
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Peluk nya biasa aja ih, panas tau!." Seru Zarine sedikit menjauh dari Rafka, bahkan dia mendorong sang suami agar sedikit menjauh dari nya.
Perut Zarine yang membuncit itu membuat nya tak nyaman bila di peluk erat.
Dan penolak kan itu membuat Rafka sering kesal bahkan berdecak.
Tapi dia bersyukur, setidak nya dia tak di suruh tidur di sofa.
"Yang? Makan es krim enak nih." Kode Zarine pada sang suami.
"Ngga ada! Udah kita tidur aja, jangan kebanyak kan makan es, ngga baik, kamu lupa kalo 2 hari yang lalu kamu makan es krima banyak banget? Bahkan sampe habis 3 bungkus, ngga udah jangan minta es lagi." Tegas Rafka menolak permintaan Zarine yang ingin makan es krim.
Zarine cemberut karena pemintaan nya tak di indahkan oleh Radfa.
Dia kemudian memilih berbalik membelakangi Rafka berniat ngambek pada suaminya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Cieee ngambek... ngga baik tau ngambek sama suami, dosa." Ujar Rafka menakut-nakuti Zarine.
"Salah suami nya sendiri bikin ulah." Ujar Zarine tanpa menoleh ke arah Rafka.
"Hahahaha... ." Tawa Rafka terdengar renyah.
"Yang?." Panggil Rafka setelah bisa menetralisir tawa nya.
Tapi sayang nya Zarine tak menanggapi panggilan itu, menjawab dengan deheman saja tidak.
"Aih! Jadi ngambek kah ini?." Tanya Rafka dengan terkekeh lirih.
"Yang?." Panggil Rafka sekali lagi dan masih tak mendapat respon dari Zarine sang istri.
Karena lama tak mendapat respon, Rafka mendekat kan diri ke tubuh Zarine.
Dia membalik tubuh Zarine dengan lembut dan... .
"Pantes aja ngga nyaut, orang udah jatuh ke alam mimpi." Cetus Rafka pelan, dia kemudian menarik selimut di bawah kaki nya dan menyelimuti tubuh nya juga tubuh istri nya.
"Mending tidur gini deh, dari pada bikin riwueh, hehehe... maaf sayang yah." Ucap Rafka, lalu dia mencium kening Zarine lembut.
Dengkuran halus terdengar dari Zarine, Rafka yang tadi mula nya hanya menonton sang istri tidur, kini dia ikut terlelap jatuh juga di alam mimpi yang sama dan seperti nya mereka bertemu di sana, hahahaha...😂.
Di kamar Rendra Shita.
2 sejoli ini sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil saling berpeluk kan.
"Yang? Kok aku lama yah ngga isi-isi?." Tanya Shita tiba-tiba pada Rendra.
"Ya wajar lah Yang, kita nikah aja baru hitungan bulan bahkan masih hitungan minggu, sabar aja deh jangan putus asa." Rendra memberi pengertian.
"Hmmm." Dehem Shita tanda meng iya kan.
"Hei? Kok cuma 'Hmmm' doang sih jawaban nya? Yang semangat lah Yang, kita nikmati aja masa-masa bikin nya." Kata Rendra menggoda Shita sambil mengedip kan sebelah mata nya.
"Ish! Genit!." Seru Shita sambil menghambur kan tubuh nya memeluk Rendra erat.
Waktu terus berputar, tak terasa adzan maghrib berkumandang indah di telinga semua orang.
Rafka Zarine dan lain nya kini telah duduk di masjid dekat hotel untuk melaksana kan sholat maghrib berjamaah.
"Kita kenapa ngikut cowok nya kemari?." Tanya Shita heran.
Dia tadi berniat sholat di dalam kamar, eh Zarine, Tika, Akifa, juga Kak Raina malah menyeret nya untuk sholat di sini, kalo Alfi dan para tetuah perempuan, memang dari hati mereka sendiri ingin sholat di masjid ikut para pria.
"Sutss! Jangan berisik Dek! Kamu emang ngga bosen sholat sendiri di kamar?." Tanya Kak Raina pada Shita.
"Hehehe... bosen sih." Sambil terkekeh pelan Shita menjawab.
Saat Kak Raina hendak menyahuti perkataan Shita lagi, iqomah melantun indah tanda sholat akan di mulai.
Tak butuh waktu lama untuk sholat, beberapa menit kemudian sholat sudah selesai, banyak orang yang sudah meninggal kan masjid walau wirid dan doa nya belum selesai.
