
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA๐๐๐.
******************************
-
-
Andi kembali membantu Panji mengurus motor.
"Lo beneran Ndi ngga jatuh cinta sama si Dini?." Tanya Panji serius.
"Haduh bosen tau Ji Lo tanya nya itu mulu, ok deh kali ini Gua jawab jujur, iya Gua jatuh cinta sama dia pas ketemu dia di sawah waktu itu." Jelas Andi ikut serius.
"Hah?! Masa?." Tak percaya Panji.
Andi memutar bola mata nya malas.
"Lo ngga suka karena muka nya mirip Tari kan?." Tanya Panji lagi.
"Engga! Dia beda banget sama Tari." Jawab cepat Andi.
"Masa? Awas Lo kalo boong." Tunjuk Panji mengguna kan kunci untuk melepas baut motor.
"Ngga ada guna nya Gua boongin Lu Panji." Jawab Andi tegas.
"Kalo dia tiva-tiba ada di sini Lo mau apa?." Tanya Rendra tiba-tiba.
"Oy? Sejak kapan Lu di sini?." Tanya Andi pada Rendra.
"Sejak kalian bahas Dini." Jawab Rendra lempeng yang hanya di balas anggukkan.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Andi dan Panji hanya mengangguk kan kepala nya mengerti.
"Gua doa in semoga Lo bisa ketemu ama dia Ndi." Ucao Rendra tulus.
"Kagak bakalan bisa Dra, kita jauh." Andi tak meng aamiin kan doa dari Rendra untuknya.
"Aamiin... seharus nya Lo positif thinking dong, yang nama nya jodoh itu kagak bakal kemana Ndi, pikiran Lo harus nya semoga bisa ketemu." Jengkel Panji melihat sikap teman nya yang tak meng aamiin kan doa yang di ucap kan Rendra.
"Ya jelas lah Gua ngga positif thinking, kalian oada tau kan, dia di Jakarta, kita di Lumajang, jauhhhhhh bangettttt ituu." Lebay Andi dengan memonyong kan bibir nya.
Rendra dan Panji memasang wajah konyol mendengar perkataan Andi yang di panjang-panjang kan.
"Udah berenti nge drama, suruh anak-anak yang ngurusin bengkel, kalian berdua ikut Gua ke Senduro kirim barang ke sana." Ajak Rendra.
"Tumben Lu mau kirim barang sendiri?." Tanya heran Panji.
"Shita ikut." Singkat Rendra menjawab.
"Shita yang mau atau Lo yang maksa?." Andi memicing kan mata nya curiga dengan tersenyum penuh makna ke arah Rendra.
"Iya Gua yang paksa." Rendra mengaku kalah dan akhir nya berkata jujur.
"Hahaha... oh iya, malam pertama Lo ama dia udah kan? Gimana? Lampu merah atau lampu ijo?." Tanya Panji kepo.
"Hiiii kepoooo, anak bayi ngga boleh ikut-ikut urusan orang tua, mending Lo cari pacar dulu." Rendra berkata dengan senyuman mengejek Panji yang kepo nya melebihi Emak-emak di desa nya ini.
"Huuuu... iya deh iya, berhasil yah Dra?." Panji masih kepo.
"Berhasil dong, Rendra apa sih yang ngga bisa." Sombong Rendra pada Andi dan Panji.
"Hi ilih sombong nyaaaa anak siapa sih Lu." Ketus Andi sambil mengusap wajah Rendra kasar.
"Wanjir! Tangan Lo penuh oli Andi! Dasar Andi gila! Wajah ganteng Guaaaa." Tangis Rendra palsu.
"Ahahahaha... ya udah sih tinggal mandi lagi apa susah nya coba." Ujar Panji sambil tertawa terbahak.
Tiba-tiba... .
"Assallammu'allaikum, permisi?." Sapa seseorang kepada Rendra, Andi, dan Panji.
