
Hari terus berlalu.
Tak terasa sekarang sudah memasuki hari sabtu.
Malam ini ba'da isya' Bang Idan, Mama, dan Papa nya akan pergi ke rumah calon besan nya.
Bang Idan juga Mama Papa nya bermaksud membicarakan acara pernikahan kedua anak-anak mereka juga meresmikan lamaran kemarin.
Malam minggu yang indah ini, 5 keluarga senior juga 3 keluarga junior berkumpul di rumah Mama Papa Rafka.
"Kalian udah ngabarin si Bram belum?." Tanya Papa Abdiel pada Mama Papa Rafka.
"Udah, hari jum'at kemarin aku kabarin nya." Jawab Papa Rafka.
"Besok kita ngumpul di rumahku bicarain segalanya, undang juga Calon besan kamu Suf." Kata Ayah Zarine memberi tau.
"Beres lah." Jawab Papa Rafka singkat.
Barang seserahan sudah masuk ke dalam bagasi dengan cantik.
Mama Rafka dan Bang Idan keluar dari dalam rumah dengan tersenyum.
"Wah wah calon pengantin nya ganteng banget." Puji Bang Rafa dengan pandangan mengejek.
"Diem Lo, gugup ini Gua." Dengus Bang Idan membalas Bang Rafa.
"Hahahaha." Tawa Bang Rafa di ikuti oleh lainnya pecah.
"Ngapain Bang Idan gugup?, ini kan tinggal ngeresmi in aja." Kata Alfi entang dengan sisi tawanya.
"Ya tetep aja, Gua deg-deg an Al." Kata Bang Idan.
"Ayo lah kalo gitu kita berangkat." Ajak Papa Rafka.
Mama Rafka dan Bang Idan mengangguk kan kepala bersamaan.
"Kita berangkat dulu semuanya, assallammu'allaikum." Salam pamit Papa Rafka.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang yang ada di sana.
Beliau semua berkumpul di teras rumah Mama Papa Rafka, jadi setelah mobil meluncur meninggalkan pekarangan rumah, beliau semua juga ikut pulang.
"Besok kalian kerumah Bunda Ayah agak pagian bisa ngga?." Tanya Bunda pada 3 keluarga junior.
Mereka saling menatap satu sama lain.
"Bisa Bun." Jawab para lelaki.
Zarine, Alfi, dan Akifa mengangguk kan kepala pertanda bisa.
"Besok jam 7 pagi harus sudah ada di rumah Bunda Ayah loh." Kata Bunda.
"Iya Bun, siiap." Kompak 3 keluarga menjawab.
"Emang mereka mau kamu ajakin ngapain Zah?." Tanya Mama Alfi.
"Hahaha, ngga ngapa-ngapain kok, cuma tambah temen aja di rumah, besok juga ada Shita sama Raina kan, jadi biar mereka ngga cuma berdua doang gitu." Jelas Bunda Zarine.
"Emmm, ouh iya, rumah yang ada di sebelah Abhi Alfi sama Rafka Zarine udah selesai kah?." Tanya Mama Alfi.
"Udah kayanya Mi, tinggal beberapa bagian aja yang belum." Jawab Abhi.
"Hehehe, bakal tetangga an kita nih." Kata Bang Rafa dengan mengalungkan lengannya di leher Rafka dan Abdiel.
"Kenapa juga sih kalian ikut kita?, kenapa ngga di sana aja noh, di sana juga banyak tanah kosong tau." Sungut Abdiel pada Bang Rafa dengan menunjuk arah utara.
Rumah 3 keluarga junior ada di arah selatan, sedangkan para orang tua rumahnya ada di bagian timur.
Sekarang 5 keluarga senior dan 3 keluarga junior juga Bang Rafa sedang berjalan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Kalo kita buatnya di arah utara, jauh dong dari kalian, nanti ngga bisa recokin dong, hahaha." Tawa Bang Rafa pecah.
"Hadehh." Alfi memutar bola mata malas mendengar alasan Bang Rafa.
Begitupun dengan Abdiel, Akifa, Rafka, dan Abhi, mereka jengah mendengar alasan Bang Rafa.
Zarine hanya terkekeh pelan melihat ekspresi sahabatnya yang berwajah kecut itu.
Para orang tua dan para muda-muda bercanda di sepanjang jalan pulang.
Sampai di jalan persimpangan, mereka semua terpisah.
