Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seventy-two


__ADS_3

"Hehe, jangan dengerin Te, saya ngga kenal sama dia, lagi pula sebentar lagi kita pulang ke kota, besok kami bertiga cari barang yang di inginkan Rendra, dan lusa kita pulang, ngga akan ketemu lagi." Jelas Andi.


"Bener kalian pulang lusa?." Tanya Papa Rafka.


"Bener Om, sekalian bawa pulang Shita ke sana." Timpal Rendra.


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Lo mau nikah sama Shita di sana?." Tanya Raina.


"Iya." Jawab Rendra tegas.


"Kapan rencananya?." Tanya Bunda.


"Nanti kita bicara in sama Ibu di dasa Te." Kata Rendra cepat.


"Jangan lupa kabarin kita kalo kalian udah nemu tanggal bulan nya, kita semua juga mau dateng ke nikahan kalian." Kata Mama Akifa.


"Betul itu Ren." Sahut Mama Rafka.


Yang lainnya mengangguk kan kepala setuju.


"Iya... pasti di kabarin nanti." Kata Rendra.


Di ruang santai itu, mereka mengobrol sampai waktu ternyata sudah menunjuk angka 14.45 adzan asyar di sana berkumandang semua orang bergegas masuk ke kamar masing-masing untuk mandi dan sholat.


Pukul 15.15 mereka sudah berkumpul di teras villa.


Para laki-laki mengambil mobil di garasi.


Setelah memasuk kan koper ke dalam bagasi, mereka lalu masuk ke mobil dan meluncur meninggalkan villa.


Tak lupa tadi berpamitan pada pengurus villa.


Di perjalanan, Andi yang berada di mobil Rafka melihat Dini sedang manatap tepat ke arahnya.


Kaca mobil Rafka tak tertutup sempurna karena memang Andi yang membukanya.


Andi dan Dini saling melihat tak berkedip satu sama lain, hingga mobil menjauh dari Dini, baru Andi kembali menatap ke depan.


"Cieee, tenang Ndi, kalo jodoh ngga bakal kemana kok." Bisik Panji pada Andi.


Manusia jomblo ini, suka sekali menggoda temannya.


Dia sedari tadi juga melihat Dini, ingin melambai kan tangan tapi melihat pandangannya yang tertuju ke Andi, Panji mengurung kan niatnya.


"Udah Gua bilang Ji, Gua ngga suka sama dia, lagi pula kita jauh, dia di sini Gua di sana, dan juga, Gua ngga mau di kira jatuh cinta karena wajahnya yang sama kaya Mentari, Gua ngga mau nyakitin cewek lugu kaya Dini." Jelas Andi.


"Tapi bener kata Panji Ndi, yang namanya jodoh dimana pun dan kemana pun perginya pasti bakal ketemu." Zarine ikut berbicara.


Dia sedari tadi mendengarkan pembicaraan Andi dan Panji.


"Tuh dengerin si Zarine." Celutuk Rendra ikut berbicara.


"Gua kira Lo tidur Dra." Kata Rafka di kursi kemudinya dengan melirik sepion tengah.


Rafka berbicara begitu lantaran tadi Rendra menejamkan matanya.


"Gua dengerin mereka ngomong, hahahaha." Tawa Rendra pelan.


"Kalo nih ya, tiba-tiba Dini ada di desa kita, Lo bakal gimana Ndi?." Tanya Rendra pada temannya ini.


"Ya ngga gimana gimana lah, emang maunya Gua gimana?, pekuk anak orang kaya kemarin waktu di kebun teh?, bisa di gebuk ama emaknya Gua." Andi menjawab panjang lebar.


"Bukan cuma ama emaknya Lo di gebukin, tapi sama Shita juga, hahahaha." Tawa Panji.


"Kalo ngga mau di gebukin, nikahin aja Dini nya." Ide Zarine.


"Dia masih sekolah, dan lagi jarak kita jauh, ngga mungkin bisa bersatu." Keukeuh Andi.


"Kalo Allah yang berkehendak ngga ada yang ngga mungkin di dunia ini Ndi." Bijak Rafka dengan seringai jahilnya.


Dia sudah berhasil memojok kan temannya ini.


Buktinya Andi tidak bisa berkata-kata lagi, dia bungkam dan memilih memainkan ponselnya.


