Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Fifty-eight


__ADS_3

Bel tanda istirahat berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah.


Rafka, Zarine, Akifa, dan Abdiel menyusul Abhi Alfi ke atas atap sekolah dengan membawa banyak camilan, juga minuman.


"Huuuuu, parah banget tadi pelajaran Bahasa Inggris, asli kagak bisa fokus Gua." Keluh Abdiel di sebelah Akifa.


"Tumben Lo ngga bisa fokus sama tuh pelajaran?, MaPel itukan favorite Lo." Kata Abhi.


"Yaaa ngga tau juga, tapi Gua ngga bisa fokus." Jawab Abdiel.


"Emang apa yang lagi kanu fikirin sih Yang?." Tanya Akifa.


Dia sudah dari tadi di kelas menanyakan hal itu pada Abdiel.


Tapi Abdiel selalu menjawab.


"Entahlah, tenang aja aku ngga papa." Jawab Abdiel dengan tersenyum ke arah Akifa.


"Dari tadi jawabannya itu mulu perasaan." Gerutu Akifa.


"Lo ada pikiran apa?." Tanya Rafka datar.


"Gua juga ngga tau." Jawab singkat Abdiel.


"Kepikiran sama yang namanya Sarah kali." Celutuk Akifa membuat Abdiel menghembuskan nafas lelahnya.


"Ngga usah di bahas Yang, kamu juga tau nomer dia udah aku blok." Lembut Abdiel menjawab.


"Terus kamu kepikiran apa?." Tanya Akifa gemas.


Rafka, Zarine, Alfi, dan Abhi pun penasaran akan jawaban Abdiel.


"Aku mikirin... kalo Bang Idan, Bang Rafa nikah, terus ikut bikin rumah di sebelah kita, pasti mereka bikin rusuh." Ungkap Abdiel.


"Unfaedah banget sih Yang!." Jengkel Akifa.


Zarine terkekeh pelan mendengar ungkapan jujur Abdiel.


"Tapi iya juga sih, bener kata Abdiel." Celutuk Rafka membenarkan.


"Ya udah kita minta sama Mama Papa buat ngga bikinin rumah di sebelah kita yang kosong itu." Usul Alfi.


"Ngga bisa percuma." Sahut Abhi.


"Lah?!, kok gitu?." Tanya kompak Rafka, Abdiel, Akifa, dan Alfi.


Zarine hanya mengangkat alisnya menayakan hal yang sama.


"Tanah di sebelah kita itu emang untuk calon 2 pasangan itu." Jelas Abhi.


"Kamu tau dari mana Bhi?." Tanya Zarine.


"Papa Gua yang ngomong pas Gua tanya waktu lihat-lihat rumah kita beberapa bulan lalu sebelum di tempati." Panjang lebar Abhi.


"Huuuuh, duo perusuh ngga sadar umur mereka berdua tuh." Sungut Akifa.


"Siapa duo perusuh ngga sadar umur?." Tanya seseorang dari belakang Akifa secara tiba-tiba.


Sontak saja 6 orang yang duduk melingakar itu berjingkat kaget.


Pasalnya mereka tidak menyadari kehariran seseorang itu yang ternyata adalah Tika.

__ADS_1


6 serangkai terlalu fokus berbincang tentang Bang Rafa dan Bang Idan.


"Tika?!, buset nih anak, datang ngga di jemput, pulang ngga di anter, ngagetin aja Lo." Seru Akifa.


"Jaelangkung dong?, ahahaha." Timpal Abdiel dengan di akhiri tawa renyahnya.


"Wah wah, mulut kalian berdua memang mantab bat deh kalo di jadi in atu." Dengus Tika jengkel.


"Hahahaha, sini sini CaKIp duduk bareng kita." Tarik Akifa pada Tika.


Tika yang awalnya mengerucutkan bibirnya kesal, kini kembali sumringah dengan duduk di sebelah Akifa.


"Siapa tadi yang kalian bicarain?." Tanya Tika menanyakan kembali apa yang dia dengar tadi.


"Calon Lo sama Abang Iparnya Rafka." Jawab Alfi.


"Calon Gua kenapa?." Tanya Tika lagi.


"Dia sama Abangnya si Zarine tuh duo perusuh ngga sadar umur." Jawab Akifa.


"Iya sih, Gua juga ngerasain." Timpal Tika.


"Pfft." Tawa Abdiel sudah akan pecah tapi tertahan karena pelototan dari Akifa.


"Lo dijahilin apa sama Bang Idan?." Tanya Rafka.