Para orang tua dan Bang Rafa menuju arah Timur, sedangkan 3 keluarga junior berbelok ke arah Selatan.
"Bakal rame beneran ini rumah kita tiap hari." Kata Rafka pada Abdiel dan Abhi.
"Hahaha, ya udah lah, makin seneng sebenernya Gua." Tawa pelan Abdiel terdengar.
"Istrinya terlalu pendiam buat Bang Idan yang bar-bar asli." Celutuk Akifa.
"Hehehe, namanya juga udah jodoh." Zarine menjawab dengan terkekeh pelan.
"Iya juga sih." Alfi membenarkan ucapan Zarine.
"Ngga nyangka ya?, kita padahal dulu cuma bercanda ngerekomendasi in Tika ke Bang Idan, tapi sekarang mereka udah mau nikah aja, bener-bener cinta pandang pertama mereka tuh." Abdiel mengenang saat dirinya dan lainnya merekomendasikan Tika pada Bang Idan.
"Lo bener Diel." Timpal Rafka dengan tersenyum manis.
Mereka semua kemudian berpisah masuk ke rumah masing-masing.
Jam sudah menunjuk kan pukul 19.45.
Di kediaman orang tua Tika.
Mama Papa Tika dan orang tua Bang Idan sedang berbincang tentang pernikahan anak-anaknya.
"Kita setuju soal akadnya sederhana dan di langsungkan bersama dengan pasangan Rafa Raina." Papa Tika menyetujui saran dari Papa Bang Idan.
"Alhamdulillah kalo gitu, dan untuk lain-lainnya, kita bicarakan besok di rumahnya Adib orang tuanya Bang Rafa jam setengah 9 pagi lah, kalian ber tiga bisa dateng kan?." Tanya Papa Rafka.
"Bisa, ok kalo gitu, jam setengah 9 pagi kita ber tiga kesana." Sanggup Papa Tika.
"Ouh iya, di perundingan kita saat di rumah Adib, tidak hanya 3 keluarga kita aja, tapi ada sahabat aku nanti yang ikut, apa kalian keberatan?." Tanya Papa Rafka lagi.
"Hahaha, engga lah calon besan, kita ngga keberatan kok, boleh-boleh aja lah kalo kita mah." Jawab Papa Tika dengan suara tawanya.
2 keluarga itu berbincang hingga pukul setengah 10 malam.
Barulah pukul 21.40 mereka semua, Mama Papa dan Bang Idan pamit pulang.
"Ketemu besok di rumah Adib ya Bram, kamu tau alamatnya kan?." Tanya Papa Rafka.
Posisi beliau semuanya saat ini ada di teras rumah masih mengobrol soal tadi.
"Tau, besok kita ngga akan telat, tenang aja." Kata Papa Tika.
"Ya udah kita pamit dulu, assallammu'allaikum." Salam Papa Bang Idan.
"Wa'allaikum sallam." Jawab tuan rumah.
Di dalam mobil.
3 orang itu masih membicarakan hal yang sama saat dirumah calon besan.
"Bang Idan nikahnya mau dimana?." Tanya Mama.
"Kalo Bang Idan sih dimana aja boleh Ma, masjid komplek kita boleh, KUA boleh, di villa yang dulu buat nikahnya 6 serangkai juga boleh." Jelas Bang Idan.
"Ngga mau coba suasana baru gitu?." Tanya Mama lagi.
"Suasana baru apa?, ke luar negeri atau ke luar kota gitu maksudnya?." Tanya Bang Idan balik.
"Kalo Bang Idan mau Papa bakal urus segalanya." Jawab Papa dengan pandangan mata fokus ke depan.
"Cuma akad ke luar negeri, ogah deh, buang tenang aja." Tolak Bang Idan.
"Hahaha udah bosen di luar negeri beneran kamu Bang?." Kata Papa.
"Bosen banget Pa, lagi pula, di sini juga banyak tempat-tempat bagus kalo buat acara nikahan besar ataupun sederhana, kalo beneran nikahnya di luar kota, Bang Idan ngga mau kalo jauh-jauh, deket-deket Jakarta an sini aja lah intinya.." Bang Idan berbicara dengan memejamkan mata dan bersandar di kursi tempat duduknya.
"Ya udahlah semua kita bicarakan besok aja." Kata Mama dengan tersenyum manis.
Hening sesaat suasana mobil.
"Ouh iya Ma, Pa?, rumah Bang Idan sama Rafa udah jadi kah?." Tanya Bang Idan.
