
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA๐๐.
******************************
-
-
Pamungkas dan Damar menenang kan Albhi agar tak menghajar Haris, 2 pria muda itu mengingat kan Albhi kalau ada CCTV di sepanjang koridor ini.
Dengan berat hati Albhi pun melepas cengkraman nya dan memilih berbicara baik-baik.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Gua udah peringatin sama Lo! Berhenti main-main sama kita semua! Angkat kaki Lo dari sini!." Seru Damar serius dengan mata tajam.
Haris menatap 4 pria di depan nya dengan tatapan yang sulit di arti kan.
Dia tersenyum kecil bahkan terkekeh pelan sampai tertunduk dan menggeleng kan kepala pelan.
Haris mendongak kan kepala nya kembali menatap 4 pria di depan nya ini.
Dia (Haris) berjalan mendekat ke arah mereka (4 pria).
Tinggi Haris yang sama dengan 4 pria itu membuat dia mudah untuk menatap mata mereka.
Pandangan Haris yang tadi penuh dengan bercanda, kini tiba-tiba pandangan nya berubah serius.
"Dengerin Gua! Di sini Gua juga mau belajar, Gua ngga bakal ganggu kalian lebih dari ini, Gua ngga peduli sekali pun nih gedung sekolah punya Bokap kalian, Gua menginjak kan kaki Gua di sini juga bayar, ngga gratis!." Jelas Haris dengan panjang.
"Lo ngga bakal ganggu kita lebih dari ini? Yang bener aja! Lo kan utusan Bokap Lo buat bales dendam ke kita! Jangan ngomong aneh-aneh deh!." Seru Pamungkas tersulut emosi.
"Dah lah Gua males bahas ngga penting gini! Gua laper mau makan." Haris menjauh dari 4 pria itu tanpa menoleh pada mereka barang sekali pun.
4 pria itu saling tatap kemudian menghembus kan nafas lelah.
"Dia bukan musuh yang biasa, sumpah Gua ngga paham maksud semua kata-kata yang keluar dari mulut dia, kadang kedengeran tulus, kadang kedengeran bikin Gua pengen nonjok muka dia." Kata Albhi frustasi sendiri.
"Haduhhhhh... kenapa harus ada masalah sih?! Kenapa hidup kita ngga lempeng lurus aja, ngga usah belok-belok?!." Teriak Pamungkas jengkel sambil mengacak rambut nya frustasi.
"Ck! Hidup kalo lempeng terus ngga seru, Lo mau emang jalan nya lurus doang ngga belok-belok? Kalo jalan lurus ngga ada belok kan tuh bosenin, kita juga butuh hal-hal yang nantangin adrenalin, jangan cuma mesra-mesra an doang isi hidup Lu, monoton ngga enak!." Kata Damar panjang.
Albhi dan Pamungkas yang mendengar mengangguk-angguk kan kepala mereka pertanda membenar kan.
"Iya juga sih, kalo hidup lurus terus bosenin, ngga seru, tapi Gua berdoa kepada Allah dan Author yang nulis, semoga aja masalah nya cepet kelar, jangan banyak-banyak juga masalah nya males Gua sebagai pemain." Pamungkas berucap sambil berlalu dari tempat nya berdiri, dia berjalan ke arah tangga hendak turun menuju kantin.
"Aamiin." Balas Albhi dan Damar bersamaan.
(Ck ck ck... yah deh Author usahain biar konflik ini cepet selesai) AuthorGesrek.
Di kantin.
Haris masuk ke dalam kantin seorang diri, dia celinguk kan mencari tempat duduk Wulan dan Kristal.
'Gua pengen duduk sama mereka karena Gua mau tau dan pengen banget tau yang nama nya Agnez dari deket, manis banget pasti dia.' Batin Haris dengan masih celinguk kan.
Lama celinguk kan, pemuda tampan itu pun menemukan tempat duduk Wulan, Kristal, Angkasa, dan Agnez.
'Nah tuh dia! Kesempatan bagus buat ganggu in si Agnez, ada Angkasa juga di sana, hehehe... .' Haris terkekeh geli sendiri dengan suatu rencana yang di susun oleh otak nya.
Bukan rencana jahat-jahat amat kok, cuma mau ganggu in Angkasa aja biar emosi.
Haris berjalan ke arah meja 4 orang itu, sebelum duduk dia memesan makanan dulu agar tak di usir dari duduk nya jika Angkasa marah, semoga.
"Hai! Boleh gabung juga ngga?." Tanya Haris meminta ijin setelah sampai di samping Wulan, Kristal, Agnez, dan Angkasa.
Kontan saja 4 orang itu menoleh dengan berbagai eskpresi.
