
"Kalian cowok nya?!." Seru Zarine.
"Ada apa Yang?." Tanya Rafka sabar.
"Emmmm... bisa bawa in sesuatu ngga nanti pas ke kamar?." Kata Zarine.
"Kalian mau apa?." Tanya Abhi.
Sontak saja binar bahagia muncul di mata 3 ibu hamil yang suka jajan itu.
"Pizza!." Seru Zarine, Akifa, Alfi bersamaan.
"Buset dah!." Kejut Abdiel di belakang Rafka.
"Kalian yakin? Kalian baru aja makan siang loh." Peringat Abhi.
"Kita bertiga mau itu!." Seru ibu hamil itu kompak.
"Ok ok, kita bakal order bentar lagi, tunggu di kamar ya sayang-sayang ku." Titah Bang Idan dengan senyuman manis nya.
Para pria pergi ke parkiran mobil dan para wanita pergi ke kamar Sari dengan Roy bak bodyguard mengikuti dari belakang.
'Udah kek bodyguard aja Gua, hahaha... .' Batin Roy sambil di iringi tawa yang di tahan, hanya bibir nya yang tercengir lebar.
"Kak Roy kenapa? Kok senyum-senyum sendiri sih?." Tanya Tika dengan ekspresi aneh.
"Ngga papa ayo lanjut jalan." Singkat Roy dengan menghenti kan senyum nya.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Jangan senyum-senyum sendiri Kak, entar kesambet loh." Zarine menakut-nakuti Roy.
"Hahaha... bisa aja sih kamu Za." Cetus Roy tertawa.
Sampai di kamar, mereka masuk dan mulai berbincang dengan seru.
Roy yang duduk di depan tv hanya melihat ke akrab an para wanita.
'Nih para cowok lama banget, cuma ke parkiran aja udah kek ke Arab.' Celutuk Roy jengkel.
Pasal nya dia cowok sendiri, dan yang lebih parah, dia tak ada kawan ngobrol, udah kek kambig congek aja diam dengerin tapi ngga ngeh apa pembicaraan nya😂 (kasian banget Lu Kak, sabar yak😂 #AuthorGesrek).
10 menit berlalu, para pria pun datang.
'Tok... tok... tok... .' Pintu kamar di ketuk.
"Seperti nya itu cowok nya deh." Kata Alfi.
"Kalian duduk aja di atas ranjang, jangan turun, biar aku aja yang buka pintu nya." Ujae Kak Roy, yang di angguki para wanita dengan amtusias.
Roy berjalan ke arah pintu dan membuka nya.
'Ceklek.'
"Assallammu'allaikum!." Salam mereka kompak.
"Wa'allaikum sallam, kalian lama banget sih?!." Seru Roy menggerutu.
"Nunggu pizza nya dulu kita nya dodol!." Cetus Abdiel pelan.
"Udah kek kambing congek Gua di dalam nunggu in kalian! Udah ayo masuk!." Titah Roy.
"Jangan marah-marah aja Lu Roy, cepet tua loh nanti." Nasihat Bang Idan.
"Biarin dah tua, emamg dasar nya Gua dah tua." Celutuk Roy.
"Hahaha... ." Tawa Rafka dan lain nya pecah.
"Nih... yang tadi pesen pizza? Udah sampe pesenan nya!." Beri tahu Abdiel sambil mengangkat 3 kotak pizza yang ikuran nya sedang.
"Kenapa yang sedang? Kita mau nya yang jumbo." Protes Akifa.
"Kalian baru makan siang, ngga akan muat nanti perut nya, udah yaaah itu aja yang di makan." Bujuk Rafka pada para wanita.
"Kan kalo ngga habis, kalian oara cowok bisa habisin." Ujar ringan Alfi tanpa dosa.
Para cowok diam mematung, lalu berbisik di telinga Abhi.
"Bini Lo kalo ngomong enteng bat kaya ngga ada beban." Bisik Rafka.
"Udah lah, untung aja kita beli in nya bukan yang jumbo, aman kita." Kata Abhi.
