
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Aduhhhh Cindi! Kenapa Lu tekan? Sakit Baby." Manja Haris berucap.
"Jijik liat sikap manjamu!." Seru Cindi yang tak sesuai dengan ekspresi wajahnya, dia mengatakan kata jijik dengan tersenyum, sejujurnya Cindi gemas dengan tingkah manja Haris.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Kata nya jijik liat muka ku yang sok manja ini... tapi kok sambil senyum-senyum sih? Hayo Lu sebener nya ngga jijik kan, tapi gemes kan, iya kan." Ucap Haris menggoda Cindi.
"Apaan sih Lu! Kagak ada! Muka Lu kalo di manja-manjain bikinan orang ilfeel!." Pekik Cindi menepuk nya Haris pelan.
"Huuu gengsi banget sih mau ngakuin, ngga usah malu ngga usah gengsi kalo ama Gua mah, selow aja lah." Kata Haris masih menggoda Cindi.
"Diem!." Pekik Cindi keras.
"Hahaha... ." Tawa Haris menggelegar.
"Eh Bang? Gua mau tanya dari tadi, kamar Gua yang mana?." Tanya Cindi dengan tangan nya masih memijit pundak Haris.
"Kamar Lu ya yang tadi itu." Kata Haris menjawab aneh.
"Yang tadi mana? Gua kan tau nya cuma kamar Lu." Jawab Cindi dengan nada polos nya.
"Ya itu kamar Lu, kamar kita." Jawab Haris acuh.
"Hah?!." Pekik Cindi keras tepat di telinga Haris.
"Uh, sakit telinga Gua Cindi, jangan kenceng-kenceng napa teriak nya." Kata Haris sambil mengusap pelan telinga nya.
"Gua kagak mau se kamar ama Elu!." Tolak Cindi mentah-mentah dengan suara tegas.
"Lo kagak berhak ngatur atas pun nolak perintah Gua! Gua ngga butuh persetujuan Lo buat semua apa yang Gua laku kan sama Lo, kalau itu masih dalam kondisi wajar." Kata Haris, nada suara nya tak kalah tegas.
Haris sampai membalik kan badan nya menatap mata Cindi dengan tatapan tajam dan penuh ancaman.
Kontan saja Cindi langsung kicep tak berbicara bahkan membuka bibir nya sekali pun.
Mata Cindi fokus menatap Haris dengan tatapan polos nya.
"Paham?!." Seru Haris saat melihat Cindi yang diam saja tak meresmikan omongan nya.
Spontan, mendengar Haris bertanya dengan nada tajam seperti itu membuat nya mengangguk kan kepala kuat pertanda dia paham.
"Good girl." Ucap Haris sambil mengelus kepala gadis kecil nya itu penuh kasih sayang.
Cindi tak merespon omong Haris tadi, dia hanya menatap mata Haris dengan tatapan polos nya.
"Dah jangan melamun, ayo tiduran di pangkuan ku." Ujar Haris lembut. Kini pemuda itu berdiri dari duduk nya di karpet bulu, beralih duduk di sofa sebelah kiri Cindi, kemudian dia menarik Cindi agar tertidur di pangkuan nya.
Gadis itu menurut, dia tidur di pangkuan Haris. Tidak tidur sebenar nya hanya berbaring saja.
Untuk mengusir rasa sepi, Haris menyala kan televisi. Haris sibuk menatap televisi sedang kan Cindi menatap wajah tampan milik Haris.
Tanpa gadis itu sadari, dia menetes kan air mata nya. Lalu tiba-tiba saja gadis itu bangun dari berbaring nya dan memeluk Haris dengan erat.
"Hiks... makasih banyak ya Bang, makasih banyak atas sikap pembelaan kamu tadi siang sama aku di depan Papa tadi, padahal kita baru aja kenal, kamu orang baik yang pernah aku temui setelah Mama aku, dan Papa aku di masa lalu, hiks... hiks... makasih banyak." Ucap Cindi tulus dari dalam hati nya yang paling dalam.
