
"Oh itu toh maksudnya... jelas lah Sar rame nya ngga kaya biasanya, sekarang malam senin, kan kalo rame itu malam sabtu sama malam minggu, kalo malam senin gini yaaa beginilah suasananya." Panjang Roy menjawab.
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...T A D I . . ....
...S A R I ♡ R O Y <\=\=\=> S T O R Y . . ....
-
-
Sari diam memandang sekitar sambil manggut-manggut mendengarkan omongan Roy.
"Udah ayo masuk dan mari kita main sepuasnya." Ajak Roy.
Dia mengenggam tangan Sari dengan sengaja, sang empu tangan menatap jemari Roy dengan senyum bahagia.
'Hangat.' Batin Sari berucap.
Roy yang tau Sari memandang tangan nya sambil tersenyum dia ikut tersenyum.
'Entah apa yang kamu rasakan jika bersama ku, tapi aku merasa kamu juga mencintai ku, semoga aku benar.' Roy membatin.
Roy mengantri tiket masuk bersama Sari.
Setelah mendapatkan tiket mereka masuk dan memandangi wahana di sana, memilih yang mana dulu yang akan mereka naiki.
"Kita kesana yuk." Ajak Sari menunjuk rumah hantu.
"Kamu yakin?." Roy bertanya ragu.
"Kenapa?, kamu takut?." Sari mengejek.
"Aku bukan khawatirin diri aku sendiri, tapi aku khawatirin kamu." Sahut Roy cepat.
"Aku barani kok, udah ayoo!." Sari menyeret tangan Roy yang dia genggam.
"Awas kalo kamu sampe jejeritan di dalam." Ejek Roy.
"Ngga akan." Yakin Sari.
Mereka masuk rumah hantu dengan beberapa orang lain nya.
Si jalan masuk awal masih aman dan tak ada bahaya apapun.
Sampai... .
'Bhaaa!!.' Suara mengejut kan datang dari arah tepat samping Sari.
"Kyaaaa!!! Roy?!!." Panggil Sari jekeritan.
Sari mulai gemeteran dan mengeluarkan keringat dingin.
Roy tertawa kecil melihat eskpresi orang yang di cintai nya itu.
"Kata nya ngga takut? Kok jejeritan sih?." Ledek Roy.
"I... i... ini bukan waktunnya bercanda ya! Ayo keluar aku takut." Ucap Sari memegang lengan Roy dengan kuat dan sangat erat.
"Hehehe, ayo keluar." Kata Roy.
Sari dan Roy pun keluar dari rumah hantu itu.
"Ha... ha... ha... ya Allah... apa tadi itu?, serem banget hiii... ." Sari mengatakan itu sambil bergidik ngeri.
"Kata nya ngga takut, tadi aja segala minta masuk eh pas masuk... emm.... em.... ." Mulut Roy di bekap oleh Sari jadi tak bisa melanjut kan ucapan nya.
"Udah, ngga usah di lanjut in aku ngaku kalah." Sari mengakui ke kalahan nya sambil memanyun kan bibir nya.
"Hahaha." Tawa Roy pecah melihat ekspresi itu.
"Ayo main yang lain." Ajak Roy menghibur Sari.
Dia kembali ceria dan antusias dengan ajakan Roy.
Mereka bermain segala wahana di sana sampai puas.
Pukul 20.40 mereka berhenti bermain dan duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana.
"Seruuu banget tadi!!." Teriak Sari pelan.
Roy yang melihat itu hanya tersenyum.
"Aku seneng kalo kamu ketawa kaya gini." Celutuk Roy sambil mengacak rambut Sari pelan.
Sari nyengir kuda menanggapi Roy.
"Kamu mau aku beli in apa?, pasti pengen jajan kan?, ayo sebut biar aku yang antri." Kata Roy dengan melihat pedagang yang menjual berbagai jajanan.
"Jajanan ya... ." Sari bingunh dan ikut meelihat-lihat sekitar.
"Jagung bakar, aku mau jagung bakar." Sebut Sari.
