
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Ayah? Ibu? Ahh!! Agnez kangen!." Pekik Agnez senang, dia langsung berlari dan menghambur ke peluk kan ke dua orang tua nya itu.
Dengan rasa bahagia juga Ayah Ibu Agnez membalas peluk kan anak gadis semata wayang nya ini.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Mereka ber 3 berpeluk kan dengan erat.
"Dari mana kalian semua? Kenapa lama sekali?." Tanya Mama Tika mengintrogasi Angkasa juga para pria lain nya yang tengah berdiri berjajar rapi menyamping.
"Tadi jam 6 kurang kita udah mau pulang Ma, tapi little girl sama lain nya minta jalan lagi, ya kan ngga tega Ma nolak nya, jadi kita jalan lagi." Cetus Angkasa menjelas kan sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
"Ya sudah ayo semua nya mandi dulu, setelah itu sarapan." Perintah Mama Tika pada 8 serangkai.
Agnez pun dengan terpaksa melepas peluk kan dan pamit untuk mandi pada ke dua orang tua nya.
8 serangkai pun pergi dari ruang makam dan meninggal kan para tetuah.
Sepeninggalan para muda-muda.
"Pak Cakra? Bu Dewi? Apa bisa nanti kita bicara secara pribadi di ruang baca saya?." Tanya Papa Zaidan.
"Bicara? Ouh boleh-boleh, mau bicara kan soal hal penting itu yah?." Tebak Ayah Cakra.
"Iya tepat sekali, kalo nunggu senin kelamaan, sekarang kan ketemu, kenapa ngga sekarang aja." Cetus Papa Zaidan membenar kan.
"Yah saya sangat setuju." Kata Ayah Cakra.
Pukul 06.45 para muda-muda yang berjumlah 8 itu kembali ke meja makan dan semua orang pun melaksanakan sarapan bersama secara hening tak ada suara percakapan.
Sampai pada pukul 07.00 tepat baru sarapan selesai.
Kini semua orang tengah berada di ruang santai.
"Ayah? Ibu? Kita pulang sekarang kah?." Tanya Agnez dengan semangat.
"Kenapa tanya gitu? Kamu ngga suka di sini kah?." Tanya Angkasa dengan tatapan mata sendu mengarah pada Agnez.
"Bukan gitu maksud nya Mas Angkasa, Agnez udah 2 hari ndak pulang, kangen sama kasur ku sendiri di rumah, udah cuma itu aja alasan nya, ndak ada yang lain." Jelas Agnez panjang.
"Emang kasur di sini ngga sama yah sama kasur punya Agnez?." Tanya Mama Tika bercanda.
"Ndak gitu Maaaa... kasur di sini sama kaya kasur punya ku di rumah kok, cuma Agnez kangen aja tidur di kamar sendiri, hihi... ." Agnez terkikih sendiri sambil menampak kan gigi rapi dan putih nya.
"Hmm gitu toh." Celutuk Mama Tika paham.
"Gini deh, kalian di sini dulu yah, kita para tetuah mau bahas sesuatu hal yang penting, jangan main keluar okay!." Peringat Papa Zaidan dengan menatap Pamungkas, Albhi, Damar, dan Angkasa tajam.
Yang berarti Papa Zaidan percaya pada para pria itu agar tak membiar kan para gadis keluar.
Dengan tatapan tegas dan yakin nya, ke 4 pria itu mengangguk kan kepala.
Para tetuah pun pergi.
"Kira-kira yang di bahas para tetuah apa yah?." Tanya Angkasa penasaran.
"Iya, kemarin Kak Rain sekarang orang tua Agnez, apa jangan-jangan mereka semua membicara kan pernikahan kalian." Semangat Pamungkas berbicara pada Angkasa.
Mata Angkasa membulat tak percaya, dia menatap Pamungkas dengan binar mata bahagia.
Tapi kemudian dia menghela nafas lelah dan tatapan bahagia itu meredup.
"Why?." Tanya Damar sambil mengangkat sebelah alis nya ke atas.
"Ngga bakal secepat itu Paijo! Gua belum tamat sekolah, Agnez masih sekolah kelas 10, usia kita belum genap 17 tahun, Gua juga belum kerja, mau di kasih makan apa si Agnez? Batu?! Yang bener aja dong!." Pekik Angkasa pelan.
"Iya juga yah." Gumam Pamungkas membenar kan.
"Terus bahas apa an dong mereka?! Ya Allah!! Aku penasaran dari semalam, Allah!." Seru Pamungkas frustasi.
"Dih?! Kaya orang gila aja Lu." Kata Damar menghujat.
