Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
S2 ==> NMKP 253


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Ck! Kalo yang itu beda lagi, mereka kan di jual dan menjual." Balas Cindi menjelas kan perempuan yang ada di clup malam.


"Hmmm... ." Balas Haris hanya bergumam tak mau berbicara panjang.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Setelah percakapan panjang antara diri nya dan juga Cindi, Haris pergi dari kamar nya menuju ruang kerja nya untuk mandi juga.


Selesai mandi Cindi dan Haris sholat berjarak di mushollah rumah Haris ini.


Di rumah baru Agnez, semua persiapan untuk tasyakuran sudah selesai dan kini hanya tinggal menunggu para tamu undangan datang.


Semua orang baik para tetuah mau pun yang muda-muda berkumpul di ruang tamu menyambut kedatangan tamu.


Di tengah kegiatan sedang menunggu ini, Agnez si gadis hiper aktif menguap sedikit lebar.


"Kalo nguap di tutupin itu mulut nya Little girl."Nasihat Angkasa dengan suara lembut pada gadis cantik nya ini.


"Iya Mas maaf, Agnez ngantuk poll jeh, boleh tidur lagi ndak seh?." Tanya Agnez dengan tatapan mata polos nya.


"Little girl kamu baru aja bangun tidur loh, masa udah ngantuk aja sih? Tidur pas sore-sore gini ngga baik tau, apa lagi anak gadis kaya kamu gini." Kata Angkasa menakut-nakuti Agnez sambil mengelus kepala gadis kecil nya itu penuh kasih sayang.


"Bener banget tuh Agnez kata Mamas kamu." Timpal Wulan menyahuti perkataan Angkasa.


Setelah per bincang itu tamu undangan pun berdatangan mereka sebelum duduk bersalaman dengan Tuan rumah.


Pukul 16.10 menit para tamu sudah pulang ke rumah masing-masing.


Hanya tersisa para keluarga saja di rumah baru Agnez dan juga Kak Rain.


"Alhamdulillah akhir nya acara nya selesai." Ucap syukur semua orang.


"Malang ini tidur sini ya semua nya." Pinta Ibu Agnez.


Semua orang saling pandang dan keputusan pun di buat.


"Gini aja deh, Kak Rain kan juga mau dan pengen nempati rumah baru nya, gimana kalo yang muda-muda tidur di rumah Kak Rain dan kita para tetuah tidur di rumah Agnez sini." Kata Ayah Rafa mengutara kan isi kepala nya.


"Hah... boleh juga tuh Yah saran nya, kita setuju." Jawab Pamungkas yang di angguki oleh para muda-muda lain nya.


Agnez yang ikut mengangguk kan kepala membuat Angkasa tersenyum jahil.


"Loh? Agnez kok ikut ngangguk?." Tanya Angkasa dengan menatap wajah Agnez dengan intens.


"Agnez mau ikut Mas Angkasa sama lain nya tidur di rumah baru nya Mbak Rain." Jawab Agnez dengan polos nya.


"Lah? Kok ikut nginep di tempat Kakak? Kan Agnez juga ada rumah baru." Ayah Agnez ikutan calon menantu nya menjahili anak nya.


Agnez diam mencerna semua omongan orang di sekitar nya.


"Jadi maksud nya Agnez ngga boleh ikut nginep di rumah nya Kak Rain gitu kan?." Tanya Agnez meminta jawaban.


"Ya gitu deh." Jawab Haris meng iya kan.


"Ouh iya wes kalo gitu." Jawab Agnez lesu, dia sampai menunduk kan kepala nya sedih.


Di tengah kegiatan menunduk nya Agnez, Mama Tika, Ibu nya Agnez, Papa Zaidan mendelik kan mata nya lebar-lebar pada Ayah Agnez juga Angkasa.


2 pria beda usianya itu hanya nyengir kuda memasang watados (wajah tanpa dosa) sambil menggaruk tengkuk mereka masing-masing yang tak terasa gatal.


