
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Tapi kalo Agnez sering-sering tidur di sini... ndak bakal jadi omongan orang to?." Tanya Ibu Dewi khawatir.
"Tenang aja Bu Dewi, kita kan tidur di sini kan barengan alias rame-rame, jadi ngga bakal ada yang ngomongin." Cetus Mama Tika menjelas kan.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Kembali para tetuah menatap drama Angkasa dan Agnez.
Agnez menatap ke sana ke mari sambil menggaruk belakang kepala nya yang tak gatal.
"Masih ngantuk kah?." Tanya Angkasa lembut.
Agnez menggeleng kan kepala nya pelan.
"Sekarang jam berapa?." Tanya Agnez masih dengan suara serak nya.
Mata Angkasa menatap ke arah dinding di mana jam dinding menempel.
"Sekarang... jam... setengah 10 pagi." Jawab Angkasa yang mata nya langsung menatap Agnez lagi.
Agnez tak menjawab dan tak bertanya apa pun lagi pada Angkasa.
Dia berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah dapur.
"Mau ke mana little girl?." Tanya Angkasa.
"Ke kamar mandi cuci muka biar seger." Jawab singkat Agnez.
"Mau aku temenin?." Tawar Angkasa.
Yang langsung di jawab dengan lambaian tangan tanda tak mau.
Selang beberapa menit Agnez bangun, Wulan, Kristal, dan Kak Rain pun bangun.
Kontan saja Damar, Pamungkas, dan Albhi mendekat pada gadis masing-masing.
"Hadehhh... kalau soal cewek nya masing-masing semua di lupain." Celutuk Mami Alfi dengan malas.
"Sudah biarin, dulu kita juga gitu, bahkan lebih parah." Cetus Bunda Raina mengingat masa muda nya dulu.
"Eh? Udah makin siang nih, ayo kita liat rumah yang akan di beli." Ajak Daddy Rafka sambil menatap jam di dinding ruang santai ini.
"Ini anak-anak di ajak juga kah?." Tanya Mommy Za.
"Harus lah, biar Kak Rain dan Agnez tau." Cetus Mama Tika.
"Ayo ini para gadis cuci muka sana, ayo ikut ke suatu tempat, ada yang mau di perlihat kan." Suruh Bunda Raina pada 3 gadis itu.
Sedang kan Agnez baru kembali dari kamar mandi dengan wajah segar dan ada sedikit tetesan air bekas cuci muka tadi.
"Nez? Kamu baru bangun juga kah?." Tanya Kak Rain.
"He em, udah sana Mbak-mbak pergi ke kamar mandi." Kata Agnez yang di angguki oleh 3 gadis ini.
Setelah menunggu para gadis selesai cuci muka kini semua orang keluar rumah hendak menuju rumah yang ingin di tunjuk kan para tetuah.
"Kita mau ke mana to Mas?." Tanya Agnez pada Angkasa.
"Entah lah, aku juga ngga tau little girl." Ucap Angkasa sambil mengedik kan bahu nya tanda tak tau.
Para muda-muda berjalan di belakang para tetuah dengan tangan nya bergandengan.
Beberapa menit berjalan, akhir nya pun sampai di lokasi rumah di jual yang akan di beli oleh Orang tua Agnez dan Kak Rain.
"Ini rumah nya." Kata Papa Zaidan sambil menunjuk dua rumah yang ada tulisan 'Di Jual' di pagar rumah nya.
"Rumah siapa ini Mas?." Tanya Agnez pada Angkasa, pandangan nya tak menatap Angkasa melain kan fokus pada dua rumah di depan nya ini.
Angkasa menatap Papa Zaidan dan Orang tua Agnez bermaksud meminta ijin untuk memberi tau semu nya.
Papa Zaidan dan ke dua orang tua Agnez mengangguk kan kepala tanda mengijin kan.
"Little girl? Kamu kalau pindah ke sini mau kan?." Tanya Angkasa basa basi.
"Ya mau lah, Agnez bisa ketemu sama Mbak Wulan dan Mbak Kristal sering-sering, apa lagi Mama Tika, wah bakal seru buanget pasti." Jawaban Agnez membuat Angkasa menghela nafas lelah, tapi dia senang.
"Kenapa emang?." Tanya Agnez heran.
"Jadi kamu mau pindah ke sini bukan karena aku?." Tanya Angkasa dengan wajah sendu.
"Ya salah satu nya itu juga sih." Gumam Agnez polos, Angkasa kontan saja langsung menerbit kan senyum senang nya, dia sampai memeluk Agnez erat dari samping.
