
Diruang ICU, Dokter sedang mengobati 2 orang yang terluka cukup parah.
"Alhamdulillah darahnya tidak banyak yang keluar." Syukur dokter yang menangani Rafka, Dokter Juna namanya.
"Bagaimana pasien perempuan?." Tanya Dokter Juna pada Dokter Lizah yang manangani Zarine.
"Alhamdulillah pasien pendarahannya sudah berhenti." Jawab Dokter Lizah.
"Sus? Apa keluarganya sudah datang?." Tanya Dokter Juna pada suster yang ada disana.
"Didepan sudah ada 6 orang laki-laki paruh baya sedang menunggu mungkin diantara mereka adalah orang tua 2 pasien." Terang Suster.
"Ayo kita keluar Dokter Lizah, keadaan 2 pasien sudah stabil." Ajak Dokter Juna.
"Mari." Jawan Dokter Lizah.
2 Dokter itu keluar dari ruang ICU.
6 orang tua laki-laki yang menunggu tadi tergesa-gesa menghampiri 2 dokter yang baru keluar dari ICU itu.
Polisi tadi yang memberi keterangan sudah pergi 15 menit yang lalu.
"Dok? Bagaimana kondisi putra-putri kami?." Tanya Ayah Zarine dan Papa Rafka.
"Alhamdulillah, kondisi pasien tidak parah, tadi juga putri Bapak sempat mengalami pendarahan ringan dan sekarang kondisinya sudah stabil." Terang Dokter Lizah.
"Putra saya bagaimana dok?." Tanya Papa Rafka.
"Putra Bapak juga alhandulillah sudah stabil kondisinya." Jawab Dokter Juna.
"Pasien sudah bisa ditempatkan diruang rawat inap Pak." Beritahu Dokter Lizah.
"Tolong tempatkan mereka dikamar yang sama dan vasilitas VVIP dok." Pinta Ayah Zarine.
"Baiklah, tapi sebaiknya Bapak pergi kebagian administrasi dulu untuk mengurus identitas pasien." Kata Dokter Juna.
"Dib, kamu sama lainnya yang jagain Rafka Zarine, biar aku aja yang ke bagian administrasi." Kata Papa Rafka.
"Ya udah ok, aku tunggu disini." Jawab Ayah Zarine.
Setelah mengurus admistrasi dan segala keribetannya, Rafka Zarine pun dipindahkan keruang rawat inap VVIP sesuai permintaan para 2 orang tua itu.
Selisih 30 menit setelah perpindahan Rafka Zarine, para orang tua perempuan dan anak-anak mereka tiba di RS juga dan sudah ada di ruang rawat Rafka Zarine.
"Anak-anak Mama?." Panggil Mama Rafka pada Rafka dan Zarine.
Bunda Zarine tidak bisa berkata apa-apa karena begitu sesak dadanya melihat anak menantunya terbaring dengan perban dikepalanya.
"Apa pelakunya Rendy?." Duga Abhi.
"Kita ngga boleh langsung tuduh, Polisi tadi sudah menemui kita dan menjelaskan semuanya, dan beliau juga yang akan membantu kita mangkap pelakunya." Terang Ayah Zarine dengan memeluk sang istri yang masih syok.
"Untuk kali ini Alfi ikut campur." Dingin Alfi berucap.
"Aku ngga minta persetujuan, ini pemberitahuan bukan permintaan!." Tegas Alfi.
"Tapi kamu bakal terluka kalo ikut kesana." Bujuk Abhi pada istrinya itu
"Jika aku kesana tanpa bantuan maka aku akan terluka." Kata Alfi.
'Huuffffh.' Semuanya sudah pasrah, mencegahpun sudah tidak akan membuahkan hasil.
"Kita mulai cari besok, sekarang kita istirahat aja dulu." Kata Papi Alfi.
"Hari yang seharusnya membuat bahagia, malah berakhir diranjang rumah sakit." Mama Rafka berucap dengan pandangan nanar kearah anak menantuanya itu.
"Apa Idan dan Rafa sudah tau?." Tanya Bunda Zarine.
"Sudah Te, Abhi tadi yang memberi tau." Jawab Abhi.
"Bagaimana ceritanya hingga kecelakaan ini terjadi?." Tanya Bunda dengen sesenggukkan.
"Polisi bilang, kecelakaan ini bukan terjadi karena ketidak sengajaan, tapi karena sudah di rencanakan." Jelas Ayah Zarine.
"Siapa? Orang mana yang tega melakukan ini?." Tanya Bunda Zarin lagi.
"Aku tau Rafka Zarine tidak pernah mengganggu kedamaian orang, kenapa mereka jahat banget." Kata Mama ikut menimpali.
"Rafka Zarine memang tidak pernah berbuat jahat pada orang, dan orang jahat ada, bukan hanya karena pernah kita jahati, tapi bisa juga karena iri dengan kehidupan kita." Terang Ayah Zarine.
