
Villa di siang hari kali ini terasa sangat sepi.
Di villa ini hanya keluarga inti yang ada, untuk para kerabat, jangan lupakan bahwa para orang tua 6 keluarga senior berasal dari panti.
Yang di maksud kerabat di sini tentu saja masyarakat desa sekitar.
Kalo kerabat Orang tua Tika, besok juga hadir.
Di antara kamar-kamar yang sedang tertutup rapat pintunya ini, ada seseorang di dalalm kamar ini yang terjaga tidak bisa tidur.
Dia adalah... Andi.
'Huuufffffh, Mentari?, aku merindukanmu.' Suara hati Andi menyebut nama sang pujaan hati yang telah lama meninggalkan dunia.
"Ngga kerasa, udah hampir 3 tahun kamu tinggalin aku, kamu tau ngga?, aku tadi di kebun teh liat gadis mirip banget sama kamu, namanya Dini, aku sempat hilang kontrol sama dia, tapi untung cuma aku peluk, maaf ya Tari gara-gara aku semua mimpi kamu hancur." Andi berbicara sendiri sambil menatap langit-langit kamar yang dia tempati
Dia bercerita tentang Dini kepada Mentari seakan akan yang di ajak bicara mendengar.
Dan juga sekali lagi Andi menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Mentari.
'Jika aku bertemu jodohku, percayalah Tari, kamu tetap tak terlupakan untuk ku, mengenalmu suatu kebahagiaan tersendiri dalam hidupku, aku mencintaimu Mentari Admaja.' Andi membatin dengan bibirnya tersenyum manis sambil memejamkan mata mengenang kembali cerita nya dan Mentari.
Di dalam kamar yang lain, tepatnya kamar Rafka Zarine.
Ke dua insam manusia itu belum tidur dan asik melihat pemandangan luar kamar dari jendela besar.
"Ngga kerasa ya Yang, hampir dua tahun kita bareng." Kata Rafka memulai pembicaraan.
"Hmmmm, kamu bener, besok Bang Rafa sama Bang Idan juga nikah." Balas Zarine.
"Semoga hanya ada kebahagiaan di kehidupan kita ini." Doa Rafka.
"Ngga ada kehidupan itu terus di atas Sayang ku, kalo ada ke bahagiaan pasti ada kesedihan, di mana ada pertemuan, pasti ada perpisahan." Jelas Zarine lembut.
"Iya juga sih, kamu bener, ngga ada ceritanya dalam hidup seneng terus." Timpal Rafka.
Suasana hening.
Zarine bersandar di dada bidang Rafka dengan sang suami mengelus rambut Zarine lembut dan Rafka juga menciumi tangan kanan Zarine yang ada di genggamannya.
"Kita nanti sore kemana?." Tanya Zarine.
"Entahlah, kita ikut aja sama yang lain." Jawab Rafka.
Diam lagi.
"Raf?." Panggil Zarine.
"Hemm?." Sahut Rafka.
"Aku pengen jengukin Sari di RS." Pinta Zarine sambil menatap Rafka.
'Huuufffffh.' Rafka menghela nafas pelan.
"Jujur aku ngga mau bawa kamu kesana." Ungkap Rafka.
"Kenapa?." Tanya Zarine dengan nada sendu.
"Perempuan itu masih belum sehat Yang, ingat saat hari itu kamu di cekik?, setelah kejadian itu aku ngga mau kamu ketemu dia lagi." Panjang lebar Rafka menjelaskan.
".... ." Zarine tak bersuara, dia diam seribu bahasa.
"Tapi kita bisa lihat dari jendela itu kan?, kita juga bisa ajak teman kamu yang namanya... aku lupa namanya." Kata Zarine.
"Roy?." Jawab Rafka.
"Ah iya dia, kita ajak aja dia, Sari tenang banget kalo sama dia." Jelas Zarine.
"Jadi Roy mau di jadiin pawaangnya Sari kalo kita kesana jenguk dia?." Tebak Rafka.
"Bukan pawang, ular kali ah ada pawangnya, yaaa semacam temen buat Sari nyaman, ngga marah kalo kita deketin, dan kalo pun dia marah Kak Roy bisa nenangin." Panjang Zarine.
'Gampang deh, habis dari sini kita bakal jenguk dia bareng-bareng sama lainnya." Kata Rafka.
"Makasih Rafka." Ucap Zarine sambil mencium pipi Rafka.
