Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 258


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Beliau ini Papa kamu, kalo manggil yang sopan dong!." Ketus Cindi pada pria di depan nya.


"Baru saja baik kan, eh bentrok lagi." Gumam Papa Andre lirih yang sayang nya masih bisa di dengar oleh Haris yang memiliki indra pendengaran yang tajam.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Pemuda itu menatap Papa nya dengan tatapan mata yang tajam.


Cindi yang melihat tatapan mata Haris kembali memukul lengan pria nya ini.


"Jangan gitu dong Bagas sama orang tua, ngga baik." Seloroh Cindi lagi.


"Huuffhhh... iya deh iya." Kata Haris mengalah pada gadis cantik nya ini.


Kemudian Cindi mengalih kan pandangan nya menatap wajah tampan milik Papa nya Haris.


"Hai Om?! Senang rasa nya bisa bertemu langsung sama Om kaya gini, kenalin Om nama ku Cindi." Ucap Cindi senang, dia mencium tangan kanan Papa Haris.


"Hahahaha, hai Cindi, cantik banget kamu sayang, boleh kah Om minta peluk?." Tanya Papa Haris dengan nada suara mengejek pada anak nya.


'Dasar tua bangka! Di kasih hati malah minta jantung!.' Rutuk Haris jengkel pada sang Papa.


"Boleh kok-." Belum selesai Cindi berucap Haris sudah memotong omongan Cindi.


"Ngga ada peluk Baby, dari pada kamu pelayanan Papa aku mending pelukan sama aku aja, sini." Kata Haris sambil merentang kan tangan nya lebar-lebar bersedia menerima pelukan yang ia minta dari Cindi.


"Engga mau, Bang Haris kan udah sering banget peluk aku, sedang kan Papa nya Bang Haris belum, ouh lebih tepat nya tidak pernah mendapat pelukan dari aku." Cindi menoleh memeluk Haris, dan kini dia berjalan ke arah Papa Haris kemudian memeluk pria yang sudah sangat tua ini.


Cindi hanya sampai batas dada Papa nya Haris, Papa nya Haris yang tengah di peluk beliau membalas pelukan sang calon menantu nya sambil menatap wajah tampan milik anak nya dengan tatapan mengejek.


Wajah Haris merah padam tanda dia sedang kesal pada Papa nya saat ini, apa lagi Haris melihat senyum mengejek dari bibir Papa nya.


Bueh makin panas rasa nya dada Haris.


'Hahahaha... sangat mirip dengan ku saat muda dulu, tidak suka kalau wanita karir di sentuh atau di peluk oleh orang lain.' Batin Papa Haris sambil terkekeh pelan.


Tiba-tiba... .


"Dah Baby jangan lama-lama pelukan nya, sini." Haris memisah kan peluk kan antara calon menantu dan calon mertua itu.


Cindi dengan muka jengah nya melepas kan pelukan nya pada tubuh kekar Papa Haris.


"Dasar possesive." Ucap Cindi lirih tapi masih di dengar jelas oleh orang-orang di sekitar nya.


"Biarin aja! Aku ngelakuin hal ini juga demi kamu." Seru Haris meng kambing hitam kan Cindi.


"Loh?! Kok aku sih Bang?." Seru balik Cindi tak terima di kambing hitam kan.


"Udah jangan banyak debat, ayo masuk kamar aku capek banget Bang pengen peluk kamu lebih erat lagi." Kata Haris yang membuat Cindi malu.


Pipi Cindi merah dengan ucapan yang keluar dari mulut Haris tadi.


Kalau bicara nya hanya ada mereka berdua tidak masalah, ini mereka ngomong di depan nya Papa Haris. Tentu saja Cindi malu setengah mati.


Cindi menyembunyi kan wajah nya di bahu bidang milik Haris.


Papa Haris dan semua para pelayan yang melihat tingkah lucu Cindi terkekeh pelan, asisten Dimas hanya menyungging kan senyuman kecil nya melihat interaksi antara 3 orang ini.


Papa Haris itu tak sekejam di luaran sana, beliau begitu hangat orang nya sebenar nya, hanya saja ya gitu deh... beliau punya rasa iri yang besar sehingga mencelaka kan orang.


Tapi tadi setelah mendapat ceramah dari anak nya beliau sedikit membuka pikiran dan hati nya, tapi beliau belum memutus kan hendak berhenti dari rencana mencelaka kan Damar dan Albhi di rapat besok.