"Terpojok dianya hahahaha." Tawa Rafka, Rendra, dan Panji pecah.


Zarine hanya terkekeh melihat tingkah 4 laki-laki ini.


Pukul 20.00 malam 12 mobil baru sampai di rumah Rafka.


Mereka memutuskan menginap di rumah Rafka.


Zarine segera membuka pintu rumahnya.


Setelah terbuka semua orang masuk, para laki-laki membawa koper di tangan kanan nya.


Kemudian mereka masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat menyambut hari esok.


Begitu pun tuan rumahnya, yaitu Rafka Zarine.


Sebelum tidur, Zarine memilah isi kopernya.


"Besok aja Yang, kamu ngga capek hmmm?." Tegur Rafka sambil memeluk Zarine.


"Aku capek, tapi ini bentar lagi selesai, kamu tidur aja duluan sana, sikat gigi dulu jangan lupa." Kata Zarine.


Rafka menurut.


Dia melakukan apa yang Zarine katakan.


10 menit kemudian Rafka selesai bersamaan dengan Zarine yang selesai menata pakaian mereka.


"Udah?." Tanya Rafka.


"Udah, aku ke kamar mandi dulu, setelah itu tidur." Katanya.


Rafka mengangguk lalu Zarine pergi ke kamar mandi.


Selesai melakukan ritual sebelum tidur, Zarine naik ke ranjang dan tanpa bicara apapun pada Rafka dia jatuh tertidur di pelukan Rafka dengan nyenyak.


"Good night my wife." Bisik Rafka di telinga sang istri.


Zarine sudah sangat lelah jadi dia terlelap begitu cepat.


Rafka memandang wajah tenang istrinya yang tidur di dadanya.


"Imut benget sih istri ku ini." Rafka menghujani wajah Zarine dengan kecupan.


Zarine hanya menggeliat kecil dan kembali pulas.


Rafka kemudian ikut tertidur setelah lama menjahili istrinya.


-


-


-


Pagi meenjelang, semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan bersiap menyantap makanan.


"Kalian bertiga mau cari sama siapa barang yang kalian bicarakan kemarin?." Tanya Papa Rafka sambil memandang Rendra, Andi, dan Panji.


"Kita cari sendiri Om, sama Shita nanti juga sekalian." Jawab Rendra.


"Kalian baru pertama ke sini, mending minta temen sama Bang Rafa, Bang Idan biar ngga tersesat." Kata Mama Rafka.


"Hehehe, kita kesini udah 3 kali sekarang Te, udah hafal banget ama jalan, bahkan rute Jakarta." Kata Rendra.


"Lah? Udah 3 kali sekarang?." Ulang Abdiel.


"Iya, dulu waktu masih ikut supir truk nganter barang ke sini, kita ber tiga jadi tukang nurunin barangnya." Cerita Rendra.


"Ouh yang waktu Lo setiap satu bulan sekali ngga masuk 15 hari itu ya?." Tanya Shita.


"Iya." Singkat Rendra.


"Lama benget sampe 15 hari?." Tanya Abhi.


"Hahaha, nganter barangnya kita cuma 3 hari, yang lama mainnya." Jelas Panji.


"Supirnya ngga marah?." Tanya Ayah.


"Mau marah gimana?, orang supirnya juga paman nya Rendra sendiri." Celutuk Andi.


"Pantes." Jawab semua orang sambil tertawa pelan.


"Kalian kalo mau pergi pakek mobil di garasi aja, kucinya di saku kulkas." Kata Rafka.


"Makasih Raf." Ucap Rendra.


"Sama-sama, yaudah ayo kita berangkat udah mau telat ini kita." Ajak Rafka.


Para orang tua yang bekerja dan 6 serangkai berangkat ke sekolah dan ke kantor.


Yang ada di rumah Rafka para ibu-ibu, Shita, Raina, Rendra, Andi, dan Panji.


Rendra dan 2 cowok lainnya juga bersiap akan mencari barang yang di butuhkannya.


Shita ikut menuju kamarnya ingin mengambil tas, dompet. dan ponsel.


Saat akan keluar kamar, Rendra ada di depan pintu dengan membawa kotak musik bola kaca.


"Nih barang yang Lo minta kemarin." Kata Rendra dengan memberikannya pada Shita.


"Wihhh, udah dapet aja." Puji Shita.


