
Jam istirahat berlangsung hanya 20 menit.
Setelah bel masuk berbunyi semua siswa-siswi berdoa kemudian pulang.
Tapi wali kelas mengatakan bahwa besok kegiatan belajar mengajar aktif.
Jika tidak masuk sekolah alias bolos, mereka akan terkena hukuman.
Kini, 6 serangkai sedang ada diparkiran sekolah.
"Bhi? Kita kesana sekarang aja, telepon si Roy." Suruh Rafka pada Abhi.
Abhi tak menjawab namun langsung menjalankan perintah Rafka.
"..."
"Dimana Lo?." Tanya Abhi pada Roy.
"..."
"Kita kesana sekarang, Lo berangkat dari sana aja, ngga perlu nunggu kita, nanti ketemuan ditempat parkir sana." Kata Abhi.
"..."
"Iya." Jawab Abhi singkat.
Setelah itu telepon berakhir
"Ayo, dia langsung OTW katanya." Beri tahu Abhi.
6 serangkai masuk kemobil masing-masing, lalu mulai menjalankannya keluar dari gedung sekolah.
30 menit perjalanan.
Mereka telah sampai ditempat parkir RS.
Didalam mobil Rafka, Zarine yang mengenali tempat itu, dia bertanya heran.
"Ini?... inikan RS kejiwaan? Siapa yang sakit?." Tanya Zarine.
"Nanti kamu bakal tau, tapi sebelum masuk, kamu harus janji dulu sama aku, kalo ngga akan bertanya apa-apa didalam sana, nanti setelah sampai rumah aku jelasin semuanya, ok?." Pinta Rafka lembut pada sang istri.
"Ok." Balas Zarine singkat.
Rafka Zarine keluar dari mobil.
Ditempat mereka memarkirkan mobil, sudah ada Roy yang menunggu.
"Ayo." Ajak Roy.
"Emang Lo tau dokternya siapa?." Tanya Abdiel.
"Dokter Hamid, Gua juga udah buat janji sama beliau." Beri tau Roy.
6 serangkai bertambah dengan Roy, berjalan dikoridor RS yang penuh dengan orang yang memiliki masalah kejiwaan, ya namanya rumah sakit jiwa, masa ramai orang jual onde-onde😂 (maap keun jadi ngelawak😂).
Sampai dimeja resepsionis, Roy berhenti dan bertanya kesuster yang bertugas.
"Sus? Ruangan Dokter Hamid dimana ya?." Tanya Roy ramah dengan tersenyum manis.
Suster sempat terpaku beberapa saat melihat senyuman Roy.
"Ouh, itu Pak, Anda cukup berjalan 10 meter dari sini, lalu belok kiri, nanti disana cari pintu yang ada namanya Pak Hamid." Jelas Suster agak gugup.
"Terima kasih Sus." Ucap Roy.
Mereka berjalan lagi sesuai instruksi resesionis tadi dan... ketemu."
Saat ingin mengetuk pintu.
Tiba-tiba dari dalam seseorang keluar.
"Astaughfirullah!." Kejut Roy dengan seseorang itu.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?." Tanya seseorang itu yang bernama Dokter Hamid, mereka tau dari nametagnya.
"Dokter Hamid selamat siang." Sapa Roy dan 6 serangkai.
"Apa Anda yang namanya Pak Roy? Benar?." Dokter Hamid memastikan.
"Iya Dok, saya yang mengajak dokter untuk temu janji." Jawab Roy.
"Dok saya dan-."
"Pak, anda dan lainnya bisa langsung ikut saya sekarang, pasien sedang mengamuk sekarang." Potong Dokter Hamid cepat lalu dia berlari melewati koridor untuk menuju ruangan Sari.
6 serangkai dan Roy terkejut dan sesaat kemudian menyusul Dokter Hamid berlari.
Sampai diruangan pasien.
Teriakan seseorang terdengar memakak kan telinga.
"Gua ngga mau itu!!!!!, pergi kalian!!!!!!." Seru pasien.
Zarine yang familiar dengan suara itu pun bertanya pada hati kecilnya.
'Itu bukan Sari kan? Kok perasaan aku rasanya gelisah banget?.' Batin Zarine.
Saat pintu ruangan terbuka Dokter segera menyuruh perawat untuk menepi sebentar.
6 serangkai dan Roy masih berada diluar ruangan.
Mereka melihat dengan jelas saat Dokter menyuntik pasien.
Zarine tidak takut jika dengan jarum suntik, dia hanya meringis seperti ikut merasakan terkena suntikkannya.
Dokter kemudian membaringkan pasien diranjang dan... .
__ADS_1
Deg!.
Jantung Zarine seakan berhenti berdetak.
Dia terpaku dan merasa seperti waktu berhenti.
Kakinya lemas seperti jely.
Dia terhuyung hampir jatuh jika saja Rafka tak sigap menangkapnya.