Agnez dengan wajah bingung nya, Wulan Kristal dengan wajah ramah nya, dan Angkasa dengan wajah datar, dingin, dan tatapan tajam nya.
Saat Wulan Kristal akan menjawab permintaan ijin dari Haris, Angkasa mendahului nya.
"Kamu buta atau ngga liat?! Kantin nih luas! Cari tempat lain!." Perintah Angkasa dengan suara tajam dan keras nya.
"Mas!."
"Bang!."
"Angkasa!."
3 gadis yang duduk bersama Angkasa menegur pemuda itu dengan secara bersamaan.
"Ndak baik tau ketus gitu sama orang, emange Mas Angkasa mau di ketusin orang?! Ngomong nya Mas ini juga baik sopan, ndak marah-marah, jangan gitu ah! Tak bilangin Mama Tika entar loh." Ancaman Agnez yang sebenar nya tak ada kekuatan apa-apa nya bagi Angkasa.
Angkasa hanya bisa menghela nafas pasrah sambil mengangguk kan kepala, Angkasa bukan lemah atau tak berani mengusir Haris, pasal nya dia tak mau membuat gadis nya ngambek dan berakhir tak mau berbicara pada nya, bisa berabe urusan kalo Agnez tak mau berbica lagi pada Angkasa.
Bagi Angkasa tak mendengar suara Agnez barang satu menit pun dunia dia itu hampa, cerewet nya Agnez sangat istimewa bagi Angkasa, biasa Bucin๐.
"Silah kan aja Ris kalau mau duduk sini, jangan tanggepin si Angkasa, habis makan ayan dia, maka nya sensian, maafin yah." Ucap Kristal tulus.
__ADS_1
Haris tak menjawab dan hanya mengangguk kan kepala meng iya kan.
Setelah mendapat ijin untuk duduk bergabung, Haris hendak duduk di sebelah Agenz tapi Angkasa malah menggeser tempat duduk nya ke tempat duduk Agnez, jadi lah Agnez duduk di tempat Angkasa.
Haris menahan tawa nya agar tak meledak, dia tau kalau Angkasa tengah cemburu.
Agnez tak marah atau berekpresi bagaimana pun lantaran di geser duduk nya, dia nyaman-nyaman saja duduk di mana pun.
"Haris? Kamu ngga pesen?." Tanya Wulan.
"Udah tadi sebelum duduk, bentar lagi pasti datang pesenan aku." Jawab Haris sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian pesanan Haris datang bersamaan dengan Albhi, Damar, dan Pamungkas.
Mereka bertiga segera duduk di bangku sebelah gadis masing-masing, Pamungkas duduk di sebelah Haris.
Tiga pria itu pun memesan makanan dan hanya tinggal menunggu pesanan datang.
"Ngapain duduk di sini?!." Pekik Damar jengkel.
"Abang!."
"Damar!."
Seru Wulan dan Kristal sambil mencubit pinggang Damar secara bersamaan.
"Aduh! Shhh kenapa di cubit sih?." Tanya Damar dengan muka meringis kesakitan.
"Jangan kasar gitu dong sana dia, ngga suka boleh, tapi jangan di nampakin, coba kalo Abang ada di posisi dia, pasti sakit kan?." Wulan memperingati Damar dengan berbisik agar Haris dan lain nya tak dengar.
"Kamu ngapain bela in dia?." Tanya Albhi tak suka.
"Bukan belain Bang... tapi emang aku bicara sejujur nya, udah jangan ribut! Ngga baik!." Seru Wulan kembali.
Lalu dia mengabai kan para pria itu yang menatap Haris dengan tatapan tajam dan kembali melanjut kan makan nya.
Semua orang mamakan makanan nya dengan lahap.
Di tengah kegiatan makan mereka, Haris mengajak 7 orang di sebelah dan di depan nya berbicara panjang lebar.
Yang banyak menjawab tentu saja para gadis, para pria juga ikut menyahut, tapi dengan nada ketus tentu saja.
"Ouh iya aku mau tanya, di sebelah Angkasa itu siapa?." Tanya Haris dengan melongok kan kepala nya hendak melihat Agnez.
Angkasa yang jengkel dengan sikap Haris dia mengerut kan kening nya dan memaju kan badan nya menutupi pandangan Haris.
"Ngga usah kepo! Makan aja makanan kamu, setelah itu pergi dari sini!." Usir Angkasa kasar.
"Mas Angkasa! Ndak boleh kasar sama orang lain, Mas Angkasa mau di kasarin sama orang balik?." Nasihat Agnez panjang lebar kali tinggi.
"Hah bener tuh, aku kan tanya nya baik-baik, ngga di jawab ya ngga masalah, di jawab ya alhamdulillah." Kata Haris menyahut sambil menampak kan wajah sok sedih nya.