Saat hendak mencium pelipis Agnez, Angkasa sadar dan langsung menjauh kan tubuh nya dari Agnez.
'Sadar Woy!.' Pekik Angkasa pada diri nya sendiri.
Para tetuah dan lain nya terkekeh geli melihat tingkah Angkasa yang aneh itu.
"Jadi? Maksud Mas Angkasa tanya gitu an kenapa to?." Agnez ingin kejelasan dari maksud pertanyaan Angkasa.
"Kamu bakal pindah ke sini little girl, di salah satu rumah ini." Ungkap Angkasa senang.
Binaran bahagia terpancar jelas di mata Agnez.
Tapi... .
"Mas Angkasa ndak bohongin aku to?." Tanya Agnez sambil menyipit kan mata nya tajam, Agnez curiga ini hanya omong kosong.
"Ngapain aku bohongin kamu? Coba tanya sama Ibu dan Ayah kamu, atau coba tanya Mama Tika sama Papa Zaidan, aku beneran ndak bohong." Angkasa meyakin kan gadis nya sambil mengacung kan dua jari tangan nya membentuk huruf V.
Pandangan Agnez mengarah pada ke dua orang tua nya dan orang tua Angkasa.
4 orang paruh baya itu melempar senyuman manis kemudian mengangguk meng iya kan omongan Angkasa.
Senyum Agnez terbit, dia menatap Angkasa senang.
Angkasa sudah bersiap untuk memeluk Agnez, tapi gadis itu malah berlari ke arah ke dua orang tau nya dan memeluk mereka erat.
Senyum Angkasa luntur seketika.
"Kira in aku yang bakal di peluk, ternyata oh ternyata, Allah!!." Jerit Angkasa dengan suara pelan.
"Hahahaha... sabar bro." Ucap Damar, Albhi, dan Pamungkas.
Para tetuah juga Wulan, Kristal, dan Kak Rain juga ikut tertawa dengan kelakuan Angkasa.
"Tunggu! Ini kan rumah nya buat 2 orang, satu nya siapa? Apa... ." Ucapan Kristal menggantung mata nya menatap Kak Rain.
Kak Rain yang paham maksud nya langsung mengangguk kan kepala meng iya kan.
__ADS_1
"Kyaaa!!!." Jerita Agnez, Wulan, dan Kristal bersamaan.
3 gadis itu memeluk Kak Rain erat.
Agnez yang tadi berada dalam peluk kan Mama Tika dan Papa Zaidan pun langsung berlari ke arah Kak Rain.
"Uhh senang nya berpeluk kan, boleh ikut ngga sih?." Tanya Pamungkas yang baper.
'Plakkk!.' 3 pukulan keras dari 3 tangan yang bertenaga di lengan Pamungkas terdengar.
"Ashhh, apa an sih kalian?! Main pukul-pukul aja! Sakit tau!." Seru Pamungkas tak terima.
Pelaku dari pukulan itu memasang wajah bodo amat yang membuat Pamungkas makin jengkel.
Siapa lagi memang pelaku nya kalau bukan Damar, Albhi, dan Angkasa.
"Jangan baperan, pake mau peluk segala, kagak ikhlas aku nya!." Papar Angkasa dengan suara dingin.
"Hmmm... kita pun gitu! Kagak ikhlas sama sekali!." Timpal Damar yang di angguki Albhi.
"Hehehe... Gua juga bercanda kali." Balas Pamungkas sambil cengengesan, dia ngomong dengan suara kecil agar para gadis dan tetuah tak mendengar nya.
"Mari sudahi acara berpeluk kan nya dan mari kita masuk ke dalam buat liat-liat isi rumah nya." Ajak Mama Tika pada para gadis yang masih berpeluk kan manja.
4 gadis itu pun melepas peluk kan dan mengikuti parah tetuah yang masuk lebih dulu ke dalam rumah.
Saat setelah masuk ke dalam rumah.
"Loh? Ini udah di kosongin? Tuan rumah nya udah pergi?." Tanya Ibu Agnez.
"Ya gini deh, ke adaan nya." Jawaban Mama Tika dan ke adaan dalam rumah sudah membuat Ibu Agnez paham.
"Gimana kalau besok saja pindahan nya?." Kata Bunda Raina.
"Be... besok Bun? Tapi kan rumah Rain di sana belum di jual, terus ini juga belum di beli kan? Dan lagi... buat acara syukuran kan ngga bisa cepet, harus banyak proses nya dulu, gimana kalau hari kamis ini?." Tawar Kak Rain memberi ide.
"Lama dong... ." Keluh Pamungkas dengan memasang wajah lesu nya.