Tiba-tiba... .


'Grep.' Angkasa memeluk Agnez erat dari arah samping.


"Jangan sedih little girl, aku tadi cuma bercanda, boleh kok tidur di rumah Kak Rain." Kata Angkasa dengan tersenyum manis memamer kan gigi nya yang tersusun rapi dan putih bersih.


Agnez menatap Angkasa dengan mata berkaca-kaca hampir menangis.


Dan... .


"Huaaa... ." Tangis Agnez pecah memenuhi ruang tamu ini.


Sesegera mungkin Angkasa menarik Agnez masing-masing ke dalam dekapan nya yang sangat hangat udah meredam suara tangisan Agnez.


Mama Tika dan Ibu Agnez makin melebar kan delik kan mata nya sedang kan Papa Zaidan hanya menggeleng-geleng kan kepala, Ayah Agnez tersenyum kikuk karena membuat anak nya menangis.


"Eh? Ma... maaf little girl aku tadi niat nya bercanda, jangan nangis maaf yahh." Ucap Angkasa tulus dari dalam hati.


"Ayah juga minta maaf sama genduk ayu, Ayah tadi niat nya juga bercanda." Kata Ayah Angkasa sambil mengelus kepala Agnez lembut.


Agnez masih tak menjawab dia masih menangis sebab pelukan hangat Angkasa.


Hingga 25 menit kemudian Agnez baru berhenti menangis dan dia pun mengangkat kepala nya dari pelukan Angkasa.


"Maafin kita Mamas sama Ayah ya Nez, kita niat nya cuma bercanda tadi." Ucap kompak Ayah dan Angkasa meminta maaf kepada Agnez.


"Sudah tau kalo anak nya nangisan! Masih aja di jahilin!." Seru Ibu Agnez memarahi suami nya.


"Ya kan Ayah cuma bercanda to Bu." Ayah Agnez masih membela diri.


"Itu juga Angkasa, provokator kamu! Masa menantu Mama yang cantik ini di bikin nangis?." Kata Mama Tika memeluk Agnez lembut.


"Ya kan tadi udah minta maaf Ma, di maafin kan Nez?." Tanya Angkasa dengan muka memelas nya.


Damar, Albhi, Pamungkas, Wulan, Kristal, dan Kak Rain terkekeh pelan melihat ekspresi memelas milik Angkasa.


Angkasa yang merasa diri nya di tertawai menatap wajah ke 6 orang itu dengan tatapan tajam. Kontan saja mereka berhenti terkekeh dan melanjut kan tertawa dalam hati.


"Iya udah di maafin, tapi jangan di ulangi lagi." Kata Agnez dengan suara serak nya sehabis nangis.


"Ya udah kalo gitu sekarang Agnez cuci muka sana, terus Angkasa ganti baju dulu liat tuh banyak air mata sama ingus nya, hiiiii." Suruh Mama Tika pada anak-anak nya ini.


2 remaja yang dapat perintah dari Ibu Ratu itu langsung berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju kamar mandi dalam kamar.


Jika keluarga Daddy Rafka dan juga lain nya harmonis lain hal nya dengan seseorang yang jauh dari luar Jakarta.

__ADS_1


Seorang pria paruh baya tengah duduk di ruang kerja nya sambil memain kan bolpoin di tangan kanan nya. Pandangan nya lurus ke depan seperti melamun, padahal orang tua itu bukan nya melamun tetapi merencana kan sesuatu hal yang jahat alias tidak baik.


Lama berpikir, orang itu pun menunjuk kan senyum miring nya pertanda bahwa beliau telah menemu kan sebuah rencana yang bisa membuat keluarga seseorang itu berpecah belah bahkan hancur.


Kemudian pria paruh baya itu memanggil asisten nya yang sedang ada di tempat lain dengan mengguna kan interkom.


