Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tigapuluh lima


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.


******************************


-


-


"Lo kok di sini sih Dra? Ngga mau bantu in orang-orang di luar?." Tanya Shita.


"Gua yang punya hajat, masa Gua juga yang musti turun tangan." Ketus Rendra berucap.


"Yah kan partisipasi gitu maksud nya." Bela Shita.


"Ta? Lo nanti mau punya anak berapa?." Tanya tiba-tiba Rendra.


"Kenapa tanya gitu an?." Tanya balik Shita.


"Jawab aja sih, ngapain balik nanya." Jengkel Rendra.


"2 anak cukup." Jawab Shita.


"Kagak kurang tuh?." Gumam Rendra.


"Lu mau anak berapa? 11? Ya kali, kagak mau Gua, orang ngelahirin tuh susah Yang." Lembut Shita menjelas kan.


"Bikin nya enak yak." Goda Rendra.


"Pikiran Lu bikin mulu, sekarang tuh apa-apa mahal, kalo anak kita 11 Lu mampu emang? Kalo Gua jujur kagak mampu Dra." Imbuh Shita.


"Gua juga ngga minta anak 11 Ta, Gua cuma mau 2 atau 3 lah maksimal." Kata Rendra.


Tiba-tiba... .


"Hayooo loh lagi pada ngapain tuhhh?!." Seru Andi sambik mendorong pintu kamar Rendra.


"Untung Gua kagak latah kaget nya." Ucao syukur Rendra yang di angguki Shita.


"Asik bener yak pengantin baru, laki nya tiduran di paha bini nya, di elus-elus rambut nya, ck ck ck... ." Panji berdecak sambil menggelang-geleng kan kepala.


"Iri? Bilang Boss." Ejek Rendra.


"Sombong amat." Ketus Andi sambil melengos.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Hahaha... udah jan ngomongin kita yang udah sah, sekaramg gimana sama jalan hidup kalian sendiri?." Tanya Rendra.


"Ya kagak gimana-gimana." Ringan Andi menjawab.


"Gua pengen punya anak." Cetus Panji tiba-tiba.


"What?!." Seru Rendra, Andi, dan Shita bersamaan.


"Kenapa?." Bak anak kecil yang tanpa dosa Panji bertanya.


"Lu aja belum nikah Bambang, masa mau kawinin anak orang! Pengen di grebek ama warga Lu?!." Seru Shita sambil menendang tulang kering Panji.


"Doy!! Sakit Ta!!." Keluh Panji yang reflek langsung jatuh terduduk.


"Maka nya kalo ngomong tuh di pikir dulu Dodol!." Seru Rendra ikutan jengkel.


"Gua heran tau ama diri sendiri." Ucap Panji memasang wajah sedih.


"Heran kenapa?." Tanya Andi. Dia ikut duduk di lantai berjajar dengan Panji.


"Ngapain kalian duduk di bawah, atas kalian ada kursi noh." Tunjuk Shita.


"Enak lonjoran sini Ta, pegel Gua soal nya." Tolak Panji.


"Tunggu Ta jangan potong pembicaraan, cepet bilang alasan Lo heran ama diri Lo sendiri." Desak Rendra.


"Gua heran kenapa Gua ngga belum laku-laku? Single mulu perasaan, kalian tau sendiri Gua kagak pernah pacaran, kagak pernah aneh-aneh tapi kenapa jodoh tuh kaya ngejauh ama Gua, apa Gua jelek yak?." Penjang Panji menjelas kan.


"Kalo dari fisik nih yah, Lo ngga jelek-jelek amat kok, mungkin kalo Gua ngga jatuh cinta ama Rendra, Gua bakal kepincut ama Lu." Jujur Shita yang langsung mendapat tatapan tak mengenak kan dari Rendra. Dan Shita menyadari tatapan itu.


Dia terkekeh pelan sambil bilang "Gua kan bilang 'Mungkin' Yang, jan terlalu serius dong Yang, cepet tua nanti." Kelakar Shita dan sejurus kemudian dia tertawa lagi.


