Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tujuhpuluh


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


Setelah makan sahur, mereka semua menggosok gigi dan duduk di ruang santai sambil menanti subuh tiba.


Pukul 04.20 adzan subuh berkumandang, Rafka Zarine dan lain nya pergi ke mushollah rumah Rafka Zarine.


Ba'da subuh para muda-muda memutus kan untuk berjalan-jalan di dekat-dekat komplek rumah nya sini.


Para wanita bukan nya memperhati kan jalan saat jalan pagi, malah asik bercanda ketawa ketiwi sendiri, para pria di belakang melihat itu hanya menggeleng kan kepala heran.


"Adoyyy bukan jalan pagi ini nama nya." Cetus Abdiel menatap punggung para wanita yang terguncang karena tertawa.


"Terus apa kalo bukan jalan pagi?." Tanya Rendra.


"Ngrumpi pagi, hahahaha... ." Jawab Bang Idan yang di iringu tawa nya dan angguk kan dari lain nya.


"Raf? Itu yang buat acara peresmian Cafe nya udah siap?." Tanya Bang Rafa.


"Udah siap tenang aja." Jawab Rafka dengan mengacung kan jari jempol nya.


"Sayang nya Cafe bakal di urus cuma sama Zarine, Akifa, Alfi, Kak Raina." Kata Abdiel dengan nada sedih nya.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Doa in aja kerjaan Gua di sana cepet kelar, Lu pikir Gua juga mau jauh dari kalian? Kagak sama sekali." Cetus Bang Idan.


"Iya aamiin, semoga aja Lu di sana cuma hitungan bulan." Doa Rafka yang di aamiin kan oleh semua para pria.


"Oy kalian?!." Panggil Akifa keras.


Para pria menoleh ke arah Akifa kompak.


"Ada apa Yang?." Tanya Abdiel dengan ke dua asli nya terangkat.


"Ngerumpi in apa sih? Sampe aamiin segala." Tanys Zarine.


"Ngga ada, udah ayo pulang." Rafka mengalih kan pembicaraan dan mengajak para wanita pulang.


Waktu terus bergerak tanpa menunggu tapi di tunggu.


Tak terasa waktu sudah menunjuk kan pukul 17.10 menit.


Rafka Zarine juga lain nya telah berada di Cafe ZAARA, duduk diam di kursi Cafe menunggu adzan maghrib berkumandang.


"Puasa pertama kok Gua lemes banget yah?." Tanya Abdiel yang entah di tuju kan pada siapa.


"Udah tinggal beberapa menit lagi, sabar ngapa." Cetus Abhi sambil menepuk pundak Abdiel memberi semangat.


"Iya, Gua heran deh sama para ciwi-ciwi, betah banget perasaan kalo puasa, padahal lagi berbadan dua." Papar Abdiel dengan mengusap-usap dagu nya dengan tangan kiri nya.


Para pria saling pandang kemudian mengedik kan bahu nya tak tau.


"Istri kalian pada puasa?." Tanya Roy dengan menaik kan ke dua alis nya.


"Iya, kenapa emang?." Tanya Bang Idan balik.


"Gua pikir kagak." Kata Roy sambil bergumam pelan.


"Ck! Kalo mereka ngga di bolehin puasa, bisa-bisa kita semua ngga di ajak ngomong sama mereka." Decak Bang Rafa keras dengan mata nya menatap para wanita yang sedang ketawa ketiwi entah menertawa kan apa.


"Hahahahaha... sabar, orang sabar istri nya banyak." Tawa Roy terdengar sedikit keras.


"Lo kok tau sih Roy?." Andi hendak melawak.


"Tau apa?." Tanya balik Roy.


"Tau kalo Pak Sabar istri nya banyak, hahahaaa... ." Kata Andi dengan tawa garing nya.


"Krik krik... krik krik... ." Abdiel menambah kan suara jangkrik karena Roy dan lain nya tak tertawa.


"Gak jelas banget kalian semua." Ketus Roy acuh.


"Hahaha... jangan ketus gitu dong Roy... jelek tau." Panji menggoda Roy di iringi tawa nya.


'Duk duk duk... .' Suara beduk di pukul terdengar.


'Allahu akbar... allahu akbar... .' Adzan mangrib berkumdang.


"Alhamdulillah... ." Ucap syukur semua orang di dalam Cafe itu.


Di dalam Cafe memang sudah di penuhi orang-orang untuk berbuka puasa bersama, tapi para tetuah tak hadir karena memang tak mau datang, beliau semua memilih berbuka puasa di rumah, Bunda juga demikian.


Sebelum berbuka puasa dengan nasi atau makanan berat lain nya, semua orang di sana meminum teh manis hangat setelah itu makan kurma, lalu sebagian ada yang langsung memakan makanan utama, ada juga yang memilih untuk pergi ke mushollah untuk sholat maghrib.