"Yang?, kamu kenapa?." Tanya Rafka panik.
Zarine tak bisa berbicara.
Suaranya seperti tercekat ditenggorokan.
Air mata jatuh dipipinya.
Dia menagis tanpa suara.
"Sari?." Panggil Zarine pelan seperti berbisik.
"Ini ngga mungkin kan?." Tanyanya pada Rafka dengan pandangan tertuju keranjang pembaringan Sari.
"Apa yang kamu lihat sekarang itu nyata." Jawab Rafka.
Seperti tersambar petir disiang bolong, Zarine kembeli lemas hingga dia terjatuh kelantai.
Semuanya panik melihat Zarine menatap kosong kedepan dan menangis tanpa suara.
Air mata Zarine berjatuhan dengan deras.
"Aku pengen liat dari dekat." Pinta Zarine dengan menatap Rafka.
Dokter yang sudah keluar dari ruangan 5 menit lalu, mendengar permintaan Zarine.
"Silahkan jika ingin melihat secara langung, tapi jangan berisik." Peringat Dokter.
Rafka mengangguk lalu dia membantu istrinya berdiri dan memapahnya masuk kedalan ruangan di ikuti oleh lainnya.
"Sa... Sa.. Sari?." Panggil Zarine tergagap dan kemudian tangisan tertahan terdengar dari Zarine, dia menahannya sekuat tenaga agar tidur Sari tak terganggu.
"Udah berapa lama dia disini?." Tanya Zarine pada Dokter Hamid yang ikut masuk ruangan.
RS kejiawaan yang dipercaya orang tua Sari untuk merawat putri kesayangannya ini, adalah RS ternama dikota Jakarta.
Ruangan yang berukuran 2,5 persegi yang ditempati Sari ini hanya terdapat ranjang yang, hanya dipakai oleh satu orang serta sebuah nakas penyimpan kebutuhan Sari.
"Pasien disini sudah 1 bulan lamanya." Jawab Dokter.
"Dia ngamuk karena apa tadi?." Tanya Abdiel.
"Nona Sari tidak mau makan dan selalu menyebut 2 nama, yaitu Zarine dan Rafka." Jawab Dokter.
"Kenapa memanggil-manggil nama mereka?." Tanya Akifa.
"Apa jadinya jika 2 nama yang disebut Sari itu ada dihadapannya?." Tanya Zarine.
"Rasa senang dan benci akan hadir dihatinya, atau bisa saja dia akan mencelakai orang yang dia benci." Terang Dokter lagi.
"Apa diantara kalian ada orangnya?." Tanya Dokter.
"Saya Rafka dan ini Zarine istri saya." Beritahu Rafka.
Dokter terdiam terpaku keluh tuk berbicara.
"Apa Sari bisa sembuh?." Tanya Zarine dengan sesenggukkan.
"Bisa, tapi jika pasien sendiri mau keluar dari rasa obsesinya itu dan melupakan obsesinya." Jawab Dokter.
"Apakah bisa seperti itu?." Tanya Alfi.
"Bisa, pasien harus tetap tenang, dan berhenti memikirkan rasa obsesinya itu." Jawab Dokter.
'Huuffffh.' Semuanya menghela nafas lelah.
Roy melirik jam tangan ditangan kirinya.
"Ayo kita pulang, Gua ada meeting bentar lagi." Ajak Roy.
Semuanya menganggukkan kepala pertanda meng iya kan.
"Dok kita pamit pulang, dan tolong Dok, jika ada kabar perkembangan tentang Sari, Dokter hubungi nomer asisten saya yang kemarin." Pinta Roy.
"Baiklah." Sanggup Dokter Hamid.
Lalu semuanya keluar ruangan.
Roy belum keluar dari ruangan, dia masih sibuk memandang wajah cantik tenang milik Sari yang terlelap dalam tidur.
"Gua pamit Sar, cepet sembuh ya, Gua tunggu Lo sembuh." Kata Roy.
Dia ingin mengecup kening Sari, tapi dia urungkan karena menurutnya waktunya belum pas.
Roy memang sudah tidak mempunyai rasa terhadap Sari.
Tapi dia punya perasaan sebagai Kakak-Adik terhadap Sari.
Setelah urung mencium kening Sari, Roy memilih hanya mengusap pucuk kepalanya.
Dia tersenyum kemudian dia keluar dari ruangan.
"Ya udah ayolah, Dok kita pamit, assallammu'allaikum." Salam Roy kompak dengan lainnya.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Dokter Hamid.
Mereka ber 7 berjalan menuju tempat parkir RS dan masuk kemobil masing-masing.
__ADS_1
Setelah itu, mereka melajukan mobil keluar dari gedung RS.
Digerbang keluar, Roy dan 6 serangkai berpisah.
Di dalam mobil Rafka.
Zarine masih sesenggukan bahkan tangisannya agak kencang.