"Kita kan baru makan Yang, masa di suruh makan habisin pizza sih, ngga muat perut nya, kalo di paksa habisin bisa-bisa sakit perut kita." Detail Abhi menjelas kan.
"Iya juga sih, ya udah lah ngga papa yang sedeng ini aja, ouh iya sesuatu punya kita mana?." Tanya Zarine.
Buru-buru mereka yang tadi ambil barang ke mobil memberi kan nya pada Istri masing-masing.
"Dah, sekarang kalian para cowok nya duduk di sana aja yak." Usir Akifa secara halus.
"Nih." Alfi memberi sekotak pizza ke arah mereka.
"Kita ngga makan itu, kalian aja yang makan." Tolak Abhi halus.
Para pria pun pergi ke depan tv duduk di sana sambil menyalakan tv.
Mereka bukan melihat tv, tapi mendengar kan tv, sedang kan penglihatan mereka tertuju pada para wanita yang duduk tenang di ranjang sambil ngemil cantik.
"Habis manis sepah di buang." Cetus Abhi tiba-tiba.
"Habis dapetin apa yang mereka mau, kita di usir." Timpal Roy.
"Cobaan apa ini ya allah." Keluh Abdiel.
"Udah lah! Mereka jarang ngumpul, maklum aja kalo sekali ngumpul mau nya ngga mau di ganggu." Pengertian Bang Rafa.
"He em... ." Lain nya menjawab singkat sambil mengangguk paham.
Di atas ranjang.
Para wanita sibuk mengobrol sambil tertawa bahagia dan ngemil.
"Ok kita berhenti dulu ketawa nya." Intruksi Akifa.
"Ada apa?." Tanya Sari bingung.
Akifa mengkode, lalu mengeluar kan sesuatu yang para cowok tadi ambil di mobil.
"Tada... ini buat kamu Sari!." Seru mereka bersamaan.
"Apa ini?." Sari masih bingung.
"Buka aja." Kata Zarine.
Sesuatu itu di bungkus dengan tas kain para wanita.
Satu orang memberi kan satu bungkusan oada Sari, jadi barang nya ada 5.
Sari membuka nya.
" Wah! kenapa kalian repot-repot gini? Dengan kehadiran kalian aja aku udah seneng banget, ngga perlu bawa-bawa gini an." Kata Sari tak enak hati.
"Ngga papa Sar, kita ngasih nya ikhlas kok." Ujar Kak Rain.
"Makasih yah." Ucap Sari, mereka berpeluk kan dan kegiatan mereka tak lepas dari penglihatan para cowok.
"Mereka udah kek teletubbies aja, berpeluk kan... ." Abdiel berucap sambil meniru kan gaya film animasi anak-anak itu.
"Biarin deh, sebahagia mereka aja, kita penonton liatin aja, hehehe." Kata Roy sambil terkekeh Roy pelan.
"Ouh iya, kalo boleh tau emang apa tadi yang kalian ambil di mobil?." Tanya Roy kepo.
"Kado buat bini Lo." Jawab Bang Idan.
"Uemmm... kalian ngga ada yang niat kasih Gau kado nih?." Iseng Roy menjawab.
__ADS_1
"Males! Hahahaha... ." Seru Rafka juga lain nya kompak lalu di iringi tawa pecah.
Roy memasang wajah kecut nya memdengar mereka kompak membuat nya jengkel.
"Kita kagak mau ribet mikirin apa yang cocok buat Lu, gini aja, Lu bilang aja deh mau apa? Asal jangan pulau pribadi aja masih bisa lah kita turutin." Kata Bang Idan.
"Hmmm... Gua setuju, bilang aja Roy, mau Lu apa an? Kita usaha kan kasih itu ke Elu." Timpal Rafka.
"Bener nih kalian mau turutin mau Gua?." Tanya Roy memastikam.
"In syaa allah kita turutin." Kata Abdiel.
"Bentar dulu, Gua mikir." Ujar Roy.
Rafka mengangguk meng iya kan.