"Mana?, ada emang?, di sebelah mana penjual nya?." Tanya Roy.
Dia tidak melihat ada pedagang jagung bakar di sana.
Lalu Sari menghadapkan wajah Roy ke arah selatan dari tempat duduk nya.
Penjual jagung bakar itu letak nya agak mojok.
"Udah kelihatan?." Tanya Sari.
"Ohhh itu toh ternyata ahahahaha pentes aja ngga kelihatan orang tempat nya mojok, kamu tunggu sini jangan kemana-mana, awas kalo sampe aku balik kamu ilang, aku tinggal kamu di sini!." Roy menakut-nakuti Sari.
"Iya ngga kemana-mana." Sahut Sari menurut.
Roy berjalan ke arah penjual jagung bakar, dia duduk di kursi yang tersedia di sana.
Dari tempat dia duduknya, Roy bisa mengawasi gerak gerik Sari dengan sangat jelas.
"Pacar nya ya Mas?." Tanya sang penjual yang memperhatikan pandangan Roy sedari tadi.
"Eh... bukan Mas, rencananya mau langsung jadi in Istri." Jawab Roy cepat sambil menoleh pada sang penjual.
"Wah... saya doa kan rencana Mas berjalan dengan lancar dan dimudahkan menuju pelaminan, aamiin." Ucap sang penjual tulus.
"Aamiin." Balas Roy di sertai dengan senyuman khas nya.
5 menit kemudian jagung bakar sudah siap.
Roy membayar jagung dan kembali ke bangku Sari.
"Nih jagung nya." Ucap Roy sambil menyerahkan jagung nya.
"Makasih." Kata Sari senang.
Mereka fokus makan jagung.
Saat makan Sari sering mencuri pandang ke arah Roy.
"Ehem... Roy?." Panggil Sari.
"Hmmm? Ada apa Sar?." Tanya Roy sambil memandang Sari dari samping yang sedang menunduk.
"... ." Belum ada jawaban dari bibir Sari, dia masih terdiam.
"Sari? Ada apa?." Tanya lembut Roy.
"A... a... ada yang pengen aku omongin." Gagap Sari bersuara.
"Apa?, ngomong aja." Kata Roy.
'Kalo Roy nolak gimana? Terus dia jauhin aku gimana?.' Sari di landa galau.
Dia ingin mengungkan isi hati nya tapi dia terlalu takut dengan segala resiko nya.
'Itu udah konsekuensi yang harus aku hadapi, kalo memang Roy menjauh ya udah lah aku baka terima.' Begitulah perundingan antara Sari dengan hati nya.
'Khemmm... huuffffhhh.' Sari menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan.
Dia menghadap ke arah Roy secara tiba-tiba dan membuat Roy terkejut dan berhenti mengunyah jagung.
"Roy?, aku... aku mencintai kamu." Ucap Sari sambil memejamkan matanya.
'Deg!.' Jantung Roy se akan berhenti berdetak mendengar pengakuan Sari.
Dia diam mematung memandangi Sari yang masih memejamkan mata nya dengan erat.
'Duh aku pasrah deh kalo emang Roy mau benci sama aku atau ilfeel sama aku, yang penting aku udah jujur dan sisa nya biarin Allah aja yang ngatur." Begitu lah Sari berpasrah.
'Jantung Gua deg deg an!!!.' Jerit Sari.
Suasana di antara mereka berdua beribah menjadi hening.
Hanya terdengar suara bising dari orang-orang yang sedang ada di pasar malam itu.
Bangku mereka agak jauh dari keramaian jadi pengakuan Sari tadi hanya telinga Roy saja yang mendengar dan itu sangat jelas di telinga nya.
'Sa... Sari ngakuin perasaan nya? Alhamdulillah... .' Ucap syukur Roy.
Tapi dia bungkam tak berbicara, membiarkan Sari mengutarakan segalanya.
Sari mulai membuka mata nya karena tak mendapat respon dari Roy.
Dia kemudian mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap mata hitam pekat milik Roy dengan pancaran kebahagiaan.