"Kembali kasih sayang ku." Jawab Rafka dengan mencium bibir Zarine.
-
-
Sore pukul 15.30 semua orang berkumpul di ruang santai dengan menonton tv.
"Ini nanti rencana honey moon kemana kalian semua?." Tanya Mama Abhi.
"Kok semua?." Tanya heran Mama Tika.
"Hehehe 3 keluarga junior juga belum honey moon, mereka sibuk sama sekolahnya." Jawab Mama Akifa.
"Masa honey moon jamaah sih Ma?." Protes Alfi.
"Yaaa ngga papa dong." Timpal Mama Rafka.
"Iya, hari berangkatnya sama, cuma tujuannya aja yang beda." Kata Mami Alfi.
"Emang perlu ya honey moon?." Tanya Tika.
"Kenapa?, kamu ngga mau?." Tanya Bunda Zarine.
"Bikin capek energi aja, ngga perlu pakek acara itu deh." Kata Tika.
"Bener juga sih kata Tika." Gumam Akifa pelan.
"Jadi ngga ada acara honey moon nih?." Tanya Mama Abdiel.
"Kita pikirin besok-besok deh, Tika, Zarine, ama lainnya masih sibuk sama ujian-ujiannya, nanti kalo udah resepsi dan ada waktu luang, kita bahas masalah honey moon." Putus Bang Idan yang diangguki oleh para muda-muda.
"Iya sudah kalo memang itu keputusan kalian, kita para orang tua ikut saja." Setuju Ayah Zarine.
Di tempat tidak terlalu jauh dari villa, seorang gadis duduk di kursi teras rumah sambil melamun.
"Kamu kenapa Sayang?, banyak tugas sekolah yah sampe melamun gitu." Tegus seorang wanita paruh baya.
"Eh Ibu, Dini ngga papa Bu, cuma kepikiran sesuatu aja, tapi bukan tugas sekolah." Kata sang gadis yang ternyata adalah Dini ini dan wanita paruh baya tadi, itu ibu nya.
Beliau ikut duduk di kursi sebelah anaknya.
"Tadi yang di gubuk siapa itu Din?." Tanya beliau.
"Ouh, tadi itu tamu yang tinggal di villa besar sana itu loh Bu." Jelas Dini sambil menunjuk arah villa.
"Ohhh." Singkat sang Ibu menjawab.
Suasana hening menyelimuti sekitaran antara Ibu dan anak ini.
Dini sering mencuri pandang pada sang Ibu, ingin bertanya sesuatu tapi ragu dan takut tak mendapat jawaban yang memuaskan.
"Kamu kenapa Sayang?, apa ada yang mau kamu tanyakan?." Tanya Ibu Dini yang sadar dengan tingkah anak semata wayangnya ini.
"Emmm, aku ingin menanyakan sesuatu, dan aku harap Ibu bisa menjawabnya dengan jujur ngga akan boong sama aku." Kata Dini.
Ibunya mengangguk kan kepala dengan menampilkan senyum manisnya.
"Ibu?, apa aku punya saudara kembar?." Tanya Dini hati-hati.
Ibu Dini diam membeku.
Beliau melamun dengan pandangan kosong ke depan.
'Apa ini saatnya aku mengatakannya?.' Batin Ibu berucap sedih sambil menatap mata Dini.
"Ibu?, ibu?!." Panggil Dini sedikit berteriak.
"Ouh, ada apa sayang?." Tanya Ibu.
"Jawab pertanyaanku." Pinta Dini.
Ibu memandang Dini dengan mata sayu dan sendunya.
'Huuuffffffh.' Helaan nafas terdengar dari hidung beliau.
"Dini... kamu tidak punya saudara kembar, hanya saja, kamu mempunyai seorang kakak yang telah meninggal hampir 3 tahun yang lalu lamanya." Ungkap Ibu.
Deg!
"Apa namanya Mentari Admaja?." Tanya Dini dengan mata sudah berkaca-kaca.
"I... iya... dari mana kamu tau Nak?." Tanya Ibu heran.
"Orang yang bersama dengan ku di gubuk tadi siang berbicara soal nama Mentari, mereka bertanya apa aku mempunyai saudara kembar atau tidak, muka ku dan Mentari itu sangat mirip bahkan seperti kembar." Cerita Dini.