"Aduh jawab yang jelas dong Ta." Jengah Panji.


"Gua udah jawab jelas tadi, Lo ngga jelek kok, cuma belum dapet aja, nanti kalo udah waktu nya Lo juga bakal nikah dan kawin." Shita menghibur.


"Nikah ama kawin tuh beda yah?." Tanya polos Andi dengan muka plonga plongo.


"Lo... beneran kagak tau apa gimana nih?." Selidik Shita dengan mata memicing mengintimidasi Andi.


"Buat apa Gua pura-pura? Kagak guna! Ada beda nya kah? Jelasin dong." Pinta Andi.


"Nikah tuh kaya yang Gua lakuin tadi, kalo kawin... ." Ucapan Rendra menggantung, dia memasang wajah bingung.


"Jelasin Yang." Desak Shita.


"Bingung cara jelasi nya aku nya." Jawab Rendra.


"Kawin tuh bikin anak, di lakuin nya di kamar, waktu nya ngga nentu, boleh pagi, siang, sore, malem, jelasin gitu aja ribet banget kalian berdua." Mulut ceplas ceplos Panji menjelas kan secara detail kepada Andi.


"Wuh! Bahasa Lo bikin Gua merinding Coy." Ucap Rendra.


"Vulgar bener." Komen Shita.


"Ya kan emang gitu kenyataan nya, gimana paham kan Ndi?." Tanya Panji.


"Bukan nya kawin tuh sebutan buat hewan yang lagi itu yah, yang lagi... au deh lupa." Andi lelah berpikir.


"Aduh jan bahas kawin lah, inti nya ya Ndi, harus nikah dulu kalo mau kawin, jangan kebalik, di grebek warga desa Lu entar." Nasihat Shita yang langsung mendapat angguk kan dari Andi.


'Si Andi nih jiwa bar-bar, pikiran nya polos bat dah astaghfirullah.' Batin Panji beristighfar sambil geleng kepala pelan.


"Ouh iya, gimana resepsi nya Raina ama lain nya? Jadi kalo di ada in secara terpisah?." Tanya Panji.


"Kata nya sih engga, kasian para bumil nya, apa lagi sekarang Kak Rain ama Tika ikutan hamil." Beri tahu Shita.


"What?! Kok Gua ngga tau? Itu tadi kenapa mereka ngga bilang?." Jengkel Rendra.


"Entah lah, kalo udah di tentu in kapan resepsi nya kita harus ke sana ber 4." Kata Shita antusias.


"Kenapa ber 4? Kenapa ngga kita ber dua aja?." Cemberut Rendra berucap.


"Lo kok ngga SK banget ama kita Dra? Kita juga pengen liat Raina naik pelaminan mewah nan megah kaya Lo ama Shita gini." Rungut Andi.


"Hahaha... Gua becanda kali boy's kalian pasti ikut, perjalanan kagak ada kalian kaya rumah kagak ada lampu nya, suram dan gelap." Kata Rendra.


Dan hanya di balas wajah konyol oleh Andi dan Panji.


"Maca cih?." Shita melempar candaan sambil memencet hidung Rendra, dan membuat nya kesulitan bernafas.


"Yang? Lepas! Aku sulit napas ini." Ucap Rendra dengan memukul pelan tangan Shita.


"Hahaha... rencana nya mau bunuh kamu sekalian tadi." Bercanda Shita.


"Wah wah! Jadi janda perawan dong Ta." Andi ikut menimpali guyonan Shita.


"Kagak bakal lama mah kalo Lo janda, pasti bakal banyak yang pepet." Imbuh Panji.


"Apa an dah kalian, ngikut aja, kamu juga Yang, omongan adalah doa Yang, ngga baik tau nyumpahin suami meninggal." Rungut Rendra jengkel.


"Bercanda doang suami kuuuuuu." Ucap Shita dengan mengunyel-unyel pipi Rendra gemas.