Selang 3 menit kemudian seorang pria lebih tua sedikit dari nya memasuki ruangan.


"Iya Tuan ada yang bisa saya bantu?." Tanya seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Aku punya rencana untuk membuat keluarga keturunan Adib hancur berpecah belah!." Kata seseorang yang di panggil Tuan oleh orang yang baru masuk ruang kerja tadi.


"Maaf menyela Tuan, tapi kenapa kita tidak menunggu rencana dari Tuan Muda Haris saja? Kenapa Tuan harus turun tangan sendiri?." Tanya seseorang itu lagi.


"Haris bertindak sangat lambat, aku sudah tidak dapat menunggu lagi, anak itu seperti nya sengaja ingin mengulur waktu, dia seperti curiga bahwa apa yang telah aku cerita kan pada nya adalah kebohongan, sudah lupa kan semua itu, yang penting terus awasi saja anak itu." Kata Papa Andre, Ayah dari Haris. Dan asisten nya tadi bernama Riyadi, orang kepercayaan nya.


"Baik Tuan, saya memang selalu mengawasi Tuan Muda, dan 2 hari ini Tuan Muda sedang dekat dengan seorang gadis Tuan Besar." Beri tahu Riyadi pada junjungan nya.


"Biar kan saja lah terserah dia, tapi pasti kan kalau gadis itu gadis baik, aku tak mau mempunyai menantu asal-asalan." Kata Papa Haris.


"Baik Tuan Besar, ouh iya kalau boleh tahu rencana apa yang sudah anda dapat Tuan?." Tanya asisten pribadi Papa Haris kembali pada topik utama.


"Rapat beberapa hari lagi antara perusahaan Haris, perusahaan Rafka, dan juga perusahaan Abhi akan di ada kan di mana?." Tanya Papa Haris dengan menunjuk kan senyum miring nya yang menakut kan.


"Rapat itu di laksanakan di gedung perusahaan Rafka Tuan Besar." Beri tahu asisten Riyadi.


"Yang hadir anak-anak nya kan?." Tanya Papa Haris memasti kan.


"Iya Tuan." Jawab kembali asisten Riyadi.


"Kau lakukan lah sesuatu untuk ku." Pinta Papa Haris menatap wajah asisten Riyadi.


"Apa itu Tuan?." Tanya asisten Riyadi ingin tau detail rencana Tuan nya ini.


Papi Haris pun menjelas kan detail rencana dan asisten Riyadi mendengar kan dengan penuh seksama agar nanti nya saat menjalan kan aksi dia tak membuat kesalahan.


"Siapa yang akan menjalan kan semua ini Tuan?." Tanya asisten Riyadi.


"Kau suruh saja orang lain, jangan Haris yang melakukan nya, dia tak akan mau melakukan hal itu, kau bayar saja salah satu bawahan perusahaan Rafka, mereka pasti mau." Akal licik dan picik milik Papa Haris sedang bekerja normal seperti nya.


"Baik Tuan laksanakan!." Seru asisten Riyadi sambil mengangguk hormat.


"Kau boleh pergi." Usir Papa Haris halus pada asisten nya.


Asisten Riyadi tanpa banyak cakap lagi, dia pun keluar dari ruang kerja Papa Haris.


Sepeninggalan asisten Papa Haris.


"Tunggu semua pembalasan yang akan ku beri kan pada kalian semua!." Seru Papa Haris dengan senyum menyeram kan nya.


Andrean Candra, Papa dari Haris yang memiliki dendam kesumat pada keluarga Ayah Adib beserta keturunan nya, pernah masuk penjara selama belasan tahun karena kasus korupsi dan pembunuhan berencana.


Pria yang menghasut anak nya untuk membalas kan dendam nya pada sang musuh, tapi anak nya mengulur waktu untuk mendapat kan penjelasan detail dari titik awal mula permusuhan tercipta.