Acara pembukaan Cafe ZAARA berjalan dengan sangat lancar dan menyenang kan.


Mayoritas yang datang adalah anak-anak muda seusia Rafka Zarine dan lain nya.


Sang empu acara sangat bahagia dengan ada nya pendirian Cafe ini. Zarine, Akifa, Alfi, Tika, Kak Raina tak henti-henti nya tersenyum lebar menyapa serta menjawab sapa an dari pengunjung Cafe.


"Kita buka Cafe nya selama Ramadhan ini cuma bentaran, dari pukul 17.00 sampai 00.00 dini hari." Beri tahu Rafka.


"Kalo udah ngga Ramadhan? Buka nya dari jam berapa?." Tanya Zarine.


"Jam... 08.00 sampai 00.00 dini hari." Jawab Rafka menjelas kan.


"Yang kerja di sini ngga ada yang di bawah umur kan Boy's?." Tanya Akifa dengan mata nya menatap pelayan Cafe yang kebanyak kan perempuan itu.


"Di sini yang kerja manimal usia 19 maksimal 25 tahun." Jawab Abdiel.


"Kenapa kebanyak kan cewek pegawai nya?." Tanya Tika sambil menatap Bang Idan dan mengedip-ngedip kan mata nya berakting menjadi gadis polos.


"Kenapa emang kalo cewek semua?." Tanya Bang Idan balik sambil memicing kan mata nya curiga pada sang istri.


"Ya ngga papa." Jawab Tika sambil nyengir kuda.


"Sengaja kita aturin pegawai nya hampir cewek semua, itu karena biar kalian ini ciwi-ciwi ngga genit." Ketus Rafka dengan meilirik sang istri tajam.

__ADS_1


"Ehem! Possesive nya ngga bisa di kontrol ya Bund." Sindir Shita dengan mengulum bibir nya menahan tawa nya yang hampir pecah.


"Bener kata Rafka, apa lagi nih Cafe kalian yang tangani bentar lagi, pasti bakal ketemu tiap hari." Cetus Bang Rafa dengan muka kecut nya.


"Haduh... udah yah Boy's! Mohon di kontrol possesive nya kalian itu." Pinta Kak Raina.


"Kita pulang yuk, nanti Cafe biar kita yang cowok yang ngurus, sekarang kita pulang, udah waktu nya sholat terawih ayo balik." Ajak Bang Rafa yang di angguki lain nya.


"Kuy lah!." Seru para wanita kompak.


"Sari ikut ke rumah kita ya?." Ajak Zarine antusias.


Pandangan Sari jatuh pada Roy seperti meminta persetujuan.


"Sory Zarine, ngga bisa besok Gua janji kalian bakal ketemu lagi." Ujar Roy dengan menunjuk kan jari kelingking nya pertanda janji.


"Awas Lu baongin kita semua!." Seru Alfi dengan menatap tajam suami dari Sari ini.


'Aik! Tatapan nya nakutin banget, udah kek mau makan orang aja, Abhiii! Kendaliin dong ini bini Lu.' Batin Roy meminta perlindungan Abhi dnegan sorot mata nya.


Suami Alfi yang paham akan kode yang di beri kan kawan nya ini hanya mengangkat sisi kiri bibir nya sedikit sambil mengedik kan bahu nya acuh tak acuh.


'Laki bini sama aja!.' Dengus Roy dalam hati.


"Tenang Fi, kalo si Roy ingkar janji aku bisa pergi sendiri kok ke sini sama supir." Sari memberi solusi yang spontan di angguki oleh para wanita dengan semangat.


"Dah sekarang ayo pulang." Ajak Rafka.


Semua orang pulang.


Di rumah Rafka Zarine, tepat nya masih di garasi.


"Yang? Kamu ikut sholat terawih ngga?." Tanya Rafka.


"Ikut dong... sekalian ayo kita darusan habis terawih." Seru Zarine dengan semangat dan antusias yang membara.


"Hahahaa... ok ok ayo kalo gitu kita masuk dan bersiap." Ajak Rafka, mereka pun masuk ke dalam rumah dengan Rafka merangkul pingang Zarine penuh cinta.


Di dalam rumah.


"Assallammu'allaikum?." Salam Rafka Zarine kompak.


"Wa'allaikum sallam, gimana tadi pembukaan Cafe nya?." Tanya Bunda menyapa anak menantu nya.


"Lancar dan nyenengin Bunda, banyak yang dateng juga di sana, pokok nya rame deh." Cerita Zarine mengalir dan di angguki Bunda sebagai jawaban.


"Kalian ikut terawih kah nanti?." Tanya Bunda menanya kan pertanyaan lain nya.


"Ikut kok Bun." Jawab Rafka.


Di tengah perbincangan, adzan isya' berkumandang.


