
Suasana sekolah sangat riuh pagi ini.
6 serangkai sudah ada di sekolah tepatnya 10 menit yang lalu.
Mereka sekarang ada di lapangan basket outdoor SMA Merdeka.
Rafka, Abdiel, dan Abhi sedang berebut benda bundar yang di pegang Abhi.
Sedangkan para perempuan duduk sambil membicarakan hal-hal yang seru menurut mereka.
Dari arah jalan masuk ke dalam lapangan, Tika berlari dengan tergopoh lalu duduk di samping Zarine.
"Assallammu'allaikum." Salam sapa Tika.
"Wa'allaikum sallam." Jawab kompak Zarine, Akifa, Alfi.
'Hosh... hosh... .' Nafas Tika terengah-engah.
"Ngapain sih Lo lari Tik?." Tanya Alfi.
"Kagak ada... apa... apa... Gua cuma... mau kasih... kabar." Tika berbicara dengan nafas masih terengah-engah.
"Kabar apa?." Tanya Akifa.
"Kaya nya Gua bakal nyusul kalian deh." Jawab Tika.
Nafas Tika sudah normal karena Zarine memberinya minum tadi.
"Nyusul nikah?." Tebak Akifa.
"Iya." Jawab Tika antusias.
"Lo yakin ngga bakal nyesel kalo udah nikah nanti?." Tanya Alfi serius.
"Kenapa harus nyesel?." Tanya balik Tika.
"Yaaaa, kalo nikah muda tuh resikonya banyak, apalagi soal punya dedek baby, tanggung jawabnya besar." Terang Akifa.
"Hidup itu pilihan kan?, kalo Allah udah nentuin jodoh Gua pas umur Gua masih muda, kenapa engga?, Gua ngga masalah nikah muda selagi orang yang Gua nikahi sayang dan cinta sama Gua, dia juga dewasa, pengertian, pokoknya Kak Zaidan the best deh." Panjang lebar Tika.
"Dia ngomong apa emang sama Lo sampe Lo ngasih tau kabar ini?." Tanya Alfi.
"Dia ngasih tau kalo dalam waktu dekat ini dia mau lamar aku, terus di tahun ini juga kita bakal nikah." Jawab Tika.
"Hehehe, selamat yaaaa Tika, akhirnya bentar lagi kita bakal saudaraan." Kata Zarine bahagia.
"Tanpa ada ikatan sekali pun sebenarnya kita saudaraan." Celutuk Alfi.
"Hahaha iya bener." Tawa Tika pelan.
Lalu dari arah jalan masuk lapangan, seorang cewek yang sepertinya seorang adik kelas datang menghampiri Rafka, Abdiel, dan Abhi.
Gadis itu terlibat pembicaraan dengan 3 cowok itu.
Di tribun Alfi sudah memasang wajah masam penuh emosinya.
Akifa, Zarine, dan Tika menatap ngeri melihat ekspresi Alfi.
Tiba-tiba Alfi berdiri dari duduknya dan berjalan cepat menuju ke tempat Abhi.
Zarine, Tika, dan Akifa ikut berlari menyusul Alfi.
Mereka bertiga berjaga-jaga untuk menahan Alfi jika dia lepas kontrol.
Sampai di depan Abhi dan cewek tersebut.
"Waduh perang nih." Bisik Abdiel pada Rafka.
Akifa yang mendengar samar bisikan itu langsung menatap tajam pada Abdiel.
Alfi tersenyum manis memandang cewek yang ada di depannya ini.
"Hai... Ririn?." Sapa Manis Alfi.
Dia mengetahui nama adik kelas itu dari name tag nya.
"Sapa an manis sebelum perang nih." Bisik Abdiel lagi.
__ADS_1
Kali ini bukan hanya Akifa yang menatap tajam Abdiel, Tika dan Abhi juga melakukan hal yang sama.
Mereka seperti mengisyaratkan Abhi untuk diam.
Abdiel yang melihat tatapan leser dari 3 orang itu seketika kicep tak bersuara.
Kembali ke suasana Tika dan cewek yang bernama Ririn tadi.
"Hai juga Kak." Jawab Ririn dengan tersenyum.
"Kamu anak kelas 10 ya?." Tanya Alfi lembut.
"Iya Kak." Jawab Ririn dengan senyum ramah.
"Ouh pantes, itu kue buat Kak Abhi ya?." Tebak Alfi.
Ririn tersenyum lalu menunduk malu.
Kemudian dia mengangguk membenarkan tebakan Alfi.
Tatapan Alfi yang semula hangat kini berubah jadi dingin.
Senyum yang tadi merekah kini berubah menjadi tatapan datar tanpa ekspresi.
Ririn yang melihat perubahan wajah Alfi sedikir takut.
Abhi yang ada di samping Alfi menggemgam tangan sang istri kuat
Alfi tiba-tiba mengambil kue yang ada di tangan Ririn dengan lembut.
Walaupun Alfi sedang marah, dia masih punya hati nurani untuk tidak membuang kuenya, dia masih menghargai Ririn.
"Lo yang pake kaca mata?!." Panggil Alfi pada seseorang yang melintas di dekat jalan masuk lapangan.
Seseorang yang terpanggil itu menunjuk dirinya memastika.
"Iya, kesini!." Panggil Alfi dengan melambaikan tangannya.