Angkasa yang melihat nya geram sendiri, ingin sekali rasa nya dia mencakar atau bahkan mencekik Haris agar tak caper pada gadis nya.
"Hehehe... maafin Mas Angkasa ya Mas Haris, lagi PMS kaya nya Mamas nya Agnez ini." Ucap Agnez meminta maaf atas nama Angkasa.
Sedang kan Haris yang mendengar jelas bahwa Agnez memanggil Angkasa dengan panggilan Mamas nya Agnez tersenyum kecil.
"Jangan lama-lama bicara sama dia little girl! Ngga baik, kamu hanya boleh ngomong panjang sama aku, hanya lihat aku!." Kata Angkasa sambil memaling kan wajah Agnez dari menatap Haris beralih menatap diri nya.
Agnez yang belum selesai berbicara pada Haris mau tak mau harus memaling kan wajah nya menatap Angkasa.
Haris yang melihat moment sweet itu tersenyum kecil.
'Allah! Pertemu kan aku dengan gadis semanis Agnez, aamiin.' Doa Haris tulus dalam hati.
"Nama dia Agnez, adik kelas kita Ris, dia juga baru pindah minggu lalu di sini, asal nya dari Yogya, jadi bahasa nya agak medok gitu, tap-." Belum selesai Wulan menjelas kan tangan Albhi sudah membekap mulut Wulan agar menghenti kan gadis nya bicara.
"Jangan bicara banyak-banyak sama dia Lanlan, dia kepo an orang nya, entar makin lebar lagi yang dia pengen tau." Sinis Albhi berucap sambil menatap Haris tajam.
Wulan yang di bekap mulut nya berontak dengan memukul-mukul tangan Albhi keras. Setelah selama 2 menit baru Albhi melepas bekapan nya.
"Huh!." Dengus Wulan kesal.
"Ngga usah banyak tanya! Makan aja makanan kamu, bentar lagi bel." Peringat Damar ketus, dia berbicara tanpa menatap Haris.
"Satu pertanyaan lagi boleh kah?." Tanya Haris meminta ijin tanpa menghirau kan peringatan Damar.
"Boleh tanya kan aja." Balas Wulan, Kristal, dan Agnez bersamaan.
4 pria di sebelah kanan kiri dan depan Haris menatap Haris dengan mata tajam nya.
"Di sini kalau libur hari apa aja?." Tanya Haris yang memang tak tau.
"Di sini kalo libur hari sabtu dan minggu, kenapa memang?." Tanya Wulan ingin tau.
"Hehehehe... aku ngga tau jadwal di sini, maka nya aku tanya, di sekolah lama ku kalo hari sabtu tetap masuk, hanya minggu yang libur." Cerita Haris panjang lebar.
Tiba-tiba... .
'Tring... ring... ring... .' Bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring.
Semua orang di kantin kembali ke kelas masing-masing.
"Kalian semua ke kelas aja dulu, aku mah nganter Agnez dulu." Kata Angkasa sambil menatap tajam Haris pertanda bahwa jangan berbuat macam-macam, begitu lah peringat Angkasa yang sangat di pahami oleh Haris.
"Ayo little girl aku antar ke kelas kamu dulu." Ajak Angkasa sambil merangkul pundak Agnez dan mengapit kepala Agnez pelan dengan sedikit menyeret nya.
"Mas Angkasa kenapa ndak balik ke kelas aja sih? Agnez bisa balik ke kelas sendiri tau." Kata Agnez sambil mendongak kan kepala nya menatap Angkasa.
"Little girl ngga suka kah kalo aku anterin ke kelas?." Tanya Angkasa sambil menunduk kan kepala nya menatap gadis mungil dalam peluk kan nya ini.
"Seneng sih, tapi kan Agnez ndak mah ngerepotin Mamas terus." Balas Agnez dengan polos nya.
"Ngga ngerepotin sama sekali little girl, malah kalau kamu ngga mau di anter aku bakal kepikiran." Jujur Angkasa.
Percakapan mereka masih bisa di dengar Damar, Albhi juga lain nya, tak terkecuali oleh Haris.
__ADS_1
Di dekat pintu keluar kantin, 2 sejoli itu berhenti, Angkasa berjongkok memperbaiki tali sepatu Agnez dan moment meraka tak luput dari pandangan mata Haris.
Setelah selesai memperbaiki tali sepatu Angkasa berdiri dan menggendong Agnez sambil membawa nya berlari.
Tentu saja Agnez berteriak kecil, dia berontak minta di turun kan tapi tentu saja Angkasa tak menghirau kan dan melanjut kan langkah nya, hingga mereka hilang di telan belok kan.