"Eh? Wa'allaikum sallam, ada yang bisa saya bantu Bu?." Tanya Rendra mewakili Andi juga Panji.
"Em... Mas numpang tanya kepala desa di sini sekarang siapa yah?." Tanya Ibu-ibu yang bertanya tadi.
Rendra, Andi, dan Panji saling pandang heran menatap Ibu yang bertanya itu.
"Kepala desa sekarang nama nya Pak Hadi Bu." Jawab Andi dengan sopan.
"Ouh terima kasih yah Mas-mas nya, saya pergi dulu assallammu'allaikum." Pamit Ibu itu.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Rendra, Andi, dan Panji bersamaan.
"Ayo Dini." Ajak Ibu itu pada anak nya.
Rendra, Andi, dan Panji sontak menoleh pada Ibu juga anak nya yang bernama Dini itu.
"Dini." Beo Andi lirih.
Pandangan 3 pria itu tepat bersitatap dengan mata Dini itu.
Dini memberi senyuman manis nya pada Rendra, Andi, Panji.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba, yang nama nya jodoh emang ngga kemana yah." Ujar Panji takjub.
"Mungkin ngga sih kalo mereka mau menetap di sini?." Tanya Rendra.
"Gua doa in semoga dia menetap di sini." Doa Andi.
"Aamiin." Sahut Andi dan Panji bersamaan.
"Aduh yang puja an hati nya ada di sini." Goda Panji.
"Cieee Andi... uhuyyy... bakal nyusul nikah nih... habis itu jomblo ngenes nya tinggal Panji doang deh, kita pada gendong anak, Lu sendiri masih gendong ayam ke mana-mana." Cetus Rendra mengejek Panji yang memasang wajah kecut.
"Hahahaha... gendong terus tuh ayam sampe Lu jadi bujang lapuk!." Timpal Andi.
"Apa sih salah Gua ke kalian? Punya dendam apa kalianke Gua?." Tanya Panji jengkel.
__ADS_1
"Huuu santai dong Bro... kita kan cuma becanda." Ujar Rendra sambil menghenti kan tawa nyaring nya.
"Dah Gua mau kasih kabar baik ini ke Shita, nanti jam 9 jangan lupa ikut Gua." Peringat Rendra.
"Siap Pak Boss tenang aja." Jawab Andi semangat sambil mengacung kan ke dua ibu jari nya.
Rendra pergi dari bengkel nya.
Andi tersenyum terus karena Dini tadi.
"Udah jan senyum mulu Lu, kesambet baru tau rasa Lu." Nasihat Panji padanya.
"Diem aja lah Lu bujang lapuk, mana paham urusan cinta Lu, dah urusin noh ayam betina Lu, hahaha... ." Tawa Andi menggema di seluruh bengkel Rendra ini.
"Ya Allah! Kapan hamba Engkau beri kan jodoh? Capek ya Allah hamba di jadi kan bahan bully an." Keluh Panji pada sang pencipta alam dan semesta.
"Nanti setelah Gua nikah, punya anak, dan punya cucu, baru Lu di kasih." Sahut Andi menjawab.
"Keburu tua Gua nya dong, tega bener doa Lu ama Gua Ndi? Iya deh yang mentang-mentang puja an hati nya ada di sini." Sindir Panji keras sambil memberes kan pekerjaan nya.
Di rumah Rendra.
"Assallammu'allaikum?." Salam Rendra.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Shita dari dalam.
"Ibu mana Yang?." Tanya Rendra yang menduduk kan bokong nya di sebelah Shita yang tengah bersantai di depan tv.
"Lagi ke rumah Pak Hadi, di panggil sama istri nya kata nya." Jawab Shita detail.
"Ta aku tadi ketemu Dini di bengkel." Cerita Rendra semangat.
"Dini? Dini anak nya Bu Rina itu? Ya wajar lah kalo kamu lihat, dia kan penduduk sini." Ujar Shita ringan.