"Makasih." Ucap Shita tulus.


Rendra tersenyum sambil mengacak rambut calon istrinya ini dengan gemas.


"Udah mesranya, hawanya ngap nih kita liat kalian." Sahut Andi tiba-tiba dari arah belakang Rendra.

__ADS_1


"Ayo berangkat." Ajak Panji.


Shita meletak kan kotak musik dari Rendra di meja nakas samping tempat tidur.


Kemudian 4 orang itu kembali ke ruang santai untuk berpamitan.


Setelah mendapat ijin, mereka pergi dengan berjalan kaki tidak memakai mobil yang Rafka bilang.


Mereka ber 4 berniat menikmati hiruk pikuk Jakarta dengan berjalan kaki.


Sampai di tempat tujuan, mereka segera masuk dan membeli barang yang di maksud Rendra.


"Ini warnanya ngga ada lagi Pak?." Tanya Andi.


"Ngga ada Mas, ini aja barangnya cuma tinggal satu." Jelas penjualnya.


"Susah banget ya Pak cari barang ginian?." Tanya Shita.


"Beuh, banget Mbak susahnya, saya aja ngga bisa jamin kalo besok-besok bisa stok barang ginian." Kata Penjual.


"Ini berapa satu paketnya?." Tanya Rendra.


"Agak mahal ini Mas, 1,7 juta." Jawab Penjual.


"Namanya barang langka dan kita lagi butuh, mau mahal sekali pun bakal kita beli Pak, hehehe." Kata Panji.


"Kita ambil ini Pak." Ucap Rendra.


Rendra membayar barang yang dibelinya.


Setelah itu mereka memutuskan jalan-jalan.


"Kita jalan-jalan kuy, terakhir di Jakarta nih." Ajak Andi.


"Ayo deh cus kita pergi." Setuju Shita.


4 orang itu pergi jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta.


Bak anak kecil mereka bermain di sana.


Di tempat lain, tepatanya sekolah.


jam menunjuk kan waktu istirahat di sana.


6 serangkai bertambah dengan Tika duduk di bangku pojok seperti biasa.


"Rendra, Andi. Panji, Shita pasti kagi main nih sekarang." Kata Tika.


"Hahaha, pasti kalo itu mah, mereka juga terakhir ada di kota ini, jadi mereka ngga mau cuma diem di rumah." Jelas Akifa.


"Dan Gua juga yakin 4 orang itu ngga bakal pake mobil yang ada di garasi mobil Gua." Timpal Rafka.


"Hehehe, dari pada kita penasaran telepon aja mereka." Celutuk Alfi sambil terkekeh.


"Ide bagus." Kata Abdiel.


Dia mengeluarkan ponselnya, ketika ingin menghubungi Rendra, Rafka mencegah.


"Jangan di sini, kita ke atap sekolah buar bebas kalo mau teriak." Kata Rafka.


Semuanya mengangguk kan kepala dan pergi dari kantin menuju atap.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengikuti dari belakang.


Sampai di atap.


Mereka duduk di belakang Abdiel.


"Jangan telepon, video call aja." Kata Akifa.


Abdiel menuruti kata istrinya.


'Memanggil... .'


"Berdering... .'


3 menit menunggu.


"Lama banget." Keluh Akifa.


"Mereka lagi seru-serunya ini pasti." Kata Abdiel.


Lalu... .


"Heiii?!." Sapa Rendra dan Shita kompak.


"Cieee yang lagi sekolah." Ejek Andi.


"Semangat deh sekolahnya." Sambung Panji ikut meledek.


"Ck!, kenapa jadi kita yang di ledekin sih?!." Gumam Tika pelan.


"Hahahaha." Tawa 4 orang di seberang terdengar menggelegar karena melihat wajah kecut 7 orang ini.


"Kalian udah dapet belum barangnya?." Tanya Rafka menghentikan tawa Rendra dan lainnya.


"Udah, tapi harganya bikin KanKer." Jawab Panji.


"Mehong yak?." Tanya Akifa.


"Banget." Jawab Shita.


"Naik sandal." Jawab Shita sambil nyengir kuda.


"Kenapa ngga mau pakek mobil yang ada di garasi?." Tanya Rafka.


"Kita udah banyak repotin Lo Raf, ngga enak Gua kalo terus ngrepotin." Kata Rendra.