Bunda, Rafka Zarine bersiap untuk pergi ke masjid.


Saat jalan ke masjid.


Jalan di perumahan tempat tinggal Rafka Zarine tampak penuh dengan pejalan kaki yang berbondong-bondong menuju rumah Allah.


"Ini salah satu moment yang paling aku nanti in." Kata Alfi yang berjalan tepat di sebelah kanan Zarine.


"Bener banget, aku juga gitu, adem liat nya." Timpal Tika dengan tersenyum manis.


"Assallammu'allaikum Bumil." Sapa para ibu-ibu yang juga hendak berangkat ke masjid.


"Wa'allaikum sallam Tante." Balas Zarine dan lain nya sambil tersenyum.


"Wah udah pada kelihatan yah perut nya, berapa bulan cantik?." Tanya salah satu Ibu yang berjalan tepat di sebelah Zarine.


"Saya 5 bulan Te." Jawab Zarine


"Saya 4 bulan 1 minggu Te." Giliran Alfi berucap.


"Saya 2 bulan 2 minggu." Papar Raina sambil tersenyum kecil.


"Hehehe.. kalo saya 3 bulan Te." Kekeh Tika denga mengusap perut nya.


"Terus ini yang dua?." Tanya Tante yang berjalan di sebelah Shita.


"Belum di kasih Te, yang di sebelah saya ini belum nikah." Jawab Shita sopan.


"Ngomong-ngomong? Kalian siapa? Kok kami baru liat sih?." Tanya Tante-tante di sebelah Kak Raina.


"Mereka berdua saudara saya Te." Jawab Raina memberi tau.


"Tinggal di mana?." Tanya Shita.


"Kota Lumajang." Jawab Shita.


"Ouh... ." Balas para Tante-tante itu pendek.


Sampai di masjid kumpulan Tante-tante itu pergi dahulu masuk ke dalam masjid.


"Dasar Tante kepo." Rungut Alfi.


"Wajar Al kalo tanya, kita kemarin kan masuk TV tuh yang pas acara resepsi, beliau semua pasti mau tau langsung dari kita dari pertanyaan-pertanyaan receh tadi." Panjang Zarine memberi pengertian.


"Yang di omongin Zarine bener." Cetus Akifa menimpali.


Setelah berbicang, iqomah berkumandang tanda sholat akan segera di mulai.


Pukul 19.45, terawih selesai.


Sekarang berganti dengan kegiatan tadarusan.


Di dalam masjid tak hanya ada Rafka Zarine dan yang lain nya, tapi ada juga anak-anak muda lain nya yang berpartisipasi dalam kegiatan tadarusan ini.


Para tetuah tak ikut darusan lebih memilih pulang ke rumah, saat di cegah oleh Zarine, ada saja alasan yang di layang kan dari bibir para tetuah.


Kata para tetuah, 'Kami darusan di rumah saja, kalo darusan di sini juga, nanti kalian yang muda-muda ngga kebagian baca lagi' ya begitu lah alasan nya.


"Kalo ada takjil nya enak nih." Kelakar salah satu pemuda yang sedang tiduran menunggu giliran membaca.


"Takjil mulu pikiran Lu." Cetus Abdiel yang ada di sebelah pemuda itu.


Pemuda pemudi di perumahan tempat Rafka Zarine dan lain nya tinggal memang saling kenal tapi karena tak pernah berkumpul jadi nya agak canggung.


"Hahahaha... biasa nya kan ada aja tuh yang kasih." Tawa pemuda itu lagi.


Tiba-tiba... .


"Assallammu'allaikum!." Salam seorang Ibu-ibu di luar masjid.


"Wa'allaikum sallam." Balas Rafka zarine dan lain nya.


"Anak-anak, ini Tante ada bawa in kalian camilan sama meniman, di makan yah, nanti baki nya jangan lupa di kembali in." Pesan Tante-tante itu.


"Siiap Te!." Jawab pemuda di sebelah Abdiel tadi.


"Rumah Tante yang cat hijau itu yah, kalo gitu sekalian Tante mau pamit, assallammu'allaikum!." Salam Tante.


"Wa'allaikum sallam." Jawab orang yang di dalam masjid.


"Hahaha... baru juga Gua ngomong, udah ada yang nganterin aja." Tawa pemuda yang rebahan tadi.

__ADS_1


"Hebat banget berarti omongan Lu Ris." Puji Abdiel.


"Ck! Janga panggil Gua Ris dong." Decak pemuda yang di panggil Ris oleh Abdiel.


"Terus?." Tanya Abdiel.


"Nanti di sangka Riska lagi, nama Gua kan Faris, panggil aja Ari, jangan Ris, kagak enak di telinga Gua rasa nya." Pinta Faris yang langsung di sambut tawa oleh Abdiel.