"Dah sana kalian balik aja ke kamar, kita bertemu di waktu makan malam nanti." Kata Papa Haris menyuruh Haris dan Cindi pergi ke kamar mereka.


Haris dengan semangat 45 menyeret Cindi untuk ke masuk ke dalam kamar.


Cindi sedikit terseok mengikuti langkah lebar Haris, hampir saja gadis itu terjatuh jika Haris tak menangkap nya.


"Hati-hati Haris! Kamar kalian tidak akan pindah ke luar negeri, jalan aja pelan-pelan ngga usah terburu-buru." Goda Papa Haris yang semakin membuat Cindi malu.


Haris terkekeh mendengar penuturan sang Papa, akhir nya karena tak mau berlama-lama lagi, Cindi di gendong ala bridal oleh Haris dan mereka menaiki tangga naik ke kamar Haris.


Sampai di kamar Haris.


Pemuda itu membaring kan tubuh Cindi perlahan di atas tempat tidur.


Lalu Haris ikut berbaring di sebelah Cindi sambil memeluk gadia mungil nya itu.


"Jangan pernah diami aku lagi seperti kemarin Baby, sumpah aku seperti tak memiliki semangat hidup jika kamu mendiam kan ku, aku rindu suara mu Baby." Ucap Haris dengan suara serak nya.


Pemuda itu menengglam kan wajah nya di dada Cindi, haihhh bagian itu sudah menjadi favorite Haris sejak tidur bersama Cindi, setiap malam dia menelusup kan wajah nya di bagian itu hingga kadang Cindi merasa geli sendiri dan berakhir mendorong Haris agar tak mendekat pada nya.


Awal mula pasti lah Cindi risih dan sangat tidak nyaman, tapi karena ancaman, tentu saja Cindi mulai membiasa kan hal-hal aneh seperti itu.


Selagi Haris tak melakukan lebih dari itu, Cindi tidak mengapa, tapi! Jika Haris berani berbuat lebih dari itu... Cindi sudah peringat kan bahwa dia akan benci, bahkan sangat benci pada Haris.


Tentu saja Haris takut hal itu terjadi, dia mengangguk kan kepala nya dan berjanji tidak akan melakukan hal lebih pada gadis kecil nya ini.

__ADS_1


"Hehehe... aku itu sebenar nya percaya sama yang Bang Haris jelasin, aku cuma iseng aja pengen liat reaksi Bang Haris kalo aku diemin, eh! Parah ternyata reaksi nya, akibat nya juga parah, Bang Haris jarang makan, hahahha... ." Tawa Cindi pecah memenuhi kamar milik Haris ini.


Saat mendengar kata makan, Haris jadi ingat hal apa yang membuat pria itu berlari pulang ke Jakarta.


Yah! Haris pulang karena mendapat kan kabar bahwa Cindi belum makan dari pagi tadi.


"Baby? Kamu belum makan yah?." Tanya Haris yang membuat Cindi menghenti kan usapan tangan nya di rambut lembat nan hitam Haris.


Gadis itu menunduk kan kepala nya untuk melihat mata tajam Haris, dan Haris mendongak kan kepala nya menatap mata Cindi.


"Siapa yang bilang? Kepala pelayan Zia yah?." Tanya balik Cindi dengan di barengi cengiran khas milik nya.


"Iya beliau yang memberi tahu ku kalau kamu tidak makan sedari tadi makan." Ujar Haris sambil menatap intens wajah gadis nya.


"Loh?! Kalau kamu bisa di hubungi kenapa tidak menelpon ku? Biasa nya meski pun ngga aku hirau kan Bang Haris tetap telpon! Kenapa tadi engga?!." Tanya Cindi sambil menatap wajah Haris tajam.


"Aku tadi udah nelpon kamu, tapi Papa aku melarang, HP ku di rampas sama dia, dan yang lebih parah lagi sebener nya aku tadi di perintah untuk pulang malam." Beber Haris akhir nya.


"Kenapa begitu?." Tanya Cindi kepo.


"Kata Papa biar kamu rindu dan menunjuk kan rasa cinta kamu ke aku, ngga melulu cuma aku doang yang menunjuk kan rasa cinta." Jujur Haris tak menutupi apa pun.


"Maaf." Ucap Cindi sambil memcium pucuk kepala Haris lembut.


"Buat apa? Kamu udah minta maaf tadi, aku udah maafin kok." Ucap Haris sambil memamer kan senyuman manis nya.