Tiba-tiba... .

__ADS_1


"Astaghfirullah hal adzim... kalian ngedekem di sini?! Pantes aja di cari in ke sana kemari-." Ucap Ibu Panji terputus.


"Membawa alamat." Sahut Panji yang kontan membuat sang Ibu reflek menjewer telinga nya.


"Aduyyy Ibuuuu!!." Seru Panji mengaduh kesakitan.


"Ayo ikut Ibu, Andi?! Kamu sekalian! Enak bener yah kalian, lain nya kerja kalian ngedekem bareng manten di kamar." Ucap Ibu yang masih setia menjewer telinga anak nya.


"Hah jewer yang keras Budhe, kalo perlu sampe lepas dari kepala." Andi memanas manasi Ibu Panji.


Dan...


"Aduhhh!!." Pekik Andi kesakitan.


"Dari mana kamu Ndi?." Tanya Ibu Andi dengan nada yang lembut mendayu-dayu.


"Ini Loh Mbak 2 bocah ini ngempet di kamar manten tadi." Adu Ibu Panji.


"Ayo ikut ke dapur sama Ibu sekarang!." Tegas Ibu Andi dengan terus menjewer telinga anak nya.


"Jewer yang keras budhe! Hahahah... ." Seru Rendra dengan tawa menggemah nya.


Dan tentu saja langsung mendapat jeweran juga dari Shita walau pun tak lama.


"Durhaka ama temen ndiri Lo Dra!! Awas Lo!!." Ancam Panji dan Andi bersamaan.


"Duh! Kok di jewer sih Yang." Keluh Rendra manja.


"Jangan bahagia di atas penderitaan temen, ngga baik tau " Peringat Shita.


"Ya maap deh." Ucap Rendra dengan memasang wajah memelas nya.


Rendra tiba-tiba bangun dari rebahan nya di paha Shita, ia berjalan ke arah pintu kamar bermaksud menutup nya dan mengunci nya.


Dan secapat kilat, Rendra menubruk Shita menjadi kan posisi Shita telentang dengan Rendra ada di atas nya.


"Kamu mau ngapain sih Yang?." Tanya Shita pura-pura ngga ngeh.


"Aku pengen." Kata Rendra. Mata nya sudah di selimuti oleh kabut gairah yang sudah tentu itu di sadari oleh Shita sang istri.


"Kamu yang bener aja, aku ngga mau lumpuh dadak kan yah, kita bentar lagi bakal ada acara lagi, jangan konyol." Seru Shita.


"Tapi aku pengen." Suami Shita yang baru beberapa jam yang lalu sah ini merengak dengan nada manja nya.


"Nanti malem kan bisa Yang." Bujuk Shita.


Rendra telah beraksi dengan bibir nya, menciumi leher mulus Shita.


"Jangan sampai ada jejak nya Yang, mau bilang apa aku entar sama perias nya? Malu tau." Tegas Shita, tangan nya mengelus kepala Rendra lembut sambil menyisir rambut nya dengan kelima jari nya.


"Hm." Singkat Rendra menjawab.


Shita sudah menggeliat-geliat karena kecupan Rendra.


Karena takut ke bablasan Rendra memutus kan untuk berhenti dan menatap Shita yang berada di bawah kungkungan nya.


"Kita lanjut nanti malam sesudah acara resepsi selesai, ku buat kamu lumpuh pagi nya, jangan kan untuk mandi, berdiri dari ranjang pun ngga akan bisa." Ancam Rendra dengan senyum miring nya.


"Jangan ancam-ancam aku kaya gitu, ngga aku kasih baru tau rasa kamu." Tutur Shita menakut-nakuti.


"Jangan dong Yang, aku kan dah nunggu lama dan udah nahan-nahan, tega banget ngga ngasih." Rendra memasang wajah memelas nya.