"Lo di sini cuma 4 hari an Dra, sedangkan kita di kota Lo kemarin sampe 2 minggu, kita malah lebih banyak ngrepotin Lo." Kata Abhi.


"Bener itu." Timpal Abdiel.


"Gak papa udah kita juga enakan jalan, biar lebih berasa gitu jalan-jalan nya." Jelas Andi.


Mereka semua bercerita kegiatan satu sama lain.


Sampai Shita menanyakan... .


"Itu di pintu belakang kalian siapa?." Tanya Shita.


"Iya di sana ada orang." Sambung Rendra.


"Gimana ciri-cirinya?." Tanya Alfi pelan.


"Cewek, rambut panjang sebahu." Jawab Shita.


"Pakek jaket pink kah dia?." Tanya Tika.


"Iya." Jawab Andi dan Panji kompak.


"Ngga usah di ladenin." Kata Akifa.


Di pintu masuk atap.


"Ck!, apa coba yang mereka obrolin, sampe ketawa ngakak gitu." Sungut Bella kesal.


"Lo ngapain di sini?!." Tegur Zahra dari arah belakang Bella.


"Shit!, Lo bikin kaget aja tau ngga!." Kata Bella mengumpat.


"Ayo pergi!!." Ajak Zahra tanpa menggubris omelan Bella.


Zahra mencekal kemudian mneyeret Bella agak pergi dari atap.


Di tempat Rafka Zarine.


"Eh... orang yang ngintipin kalian udah pergi di seret temennya." Beri tahu Shita.


"Syukur deh kalo gitu." Ucap Tika.


'Tring... ring... ring... ring... .'


Bel masuk berbunyi.


"Yahhhhh." Keluh Akifa.


"Hahaha, udah sana masuk, semangat belajarnya!!." Seru Shita dengan kembali menertawakan 7 serangkai.


"Ya udah kita masuk dulu, assallammu'allaikum." Salam Abdiel.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Shita Rendra, Andi dan Panji.


Video call berakhir.


Mereka berjalan keluar dari atap dan menuju kelas.


Di perjalanan.


"Tadi yang di maksud Shita siapa?." Tanya Zarine pada Rafka di sampinyanya.


"Bella, anak kelas 10 yang kiriman kamu surat itu loh." Jawab Tika.


"Ouh." Singkat Zarine.


"Ingat ya kalian semua, aku males ribut, kalo salah satu di antara kita nasihatin dia, please jangan pakek keributan, dan usahan libatkan aku dalam hal apapun jika menyangkut Bella." Tegas Zarine dengan panjang lebar.


"Siiap!!." Jawab Rafka dan lainnya kompak.


Zarine terkekeh melihat tingkah suami dan para sahabatnya ini.


-


-


-


Pulang sekolah 7 serangkai menuju tempat parkir.


Zarine berjalan paling akhir karena dia sibuk dengan isi tasnya, dia merasa sepeti ada yang kurang.


Tiba-tiba... .


'Brukk.' Zarine di dorong hingga jatuh.


"Astaughfirullah." Zarine jatuh dan isinya berserakan.


"Lo ngga punga mata?!." Sungut Tika yang mengetahui Bella sengaja mendorong Zarine.

__ADS_1


Bella diam tak menjawab.


Rafka membantu sang istri berdiri juga memungut buku-bukunya.


Bella memutar bola mata malas melihat ke uwu an Rafka Zarine.


"Kebetulan, Gua udah lama ngga nyekik orang, Lo mau daftar ngga?." Tanya Alfi dingin, di sudah akan berjalan ke arah Bella, tapi untung di tahan oleh sang suami.


Zarine menatap Bella dengan tersenyum manis.


"Kamu suka sama Kak Rafka ya?." Tanya Zarine pada Bella.


"Kalo iya kenapa?." Tantang Bella.


"Lo!... ." Alfi ingin beraksi tapi Abhi makin kuat memeluk.


"Kalo suka ambil aja... ." Ucapan Zarine menggantung.


"Yang?!." Rafka kesal.


Mata Bella berbinar terang.


"Tunggu dulu aku belum selesai ngomong, ambil aja kalo Kak Rafka nya mau sama kamu." Kata Zarine.


