
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Huuuu... yang lagi jatuh cinta... iya deh nikmatin sepuas nya deh, bikin orang iri aja, Ya Allah!! Segera datangan kan jodoh ku!." Seru Angkasa memohon.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Satu mobil tergelak mendengar permintaan Angkasa yang aneh itu.
Sebenar nya tidak aneh, tapi entah lah, 5 orang sahabat nya ini malah menertawa kan nya.
"Apa? Salah kalo aku minta itu?." Tanya Angkasa acuh.
"Engga sih, cuma yah... tingkah konyol kamu bikin kita ngakak." Cetus Kristal jujur sambil di akhiri kekehan pelan nya.
"Kamu kalo jatuh cinta pengen cewek yang kaya gimana?." Tanya Damar serius pada Angkasa.
"Yang pasti aku ngga mau jatuh cinta sama bocil, lebih tua kaya Pamungkas ngga papa deh, kalo bisa yang se umuran kaya orang tua kita." Jawab Angkasa mantab.
"Kalo Allah jodohin kamu sama bocil gimana?." Goda Albhi sambil tersenyum devil dan menaik turun kan alis nya.
"Doa in tuh yang baik-baik, jangan bikin yemen nya jengkel." Ketus Angkasa tak suka dengan godaan Albhi.
"Kenapa emang kalo sama Bocil?." Tanya Wulan heran.
"Ck! Masa aku yang harus ngurusin dia? Nikah ama Bocil pasti ujung-ujung nya nyusahin." Jelas Angkasa panjang.
"Tapi Papa Idan jatuh cinta sama Mama Tika di usia Mama Tika 17 tahun loh." Wulan menjabar kan fakta tentang Mama Papa Angkasa.
"Hah! Gimana tuh?." Kata Pamungkas yang seketika membuat Angkasa kicep tak dapat menjawab perkataan Wulan dan Pamungkas.
"Ngga semua bocil tuh nyusahin Angkasa." Timpal Albhi yang di angguki oleh Damar Wulan, Kristal, dan Pamungkas.
"Iya ngga semua, tapi kebanyak kan." Angkasa yang tak mau berubah dengan pendapat nya.
"Lagian nih kita kenapa pada ngomongin nikah sih?! Usia kita aja masih belum genap 17 tahun loh." Cetus Kristal yang bermaksud menghenti kan obrolan tentang nikah-nikah ini.
"Tau nih si Huruf, ngapain coba bahas nikah!." Ujar Pamungkas ikut menyalah kan Angkasa.
"Eh Tarjo! Awal nya kan kamu dulu an yang bahas Kak Rain itu!." Seru Angkasa yang tak terima di sudut kan.
Pamungkas malah terkekeh pelan mendengar sanggahan Angkasa, dan Angkasa mendelik kan mata nya jengkel karena di tertawa kan Pamungkas.
Di dalam mobil 6 serangkai bercanda dengan riang, dan tak terasa kini mereka telah memasuki area parkir sekolah SMA Merdeka.
"Ayo turun, bel masuk mau bunyi bentar lagi." Ajak Damar pada sahabat-sahabatnya.
Wulan, Albhi, Kristal, Angkasa dan Pamungkas mengangguk kan kepala dan segera turun dari dalam mobil dan berjalan menuju kelas.
Tiba-tiba.
__ADS_1
"Hai? Pagi Ayang Beb!." Sapa seorang gadis yang tiba-tiba menempel pada lengan kekar Damar. Ada satu nya lagi berjalan di dekat Albhi, dia tak berani memeluk Albhi takut di dorong jatuh.
2 gadis itu tak lain juga tak bukan adalah Amel dan Nissa.
Kristal dan Wulan melihat 2 ulat bulu itu di pagi hari langsung mood nya anjlok seketika.
"Pagi-pagi bukan nya liat hal-hal indah, malah liat ulat bulu, bikin gatel tubuh aja." Gerutu Wulan sambil berlalu pergi dari para pria dan 2 ulat bulu itu.
Kristal menatap Damar sebentar dengan tatapan datar nya, kemudian dia ikut berlalu menyusul Wulan yang sudah melangkah agak jauh.
"Ulat bulu ini ama yang di pohon, sama-sama bikin merinding, cabut kuy Tarjo!." Ajak Angkasa pada Pamungkas.
2 cowok itu menyusul Wulan dan Kristal.
Setelah kepergian 4 orang itu, Damar melepas paksa tangan nya yang di peluk gadis itu.
"Menjauh sejauh jauh nya dari ku!." Tegas Damar dengan nada dingin nya memperingati Nissa.
"Ihhh koo gitu sih Yang, aku kan kangen sama kamu." Kata Nussa dengan nada manja nya.
"Tapi engga tuh, jangan bikin masalah sama Gua!." Seru Damar jengkel, dia tak suka tingkah Nissa yang terkesan tak tau malu dan murahan.
"Dan Lo!." Tunjuk Albhi pada Amel.
Gadis itu hanya merespon dengan melebar kan mata nya yang bulat itu.
"Apa?." Tanya Amel lembut.
"Berenti ngusik Gua dan Mami!." Tegas Albhi sambil mendelik kan mata nya tak suka.
"Iya bener, dengan Lu deketin nyokap kita, itu bukan nya ngebantu malah bikin nyokap kita risih bin ilfeel!." Seru Damar menimpali omongan Albhi yang memang benar ada ada nya.