"Bukan dini ituuuuuuu Yang... dengerin duly maka nya." Kata Rendra gemas dengan mencubit pipi Shita lembut.
"Ok ok, Dini mana?." Tanya Shita.
"Dini yang kita temu in di puncak pas nikahan Kak Raina." Jawab Rendra.
Shita membelalak kan mata nya tak percaya.
"Serius?." Tanya Shita.
"Serius lah, ngapain aku boong? Kurang kerjaan banget." Sewot Rendra.
"Mau ngapain dia sini? Ouh lebih tepat nya dia ama siapa ke sini?." Tanya Shita.
"Sama Ibu nya, dan untuk ngapain dia ke sini, aku ngga tau mau apa dia ke sini." Ujar Rendra sambil mengangkat bahu nya tak tahu (Untung ngga tempe๐ #AuthorGesrek).
"Ibu nya Dini tadi deketin aku sama anak-anak di bengkel, terus tanya siapa kepala desa kita sekarang? Ya kita jawab Pak Hadi, terus beliau pamit pergi." Rendra mencerita kan segala nya pada Shita.
"Kaya nya mereka berdua bakal menatap di sini deh." Tebak Shita.
"Yakin?." Tanya Rendra dengan mengangkat sebelah alis nya tinggi.
"Yakin lah!." Seru Shita mantap.
"Apa yang bikin kamu seyakin ini?." Tanya Rendra lagi.
"Firasat aja sih, nanti kalo seandai bener, rumah ku biar mereka tempati aja, dari pada kosong dan di huni hantu? Kan ngga baik." Ujar Shita menawar kan.
"Itu kalo mereka mau dan mereka memang menetap di sini." Ujar Rendra sambil mengacak rambut sang istri pelan.
"Kabulkan permintaan ku ya Allah." Seru Shita dengan sedikit berteriak.
Shita yang di tegur hanya cengengesan menampak kan deretan gigi putih dan rapi nya.
"Ngga usah cengengesan, siap-siap sana, kita mau ke Senduro bentar lagi." Suruh Rendra dengan mencomot kue yang ada di dekapan Shita.
"Ck! Aku males tau Yang, udah sih sana kamu pergi sendiri." Suruh Shita balik.
"Aku kan mau ngajak kamu jalan-jalan masa ngga maa sih." Dengan wajah memelas nya Rendra membujuk Shita agar ikut.
"Huufffhh, uya deh aku ikut kamu, ngga usah masang wajah memelas gitu, ngga cocok." Ketus Shita berucap. Padahal bukan ngga cocok tapi hati Shita bak di cubit rasa nya jika Rendra memasang wajah seperti itu.
'Aduhhh ya Allah... suami ku kalo masang wajah gitu kaya orang kehilangan kambing 10 ekor kambing aja.' Batin Shita berucap sambil mengacak rambut Rendra asal.
Di kediaman Pak Hadi.
2 orang tamu perempuan sedang duduk di ruang tamu rumah Pak Hadi.
"Ibu apa kabar? Lama yah ngga jumpa, udah belasan tahun, Dini juga sudah besar sekarang." Basa basi Bu Hadi pada dua tamu nya yang sudah lama tak jumpa belasan tahun.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja Bu Hadi." Jawab Ibu Dini dengan tersenyum.
"Jadi ada yang bisa saya bantu untuk Ibu Tini dan Dini?." Tanya Pak Hadi to the point.
"Kami ingin kembali tinggal di sini dan menatap di sini Pak." Jelas Bu Tini Ibu Dini.
"Ouh, boleh dan bisa banget, Ibu bisa mengurusi surat pindah ke kepala dusun di sini nanti, atau besok juga bisa." Papar Pak Hadi ramah.
"Dulu kalo boleh tau Ibu ada sama suami pindah kemana? Dan sekarang? Dimana suami nya?." Tanya beruntun Bu Hadi.