"Hiks... hiks... maaf kan ibu karena telah menyembunyikan hal ini, kamu... bukan anak kandung Ibu Dini, nama kamu sebenarnya adalah Cahaya Admaja, kamu ibu temukan di jalan waktu usiamu sekitar 3 tahunan." Semuanya yang perlu di ungkap terungkap sudah dengan di iringi oleh cucuran air mata.
"Orang tua kandungku bagaimana?." Tanya Dini sambil menangis.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu mu sudah meninggal, aku menemukanmu saat mobil kalian mengalami kecelakaan, saat itu aku pikir hanya kamu seorang yang selamat dari 4 anggota keluarga yang kecelakaan, tapi 3 hari kemudian Ibu mendengar bahwa Kakak mu selamat dan di rawat oleh pemilik panti asuhan di desa Singo Joyo, dulu Ibu juga orang asli sana, tapi setelah Ibu mendapatkanmu, Ibu dan Ayah pergi ke kota ini dan memutuskan untuk menyembunyikan semuanya dari mu, maaf kalo kami egois tapi kami tak ingin kehilanganmu, dan sekarang setelah kamu mengetahui segalanya, kamu berhak menentukan, Ibu tak kan melarangmu pergi." Jelas Ibu panjang lebar pada Dini.
Dini diam tak merespon.
Hanya air matanya yang berbicara.
"Berapa usia Kakak ku jika sekarang masih hidup Bu?." Tanya Dini.
"Usianya sekitar 19 tahunan, dia meninggal tepat saat usianya 17 tahun." Jelas Ibu.
"Aku tau kapan dia meninggal, mereka semua tadi jelasin." Kata Dini.
"Ibu minta maaf sama kamu sayang." Ucap Ibu dengan menatap Dini sendu.
Dini memeluk sang Ibu dengan bercucuran air mata.
"Dini maafin Ibu kok, malah Dini makasih banget sama Ibu karena udah besarin Dini dengan penuh cinta dan kasih sayang." Ucap Dini tulus.
Ibu membalas pelukan Dini dengan erat.
Setelah itu keduanya melepas pelukan.
"Jadi?, apa kamu ingin meninggalkan Ibu di sini?." Tanya Ibu.
Beliau sakit mengatakan itu, tapi Ibu harus ikhlas jika Dini memilih itu.
Dini tersenyum menghapus air mata Ibu nya.
Kemudian dia menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia akan tetap bersama Ibu nya.
"Dini ngga akan pergi kalo ngga sama Ibu, Dini sayang sama Ibu, makasih Bu atas segalanya." Ucap Dini dengan kembali berlinang air mata.
"Seharusnya Ibu yang minta maaf sama kamu karena udah nyembunyi in hal besar ini." Kata Ibu.
Keduanya saling berpelukan erat.
Beberapa menit kemudian mereka berdua tenang.
"Ibu?, aku ingin ke pemakaman Kak Mentari." Kata Dini degan nada memohon.
"Kita juga akan kembali ke sana Nak, kita akan menatap di sana, tapi setelah kamu lulus sekolah dan nerima ijazah kita pindahnya." Jelas Ibu.
"Iya, -Terima kasih Bu." Tulus Dini berucap.
Setelah mengatakan ke inginan Dini untuk menjenguk makam Kakaknya itu.
Ibu Dini dan Dini masuk ke dalam rumah karena hari sudah hampir maghrib dan cuacanya sangat dingin.
Kita kembali ke Villa.
Senja yang damai ini meembuat para muda-muda tersenyum bahagia.
Khusunya 3 keluarga junior, 2 pasang calon suami istri, dan Shita Rendra yang berstatus gantung😂.
Untuk Abhi dan Andi, suasana seperti ini membuat mereka tenang.
'Tari?, aku rindu saat kita lihat momen ini bersama.' Andi membatin dengan tersenyum manis.
"Jangan ngelamun, Lo mikir apa sih sampe senyum-senyum gitu?." Tegur Panji di sebelah Andi.
Andi terkekeh mendapat teguran itu.
"Lagi mikirin Dini yak Lo?." Goda Panji.
"Hahahaha, bocil itu?, usianya baru 18 tahun dia mah, tebakan Gua sih tapi masih an, Gua ngga mikirin dia." Kata Andi.
"18 tahun bukan bocil lagi Ndi, dia cantik kok anaknya, lembut lagi keknya, tapi kayanya dia polosnya kebangetan, hahaha." Tawa Panji pelan jika menjabarkan Dini, cewek yang tadi siang mereka jumpai di kebun teh.
