Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Sixty


__ADS_3

Pagi yang indah dan cerah ini 6 serangkai telah siap pergi ke sekolah dengan mobil masing-masing.


"Pagi Za!!." Sapa Akifa pada Zarine dengan berteriak heboh.


"Pagi juga Fa!!." Jawab Zarine antusias.


"Good morning girl's!!." Itu suara Alfi yang menyapa.


"Morning Al!!." Jawab Zarine dan Akifa kompak.


Dari arah dalam rumah Zarine, Rafka keluar dengan sibuk memakai jam tangannya.


"Udah siap Yang?, yakin ngga ada yang ketinggalan?." Tanya Rafka setelah sampai di hadapan Zarine.


"Iya udah siap semua." Jawab Zarine.


"Yohhh, good morning Raf, Za, Al, Bhi!!!." Kehebohan istri dan suami sama, itu suara Abdiel menyapa dari teras rumahnya.


"Morning Diel." Ke 4 orang itu kompak menjawab.


"Ayo kita berangkat." Ajak Abdiel pada ke 4 sahabatnya itu.


"Ayo!." Rafka dan Abhi mengatakan itu penuh semangat.


Setelah berbasa basi pagi di teras rumah, 6 serangkai pun berangkat ke sekolah.


Pukul 06.40 mereka sampai di sekolah.


Hari ini adalah hari kamis, harinya kelas 12 IPS 1 mengikuti pelajaran penjas di kelas.


Dan pelajaran kali ini adalah terakhir untuk mereka.


Karena mulai minggu depan mereka akan di sibuk kan dengan kegiatan simulasi untuk ujian yang akan datang.


"Kita nanti bakal pelajari apa di lapangan?." Tanya Akifa yang berjalan di samping Abdiel dengan mengapit lengan sang suami.


"Katanya sih hari ini kita bakal penilaian olah raga voli." Jawab Alfi disebelah Akifa.


"Voli?." Beo Zarine.


"Kenapa?." Tanga Rafka pada istrinya.


"Ngga papa." Jawab Zarine dengan tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.


Cukup lama berjalan ke arah kelas, mereka ber 6 pun sampai.


"Kita olah raga sendiri atau digabung sama kelas lain nih?." Tanya tiba-tiba Akifa.


"Digabung sama anak kelas 10 IPA 3, paling sih, emang kenapa sih Yang?." Tanya Abdiel heran.


"10 IPA 3?." Beo Akifa dengan pandangan melamun.


Alfi mengernyit kan alis ikut memandang lurus ke depan dengan pandangan melamun.


Mereka berdua seperti pernah mendengar kelas itu dari seseorang.


"Ririn." Gumam Alfi.


"Varah." Celutuk Akifa.


Lalu 2 cewek itu memandang suami masing-masing dengan pandangan menajam dan menusuk.


"A... a... apa sih?." Tanya gugup Abdiel di tatap seperti itu oleh sang istri.


"Kalian tahu ngga itu kelas siapa?." Tanya Alfi pada 2 cowok itu.


"Engga, emang kelas siapa?." Tanya balik Abhi dengan wajah setenang mungkin, karena sebenarnya Abhi deg-deg an melihat wajah Alfi yang sedikit menyeramkan (Abhi lebay🥵).


"Bener ngga tau?." Tanya Akifa.


"Engga." Singkat Abdiel dan Abhi dengan menggelengkan kepala kompak.


"Itu kelasnya Ririn sama Varah." Itu Zarine bersuara dengan permintaan Alfi lewat matanya.


Akifa dan Alfi enggan menyebut nama 2 adik kelas itu, bukan benci, hanya malas.


"Ouh." Respon Abdiel dan Abhi cuek bebek dan malah terkesan tak peduli.


"Singkat banget." Kata Akifa heran yang di angguki Alfi.


"Emang apa pentingnya buat kita?." Tanya Abdiel dan Abhi kompak.


"Mungkin aja nanti-." Perkataan Alfi terpotong.


"Ngga ada kaya gitu Yang, udah ngga usah mikir aneh-aneh, ngga guna tau." Sela Abhi membungkam mulut Alfi dengan telapak tangannya.


Abdiel tak menanggapi apa-apa dia hanya memeluk Akifa erat dan memejamkan matanya.


Akifa paham kalo sikap Abdiel sudah seperti ini.


Itu menandakan Abdiel tidak mau membahasnya dan menyuruh Akifa untuk tenang.