"Maafin aku karena tak pernah meng ekspresi kan rasa ku ke Bang Haris, aku... takut aja kalo Bang Haris ngga tulus, maka nya aku kadang bersikap cuek dan pasif dalam membalas semua pernyataan cinta Abang." Ungkap Cindi jujur se jujur jujur nya dari dalam hati nya yang paling dalam.


Haris yang mendengar perkataan Cindi terkejut dan dia tiba-tiba bangun dari duduk nya dan duduk di atas ranjang menghadap Cindi yang ikutan duduk sambil menunduk kan kepala nya.


"Jadi selama ini kamu pasif dan cuek karena kamu ngga percaya sama semua yang aku ucap kan bahkan bukti kan?!." Tanya Haris bertanya mempertegas ucapan Cindi tadi.


Cindi menatap Haris dengan perasaan takut-takut lalu dia mengangguk kan kepala nya pelan sebanyak 3 kali.


"Huuufffhhhh... Allah!! Cindi, my big Baby, denger yah, apa semua bukti yang aku lakukan sama kamu kurang sampai-sampai kamu masih ngga percaya segitu nya sama aku? Kamu pernah di bohongi sama cowok parah banget kah sampe kaya gitu ke aku?." Tanya Haris merasa frustasi.


"Ya ngga pernah sih alhamdulillah, kalo usah jangan pernah deh, aku ngga percaya sama Bang Haris juga ada alasan nya tau!." Seru Cindi dengan menunjuk kan bibir manyun nya yang maju 10 cm (padahal ngga segitu😂, udah lah iya in aja, #AuthorGesrek).


"Apa alasan nya? Karena kita baru aja kenal gitu maksud nya? Iya itu alasan nya?." Tanya Haris yang tepat sasaran.


Cindi menjawab dengan angguk kan kepala nya pelan sambil menatap Bang Haris nya polos.


"Allah!." Ucap Haris frustasi, dia menepuk dahi nya sendiri secara pelan sambil menggeleng-geleng kan kepala nya tak percaya dengan jawaban Cindi.


Tapi memang masuk akal sih jawaban itu, Cindi itu seorang remaja berusia 15 tahun yang tentu saja memiliki perasaan yang masih labil, apa lagi dia dan Haris baru saja bertemu, ya tentu saja Cindi masih belum percaya atau lebih tepat nya dia tidak percaya dengan Haris, meski pun Haris sudah menunjuk kan ke cintaan nya pada Cindi, tetap saja gadis itu tak percaya.


"Gini big Baby! Dengar kan aku berbicara, masuk kan dalam hati mu dan otak mu! Aku Haris mencintai kamu Cindi, Haris jatuh cinta dan bahkan sudah mencintai Cindi." Ungkap Haris dengan wajah serius, dan perkataan itu membuat Cindi terpaku duduk di tempat nya menatap Haris dengan begitu dalam dan intens.


"Jadi my big Baby Cindi, jangan pernah meninggal kan ku tetap lah ada di sisi ku, di sini bersama ku." Pinta Haris panuh keseriusan.


Cindi menghambur ke peluk kan Haris, kemudian terdengar isak kan kecil di balik punggung Haris.


Haris membalas peluk kan gadis nya dengan erat, bahkan sangat erat.


"Seharus nya yang bilang gitu aku." Ucap Cindi di tengah kegiatan menangis nya.


"Bilang apa? Yang mana?." Tanya Haris bingung.


"Harus nya aku yang bilang tetap lah di sisi ku jangan pernah ninggalin aku." Kata Cindi dengan suara serak nya.


"Aku juga akan melakukan apa yang Bang Haris pinta ke aku." Balas Cindi juga penuh kemantapan di hati nya.


Tiba-tiba di saat suasana yang mesra dan penuh ke haruan itu perut Cindi menghancur kan semua nya.


'Krukkk... kruk... .'


Cindi makin mengerat kan peluk kan pada Haris, Haris yang mendengar perut gadis nya berbunyi kontan saja dia terkekeh pelan.


"Hehehe... sok sok an mau mogok makan, perut nya dah bunyi tuh, laper banget kaya nya." Ejek Haris yang membuat Cindi malu nya sampai ke ubun-ubun.


"Bang Harisss... ." Rengek manja Cindi di punggung Haris.


"Hahaha... ok ok dah, sekarang ayo makan setelah itu kita siap-siap sholat ashar." Ajak Haris pada gadis nya ini.


