Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus tujuhpuluh dua


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Yakin Lu Bang? Jauh tuh woy." Beri tahu Abdiel, dia juga khawatir dengan sepasang suami istri ini.


"Kita bakal sering berhenti, Gua juga kagak mau bikin Raina capek duduk dalam mobil." Jawab Bang Rafa tagas.


Bang Rafa Kak Raina pun pulang untuk mengapak pakaian.


"Bawa seperlu nya aja Yang, di rumah sana semua nya udah tersedia, kamu beresin baju-baju kita, aku mau ngurusin mobil dulu, kalo udah panggil aku ok." Pesan Bang Rafa yang di angguki Kak Raina paham.


Di pintu kamar Kak Raina, Zarine juga lain nya tengah berdiri sambil menatap Kak Raina dengan mata berkaca-kaca.


Dan... .


'Grep!.' Zarine, Tika, Akifa, Alfi memeluk Kak Raian dengan air mata sudah menetes.


"Ck! Masa yang ngurus Cafe cuma 3 orang sih, ngga seru nih, Tika besok pergi, sekarang Kak Rain yang pergi." Rungut Zarine tak terima jika Kakak Ipar nya ini pergi dari sini.


"Doa in aja semoga kerjaan Abang kalian cepet selesai dan Kak Raina bisa balik ke sini cepet terus ngurus Cafe sama kalian." Ujar Kak Raina pada adik ipar nya.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


"Yang? Udah kan?." Tiba-tiba Bang Rafa sudah muncul di ambang pintu bertanya pada istri nya ini.


Melihat pemandangan berpeluk kan 5 wanita di depan nya ini membuat Bang Rafa tersenyum kecil sembari mengusap ujung mata nya yang berair.


"Denger kalian semua!." Seru Bang Rafa memanggil 4 qanita yang memeluk istri nya erat.


Sontak 5 wanita itu menoleh pada Bang Rafa secara bersamaan.


"Kita bakal balik lagi, kita ngga bakal selama nya di sana, sampe perusahaan stabil kondisi nya, kita akan kembali ke sini in syaa allah." Bang Rafa menghibur mereka para kaum hawa.


Zarine menubruk kan tubuh nya pada sang Kakak.


"Jangan lama-lama." Ujar Zarine sambil sesengyuk kan.


"In syaa allah engga, kamu jangan nangis terus dong, kasian baby twins nya, kalian juga jangan nangis lagi, baby kalian ikut sedih entar kalo Ibu nya mewek." Cetus Bang Rafa di iringi oleh kekehan nya dan juga kekehan para wanita sambil mengusap air mata nya yang mengalir di pipi.


"Udah, Abang harus berangkat, Surabaya lagi butuh Abang." Ujar Bang Rafa melepas peluk kan nya dengan Zarine.


Bang Rafa menyeret koper dan membawa nya turun.


Di teras rumah, semua orang menunggu ke datangan Bang Rafa.


Saat Bang Rafa sampai di teras rumah nya.


"Raina? Kamu yakin mau ikut?." Tanya Bunda khawatir pada menantu nya.


"Yakin Bun." Jawab Kak Raina mantab.


"Kalian hati-hati di jalan, jangan ngebut loh Bang Raf, kamu bawa 3 nyawa sekaligus ini." Pesan Bunda pada anak nya.


"Iya Bun Abang akan hati-hati, kalo gitu kami pamit berangkat ke Surabaya." Bang Rafa dan Kak Raina mencium punggung tangan para orang tetuah dan tak lupa pula 2 sejoli ini bersalaman dengan Rafka Zarine juga lain nya.


"Mari semua, kita berangkat dulu, assallammu'allaikum!." Salam Bang Rafa Kak Raina dengan kaki memasuki mobil.


"Wa'allaikum sallam, hati-hati!." Jawab semua orang di iringi dengan lambaian tangan mereka.


"Ayo pulang." Ajak Papa Rafka setelah mobil Bang Rafa sudah tak terlihat dari mata mereka.


Semua orang balik ke rumah Rafka Zarine, duduk kembali di ruang santai.


Zarine, Akifa, Alfi, Tika tampak diam tak berbicara.


"Dah dong, kalian jangan sedih gitu, mereka pasti balik percaya deh." Hibur Mama Akifa yang di angguki oleh tetuah lain nya.


"Emang perusahaan nya Bang Rafa ada apa sih? Kok sampe gitu banget tanggapan Bang Rafa?." Abdiel bertanya-tanya.