(Author juga gitu dulu pas ke masjid, wirid nya belum selesai udah melipir pergi gitu aja, ada yang sama ngga sih?😂). AuthorGesrek.
Back Story.
"Kita juga pergi kuy." Ajak Akifa.
"Nanti dulu deh, aku masih mau di sini." Tolak Tika mentah-mentah.
"Iya di sini enak." Timpal Zarine.
"Ayo balik ke hotel anak-anak." Ajak Mama Rafka.
"Nanti aja deh Ma, kita masih mau di sini." Jawab Zarine pada Ibu mertua nya ini.
"Ok deh, kalo udah dari sini langsung balik ke kamar, jangan keluyuran ke mana-mana kasian nanti suami-suami kalian nyari in." Pesan Bunda pada Zarine dan lain nya.
"Siiap Bundaaa." Sahut Kak Raina dengan memposisi kan tangan nya hormat.
"Kita pergi dulu kalo gitu, assallammu'allaikum." Salam para tetuah wanita.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine dan lain nya kompak.
Di bagian para pria, Rafka dan 7 pria lain nya ikut duduk diam di dalam masjid, para tetuah pria sudah kembali ke kamar hotel.
"Hai?." Sapa Abdiel yang membuat para wanita terkejut sampai memegang dada nya.
Suami Akifa itu membuka tirai pemisah sholat di tengah-tengah masjid.
"Jangan ngagetin bisa ngga sih Yang?!." Cetus Akifa jengkel.
"Hehehe... maaf, kalian ngapain masih di sini? Balik gih ke kamar." Suruh Abdiel.
"Tanggung Diel, bentar lagi isya' sekalian kita mau sholat di sini, nanti kita balik ke kamar nya bareng-bareng." Ujar Alfi menolak.
"Hem... iya deh kalo gitu, jangan aneh-aneh tapi kalian semua, duduk diam sini aja." Tegas Abdiel menasihati.
"Iya iya bawel!." Jawab Akifa sambil cemberut.
Abdiel pergi.
"Kalo ada di masjid kaya gini, jadi inget pas masa MTs dulu, hahahaha... ." Tawa Shita terdengar pelan.
"MTs? Kamu dulu bukan SMP?." Tanya Tika meminta keterangan.
"Iya aku dulu sekolah nya di MTs, awal nya di SMPN, tapi di sana aku cuma 3 bulan." Cetus Shita bercerita.
__ADS_1
"Terus? Kok pindah?." Tanya Zarine yang kepo.
"Pertanyaan yang bagus, kenapa aku pindah? Jawaban nya adalah aku korban bullying di sana." Jawab Shita sambil nyengir kuda.
"Di bully?." Beo Zarine dan lain nya kompak.
"He em, keras banget malah bully nya, memang sih cuma 3 orang yang bully, tapi mereka cowok, ya siapa yang ngga nangis coba." Cerita Shita panjang lebar.
"What?! Yang bully cowok?!." Pekik Akifa pelan.
"Iya, kenapa emang nya?." Tanya Shita dengan mengangkat satu alis nya.
"Aku kira cowok itu ngga akan ikut gitu an, ternyata sama aja." Tutur Akifa.
"Sama aja kali Fa, malah menurut ku mulut cowok lebih tajem dari pada cewek, contoh aja Gua, Gua mimpi in sekolah yang tenang tanoa gangguan ternyata ngga sesuai, ya mau gimana lagi? Gua akhir nya pindah deh, padahal nih yah Gua udah bayar mahal seragam sama yang lain nya, eh ujung-ujung nya pindah, ada nyesel juga Gua masuk SMP sana." Curhat Shita panjang.
"Ya itu bisa jadi pengalaman Ta, terus 3 cowok yang bully Lo gimana?." Tanya Tika penasaran.
"Kita satu SMK lagi, mereka ngga gimana-gimana sih sama Gua, bahkan terkesan kaya sungkan gitu pas ketemu di kantin, kalo ngga sengaja ketemu mereka senyum canggung gitu, Gua bales nya cuek aja, kagak peduli Gua jujur, masih sakit hati Gua sama bully an mereka yang dulu." Cerita Shita mengalir apa ada nya.
"Mereka ngga ada minta maaf kah sama Lo Ta?." Tanya Alfi.
"Boro-boro minta maaf, Gua ngomong sama mereka aja ngga pernah." Cetus Shita blak-blak kan.
"Dulu emang temen cewek kamu di kelas ngga bela kamu?." Tanya Tika.
