginep juga ngga papa, tapi jangan begadang, terutama kalian bertiga." Nasihat Mama Tika sambil menunjuk Zarine, Akifa, Alfi.
"Iya Te, kalian pulang nya hati-hati." Pesan Zarine.
"Ini mau pulang aja kaya mau berangkat perang yak." Bisik Papa Rafka pada Papi Alfi yang duduk di sebelah nya.
"Tau nih, rumah kita juga cuma beda nomer doang, aneh memang istri-istri kita." Papa Akifa ikut menimpali.
Para istri-istri melihat suami mereka berbisik-bisik memandang curiga.
"Ngomongin apa tuh? Kok bisik-bisik?." Tegur Mama Akifa.
"Ngga ngomongin apa-apa kok Ma, udah kan pamitan nya? Kita pulang sekarang?." Tanya Papa Akifa mengalih kan pembicara an.
Para istri masih memicing kan mata curiga.
"Udah ayo pulang Ma, kalo kemaleman kasian si Feri nanti nunggu di teras rumah." Ajak Papa Rafka pada istri nya.
Para orang tua pun pulang.
Adzan isya' berkumandang, para muda-muda menunaikan ibadah sholat isya' berjamaah di mushollah rumah Rafka Zarine.
Selesai sholat mereka tak beranjak dari mushollah dan memilih baring-baring di sana, Bunda tidak ikut sholat di mushollah memilih sholat sendiri di kamar.
Para muda-muda itu terkumpul menjadi dua bagian, para laki-laki sendiri, dan perempuan sendiri.
Para perempuan memilih berbaring dengan saling ber cerita hal-hal yang seru.
Kalo laki-laki? Jangan tanya apa yang mereka lakukan, mereka memilih melihat tawa wanita nya masing-masing.
"Bini kalian ber tiga udah pada isi, semoga aja bini Gua cepet nyusul kalian." Doa Bang Rafa.
"Aamiin ya allah." Sahut Rafka, Abdiel, Abhi, dan Bang Idan.
"Tenang ae Bang, bentar lagi Tika sama Kak Rain juga bakal isi, siap-siap aje Lu di buat pusing ama tingkah bumil." Rafka mendoa kan sekaligus juga menakut-nakuti.
"Masa semenakut kan gitu sih? Jan nakut-nakutin Lo Raf." Kata Bang Rafa.
"Gua serius Bang, tapi menurut Gua sih seru, walau pun bikin pusing kepala tapi ada kebahagiaan tersendiri saat melakukan permintaan yang aneh-aneh dari bumil." Jelas Rafka.
"Bener tuh Gua setuju sama Rafka." Timpal Abdiel.
"Hal yang bikin kalian pusing sama tingkah bumil apa an aja?." Tanya Bang Idan kepo.
"Kalo Gua... saat Zarine suruh Gua lepas kaos dan dia ngendus-ngendus bau Gua kaya kucing." Ungkap jujur Rafka.
"Di bagian mana nya yang pusing?." Tanya Bang Rafa heran.
"Posisi dia yang bikin Gua pusing, dia duduk di pangkuan Gua sambil peluk leher Gua, mana yang di bawa tegang, dan yang paling parah Gua ngga bisa main karena Dokter Lexa bilang jangan dulu, pusing gara-gara nahan gitu an Gua." Curhat Rafka dengan muka memelas.
"Hahahaha." Bukan nya kasihan, Abhi, Abdiel, Bang Rafa, dan Bang Idan malah menertawa kan Rafka keras.
"Emang ngga boleh kalo bumil nglaku in itu?." Tanya Bang Rafa yang kini serius.
"Yaaaa sampe Baby berusia 4 bulanan lah, yang Gua denger dari Dokter Lexa sih segitu." Jelas Rafka.
"Oy lama bat dah, berarti kalian ber tiga kagak bisa main dong kalo lagi pengen? Kasian banget hahaha." Ledek Bang Idan sambil tertawa pecah.
"Puasin aja kalian ketawa, bentar lagi kalo Kak Rain sama Tika dah isi, ganti an kita yang ledek situ." Ancam Abdiel.
"Ngomong-ngomong istri kalian hamil di usia muda pasti ada resiko nya kan? Kalo boleh tau apa aja tuh?." Tanya Bang Idan.
Kali ini dia serius.