"Aku pengen makan-." Belum selesai Cindi berbicara mengutara kan ke inginan nya, Haris sudah memotong nya.


"Pengen makan di suapin aku kan?." Tebak Haris yang sekali lagi semua perkataan nya benar.


"Huh! Kepala pelayan Zia bocor banget sih?." Rungut Cindi sambil melepas kan peluk kan nya dari badan kekar Haris.


Haris terkekeh pelan melihat Cindi cemberut begitu, gadis itu turun dari ranjang yang tentu saja membuat Haris bertanya-tanya.


"Mau ke mana bih Baby?." Tanya Haris.


"Mau ke kamar mandi, ke napa? Mau ikut?." Tanya Cindi bercanda.


"Boleh kah?." Tanya Haris dengan mata berbinar senang.


"Dih?! Ngarep! Dalam mimpi aja!." Seru Cindi kemudian berjalan secepat kilat ke arah kamar mandi.


Sebelum masuk ke dalam, Cindi mengatai Haris.


"Dasar Bang Haris mesum!." Seru Cindi sambil mendengus kesal, kemudian dia pun masuk ke dalam kamar mandi.


Haris terkekeh pelan mendengar perkataan Cindi.


"Hehehe... aku kira in boleh ikut, udah seneng banget tadi padahal kaya terbang ke angkasa, eh... tau-tau di jatohin se keras-keras nya ke bumi, harapan hanya harapan memang." Ucap Haris sambil menggeleng-geleng kan kepala nya mengusir pikiran kotor di otak nya sendiri.


Setelah beberapa menit menunggu di atas ranjang sambil rebahan, Cindi keluar dari kamar mandi dan menghampiri Haris.


"Bang? Ayo turun, aku udah laper banget nih, sekalian nanti kita makan bareng kalo Bang Haris belum makan." Ucap Cindi sambil menarik-narik ke dua tangan Haris agar bangun dari posisi rebahan nya.


Dengan ogah-ogahan alias malas, Haris bangun dari rebahan nya, dia bangun hanya karena Cindi yang meminta, jika bukan gadis itu, dia akan lanjut tidur saja, malas rasa nya.


2 insan anak manusia itu turun ke dapur.


Sampai di dapur, Cindi membuka lemari penyimpanan makanan, di sana lauk pauk masih lengkap, Cindi mengeluar kan semua makanan dan memanas kan nya.


"Kenapa ngga manggil Bibi aja?." Tanya Haris ingin tahu jawaban Cindi.


"Kalo aku sendiri bisa melaku kan nya kenapa harus ngerepotin orang?." Jawaban yang Cindi beri kan membuat Haris tersenyum manis.


"Wah wah tenyata big Baby ku sangat mandiri." Puji Haris tulus dari hati nya.

__ADS_1


"Ya iya lah, aku tiap hari ya mandiri, mandi sendiri, masa mau di mandi in?." Balas Cindi ngawur.


"Hahaha... bukan itu maksud ku Baby? Tapi... kalo kamu mau di mandi in, aku siap loh mandi in kamu." Kata Haris sambil mengedip kan sebelah mata nya pada Cindi.


"Cih! Mimpi tuh jangan sore-sore Bang! Ngga baik!." Seloroh Cindi sambil menujuk kan wajah konyol nya saat mengata kan hal itu.


"Hahaha... kalo kita udah nikah-." Belum selesai Haris berucap, Cindi menyela nya.


"Jangan merencana kan masa depan yang masih belum tentu terjadi, apa-apa kalo di rencana in tuh biasa nya ngga jadi, alias batal! Jadi diam aja jangan bahas masa depan, kita bicara yang ada aja dulu, lagian yah, yang paling dekat dengan kita itu kematian, itu valid no debat!." Cetus Cindi yang di benar kan oleh Haris dengan angguk kan kepala nya.


"Ya udah deh jangan bahas masa depan, kita bahas yang ringan-ringan aja." Putus Haris yang di iya kan oleh Cindi.


"Bang? Itu yang tadi aku peluk Papa nya Abang kan?." Tanya Cindi memasti kan.


"Iya kenapa emang? Tampang penjahat yah? Jelek yah? Emang sih beliau tuh tampang penjahat, jelek lagi." Cetus Haris tanya-tanya sendiri, jawab-jawab sendiri.


'Tuk!.' Cindi memukul lengan Haris sedikit keras.