"Kalian tau dari mana kalo itu kelas 2 cewek kemarin?." Tanya Abhi.


"Dari calonnya Bang Idan." Jawan Alfi.


"Tika tau dari siapa?." Tanya Abdiel.


Ya seseorang yang memberitahu letak kelas Varah dan Ririn pada Akifa, Alfi, juga Zarine adalah Tika.


Akifa mengangkat bahunya pertanda tak tahu pada jawaban pertanyaan Suaminya itu.


'Ring... ring... ring... .' Bel tanda masuk berbunyi.


Kelas 12 IPS 1 masuk ke dalan kelas untuk di absen terlebih dahulu dan kemudian baru keluar menuju lapangan voli.


Benar saja, di lapangan sudah ada anak kelas 10 IPA 3 berkumpul.


Akifa dan Alfi terus saja menempel pada suami masing-masing.


Mereka berdua ingin dua adik kelas mereka yang sempat tertarik pada Abdiel dan Abhi tau, bahwa 2 cowok itu sudah ada yang punya.


Sedangkan Abdiel dan Abhi senang dengan sikap cemburu istri mereka masing-masing.


2 cowok itu tidak ada rasa risih atau keberatan.


Di pojok agak jauh dari tempat kelas 12 IPS 1 berdiri khusunya 6 serangkai.


3 cewek berdiri memandang 6 serangkai.


'Khemmm, huuffffh.'


3 cewek itu menghela nafas lelah.


"Malu bat Gua ketemu mereka." Kata Varah.


"Gua juga." Timpal Ririn.


Satu cewek lainnya hanya diam memandang ke arah Rafka yang menggandeng tangan Zarine.


"Untung Gua ngga kaya kalian yang berbuat di luar nalar." Kata Sabita yang posisinya ada di tengah-tengah.


Sabita itu tertarik dengan Rafka.


Saat dia akan mengungkapkan isi hatinya pada Rafka seseorang memperingatkan nya agar tak berbuat hal konyol itu yang membuat dia malu sendiri nanti.


"Hehehe, Kak Tika emang the best lah." Puji Sabita.


Yup, benar, seseorang yang di maksud oleh Sabita itu adalah Tika.


Tika memberi tahu Sabita tentang Rafka dan Zarine yang berpacaran sudah 1 tahun lamanya.


Awalnya Sabita ingin melanjutkan niatnya meski sudah tau kebenarannya, tapi Tika malah makin sering menasehatinya agar tak mengganggu hubungan kakak kelasnya itu, dan saat Sabita ada di kantin, dia melihat sendiri bagaimana Rafka bersikap pada Zarine.


Lalu berhari-hari Sabita berpikir, dia memutuskan untuk menuruti Tika untuk menghilang rasanya pada Rafka.


Karena jika Sabita nekat, dia yang bakal malu sendiri.


Sebelum itu terjadi, dia memilih untuk tak menjadi pelakor.


Ok kembali ke 3 cewek di pojok an dengan menatap 6 serangkai.


"Kalian minta maaf aja sana sama Kak Alfi dan Kak Akifa." Suruh Sabita pada 2 temannya.


"Malu Gua." Tolak Ririn.


"Kak Tika jahat bat sih ngga ngasih tau kita dari awal kalo mereka ber 6 itu pasangan." Gurutu Varah merutuki Tika.


"Lah?, kok malah Kak Tika yang salah?." Tanya heran Sabita.


"Dia aja ingetin Lu, masa ke kita engga?!." Sungut Ririn.


"Lu pada sendiri kagak tanya sama Kak Tika, dan lagi, kalian berdua pinter bat kalo nyembunyi in sesuatu dari orang biar ngga ketahuan, kalo udah malu aja tetangganya di salahin, dasar aneh." Dengus Sabita.


'Huuffffh.' Hembusan nafas lelah terdengar dari Varah dan Ririn.


"Huuaaa." Teriak Ririn pelan.


'Prit... prit... .' Peluit Pak Billy terdengar memecah acara ngegosip sebagian orang.


"Ayo semuanya membentuk barisan, olah raga penilaian volinya akan segera kita mulai!!!." Teriak Pak Billy menginstruksikan kelas 12 IPS 1 dan 10 IPA 3 berkumpul membentuk barisan.


"Ok sebelum melakukan pemanasan, mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing, berdoa... mulai."


1 menit kemudian.


"Selesai, ayo kita mulai pemanasannya." Kata Pak Billy.