"Yang dibilang Om Adib bener." Timpal Abdiel.
Setelah ucapan Abdiel, tak ada lagi yang menyahuti.
Satu ruangan diam tanpa ada suara.
Papa Rafka melihat jam diruangan.
"Kalian sebaiknya pulang aja, anak-anak besok sekolah, ini juga udah malam banget." Suruh Papa Rafka.
Benar yang dikatakan Papa Rafka, ham sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Kalian ngga papa emang kalo ditinggal cuma ber 4?." Tanya Mama Akifa.
"Ngga papa, kalian pulang aja udah." Kata Mama Rafka.
"Ok kalo gitu, kita pulang dulu, besok in syaa allah kalo ngga sibuk kita kembali kesini." Pamit Papa Abdiel.
"Assallammu'allaikum." Salam Papi Alfi mewakili semuanya.
__ADS_1
"Wa'allaikum sallam." Jawab Mama Papa Rafka & Ayah Bunda Zarine.
Kemudian diruangan VVIP itu berganti suasana menjadi sepi.
"Kalian berdua mending tidur deh, biar Rafka Zarine kita yang jaga." Suruh Papa Rafka pada istrinya dan Bunda Zarine.
"Iya, tolong bangunkan jika nanti mereka sadar." Pinta Bunda Zarine.
"Iya." Jawab Ayah Zarine singkat.
Mama dan Bunda Zarine pun tidur disofa dalam ruangan.
Lalu, pintu ruangan diketuk oleh seseorang.
"Permisi Pak, kami mau memeriksa keadaan pasien." Beritau suster.
"Iya silahkan." Kata Papa Rafka dingin.
"Sus? Kapan kira-kira putra-putri kita sadar?." Tanya Ayah Zarine.
"Mungkin besok pagi, dokter tadi memberi bius dengan dosis cukup tinggi dikarenakan takut pasien sadar saat membersihkan luka dan pengobatan." Jelas Suster.
"Saya permisi dulu Pak, hanya menunggu sadar saja, maka pasien in syaa allah baik-baik saja." Sambung Suster.
"Terima kasih Sus." Ucap Ayah Zarine.
Hari semakin larut malam, dan Papa Rafka juga Ayah Zarine terlelap tidur karena kelelahan.
-
-
-
Ke esokan harinya Mama Papa Rafka pulang bergantian dengan Ayah Bunda Zarine untuk mandi dan berganti pakaian.
Pukul 08.00 pagi, Rafka telah sadar mendahului Zarine.
Selisih 5 menit, Zarine pun ikut sadar.
Dokter memeriksa kondisi Rafka Zarine.
Dan alhamdulillah tidak ada hal lainnya yang membahayakan didalam tubuh terutama kepala keduanya.
Diruangan VVIP ini diramaikan oleh kehadiran Mama Akifa, Abdiel, Abhi, dan Mami Alfi.
Untuk ijin kesekolah, Papa dan Ayah Zarine sudah memberitau pihak sekolah dan juga meminta untuk dirahasiakan saja dari seluruh sekolah.
"Alhandulillah kalian udah sadar." Ucap syukur Bunda Zarine sekali lagi.
Beliau terlalu senang sampai tak ada kata selain Alhamdulillah yang diucapkannya.
"Kemarin tanggal 19, kita nikah tanggal..., ouh ya Allah, Zarine aja lupa loh Ma, hehehe." Kata Zarine dengan terkekeh.
"Makasih semuanya untuk doa dan ucapannya." Ucap Zarine dan Rafka tulus.
Mereka lalu asyik berbincang hingga sore hari.
Pukul 16.00 Abhi Alfi & Akifa Abdiel baru pulang dari sekolah.
"Alhamdulillah... kalian udah sadar." Kata Akifa senang.
"Ouh ya, kita semua mau ngucapin happy anniversary, doa kita yang terbaik deh buat kalian." Ucap Akifa mewakili Alfi, Abhi, dan Abdiel.
"Makasih semuanya." Jawab Zarine.
"Thanks Guys." Jawab Rafka.
Pintu ruangan Rafka Zarine terbuka kembali, dan nampaklah 2 pemuda dan 4 laki-laki paruhbaya.
Mereka adalah Papa Rafka, Abhi, Abdiel, Akifa, Papi Alfi, dan Ayah Zarine.
Untuk 2 pemuda yang ikut dibelakang, mereka adalah Bang Rafa dan Bang Idan.
"Kapan kalian sampe di sini?." Tanya Mami Alfi.
"Jam setengah 4 tadi Te." Jawab Bang Rafa.
Bang Idan dan Bang Rafa menghampiri ranjang Rafka dan Zarine.
Sesaat kemudian, Bang Rafa memeluk Zarine erat, dan Bang Idan memeluk Rafka agak kuat.