"Tinggal beberapa hal lagi yang harus dilakukan." Jawab Papa.
"Mungkin hari rabu udah selesai Bang." Mama ikut menjawab.
"Hehehe, Bang Idan udah ngga sabar ganggu in 3 keluarga junior." Bang Idan terkekeh pelan saat berbicara seperti itu.
"Ya jangan di ganggu in terus-terusan Bang." Nasihat Mama.
"Tentu aja engga lah Ma, lagi pula tujuan Bang Idan sama Rafa minta di jadi in satu sama 3 keluarga junior itu biar deket aja kalo kangen tinggal jalan ke rumahnya." Jelas Bang Idan.
"Mama seneng kalian akur, kalo inget pas di Lumajang yang Rendra sama Kakaknya, Mama ngeri banget." Kenang Mama pada saat di kota orang itu.
"In syaa Allah aku sama Rafka ngga akan gitu Ma." Kata Bamg Idan.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit.
Mereka pun sampai di rumah.
3 orang itu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya.
-
-
Pagi hari suara merdu burung bernyanyi terdengar.
__ADS_1
Pukul setengah 6 pagi, 6 serangkai sudah ribut di depan rumah Ayah dan Bunda Zarine.
"Assallammu'allaikum Bunda!!." Akifa, Alfi dan Akifa mengucapkan salam dengan suara agak keras serta tak lupa dengan suara rusuh mereka ber 6.
'Ceklek.' Pintu dibuka oleh Bang Rafa.
"Duh, masih pagi ydah ribut aja kalian, bukannya Bunda nyuruh dateng jam 7 an yah?." Kata Bang Rafa dengan muka bantalnya.
"Abang bangun tidur yah?." Tanya Zarine dengan menyalami tangan Abangnya ini.
"Tadi habis sholat subuh ketiduran di sofa depan tv." Jawab Bang Rafa.
"Kita ngga disuruh masuk nih?." Tanya Akifa.
Bang Rafa yang nyawanya belum sempurna hanya menatap Akifa.
Lalu... .
"Ouh iya ayo masuk." Bang Rafa membuka pintu masuk dengan lebar.
"Bang Rafa mandi gih biar seger an badannya." Suruh Zarine.
Bang Rafa menganguk kan kepala kemudian dia pergi naik ke kamarnya untuk mandi.
"Assallammu'allaikum Bunda! Ayah!." Sapa 6 serangkai heboh.
"Wa'allaikum sallam, wah wah rajin banget yah datengnya pagi buta, hahaha." Ayah Zarine mengejek sifat 3 keluarga junior yang sangat antusias dalam segala hal itu.
6 serangkai hanya menyengir kuda saat mendengar penuturan Ayah Zarine.
"Kalo nyari Bunda, tuh, beliau ada di dapur." Tunjuk Ayah memberi tau.
"Ya udah kita para perempuan ke dapur, dan kalian di sini aja sama Ayah." Zarine berbicara pada sang suami dan 2 suami temannya itu.
Rafka, Abhi, dan Abdiel mengangguk kan kepala.
Kemudian Zarine, Akifa, Akfi berjalan menghampiri Bunda di dapur.
"Assallammu'allaikum Bunda." Sapa 3 cewek itu.
"Hai, Wa'allaikum sallam, wah wah, rajin ya dateng pagi buta, hahaha." Tawa bunda pecah.
"Ih Bunda kaya Ayah aja kalo ngejek." Cemberut Zarine.
"Hahaha, masa sih?." Tanya Bunda.
"Iya Bun, kita tadi pertama dateng juga Ayah ngomong gitu." Sahut Akifa.
"Hehehe, ya udah, berhubung kalian kesininya pagi, bantu Bunda masak boleh ya?." Pinta Bunda.
"Siiap... kuylah k.ta bantu." Antusias Akifa.
Para perempuan asyik dengan kegiatan memasaknya.
Untuk para laki-lakinya sibuk dengan caturnya, Zarine juga tadi sudah mengantar minuman dan camilan untuk memperlemgkap kegiatam mereka.
pukul 06.30 pagi seseoramg memencet bel pintu rumah.
Bang Rafa yang baru turun dari tangga berjalan menghampiri pintu dan membukanya.
"Assallammu'allaikum." Salam sapa Raina.
"Wa'alalikum sallam ayo masuk." Kata Bang Rafa mempersilahkan calon nya masuk.