"Gua rumah udah punya, mobil udah punya, Gua udah punya semua nya, alhamdulillah kagak ada yang yang kurang buat Gua untyk saat ini, bisa ngga kalo permintaan ini Gua minta nya kapan-kapan?." Tawar Roy sambil menyengir kuda menampil kan gigi putih rapi nya.
Rafka, Abdiel, Abhi, Bang Idan, juga Bang Rafa saling pandang meminta pendapat tanpa suara.
"Boleh deh, Lo bisa menagih nya ke salah satu dari kita." Setuju Bang Rafa.
Kita kembali ke atas ranjang.
"Boleh aku buka sekarang ngga kado nya?." Tanya Sari.
"Terserah sih, itu hak kamu, buka sekarang boleh, buka nanti malem juga boleh." Jawab Tika.
"Aku buka sekarang aja deh." Antusias Sari berucap.
"Silah kan!." Seru Zarine juga lain nya.
Sari memgambil salah satu kado yang di luar kado nya ada surat nya yang berisi 'Samara untuk Sari'.
"Kanapa ngga kalian kasih nama?." Tanya Sari heran.
"Hehehe... kita terlalu bahagia nulis kata-kata nya sampe lupa nulis nama sendiri." Kekeh Zarine menertawai kekonyolan nya.
Sari membuka kado nya secara rapi, agar sampah nya tak berserakan di ranjang dan lantai.
Di dalam kado yang entah milik siapa yang sekarang di pegang Sari ini, berisi kan baju couple untyk pria dan wanita berwarna biru muda warna ke sukaan Sari.
"Wah! Ini bagus banget, siapa yang ngasih tau kamu kalo aku suka warna biru?." Tanya Sari penasaran.
"Tika yang kasih tau." Jawab Zarine sambil menunjuk ke arah Tika sang Kakak Ipar, yang di tunjuk hanya nyengir kuda dengan polos nya.
"Umm... makasih ya buat kalian berdua." Kata Sari senang.
Kini giliran kado yang berbungkus tas kain berwarna pink.
"Ini... punya... ouh ini tadi punya nya Akifa, iya kan Fah?." Tanya Sari meminta jawaban.
"Iya, buka sekarang, pasti Lo suka sama isi nya." Kata Akifa dengan senyum penuh makna.
Melihat senyum mengambang Akifa yang terkesan aneh itu, Sari dan lain nya merasa ada yang tak bares.
"Mak Ipah? Lo ngga ngasih sahabat kita bom atom kan?." Tanya Tika nyleneh.
"Ya engga lah, mana ada kaya gitu." Gerutu Akifa.
"Buka Sar, aku penasaran sama isi nya, jangan-jangan di liar nalar lagi." Cetus Raina.
"Di luar nalar maksud nya? Aku ngga mungkin kasih Jenglot atau dedemit sejenis nya ka Elo Sar, sans aja, buka gih." Suruh Akifa tenang, padahal dalam hati nya dia siap akan tertawa ngakak.
Sari membuka nya dengan perlahan, lalu membuka tutup kotak nya.
"Hah?! Apa an nih?!." Seru Sari berteriak.
"Hahahaha... ." Tawa Akifa pecah.
Para lelaki spontan menoleh ke arah perempuan yang di ranjang karena tawa pecah Akifa dan tadi sempat mendengar teriak kan Sari.
"Aduh perut ku... hahahaha... ." Akifa tertawa terpingkal sampai mengaduh.
"Yang berenti ketawa nya ih!." Tegur Abdiel.
"Ok, hahaha... ." Tawa Akifa masih terdengar.
"Jangan banyak ketawa, nanti perut kamu bisa kram." Nasihat Abdiel, dia sudah akan melangkah menuju ranjang, tapi Sari dan lain nya cepat-cepat menghalau.
"Jangan ke sini!!." Seru mereka kompak.
"Buahahaha... ." Tawa Akifa kembali mendera nya.
"Ada apa emang kalo aku ke sana?." Tanya Abdiel heran.
"Udah Yang, jangan ke sini, kamu duduk sana aja lagi." Cegah Akifa.
