Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Thirty-five


__ADS_3

3 bulan kemudian.


6 serangkai yang kini menjadi 3 keluarga junior, menghabiskan waktunya fokus belajar untuk menghadapi ujian nasional.


Tapi untuk hari minggu ini, mereka gunakan untuk bersantai.


Tanggal 07 November hari minggu.


Dirumah kediaman Rafka Zarine.


3 keluarga junior berkumpul, tak lupa pula dengan 6 keluarga senior serta Bang Rafa dan Bang Idan.


"Kalian ber 6 mau masuk Univ. Dalam Negara atau Luar Negara?." Tanya Papa Akifa.


"Dalam Negara Om, kita kuliah disini aja, kalo di Luar kita ngga bisa ngumpul kaya gini dong?." Jawab Alfi yang diangguki Abhi, Abdiel, Akifa, Zarine, dan Rafka.


"Mereka ber 6 bisa kuliah bareng kalo Zarine, Alfi, dan Akifa belum hamil Te." Celutuk Bang Rafa.


"Hehehe, iya juga, bener kata Rafa." Kekeh Mami Alfi membenarkan perkataan Bang Rafa.


"Emang rencananya kalian punya momongan kapan sih?." Tanya Mama Akifa.


"Entahlah." Jawab Rafka tak meyakinkan.


"Lah? Kok entahlah?." Timpal Bang Idan.


"Kalo mau bikin baby itu ngga gampang Bang Idan, kalo kitanya mau tapi ceweknya nolak ya ngga jadi." Ucap Abdiel vulgar.


Akifa, Zarine, Alfi membulatkan matanya malu mendengar perkataan Abdiel.


Pipi mereka ber 3 memanas, bahkan sekarang sudah seperti kepiting rebus.


'Ahahaha.' Tawa seluruh orang pecah melihat ekspresi 3 gadis itu dan wajah tanpa dosa Abdiel.


Rafka dan Abhi hanya terkekeh dengan menggelengkan kepala.


"Apa? Emang salah?." Tanya Abdiel polos.


"Iya salah!, kamu ngomongnya enteng benget yaaa, bikin malu aja tau ngga." Kata Akifa dengan memukul Abdiel menggunakan bantal sofa.


"Auw!, udah Yang, iya maaf, abisnya Bang Idan tanyanya aneh." Kata Abdiel.


"Dih Gua disalahin, Gua tanyanya bener tau." Kata Bang Idan dengan sisa-sisa tawanya.


'Bugh.' Bantal Sofa melayang kearah kepala Bang Idan.


"Aduh!." Seru Bang Idan pelan.


Saat melihat pelakunya, Bang Idan disuguhkan dengan pandangan mata melotot milik Alfi.


"Hehehe, peace." Cengir Bang Idan mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Semuanya kembali terkekeh geli melihat tingkah anak-anaknya.


"Tinggal 2 orang yang belum punya pasangan, kapan nih?." Tanya Ayah, yang ditujukan pada Bang Rafa dan Bang Idan.


"Kalian mau nyari yang kaya gimana sih? Biar Tante cari in deh." Tawar Mama Akifa.


"Iya bener tuh, Tante Chayra handal banget kalo soal anak gadis, kalian tinggal sebut aja mau yang kaya gimana." Timpal Mama Abdiel.


"Mau yang kalem kaya Zarine ada, mau yang bar-bar kaya Akifa juga ada." Sebut Mama Akifa.


"Mama?!, Akifa ngga bar-bar." Sungut Akifa kesal tak terima dibilang bar-bar.


"Apa kalo bukan bar-bar?, ouh pecicilan." Ralat Mama Akifa.


Akifa mengerucutkan bibirnya.


"Jangan dimaju-majuin, entar aku kuncir itu bibirnya." Bisik Abdiel menggoda istri tercintanya itu.


Akifa melototkan matanya


"Hehehe, ampun, engga jadi dikuncir deh." Kekeh Abdiel.


"Gimana Rafa? Idan? Mau yang kaya apa nih?." Tanya Mama Akifa.


"Engga deh Te, kita juga sebenernya masih sanggup kalo buat nyari calon." Kata Bang Rafa.


"Terus? Kenapa sampe sekarang masih sendiri kalo mampu cari?." Tanya Mama Rafka.


"Ngga mudah Ma milahnya, rata-rata yang deketin mata duitan semua." Celutuk Bang Idan.


"Ahahaha." Tawa para orang tua laki-laki pecah.


"Terus kalian maunya sifat cewek yang kaya gimana?." Tanya Ayah Zarine.


"Kalo Rafa sih, maunya ceweknya baik hatinya, pekerja keras, bisa masak, paham kewajibannya sebagai istri, dan bisa diajak susah kalo seandainya Rafa lagi bangkrut, dan setia itu aja sih." Terang Bang Rafa.