"Aku ngga tau apa yang kamu pikirin setelah mendengar ini semua, tapi ijinin aku buat jujur semuanya, kasih aku kesempatan terakhir... ." Sari menjeda ucapan nya.
"Entah dari kapan aku ngerasa in rasa ini, yang aku tau aku udah jatuh cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, dan... aku... ngga akan memaksa kamu buat balas cinta ku." Sari diam sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku mencintai kamu Roy-."
'Grep!.' Belum selesai Sari berbicara Roy tiba-tiba memeluk Sari.
Pelukan itu membuat Sari terkejut.
"Aku-."
"Aku ngga papa kalo kamu ngga punya rasa sama aku, aku ngga maksa kamu buat suka-."
"Bukan itu dengerin dulu!." Seru Roy menyela ucapan Sari.
Mereka berbicara sambil masih berpelukan.
Roy melepas pelukan dengan perlahan-lahan.
Mereka saling menatap dan saling melempar pandang.
"Aku mencintai kamu." Roy mengungkap kan iai hati nya.
Sari diam mematung menatap Roy dengan mulut terbuka.
"Hehehe... rencananya malam ini aku ma... ." Roy menjeda ucapan nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaket nya.
Sari menutup mulut nya tak percaya dan dia juga menitihkan air mata kebahagiaan saat itu juga.
Sesuatu yang berada di tangan Roy adalah kotak beludru berisi cincin.
Roy mengeluarkan isinya.
"Sari ngga peduli dengan segala kekurangan kamu dan masa lalu kamu, aku mencintai kamu udah lama banget, Sari maukah kamu menjadi istri ku dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti?, aku harap... kamu menerima lamaran ku ini, terima kasih udah mau jujur duluan tadi sama aku." Ucap Roy dengan tersenyum manis ke arah Sari.
"Aku... hiks... aku... aku mau jadi istri kamu dan ibu dari anak-anak kita nanti." Jawab Sari lantang dan semakin deras saja air mata nya mengalir.
Roy tersenyum bahagia sangat-sangat bahagia malam ini.
Dia memasangkan cincin itu ke jari manis tangan kiri Sari.
Lalu mereka berpelukan lagi dengan erat.
"Udah jangan nangis entar di liat orang dikira aku ngapa-ngapa in kamu lagi hutss cup sayang." Roy mengelus punggung Sari yang masih sesenggukan.
"Biarin aja mereka tau kalo kamu penjahat udah bikin anak gadis orang nangis!." Balas Sari yang kepala nya tenggelam di dada bidang Roy, jadi suaranya hanya Roy yang bisa mendengar.
"Hahaha, udah jangan nangis." Roy tertawa mendengar perkataan calon istri nya itu, dia mengecup pucuk kepala wanita nya dengan penuh cinta.
"Udah ah berenti nangis nya, tuh liat... hiiii... ingus nya kemana-mana, jorok." Kata Roy dengan melepas pelukan nya pada Sari.
"Royyyyy?, mana?, orang ngga ada kok." Rengek Sari manja.
"Hahaha, ayo aku anterin ke kamar mandi." Ajak nya yang di agguki Sari.
Mereka berdua berjalan ketoilet.
Sampai di tempat Sari masuk dan Roy tunggu di luar.
10 menit kemudian Sari keluar dengan muka sembab dan hidung memerah bak tomat.
"Waduh hidung nya kenapa merah gitu Mbak?." Ledek Roy menggoda Sari.
"Royyyy?, ih males ah, hiks... hiks... .' Sari kembali menangis walau tak se parah tadi.
"Adududu... huts... cup... cup... sayang maaf ok iya engga deh engga lagi." Roy kelabakan mendengar tangis Sari lagi.
Dia meraih tubuh mungil Sari dan kembali memeluk nya.
'Sensitif banget yak, dia lagi PMS kah?.' Batin Roy bertanya.
Sari sudah tenang dan dia kembali masuk ke kamar mandi.
5 menit kemudian dia keluar.
"Ayo kita pulang, ini udah jam 9 lebih, kalo sampe ngga pulang tepat waktu bisa-bisa di cekik Papa kita hehehe." Kata Roy.