Duduk para pria dan para gadis terpisah, maka nya mereka bisa berbicara bebas sesuka mereka.
Ouh iya, kenapa meraka selalu menjaga omongan mereka saat bersama dengan para gadis? Karena para pria mengingin kan nya, tak ada alasan khusus mereka berbuat manis dengan tak memanggil Lo-Gua di depan para gadis.
Di bagian para gadis.
Mereka duduk sambil kepala nya bersandar ke sofa.
Dan perlahan-lahan mata meraka tertutup kemudian nafas mereka berhembus damai dan pelan tanda bahwa mereka telah tenggelam di alam mimpi.
Entah lah, mungkin karena mereka kelelahan habis bersepeda jadi gadis-gadis itu terlelap.
Padahal tidur di jam-jam pagi tak pagi, mereka tau itu, tapi rasa kantuk mereka tak dapat di tolak lagi.
Ya sudah mereka tidur aja sambil duduk.
"Eh? Ini para gadis kenapa diem-diem bae?." Tanya Albhi heran.
Pandangan mereka mengarah pada sofa tak jauh dari mereka.
"Lah? Mereka tidur pagi-pagi? Allah!." Seru Damar sambil menggeleng-geleng kan kepala nya heran.
"Udah mending gini, dari pada entar mereka ngerek minta keluar, apa lagi si Agnez yang minta, asli demi apa pun, kagak tega Gua nolak nya, ayo sekarang kita perbaiki dulu itu posisi mereka, biar leher nya ngga sakit." Ajak Angkasa sambil berdiri dari duduk nya dan melangkah kan kaki nya ke arah para gadis itu.
Para pria itu kemudian membenar kan posisi tidur para gadis itu.
Tidak demgan mengguna kan paha mereka sebagai bantalan, tapi kepala mereka memakai bantak sofa agar membuat para gadis itu nyaman tidur.
__ADS_1
Tangan para pria mengelus pucuk kepala para gadis dengan lembut, mata mereka juga terfokus hanya ke arah wajah para gadis.
Sudah 10 menit lama nya meraka menatap wajah damai para gadis yang tidur nyenyak dan itu tak membuat mereka bosan bahkan rasa nya meraka ingin menganggu tidur gadis masing-masing, karena tak tega para pria itu tak jadi melakukan nya.
Di ruang baca semua para tetuah tengah berkumpul.
Suasana tampak sedikit menegang kan dan canggung karena semua orang diam tak ada yang bersuara.
Sampai... .
"Pak Cakra? Bu Dewi? Sebelum mengatakan maksud perkumpulan ini, pertama-tama kami minta maaf kalau membuat Anda berdua merasa tegang." Ucap Papa Zaidan basa basi.
Ayah Cakra dan Bu Dewi mengangguk kan kepala sambil tersenyum manis.
"Baik lah jangan membuang waktu lagi, mari bicara kan dan selesai kan semua." Celutuk Papa Zaidan.
Semua orang mendengar kan Papa Zaidan berbicara.
"Pak Cakra dan Bu Dewi pasti sudah tau dan sangat paham kalau Angkasa anak saya menyukai Agnez, benar?." Tanya Papa Zaidan mengklarifikasi.
"Iya benar." Jawab Pak Cakra dan Bu Dewi kompak.
"Saya juga semua orang pihak keluarga saya ini meminta agar Pak Cakra dan Bu Dewi mau berpindah perumahan di sini dan di komplek sini juga." Pinta Papa Zaidan blak-blak an.
"Bisa beri tahu kami apa yang membuat Pak Zaidan menyuruh kami pindah ke mari?." Tanya Ayah Cakra yang sudah di duga sebelum nya oleh Papa Zaidan juga lain nya.
Papa Zaidan memandang semua orang di ruang baca ini, mulai dari istri nya yang duduk tepat di samping nya sampai ke semua orang.
Mama Tika juga lain nya mengangguk kan kepala tanda mempersilah kan Papa Zaidan mengata kan yang sebenar nya.
'Khem... huuffhhh... .' Papa Zaidan menarik nafas dan menghembus kan nya perlahan.
Lalu... .
"Pak Cakra dan Bu Dewi pasti tau kalau keluarga kami punya musuh, dan pasti Pak Cakra paham dengan itu, atau mungkin Pak Cakra juga punya musuh, iya kan?." Kata Papa Zaidan berucap.
"Ya kami tau kalau Pak Zaidan punya musuh, bukan hanya Pak Zaidan kami saja yang usaha nya tak mendunia ada saja musuh nya, hehehe... ." Ujar Ayah Cakra menjawab omongan Papa Zaidan dengan santai di akhiri kekehan nya.