Andi hanya tersenyum saat Panji menjabarkan sifat gadis yang dia temui tadi.
'Dini.' Gumam hatinya.
"Ck ngapain di pikirin sih." Keluh bibirnya pelan.
"Tuh kan lagi mikirin, cieeee Andi." Panji makin gencar menggoda Andi dan itu membuat mereka menarik perhatian 3 keluarga junior dan lainnya.
"Ada apa an nih?." Tanya Abdiel.
"Si Andi lagi mikirin Dini." Jawab Panji cepat.
"Wah!, beneran Ndi?, kalo Lo suka sama dia kita bisa bantu cari in dia." Kata Abhi.
"Engga, jangan dengerin si Panji, Gua ngga suka sama siapa-siapa." Kata Andi.
"Hahahaha, tinggal jujur aja apa susahnya sih Ndi." Kata Bang Rafa.
"Iya juga sih, bijak banget Lo sama yang namanya cinta." Puji Rafka.
"Harus dan wajib kalo bijak sama gitu an." Jawab Andi cepat.
"Anak-anak!!!, ayo masuk semuanya!!!!." Panggil Mama Rafka.
"Iya Ma!!." Sahut Bang Idan.
"Ayo masuk ini udah maghrib." Ajak Bang Idan.
Semuanya mengangguk lalu mengikuti langkah Bang Idan.
Andi yang masih melamun di tempat di sadarkan oleh Bang Rafa.
"Andi?!, ayo masuk udah mau maghrib." Katanya sambil menepuk pundak Andi sedikit keras.
"Ayo." Jawab Andi.
Setelah sholat maghrib, mereka makan malam bersama di meja makan.
"Yang besok mau nikah, jangan gugup pas pembacaan ijab qobul yah." Ledek Papa Abdiel.
"Duh jangan gitu dong Om, makin kepikiran nih kita." Ucap Bang Idan yang diangguki Bang Rafa.
"Hahaha, relax aja kali Bang, dulu Abdiel, Abhi, Rafka aja ngga segugup ini dulu." Cerita Papi Alfi.
"Kata siapa Pi?." Tanya Abhi.
"Loh kalian juga ngerasa in?." Tak percaya Papa Abdiel.
"Tapi kalian kaya ngga gugup kok waktu itu, keliatan tenang-tenang aja tuh pas mau di mulai." Celutuk Papi Alfi.
"Mereka berdua ini pinter banget nyembunyi in apa yang mereka rasakan Pi, apalagi suaminya Zarine, beuh!, hebat banget kalo dia mah." Jelas Alfi.
"Hahahaha, Papa juga gitu tau pas mau nikah, gugup, keringet dingin, takut salah ucap, segalanya deh, tapi setelah proses ijab qobul nya selesai, wuhhh!!, udah kaya orang bebas dari hukuman rasanya." Cerita Papa Abdiel.
"Ah Papa lebay, masa sampe kaya orang lulus hukuman, berarti Papa ngucapin nama Mama kaya dapet hukuman dong." Rajuk Mama Abdiel pada sang suami.
"Ya Mama gitu aja ngambek, ngga malu emang sama umur, hshahaha." Kata Papa Abdiel dengan di akhiri tawa yang menggelegar.
Mama Abdiel mencubit pinggang suami nya.
"Aush." Ringis Papa Abdiel.
"Hahahaha." Dan kini giliran semua orang yeng menertawakan sikap kedua orang tua Abdiel ini.
Mereka berbincang hingga adzan isya' berkumandang.
Semua orang bernjak dari duduknya dan pergi ke mushollah villa untuk sholat.
Setelah melakukan kewajiban itu, mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing dan beristirahat untuk kegiatan besok yang sangat di nanti oleh Bang Rafa dan Bamg Idan.
-
-
-
Subuh berkumandang.
Seluruh penghuni villa bangun dari tidur, mandi, ganti baju, dan sholat di kamar masing-masing dengan di imami oleh suami.
Pukul setengah 6 pagi, para perempuan baik yang tua mau pun yang muda di make up oleh tukang rias setempat.
Dan pukul setengah 7 acara pembacaan surah Ar-rahman sesuai permintaan mempelai perempuan di bacakan.
Lalu pukul 7 tepat, acara dimulai.
Bang Rafa dan Bang Idan berganti an mengucapkan qobul yang di tuntun oleh penghulu.