Abdiel, Abhi, dan Rafka ikut memasang wakah serius sambil menatap wanita tercinta nya yang sedang tertawa di sebelah sana dengan seru nya.
"Resiko yang paling menakut kan ngga ada lagi selain kematian Bang." Jelas Rafka.
"Yaaaa Rafka bener, apa lagi mereka masih belum genap 19 masih 18 tahun, kata dokter Lexa hamil usia muda itu ngga gampang, kadang-kadang harus memilih antara Ibu dan si Baby." Jelas Abdiel.
"Apa lagi Zarine, Baby nya kembar, harus ekstra berjuang nya nanti." Ujar Rafka.
"Tapi... liat bahagia nya istri Gua pas waktu USG bikin pikiran Gua tenang." Celutuk Abhi.
"Ya Gua juga gitu, rasa khawatir Gua lumayan berkurang lah, Gau yakin kalo istri-istri kita pasti kuat ngadepin semua ujian dari Allah, kita berdoa yang terbaik aja." Kata Rafka.
"Gua jadi takut." Ucap Bang Rafa sambil menatap Raina sang istri tercinta.
"Ngapain Lo takut? Lo harus percaya sama Kak Rain kalo dia mampu, kan ada Lo juga yang bakal ngedampingin dia pas lahiran nanti." Kata Rafka.
Semua diam tak ada yang menyahuti omongan Rafka.
"Lo bener! Kita harus percaya sama pasangan kita!." Bang Rafa berbicara dengan nada menggebu sambil menatap yakin ke arah Raina.
"Itu baru bener." Kata Abdiel dengan menepuk pundak Bang Rafa.
5 pria itu sedang asik memberi semangat lalu tiba-tiba fokus nya terpecah karena teriakan dari 5 wanita yang sedang duduk tidak jauh dari mereka.
"Yuhuuu kalian berlimaaa?!." Seru Akifa, Alfi, Zarine, Kak Raina, dan Tika.
"Ada apa sayang?." Sahut para suami lembut sambil menampil kan senyum manis, tulus, serta penuh cinta nya.
"Tolong beli in gorengan dong kalian yang ada di sana." Pinta Zarine yang di angguki 4 wanita lain nya.
"Gorengan?!." Beo 5 laki-laki kompak.
Dan di jawab angguk kan cepat dan antusias pula dari para wanita.
"Lain nya aja ya Yang... jangan itu, ngga baik tau makan gitu an malam-malam nanti kamu mau gemuk." Kata Rafka menakut-nakuti Zarine dan lain nya.
__ADS_1
"Bener tuh kata Rafka, nanti kamu gemuk lagi." Timpal Abdiel.
"Jadi kalian kalo kita semua gemuk, jelek, badan nya ngga bagus lagi, kalian bakal cari ganti gitu?!." Semprot Alfi sambil mendelik kan mata nya lebar.
"Skak Mat!." Kata Bang Rafa pelan.
"Aduh!." Keluh Bang Idan.
"Ancor dunia!." Gumam Abdiel.
"Mati kutu Gua anying." Umpat Abhi.
"Kicep dah ini mah." Kata Rafka.
5 pria itu saling menatap dan memasang wajah kecut.
"Jawab!." Seru Akifa.
"En... engga, bukan gitu maksud nya Yang, maksud kita tuh gini loh, makan gorengan malem-malem itu ngga sehat, ki... kita kan ngga tau minyak yang di pake baik atau engga, i... iya kan Raf? Gua bener kan?." Panjang Abdiel menjelaskan dengan menyikut siku Rafka meminta pembenaran.
"Iya bener tuh Yang, lain nya aja ya." Rafka memberi pengertian pada Zarine.
"Ouh gimana kalo makan buah aja?." Usul Abhi cepat.
"Buah?! Boleh tuh, aku mau makan buah pir." Sebut Alfi cepat.
'Selamat.' Batin para pria kompak tanpa kerja sama.
"Aku mau apel." Kata Zarine.
"Aku mau anggur merah." Binar senang Akifa.
"Kalian minta buah apa?." Tanya Bang Rafa dan Bang Idan pada istri masing-masing.
"Aku... ngga mau buah, aku mau nya baso aci yang pedes banget." Ujar Tika.
"Ngga bisa lain nya kah Yang?." Tawar Bang Idan.
"Engga! Aku mau makan itu." Kata Tika mutlak tak bisa di bantah.