"Bukan kita, tapi kamu seorang yang di cekik Papa hahaha." Ralat Sari dengan tertawa kecil.
Roy ikut tertawa, mereka berjalan ke arah parkiran, setelah menemukan mobil nya Roy dan Sari masuk dan meluncur meninggal kan pasar malam.
"Emmm... aku pengen minta maaf sama orang-orang yang udah aku jahatin Roy, walau pun Mama sama Papa udah minta maaf wakilin aku, tapi tetep aja aku harus minta maaf secara langsung." Ucap Sari.
Roy manganggut-manggut kan kepala membenarkan ucapan Sari.
"Kita kerumah temen-temen kamu besok?, ayo aku siap nemenin." Kata Roy.
"Aku mau minta maaf ke sekolah langsung." Kata Sari.
"Hemmmm gitu... ya udah besok aku temenin, jam 8 kita berangkat, setuju?." Tanya Sari.
"Iya aku setuju." Jawab Sari.
"Sari?, kamu ngga mau ngelanjutin sekolah lagi kah?." Tanya Roy hati-hati.
"Sekolah?, aku ngga mau ngelanjutin." Kata Sari.
"Kenapa?." Tanya Roy.
Roy hanya tersenyum menanggapi omongan Sari.
"Apa kamu berubah pikiran setelah aku mengatakan ini?." Giliran Sari yang bertanya.
"Berubah pikiran buat nikahin kamu?, ngga ada hubungan nya sama sekali, aku tetep akan nikahin kamu." Tegas Roy menjawab.
Sari memandang Roy dengan tersenyum kecil.
Kemudian suasana mobil berubah hening.
Saat Roy menoleh ingin bertanya sesuatu pada Sari, dia hanya dapat mengehal nafas pelan.
"Udah molor ternyata, ini karena capek main apa capek nangis?, ahahaha, selamat tidur calon istri ku." Ucap Roy sambil mengelus kepala Sari dengan tangan kiri nya.
'Apa pun kekurangan dan masa lalu kamu, aku akan terima dan ngga akan mengungkit nya, setelah semua masalah kamu selesai besok, kita akan mulai merajut masa depan dengan tinta cinta yang in syaa allah akan hanya terdapat kebahagiaan di dalam nya.' Batin Roy bersuara.
20 menit perjalanan mobil Roy sampai di halaman rumah Sari.
"Jam 10 kurang." Gumam Roy menatap jam di tangan kiri nya.
Dia menoleh ke arah Sari.
"Duh kagak tega lagi kalo bangunin, Gua angkat aja deh." Kata Roy.
Roy keluar dari mobil dan berlari memencet bel rumah terlebih dahulu.
'Ceklek.' Pintu terbuka.
"Assallammu'allaikum." Salam Roy sambil mencium punggung tangan Mama Sari.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Mama.
Beliau celingak-celinguk mencari Sari.
"Mana anak Mama?." Tanya Mama sambil masih cekinguk kan.
Roy menunjuk ke arah mobil.
"Tidur." Terang Roy.
"Bangunin lah." Kata Mama.
"Ngga tege Ma." Jawab pelan Roy sambil menggaruk tengkuk lehernya.
"Ya udah... tolong angkatin." Pinta Mama.
Tanpa menjawab Roy kembali ke mobil nya dan membuka pintu mobil di tempat Sari tidur.
Roy mengangkat Sari dengan perlahan.
"Badan kamu ringan banget sih Yang." Gumam Roy saat mengangkat tubuh Sari.
Dia berjalan dengan langkah pelan agar Sari tak terusik dalam tidur nya.
Sampai di kamar Sari, Roy merebahkan Sari dengan hati-hati.
Lalu dia keluar setelah mengelus lembut kepala Sari.
"Anak Mama kenapa mata nya sembab lagi?, kamu apain lagi dia Roy?." Tanya Mama gemas sambil menjewer telinga Roy.
"Adoyyy Maaa lepas dulu, ampun Maa." Pinta Roy.