"Dia jailnya kebangetan, kemarin lusa kalo ngga salah, tugas Gua kan ketinggalan di mobil dia, eh dia bilang 'udah aku buang, aku kira bukan barang penting' konton aja Gua nangis histeris dong tentunya, tuh tugas penting banget lagi, tau-taunya habis nangis setengah jam an, dia kasih tuh tugasnya dengan muka ketawa tanpa dosa, ampun demi apapun Gua esmosi ngga ketulungan, pengen bat Gua pukul tapi kagak tega Gua nya." Cerita Tika panjang lebar.


6 serangkai tertawa pelan mendengar cerita Tika.


"Lo masih enak kaya gitu, dari pada Gua?, hampir aja dulu jatuh dari balkon kamarnya karena di dorong, sejak saat itu, Gua kagak berani masuk lagi ke kamarnya, hiii." Abdiel bercerita dengan bergidik ngeri jika mengenang hal itu.


"Serius Lo?!." Tanya Tika heboh.


"Tapi setelah dia nglakuin itu, dia minta maaf sampe beli in Gua PS yang Gua idam-idam in, asli dia total kalo minta maaf, ahahaha, sebenarnya tanpa dia kasih sesuatu juga Gua maafin, Gua tau dia hanya bercanda." Jelas Abdiel kembali dengan tertawa pelan.


"Iya, setelah dia becandain Gua juga dia langsung beli in barang yang Gua pengenin." Sahut Tika menimpali.


"Bang Idan tuh emang rusuh, tapi royal." Kata Rafka memberi tahu.


"Kalo Bang Rafa itu, dia juga jahil tapi ngga kebangetan, dia jahilnya masih wajar, kalo soal royal, yah dia sama kaya Bang Idan, ngga perintungan." Zarine menjabarkan sifat Bang Rafa.


"Kalian nikahnya kapan?." Tanya Alfi.


"Entahlah, dia bilang waktu dekat ini dia bakal lamar aku ke Papa Mama." Terang Tika.


"Hehehe, kalo udah jadi, welcome deh di kelurga penuh kekonyolan." Kata Akifa.


"Hahaha, udah siap kalo itu mah Gua." Jawab Tika.


'Ring... ring... ring... .' Bel tanda masuk kelas berbunyi.


"Ayo ke kelas." Ajak Alfi dengan berusaha berdiri dari duduknya.


"Yakin Yang?." Tanya Abhi.


"Udah ayo." Kata Alfi.


7 orang itu masuk ke kelas masing-masing dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.


Pukul 15.30 setelah sholat asyar seperti biasa, para murid SMA Merdeka pulang kerumah masing-masing.

__ADS_1


Ada juga yang masih tinggal di sekolah karena harus EksKul.


Saat akan pergi ke tempat parkir.


Di pintu gerbang Bang Idan memanggil.


"Kalian ber enam?!." Panggil Bang Idan nyaring.


6 serangkai berhenti dan menunggu Bang Idan menghampiri.


"Ada apa Bang?." Tanya Rafka setelah Bang Idan sampai di depan mereka.


"Kalian ber enam tuh biasa banget sih ngga ngidupin ponsel?, buat apa punya pon-." Ucapan Bang Idan terpotong.


"To the point bisa ka Bang?." Tanya Abhi gemas dengan nada bicara datar bin dingin.


"Iya iya bisa, nanti malam ngumpul di rumah Papa Mama, orang tua kalian ber 5 juga bakal datang." Beri tahu Bang Idan.


"Kapan?." Tanya Rafka.


"Ba'da Isya'." Jawab Bang Idan.


"Iya nanti kesana." Balas Rafka cepat.


"Wajib jangan sampai ngga dateng." Tegas Bang Idan.


"Iya bawel." Sahut Akifa.


"Kak Zaidan?!, ayo!!." Panggil Tika membuyarkan pembicaraan 7 orang itu.


"Udah kalo gitu, Gua pamit, assallammu'allaikum." Salam Bang Idan dengan berlari tanpa menunggu jawaban 6 serangkai.


"Wa'allaikum sallam." Jawab 6 serangkai.


Bang Idan pergi dari depan gerbang dengan mobilnya.


6 serangkai kembali menuju tempat parkir.


"Paling juga mau ngomongin lamaran Bang Rafa sama Bang Idan nanti malam." Terka Abdiel memberi tahu.


"Bisa ketebak sih." Celutuk Abhi.


Setelah pembicaraan itu, mereka masuk ke mobil masing-masing dan pulang ke rumah.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2