"Huuufffffh, ok aku beli in." Pasrah Bang Idan.
"Kamu Yang? Mau makan apa?." Tanya Bang Rafa pada Raina.
'Semoga ngga aneh-aneh.' Batin suami Raina ini.
"Aku mau... makan... sama in aja deh kaya punya Tika, baso aci tapi ngga pedes." Pesan Raina
"Baik kalo begitu, ibu-ibu semua ke ruang santai duduk diam sambil nonton di sana, tunggu suami tercinta pulang jangan tidur loh." Kata Abdiel.
"Iya kita tunggu di sana." Jawab kompak mereka.
Para laki-laki pun berangkat untuk membeli kemauan 5 wanita cantik itu.
Sedangkan para wanita, mereka menunggu di ruang santai sembari menonton.
"Nonton sesuatu yang menegang kan kuy." Ajak Akifa.
"Apa an? Horor?." Tanya Alfii.
"Jangan dong... aku takut kalo itu." Kata Zarine.
"Apa dong? Masa drama? Bosen ah!." Celutuk Akifa.
"Kita nonton actian aja, kan sama-sama menegang kan tapi ngga menakut kan, setuju?." Usul Kak Rain yang langsung di angguki oleh 4 orang lain nya.
Zarine langsung melangkah menuju lemari kecil di bawah TV untuk memasang DVD film action yang akan mereka tonton.
"Film genre apa an nih? Ada Action comedy romantis, dan action romantis, pilih yang mana?." Tanya Zarine.
"Action romantis." Kompak 4 wanita yang duduk di sofa itu.
Dengan semangat 45 Zarine memasang DVD itu.
Dan mengalir lah cerita yang mereka ingin kan, menegang kan tapi tidak menakut kan.
Kita lihat kondisi para pria yang mencari pesanan wanita-wanita mereka.
"Perut mereka ngga kenyang apa ya? Malem-malem masih aja ngemil." Pertanyaan heran Bang Rafa.
"Ya masih untung mereka minta nya ngga aneh." Celutuk Abhi yang kini sedang menyetir mobil Rafka.
Mereka masih ada di mobil dalam perjalanan mencari penjual baso aci.
Kali ini Abhi yang menjadi supir.
Semua penumpang mobil membalas ucapan Abdiel dengan angguk kan kepala paham dan membenar kan.
5 menit kemudian mereka mendapat kan apa yang mereka cari yaitu baso aci.
Di kedai baso aci, mereka bertemu dengan Sari dan Roy tapi mereka berdua tak tau jika ada 5 pria itu.
"Itu... Sari Roy bukan?." Tunjuk Bang Rafa pada 2 sejoli yang tengah tertawa di ujung sana.
"Kaya nya sih." Jawab ragu Abdiel.
"Samperin kuy." Ajak Bang Idan.
5 pria itu menghampiri Sari dan Roy, sebelum itu Bang Rafa dan Bang Idan memesan baso dulu.
"Hayo loh... berdua an aja." Tegur Abdiel.
"Eh kalian, duduk sini gabung." Ajak Roy, setelah ke datangan mereka ber 5, Sari diam tak berbicara banyak menunduk dan memakan baso aci nya dengan diam.
Ke 3 pria itu menyadari perubahan Sari, Bang Rafa dan Bang Idan tersenyum sebentar lalu menegur.
"Sar? Lo apa kabar?." Tanya Bang Idan.
"Ba... baik Kak alhamdulillah se... sehat." Gagap Sari menjawab.
Keadaan sedikit canggung.
"Kalian... tumben malem-malem keluar rumah?." Tanya Roy mencair kan suasana.
"Bini Gua si Tika, sama bini nya Bang Rafa minta beli Baso aci." Jawab Bang Idan.
Mendengar nama Tika sontak kepala Sari mendongak dan menatap Bang Idan dengan berbinar.
"Ka... ka... kabar Tika sama lain nya gi... gimana Kak?." Tanya Sari masih gugup.
Sari sebenar nya malu bertemu Rafka dan keluarga Rafka lain nya, pasal nya dia masih ingat sama kejadian diri nya yang memalu kan itu.
"Alhamdulilah sehat." Jawab Bang Idan.
"Sar? Lo kapan main ke rumah? Kata nya mau nikah? Kok undangan nya belum nyebar sih?." Tanya Bang Rafa.