Setelah mendengar kata 'SAH' yang di ucapkan oleh saksi dan pembacaan doa dari penghulu, pengantin perempuan di jemput oleh suami masing-masing.
Mereka duduk di pelaminan untuk menanda tangani berkas berkas dari sipil, bertukar cincin, dan mendapat doa dari uztad.
Lalu acara selanjutnya adalah sungkeman.
Sekali lagi, Mama Papa Bang Idan, Bunda Ayah Bang Rafa menangis terharu dengan anak-anaknya yang sudah berumah tangga semua.
Untuk Mama Papa Tika, hal ini merupakan pertama dan terkahir bagi mereka, karena memang anak mereka hanya Tika seorang.
__ADS_1
3 keluarga ini tidak percaya bahwa anak yang dulu masih dalam gendongan mereka kini sudah dewasa dan akan memulai hidup baru dengan pasangannya.
"Sering-sering kunjungi Mama Papa ya Tik." Ucap Mama Tika.
"Jaga anak saya Zaidan, ingat!, kalo kamu suatu hari nanti sudah tidak mencintainya jangan sakiti dia, tapi kembali kan dia pada saya lagi." Tegas Papa Tika dengan mata memerah lantaran menahan tangis.
"Saya akan mencintai anak Papa terus sampai Allah sendiri yang memisahkan kita." Jawab Bang Idan tak kalah tegas.
Mereka ber 4 berpelukan.
"Bang Rafa, pesan dari Ayah buat kamu cuma satu, kalo kamu sakitin Raina, jangan harap bisa bertemu lagi." Tegas Ayah Zarine.
"Sayangi Raina seperti kamu menyayangi Bunda, Ayah, dan Zarine dan cintai dia juga seperti itu." Tutur Bunda lembut pada kedua anak mantunya ini.
"Iya Bun." Jawab Raina dan Bang Rafa kompak.
Lalu mereka berpelukan dengan sesenggukan.
"Udah jangan nangis kelamaan, nanti bedaknya luntur, hari bahagia ini jangan di buat melow dong." Hibur Mama Akifa.
Beliau juga meneteskan air mata melihat mereka semua.
Bukan sedih sih, hanya terharu.
"Anak-anak juga ngga pindah jauh, mereka masih ada di satu komplek sama kita semua." Kata Mami Alfi.
"Ouh iya, kita berdua juga ngga lama lagi mau pindah rumah ke tempat tinggal kalian." Info Papa Tika.
"Alhamdulillah jadi kita semua deketan." Ucap syukur Papa Abhi.
Di sana ada 4 orang yaitu Rendra, Shita, Andi, dan Panji menatap mereka dengan senyuman bahagia.
"Alhamdulillah mereka semua sudah ketemu jodohnya." Kata Panji.
"Iya, kita bertiga juga udaah ketemu, Lo kapan?." Tanya Shita meledek.
"Belum saatnya." Jawab Panji.
"Maksud Lo kita bertiga itu siapa Ta?." Tanya Andi.
"Lo, Gua, sama Rendra." Jawab Shita.
"Siapa jodoh Lo?." Tanya Rendra.
"Lo lah, ngga mau nikah sama Gua?." Shita menjawab dengan di akhiri pertanyaan
"Hahaha, Ta, tujuan Gua kesini mau jemput Lo, Gua mencintai Lo, sayang sama Lo, mau ngga jadi Istri Gua, dan Ibu dari anak-anak Gua?." Ungkap Rendra gamblang dengan memegang cincin di tangan kanannya dan menghadap ke Shita.
"Ngga romantis banget." Celutuk Panji.
"Diem Lo." Delik Rendra pada Panji.
"Terima aja kalo memang kamu juga mencintainya Ta." Sahut Kak Raina.
Shita menatap ke arah kakak sepupunya yang merupakan keluarga satu-satunya yang dia punya.
Kak Raina tersenyum pada Shita.
Lalu... .
"Gua juga mencintai Lo Dra, sangat mencintai Lo, ya, Gua mau nikah sama Lo." Terima Shita dengan mata berkaca-kaca dan menangis bahagia.
Rendra memasangkan cincin yang di bawanya tadi ke jari manis tangan kiri Shita.
Kemudian Shita memeluk Rendra erat.
Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan dengan aksi Rendra yang berani melamar Shita di tengah keramaian.