"Lagian Mama Lo unik kalo ngasih nama, Achmad Faris." Sebut Abdiel pada nama lengkap pemuda itu.


"Dah jan bahas nama, kita bahas makanan aja, ayo makan." Ajak Faris mengalih kan topik pembicaraan.


"Pikiran Lu makan mulu tapi tuh badan kagak berubah, masih aja sama tinggal tulang sama kulit, nutrisi Lu cukup kan Ar?." Tanya Rafka.


"Ngga tau nih, heran juga Gua, Mak Gua tiap hati masak 4 sehat 5 sempurna, Gua makan kagak kekurangan, tapi masih aja kurus kering gini." Jelas Faris dengan sibuk mengunyah martabak trambulan di mulut nya.


"Telen dulu tuh makanan, jorok Lu!." Tegur Akifa sambil mendelik sebal.


"Alif kemana Ar? Lu biasa nya ke mana-mana berdua ama dia." Tanya Abhi.


"Dia kencan sama Bebeb nya." Jawab Faris singkat. Dia masih sibuk makan.


"Lu kagak kencan?." Tanya Abdiel.


"Lagi satru Gua sama Ayang Beb." Lesu Faris curhat.


"Hahaha... kasian banget nasib Lu." Ejek Abdiel yang langsung mendapat sikutan di perut nya yang di lakukan oleh Akifa.


"Bukan nya bantu in kamu malah ngejek, awas kena batu nya." Ketus Akifa memperingat kan.


"Hehehe... canda Yang." Cetus Abdiel sambil nyengir kuda menampak kan deretan gigi putih dan rapi nya.


"Lu mau baik kan sama Ayang Beb Lu?." Tanya Abhi.


"Iya lah, udah 2 hari Gua di cuekin cuy, kangen ama cerewet nya Gua." Tutur Faris dengan wajah kusut dan lesu nya.


"Ajak buka berdua, ngabuburita atau apa lah gitu, atau Lu beli in sesuatu kesuka an dia, minta maaf kalo ada salah, ngga ada salah nya minta maaf duluan meski cewek Lu yang salah." Saran Alfi yang di angguki oleh Faris.


"Kak Alfi ngga nyaranin peluk pacar?." Tanya Alifia tiba-tiba.


"Belum halal, ngga baik, jadi dosa entar, boleh peluk kan tapi entar nunggu jadi suami istri." Cetus Zarine menjelas kan.


Faris hanya merespon dengan mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Lu ngangguk mulu deh perasaan! Dengerin kagak sih?!." Rungut Akifa jengkel, kening nya sudah berkerut dalam sambil menatap Faris tajam.


"Tau nih." Alfi ikut kesal.


"Hahahhaa... sory girl's, iya Gua paham, besok Gua bakal laku in, thank's cara nya, best lah." Ucap Faris tulus, dia juga menyertai ucapan terima kasih nya dengan senyum manis nya.


Kegiatan darusan malam selesai pada pukul 22.00 malam.


Semua nya kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat agar esok hari kembali segar.


Di rumah Bang Rafa Kak Raina.


Rendra Shita, Dini Andi, juga Panji Alifia berkemas di dalam kamar nya untuk pulang besok pagi.


"Kalian yakin mau pulang besok?." Tanya Kak Raina dengan nada sedih.


"Ck! Jangan sedih gitu, kita bakal ketemu entah di Lumajang atau di sini." Jelas Shita tanpa menatap Kak Raina yang berdiri di ambang pintu melihat Rendra Shita mengepak pakaian nya.


"Suatu saat nanti, apa kalian aa rencana bakal menetap di sini?." Tanya Kak Raina.


"Ngga tau." Balas Rendra singkat.


"Gini yah Kakak ku tersayang dengerin aku, kita jauh tapi saling mendoakan, kita juga bisa ke sini atau kalo engga kalian yang ke sana, jangan sedih-sedih." Ucap Shita menghibur, di akhir kalimat nya, Shita memeluk Kak Raina.


"Aku bakal kangen sama kalian." Ucap Raina dengan mata berkaca-kaca hendak menangis.


"Dah jangan nangis!." Cetus Shita dengan menangkup pipi Kak Raina yang sedikit cabby itu.


Selesai berkemas Rendra Shita dan lain nya tidur.


Pagi pukul 02.30 semua bangun dari tidur nya untuk sahur.


Sahur kali ini di lakukan di rumah Bang Idan Tika.


"Kalian jadi pulang hari ini?." Tanya Zarine.


"Jadi, ba'da subuh nanti kita pulang." Jawab Shita dengan tersenyum manis.


"Alifia? Jadi ikut?." Tanya Akifa.


"Hehehe... jadi dong Kak." Jawab Alifia dengan nyengir kuda.


"Betah emang?." Tanya Akifa yang ingin menggoyahkan niat Alifia tinggal didesa.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2