Abdiel diam tak merespon, dia memandang wajah para wanita itu satu per satu.
"Wajah kalian... kenapa merah kaya kepiting rebus gitu?." Tanya Abdiel heran.
"Abdiel!! Mending kamu duduk lagi di sana!!." Perintah Tika keras.
"Ok ok, Yang? Jangan banyak ketawa lagi!." Tegas Abdiel memperingati.
"Iya siiap bosque." Jawab Akifa sambil hormat pada Abdiel.
Para perempuan fokus kembali menatap hadiahv yang di beri kan untuk Sari.
"Dasar Mak Ipah ngga ada otak!." Cetus Tika pelan.
"Malu sendiri Aku nya tuh!." Kata Kak Rain manja.
"Allahu akbar... Akifa dapet dari mana kamu ide ngado gini an?." Tanya Zarine sambil menyebut nama Allah.
"Tau nih, kamu pikir aku mau pake buat goda in si Kak Roy apa? Ngga bakal aku pake!." Seru Sari.
"Bini ama laki sama aja, sama-sama ber otak mesum ngga ketulungan." Umpat Alfi tak habis pikir.
Sedang sang pelaku? Jangan tanya gimana reaksi nya, dia malah cekikikan.
Sari menjinjing baju, ouh salah lebih tepat nya jaring ikan yang di beri kan oleh Akifa sebagai hadiah untuk Sari.
"Waktu mau malam pertama pake lingerie itu Sar, biar makin hot suasana nya." Kata Akifa.
"Ogah, masuk angin yang ada aku pake jaring ikan kek gini, ihhhh." Tolak Sari mentah-mentah sambil melipat kembali dan menutup kotak kado Akifa.
"Suatu saat nanti Roy juga bakal tau, dan kemungkinan besar, Lu pasti di suruh make, liat aja." Percaya diri Akifa meningkat.
Zarine dan lain nya hanya menggeleng kan kepala pusing dengan Akifa.
Kado yang di beri kan oleh Akifa kepada pengantin baru itu, membuat sang pengantin dan lain nya yang sedang menemani Sari membuka kado tercengang, isi nya ialah, berbagai macam model lingerie, dari yang masih normal sampai ada yang sangat jauh dari kata normal.
Tentu saja para wanita yang berkumpul membentuk lingkaran di atas ranjang itu malu sendiri.
Dan sang pelaku memandang dengan wajah tanpa dosa nya.
"Kok ya masih ada umat yang kaya gini, ampun gusti!." Seru Raina pelan dengan bahasa medok jawa nya, yang di balas tawa pelan dari lain nya karena merasa enah dengan nada bicara nya.
"Kamu pernah pake 'itu' ngga Fah?." Tanya Sari di sela-sela tawa nya.
"Ngga sih." Datar Akifa menjawab.
"Sendiri nya ngga pernah pake masa orang lain suruh coba sih, aturan nya kamu dulu yang harus ngerasain pake baju gitu an." Cetus Zarine.
"Zarine? Bukan baju kalo itu mah, tapi jaring ikan nelayan." Alfi meralat perkataan Zarine.
Lalu Sari kembali membuka kado dari Tika, Kak Raina, dan Alfi.
Tika memberi kado kotak persegi yang cukup lebar, dan itu berisi macam-macam merk alat uji kehamilan.
Alfi memberi kan kalung emas cantik yang bertulis kan inisial nama Roy dan Sari.
Untuk Kak Rain, dia memberi kan tas dari brand ternama langganan Sari.
Sebenar nya Sari tak membutuh kan ini semua, dengan mereka datang ke pernikahan nya, Saei sudah sangat bahagia.
Selesai membuka kado mereka sibuk ketawa ketiwi, bercerita kesana kemari tak jelas, dan bercanda juga tak lupa sambil menghabis kan pizza yang tadi di beli para pria.
Sampai pukul 13.10 menit, mungkin saking lelah nya mereka bercanda, para wanita di ranjang itu tertidur pulas.
Ranjang sudah tampak rapi tidak amburadul, sampah-sampah mereka buang di tempat nya, tapi posisi mereka tidur membuat para pria saling pandang lalu tertawa pelan.