Papa Haris selalu mengawasi pergerak kan Haris di mana pun dan kapan pun. Pria paruh baya itu juga mengetahui gerak gerik dari keluarga besar Daddy Rafka dan siapa saja anggota baru di dalam keluarga besar itu.


Beliau tau semua tentang informasi-informasi itu berkat asisten nya yang cekatan dan tau apa yang ia ingin kan.


Papa Haris dan Haris sendiri sebenar nya tidak terlalu akrab, Haris besar dibanding luar negeri bersama istri Pak Andre yang telah meninggal dunia, Haris pulang ke Indonesia baru-baru ini.


Harapan dia pulang adalah untuk hidup tenang seperti saat di luar negeri dulu, tapi harapan hanya lah harapan, setiba nya Haris di Indonesia, dia malah di beban kan oleh tugas-tugas kantor dan juga pembalasan dendam Papa nya.


Tapi Haris hanya meng iya kan saja, dan dia tak melakukan perintah Papa nya, dia membutuh kan bukti agar tak salah dalam bertindak.


Ok lah beralih topik bosan bahas Bapak nya sekarang mari kita bahas anak nya.


Di rumah Haris.


Di dalam dapur itu, Cindi melihat semua pelayan sibuk memasak.


"Hai semua?." Sapa Cindi sambil menebar senyum manis nya.


"Ada apa Nona Muda masuk ke dalam dapur? Ada yang bisa kami bantu?." Tanya pelayan Haris sopan bahkan sampai menunduk kan kepala dan badan nya.


"Aaaa... jangan menunduk begini bangun lah aku mohon bangun lah... aku akan marah dan mengadu pada Bang Haris kalau kalian tak mau mendengar kan permintaan ku!." Seru Cindi mengancam sambil menunjuk kan wajah sangar yang sayang nya sama sekali tak menakut kan malah terlihat lucu bin mengemas kan.


Para pelayan melipat bibir nya ke dalam takut terlepas terkekeh pelan.


Dan tanpa bicara 2 kali lagi pelayan yang menunduk tadi bangun. Kontan saja Cindi langsung menyebar kan senyum manis nya.


"Aku tidak sedang butuh apa-apa, hanya saja ingin melihat kalian masak apa, dan apa ada yang bisa aku bantu? Aku gini-gini juga bisa masak loh." Kata Cindi membangga kan ke ahlian nya dalam memasak dengan membusung kan dada nya.


"Halah! Bisa masak apa Lu Bocil?." Tanya Haris yang tiba-tiba muncul di belakang Cindi mengaget kan Cindi.


"Dasar oon kalo dateng tuh ngucap salam jangan kek jailangkung yang datang tak di jemput pulang tak di antar serem tau!." Seru Cindi memperingati Haris.


"Hahaha... Lo kaget? Lebay banget." Ejek Haris memandang Cindi rendah.


"Huh!." Dengus Cindi tak suka.


Para pelayan yang melihat cekcok 2 insan di depan nya ini ikut tersenyum bahagia karena bisa melihat senyum dari Tuan Muda nya. Karena setelah kepergian Mama Haris, pemuda itu sudah tidak pernah tersenyum dan tertawa lagi.


Pelayan di rumah Haris ini rata-rata berusia 30 tahunan ke atas, dia tak mempekerja kan usia muda.


Kembali ke dapur.


"Udah jangan ganggu Bibik di sini mending Lo ikut Gua." Kata Haris dengan menaik turun kan alis nya.


"Ke mana?." Tanya Cindi antusias.


"Ke ruang santai pijitin pundak Gua, pegel nih." Kata Haris sambil menepuk pelan pundak nya.


"Dih! Ogah Gua pijitin Lo mending Gua ikut masak di sini." Tolak Cindi mentah-mentah.


"Ayo dong Cin, Gua capek banget nih pengen di pijitin ama Elu rasa nya di pijitin sama Elu kaya nya enak." Haris membujuk Cindi dengan memasang muka memelas nya.