Kak Rain dan lain nya terkekeh pelan melihat ekspresi wajah Pamungkas.
"Kenapa hari kamis? Kenapa ngga rabu aja? Rabu aja deh." Pamungkas membuat penawaran dengan wajah penuh harap.
Semua orang berpikir keras.
"Ok juga tuh, kita setuju." Kata para tetuah kompak.
Hanya Kak Rain di sini yang belum menjawab setuju atau engga nya.
"Kak Rain? Kenapa? Ngga setuju kah?." Tanya Ayah Rafa sambil langkah kaki mya mendekat kepada Kak Rain.
Tangan besar Ayah Rafa mengelus pucuk kepala Kak Rain dengan lembut penuh dengan kasih sayang seorang Ayah.
"Memang nya kalau hari rabu rumah Rain sudah terjual Yah? Jual rumah kan ngga semudah seperti apa yang kita pikir." Kata Kak Rain bertanya pada Ayah Rafa.
Ayah Rafa menatap Kak Rain dengan mata sayu nya, dia melebar kan bibir nya tersenyum sangat lebar dan manis.
"Rain percaya sama Ayah ngga?." Tanya Ayah Rafa sambil masih tersenyum.
Tanpa kata Kak Rain menjawab dengan angguk kan kepala dengan sangat polos nya.
"Kalau Kak Rain percaya sama Ayah, biarin Ayah yang ngurus semua hal tentang Kak Rain, setuju?." Ujar Ayah Rafa lembut.
Kak Rain diam tak bersuara, dia menatap mata Ayah Rafa yang penuh keyakinan juga ke tulusan itu.
Kemudian... .
'Khemmmm... huuffhh... .' Kak Rain menarik nafas dan menghembus kan nya perlahan.
"Iya udah Rain percaya kan semua nya ke Ayah." Kata Kak Rain mantab dengan pandangan yakin.
"Ok kalau gitu kita sepakat bahwa rabu kita syukuran buat pindahan rumah sekalian tempatin tumah ini." Putus Ayah Rafa yang di angguki semua orang.
"Ini kan ada dua rumah, Kak Rain sama Agnez se keluarga pilih deh mau yang mana, tapi kaya nya rumah di sini semua nya sama deh dalam nya, paling yang beda in cuma taman sama letak nya doang." Kata Mommy Za.
"Ya udah, Rain pilih rumah yang satu aja deh Yah." Ucap Kak Rain pada Ayah Rafa.
"Yah ngga papa kok Bu Raina, di sini juga bagus." Balas Pak Cakra yang di angguki Bu Dewi sang istri dan juga Agnez.
Lama melihat-lihat rumah pukul 10.30 siang semua orang pun memutus kan kembali ke rumah Mommy Za dan Daddy Rafka yang hanya jarak 9 rumah dari calon rumah yang akan di beli oleh keluarga Agnez dan juga Kak Rain.
Di tengah perjalanan, ada sound sistem milik tetangga yang memperdengar kan lagu melow.
Kak Rain yang berjalan di sebelah Pamungkas tau dan sedikit hafal lagu itu, dia ikut bernyanyi.
"🎶Kisah cinta engkau dan aku
Berakhir dengan air mata
Bukan salah mu yang tak setia
Namun diri ku yang tak berpunya
Kekasih terima lah
Pilihan orang tua mu
Diri mu tercipata bukan untuk ku
Tak mampu ku lalui
Dinding pembatas cinta
Biar kan ku pergi untuk selama nya
Maaf kan lah diri ku.🎶" Suara merdu Kak Rain membuat semua para tetuah menoleh dengan senyuman manis nya.
Selesai Kak Rain bernyanyi Pamungkas bukan nya memberi kan pujian malah gerutuan yang ia ucap kan.
"Ini kenapa yang punya salon milih lagu melow sih?! Pegang telinga denger nya, suara nya emang bagus, tapi yah jangan bawa lagu melow gini dong!." Kata Pamungkas berkomentar.
Semua orang terkekeh pelan mendengar omongan Pamungkas tersebut terutama Kak Rain, dia sampai mencubit ke dua pipi Pamungkas karena gemas.
"Lagu nya emang gitu Kas, rata-rata penyanyi ini bawa lagu nya melow-melow." Kata Kak Rain memberi pengertian.
Pamungkas yang pipi nya di cubit melepas tangan Kak Rain lembut dan meletak kan nya di pipi nya, ia ingin merasa kan lembut nya tangan Kak Rain.
Tapi karena badan Kak Rain lebih pendek dari Pamungkas, terpaksa pemuda berusia hendak menginjak 17 tahun menunduk kan tubuh nya mensejajar kan tinggi nya dengan gadis nya.