"Ngga tau juga deh, entar aja nunggu nanti mereka sampai di Surabaya atau nunggu sampai mereka telepon dulu baru kita tanya." Ujar Papa Abdiel memberi saran.


"Dah! Kalian semua ke kamar sana istirahat, nanti jam 5 kan kalian mau ke Cafe." Suruh Mami Alfi yang sebenar nya itu kode itu para pria muda-muda agar bisa menenang kan isyri nya masing-masing di dalam kamar.


"Mama sama Papa nginep sini kah malam ini?." Tanya Akifa dengan menatap ke dua mata Mama nya.


"Iya kita tidur di sini." Balas Mama meng iya kan.


Setelah mendengar jawaban itu, Rafka Zarine dan lain nya masuk kamar dan menenang kan diri atas kepergian Kak Rain dan Bang Rafa ke Surabaya tadi.


Di perjalanan Bang Rafa Kak Raina ke Surabaya.


Suasana mobil hening tak ada perbincangan, hanya ada suara mesin mobil yang mengeluar kan suara nya.


"Yang?." Panggil Kak Raina pada Bang Rafa sang suami.


"Hm?." Sahut Bang Rafa dengan menoleh kan kepala nya ke kiri menatap Kak Rain.


"Ada apa sih sebener nya di Surabaya?." Tanya Kak Raina yang sedari tadi memang sudah penasaran akan hal itu.


"Pabrik produksi alat-alat medis di Suarabaya kebakaran Yang, terus perusahaan ku kena tipu, memang aku jarang kontrol kondisi perusahaan aku di sana, karena aku anggap Asiaten aku udah mampu ngurusin, dia yang aku percaya dalam segala hal di sana." Jelas Bang Rafa panjang.


"Makan korban jiwa kah di kebakaran itu?." Taya Kak Raina cemas.


"Iya, 2 orang." Jawab Bang Rafa yang mata nya fokus mengemudi kan mobil nya.


Kak Raina hanya membalas nya dengan angguk kan kepala nya saja.


"Kamu pasti bisa selesai kan ini semua, yang sabar yah." Kak Raina memeberi semangat pada sang suami.


Bang Rafa menolah kan wajah nya ke arah Kak Raina sekilas di iringi dengan sunggingan bibir manis nya.


"Makasih udah mau ada di samping aku dan nyemangatin aku." Ucap Bang Rafa tulus.


"Iya sama-sama." Jawab Kak Rain dengan tak kalah tulus.


"Mungkin di sana kita bakal lama Yang, kamu ngga papa kan?." Tanya Bang Rafa.


"Lama gimana asal sama kamu aku mau." Gombal Kak Raina dengan mengedip kan mata nya menggoda Bang Rafa.


"Aduh istri siapa nih kok pinter banget gombal nya, hahaha... ." Tawa Bang Rafa memnuhi mobil.


Kak Raina terkekeh juga dengan perkata an Bang Rafa itu.


'Makasih Yang udah hibur aku, ngga rau deh kalo kamu ngga ikut aku ke Surabaya dan malah pergi sendiri, mungkin aku bakal ngebut terus bisa-bisa kecelakaan.' Batin Bang Rafa mensyukuri kehadiran sang istri dalam perjalanan nya ini.


Perjalanan Bang Rafa dan Kak Rain pun berlanjut, kini mobil mereka telah memasuki area jalan tol.


Di rumah Rafka Zarine, tak terasa saat ini jam sudah menunjuk kan waktu pukul setengah 5 sore.


"Ini kata nya mau ke Cafe? Jadi ngga niha?." Tanya Abdiel sambil menatap Zarine, Akifa, Alfi, Tika.


4 wanita hamil itu kemudian saling pandang.


"Ngga ke sana dulu deh." Cetus Zarine yang di angguki lain nya.


"Lah? Ya udah, kita para cowok aja yah yang ke sana, kalian tunggu di rumah, mau di bawa in apa entar?." Tanya Rafka memberi penawaran pada para wanita ini.

__ADS_1


"Bawa in sate ayam, sama es buah." Kata Akifa meminta tanpa menatap mata Rafka yang menawari.


"Lain nya es bisa ngga?." Ujar Abdiel meminta.


Akifa menatap Abdiel dengan tatapan tajam nya.


"Sekali-kali ngga papa kali Diel." Cetus Mama Akifa.