"Angkut gih bini kalian masing-masing, kita ketemu nanti di acara." Suruh Roy pada Rafka juga lain nya.
"Asyiiap." Ujar Abdiel sambil mengacung kan jempol kanan nya.
Rafka, Abdiel, Abhi, Bang Idan juga Bang Rafa menggendong istri masing-masing menuju kamar yang di siap kan oleh Roy tadi.
Kita ke kamar Rafka Zarine.
__ADS_1
"Duh... kok rasa nya makin berbobot aja kamu Yang." Rafka berbicara pada orang yang sedang tidur pulas.
Sampai di kamar, Rafka membaring kan Zarine di ranjang dengan perlahan agar tak terbangun.
Zarine menggeliat pelan lalu bergumam lirih.
"Rafka? Tunggu aku!." Kata nya sambil memeluk lengan Rafka dan mengusap-usap kan pipi nya di lengan suami nya ini.
"Hehehe... kamu mimpi in apa sih Yang? Aku ngga kemana-mana kok, aku ada di sini sama kamu." Ujar Rafka sambil berusaha melepas peluk kan sang istri perlahan.
Setelah berhasil, dia berbaring di samping Zarine dengan posisi kepala nya di topang oleh tangan kanan nya.
Lama-kelamaan Rafka merasa mata nya berat, dia menutup nata sambil membenar kan posisi nya ke posisi yang nyaman, lalu dia pun ikut tertidur dengan lelap nya.
Sebelum mengikuti Zarine ke alam mimpi, Rafka mengaktif kan alarm di ponsel nya, jaga-jaga agar tidak terlambat mengikuti acara Roy dan Sari nanti.
Di kamar Sari dan Roy.
Roy membenar kan posisi Sari tidur, dia tak ikut tidur karena dia tak mengantuk.
Dia memilih duduk di ranjang sambil mengelus lembut kepala Sari.
Lalu mata nya jatuh pada bungkusan kotak kado di atas nakas.
"Ini isi nya apa yak? Penasaran, Gua buka ah." Kata Roy.
Dia turun dari ranjang dan mengambil salah satu kado.
Di buka nya penutup kado itu.
"Apa an nih? Baju kah?." Tanya Roy pada diri nya sendiri.
Lalu dia mengangkat isi kado itu.
"Allahu akbar! Siapa yang kasih nih?." Terkejut Roy, di dalam kotak di menemu kan secarik kertas yang betulis kan 'Nyenengin suami dapat pahala loh wkwkwkwk' seperti itu lah isi nya.
"Bisa Gua tebak kalo ini dari Akifa, emang kagak laki nya, kagak bini nya sama aja, sama-sama mesum." Cetus Roy sambil menggelang-geleng kan kepala nya prlan.
Roy masih belun meletak kan kado yang di pegangnya, dia mesih memperhati kan libgerie yang di pegang nya itu.
"Kalo Sari pake ini gimana yak?." Monolog Roy sambil pikiran nya melayang membayang kan bentuk tubuh Sari yanh terekspos.
Hanya membayang kan saja, sesuatu di dalam celana Roy sudah tegang dan mendesak ingin keluar.
"Astaghfirullah, bayangin nya aja udah tegang." Roy mengusap wajah nya kasar, lalu meletak kan kembali kado itu ke meja nakas.
Waktu berputar begitu cepat rasa nya.
Sekarang sudah pukul 14.30 siang, semua orang di kamar yang masing-masing untyk acara beberapa menit lagi.
Acara di laksanakan ba'da ashar.
Selesai mandi dan berganti baju, semua orang melaksanakan kewajiban kepada Allah.
Setelah itu baru para wanita di rias oleh perias ahli.
"Mbak? Make up nya yang natural aja ya, istri saya ngga perlu dandanan menor, dia udah cantik dari lahir soal nya." Kata Roy meminta pada perias wajah Sari.
"Siiap laksanakan, Mas nya ngga perlu khawatir, kita akan melakukan apa yang Mas minta." Ujar sang perias.