Mama menuruti permintaan Roy.
"Jadi gini Ma... ." Roy menggantung kan pembicaraan.
"Gini apa Roy? Cepet!." Desak Mama.
"Jadi gini, biar besok Sari yang cerita, Roy pulang Ma Assallammu'allaikum." Roy berlari menuruni tangga menuju keluar rumah dan membuat wanita paruh baya ini penasaran.
"Wa'allaikum sallam, Roy?! Jelasin dulu!!." Teriak Mama pelan tapi masih sampai di telinga Roy.
"Besok aja Ma!." Seru Roy dan dia pun hilang dari pintu rumah.
"Dasar! Kalo gini kan Mama ngga bisa tidur." Sungut Beliau jengkel.
Mama Sari kembali ke kamar melanjut kan tidur, pintu sudah di tutup kembali oleh ART.
-
-
-
Ke esokan hari nya.
Pukul 6 pagi di kediaman keluarga Wijaya (Sari).
"Good morning Mama? Papa?." Ceria Sari menyapa.
"Morning too sayang." Jawab kedua orang tua Sari.
__ADS_1
Sari menarik kursi dan duduk disana.
Posisi mereka ada di meja makan akan melaksanakan sarapan bersama.
"Pulang jam berapa kemarin malam?." Tanya Papa sambil menyeruput kapi nya.
"Entahlah." Jawab Sari dengan mengangkat kedua bahunya tak tau.
Papa mengernyitkan kening nya bingung.
"Gimana mau tau Pa dia aja pulang di gendong sama Roy." Kata Mama.
"Kenapa?, pingsan?." Tanga Papa.
"Tidur, tapi Papa tenang mereka pulang nya tepat waktu kok." Panjang Mama menjawab, yang menjadi bahan perbincangan hanya nyengir kuda menampak kan gigi putih nan rapi nya.
"Syukur kalo gitu." Ucap Papa.
3 orang itu lalu memakan hidangan di atas meja.
Saat makan, Mama dan Papa menatap Sari, karena sejak sampai di meja makan tadi, wajah Sari memancarkan begitu banyak kebahagiaan, Mama Papa Sari menyadarinya tapi tidak bertanya dan ingin Sari sendiri yang bercerita.
Mama dan Papa saling pandang dan berbicara dari raut wajah.
'Anak Mama kenapa tuh?.' Tanya Papa.
'Ngga tau.' Jawab Mama sambil mengangkat ke dua bahu nya.
'Tanya in gih.' Suruh Papa.
'Bentar.' Jawab Mama sambil mengangkat tangan nya.
Mama mengamati Sari secara mendetail.
Lalu pandangan Mama berhenti pada jari manis tangan kiri Sari.
'Cincin? Apa mungkin dari Roy?.' Batin Mama.
Beliau menatap Papa yang kebetulan juga menatap Mama.
'Ada apa?.' Tanya Papa yang mengerti pandangan Mama.
Mama menyentuh jari manis tangan kiri nya.
Papa melihat jari manis tangan kiri Sari anak nya.
'Cincin?.' Tanya Papa heran.
"Ehem... Sari?, ngga ada niatan cerita hal kemarin malam kah sama Mama Papa?." Tanya Mama yang sudah tidak tahan menunggu Sari membuka mulut.
"Roy ngga bilang kah sama Mama?." Tanya Sari.
"Cerita apa?, engga ada dia malah bilang 'besok biar Sari yang cerita Ma' gitu." Kata Mama.
Sari berhenti makan dan tersenyum menatap Mama Papa nya.
"Kemarin malam di pasar malam, Roy melamar Sari Ma Pa, awal nya Sari dulu an yang ngungkapin isi hati Sari ke Roy, saat itu Sari ngga berharap bisa mendapat balasan cinta juga dari Roy, tapi... Allah maha baik, Roy melamar Sari dan membalas perasaan Sari." Ungkap Sari jujur.
"Alhamdulillah." Ucap syukur Mama Papa dan ikut bahagia.
Ke dua nya berjalan ke arah Sari lalu memeluk Sari bersamaan.