"Ashhh... Baby? Kenapa di pukul sih? Sakit tau." Sungut Haris kesal.


"Muka ganteng Bang Haris kalo bukan dapet dari Papa nya Bang Haris dapet dari mana? Nyuri punya orang? Jelas-jelas pahatan muka Papa Bang Haris tuh terbaik, Bang Haris nih copy an nya maka nya lebig ganteng." Kata Cindi terkesan membela Papa Haris.


Haris cemberut, dia cemburu karena Cindi membela Papa nya dari pada diri nya.


"Udah jangan bahas ke gantengan aku, aku ganteng dapet dari Mama lah, Mama aku kan cantik-cantik." Ucap Haris acuh.


"Cantik-cantik?." Beo Cindi tak paham maksud dari perkataan Haris?.


"Nanti aku cerita in, sekarang kamu kenapa tanya Papa aku?." Tanya Haris penasaran.


"Aku kira Papa nya Bang Haris jahat, ternyata engga, tapi kok nyuruh Bang Haris membalas kan dendam nya ke keluarga Bang Damar juga lain nya?." Tanya Cindi sambil memindah kan makanan yang baru selesai di panas kan ke dalam wadah.


Haris sudah mencerita kan kenapa dia mendekati Agnez dan Wulan, semua nya dia sudah cerita kan jadi saat dia dekat dengan Agnez atau Wulan, Cindi sudah tak cemburu lagi.


"Sudah lah jangan bahas Papa ku lagi Baby, kamu kalo manggil beliau terserah deh, mau manggil si tua bangka atau Om, atau Papa pun boleh lah, apa aja deh terserah." Kata Haris lagi-lagi dia acuh tak acuh.


"Bang Haris ngga baik tau kaya gitu ke Papa nya, beliau kan yang membuat Bang Haris hadir di dunia ini, masa manggil nya ngga sopan gitu? Kalo aja Mama nya Bang Haris masih ada, pasti beliau bakal jewer telinga Kak Haris sampai mau patah rasa nya, kaya gini." Cindi menjewet telinga Haris sambil memutar nya.


"Aduhhh Cindi!!! Lepas Cindi!!! Iya aku ngga bakal manggil Papa kaya gitu, engga deh." Ucap Haris sambil merintih kesakitan dengan raut muka meringis-meringis ngga karuan.


"Hah! Manggil gitu lagi ke Papa nya, aku bakal laku in hal lebih kejam dari pada ini!." Peringat Cindi yang membuat Haris spontan mengangguk kan kepala nya tanda tak kan memanggil Papa nya dengan sebutan hal aneh-aneh.


1 menit kemudian, baru Cindi melepas jeweran nya. Bak orang yang tak memiliki dosa, Cindi duduk di meja makan sambil menghidang kan makanan.


Dia mengambil kan nasi serta lauk untuk Haris, kemudian baru dia mengambil kan untuk diri nya sendiri.


Haris makan dengan raut muka cemberut, dia kesal dengan Cindi.


Cindi yang mengetahui bahwa pria nya tengah kesal, dia terkekeh pelan.


Kemudian Cindi beralih tempat duduk, yang tadi nya dia duduk di depan Haris, kini dia duduk di samping Haris.


Dia mendekat ke arah telinga kanan yang habis di jewer oleh tangan nya, lalu mengelus telinga Haris dengan lembut.


"Jangan marah lagi yah Bang Haris yang ganteng, makin ganteng aja kalo lagi marah." Rayu Cindi dengan senyuman menggoda nya.


Pipi Haris sampai pada telinga Haris memerah malu mendengar rayu an Cindi.


"Dah! Jangan rayu-rayu kaya gitu sini makan, kata nya mau aku suapin!." Kata Haris mengalih kan topik pembicaraa.


Cindi yang paham terkekeh pelan sambil menaik turunkan alisnya menggoda Haris.


"Cieee Bang Haris ngeblushhh, jangan malu Bang, pipimu merah tu loh, hahahah... ." Tawa Cindi pecah diseluruh penjuru ruang makan.


"Udah!." Seru Haris yang makin malu di buat Cindi.


"Cieee... ." Cindi masih saja menggoda Haris meskipun didalam mulutnya penuh makanan.


"Makan yang bener Baby, kita belum sholat ashar nih, jangan banyak ngomong, ngga baik makan sama ngomong entar keselek!." Nasihat panjang yang keluar dari bibir manis Haris.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2