Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seventy-eight


__ADS_3

"A*hh." Suara desa**n menggema di seluruh kamar.


"Ayo sayang lebih cepat lagi." Seorang pria yang sedang berada dalam kungkuangan seorang wanita meminta untuk memepercepat gerakan nya.


Beberapa menit kemudian.


2 orang yang sedang bercinta itu mendapatkan pelepasan yang sangat nikmat.


"Kau sungguh membuat ku sangat puas Gisell." Ucap sang pria.


"Hehehe." Gisell terkekeh geli melihat ekspresi pria.


Nafas keduanya masih tersengal.


Lalu Gisell mengecup pipi pria pertanda dia menyukai pujian itu.


Posisinya masih ada di atas sang pria.


Gisell, sang model papan atas yang beberapa tahun terakhir naik daun kini turun kedudukan berubah menjadi seorang pengantar minuman yang sangat di kagumi oleh para pengunjung tempat kerjanya, dia adalah bintangnya Bar Starnight.


Bar Starnight adalah milik seorang pria berusia 29 tahun yang bernama Daniel, pria itu seorang duda beranak satu yang kaya raya walau tak sekaya Bang Idan.


Setelah kejadian Gisell membuat Bang Idan dan Tika bertengkar, dia jadi tertimpa banyak masalah di hidupnya.


Dia dibuat jatuh sejatuh jatuhnya oleh Bang Idan


Setelah Bang Idan membuat bangkrut perusahaan Ayah dan mengakibatkan sang Ayah meninggal dunia karena serangan jantung, Bang Idan menghancurkan karir model nya juga.


Tak sulit bagi Bang Idan untuk membuat perusahaan Ayah Gisell gulung tikar.


Karena memang perusahaan yang di bangun oleh Ayah Gisell itu sudah mendapat banyak tanda hitam dari berbagai perusahaan lain karena cara bermain dalam bisnis yang kotor dan sering korupsi, tapi saat pencarian bukti, semuanya malah mengarah pada si korbsn yang di tipu, dan terjadilah dari korban menjadi tersangka.


Sungguh pebisnis yang licik sekali, begitulah pikir Bang Idan tentang Ayah Gisell


Kebangkrutan sang Ayah membuat dia luntang lantung tidak jelas.


Selama 2 hari sebelem bekerja di Bar, dia tidur di depan toko-toko atau di pos ronda persis seperti tuna wisma karena rumah dan segala fasilitas lain yang di milikinya di sita oleh Bank untuk menutup hutang sang Ayah.


Lalu di hari ke 3 dia menjadi tuna wisma, dia bertemu dengan Daniel.


Daniel menawari Gisell sebagai baby sugarnya, tanpa pikir panjang Gisell menerimanya.


Gisell pun menggantungkan hidupnya pada sang dady sugar dan Bar Starnight.


Yaa, selain menjadi pelayan di Bar Starnight, Gisell menjadi baby sugar sang pemilik Bar.


Hanya khusus melayani Daniel seorang.


Dulu waktu menjadi model di luar negeri, Gisell juga pernah menjadi baby sugar seorang pria kaya di sana untuk menyokong karir nya, memang Ayah dan anak sama saja, menggunakan cara kotor dalam berusaha.


Dan ini sudah minggu ke 3 Gisell bekerja di Bar dan melayani Daniel.


Sehabis melayani Daniel, Gisell turun dari tubuh nya dan berjalan menuju kamar mandi.


'Ini semua gara-gara Tika dan Zaidan, tunggu saja suatu saat nanti kalian berdua akan mendapat balasannya.' Batin Gisell masih tak mau mengakui bahwa kejadian itu adalah kesalahan dirinya sediri.


Gisell Ananta, dia terlahir dari keluarga yang berada, seorang gadis yang kelihatan nya pendiam dan polos tapi siapa sangka dia tak sepolos wajah nya.


Ibu nya tiada setelah melahirkan nya ke dunia, Ayah nya sangat memanjakan diri nya sampai-sampai membuat dia menjadi seseorang yang angkuh dan arogan.


Gisell sudah terbiasa hidup bergelimang harta, jadi dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan kenikmatan dunia ini.


Meski pun dia harus menjadi sorang pel**ur, dia rela demi uang.


"Sayang?." Panggil lembut Daniel dari pintu kamar mandi.


Gisell tersadar dari lamunan nya dan membuka pintu kamar mandi.


Daniel masuk dan langsung memeluk Gisell.


"Kamu lagi mikirin apa sih?, aku udah dari tadi loh panggilin kamu dia luar." Tanya Daniel manja.


"Ngga lagi mikirin apa-apa kok." Jawab Gisell sambil tangannya memebelai dada bidang Daniel.