Tengah asik-asik nya Pamungkas menikmati lembut nya tangan Kak Rain Kristal, Wulan, dan Agnez mengejut kan Pamungkas.
"Woy?! Inget tempat?!." Pekik ke tiga gadis itu tepat di telinga Pamungkas.
"Allah!!." Pekik Kak Pamungkas kesal.
"Hahaha... mesra-mesra an juga harus tau tempat Pamungkas." Kata Bunda Raina dengan tawa kecil nya.
"Tolong cepat kembali ke rumah!." Perintah Albhi dengan suara dingin, datar, dan tegas nya yang membuat semua pandangan menatap pada nya.
"Ada apa Bang?." Tanya Wulan heran.
"Lanlan? Pulang sekarang, jangan di sini, ajak lain nya, tunggu Bang Albhi pulang yah." Ucap Albhi sangat lembut dengan senyum manis nya.
Semua orang kecuali para gadis yang memang tak paham situasi mengangguk kan kepala melaksana kan perintah Albhi.
"Gih Kak Rain, Agnez, Wulan, sama Kristal pulang, tunggu kita." Suruh Pamungkas pada para gadis dengan suara lembut.
"Mommy Za? Daddy Rafka? Tolong bawa mereka pulang." Tegas Albhi meminta.
Para tetuah mengangguk kan kepala dan menggiring para gadis pulang.
Agnez melambai kan tangan pada Angkasa, dan tentu saja Angkasa membalas nya.
Lalu para tetuah dan semua gadis hilang di telan belok kan.
Dan... .
__ADS_1
"Gadis yang manis dan penuh keceriaan." Kata seseorang dari belakang Angkasa, Damar, Albhi, dan Pamungkas.
4 pria itu tau siapa pemilik suara itu.
Mereka berbalik dengan wajah terselubung penuh aura dingin. Tak ada senyum di bibir 4 pemuda itu.
Sedang kan seseorang yang menyapa 4 pria itu tersenyum dengan ekspresi licik nya, di tambah sang asisten menyertai.
Suasana komplek yang tadi ramai mendadak sepi dan hanya ada 6 orang ini.
Memang waktu mau menginjak dzuhur, maka dari itu sepi.
"Kenapa Lo balik?." Tanya Angkasa dingin.
"Mudah dan gampang jawaban, yang pertama Gua pengen bales dendam, yang ke dua... tentu aja rebut Wulan dari Lu." Kata seseorang itu menunjuk Albhi.
"Jangan harap bisa nyentuh gadis-gadis kita, siapa pun itu!." Seru Albhi penuh penekanan di setiap kata nya.
Seseorang itu tertawa kecil, tertawa mengejek maksud nya.
"Kaya nya sasaran Gua ganti deh, kalian pasti tau kan, kalo Gua cowok yang suka sama hal-hal yang imut? Ada tuh kaya nya tadi, wahh... asli wajah imut banget tadi, iya kan Dim? Penglihatan ku benar kan?." Tanya Seseorang itu pada asisten nya yang bernama Dimas.
"Haris!!!!!! Jaga mulut Lo! Jangan sampai Gua buat ngga bisa ngomong lagi!!!." Teriak Angkasa geram.
Dia emosi saat mendengar nama gadis nya di sebut dengan mulut bajingan Haris.
Angkasa sudah bersiap meninju Haris, tapi Albhi, Damar, dan Pamungkas menghenti kan gerak kan Angkasa.
"Lepasin Gua!! Dia harus di kasih pelajaran biar bisa jaga mulut nya!." Pekik Angkasa keras sambil menatap tajam Haris.
Yah... seseorang itu adalah Haris, dia datang untuk menyapa sekaligus mengacau hari-hari 8 serangkai.
Mendengar teriakan Angkasa yang keras, Haris tertawa sedikit terbahak di tempat nya.
"Wah wah wah wahh... ck ck ck... jadi cewek manis itu punya Lo Angkasa? Seru nih, tapi Gua bingung, pilih yang mana yah? Dia? Atau Wulan? Dimas? Menurut Lo yang mana yanh cocok buat Gua?." Tanya Haris sengaja agar menimbul kan emosi pada Albhi dan Damar.
"Jangan coba-coba sentuh mereka semua Haris!!!." Teriak Damar tajam.
"Sumpah demi Allah! Gua kagak ikhlas Wulan sama Lo!." Seru Damar lagi dengan sinis.
"Yahhhh... jangan gitu dong Dam, Lo ngga baik tau kaya gitu, masa ngga mau sih kalo Wulan sama Gua? Lagian Gua sama Albhi juga sama, ya ngga sih?." Haris berkata dengan enteng nya bak orang tak punya dosa.