"Ka-gak-ma-u." Tolak Cindi keras sampai menggeleng-geleng kan kepala nya sembari bersedekap dada dan melengos kan kepala nya tak mau menatap wajah Haris.


"Khemmmmm... ." Haris menghela nafas panjang dan kemudian dia kembali bersuara "Apa yang Lo mau? Ngomong dah siapa tau Gua bisa turutin, dan Elo mau pijitin pundak Gua." Kata Haris memberi penawaran.


"Beneran nih Lu mau turutin semua perkataan Gua?." Tanya Cindi memasti kan.


"Iya beneran, tapi ngga semua permintaan! Cuma satu permintaan, kalo Lo minta yang aneh-aneh Gua buang Lo di negara orang." Ancam Haris dengan menunjuk kan wajah serius nya.


Cindi yang melihat wajah Haris yang menyeram kan itu spontan mengangguk kan kepala kuat pertanda dia tidak akan meminta hal-hal aneh.


Ouh iya BTW para pelayan melanjut kan tugas memasak nya dengan sesekali mendengar kan perdebatan manis 2 anak manusia ini sambil terkekeh pelan mendengar seorang Haris berbicara memohon kepada Cindi.


"Dah cepat Lu mau minta apa?." Tanya Haris mulai penasaran apa yang akan di minta oleh gadis kecil di depan nya ini.


"Aku minta selama aku tinggal di rumah ini yang ambil bagian di dapur adalah aku." Lantang Cindi berucap tanpa ada rasa ragu di hati nya.


Haris menaik kan sebelah alis nya pertanda dia sedang bertanya 'Apa Lo yakinlah Bocil?.' Seperti itu lah yang ada di otak Cindi.


Gadis berusia 15 tahun itu mengangguk kan kepala nya penuh keyakinan.


"Ok deal!." Seru Haris menyetujui permintaan Cindi.


Cindi senang bahkan sangat senang, dia sengaja membuat permintaan itu karena dia tak pernah di perboleh kan masuk area dapur oleh Papa nya.


Kalau dia mau masuk dapur maka harus ada alasan tepat atau jika Ayah nya tak ada baru lah Cindi bisa masuk ke dapur.

__ADS_1


"Lo di dapur nya mulai besok pagi aja, sekarang ikut Gua ke ruang santai pijitin pundak Gua!." Ajak Haris sambil menarik tangan Cindi yang mungil di tangan nya ini.


Tanpa bisa protes lagi gadis itu mengikuti langkah lebar Haris.


Setelah sampai ruang santai Haris menduduk kan Cindi di sofa dan dia hendak kembali ke dapur.


"Lo mau ke mana? Kata nya minta pijitin?." Tanya Cindi polos.


"Gua mau ambil camilan ama minuman dulu, Lo tunggu sini aja jangan ke mana-mana! Awas kalo kabur!." Ancam Haris tegas.


"Iya kagak bakalan ke mana-mana Gua, takut bener kalo Gua kabur! Gua kabur juga mau ke mana? Duit aja kagak pegang." Gumam Cindi di akhir kalimat nya.


"Hah tau pun kalo kagak ada duit." Sahut Haris yang masih dapat mendengar omongan Cindi.


"Dah sana pergi ke dapur!." Usir Cindi sambil mendorong-dorong tubuh kekar Haris.


Haris terkekeh pelan melihat tingkah laku gadis nya itu. Pria itu pun pergi kembali ke dapur.


Sampai di dapur.


"Ehem! Dengar! Kalian turuti kemauan Cindi, mulai besok dari sarapan, makan siang, dan makan malam biar kan Cindi yang memasak, dan selama dia ada di dapur di larang siapa pun memasuki area ini, paham?!." Tanya Haris dengan tatapan mata yang tegas.


"Mengerti Tuan." Jawab para pelayan kompak.