Rendra merebah kan tubuh nya di sebelah kiri Shita, dia memeluk istri nya itu dari belakang sambil mengusap-usap perut rata Shita.


"Aku ngga sabar ngusap perut besar kamu." Bisik Rendra tepat di telinga Shita.


"Sabar... butuh proses kalo untuk semua itu Yang." Balas Shita.


2 pengantin itu pun jatuh ke alam mimpi yang indah karena di landa lelah acara tadi pagi.


Di dapur rumah Rendra.


"Nih kalian berdua ke rumah nya Bu Teni sekarang." Suruh Ibu Panji pada Panji dan Andi, beliau memberi kan 1 ember penuh berisi kelapa untuk di giling kan di rumah nya Bu Teni.


"Kalian tadi dari mana? Kok ngilang sih? Agak lama pula." Tanya Ibu Rendra pada 2 pemuda jomblo ngenes ini.


"Ini Mbak, masa mereka ada di kamar nya manten, goda in mereka lagi." Jawab Ibu Andi.


"Oalah... hahahaha... ." Tawa Ibu Rendra pecah.


Bak anak kecil yang tak berdosa mereka memasang wajah polos dan lugu nya.


"Iya deh iya Budhe percaya, sekarang cepat ke rumah nya Bu Teni." Perintah Ibu Rendra dengan sisa-sisa tawa nya.


Waktu terus bergerak, jam sudah menunjuk angka 11.30 siang.


Adzan Dzuhur berkumandang.


Rendra bangun terlebih dahulu dan mendapati Shita sang istri mengunyel-unyel kan kepala nya ke dada Rendra.


'Duh kalo aja aku ngga inget bentar lagi resepsi kita dilaksana kan, udah aku makan kamu sekarang Yang.' Rendra berucap sambil meringis sendiri.


"Yang? Bangun yuk, udah dzuhur." Lembut Rendra membangun kan Shita sambil berbisik lirih di telinga nya.


"Euh... ." Shita melenguh, mata nya terbuka dan dengan tatapan bingung nya dia bangun duduk di ranjang.


Wajah lesu nya masih tampak jelas terpampang di sana, Rendra terkikik geli melihat nya.


"Jan ketawa." Celutuk Shita.


"Kamu gemesin tau kalo baru bangun tidur gini." Ucap Rendra penuh kejujuran.


"Aku mandi dulu, habis itu kamu." Shita mengalih kan topik pembicaraan.


"Kita mandi-." Belum selesai Rendra berucap Shita sudah memotong.


"Kagak ada, malah bukan mandi kalo kita bareng." Sahut Istri Rendra ini.


"Ya deh sana." Pasrah Rendra dengan muka lesu. Yang di tanggapi Shita dengan senyuman manis nya.


Setelah mandi, sholat, dan juga makan, perias menten datang lagi.


"Manten cewek nya nih meski pun ngga usah make up sudah cuantik pake banget sebener nya." Ucap sang perias dengan binar bahagia yang begitu kental.


"Hahaha... ya iya lah Bu, istri siapa dulu." Sombong Rendra berucap yang sukses mmebuat pipi Shita merah merona karena malu.


Sedang kan para perias, mereka mencebik kan bibir nya sambil tersenyum.


"Adudududu... ya udah tak rias dulu, Mas Rendra tunggu sini atau keluar?." Tanya perias.


"Tunggu sini aja lah Bu, di luar mau ngapain?." Kata Rendra.


"Mending kamu keluar Yang, tamu pasti udah banyak yang dateng, ikut Ibu sana di depan." Suruh Shita.


Dengan malas dia bangkit dari duduk nya dan melangkah keluar kamar.


"Mbak Shita ketemu dimana sih sama Mas Rendra? Tatapan mata nya ke Mbak tuh isi nya cinta semua loh, apa lagi Mbak ke dia, gemes saya liat nya." Ujar perias degan mulai beraksi memoles wajah Shita menggunakan dasar make up.