20 menit sudah pemanasan di lakukan, dan sekarang penilaian di mulai.


"Mari kita mulai, saya akan panggil menurut absen, di mulai dari kelas 10 dulu!." Seru Pak Billy.


30 jam sudah berlalu.


Penilaian untuk kelas 10 sudah selesai.


Kini giliran kelas 12 yang penilaian.


"Huuu, males bat, panas." Keluh Akifa.


"Udah sih Yang, jangan ngeluh nanti Pak Billy denger makin dijemur kita." Abdiel menangkan sang istri.


Penilaian untuk kelas 12 terjadi cukup lama.


Itu dikarenakan mereka semua banyak bercanda dari pada bekerja.


Pak Billy sudah jengah melihat tingkah mereka semua khusunya para cowok.


Dan olah raga pun selesai setelah 1 jam bermain.

__ADS_1


"Udah kalian boleh bubar, penilaian kalian selesai." Kata Pak Billy.


Beliau pergi terlebih dahulu setelah itu baru para murid.


6 serangkai belum beranjak dari lapangan bola voli itu, mereka masih duduk manis di atas rumput.


Mereka semua memejamkan mata dengan menengadah menghadap ke langit.


6 serangkai duduk di bawah pohon besar nan rindang, di sana mereka juga terhembus angin sepoi-sepoi yang menyejuk kan tubuh.


"Ya allah sejuk banget, hahhhhh." Akifa berucap dengan bersandar pada bahu Abdiel.


Tiba-tiba seseorang dari arah depan mereka menyapa.


"Kak?." Panggil seseorang itu.


Zarine membuka matanya melihat seseorang yang menyapa.


Zarine menatap Sabita seseorang yang memanggilnya dan teman lainnya tadi.


Lalu di belakang Sabita muncul 2 orang lagi.


Dia adalah Varah dan Ririn.


"Kalian bertiga ayo duduk sini." Ajak Zarine.


Mendengar perbincangan Zarine dengan seseorang membuat 5 orang di sampingnya membuka mata.


Akifa dan Alfi menatap Varah serta Ririn dengan pandangan datar, dingin dan menusuk, paket lengkap nan komplit udah😂.


"Ayo duduk." Ajak Zarine lagi.


"Duduk aja." Suara datar Alfi terdengar.


3 gadis itu duduk didepan 6 serangkai.


Diam.


Kata itulah yang mewakili orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu.


"Udah?, mau diam aja nih?." Tanya Zarine memecah keterdiaman orang-orang di dekatnya.


"Ouh iya maaf Kak." Kata Sabita.


Telihat oleh mata Zarine, Akifa, Alfi bahwa Sabita menyenggol lengan kedua temannya yang tak lain Varah dan Ririn.


Dia seperti mengode 'cepat katakan apa yang pengen kalian katakan' ya seperti itulah tebakan mereka bertiga.


Rafka, Abdiel, dan Abhi duduk tetap di tempatnya dengan masih memjamkan matanya.


3 cowok itu tak peduli dengan keadaan sekitar mereka.


Kembali lagi pada Ririn dan Varah.


"Ehem." Varah berdehem mengusir gugup.


"Kak?, aku... aku mau... ." Varah gugup mengatakan.


Terlihat oleh Zarine, Akifa, Alfi, Sabita melototkan matanya pertanda gemas, bibir Sabita juga menggumamkan kalimat 'cepetan elah' seperti itulah kira-kira.


"Kak?, disini aku mau minta maaf sama Kak Akifa karena udah lancang-." Perkataan Varah di sela oleh Akifa.


"Udah lah Gua udah lupa, Gua maklumi perbuatan Lo kemarin, hehehe, Lo tau dari mana kalo waktu itu Gua yang bales?." Tanya Akifa dengan cengengesan.


"Aku tau dari Kak Alex, katanya Kak Abdiel itu ngga pernah bales chat dari cewek, sekalipun bales pasti itu Kak Akifa." Terang Varah.


"Emmm, tau pas kapan itu?." Tanya Akifa lagi.


"Pas Kak Abdiel udah blokir, aku langsung tanya sama Kak Alex, dan dia jelasin kaya tadi, maafin aku Kak, aku beneran ngga tau, aku juga ngga tanya sama Kak Alex lebih dulu, jadi semua ini emang salah aku, maaf banget." Panjang Varah menjelaskan.


"Iya Gua ngga papa kok Var." Singkat Akifa dengan tersenyum sumringah.


Permintaan maaf dari Varah ke Akifa di tutup dengan berjabat tangan.