"Haduhhh... si Tarjo kalo ama Agnez sifat dingin nya ilang! Image nya jadi cowok dingin bin cuek hilang ke bawa angin." Cetus Pamungkas sambil menatap bayang-bayang Angkasa.
"Biarin deh asal kan dia bahagia, dan kita doa in aja semoga ngga ada yang ganggu mereka." Kata Albhi sambil menyindir Haris.
"Aamiin." Balas Pamungkas, Damar, Kristal, dan Wulan kompak.
Haris yang merasa di sindir menatap Albhi dengan alis menukik ke atas, sungingan senyk tercipta di bibir tipis Haris.
'Bukan sifat Gua ngerebut punya orang, kaya kagak laku aja Gua ngerebut cewek orang, huh! Mulut Albhi lemes banget.' Batin Haris jengkel.
"Dah ayo balik ke kelas!." Ajak Kristal.
"Iya ayo." Balas Damar.
Para gadis berjalan terlebih dahulu di depan para pria.
Sedang kan 4 pria lain nya berjalan di belakang para gadis ini.
"Lo udah tau dan liat sendiri kan gimana Angkasa sama Agnez, jangan ganggu meraka kalau Lo ngga mau habis sama Angkasa." Kata Damar berbisik di dekat Haris.
"Bener banget! Gitu-gitu Angkasa juga ngga bakal lepasin orang yang nyakitin dia apa lagi gadis nya." Kata Albhi ikutan berbisik.
"Gua ngga takut." Balas Haris keras kepala.
"Lo ngga laku yah sampe mau ngerebut punya orang?." Sinis Pamungkas bertanya.
"Lo serius tetap mau rebut Agnez? Lo mau hidup Lo ngga tenang? Saran Gua nih Ris, Lo selidiki dulu semua cerita yang di cerita in bokap Lo itu, dan lagi saran Gua satu lagi, Lo baik nya selidiki asal usul Lo juga." Bisik Damar di telinga kanan Haris.
"Maksud Lo apa Dam ngomong kaya gitu? Lo mau bilang kalo bokap Gua bohong soal cerita nya?! Dan Lo juga mau ngomong kalo Gua bukan anak kandung Bokap Gua gitu kan?!." Tanya Haris tersulut emosi.
Dia terima jika di sebut sebagai perusak hubungan orang, tapi dia tak terima jika dia di sebut bukan anak dari Ayah Andre.
"Lu selidiki semua nya sampai akar! Sekarang coba logika yeh! Bokap Lo tuh usia nya sama kaya almarhum Kakek-kakek kita kalau beliau masih hidup, Lo seharus nya sadar dong, dan satu lagi nyokap Lo tuh seorang wanita yang... maaf yah, almarhum nyokap Lo tuh seorang wanita yang ngga bisa punya anak, beliau dulu angkat rahim karena penyakit, kata nya Lo pinter, harus nya Lo tau semua nya dong!." Kata Pamungkas membeber kan semua kejanggalan yang ingin di ketahui Haris.
Setelah mengata kan itu Damar, Albhi, Pamungkas meninggal kan Haris di tangga naik ke kelas 11.
Haris yang pikiran nya kalut memilih pergi dari kelas untuk bolos dan memilih ke atap sekolah.
Dia merenung kan semua omongan 3 pria itu.
"Yang mereka kata kan benar, siapa Gua ini? Public kenal nya Gua anak tunggal Ayah Andre dan Ibu ku yang telah meninggal, tapi... semua nya salah, aku tau itu dari setelah kematin Ibu, benar kata 3 pria laknat itu, aku harus cari tau semua nya, harus dan wajib!." Seru Haris dengan mengepal kan tangan ke atas tanda menyemangati diri sendiri.
"Pfftt... hahahaha... ." Tawa seseorang terdengar keras di telinga Haris.
"Siapa tuh?!." Teriak Haris yang terkejut.
Dia memasang kuda-kuda bersiap menghajar orang itu jika dia berbahaya.
'Bruk!.' Seseorang melompat dari atas pembatas atab sekolah ini.
"Siapa Lo?!." Tanya Haris keras.
"Hahaha... Gua ngga akan jahat sama Lo Bang, santai aja kali, Gua ngga mau cari masalah, sini duduk di samping Gua, cerita aja ke Gua sesuka hati Lo, Gua orangnya pinter Lo kalo disuruh cari solusi masalah orang." Kata seseorang itu dengan sombong nya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk๐.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung๐ข๐.
Maaf kalo garing๐ข๐.
Maaf typo di mana-mana๐๐ข.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan๐ข.
Maaf gantung cerita nya๐.
Di lanjut besok ya readers๐.
Jangan marah karena di gantung yak guys๐.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah๐๐.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa๐.
__ADS_1