"Kami pindah ke Jakarta Pak Bu, suami saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu." Cerita Bu Tini, ada kesedihan yang sangat mendalam di setiap perkataan nya.
"Dan Ibu ingin tinggal dimana jika menetap di sini? Rumah Ibu kan sudah di jual." Ujar Bu Hadi.
"Kami mau cari kontrak kan atau penginapan dulu Bu." Jawab Bu Tini.
"Kontrak kan? Di sini ngga ada orang yang punya kontrak kan, tapi kalo penginapan, ada deh kaya nya." Kata Bu Hadi.
"Kalo penginapan ada, punya Shita yang dulu itu kan masih di pake." Sahut Pak Hadi.
"Ouh iya, sebentar saya panggil kan Ibu mertua nya Shita dulu di dapur untuk ikut mengobrol bersama kita." Pamit Bu Hadi untuk memanggil Bu Wiwin Ibu Rendra dan Ibu mertua Shita.
2 menit kemudian Bu Hadi kembali muncul dengan Bu Wiwin.
"Loh? Bu Tini? Apa kabar?." Terkejut Bu Wiwin sambil bersalaman dengan Bu Tini dan Dini.
"Alhamdulillah saya baik Bu Wiwin." Jawab Bu Tini bahagia.
"Ini... Dini kan? Adik nya Tari?." Tanya Bu Wiwin.
Dini hanya mengangguk kan kepala sambil tersenyum juga menyalamami Bu Wiwin.
"Silah kan duduk duku Bu Wiwin." Kata Pak Hadi yang langsung di iya kan oleh Bu Wiwin.
"Ada apa ini Pak Hadi memanggil saya?." Tanya Bu Wiwin.
"Em... penginapan Shita itu masih di sewakan kan?." Tanga Pak Hadi.
"Masih deh Pak kaya nya, saya juga kurang tau itu di sewakan atau engga." Jujur Bu Wiwin berucap.
"Emang nya kenapa Pak?." Tanya Bu Wiwin meminta penjelasan.
"Ini, Bu Tini sama Dini belum menemukan tempat tinggal, rumah lama mereka kan di jual." Jelas Bu Hadi.
"Ouh... tanya anak nya langsung aja, kaya nya masih di rumah deh mereka, kunci rumah nya juga di pegang sama Shita sendiri." Saran Bu Wiwin.
__ADS_1
"Dimana rumah nya Bu?." Tanya Bu Tini.
"Bu Tini ke rumah saya saja, Shita itu menantu saya, baru beberapa hari yang lalu menikah dengan Rendra." Balas Bu Wiwin.
"Masih ingat jalan rumah nya Bu Wiwin kan Bu Tini?." Tanya Bu Hadi.
Bu Tini menampil kan wajah bingung nya, yang menanda kan beliau tak ingat.
"Hahaha... ya sudah Bu Wiwin, pulang dulu aja deh, biar nanti Ibu nya Andi sama Panji yang bantu in saya di dapur, nanti sore an aja Bu Wiwin ke sini lagi." Suruh Bu Hadi yang di angguki oleh Bu Wiwin.
"Ayo Bu Tini, Dini, ikut ke rumah saya sebelum Shita sama Rendra pergi kirim barang ke Senduro." Ajak Bu Wiwin.
"Kami pergi dulu Pak Hadi, Bu Hadi, assallammu'alaikum." Pamit Bu Wiwin sopan.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Bu Hadi dan Pak Hadi kompak.
Di perjalanan menuju rumah Bu Wiwin.
"Desa Singo Joyo sudab banyak berubah yah Bu." Kata Bu Tini mencari topik pembicaraan.
"Iya Bu, bahkan sebentar lagi kata nya bakal ada perumahan yang di bangun di dekat lapangan sepak bola di selatan sana." Detail Bu Wiwin menjelas kan.