__ADS_1
Haris terkejut mendapat kan pelukan tiba-tiba dari Cindi, pemuda itu beranjak mendengar saja ucapan terima kasih dari bibir Cindi.
Setelah mampu menetral kan diri nya dari keterkejutan nya, baru lah Haris membalas pelukan erat dari Cindi.
"Aku ngga sebaik keliatan nya, aku ngga sebaik apa yang kamu ucap kan tadi Baby, stttt... dah jangan nangis lagi." Balas Haris pelan, tapi tetap dia mengusap kepala sampai punggung Cindi untuk menenang kan nya agar tak menangis lagi.
"Bang Haris seolah pahlawan di mata ku." Ujar Cindi tak menanggapi omongan Haris.
"Hehehe... pahlawan apa? Pahlawan kesiangan?." Canda Haris menggoda Cindi.
"Bukan... ." Ucap Cindi manja, seperti nya gadis itu sudah berhenti menangis dan kini dalam mode manja pada Haris.
"Hahahaha... nah gitu dong jangan nangis sekarang pasti wajah nya sembab, hidung nya beringus, ihhh... mana coba aku mau liat gimana rupa orang habis nangis?." Tau kalau Cindi sudah tidak menangis lagi, Haris menggoda Cindi, pemuda itu ingin melihat keadaan kacau Cindi, bagi nya muka kacau Cindi sehabis menangis itu sangat menggemas kan.
Haris berusaha melepas pelukan Cindi dari tubuh nya namun nihil, Cindi malah makin mengerat kan pelukan nya.
"Ahhhkkkk... aku ngga mau... ." Ucap manja Cindi lagi yang membuat Haris tertawa terbahak-bahak.
"Jangan ketawa! Aku nangis lagi nih." Kata Cindi mengancam.
"Ok engga deh, Baby? Mau kah berjanji pada ku?." Tanya Haris serius setelah menghenti kan tawa nya.
"Janji? Janji apa?." Tanya Cindi. Dia melepas kan pelukan nya, dan menatap Haris dengan tatapan polos nya.
Haris tersenyum melihat wajah sembab Cindi, kemudian dia pun melanjut kan ucapan nya.
"Berjanji lah pada ku untuk selalu ada di samping ku dalam keadaan senang mau pun susah, jika kita punya masalah maka kita selesai kan dengan cara baik-baik, dan yang terakhir yang paling penting, berjanji lah untuk menunggu ku." Kata Haris serius menatap mata Cindi dalam-dalam.
Cindi mencerna setiap apa yang di minta Haris karena dia tak paham dengan poin janji yang ke tiga dia pun bertanya.
"Yang ketiga menunggu apa?." Tanya Cindi memandang Haris polos.
'Menunggu ku menjadi orang yang sukses dan menuntas kan rasa penasaran ku akan masa lalu keluarga ku, baru setelah itu kita menikah.' Ucap Haris yang hanya bisa ia ucap kan dari dalam hati, huaaa... sad😭 (😂).
"Abang?." Panggil Cindi pelan.
"Aku tidak bisa mengungkap kan dengan detail maksud dari poin ke tiga, yang jelas semua nya untuk kita berdua, untuk hidup kita." Jawab Haris yang masih membuat Cindi bingung.
Cindi makin bingung saja mendengar omongan Haris.
"Jadi gimana mau janji ngga?." Tanya Haris tak mempeduli kan raut kebingungan.
"Engga Baby, ini buat kita berdua, aku ngga mungkin masukin kamu ke lubang kerugian." Kata Haris sambil mengelus kepala gadis kecil nya itu.
"Ok aku janji." Ucap Cindi sambil menunjuk kan jari kelingking nya dan dengan semangat juga rasa bahagia Haris menaut kan jari kelingking nya ke jari Cindi.
"Peluk dong kalo setuju." Pinta Haris sambil merentang kan tangan nya isyarat minta di peluk oleh Cindi.