Raina mengangguk lalu menarik Shita yang sibuk dengan dunianya.
"Eh, Kak Raina masuk sendiri aja sana, Gua mau balik." Tolak Shita.
"Kenapa mau pulang Ta?, kamu juga di rumah ngga ada temennya, disini kan kamu bisa ngobrol tuh sama 6 serangkai." Kata Bang Rafa mencegah.
Shita menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Udah sih nurut aja, Lo tinggal duduk tau." Kata Raina.
Shita memasang wajah kecutnya.
Dengan rasa terpaksa dia pun mengikuti langkah Raina tanpa berkomentar lagi.
Bang Rafa mengantarkan Raina dan Shita ke dapur.
Sebelum sampai di dapur, di ruang santai Raina bertegur sapa dengan Ayah Bang Rafa dan lainnya.
"Assallammu'allaikum Yah." Salam Raina.
"Wah wah Kakak Ipar kapan sampe nya?." Tanya Abdiel.
"Hehehe baru aja, kalian kapan sampe nya?." Tanya Balik Raina.
"Jangan tanya Yang, mereka ber 6 ini konyol, disuruh kesini jam 7 sampe malah jam setengah 6 mereka sampe nya." Bang Rafa menjawab.
"Hehehe, ngga papa itu namanya rajin." Celutuk Shita
"Semerdeka kalian dah, iya in aja biar cepet." Pasrah Bang Rafa dnegan wajah kecutnya.
"Ahahahaha." Tawa semua orang di ruang santai meledak menertawakan Bang Rafa.
"Aduh seru banget kayanya pagi-pagi udah ngakak aja, eh Raina?, Shita?, kapan sampe nya kalian?." Bunda datang menghentikan tawa orang-orang itu.
"Assallammu'allaikuk Bun." Salam Raina dengan menyalami calon mertuanya, Shita juga ikut mennyalami calon mertua Kakak sepupunya itu.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda di ikuti yang lainnya.
"Kita baru aja sampai Bun." Jawab Raina.
"Ouh, ayo kalo gitu ikut sarapan, ayo semuanya kita sarapan, makanan udah siap." Ajak Bunda pada para lelaki di depannya.
Mereka semua menuju meja makan dan sarapan bersama di sana.
"Kalian datang pagi kesini biar bisa sarapan bareng kan?." Tanya Bang Rafa mengintimidasi pada 3 keluarga junior.
"Hehehe, ya itu juga salah satunya sih." Jawab Zarine.
"Ketebak udah." Gumam Bang Rafa.
"Emang kentara banget ya?." Tanya polos Akifa.
"Ya ngga banget sih, tapi dari kalian makan keliatan banget, hahaha." Jelas Bang Rafa dengan di akhiri tertawa renyah.
"Udah makan yang banyak semuanya, jangan debat." Lerai Ayah.
Setelah sarapan selesai.
Para laki-laki beranjak ke arah taman belakang.
Sedangkan Raina, Shita, Zarine, Alfi, dan Akifa membantu Bunda membersihkan piring-piring dan meja makan.
"Ok, beres-beres udah, gimana kalo sekarang kita buat sesuatu untuk acara perundingan nanti." Bunda memberi ide.
"Sesuatu?." Beo Shita.
"He em." Jawab Bunda.
Zarine melihat jam tangan di tangan kirinya.
"Jam berapa sekarang?." Tanya Raina.
"Setengah 8." Singkat Zarine.
"Mepet waktunya." Keluh Akifa.
"Udah ngga usah buat apa-apa, ini kan acara ngga terlalu besar juga." Suara Mama Akifa terdengar tiba-tiba dari pintu masuk dapur.
"Loh Mama?, kapan sampe nya?." Tanya Akifa.
"Baru aja." Jawab Mama Abdiel.
"Iya bener kata Chayra, ngga usah bikin apa-apa, sedia in aja seadanya." Timpal Mama Abdiel.
"Ya udah, kalian para muda-muda cus pergi dari dapur, duduk sama suami dan calon suami kalian masing-masing." Suruh Mama Akifa dengan menggoda pada Raina.
Zarine, Akifa, Alfi, dan Raina pergi dari dapur.
"Lah?, Shita?, kenapa masih ada di dapur?, sana ikut?" Suruh Mama Abhi.
"Hahaha, ngga mau ah, aku bantu Tante aja di sini." Tolak Shita.
"Shita ngga mau ikut karena ngga punya temen duduk ya?." Tebak Mama Alfi.