Setelah selesai, Varah dan Sabita menatap Ririn yang melamun menatap Alfi.


"Huts?!." Seru Sabita dengan menyenggol lengan Ririn.


Kontan saja, Ririn yang terkejut berbicara tanpa henti kepada Alfi.


"Kak Alfi?, Ririn minta maaf soal kemarin, Ririn ngga tau kalo... kalo Kak Ab-."


Alfi memandang Ririn tajam saat hendak menyebut nama Abhi.


Kegugupan Ririn bertambah.


"Jangan sebut nama." Bisik Sabita di telinga temanya ini.


"Ah ya, ma... ma... maksud aku, aku ngga tau kalo Kakak itu pacarnya Kak Alfi, beneran Kak dua rius aku ngga tau, ka... ka... kalo tau a... a... aku ngga bakal nglakuin hal kemarin." Panjang Ririn dengan nada gugup.


Suasana hening.


Jam istirahat akan datang dalam kurun waktu 10 menit lagi.


Suasana lapangan jelas saja sepi.


Wajah Alfi yang tadinya kaku, sekarang perlahan mulai melunak.


Dia tersenyum tipis menatap Ririn yang menunduk gugup karenanya.


"Angkat wajah Lo Rin." Suruh Alfi tenang.


"Denger, Gua udah maafin Lo kok, seharusnya Gua yang minta maaf, Gua keterlaluan sama Lo, hehehe maaf ya." Alfi mengucapkan kata maaf dengan terkekeh pelan dan mengangkat telapak tangannya di udara mengajak berjabat tangan Ririn.


Ririn ikut mengangkat tangannya dan terjadilah jabat tangan perdamaian.


Wajah Ririn pun perlahan dia angkat untuk menatap Alfi yang tersenyum manis.


"Iya Kak, aku sebenarnya ngga terlalu marah sama Kakak, soalnya semarah apapun Kakak, Kak Alfi masih menghargai kerja keras ku dengan ngga buang kue ku." Senyum Ririn terukir dengan senang di wajahnya.


"Tapi kalian bertiga, kalo suka sama orang sebaiknya cari tau dulu, dia udah punya belom, jangan bertindak yang buat kalian malu nantinya." Nasihat Akifa terdengar.


"Iya Kak siiap." Jawab Varah, Sabita, dan Ririn bersamaan.


"Ya udah kalo gitu kita bertiga permisi dulu Kak, makasih Kak, bye Kak." Pamit Sabita pada Zarine, Akifa, Alfi yang di jawab anggukan oleh ketiganya.


Sabita dan 2 teman lainnya berdiri kemudian berlari menjauh dengan melambaikan tangannya.


3 cewek yang masih duduk itu tersenyum melihat adik kelas mereka pergi.


"Hehehe, mereka lucu juga kalo lagi gugup." Kekeh Alfi pelan.


"Udah nih acara maaf-maafan nya?." Tanya Abhi tiba-tiba.


"Udah." Jawab Alfi.


"Kalo udah, ayo ke kelas, kita ganti baju, gerah nih." Ajak Abdiel dengan berdiri kemudian menarik lembut tangan Akifa.


"Ayo." Jawab Akifa.


6 serangkai berjalan meninggalkan lapangan dan menuju kelas.


-


-


-


Seperti hari-hari biasa, SMA Merdeka bubar pukul 15.30 setelah sholat Asyar berjamaah.


"Kita langsung pulang nih?, ngga mau main kemana gitu." Kata Akifa kepada 5 orang di depannya.


"Kamu mau main?." Tanya Zarine.


"Yaaaa, refresing gitu sebelum ujian." Jawab Akifa.


"Ayolah kita main, kemana nih yang deket tapi tetap nyenengin di hati." Alfi menyetujui pendapat Akifa untuk main.


6 orang yang bersandar di kap mobil masing-masing itu berpikir keras.


1 menit berpikir.


2 menit berpikir.


3 menit berpikir.


Lalu... .


"Pantai." Akifa.


"Taman kota." Zarine.


"Danau." Alfi.


Ketiga cewek cantik itu menyebutkan tempat berbeda tadi dengan bersamaan.


"Jangan pantai bosen." Kata Abhi pada pilihan Akifa.


"Jangan danau ngga ramai orang jualan di sana." Seru Abdiel pada pilihan Alfi.


"Jajanan aja pikirannya." Celutuk Abhi di sebelahnya.