'Huuffffh.' Helaan nafas orang tua perempuan terdengar.


"Kenapa?." Tanya Bang Rafa heran.


"Kriteria yang kamu sebutin agak susah Bang Rafa." Kata Mami Alfi.


"Iya, kriteria kaya gitu udah jarang, alias langkah." Timpal Mama Abdiel.


"Kenapa ngga milih yang cantik, tinggi, saxy? Kalo itu tinggal pilih Lo Bang." Saran Abdiel.


"Kalo yang kriteria kaya gitu udah banyak noh, dirantauan si Idan tempatnya." Tunjuk Bang Rafa.

__ADS_1


"Tiap hari Gua liat yang kaya gitu, ngga ada yang menarik dari mereka, kesannya biasa aja, sekali ada yang srek, ternyata udah punya suami." Jelas Bang Idan.


"Ahahahahaha!!." Tawa orang tua pecah memenuhi ruangan lagi.


"Kamu pernah naksir istri orang Bang?." Tanya Mamanya dengan masih tertawa.


"Pernah dulu, cuma tertarik aja sih, ngga lebih." Kata Bang Idan.


"Lakinya tau ngga?." Tanya Abdiel.


"Ya kagak lah, kalo tau bisa habis Gua!, mana serem lagi lakinya, hiiiii." Sambung Bang Idan dengan bergidik takut.


"Lakinya serem?, bodyguard maksud Lo?." Tanya Rafka pada Abangnya.


"Kaya gitu deh." Jawab Bang Idan.


"Emang orangnya yang Lo taksir gimana sifatnya?." Tanya Abhi penasaran.


"Namanya Cassandra, umurnya 27 tahun sekarang-."


"Umur kalian beda jauh dong?." Potong Akifa.


"Ish, denger dulu Aki." Sungut Bang Idan.


"Yang lengkap kalo panggil nama Gua, Aki aki, Lo pikir Gua kakek-kakek?!." Dengus Akifa kesal.


Bang Idan hanya nyengir kuda menaggapi dengusan Akifa.


"Bang Idan ama dia beda umurnya 5-6 tahunan kalo ngga salah, beliau itu kepribadiannya sama kaya Zarine, kalem dan lemah lembut, beliau kerja sebagai sekretaris klien Bang Idan dulu." Bang Idan menjeda ceritanya.


"Terus?." Tanya Akifa penasaran.


"Ya gitu deh, sempet punya pikiran mau Bang Idan lamar, eh ternyata dia punya suami juga anak, ahahaha malu kalo ingat kejadian itu." Tawa Bang Idan pelan.


"Ceweknya tau kalo Bang Idan naksir dia?." Tanya Alfi.


"Ya ngga lah, kalo tau, bisa malu dan babak belur ditempat Bang Idan, suaminya itu perawakannya gede tinggi besar, sekali aja kena tonjok kannya abis udah." Jawab Bang Idan.


"Sabar Bang, pasti nanti bakal ada gantinya kok." Hibur Abdiel.


"Gua ngga sedih ngga dapet dia, gua kan bilangnya cuma tertarik, bukan jatuh cinta." Kata Bang Idan.


"Hehehe, iya sory kagak denger tadi." Kekeh Abdiel.


"Kalem, lemah lembut, ada sih kaya gitu." Beri tahu Abdiel.


"Siapa?." Tanya para perempuan diruang santai itu.


"Ada, namanya Tika Ajeng Bram." Sebut Abdiel.


"Kaya kenal." Gumam Akifa pelan.


"Gimana ngga kenal, Tika temennya si Medusa kan?." Tanya Alfi pada Abdiel.


"Emmm, bener kata Abdiel, Tika itu lemah lembut, kalem, baik lagi." Jelas Zarine.


"Yakin? Kalo dia kaya temennya itu gimana?." Tanya Mama Rafka.


"Dia baik kok Ma, kalo Sari lagi berdebat sama Za, dia yang biasanya misahin dan bawa pergi si Sari." Terang Zarine.


"Udahlah, Bang Idan kagak mau dijodoh-jodohin, seketemunya aja." Kata Bang Idan.


"Kalo kalian ngga nikah-nikah, jadi bujang lapuk dong?, ahahaha." Ejek Abdiel sambil tertawa ngakak.


"Kita bakal nikah, tapi ngga sekarang." Sahut Bang Rafa.


Keluarga besar itu melajutkan obrolannya dengan berbicara kemana-kemana, dan baru berhenti pukul 11.00 siang.


Keluarga senior dan junior serta Bang Rafa dan Bang Idan, pulang kerumah masing-masing.


-


-


-


Hari senin tiba.