"Hehehe, 100% deh buat Tante Ainin." Jawab Shita dengan cengengesan.
"Ya udah ayo ikut bantu." Kata Mama Rafka.
Pukul setengah sembilan pagi acara sudah di mulai.
"Ok semuanya, assallammu'allaikum dan selamat pagi aku ucapkan." Salam Ayah Zarine membuka pembicaraan tentang acara pernikahan ini.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.
"Duh jangan kaku-kaku dong Dib, jatohnya kaya pidato tau." Keluh Papa Abdiel.
Semua orang tertawa mendengar keluhan Papa Abdiel.
"Ok ok maaf, gini, acara nikahan yang di langsung kan dengan 2 pasangan sekaligus, apa keluarga Bram setuju?." Tanya Ayah Zarine.
"Ya kami setuju, karena memang bentar lagi Tika ujian, dan acara baik kalo bisa di laksanakan secepatnya kan?." Kata Papa Tika.
Para tua-tua mengangguk anggukan kepalanya.
"Jadi kita selenggarakan dimana nih akadnya?." Tanya Mama Tika.
"Gimana di villa puncak tempat 3 keluarga junior nikah dulu?." Usul Bunda Bang Rafa.
__ADS_1
"Boleh tuh." Jawab cepat Mama Tika.
"Kamu tau tempatnya Jeng?." Tanya Mama Rafka.
"Taulah, aku juga sering kesana." Jelas Mama Tika.
"Yaaa kita tanya sama calon pengantinnya aja deh biar jelas." Putus Papa Rafka.
"Gimanaa kalian ber 4?, setuju atau punya rencana sendiri nih?." Tanya Papa Tika.
Bang Rafa, Raina, Tika, dan Bang Idan saling melempar pandang.
"Ya kita setuju, di sana lebih tenang kalo may adain acar kaya gituan." Jawab Bang Idan menjawab mewakili lainnya.
Bang Rafa, Raina, dan Tika mengangguk kan kepala menyetujui perkataan Bang Idan.
"Dam kalo resepsi, kalian bisa tunggu kan?." Tanya Mama Rafka.
Hening sejenak.
"Emang resepsinya kapan rencanya?." Tanya Mama Tika.
"Gini, 3 keluarga junior juga kan belum ngadain resepsi, rencananya kita mau ngadain resepsi buat mereka dulu, mulai dari Rafka Zarine yang menikah terlebih dahulu, terus beralih ke Abdiel Akifa, terus ke Alfi Abhi, dan baru Bang Rafa Raina juga Bang Idan Tika." Panjang lebar Mama Rafka menjelaskan.
"Atau mau Bang Idan dulu baru Bang Rafa yang resepsi?." Tawar Mama Rafka.
Mama Papa Tika memahami penjelasan Mama Rafka.
"Yaaa seperti itu aja lah ngga papa." Setuju Papa Tika.
"Wah makasih udah pengertian sama kita semua Bram." Ucap Ayah Zarine tersenyum.
Semua orang di ruang santai itu ikut tersenyum bahagia mendengar kesepakatan keluarga ini terjadi tanpa adanya perdebatan.
"Ayo semua minum dan makan dulu itu yang di meja." Bunda Zarine mempersilahkan.
Para tamu itu segera meminum dan memakan camilan yang di suguhkan tuan rumah.
"Ouh iya, kalian semua senin besok ujian kan ya?." Tanya Mama Tika.
"Minggu besok masih simulasi Te, ujian nya masih bulan April." Terang Rafka menjawab.
"Ouh, terus bentar lagi kalian mau kuliah dimana?." Tanya Papa Tika.
"Entahlah Om kita ngga tau." Jawab Abhi dengan mengangkat bahunya.
"Ok ayo kita mulai bahas soal tanggal nikahnya." Kata Papa Tika.
"Tanggal nikah." 3 keluarga yang akan mengadakan acara berpikir keras.
"Gimana kalo minggu depan?." Usul Ayah Zarine.
"Ngga terlalu cepat itu Yah?." Tanya Bunda Zarine pada sang suami.
"Besok juga Bang Idan ngga papa Bun." Sahut Bang Idan tiba-tiba.
"Ahahaha, calon pengantin nya setuju, ya udah lah kita laksanakan minggu depan, Akadnya minggu pagi dan acara-acara lainnya kita laksanakan setelah akad, untuk pulang ke rumah jam... ouh jam setengah 2 siang, gimana?." Jelas Papa Tika.