"Bang Haris?! Lu ambil camilan apa berak di dapur sih?! Lama banget, Gua berubah pikiran nih mau pijitin pundak Lu!!!." Teriak Cindi keras menggemah sampai di dapur.


"Iya bentaran napa Bocil!! Dasar cewek kagak pernah sabaran!." Kata Haris ikut berteriak.


"Cepetan!!." Seru Cindi lagi.


Haris tak menjawab, suara Cindi pun sudah tak terdengar lagi.


"Tolong siap kan camilan dan minuman, bawa ke ruang santai." Pinta Haris pada salah satu pelayan nya.


Pelayan yang di mintai tolong mengangguk kan kepala nya paham.


Haris kembali ke ruang santai.


"Lah mana camilan nya Bambang?." Tanya Cindi heran.


"Masih on the way, di bawa ama pelayan, dah Lu pijitin nih pundak Gua." Suruh Haris yang duduk di karpet bulu membelakangi Cindi sambil menepuk pelan pundak nya isyarat untuk Cindi memijat nya.


Tanpa di perintah dua kali Cindi pun memijat pundak Haris dengan serius.


"Uh pijitan Lu enak banget, Allah... hilang rasa nya capek Gua, lebih kenceng dikit Cin." Ucap Haris meminta.


Cindi tanpa menjawab permintaan Haris, dia sedikit mengencang kan pijatan nya.


Sedang asik menikmati enak nya pijatan Cindi, pelayan pengantar camilan datang, Cindi berhenti sebentar dari kegiatan memijat nya dan membantu pelayan itu meletak kan camilan di atas meja.


"Terima kasih Bi." Ucap Cindi tulus dari hati.


"Sama-sama Nona, saya permisi dulu." Pamit pelayan itu sopan.


Ruang santai kembali hening saat pelayan pergi.


Lelah diam Cindi membuka suara bertanya banyak hal tentang Haris.


"Bang? Lo tinggal sendiri kagak takut?." Tanya Cindi kepo.


"Ngapain takut? Ini kan rumah ku sendiri." Jawab Haris acuh.


"Lo pindahan dari mana Bang?." Tanya Cindi lagi.


"Luar negeri." Jawab singkat Haris.


Dia sebenar nya suka saat Cindi banyak bicara begini, tapi ya gitu deh kalo dia yang di tanyai banyak gini membuat dia jengkel sendiri.


"Cewek luar negeri cantik-cantik banget yah Bang?." Tanya Cindi sambil mendekat kan kepala nya ke kepala Haris.


"Banget lah cantik nya, tapi aku lebih suka buatan dalam negeri dari pada luar negeri, lebih hot cewek Indonesia menurut Gua." Jawab Haris lagi yang membuat Cindi menyentil telinga pemuda itu.


"Aduhhhh... sakit Cin." Keluh Haris sambil mengelus telinga nya yang habis di sentil Cindi.


"Biarin aja! Kalo emang cewek di sana cantik-cantik, ngapain Lu balik ke sini? Kagak laku yah?." Tanya Cindi mengejek Haris.


"Hahaha... Gua? Kagak laku? Allah! Cindi Cindi, tiap malem ada banyak ribuan cewek ngeluarin diri nya sendiri buat Gua tidurin, kalo kagak inget Mama Gua seorang wanita udah Gua garap mungkin mereka." Jelas Haris yang entah mengapa membuat Cindi tak suka mendengarkan nya.


"Huh! Sombong bener Lu." Ucap Cindi tak suka dan dia sedikit menekan pundak Haris untuk membuat Haris ke sakitan.


"Aduhhhh Cindi! Kenapa Lu tekan? Sakit Baby." Manja Haris berucap.


"Jijik liat sikap manjamu!." Seru Cindi yang tak sesuai dengan ekspresi wajahnya, dia mengatakan kata jijik dengan tersenyum, sejujurnya Cindi gemas dengan tingkah manja Haris.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung... .


Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2