Selesai berias.
"Mbak Ud-." Ucapan Roy tak berlanjut, dia terpukau melihat Sari yang sangat cantik anggun nan elegan.
"Kami permisi dulu, assallammu'allaikum." Pamit para perias.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Roy dan Sari kompak.
Di dalam kamar Roy tak bisa berhenti menatap Sari.
"Bidadari dari mana nih?." Tanya Roy menggoda.
"Ih apa an sih, berenti becanda, aku udah cantik kan?." Tanya Sari sambil menatap cermin rias di dalan kamar.
"Aku ngga mau kamu keluar dari kamar, kita ngga usah kekuar aja deh dari kamar" Cetus Roy tiba-tiba.
"Loh?! Kenapa? Aku jelek banget yak sampe ngga di bolehin keluar kamar?." Tanya beruntun Sari, dia sudah menunduk sedih.
"Bukan gitu." Kata Roy sambil mengangkat dagu Sari ke atas agar menatap mata Roy.
"Kamu terlalu cantik Yang, sampe aku ngga rela berbagi sama orang." Jelas Roy kemudian.
Pipi Sari yang merah muda karena polesan blush on (bener ngga sih tulisan nya?😂), semakin merah saja karena perkataan Roy yang membuat nya malu sendiri.
"Udah lah jangan banyak gombal, ayo kita ke ballroom, acara udah di mulai kan?." Tanya Sari.
"Yaa para tamu cuma tinggal nunggu in kuta di bawah sana." Jawab Roy enteng.
"Ya udah ayo." Ajak Sari sambil memeluk lengan Roy.
Di ballroom hotel.
Suasana tampak ramai di sana.
"Pengantin nya mana nih?." Tanya Akifa bingung sambil sibuk menatap pintu masuk ballroom ini.
Zarine, Akifa, dan Alfi duduk di bagian paling depan pelaminan untuk memudah kan mereka melihat pengantin nya.
Lalu, semua tamu di kejut kan oleh salam dari pembawa acara dalam resepsi yang di adakan Roy ini.
"Assallammu'allaikum semua nya!." Salam nya lantang terdengar ke seluruh ballroom.
"Wa'allaikum sallam!." Jawab para tamu kompak.
MC mengucap kan pembukaan yang berisi ucapan syukur kepada Tuhan yang maha esa, lalu penghormatan pada pemilik acara sekeluarga.
Setelah cupa-cuap sang MC, tiba saat nya sang pengantin memasuki area ballroom.
Tampak di ujung karpet merah yang terbentang menuju ke pelaminan, 2 sejoli berdiri dengan sang wanita memeluk lengan pria, sungguh romantis.
Mereka berdua berjalan mendekat ke arah pelaminan sambil melampar senyum pada tamu undangan.
Sari tampak cantik dengan gaun berwarna putih tulang nya, pakaian yang di pakai Sari lebih simple dari pada tadi pagi saat acara Ijab Qobul.
Rambut nya di sanggul rapi dan riasan ntmya juga natural tak seramai pagi tadi.
Di samping nya berdiri Roy sang suami yang mengguna kan tuxedo yang sangat serasi dengan gaun yang di pakai Sari.
"Dipersilah kan untuk ke dua mempelai naik ke pelaminan." Kata MC mempersilah kan.
2 pasangan baru itu menurut dan naik ke pelaminan lalu duduk di kursi yang sudah di persiap kan.
Dan... .
-
-
-
-
-
Bersambung... .😂😂😂😂
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
Maaf aku ucap kan beribu maaf readers, aku udah mulai kehabisan ide, ngga tau mau ngetik apa, inti nya semua isi ketik an ini murni pikiran ku sendiri.
__ADS_1
Author ngga akan berniat manahan kalian para readers untuk bertahan menanti up date tiap hari, kalo merasa bosan atau ceita nya udah ngga menarik lagi, bisa berbalik badan dan monggo mundur alon-alon😁.
Sorry ngomong nya melantur, tapi... ini kenyataan, maaf beribu maaf, pikiran Author lagi amburadul.