"Musuh kami bukan hanya mau mengincar kami para tetuah saja, tapi juga anak-anak dan para gadis tentu saja." Lanjut Papa Zaidan serius.
Semua orang memperhati kan omongan Papa Zaidan dengan seksama agar tak ketinggalan cerita.
"Musuh kami ini bukan cuma Bapak nya, anak nya juga musuh dari Angkasa juga lain nya, mungkin Angkasa, Damar, Albhi, dan Pamungkas tak akan kenapa-napa in syaa Allah, tapi para gadis? Apa lagi Pak Cakra, Bu Dewi, Agnez, dan Kak Rain adalah anggota baru di keluarga kami, tak menutup kemungkinan kalau musuh tak mengejar kalian." Sambung Papa Zaidan menjelas kan panjang lebar.
Pak Cakra dan Bu Dewi yang sudah paham duduk perkara nya mengangguk-angguk kan kepala nya sambil mengusap dagu nya berpikir.
"Jadi Pak Zaidan meminta kami pinda ke sini, ke perumahan dan ke komplek kalian ini untuk lebih muda menjaga, seperti itu to?." Tanya Pak Cakra memperjelas.
"Nah! Benar! Seperti itu Pak kurang lebih, jadi? Bagai mana? Setuju?." Tanya Papa Zaidan to the point.
Pak Cakra memandang sang istri meminta pendapat.
Bu Dewi mengangguk kan kepala pelan tanda setuju.
Dengan melihat angguk kan itu para tetuah Angkasa dan lain nya menerbit kan senyum manis nya senang.
"Istri saya setuju Pak Zaidan, dan yah... tentu saja saya juga setuju, masa anak istri pindah saya sendiri di rumah? Hahaha... kan ndak lucu." Canda Ayah Cakra sambil tertawa pelan.
Para tetuah Angkasa dan lain nya ikutan tertawa terbawa suasana.
"Alhamdulillah kalau semua setuju, ouh iya Pak, kami sudah menemu kan rumah yang menurut kita pas untuk anda sekeluarga dan juga pas untuk Rain, kalau Rain pasti akan setuju dengan keputusan kami karena sedari kemarin dia sudah pasrah dengan semua keputusan kami, kalau untuk rumah Pak Cakra sekeluarga kami tak mempunyai hak untuk menentu kan sendiri, emmm... bagai mana jika kita lihat lokasi dan bentuk, serta dalam rumah nya? Kebetulan di sini ada 2 rumah di jual." Kata Papa Zaidan mengajak.
"Boleh tuh Pak, mari kita lihat sekarang, biar bisa pindahan di waktu-waktu dekat ini, kalau bisa hari senin besok kita pindah." Cetus Ayah Cakra antusias.
"Tapi... alang kan lebih baik nya kita sekarang bilang sama anak-anak soal semua ini." Mama Tika ikut bicara.
"Belum Bu Dewi, kita sengaja rahasia in ini buat surprise mereka, dan kalau bisa Agnez jangan sampai tau yah." Pinta Mama Tika sambil tersenyum manis.
"Iya beres Bu, kami akan rahasia kan dari Agnez." Cetus Ibu Dewi sambil mengacung kan ke dua jempol nya.
Para tetuah keluar dari ruang baca dengan suasana hati gembira.
Sampai di ruang santai.
Para orang tua hendak menyapa 8 serangkai, tapi... .
Pemandangan tak mengenak kan terlihat di mata para orag tua.
Pandangan apa kah itu? Pandangan yang membuat para Ibu-ibu marah, para anak gadis yang tidur pulas tapi di ganggu oleh para pria tampan.
"Kalian?!." Pekik para Ibu-ibu itu geram.
Kontan saja 4 pria itu menoleh ke arah para tetuah sambil menampak kan senyum kaku nya.
"Ngapain kalian hah?!." Tanya Mama Tika sambil mendelik marah.
"Ma... maaf kita cuma becanda, maaf." Ucap para pria sambil menyatu kan ke dua tangan nya meminta maaf.
"Jangan ganggu kalau ngga mau kena jepitan super keras dari para Ibu-ibu ini, duduk diam, boleh liat jangan di pegang!." Peringat Mommy Za tajam, tangan nya berkacak pinggang sambil mata nya melotot.
Para pria menelan saliva kasar dan spontan mengangguk kan kepala patuh tak kan menganggung para gadis tidur.
"Sini kalian duduk di sini, ada yang mau kami bicara kan." Perintah Daddy Rafka yang tanpa di suruh dua kali para pria menghampiri dan duduk di karpet sambil memperhati kan para tetuah.