Keluarga kecil itu berpelukan.
"Mama Papa ikut bahagia sayang, selamat yaa, bentar lagi naik pelaminan nih." Goda Papa
Sari tersenyum malu-malu.
"Sayang?, kamu ngga mau ngelanjutin sekolah dulu kah?." Tanya Mama yang sudah kembali ke tempa duduk nya begitu pun Papa.
Sari menggelengkan kepala, lalu menyebutkan alasan nya.
"Sari ngga mau ngelanjutin sekolah karena udah tinggal kelas dan Sari udah ngga mau berkecimpung di dunia pendidikan." Ucap Sari.
Dia memang sudah memikirkan segala nya sejak pikiran nya sudah tenang saat di RS.
Keputusan Sari tentang berhenti sekolah adalah murni karena keinginan nya sendiri.
"Kalo itu keputusan kamu, Mama sama Papa hanya bisa men doa kan yang terbaik buat kamu." Kata Mama.
"Emmm, Ma Pa? Sari mau minta ijin hari ini mau ke sekolahan sama Roy." Kata Sari.
"Mau ngapain ke sekolahan?." Tanya Mama.
"Sari mau minta maaf sama semua orang di sana yang udah Sari jahatin, walau pun Mama Papa udah ngelakuin itu sama mereka, tapi kan Sari sebagai pelaku nya belum." Kata sari.
Mama Papa saling pandang kemudian mengangkuk samar.
"Ok kamu boleh pergi, tapi kalo ada apa-apa hubungi Mama Papa." Pinta Mama.
"Kan ada Roy Ma, dia yang bakal turun tangan kalo ada apa-apa sama Sari." Celutuk Papa.
"Hahaha iya yak." Tawa Mama pecah.
Setelah pembicaraan itu, suasana meja makan sunyi tak ada obrolan lagi.
Pukul 06.35 Papa berangkat ke kantor.
Sari naik ke kamar dan menghubungi Roy memberi tau bahwa dia mendapat ijin untuk pergi ke sekolahan hari ini.
Di waktu yang sama di lokasi yang berbeda.
7 serangkai duduk di tribun basket sambil melamukan suatu hal.
'Ting.' Ponsel salah satu dari mereka berbunyi tanda ada pesan masuk.
Dan ternyata itu ponsel Abhi.
Dia mengecek ponselnya dan membaca pesan yang baru masuk tadi.
Roy : 'Hari ini Gua sama seseorang bakal ke sekolahan Lo in syaa allah.'
Abhi : 'Ngapain?.' Balas Abhi.
Roy : 'Tumben Lo kepo?😂😂, Gua ada urusan sama seseorang di sana.'
Abhi : 'Read.' Tak membalas.
"Guys?, Roy bakal kesini kata nya nanti." Beri tahu Abhi pada para sahabatnya.
"Ngapain?, ama siapa?." Tanya Akifa beruntun.
"Ada urusan kata nya, dan seseorang itu Gua ngga tau, Roy ngga jawab." Kata Abhi.
"Bakal ada apa nih SMA Merdeka?, semoga bukan hal buruk." Ucap Alfi.
Di ruang kepala sekolah.
Pak kepala sekolah sedang menerima telepon dari seseorang.
"Pak saya minta tolong usaha kan hari ini saja, SMA Merdeka mundurin segala KBM ke jam 10 pagi, besok dan seterus nya bisa di normal kan kembali." Ucap seseorang di seberang telepon.
Seseorang sedang membujuk Kepala sekolah SMA Merdeka.
Kepala sekolah belum menjawab.
Lalu seseorang si seberang sana bersuara lagi.
"Tolong Pak." Terdengar suara perempuan disana.
"Sari?." Panggil Pak kelapa sekolah terkejut, beliau membeku sesaat.
-
-
-
...M A A F...
...K A L A U...
...P A R T...
...I N I...
...B A N Y A K...
...M E M B A H A S...
...S A R I & R O Y . . ....
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf ngga dapet feel nya
Maaf kalo garing😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
Maaf typo di mana-mana🙏😢
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1