"Nanti kalo undangan nya udah jadi dan siap edar, semua keluarga besar kalian bakal dapet kok." Ujar Sari.
"Kalo main ke rumah aja Sar, mereka biasa kumpul di rumah Gua, dan ada kabar yang pengen Gua kasih tau ke kalian berdua." Ucapan gantung Rafka.
"Apa?." Tanya penasaran Sari dan Roy.
"Zarine, Alfi, sama Akifa hamil." Beri tahu Rafka.
Senyum bahagia dan senang terpancar jelas di bibir Sari, dan itu dapat di lihat oleh Rafka dan juga lain nya.
"Alhamdulillah, se cepat nya aku sama Roy ke sana." Suara Sari pun sudah tidak gagap lagi setelah mendengar berita membahagia kan ini.
Lalu tiba-tiba sang penjual baso aci memanggil karena pesanan sudah siap.
"Kita pulang dulu, kalian jangan pulang malem-malem, jangan lama-lama berdua an nya." Nasihat Bang Rafa pada Roy dan Sari.
"Iya bentar lagi kita juga pulang." Kata Roy.
Lalu ke 6 pria itu ber salaman ala mereka untuk berpamitan.
"Kita pu-." Belum selesai mereka berucap Sari menyela.
"Tunggu! Jangan pulang dulu." Kata Sari ikut bediri.
"Ada apa Sar?." Tanya Bang Rafa.
"Aku... ak... aku minta maaf atas kesalahan di masa lalu Kak, maafin aku dan segala kesalahan aku di masa lalu Kak Rafa, Kak Zaidan." Ucap Sari tulus dari hati, dia menatap mata Bang Rafa dan Bang Idan lekat.
2 pria dewasa itu diam hanya memandang Sari.
Sari yang gugup menunduk kan kepala.
'Kaya nya ngga bakal di maafin, iya sih aku sadar, aku memang keterlaluan.' Bisik Sari dalam hati nya.
Tiba-tiba... .
'Eh?!.' Sari terkejut mendapati kepala nya di elus lembut oleh Bang Rafa dan Bang Idan.
"Kita berdua udah maafin kamu Sar, kita bersyukur allah sudah menyadar kan hati kamu, jangan ulangi ke salahan yang sama, masa kemarin anggap sebagai pelajaran hidup, ok?." Panjang Bang Rafa berbicara.
"Ma... makasih Kak, makasih." Ucap Sari sambil menangis terharu.
__ADS_1
"Sama-sama, ya udah kita pulang dulu, kasian yang di rumah udah nunggu in." Pamit Bang Idan.
"Iya Kak, hati-hati." Nasihat Sari.
"Pasti, assallammu'allaikum." Salam 5 pria itu.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Sari Dan Roy.
Setelah lama mengembara di jalan mereka pun pulang ke rumah.
Jam di tangan kiri mereka masih menunjuk kan angka 19.30 malam.
"Assallammu'allaikum... kita pulang nih!." Teriak Abdiel setelah sampai di ruang santai.
4 pria lain mengucap salam dengan suara biasa, tidak berteriak.
"Wa'allaikum sallam." Para wanita menjawab.
"Wih... makanan dateng." Seru Tika.
Kak Rain dan Tika sudah siap mangkuk untuk baso aci nya, sedang kan untuk buah cukup di cuci dan di potongu saja, dan itu di lakukan oleh para pria, wanita terima siap santap😂.
"Kok lama? Kalian mampir kemana?." Tanga Kak Raina.
"Kita ketemu Sari dan Roy tadi di kedai baso aci." Cerita Bang Rafa.
"Sari? Ngomong-ngomong soal Sari, dia banyak berubah aku suka dia yang sekarang." Sahut Akifa senang.
"Ya aku juga suka dia yang sekarang." Timpal Alfi.
"Gimama kabar nya Sari sama Roy?." Tanya Zarine.
"Sehat wal'afiat alhamdulillah, kata nya dia bakalan secepat nya main ke sini sekalian nyebar undangan nikahan nya." Beri tahu Bang Idan.
"Kita dateng kan nanti?." Tanya Zarine antuasias.
"Kita liat kondisi nanti aja, kalo memungkin kan kita dateng, kalo engga ya ngga berangkat." Jawab acuh Rafka.
Zarine memasang wajah cemberut nya, lengkap dengan binir maju nya 5 centi😂.