"Makin maju saja desa ini, dulu kan hamoir semua nya ini tanah kosong, sekarang sudah jarang tanah kosong." Tambah Bu Tini.
"Iya, penduduk desa Singo Joyo semakin banyak, tapi mayoritas pendatang sih, yang lokal sudah jarang ada di sini, kebanyak kan pindah ke kota nya." Tutur Bu Wiwin menjawab.
"Dulu rumah Ibu dimana?." Tanya Dini ijut nimbrung pembicaraan.
"Ada di sana dulu, dekat dengan lapangan sepak bola." Jawab Bu Tini pada putri nya.
Sepanjang perjalanan, Dini, Bu Wiwin, dan Bu Tinu mengobrol membahas perkembangan desa Singo Joyo.
Sampai di depan rumah Bu Wiwin.
Sang empu rumah membuka pintu dengan mengucap salam.
"Assallammu'allaikum." Salam Bu Wiwin, di ikuti Bu Tini dan Dini.
Bu Wiwin masuk ke dalam rumah, sedang kan Dini dan Bu Tini menunggu di teras.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Rendra Shita yang duduk di depan tv.
Shita berdiri dan menghampiri Ibu Mertua nya.
"Kok udah pulang Bu?." Tanya Shita, di masih tak menyadari ada Bu Tini dan Dini.
"Ini ada tamu, lagi cari kamu." Jawab Bu Wiwin.
"Cari aku? Siapa?." Gumama Shita yang masih dapat di denger Bu Wiwin sang mertua.
"Kamu termui dulu, ajak masuk duduk di sofa sini, Ibu mau ambil minum dulu." Kata Ibu mertua Shita.
"Iya Bu." Jawab Shita dengan mengangguk kan kepala pelan.
Shuta keluar rumah dan yang dia lihat pertama adalah Bu Tini.
"Bu? Ayo masuk ke dalam, kita bicara di dalam." Ajak Shita yang di angguki Ibu Tini.
Shita menatap ke arah Dini berada, mata nya terbelalak terkejut.
"Dini?." Panggil Shita memasti kan.
"Hai Kak, salam jumpa lagi." Sapa nya ramah.
"Wah! Pucuk di cinta ulam pun tiba, yang nama nya jodoh emang ngga kemana yah, hahahaha... ." Shita tertawa keras karena ucapan nya sendiri.
"Jodoh kagak bakal kemana?." Bingung Bu Tini.
"Ouh iya ayo masuk." Shita mengalih kan pembicaraan.
Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
Tak bersalang lama Bu Wiwin datang membawa nampan berisi teh dan sepiring kue.
Ibu Wiwin ikut duduk.
"Ayo Dini, Bu Tini, silah kan di minum dulu teh nya, maaf yah cuma ada ini." Ucap Bu Wiwin tak enak hati.
"Hahaha... ini sudah cukup kok Bu Wiwin." Jawab Bu Tini, yang sesaat kemudian beliau juga Dini menyeruput teh hangat yang di buat kan oleh Ibu Wiwin.
"Jadi gini Ta, Bu Tini sama anak nya ini kan mau menetap dan tinggal di sini, tapi masih belum punya tempat tinggal, terus Bu Hadi tadi nyaranin buat tinggal di penginapan kamu sementara, menenurut kamu gimana?." Tanya Bu Wiwin menjelas kan panjang lebar kepada menantu nya ini.
"Wah! Boleh tuh, sekalian aja Ibu tinggal di sana deh, ngga usah cari kontrak kan, menetap di sana aja." Kata Shita antusias berucap.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys๐.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung๐ข๐.
Maaf kalo garing๐ข๐.
Maaf typo di mana-mana๐๐ข.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan๐ข.
Maaf gantung cerita nya๐.
Di lanjut besok ya readers๐.
Jangan marah karena di gantung yak guys๐.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya๐.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa๐.
__ADS_1