"Ngga baik loh Ma kalo es-es mulu, gimana kalo kita tetep bawa in es buah tapi ngga usah es, gitu aja yah." Bujuk Abdiel.


"Iya deh iya deh terserah." Akifa pasrah dalam pikiran nya 'Dari pada kagak dapet es buah mending iya in deh' begitu lah kurang lebih.


"Diem-diem di rumah ya, kami pergi dulu, assallammu"allaikum." Salam Bang Idan.


"Wa'allaikum sallam, hati-hati!." Seru para tetuah dan Zarine, Akifa, Alfi, Tika.


4 pria itu meluncur ke Cafe ZAARA dengan satu mobil.


"Bang Rafa udah sampe belum yah?." Tanya Abdiel di sela kesunyian mobil ini.


"Pasti belum, dari sini (Jakarta) ke sana (Surabaya) kan butuh waktu 9-10 jam, gila aja jam segini udah sampe, pake tenaga apa an dia? Superman?." Kelakar Bang Idan dengan di akhiri tawa renyah nya.


"Untung tadi Kak Raina ikut, kalo engga, kagak bisa prediksi deh Gua gimana nanti kondisi nya." Cetus Rafka menimpali.


"Pasti ngebut tuh anak kalo Rain kagak ikut, dia kan gitu, kalo lagi kalut ada masalah mobil melesat udah kaya kilat." Tambah Bang Idan pula.


"Dah lah, kita doa in aja yang baik-baik ama mereka berdua, semoga perjalanan mereka lancar dan selamat sampai tujuan, aaamiin." Doa Abhi yang di aamiin kan juga oleh Rafka, Bang Idan, juga Abdiel.


Cukup lama perjalanan menuju Cafe ZAARA, beberapa menit kemudian, mereka pun sampai.


Cafe telah di buka oleh salah satu karyawan yang di beri Rafka kunci cadangan Cafe.


"Ada guna nya juga percaya ama salah satu karyawan Cafe, tapi Lu udah pasti in tuh karyawan bisa di percaya kan Raf?." Tanya Abdiel.


"Tenang aja, seluruh penjuru Cafe ini udah Gua pasang CCTV, lagi pula kunci yang Gua pasrahin ke si Karyawan tuh cuma satu, kunci buka Cafe doang, lain nya masih ada di tangan Gua, dan mulai besok istri-istri kita yang bakal pegang." Jelas Rafka panjang bak kereta api.


"Ayo masuk, ngapain kita ngintai di luar kaya mata-mata gini? Bukan kaya mata-mata lebih tepat nya kek maling." Cetus Bang Idan.


"Mana ada maling ganteng kaya kita-kita gini? Kalo maling nya kaya kita, ngga usah susah ngambil tanpa ijin, pasti udah di kasih dulu an ama yang punya rumah, hahaha... ." Tawa Abdiel pecah.


"Lu aja sono yang maling, Gua ogah, Gua udah kaya ngapain mau maling segala." Suruh Abhi pada sahabat nya ini.


"Ck! Gua kan cuma perumpaan Abhi suami nya Alfi, Gua juga udah kaya, ngapain Gua maling, kurang kerjaan emang." Sewot Abdiel.


Saat Rafka akan menimpali perbincangan 2 orang yang berdebat tanpa alasan itu, tiba-tiba terhenti karena sapa an dari seseorang.


"Loh? Kalian dateng cuma ber 4? Zarine, Akifa, Alfi, Kak Rain, sama Tika mana?." Tanya Sari.


"Lo jadi dateng? Kata nya ngga dulu?." Pertanyaan Sari di balas pertanyaan juga oleh Abdiel.


"Jadi dong, ngapa in ngga jadi? Aku di rumah juga ngga ada kegiatan." Jawab Sari.


"Sebener nya ngga jadi, tapi dia maksa dengan mencari banyak alasan." Imbuh Roy dengan muka masam nya yang hanya di balas Sari dengan cengiran tanpa dosa milik nya.


Padahal Roy tadi berniat mau memeluk sang istri sepuas nya di sore hari ini, tapi niat nya itu di bubar kan oleh rengek kan Sari dan berbagai macam alasan Sari agar bisa ke Cafe milik Zarine juga lain nya ini.


"Kita ngobrol di dalem jangan di luar kaya orang nagih utang aja ngomong sambil berdiri." Kata Rafka mengajak Roy dan Sari serta lain nga masuk ke dalam Cafe.