"Hahaha." Tawa Abdiek pecah.


"Ya udah kita ke taman kota aja." Putus Alfi.


"Tapi kita pake seragam, pulang dulu aja lah kita?." Kata Zarine.


Rafka menatap sang istri.


Dia kemudian melepas jaket di tubuhnya dan memaikannya ke tubuh Zarine.


"See, masalah selesai, ayo berangkat." Ajak Rafka.


Abhi dan Abdiel melakukan hal yang sama kepada istri masing-masing.


"Terus kalian para cowok?." Tanya Akifa.


Abdiel membuka kancing baju nya satu persatu di ikuti oleh Abhi dan Rafka.


"Kyaaa!!, kalian ngapain sih buka baju." Pekik Akifa yang berusaha menutupi dada bidang sang suami, Zarine dan Alfi juga menutupi dada bidang suaminya.


"Kalian ngga malu apa?!." Seru Zarine pelan dengan menunduk malu, pipinya juga bersemu merah.


"Hahahaha, Yang, aku pake kaos, liat ini." Kata Rafka.


Zarine membuka matanya dan menatab tubuh tegap Rafka.


"Hahaha." Tawa pelan 3 cowok itu terdengar sangat renyah.

__ADS_1


"Tapi tetap aja malu di liatin lainnya." Sungut Zarine dengan menunduk.


"Tempat parkir udah sepi Yang, di sini cuma ada kita ber 6 doang." Jawab Rafka.


Zarine, Akifa, Alfi menatap sekitar mereka.


"Loh?!, emang ini udah jam berapa?." Tanya Alfi.


"Ini udah jam 4 kurang 15 menit." Jawab Abhi.


"Ayo berangkat, keburu senja nanti." Ajak Abdiel.


6 serangkai masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan gedung SMA Merdeka.


Hanya membutuhkan waktu 20 menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Para cewek antusias turun dan berlari menuju taman kota.


"Jatohnya kek kita lagi ngrawat balita yak, hahaha." Tawa Abdiel pecah saat melihat keantusiasan 3 cewek yang sedang berlari kesana kemari.


Rafka, Abhi, dan Abdiel menghampiri ikut duduk di bangku dekat orang tercinta mereka masing-masing.


Zarine dengan 2 cewek lainnya memakan jajanan yang mereka beli tadi.


"Wish, enak nih kayanya, bagi dong Yang." Minta Abdiel pada Akifa.


"Beli sendiri." Jawab Akifa dengan delikan mata lebar ke arah Abdiel.


Abdiel terkekeh melihat sikap sang istri yang menggemaskan.


Selesai memakan jajanan yang ada di tangan mereka.


6 serangkai kembali jajan jajanan yang ada di taman kota itu.


Bukan 6 serangkai sebenarnya yang jajan, melaikan hanya 3 cewek dan yang membayar para cowok.


Benar kata Abdiel, mereka serasa menemani balita bermain, tapi Rafka, Abdiel, dan Abhi mengikuti dengan sabar tingkah ketiganya.


Pukul 5 sore, enam serangkai pulang kerumah masing-masing.


Di rumah Abhi Alfi.


Pasangan yang dingin di luar, tapi cukup romantis jika di dalam rumah.


Mereka berdua memang tidak menyukai jika hubungan mereka ter ekspose.


"Aku mandi dulu, setelah itu baru kamu ok?." Kata Alfi.


"Ya, gih mandi sana." Jawab Abhi.


Abhi merebahkan tubuhnya di sofa kamar.


Dia memejamkan matanya lelah.


15 menit berlalu Alfi pun keluar dari kamar mandi.


Dia menatap Abhi sang suami yang terkapar di sofa kemudian mengahampirinya.


"Yang?, bangun, mandi gih, ini udah mau maghrib." Alfi menggonjang tubuh Abhi.


Abhi bangun, pandangan pertama yang dia lihat adalah wajah segar Alfi.


Abhi mencium aroma strowbery dari rambut panjang Alfi.


Dia menarik tubuh Alfi dan menduduk kan Alfi di pangkuannya.


"Yang?!, ih, mandi sana." Suruh Alfi dengan berusaha melepaskan pelukan Abhi.


Abhi makin mengeratkan pelukannya.


Dia menghirup aroma wangi dari rambut hingga ceruk lehar Alfi.


"Bau kamu wangi banget, bikin tenang." Kata Abhi makin nyaman menghirup Alfi.


"Ih, geli Yang, mandi gih." Alfi makin gencar berusaha melepaskan diri.