"Udah jangan peluk-peluk kan terlalu lama, tubuh mereka masih lemes." Peringat Mama Rafka.
Mereka berbicang dengan seru hingga seseorang mengetuk pintu ruangan.
'Tok... tok... tok... .'
Abdiel berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Pak Polisi? Silahkan masuk Pak." Ucap Abdiel mempersilahkan.
"Pak Polisi, mari Pak masuk dan duduk dulu." Ajak Papa Rafka.
"Saya tidak akan lama Pak, saya hanya ingin memberi kabar bahwa pelaku yang membuat putra-putri anda celaka sudah tertangkap dan sekarang sedang ada dikantor." Beri tahu Pak Polisi.
"Baiklah Pak, mari kita kesana sekarang." Ajak Papa Rafka.
"Mari." Kata Pak Polisi.
__ADS_1
"Pak? Saya ikut!." Tegas Alfi.
Polisi hanya diam melihat Alfi.
"Sebaiknya kamu ada disini saja." Kata Polisi.
"Tapi-."
"Udah yaa, kamu disini aja sama lainnya." Timpal Abhi.
'Huffh.' Alfi menghela nafas pasrah, dan dia pun mengangguk meng iya kan.
Setelah itu semuanya pergi ke kantor Polisi.
Sesampainya dikantor.
Papa Rafka dan lainnya masuk keruangan yang sudah ada tersangka didalamnya.
"Rendy?!." Kejut Bang Rafa dan Ayah Zarine.
Rendy hanya diam membisu menatap kearah semua orang yang masuk.
Tanpa babibu, Bang Idan mencengkram kerah baju yang dipakai Rendy.
"Apa maksud Lo pakai cara kotor ini buat celakain mereka hah?!." Tanya Bang Idan emosi.
Rendy yang melihat itu hanya menyunggingkan senyum meremehkan.
Semua orang terkejut dengan aksi Bang Idan.
Kemudian Papa Rafks menarik Bang Idan agar menjauh dari Rendy.
"Kita tanya dia baik-baik, jangan main fisik, ini kantor polisi, kalo kamu salah bertindak, bisa-bisa kamu juga ikut masuk kedalam sel!." Kata Papa dengan dingin dan datar.
"Apa mereka udah mati?." Tanya Rendy.
"An**ng!!." Umpat Bang Rafa yang sudah tidak bisa mengontrol emosi, tapi buru-buru dicegah oleh Ayahnya.
"Apa salah kami padamu Rendy?." Tanya Ayah dengan nada dinginnya.
"Gak mungkin anda tidak tau Om." Jawab Rendy ketus.
"Itu masalah sepela Ren, dan udah berlalu juga." Timpal Bang Rafa.
"Bagi kalian semua mungkin sepela, tapi bagiku itu besar, dan satu lagi, apapun yang aku inginkan harus jadi milikku, jika tidak bisa, maka sesuatu itu harus rusak atau kalo bisa hilang dari bumi." Jelas Rendy.
"Sebelas dua belas sama si Medusa ternyata, untung ngga ikut gila." Celutuk Abdiel.
"Pak, masukkan saja dia kepenjara, hukum seberat-beratnya." Pinta Papa Rafka.
"Baik Pak." Jawab Polisi.
"Kita pamit dulu, nanti biar pengacara saya yang urus segalanya." Kata Papa Rafka yang diangguki sang Polisi.
Rendy sudah dibawa masuk kedalam sel tahanan.
Papa Rafka dan lainnya kembali ke RS Kasih Bunda untuk memberi tau perkembangan kasus ini.
Mereka yang tidak membawa mobil, meminta tolong polisi tadi yang membawa mereka untuk mengantar kembali ke RS.
Sampai di RS, sang polisi langsung pergi tanpa mampir, setelah Papa Rafka mengucapkan terima kasih.
"Sifat dia dan Medusa sebelas dua belas ternyata." Beri tahu Abdiel.
"Ini sebagai pelajaran buat kalian, bahwa arti cinta itu ngga harus memiliki, cinta itu ngga bisa dipaksa, dan cinta itu beda tipis sama obsesi, denger kalian?." Tanya Papa Akifa.
"Denger Pa, Om." Jawab Abdiel dan lainnya bersamaan.
"Semoga aja mereka berdua cepet sadar." Doa Ayah Zarine.
"Aamiin." Ucap semuanya.
Sampailah para laki-laki itu diruangan Rafka Zarine.
Papa Rafka memceritakan semuanya.
Bunda Zarine terkejut mendengar bahwa pelakunya adalah Rendy.
Dan doa para perempuan diruangan itu adalah... .
'Semoga kedua orang itu sadar dan kembali dijalan yang benar.'
-
-
-
-
-
-
Bersambung...
Like & komennya ditunggu
Maaf ngga nyambung😢🙏
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa☺.