"Bela? Mereka tuh ngga nganggep aku temen, dulu aku kan anak nya cupu banget, ngga pernah marah, jarang marah, terkesan pendiam, aku dulu kalo cowok yang bully aku melancar kan aksi nya aku cuma bisa natap mata nya tanpa kedip." Jawab Shita.
"Kamu beneran ngga pernah marah?." Tanya Zarine.
"Pernah sekali, waktu aku kelas 5 SD, saat itu aku di labrak sama cewek satu kelas ku, mereka hina Ibu ku, ya sontak aja darah ku mendidih, dia gebrak meja, aku juga ikut-ikutan gebrak meja sampe dia kaget, seperti yang aku bilang tadi, aku orang nya pendiem banget, adik kelas ku pada kaget pas aku marah, ngga nyangka kata nya aku bisa kaya gitu, hahahaha... ." Tawa Shita pelan.
"Masa sekolah kamu kaya nya berat yah?." Tanya Tika.
"Untung nya dia kuat." Kata Kak Raina yang sedari tadi hanya menyimak.
"Kak Raina ngga bela in kamu pas di SD dulu?." Tanya Akifa.
"Bukan ngga bela in, tapi dia yang ngga bolehin" Ketus Kak Raina menjelas kan.
"Hahahaha... alasan aku ngga bolehin dia ikut campur, karena menurut ku ngga guna, aku ngga sendiri an sebener nya, waktu aku berantem adu mulut, cowok di kelas ku sebener nya ada di belakang aku, mereka udah mau ikut ngomong, tapi aku yang cegah." Jelas Shita.
"Mereka kan bawa sekutu, kamu sendiri ngga takut emang?." Tanya Zarine.
"Selagi masih adu bacot aku mampu, adu fisik aku lemah dia badan nya gumbul woy, Gua kala itu kerempeng, kecil lagi, hahahaha... ." Tawa Shita kembali terdengar pelan.
Sedang asik bercerita suara adzan isya' terdengar.
"Eh? Udah isya' aja, ngga kerasa yah." Kata Akifa.
"Kita kebanyak kan ngerumpi in masa lalu jadi ngga kerasa deh kalo udah isya'." Jawab Alfi.
Zarine dan lain nya pun sholat isya' setelah iqomah berkumandang.
Pukul 19.20 Rafka Zarine dan lain nya kembali ke hotel kemudian makan bersama di restaurant hotel.
Dan pukul 19.35 semua orang masuk ke dalam kamar masing-masing.
(Ok guys! Author mau bahas si Panji nih😂 kasian jomblo yang satu ini, minta gandengan dia, awokawok😂). AuthorGesrek.
(Jahat Lu Thor😑). Panji gans.
(Suts☝ Diem!). AuthorGesrek.
Saat yang lain nya tengah menikmati masa kebersamaan nya bersama pasangan, beda dengan panji yang menghabis kan waltu nya bersama dengan satu kaleng soda dan juga angin di bangku taman dekat hotel.
Kondisi taman juga sama, di huni oleh pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk cinta. (Eak😂). AuthorGesrek.
Panji berdiri dari duduk nya dan kembali berjalan.
Ouh iya info nih: Hotel Papa Tika nih agak jauh dari keramain kota gitu, gimana yah bilang nya, kaya terpencil gitu loh, tapi banyak menginap di sini karena dekat pantai.
Back Story.
Panji terus berjalan sampai pada... .
Kaki nya melangkah menuju pantai.
Dia memejam kan mata nya sambil merentang kan ke dua tangan nya.
Tiba-tiba... .
"Dasar An**ng!!! Belum puas Lo nyakitin Gua Hah?!!." Teriak seseorang di sebelah Panji yang jarak nya lumayan jauh.
"Itu cewek bukan sih?." Tanya Panji pada diri nya sendiri.
"Aku harus kemana Ya Allah?!!!!." Teriak nya lagi.
"Ba**ngan tuh Nenek sihir, Gua yang punya rumah, Gua juga yang di usir, Ya Allah!!!! Aku minta kasih azab yang berat buat yuh Nenek sihir!!!!." Teriak cewek itu lagi.
Gadis itu manangis tapi bukan dengan cara memilukan seperti kebanyak kan orang yang sedang ke susahan.
Panji mengendap-endap mendekat ke arah gadis yang berteriak tak jelan itu.
"Ya Allah!!!! Aku harus tinggal di mana?!! Kerja apa?!! Baru aja lulus SMA, Aku juga pengen bersantai sejenak ya Allah!!!!." Gadis itu mengeluh kan kehidupan nya sambil mengusap air mata nya kasar dengan punggung tangan.