Dengan rasa bahagia, Cindi memeluk erat tubuh kekar Haris.
'Aku berjanji Baby girl, aku akan selalu menjaga mu dan melindungi mu.' Ucap Haris serius dalam hati nya.
"Bang Haris?." Panggil Cindi pelan.
"Hmmm?." Sahut Haris pendek.
"Jangan terlalu dekat dengan gadis yang kamu temui di parkiran tadi bisa ngga?." Tanya Cindi meminta.
"Hahaha... kenapa nih? Cemburu yak?." Tanya Haris menggoda Cindi.
"Diam! Tinggal iya in aja apa susah nya sih!." Seru Cindi sewot.
"Aku harus melakukan pendekatan Baby, tapi percaya lah aku tak kan menghampiri nya jika dia sedang sendiri, kamu tau Angkasa kan? Cowok itu possesive sama gadis itu, dia ngga akan biarin dia dekat sama cowok lain." Kata Haris menjelas kan.
"Hmmm... ." Balas Cindi acuh tak acuh.
"Ey? Acuh banget jawab nya?." Ucap Haris melirik Cindi yang masih memeluk erat tubuh kekar Haris.
Cindi tak menjawab perkataan Haris. Dia bangkit dari posisi memeluk Haris, kemudian gadis itu turun dari pangkuan Haris dan berjalan menuju dapur.
"Baby mau ke mana?." Tanya Haris memandang gadis nya.
"Ke dapur, haus pengen makan." Kata Cindi tak masuk akal.
"Lah? Haus kok makan? Ngga berak aja sekalian." Ucap Haris sambil terkekeh pelan.
"Diem!." Pekik Cindi dengan mendelik kan mata nya lebar-lebar.
"Hahahaha... ." Tawa Haris menggelegar.
Sepeninggalan Cindi.
__ADS_1
"Gadis ku seorang perempuan cemburuan ternyata." Gumam Haris sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
Tiba-tiba... .
"Eh? Tunggu? Gadis ku? Haha... yah dia milik ku, hanya punya ku, hanya wanita ku! Ouh! Aku tadi panggil dia 'Kamu' dan dia juga panggil aku 'Kamu', kemajuan yang sangat besar." Kata Haris bersuara sendiri.
Hari semakin larut.
Jam di dinding sudah menunjuk kan pukul 20.00 malam.
Di rumah Kak Rain.
"Ayah semua nya tidur!! Ini udah larut malam besok kalian kan sholat subuh, awas kesiangan, jangan tidur malam-malam." Kata Kak Rain pada Damar Wulan dan lain nya.
Tanpa banyak omongan lagi 8 orang itu tidur.
Pukul 22.10 malam, Wulan bangun, dia tidak bisa tidur.
Karena tak mau menganggu orang lain yang sedang tidur, dia pergi ke balkon untuk mencari angin. 8 serangkai ini tidak tidur diranjang, mereka tidur di ruang santai di atas karpet bulu.
Sedang asik menghirup angin malam yang segar dan dingin, tiba-tiba seseorang datang dan memeluk pinggang kecil Wulan dari belakang.
Wulan sempat terkejut kemudian dia terkekeh pelan karena mengetahui siapa dalang dibalik keterkejutan nya.
"Ngapain berdiri disini?." Tanya Albhi lembut.
"Dari pada ganggu lain nya yah mending aku di sini." Kata Wulan mendongak menatap wajah tampan milik Albhi.
"Lanlan? Bentar lagi kita semua akan berumur 17 tahun, kita akan di beri tanggung jawab untuk perusahaan, doa kan kami para cowok-cowok kuat yah dalam menghadapi keras nya kerja." Ucap Albhi meminta doa dari gadisnya.
"Aamiin." Balas Wulan dengan tulus.
Wulan dan Albhi terus berbicara. Wulan tidak bisa tidur karena dia masih tidak terbiasa tidur di tempat asing. Ya dia butuh adaptasi dulu.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1