"Yaa ngga bakal maulah aku, kamu udah bikin aku jatuh cinta se jatuh jatuh nya, mana bisa kalo di bagi-bagi cintanya?!." Seru Rafka tegas menjawab sambil menatap Zarine lembut.


"Dan asal kamu tau Bella, hubungan kita berdua udah lebih dari sekedar pacaran, jadi ngga usah berharap banyak." Tegas Rafka.


Zahra datang dengan berlari dari arah gedung sekolah.


"Maaf Kak kalo Bella cari masalah, ayo pegi, permisi Kak." Pamit Zahra sambil menyeret Bella yang diam karena perkataan Rafka Zarine.


'Huuuffffffh.' Helaan nafas terdengar dari hidung Zarine.


"Kamu hebat Za, gitu dong, harus lawan." Kata Akifa memuji Zarine.


"Tapi ngomong-ngomong, perkataan Lo ada yang ambigu tuh Raf." Celutuk Abhi.


"Ouh itu, udah biarin aja dia mau gimama ngarti in nya, kalo dia sampe sebarin, ya ngga masalah orang kita nikah juga bukan usia dini, tapi usia muda." Kata Rafka enteng.


"Bener juga apa kata Rafka." Imbuh Abhi.


"Jujur aku ngga tega." Kata Zarine.


"Za sayangku, di dunia ini kalo tega di dahulu in, kamu bakal sering kehilangan, jadi buang jauh-jauh deh rasa itu sama calon pelakor kaya dia." Jelas Akifa.


"Bukan calon, tapi emang pelakor." Ralat Alfi masih kesal.


"Udah Yang, tenang ok." Abhi berusaha mendinginkan suasana panas di hati istrinya.


"Kali ini aku bakal diam, tapi kalo dia berulah lagi, bertingkah lagi, jangan harap aku diam lagi, ngga akan ada yang bisa halangin aku termasuk kamu Yang." Tegas Alfi pada Abhi dan lainnya.


'Waduh berabe nih kalo sampe ada palekor lagi' Was was Akifa.


'Semoga kedepan nya ngga ada kejadian kaya gini lagi.' Doa Zarine.


'Bisa patah semua tulang anak orang kalo bini nya Abhi yang nasihatin.' Batin Abdiel lebay.


"Ayo pulang." Ajak Rafka.


Semua menurut dan masuk ke dalam mobil masing-masing kemudian kendaraan roda 4 itu melaju meninggalkan gedung sekolah.


Di halte bus 2 gadis sedang duduk menunggu jemputan.


"Lo tadi diapain sama meraka Bell?, Lo sih Gua bilangin jangan cari masalah tetep aja ngeyel, sekarang liat akibatnya?, Kak Alfi hampir aja lepas kontrol, untung ada pawangnya." Zahra nyerocos kemana-mana.


Sedangkan Bella yang di ceramahi, dia diam mematung.


Dalam pikirannya dia masih mencerna maksud dari kata-kata Rafka yang mengatakan... .


'Dan asal kamu tau Bella, hubungan kita berdua udah lebih dari sekedar pacaran, jadi ngga usah berharap banyak.'


Kata-kata itu melekat erat di otak Bella.


'Apa maksud perkataan Kak Rafka?, apa meraka sampai sejauh itu melakukan hubungan?.' Batin Bella bertanya-tanya.


"Bella?, Bella?!!." Zahra mamggil dengan berteriak kencang.


"Hah?!!, ada apa sih Ra teriak-teriak?, Gua ngga budek kali!." Sungut Bella.


"Gimana?, udah nyesel belum cari masalah sama mereka?!." Tanya Zahra tak menanggapi sungutan Bella.


'Huufffffh.' Helaan nafas terdengar.


"Lo bener gua udah salah cari masalah, Kak Rafka sama Kak Zarine ternyata udah sejauh itu hubungannya."Curhat Bella.


"Sejauh itu gimana?." Tanya bingung Zahra.


"Hubungan mereka udah lebih dari pacaran." Ungkap Bella lesu.


"What?!!." Seru Zahra berteriak.


"Zahra?!, ngga usah pakek teriak ogeb!." Jengkel Bella.


"Sorry sorry, Gua syok dengernya, ngga nyangka aja gitu, masa sih mereka gitu?." Tak percaya Zahra.


"Dia sendiri kok bilang gitu." Kata Bella.