"Ck! Sebener nya Allah tuh ada ngga sih?." Rutuk Gadis itu yang dapat di dengar jelas oleh Panji yang memamg posisi nya kini ada di belakang sang Gadis.
"Allah itu ada." Sahut Panji tiba-tiba, yang membuat sang gadis terkejut.
"Astaghfirullah!." Seru gadis itu terkejut. Dia menoleh kan kepala nya ke belakang.
"Kalo mau curhat sama Allah, jangan teriak gini, curhat lewat sholat di sepertiga malam kamu." Nasihat Panji bak seorang uztad.
"Situ siapa? Kaya hantu aja nongol tiba-tiba, ouh lebih tepat nya Jaelangkung, dateng tak di jemput pulang tak di antar." Cetus sang Gadis ketus.
"Hahaha... ." Perkataan sang Gadis hanya di balas tawa pelan dari Panji.
"Mau ke mana Neng bawa-bawa tas? Nangis di pinggir pantai, teriak-teriak lagi, kaya orang gila aja." Ledek Panji pada Gadis tersebut.
Sang Gadis diam tak menjawab.
Sang Gadis memilih diam memasang wajah datar kemudian hendak pergi dari pantai itu.
"Hai? Ngga baik tau kalo ada orang nanya ngga di jawab!." Tegur Panji sebelum Gadis itu betul-betul berlalu pergi.
"Alifia Fazzurah!." Panggil Panji yang membuat langkah sang Gadis terhenti.
Gadis yang di panggil Alifia Fazzurah itu menolah.
"Ngga usah ikut campur urusan orang Om, dan lupakan nama ku!." Dingin Alifia berucap.
"Jangan dingin-dingin Neng, entar cowok menjauh loh, hahahaha... ." Ledek Panji.
Yang langsung mendapat hadiah lemparan buah Apel tepat mengenai kening Panji.
'Duk!.'
"Adoy! Jahat banget sih!!." Seru Panji yang sayang nya tak di hiraukan.
Gadis itu pun pergi.
"Alifia Fazzurah!." Beo Panji sambil menarik ujung bibir nya ke atas.
"Kalo jodoh kita pasti bakal ketemu, ahhh jantung Gua deg-deg an cuma nyebut nama nya doang, padahal baru aja ketemu, apa ini yang nama nya cinta pandang pertama? Ck! Ngaco Lo Ji! Dah lah ngga mungkin ini cinta pasti cuma rasa tertarik aja,besok juga ilang." Monolog Panji.
Dia kemudian ikut pergi dari pantai menuju kamar nya sendiri.
Di dalam kamar Panji asik menatap buah Apel yang tadi di lempar oleh Alifia tadi.
"Aku berharap bisa ketemu sama kamu Gadis kecil." Doa Panji tulus.
Di kamar hotel lain nya.
"Alifia Fazzurah, baru kali ini ada orang yang mau manggil nama Gua, Hahaha... kalo bukan Om tadi Gua ngga akan inget nama Gua sendiri." Tawa Alifia garing terdengar.
__ADS_1
"Entah ada apa sama jantung Gua, tatapan Om tadi yang teduh bikin dag dig dug, hahaha... kalo Allah ngijin Gua harap kita bakal ketemu Om." Doa Alifia sama dengan Panji tanda ia sadari.
"Ck! Tapi ini yang penting! Gua harus keman? Masa Gua gelandang sih?! Kan ngga banget!." Gerutu Alifia pada diri nya sendiri.
Otak nya tengah berpikir keras saat ini.
"Gua cari desa yang jauh aja deh dari sini, nanti kalo Gua punya suami baru balik lagi ke Jakarta, hahaha... bagus tuh, tapi desa mana?." Alifia bertanya-tanya.
"Ck! Pikirin besok dah, capek Gua kalo musti di pikir sekarang." Alifia memilih merebah kan tubuh nya ke ranjang hotel dan tak lama dia pun terlelap tidur.
Ke esok kan hari nya.
Pukul 05.30 pagi MUA dan pengantar gaun untuk acara resepsi 5 keluarga junior telah tiba.
Kini Zarine, Akifa, Alfi, Tika, Kak Raina, Shita dan Dini sedang duduk di sofa kamar Zarine beserta MUA dan si pengantar gaun tadi.
"Ini acara nya mau di mulai jam berapa sih?." Tanya Akifa yang sedang makan kripik singkong balado.
"Kata nya sih jam 8 pagi." Jawab Alfi.
"Terus ini rias nya ngga ke pagi an?." Tanya Zarine.