Di meja pojok Cafe.


"Jadi? Mana Zarine sama lain nya?." Tanya Sari antusias.


"Ada di rumah, mereka ngga ikut dateng." Jawab Bang Idan.


Wajah Sari langsung lesu dan dia langsung diam tak berbicara apa-apa.


"Zarine ama lain nya ngga mau ke sini, mereka masih sedih karena di tinggal Kak Rain sama Bang Rafa ke Surabaya." Abdiel menjelas kan alasan ke tidak hadiran Zarine dan lain nya ke Cafe ini.


"Ngapain ke Surabaya? Kok mendadak?." Tanya Roy dengan mengernyit kan alis nya.


"Perusahaan nya yang di sana kena musibah, jadi dia ke sana nya dadakan." Detail Abhi menjawab.


"Terus? Aku gimana nih? Udah sampe sini loh padahal." Papar Sari dengan suara lesu.


"Kita atas nama Zarine, Akifa, Alfi, Tika, sama Kak Raina minta maaf ya Sar, mungkin mereka bakal telepon kamu langsung nanti atau engga besok buat minta maaf, maafin istri kita." Ucap Rafka tulus pada Sari.


"It's ok lah ngga papa, besok-besok aku bisa ke sini lagi." Sari memaaf kan Zarine dan lain nya.


"Wa'allaikum sallam, hati-hati Roy!." Pesan Rafka dan lain nya yang di balas acungan jempol oleh Roy.


Di rumah Rafka Zarine.


"Girl's?." Panggil Akifa.


"Hm?." Sahut Zarine lesu.


"Kaya nya ada yang ngga beres deh." Cetus Akifa memberi tau, otak nya tengah berpikir keras mencari hal apa yang sedang tidak benar.


"Ngga beres gimana?." Tanya Alfi tak paham.


"Astaghfirullah! Kita lupa kalo udah bikin janji sama Sari, pasti dia dateng ke Cafe." Pekik Zarine dengan menepuk jidat nya pelan.


"Tapi kemarin Roy bilang ngga bakal dateng kan?." Tanya Akifa.


"Sari tuh anak nya keras kepala, pasti dia bujuk Roy dengan sekuat tenga biar bisa ke Cafe." Tika memberi kan argumen nya.


"Telepon dia cepet." Suruh Alfi.


Tika sigap mengambil ponsel yang ada di depan nya. Dia mencari-cari kontak nomer dengan nama Sari di ponsel nya. Setelah menemu kan nya Tika langsung memanggil Sari.


"Duh karena sedih kita sampe lupa sama janji yang kita buat sendiri." Ujar Akifa lesu.


"Moga-moga aja Sari ngga ke Cafe hari ini." Doa Akifa yang di aamiin kan oleh Zarine, Tika, Alfi.


Posisi 4 wanita hamil ini sekarang sedang ada di ruang Santai depan TV, sedang kan para tetauh wanita ada di dapur menyiap kan menu berbuka puasa, untuk tetuah pria sedang ada duduk membahas kerjaan kantor di ruang santai yang jarak nya lumayan dari Zarine dan lain nya.


Panggilan tersambung.


"Halo? Assallammu'allaikum." Sapa Sari di seberang sana.


"Wa'allaikum sallam." Jawan Zarin dan lain nya kompak.


"Sar? Kamu tadi ke Cafe kah?." Tanya Akifa.


"Aku ada di jalan pulang dari sana, kalian ngga dateng jadi aku pulang." Jelas Sari detail.


"Maafin kami ya Sar, kami lupa in kamu, maaf banget yah." Ucap Zarine tulus meminta maaf penyesalan juga ada mengiringi kata-kata Zarine meski tak terucap secara langsung.


"Ngga papa kok, suami kalian tadi juga udah jelasin panjang lebar kali tinggi tadi sama aku, udah aku maafin kok sebelum kalian minta maaf kaya gini." Ucap Sari tulus.


"Kamu ngga marah kan? Masih mau dateng ke Cafe kan?." Tanya Akifa takut-takut.


"Dateng dong, itu pasti, tapi nunggu ijin dari Bapak Negara dulu, lalo engga... mana bisa aku ke Cafe kalian." Cetus Sari yang dengan jelas di dengar Roy.


"Kak Roy? Nanti ijinin Sari main ke Cafe kami yah?." Pinta Zarine meminta pada Roy suami Sari.