"Ihh kok ngomong nya gitu sih, aku kan mau deket sama calon Ibu mertua." Nissa berbicara sambil memanyun kan bibir nya ke depan, sok imut. Yang sayang nya sikap mereka ini malah membuat Damar dan Albhi ilfeel.
"Calon ibu mertua?! Dalam mimpi Lo!." Teriak Damar dan Albhi bersamaan.
"Meski di dunia ini cewek tinggal kalian berdua, kita ngga akan pernah mau nikah sama kalian, NGGA AKAN! Camkan itu!." Damar menekan kata 'Engga akan' dengan penuh tenaga agar dua gadis ini mengerti dan menjauh dari mereka.
"Lagian yah, nyokap kita tuh punya kriteria tersendiri buat calon mantu mereka, dan kita yakin, beliau ngga akan setuju kalo kalian jadi menantu." Cetus Albhi tajam dan menusuk.
Sepeninggalan Damar dan Albhi.
"Beku banget sih mereka!." Jengkel Nissa dengan wajah merungut nya.
"Kita pasti bisa dapetin mereka." Yakin Amel menghibur hati nya dan hati sahabat nya ini.
Kepercayaan diri yang terlalu tinggi ini yabg membuat Damar dan Albhi ilfeel.
Dulu, saat masih kelas 10 Nissa dan Amel pernah menyatakan cinta paa Damar, Albhi. 2 cowok tampan itu sudah menolak dengan cara halus dan penuh ke hati-hati an, tapi 2 ulat bulu itu tak tau diri dan masih saja mengejar Damar, Albhi.
Hingga 2 cowok itu lelah dan berakhir membentak Nissa dan Amel, tapi tetap saja masih mengejar, Damar, Albhi sampai membatin 'Di mana urat malu mereka? Meski di tolak tetap saja mendekat!' ya seperti itu lah kurang lebih.
Masih di parkiran, masih dengan Nissa dan Amel.
2 gadis itu sama-sama diam, di pikiran nya merencana kan sebuah aksi yang tentu nya akan merugi kan orang yang mereka kerjai nanti.
"Gua punya ide buat bales 2 cecunguk yang selalu ganggu in Damar ama Albhi." Kata Amel tiba-tiba.
"Siapa maksud Lo?." Tanya Nissa yang kurang paham.
" Ck! Itu loh si Wulan ama Kristal." Jawab Amel dengan wajah tak suka nya melihat ketidak pahaman sang sahabat di samping nya ini.
"Harus kah ama Wulan? Dia kan calon adek ipar Gua yang tersayang." Cetus Nissa se akan tak rela Wulan di ikut serta kan dalam rencana jahil mereka.
"Ck! Calon adik ipar! Dia aja kagak setuju Lu ama Abang nya." Fakta yang di jabar kan Amel membuat alis Nissa berkerut hendak menyatu dan terlihat ada kobaran kesal di mata nya.
"Ayo kita jahili 2 gadis yang selalu mengganggu kita itu." Semangat Nissa berucap.
Senyum senang terpatri indah di bibir manis Amel, andai itu bukan senyum untuk kejahatan, pasti Amel dan Nissa terlihat cantik jika tersenyum begitu.
"Dah! Ayo masuk kelas dulu, susun rencana nya di kelas aja." Ajak Amel pada Nissa.
2 gadis itu lalu pergi dari tempat parkir dan melangkah menuju kelas 11 IPS 5.
__ADS_1
Di kelas 11 IPS 3.
Terlihat dua gadis sedang duduk sambil memperhati kan luar dari balik jendela di sebelah nya.
"Lanlan?." Panggil Albhi pada Wulan.
Tanpa menjawab panggilan pria yang sangat dia cintai ini, Wulan menoleh kan kepala nya dan mengangkat sebelah alis nya pertanda bertanya 'Ada apa?'.
"Apa kamu marah sama aku?." Tanya lembut Albhi.
"Marah kenapa?." Tanya balik Wulan sambil membenar kan duduk nya.
"Ya siapa tau marah karena 2 ulat bulu itu." Kata Albhi polos dengan mengedip-ngedip kan mata nya.
Melihat raut muka Albhi yang sangat menggemas kan menurut Wulan membuat nya tiba-tiba tersenyum dan kemudian mencubit kedua pipi Albhi dan menggoyang-goyang kan kekanan dan ke kiri dengan sedikit kencang.
"Aduhhh Lanlan! Lepas dulu sakitttt!." Keluh Albhi sambil memejam kan mata nya merasa kan sakit nya.
Dan... .
'Tring... ring... ring... .' Bel tanda masuk berbunyi nyaring dan cubitan dari Wulan di pipi Albhi pun berhenti.
Wulan yang melihat pipi putih Albhi yang merah malah cengengesan bak orangntanpa dosa.
"Maaf Bang Bhibhi, abis nya wajah Bang Bhibhi lucu banget tadi, jadi Wulan gemes dan berakhir mencubit nya dengan keras, jangan marah yah, nanti ganteng nya luntur kalo marah, hihi." Kata Wulan panjang lebar, dia sampai terkikik geli sendiri mendengar candaan nya yang di lontor kan bibir mungil dan manis nya.
Albhi tak berbicara dan hanya mengelus kepala Wulan yang terbalut hijab itu dengan lembut sembari tersenyum dengan begitu manis nya.
"Ehem! Tangan nya kondisi in dong! Bukan mahrammm." Damar menghenti kan aksi romantis dua sejoli yang tengah saling tersenyum dengan bahagia di depan nya ini.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
__ADS_1
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.