Senin pagi adalah hari yang sibuk untuk semua orang.


Dikediaman Mama Papa Rafka.


"Ma Pa? Idan lansung berangkat deh." Kata Bang Idan dengan meminum segelas susu yang disediakan Mamanya.


"Sarapan dulu Dan." Suruh Mama.


"Ngga sempet Ma, pagi ini Idan ada rapat, biar Idan sarapan dikantor aja deh." Balas Bang Idan.


Bang Idan mencium punggung tangan Mama Papanya kemudian pergi.


"Assllammu'allaikum.' Salam Bang Idan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Mama Papa.


Di tengah perjalanan Mobil Bang Idan bermasalah.


"Lah? Ini ngapa pula? Duh bensinnya habis lagi, kenapa bisa lupa isi sih?!." Bang Idan marah pada dirinya sendiri.


"Mana jalan sepi lagi, gimana dong?, oh telepon Rafa." Kata Bang Idan.

__ADS_1


'Tut... tut... tut... , nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi coba lah beberapa saat lagi.' Suara operator yang sangat menjengkelkan bagi Bang Idan pagi ini.


"Shit!, terus ini gimana?!." Kesal Bang Idan.


"Rafka!." Seru Bang Idan.


'Tut... tut... tut... , nomer-.' Lagi-lagi operator dan langsung dimatikan oleh Bang Idan.


"Mau taksi online, Gua ngga punya aplikasi itu." Gumam Bang Idan.


"Om?." Panggil seseorang.


"Allahu Akbar!." Kejut Bang Idan.


"Om ngapain disini? Mobilnya mogok ya Om?." Tanya seseorang itu.


Dia seorang gadis berseragam SMA, dinametagnya bertuliskan Tika A . B yang artinya namanya adalah Tika.


"Bukan mogok, tapi kehabisan bensin." Jawab Bang Idan.


"Om mau-."


"Jangan panggil Om, aku ngga setua itu." Potong Bang Idan kesal.


"Hehehe, ya udah deh iya, Kakak mau kemana emangnya?." Tanya Tika.


"Ke kantor Hasan Grup." Jawab Bang Idan.


(Hasan Grup adalah nama kantor Bang Idan).


"Wah! Deket dari sekolah ku ternyata, Kakak mau bareng aku ngga?." Tawar Tika.


Tika membawa motor matic saat itu.


Bang Idan diam menimbang-nimbang tawaran Tika.


"Ok ayo." Setuju Bang Idan.


Saat Bang Idan mau naik, Tika malah turun dari motor.


"Lah? Kenapa turun?." Tanya Bang Idan.


"Ya Kakak yang setirin dong." Kata Tika.


"Ok, ayo cepet." Balas Bang Idan.


Tika melepas helmnya dan memberikannya pada Bang Idan.


"Apa?." Tanya Bang Idan.


"Buat dipakek Kakak." Jawab enteng Tika.


"Udah kamu pake aja, masa aku yang gagah tegap ini pakenya helm pink?, pake kamu aja, dan ayo segera berangkat." Tolak Bang Idan.


"Dasar narsis, untung beneran." Gerutu Tika yang masih dapat didengar Bang Idan.


Bang Idan hanya terkekeh mendengar gerutuan Tika.


Mereka berdua menaiki motor boncengan berdua.


Sesampainya di depan kantor, Bang Idan turun.


"Wihhh, Kakak kerja disini?." Tanya Tika kagum.


Bang Idan tak menanggapi kekaguman Tika.


"Kata Papaku, yang punya perasahaan ini masih muda banget." Oceh Tika lagi.


"Nih, makasih buat tumpangannya." Ucap Bang Idan dengan memberikan 1 lembar uang kertas berwarna merah pada Tika.


"Sama-sama, tapi uangnya buat apa?." Tanya Tika heran tapi menerima uang itu.


"Buat kamu jajan dikantin sekolah." Jawab Bang Idan enteng.


"Kakak kira aku tukang ojek?, nih ambil balik, aku nganterin Kakak itu emang karena jalan kita searah, aku ikhlas nganterinnya, assallammu'allaikum." Salam Tika lalu dia melajukan motornya meninggalkan Bang Idan yang mematung ditempat.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bang Idan.


"Ya udah lah, kalo ketemu lagi aja aku bakal traktir." Gumam Bang Idan.


"Rapat!." Seru Bang Idan panik dan segera naik kelantai ruangannya.


Di dalam lift, Bang Idan memikirkan nama Tika, seperti familiar rasanya.


'Tika? Tika A . B, atau mungkin dia yang dimaksud sama 6 serangkai?.' Batin Bang Idan menerka-nerka.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu

__ADS_1


Jaga kesehatan ya readers


Maaf ngga nyambung🙏😢.---------


__ADS_2