"Najis Gua di sama-sama in sama Lo!!." Teriak Albhi tak suka.
"Ck! Kita emang sama kok, sama-sama dari kalangan orang berada, Gua janji Wulan ngga akan kekurangan apa pun sama Gua, percaya deh." Kata Haris dengan percaya diri nya.
"Sekali pun Lo kaya sampai dunia nih Lo beli, Gua ngga akan ngerustuin Lo sama Wulan!." Ujar Damar dengan tajam.
"Hahaha... hadehhh... calon Kakak ipar Gua... keras kepala banget yah, hahahah... ouh iya Gua ke sini juga mau mgingetin, kalo ke mana pun kalian pindahin orang-orang tersayang kalian, tetep aja, Gua ngga akan berenti ngusik kalian." Haris mengata kan dengan wajah konyol nya.
"Pergi sekarang Lo anjir!!!." Usir Angkasa keras.
"Jangan galak-galak sama tami napa." Haris masih menggoda 4 pria itu.
"Pergi Lo Bang Sat! Dan Lo denger yah!! Kita semua bakal jaga in keluarga dan orang-orang tersayang kita, Lo nyentuh mereka! Kita bakal tebas habis leher Lo!." Pekik Angkasa dengan emosi meluap-luap.
"Huhhhh... takut... mau tebas leher Gua? Hahaha... Gua tunggu!." Setelah mengata kan itu dengan ekspresi mengejek pada 4 pria itu, dia melangkah pergi menjauh dari 4 pria itu dan masuk ke dalam mobil terus meluncur meninggal kan 4 pria yang masih di landa emosi itu.
Setelah Haris hilang di telan jalan. Damar, Albhi, dan Pamungkas melepas cengkraman pertahanan mereka yang di buat untuk mengendali kan emosi Angkasa.
"Kita harus ekstra hati-hati, inceran dia dua di sini, Wulan dan Agnez, kita harus waspada, terutama Lo Angkasa, Agnez tuh gadis hiper aktif, jangan pernah kehilangan jejak dia." Ujar Damar memperingat kan.
"Ayo balik, Gua akan tenang kalau udah liat Agnez, Gus butuh Agnez." Celutuk Angkasa masih dengan nafas memburu nya menahan emosi.
4 pria itu pun meluncur pulang ke rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
Angkasa dan Albhi berlari untuk mempercepat sampai di rumah.
Sedang kan Pamungkas dan Damar santai, mereka berdua jalan kaki biasa tak mau lelah.
"Heran Gua sama Angkasa, di sini yang tempramen siapa sih? Angkasa atau Albhi? Kenapa tadi Angkasa marah nya keras banget sedang kan Albhi engga?." Tanya Pamungkas terheran-heran.
"Albhi tuh tempramen nya emang akut, Gua tau tadi dia berusaha banget buat tahan emosi nya, dia sampai mengetat kan rahang nya kuat banget, ketebak udah dia marah nya ngga main-main, tapi Albhi tadi paham kalo Haris cuma ganggu in kita aja, jadi dia ngga mau hilang tenaga buat Haris hari ini, ngga tau juga besok, lusa atau ke depan nya, doa in aja sabar nya Albhi masih banyak." Cetus Damar sambil pandangan nya lurus ke depan.
"Aamiin semoga sabar nya Albhi se tebal tembok." Pamungkas meng aamiin kan doa nya sendiri.
"Aamiin ya Allah!." Pekik Damar keras.
Sampai di rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
"Little girl?!." Teriak Angkasa menggemah ke seluruh rumah.
"Lanlan?!." Pekik Albhi tak kalah keras.
Semua orang dalam ruang santai terkejut dengan teriak kan dua pemuda itu langsung menoleh ke arah masuk ruang santai dan... .
'Grep!.'
Angkasa memeluk Agnez erat, begitu pun Albhi, dia memeluk Wulan dengan peluk kan tak kalah erat.
Agnez dan Wulan yang tau bahwa pria-pria meraka butuh peluk kan membalas peluk kan Angkasa dan Albhi.
Para tetuah membiar kan saja mereka berpeluk kan.
"Little girl? Are you okey kan?." Tanya Angkasa khawatir, tangan nya menangkup pipi cubby Agnez.
"Aku ndak papa, harus nya yang tanya kan Agnez, Mas Angkasa kenapa? Ndak papa to?." Tanya Agnez khawatir.
Angkasa tak menjawab, tapi Angkasa tersenyum senang karena di khawatir kan oleh Agnez.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.