Rendra dan Shita melepas pelukan dan menatap tamu di ruangan ini.
"Maaf semuanya, silahkan lanjut kan acaranya." Ucap Shita tak enak hati.
Tamu yang hadir hanya masyarakat desa dan kerabat terdekat keluarga Tika.
Pukul 11.00 acara selesai.
Semua orang bergotong royong membersihkan ruangan yang di pakai tadi.
Lalu setengah jam kemudian adzan dzuhur berkumadang.
Mereka membersihkan tubuh dan sholat di dalam kamar masing-masing.
Untuk pengantin baru ini merupakan hal yang perdana mereka lakukan.
Selesai sholat meraka makan siang bersama di meja makan.
"Nanti pukul setengah 4 sore kita pulang ke kota, besok kalian khususnya yang sekolah harus masuk, ngga ada kata libur." Tegas Papa Rafka.
"Yaaaaahhh, ada in libur dang Pa." Rengek Tika.
"Kalian mau deket ujian, kalo libur nanti banyak ketinggalan info lagi." Imbuh Mama Rafka.
"Iya deh iya." Pasrah Tika.
Selesai makan merak mengepak barang ke dalam koper agar nanti tidak tergopoh-gopoh saat waktu pulang tiba.
Hanya perempuan yang mengepak, sedangkan laki-lakinya, meraka duduk di ruang santai sambil bercerita waktu pernikahan Abdiel Akifa dan Alfi Abhi.
"Kalo habis bubar acara nikahan gini, aku jadi inget teror itu." Kata Abdiel.
"Teror apa?." Tanya Papa Tika yang tak tau apa-apa.
"Beberapa bulan lalu, waktu nikahan nya si Abhi dan Abdiel, bubaran kaya gini kita dapaet teror." Cerita Papa Rafka.
"Teror apa?, buat siapa?." Tanya Andi beruntun.
"Teror apa ya, kalo ngga salah, villa ini di lempari bangkai ayam yang berlumuran darah, dan juga di sana di dekat jendela itu, ada orang yang menggantung boneka kepalanya hamoir putus dan juga berlumuran darah." Jelas Papa Rafka sambil menunjuk lokasi tempat penggantungan boneka.
"Teror itu di tujukan buat Zarine." Jawab Rafka pada pertanyaan Andi yang terakhir.
"Pelakunya siapa?." Tanya Rendra.
"Sari." Sahut Mama Tika cepat.
"Yaa, Mama bener." Jawab Bang Idan.
"Terus pelakunya kemana sekarang?, udah ketangkep kah?." Tanya Panji panjang.
"Pelakunya ada dan udah dapet hadiah hukuman paling sakit." Jawab Abdiel dan hanya di balas angguk kan oleh Rendra, Andi, dan Panji.
"Ouh iya, habis dari sini, Zarine ngajakin kita kesana." Beri tahu Rafka.
"Mau jenguk dia berjamaah?, asli ogah banget Gua." Kata Abdiel.
"Udahlah, kita jenguk aja, ajak juga si Roy biar Sari ada pawangnya kalo kambuh." Frontal Abhi berkata.
Lama berbincang, para perempuan datang dan ikut duduk di sebelah suami masing-masing, untuk Shita, dia duduk di dekat Raina agak jauh dari Rendra.
"Semuanya udah punya pasangan, Rendra Shita bentar lagi juga nikah, Andi sama Panji kapan nyusul?." Tanya Ayah.
"Hahaha, kalo saya sih begitu ada langsung nikah Om, ngga mau ribet." Kata Panji.
"Kalo kamu gimana Ndi?." Tanya Ayah lagi.
"Nunggu in seseorang lulus sekolah dia Om." Sahut Abdiel.
"Siapa?." Tanya Papa Abdiel.
"Dini, anak desa sini." Jawab Bang Rafa.
"Wah wah, baru kemarin ada di sini, udah dapet aja." Goda Mami Alfi.
"Hehe, jangan dengerin Te, saya ngga kenal sama dia, lagi pula sebentar lagi kita pulang ke kota, besok kami bertiga cari barang yang di inginkan Rendra, dan lusa kita pulang, ngga akan ketemu lagi." Jelas Andi.
"Bener kalian pulang lusa?." Tanya Papa Rafka.
"Bener Om, sekalian bawa pulang Shita ke sana." Timpal Rendra.
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏
Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢
Jaga kesehatan selalu readers
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.