"Ya kita semua setuju." Jawab Papa Rafka.
Setelah perbincangan yang cukup panjang.
7 keluarga senior, 3 keluarga junior, dan Bang Rafa, Raina, Tika, Bang Idan, juga Shita pulang ke rumah masing-masing setelah sholat dzuhur dan makan siang bersama.
-
-
Hari berganti.
Senin pagi ini kelas 12 IPS 1 sedang sibuk di ruang komputer untuk melaksanakan simulasi online yang di bimbing oleh Pak Sandi.
Pak Sandi ini adalah staf TU bagian monitor (maaf kalo salah🤣).
6 serangkai melaksanakan simulasi dengan tenang dan damai.
Hingga... .
"Lingser wengi... slira-." Abdiel buru-buru mematikan suara di komputer.
"Oy Diel, jangan ngundang setan dong, duduk Gua bagian pojok nih, bikin bulu kuduk berdiri aja sih Lo." Teriak Alex di pojok kiri ruangan komputer ini.
"Jiaaa dasar penakut." Ejek Abdiel.
"Diel?, kamu buka aplikasi youtube ya?." Tanya Pak Sandi dengen memicingkan matanya.
Abdiel hanya nyengir kuda dengan menggaruk tengkuk lehernya.
"Ayo serius Diel, jangan becanda terus." Tegur Pak Sandi.
"Iya Pak serius, tapi mata saya pegel Pak serius terus." Keluh Abdiel.
"Yang?!." Seru Akifa di depannya dengan mendelik kan matanya.
"Ouh iya Pak ayo serius." Abdiel langsung kicep dan mulai serius dengan simulasinya.
Pak Sandi terkekeh melihat tingkah Abdiel.
Karena beliau tadi melihat saat adegan dimana Akifa mempelototinya.
45 menit sudah simulasi terlaksana.
Kurang 10 menit lagi istirahat di mulai.
"Pak Sandi?, sandi wi fi lab komputer ini apa?." Tanya Abdiel.
"Kaya kagak punya kuota aja Lo." Celutuk Alex yang tiba-tiba ada di belakangnya.
"Buset, anak tuyul ada di sini, denger Lek-." Ucapan Abdiel terpotong.
"Alex, bukan Alek." Ralat Alex.
"Terserah dah apa aja, denger yak, kalo masih ada fasilitias sekolah kenapa harus pakek punya sendiri?, wleek." Kata Abdiel dengan menjulurkan lidahnya mengejek Alex.
"Iya in dah biar damai." Pasrah Alex.
"Udah ngga usah berantem." Lerai Akifa.
"Pak?, kata sandi nya apa?." Tanya Abdiel.
"Apa hobi saya." Kata Pak Sandi.
"Lah?." Bingung satu ruangan.
"Pak?, jangan main-main dong, mana tau kita apa hobi Bapak." Jengkel Abdiel.
"Saya tidak main-main." Pak Sandi berbicara dengan tawa kecil di bibirnya.
"Terus kenapa Bapak tanya hobi Bapak ke kita?." Gemas Abdiel.
"Abdiel Justin Gilbert, kata sandi wi fi di sini adalah 'apa hobi saya' tanya aja sama guru lainnya kalo ngga percaya." Jelas Pak Sandi.
"Bentar saya cek dulu." Kata Abdiel.
Dia mengeluarkan ponselnya dan memasuk kan kata sandi wi fi di ponselnya.
"Wah masuk, makasih Pak Sandi." Abdiel cengengesan.
"Sama-sama." Jawab Pak Sandi.
'Ring... ring... ring... .'
"Ok semua, bel istirahat berbunyi, silahkan istirahat, nanti balik ke sini lagi setelah bel masuk berbunyi, saya akhiri, wassallammu'allaikum." Pamit Pak Sandi.
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua penghuni ruang komputer.
Pak Sandi meninggalkan ruangan di ikuti oleh lainnya.
Di dalam hanya tinggal 6 serangkai.
"Kantin yuk." Ajak Akifa.
"Iya nih Gua laper." Timpal Alfi.
"Ayo." Jawab Abdiel.
"Ngga jadi nonton youtube?." Tanya Akifa.
"Ngga penting, kegiatan itu bisa nanti." Jawab Abdiel.
Mereka kemudian berjalan meninggalkan ruang komputer dan pergi ke kantin.
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1