"Ketemu di desa ini, tepat nya di balai desa." Jawab Shita yang mata nya memandang kosong ke depan mengingat masa lalu sambil tersenyum.


"Kami saling mencintai, tapi dulu perjalanan nya belum se mulus sekarang, alhamdulillah sekarang bisa nikah." Ungkap Shita jujur.


"Tapi... kenapa kalian berdua berantem mulu?." Tanya perias.


"Dia yang mulai, bukan berantem sih, lebih tepat nya debat, dan kebanyak kan hal yang kita bahas di perdebatan itu unfaedah." Tutur Shita yang membuat perias dan juka rekan nya tertawa kecil.


"Sifat nya Mas Rendra tuh gimana menurut Mbak?." Perias Wanita yang berumur hampir setengah abad itu kepo.


"Humoris dan konyol sih yang lebih terlihat, untuk sifat lain nya... aku ngga mau bilang privasi soal nya, biar aku aja yang tau." Kata Shita.


"Kalo 2 hal itu emang kelihatan banget sih Mbak, Mas Rendra orang nya lucu bikin orang ketawa mulu." Imbuh si perias.


"Udah ah jangan ghibahin Rendra, males bahas lain nya aja." Shita meminta ganti topik pembicaraan.


Tepat pukul 14.00 siang, acara di mulai.


Rendra menjemput Shita yang baru saja selesai make up dan memakai baju pengantin nya.


"Kita ngga usah ke pelaminan deh Yang." Kata Rendra tiba-tiba dengan muka serius.


"Hah?! Maksud Lu apa an dah?." Tanya Shita tak paham.


"Liat tuh muka kamu." Tunjuk Rendra ke wajah Shita dengan dagu nya.


"Apa sih?." Heran Shita, dia menghampiri cermin dan melihat wajah nya di sana.


"Kenapa? Orang cantik kaya gini kok." Jawab Shita.

__ADS_1


"Nah itu, kamu tuh 'terlalu' cantik, ngga mau aku kalo itu sampai di liat orang lain." Rendra menekan kata terlalu di kalimat nya.


Shita memutar bola mata nya malas.


"Jan ngaco! Mau bilang apa nanti Ibu kalo kita ngga keluar? Mau bilang 'Manten nya yang cewek terlalu cantik maka nya si suami ngga ngijinin keluar kamar dan duduk pelaminan' bisa di ketawain orang satu desa kita Yang." Frustasi Shita tak paham pikiran Rendra.


Rendra memasang muka ngambek nya, para perias yang melihat itu terkikik geli sendiri.


"Jan ngambek, ngga cocok tau." Kata Shita sambil mencubit pipi Rendra gemas.


Tiba-tiba dari pintu kamar Rendra, suara Ibu Rendra terdengar.


"Ayo keluar, di tunggu in malah stay di sini." Ajak Ibu Rendra pada anak dan menantu nya ini.


"Iya Bu bentar lagi kita keluar." Ucap Shita lembut.


Ibu mengangguk kemudian pergi.


"Ayo." Ajak Shita sambil menarik lengan kekar Rendra agar berdiri.


"Mbak Shita? Kami tinggal ke depan dulu, silah kan bujuk Big Baby nya dulu." Pamit sang perias dengan berusaha menahan tawa nya.


"Ouh iya Bu." Jawab Shita dengan mengangguk kan kepala.


Kamar pun sepi dengan pintu yang terbuka sedikit.


"Big Baby, cocok pake banget buat kamu Yang." Kata Shita.


Diam... suasana kamar hening.


"Ayo keluar." Ajak Shita.


Segala bujuk rayu Shita layang kan agar Rendra mau keluar, dan 30 menit kemudian, baru Big Baby milik Shita ini mau di ajak keluar dan kini sudah duduk di pelaminan.


Andi kembali memvideo call Raina.


Acara demi acara telah terlaksana dengan sangat baik dan lancar. Resepsi Rendra Shita terlaksana sampai pada pukul 17.00 sore.