"Jangan di maju in gitu, minta di cium ya?." Bisik Rafka tepat pada telinga Zarine.
Mendengar bisik kan Rafka, reflek Zarine langsung menutup bibir nya dengan kedua telapak tangan nya.
"Hahaha." Tawa Rafka terdengar.
Untung tak ada yang melihat aksi kedua pasangan ini, semua nya sibuk dengan pasangan masing-masing.
"Oy?! Nape Lu ketawa? Kesambet apa an dah Lu?." Tanya heran Abdiel.
Mendapat pertanyaan itu, tawa Rafka makin kencang, dan Zarine menenggelam kan kepala nya di belakang pundak Rafka.
Selesai makan-makan pukul 21.30 para wanita tidur di pangkuan pria.
"Adududu enak banget yak mereka? Udah makan tidur." Kata Bang Rafa.
"Gua malah alhamdulillah kalo dia tidur." Celutuk Abdiel.
"Lah? Kok gitu?." Tanya Bang Idan.
"Kalo mata cantik ini bangun, udah bisa tebak Gua selanjut nya akan ada apa." Jawab Abdiel.
"Buka mata berarti buka mulut juga, pasti ada aja yang di minta." Jelas Abhi yang tau maksud Abdiel.
"Hahaha tapi seru juga menurut Gua." Tawa Rafka mengudara.
"Ya udah ayo tidur, udah malem ini." Ajak Bang Rafa.
"Tumben Lo ngga begadang?." Tanya heran Bang Idan.
"Lagi ngga pengen, mata Gua berat bat pengen ketemu kasur." Cetus Bang Rafa.
Semua mengangguk, lalu mereka menggendong pasangan masing-masing menuju dalam kamar.
Rafka membaring kan Zarine dengan pelan di ranjang.
Membuka kerudung nya lalu meletak kan benda itu di tempat gantungan.
Dan kemudian Rafka berbaring di sebelah Zarine dan memeluk nya lalu ikut terlelap dalam mimpi.
Ke esok kan pagi nya.
Setelah sholat subuh tepat Zarine melipat mukenah perut nya tiba-tiba bergejolak.
Awal nya Zarine acuh, tapi lama kelama an gejolak itu makin menjadi, dia langsung berlari ke kamar mandi dan memuntah kan isi perut nya yang belun terisi oleh apa pun.
Rafka yang sedang duduk bersimpuh di lantai dengan ponsel di tangan nya mendengar suara Zarine muntsh berlari dengan kencang.
"Yang?." Panggil Rafka khawatir.
Zarine tak menjawab masih sibuk memuntah kan isi perut nya yang sayang nya tak mengeluar kan apa pun.
Rafka memijit tengkuk Zarine lembut.
10 kemudian Zarine sudah berhenti.
Badan Zarine lemas dan tak bertenaga.
Rafka menuntun nya untuk duduk di berbaring di atas ranjang dan mengoles perut Zarine mengguna kan minyak angin.
"Ngga usah ke sekolah aja ya?." Kata Rafka.
"Kita udah deket sama ujian, kalo aku ngga sekolah bisa ketinggalan aku." Jelas Zarine.
"Huuffffh." Helaan nafas pasrah terdengar.
Memang benar bahwa mereka sudah mendekati ujian.
Di kamar Abhi dan Abdiel pun sama, Akifa juga Alfi sedang lemas karena habis muntah.
"Yang?." Panggil Zarine.
"Iya?." Sahut Rafka.
"Aku mau sarapan bubur ayam." Ungkap Zarine.
"Iya tunggu aku beli in dulu." Balas Rafka cepat.
Rafka keluar kamar bersamaan dengan Abhi dan Abdiel.
"Mau kemana Lu pada?." Tanya 3 pria itu bersamaan.
"Mau kemana?." Tanya Abhi pada Rafka, Abdiel.
"Mau beli bubur ayam." Jawab Rafka.
"Gua mau beli soto ayam." Ucap Abdiel.
"Lu? Mau kemana?." Tanya Rafka pada Abhi.
"Beli bubur ayam." Jujur Abhi.
"Ayo bareng." Ajak Rafka.
Mereka berangkat bersama karena memang tempat jualan 2 makanan itu sama.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalo garing😢🙏
Maaf typo di mana-mana🙏😢
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran😢.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1