"Udahlah berenti bahas mereka, jangan sampe mulut Lo ember, jangan sampe ini bocor, bisa-bisa Kak Alfi patahin tulang Lo nanti." Zahra menakut-nakuti Bella.


"Gua juga udah ketemu sama yang namanya Kak Alfi, asli serem banget kalo marah, Gua ngga mau cari masalah sama mereka semua deh." Takut Bella dengan bergidik ngeri.


Kemudian 2 mobil hitam berhenti di hadapan Zahra, Bella.


Itu mobil jemputan meraka.


Segera mereka masuk mobil dan meninggalkan halte bus.


Maksud dari perkataan Rafka tadi adalah hubungan pernikahan, tapi karena Bella tidak memikirkan sampai sana jadi dia menganggap Rafka Zarine sering melakukan 'itu'.


Perkataan ambigu Rafka membuat pusing Bella dan akhirnya berakibat menjadi ke salah pahaman.


Tapi Bella memutuskan untuk tidak mencampuri urusan mereka lagi, dia sudah mundur dari pertempuran dan sudah mengaku kalah.


-


-


Di rumah Rafka Zarine.


suasana sangat ramai oleh ocehan 7 keluarga senior, 3 keluarga junior, 2 pasang pengantin baru dan 4 orang lainnya.


Mereka berkumpul di ruang santai setelah 7 orang yang baru pulang sekolah itu mandi.


"Kalian pindahannya kapan?." Tanya Mama Akifa pada 2 pasang pengantin baru ini.


"Malam ini Te." Jawab Bang Idan.


"Kalo kalian?, Bram sama Ajeng, kapan pindah ke perumahan sini?." Tanya Mama Akifa.


"In syaa allah hari rabu, rumah di sana pemiliknya udah dateng." Jawab Papa Tika.


"Papa jual rumah nya?." Tanya Tika.


"Iya, dan sisa-sisa barang kamu udah Mama taruh di kardus siap bawa ke rumah kamu sendiri kalo kamu mau bawa." KaTa Mama Tika.


"Hari rabu nya aja deh Ma Tika ambil." Kata Tika.


"Perumahan ini jadi kaya rumah keluarga besar kita ya." Celutuk Mami Alfi.


"Hahaha iya, anak-anak kita, bahkan besan kita juga ngumpul di perumahan ini." Kata Papa Rafka.


"Dan semoga di masa depan nanti, cucu-cucu kita juga ngumpul di sini jadi satu." Doa Ayah.


"Aamiin." Sahut semua orang, baik yang muda sampai yang tua meng aamiin kan doa Ayah.


"Habis makan malam nanti, ini para ibu-ibu dan bapak-bapak masih mau menginap kah?." Tanya Zarine.


"Kita pulang sayang, rumah udah kosong dari 2 hari yang lalu, nanti kalo kita ngga pulang bisa-bisa di tempati hantu." Kelakar Mama Rafka.


"Sepi dong bentar lagi." Keluh Zarine lesu.


"Kalian bikin baby dong biar ngga sepi lagi, biar ada temennya, dan biar kita betah main ke sini nya." Kata Bunda.


"Lagi proses Bun." Jawab enteng Rafka.


Zarine yang mendengar jawaban Rafka kontan langsung bersemu merah.


Dia mencubit lengan Rafka pelan.


"Aku bener kan Yang?, kita emang lagi usaha, belum dapet aja dari Allah." Kata Rafka lagi.


Zarine menenggelamkan wajahnya di punggung Rafka malu, sedangkan lainnya yang mendengarkan pembicaraan Rafka Zarine tertawa terbahak bahak.


"Istri kamu malu tuh Raf." Goda Mama Akifa.


"Tante udah ah." Kata Zarine.


Rafka hanya terkekeh dengan tingkah Zarine.


"Kamu sih ngomongnya frontal, malu tau." Sungut Zarine.


"Ya maaf." Bisik Rafka.


"Cieeee bisik-bisik apa an tuh." Goda Mama Akifa lagi.


"Hahahaha." Sekali lagi tawa kembali pecah.


"Ini juga buat kalian yang sudah menikah, bikin baby biar rumah ngga sepi." Kata Bunda pada muda-muda yang sudah menikah.


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏


Maaf ceritanya berbelit-belit🙏😢


Jaga kesehatan selalu readers

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2