"Jangan banyak gerak, bawah udah bangun." Beri tahu Abhi dengan suara serak.


Alfi langsung diam tak bergerak, dia mengertahui maksud dari kalimat Abhi tadi.


"Kamu mandi dulu sana, ini udah mau maghrib." Bujuk Alfi lembut dan tak bergerak se centi pun dari pangkuan Abhi.


"Kalo udah mandi boleh?." Tanya Abhi pada Alfi.


Alfi menunduk malu.


Pipinya terasa panas dan mengeluarkan rona merah muda disana.


Alfi menatap mata hitam Abhi.


Disana terlihat jelas ada hasrat yang terpendam.


"Udah mandi sana, soal itu tergantung nanti." Kata Alfi menggantungkan jawabannya.


"Uh gantung banget jawabannya, aku minta jawaban pasti, boleh atau ngga?." Tanya Abhi.


Alfi diam.


2 menit berpikir.


"Nolak suami itu dosa loh." Kata Abhi memberi tahu Alfi dengan mengunyel-unyelkan wajahnya ke punggung istrinya itu.


"Iya boleh." Jawab Alfi cepat dengan berdiri dari pangkuan Abhi.


"Mandi sana." Alfi mengatakan itu dengan berlalu dari hadapan Abhi menuju ruang ganti untuk menyiapkan baju ganti suami.


pada dada bidang Abhi.


Dan Abhi mengelus pucuk kepala Alfi sang istri.


Saat mencium aroma rambut Alfi, hasrat Abhi kembali memuncak seperti tadi sore.


Dia sudah gelisah tak tenang duduk di dekat Alfi.


Apalagi Alfi memeluknya erat dan mengunyel-unyel kan kepalanya ke dada bidang miliknya.


"Yang?." Panggil Abhi dengan suara seraknya.


"Hem?." Jawab Alfi.


Abhi menangkup wajah Alfi dan ******* bibir istrinya itu rakus.


Alfi yang mendapat serangan mendadak itu, dia terkejut.


Beberapa menit Abhi *******, Alfi sudah tersengal dengan perilaku Abhi.


"Hahhh... hahh... ." Alfi mengatur nafasnya yang tersengal.


Abhi mematikan TV di depannya.


Abhi menatap Alfi penuh cinta.


Dia mengusap bibir Alfi lembut dengan ibu jarinya dan kembali menciumnya dengan lembut.


Dari lembut beralih menjadi lebih menuntut.


Abhi menatap Alfi meminta izin untuk melakukan lebih.


Alfi kembali menatap intens pada sang suami.


Dia lalu tersenyum dengan mengangguk kan kepala pertanda mengiyakan.


Malam ini.


Malam yang penuh bintang dan bulan di langit luar.


Menjadi saksi atas kegiatan mereka yang berdasarkan cinta dan dilakukan karena memang sudah sah.


(Maaf ngga Author jabarkan yang 'hot' karena ini demi kelancaran review😂, readers bisa membayangkan sendiri deh😂).


Berjam-jam mereka melakukan kegiatan yang menyenangkan itu, hingga pukul 12 malam mereka baru selesai.


Abhi ambruk di sebelah Alfi.


Mereka berdua mengontrol nafas yang tersengal-sengal akibat kegiatan melelahkan tadi.


"Makasih." Ucap Abhi tulus, dia mencium kening Alfi lembut dan memeluk Alfi erat.


"Kembali kasih." Jawab lemah Alfi dengan tubuh lelah.


Dia sudah mau tertidur.


Tapi Abhi membangunkannya dan mengajaknya membersihkan tubuh sebelum tidur.


Abhi mengajak Alfi untuk berbagi kamar mandi agar mempersingkat waktu.


Alfi yang lelah tak bertenaga hanya pasrah.


Abhi membantu sang istri mandi.


Dia juga mengganti sprei untuk membuat dirinya dan istri tidur lebih nyaman.


Pukul setengah 1 dini hari.


Mereka berdua tidur dengan perasaan bahagia dan nyaman.


Sungguh sangat indah tadi malam untuk mereka berdua.


Momen yang di nanti Abhi sudah terjadi, dan sekarang tinggal menunggu hasilnya.


Memang belum tentu sekali tembak langsung jadi😂, tapi ngga ada salahnya berharap dan berdoa kan?, kalo belum jadi cepat, bukannya waktu masih banyak?, biarlah yang kuasa yang bertindak.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2