"Nanti aka jam 6 atau kalo engga jam setengah 7 an lah." Ujar Tika meminta.
"Yakin kalian?." Tanya Para pria yang dateng.
"Yakin se yakin yakin nya." Balas Para wanita kompak.
Sesuai permintaan para wanita, make up di lakukan pukul 6 pagi.
Di ballroom tempat pelaksana an acara sudah sibuk sedari tadi pukul 04.30 pagi.
Pukul 08.00 tepat.
Semua sudah siap hanya tinggal keluar menuju tempat acara resepsi saja.
Para orang tua sudah sampai di tempat acara untuk menyambut para tamu.
Tentu saja Rendra Shita, Dini, Andi, dan Panji juga sudah ada di sana.
"Ck! Ini seharus nya Rendra Shita sama yang lain ada di sini sama kita, mereka malah ke tempat acara lebih dulu." Rungut Kak Raina.
"Entar juga kita ketemu di sana Yang." Bang Rafa menenang kan sang istri.
"Eh? Kalian ada yang aneh ngga sih sama Panji?." Tanya Abdiel.
"Kenapa sama Panji?." Tanya Abhi.
"Gua perhati in, dia tuh senyum sendiri sedari kita ketemu dari tadi pagi, aneh juga nakutin euy." Ujar Abdiel sambil bergidik takut.
"Ck! Perasaan Lo aja kali." Cetus Bang Idan yang di angguki oleh lain nya.
"Semoga aja." Gumam Abdiel.
"Gua khawatir aja coy, pas dia tiba-tiba gila, kan ngga lucu." Serius Abdiel yang langsung mendapat sikutan di perut dari istri nya.
"Ngaco!." Seru Akifa sambil melotot kan mata nya tajam.
Tiba-tiba... .
"Assallammu'allaikum? Anak-anak? Ayo ke tempat acara, MC udah mau panggil tuh." Kata Bunda yang tiba-tiba menyembul kan kepala nya di pintu kamar Rafka Zarine.
"Wa'allaikum sallam, iya Bun." Jawab Rafka Zarine.
5 keluarga junior ada di dekat pintu tempat acara.
"Ok! Mari kita sambut 5 pasang pengantin kita!." Seru MC pembawa acara di resepsi 5 keluarga junior ini.
Rafka Zarine masuk ke tempat acara terlebih dahulu.
Di susul Akifa Abdiel, kemudian Abhi Alfi, Tika Bang Idan, dan yang terakhir Bang Rafa Kak Raina.
Para tamu undangan berdiri dengan bertepuk tangan meriah. Pujian dan doa tersampai kan dari para tamu-tamu tersebut.
"Silah kan pengantin naik dan duduk di pelaminan." Kata pembawa acara tersebut.
Acara demi acara terlaksana dengan lancar.
Hiburan dari artis-artis papan atas Ibu kota menyertai, kamera menyorot pengantin dan juga para tamu undangan serta keluarga lain nya.
Hari resepsi 5 keluarga junior bagi para kaum hawa adalah hari patah hati nasional, tak hanya kaum hawa saja, bagi kaum adam juga demikian.
Di sudut ruangan, ada seorang gadis yang tak di undang, tapi duduk di tempat acara resepsi itu.
"Aku harap aku bisa menikahi orang yang aku cintai dan mencintai ku, yang bertanggung jawab, setia, memandang ku apa ada nya, dan tentu saja tulus, aamiin." Doa gadis tersebut.
"Ngga mau cari yang ganteng sama mapan?." Celutuk seorang pemuda yang duduk di sebelah sang gadis.
"Hei! Ngga sopan tau dengerin doa orang!." Cetus sang gadis.
"Hahahaha... Allah pertemu kan kita lagi, Alifia." Ujar Panji dengan memasang senyum manis di bibir nya.
Gadis itu ternyata Alifia Fazzurah, dan pemuda itu adalah Panji.
"Om? Ngga usah sok akrab yah, kita tuh ngga saling kenal!." Judes Alifia dia sudah mau pergi tapi tangan nya di cegal oleh Panji dan kontan saja Alifia kembali duduk di kursi nya.
"Kenalin, nama ku Panji, umur ku akan menginjak 23, aku belum terlalu tua dan jangan panggil aku Om." Tegas Panji memperkenal kan diri nya.
"Ngga naya." Cuek Alifia berucap.
"Jangan judes-judes Neng, nanti cowok pada lari loh." Goda Panji pada Alifia, yang di anals dengan tatapan tajam oleh nya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.