"Kalian semua pasti penasaran kan apa yang kita bicara in?." Tanya Bunda Raina dengan senyum penuh arti nya membuka pembicaraan.
Tak dapat mengelak dari apa yang di kata kan Bunda Raina, 4 pria tampan itu pun mengangguk kan kepala meng iya kan dengan cepat.
"Nah sekarang kita mau jawab rasa penasaran kalian itu, dengerin yah." Ucap Mama Tika ikut tersenyum penuh arti.
Dengan pandangan penuh binar bahagia dan harapan, 4 pria itu menatap para tetuah wanita intens secara satu per satu.
"Harap-harap semoga kabar bahagia yang bikin kita semua ngga kecewa." Doa Damar yang di aamiin kan oleh Albhi, Pamungkas, dan Angkasa.
Para tetuah hanya terkekeh melihat tingkah dari 4 pria tampan ini.
"Ini kabar bagus nya sebener nya cuma buat Pamungkas ama Angkasa, tapi ya sudah lah biar Damar sama Albhi tau juga." Cetus Bunda Raina sambil menatap 4 pria itu dengan senyum manis nya.
"Bun? Bilang to the point dong please, jangan bertele-tele." Pinta Pamungkas dengan senyuman lebar.
Bunda Raina dan lain nya terkekeh geli sendiri melihat Pamungkas yang sudah jengah mendengar basa basi nya sang Bunda.
"Agnez sama Kak Rain bakal satu perumahan dan satu komplek sama kita loh." Beri tahu Bunda Rain bahagia.
Damar dan Albhi langsung tersenyum turut senang dengan kebahagiaan Angkasa dan Pamungkas.
Tapi 2 pria tampan itu? Mereka melamun menatap Bunda Raina dan lain nya dengan tatapan kosong ke depan dengan mulut menganga sedikit lebar.
Wajah terkejut 2 pria itu seperti orang bodoh, berkedip-kedip berulang kali dan kemudian senyum manis pun muncul dengan sempurna.
Karena ingat bahwa para gadis tidur, dua pria itu memutus kan memeluk Ibunda masing-masing.
Angkasa juga memeluk Ibu dan Ayah Agnez dengan erat karena bahagia.
"Kapan akan pindah?." Tanya Pamungkas senang.
__ADS_1
"Secepat nya." Balas Bunda Raina dengan mengelus kepala anak nya lembut.
"Walau pun kita sudah dalam satu perumahan dan satu komplek, tetap saja, harus tetap jaga-jaga, 'Dia' mungkin ngga akan ngincer Kak Rain atau Agnez, tapi tetap 2 gadis itu harus aman." Omongan Albhi berhasil membuat semua orang menatap nya secara serius.
"Kalau boleh tau, Nak Albhi tau dari mana kok bisa nebak kalau inceran musuh kalian bukan Agnez atau Rain?." Tanya Ayah Agnez ingin tau.
"Haris sendiri yang bilang ke Albhi Om." Bukan Albhi tentu saja yang menjawab, itu suara Damar yang berucap.
"Haris? Jadi nama musuh kalian Haris?." Tanya Ibu Dewi yang di angguki semua orang.
"Kira-kira siapa yang di incar oleh 'Dia' ?." Tanya Ibu Agnez.
"Wulan." Singkat Albhi menjawab, tangan nya mengepal erat sampai kuku nya memutih, pandangan nya menggelap dan tentu saja rahang Albhi mengetat, anak Mami Alfi itu tengah di liputi amarah.
"Kenapa? Apa alasan nya?." Tanya Ayah Cakra yang ingin tau lebih dalam.
"Mudah saja, karena aku seorang tempramen yang akut, dia ingin menguji ku sekuat apa aku jika gadis ku di ganggu, tapi dia salah, Wulan bukan kelemahan ku, Wulan itu sumber kekuatan ku, jika Wulan terluka, aku mungkin akan menangis, tapi aku tak kan rapuh, aku akan tunjuk kalau dia salah pilih musuh!." Seru Albhi tajam dengan memandang para tetuah juga 3 pria muda di samping nya dengan pandangan menggelap.
Kabut kegelapan hadir di mata Albhi, gen Mami Alfi yang bar-bar dan tempramen menempel pada Albhi, dan sifat mengintimidasi Albhi tertular dari Papi Abhi.
Ya perpaduan yang sangat amat cocok jika di jadi kan satu.
Mami Alfi yang melihat pandangan mata anak nya menggelap, beliau turun dari tempat duduk nya di sofa dan menghampiri Albhi.