Tapi video call masih berjalan, dengan posisi Rendra Shita, Andi, Panji di kamar manten.


Banyak petuah-petuah yang di dapat dari Raina dan lain nya tentang kehidupan rumah tangga yang sebenar nya sudah di dapat oleh Rendra Shita dari Ibu Rendra.


Adzan maghrib berkumandang, video call antara Shita dan Kak Raina pun selesai.


Andi Panji juga pamit pulang.


Suasana rumah sudah agak sepi hanya tinggal beberapa orang saja.


Tepat Ba'da Isya' baru lah rumah benar-benar sepi, kalau di teras rumah orang-orang ramai melepas pernak-pernik yang di pakai di pelaminan tadi.


Shita yang melihat rumah begitu kotor, dia memaklumi dan hanya menggeleng kan kepala.


"Ini di bersih kan kapan Bu?." Tanya Shita pada Ibu Rendra.


"Malam ini aja lah, biar besok kita nyantai." Kata sang Ibu mertua.


"Ok gini, Yang? Aku yang nyapu, kamu yang ngepel, bisa ngepel kan?." Kata Shita.


"Besok aja deh Yang." Bujuk Rendra.


"Biar sekalian Yang, liat noh Ibu, beliau aja kuat, masa kamu yang muda malah lemah." Shita membanding kan Rendra dengan Ibu.


Setelah banyak pertimbangan, Rendra pun setuju untuk membantu Shita.


Ibu Rendra melihat anak menantu nya yang kerja sama dalam pekerjaan sangat senang.


"Ibu harap kalian akan terus seperti ini, saling bahu membahu, gotong royong, rukun sampai maut memisah kan nanti, aamiin ya Allah." Doa Ibu Rendra lirih terdengar.


Pukul 21.00 baru pekerjaan Rendra Shita selesai.


"Haduh... alhamdulillah ya allah... ." Ucap syukur Shita setelah pekerjaan nya selesai.


"Kalian istirahat aja deh, semua nya sudah selesai kok, di dapur juga semua nya beres." Suruh Ibu Rendra.


"Iya Bu, bentar kita lagi lonjoran dulu." Kata Rendra.


"Ya udah Ibu pamit masuk kamar dulu, kalo kalian mau apa-apa bikin aja sendiri di dapur." Pamit Ibu yang di angguki oleh 2 sejoli ini.


"Mau kopi ngga?." Tanya Shita setelah kepergian Ibu.


"Engga! Bisa-bisa ngga tidur semalaman aku ntar." Tolak keras Rendra.


"Kita tunda dulu yah gitu an nya, aku capek." Pinta Shita manja dengan nada lirih alias berbisik.


"Ya Allah!!." Frustasi Rendra.


"Hahaha... sabar Yang, buat menuju ke sesuatu yang enak-enak itu butuh perjuangan." Kelakar Shita.


"Iya in dah biar cepet." Pasrah Rendra.


"Hahaha... ." Tawa Shita terdengar kembali.


10 menit selonjoran, merek pun masuk ke kamar dan tidur, sesuai permintaan Shita, Rendra tak melakukan apa pun malam ini di karena kan lelah.


Kita kembali ke kediaman Rafka Zarine.


Malam telah merangkak ke pagi hari, ayam berkokok memenuhi suasana pagi yang cerah ini.


Hari ini adalah hari senin tanggal 18, ujian praktik di mulai dari hari ini di SMA Merdeka.


"Ngga usah sekolah aja bisa ngga sih?." Tanya Zarine.


"Ngga bisa, nanti nilai ujian praktik kita merah lagi." Jawab Rafka.


"Assallammu'allaikum?." Salam sapa Abhi Alfi, Akifa Abdiel, dan Tika.


"Kuy berangkat." Ajak Abdiel.


"Gantian, bosen nyetir Gua." Kata Rafka, dia melempar kunci mobil ke arah Abdiel dan dengan sigap langsung di tangkap oleh Abdiel.


Lalu... .


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2