"Iya, tapi ngga setiap hari." Jawab Roy yang jawaban kekecewaan dari seberang sana.


"Yah... kok gitu? Boleh lah Kak tiap hari." Tawar Akifa.


"Engga, kecuali kalo aku lagi kerja padet banget, baru aku anterin Sari ke sana tiap hari buat titip ke kalian." Ujar Roy.


"Titip? Emamg aku anak barang di titipin?." Sungut Sari dengan mendengus kesal.


"Emang kita jasa penitipan barang kah? Kok ada titip menitip?." Tanya Zarine yang malah di balas tawa an keras oleh Roy.


Panggilan tersambung cukup lama, sampai pada suara Qiroah di masjid berkumandang, panggilan pun berhenti.


Bertepatan dengan itu, suara mobil masuk ke garasi pun ikut terdengar.


Zarine, Akifa, Alfi, Tika menebak itu pasti suami-suami mereka yang baru kembali dari Cafe tadi.


"Assallammu'allaikum?." Salam Rafka, Abdiel, Abhi, dan Bang Idan kompak.


"Wa'allaikum sallam." Jawab sema orang dalam rumah.


4 pria yang baru datang itu duduk dan menyandar kan tubuh nya di sandaran sofa ruang santai rumah Rafka Zarine.


"Gimana tadi Cafe?." Tanya Akifa pada ke lima pria itu.


"Alhamdulillah tadi makin banyak yang dateng buat buka di sana." Jawab Rafka dengan di iringi senyuman manis nya.

__ADS_1


"Terus? Mana nih sate sama es buah nya?." Tanya Akifa.


Para pria menegang kemudian saling pandang.


"Anu... itu... tadi... ." Abdiel tergagap menjawab.


"Kalian lupa yah?." Tanya Alfi dengan msnatap tajam 4 pria di depan nya ini.


"Kita berangkat beli beli sekarang tunggu yah." Ujar Abhi.


Saat 4 pria itu akan pergi Zarine mencegah.


"Ngga usah deh, nanti aja selesai terawih kita beli bareng sekalian jalan-jalan, kalo cari sekarang bentar lagi waktu buka, lagian Bunda, Mama sama Tante lagi siapin makanan di dapur." Kata Zarine mencegah.


"Maaf yah, kita lupa." Ucap Rafka dengan wajah bersalah dan tangan nya mengaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.


Para wanita membalas hanya dengan gelengan kepal sambil menepuk dahi nya pelan.


"Wah wah belum tua udah pada lupa aja kalina yah." Ujar Papa Rafka meledek.


'Duk... duk... duk... .' Suara beduk di pukul di iringi dengan adzan maghrib yang merdu di masjid sekitar perumahan.


'Allahu akbar... Allahu akbar... .'


"Alhamdulillah." Ucap semua orang dalam rumah Rafka Zarine.


"Ayo semua nya minum teh kalian dan kurma nya ini di meja makan, habis itu mari kitas sholat dulu." Mama berteriak memanggil semua orang yang tengah duduk di ruang santai itu.


Pukul 18.45 semua setelah sholat dan berbuka puasa, semua orang kembali duduk di ruang santai sambil menunggu adzan isya' berkumandang.


Jauh di sebuah desa yang di tempati Rendra Shita, sseorang gadis duduk di atas jerami sambil menatap bintang dan bulan di angkasa lepas sana.


"Jangan ngelamun." Kata Panji mengejut kan Alifia yang memang tengah menatap kosong ke arah angkasa.


"Wa'allaikum sallam." Ucap Alifia sambil mendengus sebal.


Panji terkekeh tau bahwa gadis nya ini terkejut. Tunggu? Gadis nga? Sejak kapan? Entahlah, Panji tiba-tiba telah mengklaim Alifia adalah milik nya di setujui atau tidak oleh Alifia.


"Assallammu'allaikum." Salam Panji.


"Wa'allaikum sallam, ngapain ke mari? Hus sana pergi." Usir Alifia pada Panji sambil mendorong-dorong tubuh kekar nya walau dia tau tak kan ada pengaruh nya.


"Percuma, tubuh ringkih kaya gitu mau dorong tubuh ku, gerak aja engga, hahaha... ." Tawa Panji meledek Alifia.


Alifia menyerah dan membiar kan Panji duduk di samping nya.


"Kenapa di sini? Ngga betah? Mau pulang kah?." Tanya Panji beruntun.