Tangan lembut dan penuh kasih sayang Mami Alfi hinggap di pundak Albhi dan mulai bergerak pelan menekan pundak Albhi agar rilex.
Mami Alfi memijat Albhi agar tenang dan tak tersulut emosi.
"Ngomongin soal Haris, Kak Rain liat dia pas kita ke Cafe Rainbow kemarin nganterin Kak Rain manggung, dia sama Dimas kaya nya, kita jangan cuma fokus pada perjagaan Wulan, tapi juga harus fokus menjaga Kristal apa lagi Agnez, kalau Kak Rain biar nanti orang-orang Ayah yang jaga iya kan Yah?." Tanya Pamungkas pada sang Ayah.
Ayah Rafa mengangguk kan kepala meng iya kan ucapan sang anak.
"Ya walau pun Haris bilang akan mengincar Wulan, tapi dari informan yang aku kirim buat mata-mata in dia, Haris itu penyuka hal yang... imut dan menggemas kan." Info yang di beri kan Damar membuat Angkasa mengetat kan rahang dan mengepal kan tangan.
"Cih! Awas aja kalo banci itu colek-colek Agnez, jangan kan nyolek, dia lirik Agnez aja aku pasti in dia kehilangan ke dua mata nya!." Papar Angkasa dengan sadis nya.
Tiba-tiba... .
"Emang gimana cara ilangin mata nya Mas?." Tanya seseorang dengan suara serak nya khas orang bangun tidur menyahut dari arah belakang.
Mami Alfi yang memijat pundak anak nya terkejut mendengar suara itu.
Semua orang menatap ke arah asal suara itu kecauli Angkasa.
"Aku ba-." Belum selesai menjawab, Angkasa menyadari itu suara siapa, dia pun menoleh ke belakang.
"Hah?! Little girl?! Kamu bangun? Kenapa? Keganggu? Kurang nyaman kah tidur nya? Little girl mau apa? Ada yang bisa aku bantu?." Angkasa menghampiri Agnez dengan berlari kecil kemudian dia duduk di depan Agnez.
Angkasa merapi kan rambut amburadul Agnez dan menyibak kan poni dati dahi Agnez.
"Mas Angkasa tadi mau ngilangin mata nya siapa?." Tanya Agnez yang tak menjawab pertanyaan beruntun Angkasa.
Kontan saja Angkasa menegang mendengar pertanyaan itu.
Dalam hati nya Angkasa bertanya-tanya 'Apa tadi Agnez mendengar semua yang kami omongin?.' Begitu lah batin nya berucap.
"Mas Angasa? Jawab dong!." Manja Agnez meminta jawaban.
"Ngga ada kaya gitu little girl, telinga nya salah denger tuh, aku tadi bilang ada kucing mati mata nya hilang ngga tau karena apa, gitu... kamu salah denger, mana berani aku hilangin mata orang, dosa ngga baik." Angkasa memberi pengertian yang tentu saja dengan kebohongan.
Para tetuah menggeleng kan kepala dengan ucapan bohong Angkasa.
"Itu juga Agnez ya Allah ndak berubah sama sekali yah, kalo bangun tidur selalu manja." Ucap Ibu Dewi yang sejujur nya tak enak hati.
"Bu Dewi? Kami malah seneng kalo Agnez nunjuk in sifat asli nya, dia berarti nyaman sama kita di sini, kalau sampai dia kaku atau bahkan tak berekspresi, yah kita malah sedih, lagian yah Bu Dewi kalau ada Agnez di sini rame, dia anak nya polos banget lucu, kita suka dia di sini." Kata Mama Tika sambil tersenyum manis.
Ibu Dewi senang mendengar penuturan dari calon besan nya itu ikut tersenyum bahagia.
Beliau senang karena Ibu dari Angkasa menerima Agnez dengan baik.
"Hehehe... Bu Dewi? Kalau sudah pindah ke sini Agnez nya bakal lebih banyak tidur di sini boleh kan?." Ijin Mama Tika sambil cengengesan.
"Wah? Kalo Agnez nya di sini teros, lama-lama ndak kerasan di rumah nya sendiri dia, gimana kalo setiap malam minggu aja tidur di sini nya?." Tawar Ayah Cakra.
"Wah boleh tuh." Setuju Mama Tika senang.
"Tapi kalo Agnez sering-sering tidur di sini... ndak bakal jadi omongan orang to?." Tanya Ibu Dewi khawatir.
"Tenang aja Bu Dewi, kita kan tidur di sini kan barengan alias rame-rame, jadi ngga bakal ada yang ngomongin." Cetus Mama Tika menjelas kan.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.