Seseorang berkaca mata itu masuk ke lapangan dan menghadap Alfi.
"Ada apa Kak?." Tanya seseorang itu yanh ber name tag Ryoga.
"Iya, makasih Kak." Ucap Ryoga dengan berbinar, lalu dia pergi menjauh.
Ririn menekuk alisnya dalam lalu menghampiri Alfi dengan penuh emosi.
"Maksud Kakak apa?!, kenapa bekalnya di kasih orang lain?!, itu kan buat Kak Abhi." Marah Ririn.
"... ." Alfi diam tak menjawab.
Abhi menggenggam tangan Alfi lebih erat pertanda Abhi menyuruh Alfi untuk tenang.
Alfi yang merasakan genggaman Abhi tersenyum manis ke arahnya.
Dia lalu menatap datar Ririn.
"Lo harusnya bersyukur karena kuenya ngga Gua buang." Dingin Alfi berkata.
"Emang apa urusan Kakak?!." Tanya Ririn penuh emosi.
"Gua PACARNYA Abhi!." Ucap Alfi menekan kata pacarnya.
Ririn menatap tak percaya pada Abhi dan Alfi.
Dia diam membeku di tempat berdirinya.
Sedangkan Alfi, jika dia tidak ingat ini dimana, dia pasti sudah mengatakan bahwa dia istrinya Abhi.
Alfi berusaha sekuat tenaga agar tak lepas kontrol dan menampar adik kelasnya ini.
Nafas Alfi sudah naik turun pertanda dia emosi.
Memang Alfi ini mudah emosi, apalagi sampai ada yang berniat mengambil apa yang sudah jadi miliknya, orang-orang di sekitarnya tidak akan bisa mengendalikan amarah Alfi jika sudah memuncak, kecuali Abhi.
"Sekarang, Gua minta Lo balik ke kelas dan jangan sampe nglakuin hal bodoh kaya tadi lagi." Suruh Alfi pada Ririn.
Ririn sudah berkaca-kaca menahan air matanya.
__ADS_1
Dia berlari keluar lapangan dengan menangis.
Abhi lalu membawa Alfi je dalam pelukannya dan kini giliran Alfi yang menangis.
"Jangan nangis, udah." Kata Abhi menenangkan.
"Hiks... hiks... kenapa kamu ngga ngomong ke dia?, kenapa kamu diam aja?." Tanya beruntun Alfi pada Abhi.
Rafka, Zarine, Abdiel, Akifa, dan Tika memilih pergi dari lapangan dan membiarkan mereka berdua menyelesaikan urusannya.
Kebetulan Bel tanda masuk kelas berbunyi.
Alfi yang masih menangis langsung Abhi membawanya ke atab sekolah.
Mereka berdua tidak mengikuti pelajaran pertama.
Di atab, Abhi dan Alfi duduk di tempat yang teduh yang biasa di duduki oleh dirinya dan lainnya.
Alfi masih menangis di dada bidang sang suami.
Setengah jam lamanya sudah Alfi menangis.
Kemudian dia melepas pelukannya dari sang suami.
Dia pergi ke kamar mandi yang ada di atab itu, lalu kembali duduk di dekat Abhi.
Muka Alfi sangat berantakan dengan mata sembab dan basah bekas air cuci mukanya tadi.
Abhi lalu mengambil sapu tangan dari saku celananya.
Dia mengusap wajah basah Alfi dengan lembut menggunakan sapu tangan itu.
Setelah selesai, Abhi mencium kedua kelopak mata Alfi dengan sayang.
"Dah jangan nangis lagi." Kata Abhi.
Alfi mengangguk lalu menatap Abhi meminta penjelasan.
Abhi yang tau tatapan itu dia tersenyum manis sambik mencubit pelan pipi sang istri.
"Ehem, ok, jadi tadi itu aku udah mau nolak kuenya, eh kamu nya keburu dateng dan mengambil alih semua kejadian tadi, aku mau lerai kamu, tapi aku rasa itu ngga perlu, karena sikap kamu tadi wajar dan emang harus di lakuin untuk mempertegas hubungan kita, yaaa walaupun kamu ngga ngomong terus terang, kalo ngomong terus terang bisa kaget entar satu sekolah, hehehe." Jelas panjang lebar Abhi dengan di akhiri kekehan khasnya.
Alfi pun ikut tersenyum.
Dia senang mendengar penjelasan Abhi.
Alfi juga sebenarnya tidak marah pada Abhi, karena tadi waktu Ririn berbicara pada Abhi, dia tidak menunjuk kan senyum dan selalu mengalihkan pandangan dari mata Ririn.
Yang membuat Alfi kesal dan marah adalah, adik kelas nya tadi itu tersenyum manis dengan muka malu-malu bersemu merah.
Alfi tau kalo adik kelas nya tadi tidak mengetahui hubungannya dengan Abhi.
Kalau tau pasti si Ririn tidak akan melakukan hal tadi.
Tapi tetap saja, yang namanya cemburu tetap cemburu, apalagi Alfi yang notabenya gadis tidak bisa mengontrol emosi.
Tidak mengacaukan sekolah saja adalah berkah terbaik tak ternilai untuk Abhi.
(Dasar Abhi lebay, maaf Authornya ikut muncul merusak suasana😂).
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.