Rafka yang melihat istrinya sedang kacau, dia memilih untuk memotong jalan, dia pergi kedaerah yang agak sepi, agar Zarine puas menangis meluapkan kesedihan dihatinya.
Rafka lalu menghubungi Abhi dan Abdiel bahwa dia memotong jalan serta meminta tolong jangan memberitau orang rumah.
"Kamu boleh nangis, menangislah!." Kata Rafka dengan meraih tubuh Zarine membawa kepelukannya.
Hanya hitungan sesaat, tangisan yang hanya sesenggukan tadi mulai pecah.
"Semua salahku Raf, semua salahku." Kata Zarine menyalahkan dirinya sendiri.
Rafka hanya diam mendengarkan setiap celotehan Zarine yang isinya hanya menyalahkan dirinya sendiri.
Hingga 1 jam lamanya, selesai sudah acara menangis Zarine.
Kini giliran Rafka yang berbicara.
"Denger Yang, kamu ngga salah, dan ngga pernah salah, karena apa? Karena ini jalan yang dia pilih sendiri, maka dia sendirilah yang harus bertanggung jawab atas semua keputusannya." Jelas Rafka.
Zarine hanya diam memandang mata Rafka lekat dan intens.
"Kamu ngga salah, jadi jangan salahin diri sendiri, kamu ngga salah." Tegas Rafka lagi.
Zarine memikirkan perkataan Rafka dengan cermat.
Kemudian dia mengangguk paham.
Setelah itu Rafka Zarine saling menyatukan kening mereka lalu melempar senyum dengan memejamkan matanya.
"Ya udah, ini saatnya pulang, udah ya, jangan nangis lagi, entar cantiknya ilang loh." Ledek Rafka.
"Pa an sih Rafka." Kata Zarine dengan tersenyum dan kembali duduk dikursi samping kemudi.
Rafka melajukan kembali mobilnya untuk pulang kerumah.
Sampai di garasi rumah, saat Rafka akan mengajak Zarine turun, tapi pemandangan Zarine tidur yang dia lihat.
"Capek habis nangis ya?, hehehe ya udah lanjutin deh tidurnya." Rafka berbicara sendiri.
Lalu dia keluar dari mobil, berjalan ketempat Zarine tidur, dan menggendongnya untuk membawanya masuk rumah.
Saat akan memasuki kamar, Mama memanggil Rafka.
"Rafka? Kok udah-, loh?! Menantu Mama kenapa? Kamu apakan dia?." Tanya Mama beruntun.
"Itu juga? Kok mukanya sembab sih? Kamu apakan dia?." Tanya Mama dengan nada pelan tapi ditekan.
"Mama tenang dulu ok, Rafka mau baringkan Zarine dulu." Pinta Rafka.
"Ayo, Mama buka kan pintu kamarmu." Kata Mama membantu Rafka.
Setelah membaringkan Zarine, Rafka dan Mama keluar kamar dengan menutup pintu perlahan tanpa menimbulkan suara.
Mama menyeret Rafka untuk menuju balkon jendela.
"Kamu apain menantu Mama Rafka?!." Tanya Mama dengan sedikit berteriak.
"Duduk dulu Ma, Rafka capek." Kata Rafka yang sudah duduk dikursi balkon.
Mama pun ikut duduk.
"Gini, tadi kita sekolah bubar jam setengah 9, terus kita pergi ke RS kejiawaan karena udah janjian sedari kemarin sama Roy, maaf ngga ngabarin Mama Papa dulu." Kata Rafka menjelaskan.
"Terus?." Tanya Mama tidak sabar menunggu cerita selanjutnya.
"Kita jengukin Sari, dan Zarine iba sampe melihat Sari dengan keadaan berantakan, dia ngga bisa nangis ditempat malah hanya terdengar sesenggukan." Sambung Rafka.
"Terus pas jalan pulang tadi, kamu bawa Zarine kesuatu tempat biar bisa nangis?." Tanya Mama yang diangguki Rafka.
"Dan dia nangis, sampe akhirnya tertidur?." Tanya Mama lagi.
"Iya, lebih tepatnya Zarine tidur pas jalan pulang." Rafka memperjelas perkataan Mamanya.
"Zarine nangis karena dia berpikir sakitnya Sari adalah dia penyebabnya." Beritahu Rafka.
'Huuffffh.' Mama menghela nafas lelah.
"Kok masih ada aja sih perempuan murah gitu? Kaya cowok didunia ini cuma kamu doang." Sewot Mama.
"Ya udahlah Ma, biarin aja, kita doain aja biar Sari sembuh." Tenang Rafka.
"Aamiin, dan kalo bisa setelah sembuh langsung pindah negara." Kata Mama.
Rafka yang tersenyum menanggapi perkataan Mamanya.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Jaga kesehatan readers
__ADS_1
Maaf ngga nyambung😢🙏.