"Kenapa tanya nya pulang terus? Lu kagak suka Gua di sini? Kan Elu yang ngajak Gua ke desa ini!." Seru Alifia tak suka atas pertanyaan Panji.


"Ya kan cuma tanya aja." Jawab Panji dengan menatap wajah Alifia intens.


Alifia diam masih tak mengeluar kan suara nya, mata nya masih menatap langit di atas nya.


Lalu... .


"Aku betah di sini, bahkan rasa nya ngga mau pulang, makasih udah bawa aku ke sini." Ucap Alifia tulus dari hati nya.


"Sama-sama, tapi... kalo kamu ngga pulang, siapa yang bakal ngurus semua peninggalan Papa kamu?." Tanya Panji, terdapat nada sedih di kalimat tanya nya.


"Kan bisa aku kendali in dari sini, sekarang kan semua nya canggih, ngga harus ke tempat kerja buat kerja, dari jauh juga bisa." Jelas Alifia detail menjelas kan.


Panji mengangguk kan kepalaeng iya kan.


2 orang itu kemudian diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Jangan terlalu mikirin Papa kamu, beliau udah tenang di sana." Nasihat Panji tanpa menatap Alifia.


"Kejadian nya kaya baru kemarin aku rasa in, padahal kan udah beberapa hari yang lalu kejadian ngga ngenakin itu." Ujar Alifia menunduk kan kepala nya sedih.


"Terus Mama tiri kamu gimana?." Tanya Panji menanya kan hal lain nya.


"Si Nyai Ronggeng itu mencak-mencak gak jelas di rumah gara-gara semua aset kekayaan Papa ada di tangan aku." Beri tahu Alifia dengan bibir nya terkekeh pelan menertawa kan Mama Tiri nya itu.


"Terus?." Panji menanya kan kelanjutan cerita nya.


"Kata Asisten aku tuh Mamak Tiri bilang mau rebut harta Papa dari tangan ku yang udah jelas-jelas emang hak aku, rumah yang dia tempatin aja itu rumah aku, Mamak tiri itu aja yang ngga sadar posisi nya di mana." Sambung Alifia mencerita kan segela nya pada Panji.


Sedang asik bercanda ber dua, Rendra Shita, Dini Andi melihat kebersamaan mereka ber dua menggeleng kan kepala dengan memejam kan mata nya tak paham.


"Mereka ber dua tuh unik banget yah, kalo deket kadang di usir-usir, kadang-kadang becanda kaya gini." Kata Dini yang di angguki oleh Shita, Rendra, juga Andi.


"Ayo kacau mereka, bentar lagi adzan isya' berkumandang, bisa-bisa merek ngga akan ikut terawih kalo asik becanda kaya gini." Kata Shita yang di benar kan Rendra sang suami.


Dan tiba-tiba... .


"Bubar woy!!! Jangan dua-dua an!! Ngga baik, nanti yang ke tiga setan loh." Teriak Shita mengaget kan Panji dan Alifia.


"Buset dah setan teriak setan." Cetus Panji dengan raut muka datar.


"Gila aja! Lu setan nya dasar Panji gila!." Umpat Shita sambil menendang Panji yang sayang nya tak kena kaki Panji.


"Sabar Yang, udah." Leraj Rendra sambil menenang kan sang istri.


"Kalian ber dua ayo ke masjid, ini area sepi ngapain kaluan di sini? Ber dua an lagi, Mau buat mesum yah? Halal dulu lah baru boleh gitu an." Cerocos Rendra tak membiar kan Panji atau pun Alifia berbicara untuk menjelas kan.


"Diem Lu cerewet! Kita di sini cuma duduk sambil liat bintang noh, jangan negatif thinking napa, kita masih mau hidup di sini, kagak mau di usir dari desa." Jelas Panji panjang lebar.


"Ouh... lain kali kalo ke sini bawa temen, kagak enak di liat tetangga cuy, kalian bukan mahram soal nya." Shita menjelas kan.


"Kalo belum mahram ya tolong dong di mahromin." Seru Andi yang berlalu pergi dari lokasi perbicangan. Alifia nalu mendengar omongan Andi.


"Iya bener banget tuh." Cetus Dini menimpali.


"Segala nasihatin orang, Lu sendiri gih mahramin nih si Dini." Seru Panji menjawab. Dini menunduk malu mendengar seruan Panji.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


B E R S A M B U N G . . .


Lanjut besok ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.

__ADS_1


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2