"Jangan mulai lagi kalo kamu ngga mau cuma tidur di kasur." Ancam Daniel.


"Ohh, apa kami berniat membuat ku tak bisa berjalan?." Gisell menggoda Daniel.


Daniel yang gemas menyerang Gisell secara brutal.


Mereka mangawali dari mandi bersama dan bercinta di dalam kamar mandi sampai Gisell benar-benar lelah tak kuat untuk berjalan, jangankan berjalan untuk berdiri saja rasanya sudah tidak kuat lagi.


-


-


"Hoammm, ya allah... soal nya susah banget!!." Akifa menjerit di ruang santai rumah Rafka Zarine.


Kemarin hari jumat mereka di beri tugas mengerjakan soal-soal try out.


Dan mereka baru mengerjakan nya hari minggu😂.


"Udah dong jangan ngeluh, tinggal 5 soal lagi ini." Kata Zarine.


"Kalian tumben ngerjain tugasnya hari minggu?, biasanya kalo dapet pekerjaan rumah kaya gini kalian selesai in nya di sekolah." Kata Bunda.


"Lagi males aja Bunda, jadi hari minggu nya deh kite kerjain." Jawab Akifa.


Dari arah pintu seseoran mengucap salam dengan heboh.


"Assallammu'allaikum?!!." Itu suara Tika.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Rafka Zarine dan lainnya.


"Pagi semua." Sapa Tika.


"Pagi ketiak." Sapa balik Akifa.


Tika mendelik kan matanya pada Akifa.


"Guys, ajarin Gua dong buat selesai in 5 soal terakhir ini dong." Pinta Tika.


"Sini, duduk dulu." Zarine menepuk tempat kosong di samping kanan nya.


Tika duduk di sana dengan tenang.


"Kenapa ngga minta Bang Idan yang bantu?." Tanya Rafka.


"Dia sibuk ama laptop nya, Gua ngga mau ganggu jadi minta tolong kalian aja." Tika menjawab dengan panjang.


"Ya udah sini aku bantu ngerjain soal nya." Kata Zarine.


Mereka ber 7 mengerjakan soal dengan serius.


Hanya memerlukan waktu 30 menit mereka selesai dan bisa bersantai.


Dari arah pintu 2 orang datang sambil menenteng kantong kresek yang di duga itu berisi camilan.


"Assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Raina.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda dan 7 serangkai.


"Wah wah... yang di kantong kresek tuh buat kita bukan sih?." Kata Abdiel.


"Soal makanan aja cepet kalian semua, Yang? Kasih." Bang Rafa menyuruh Raina memberikan pada 7 orang yang srdang duduk melingkar itu.


"Nih." Kata Raina sambil meletak kan nya di tengah-tengah.


"Thanks Bang Rafa Kak Raina." Ucap 7 serangkai kompak.


Bang Rafa celingak celinguk mencari seseorang.


"Nyari Kak Zaidan ya?." Tebak Tika yang melihat tingkah Bang Rafa.


"Iya, laki Lo mana Tik?." Tanya nya.


"Ada di rumah sibuk ama laptop nya." Jawab Tika.


"Minggu minggu gini kerja?, rajin banget CEO satu itu, hahaha." Bang Rafa mengejek Bang Idan.


"Ya wajib lah Gua rajin, kalo engga bisa-bisa hancur perusahaan Gua." Sahut Bang Idan yang baru datang.


"Wa'allaikum sallam." Seru Orang di dalam rumah.


"Ouh iya lupa, assallammu'allaikum." Bang Idan mengucap salam dengan cengir kuda.


Semua orang menjawab dengan menggelengkan kepala pelan.

__ADS_1


"Widih siapa ni yang beli?." Tanya Bang Idan sambil menyomot satu bungkus camilan.


"Bang Rafa dan Tika yang beli." Jawab Akifa yang di balas anggukan oleh Bang Idan.


"Tugas kamu udah selesai?." Tanya Bang Idan pada Tika sambil mengecup kening Tika.


"Udah." Singat Tika sambil tersenyum


"Lo ngerjain apa minggu-minggu gini Dan?." Tanya Bang Rafa.


"Ada masalah di perusahaan yang ada di London, Hans udah Gua suruh urus, tapi kayanya dia butuh Gua." Kata Bang Idan.


"Terus kamu mau pergi ke sana?." Tanya Tika sedih.


"Kalo 2 hari ini aku ngga bisa selesai kan kerjaan dari sini, ya aku harus ke sana." Lembut Bang Idan berucap.


'Huufffh.' Helaan nafas pasrah Tika terdengar.


"Lo ngga sendiri Tik, kita di sini ada buat Lo, entar kalo si Bang Idan pergi kita tidur di rumah Rafka Zarine." Hibur Akifa.


"Bener itu Tik." Sahut Zarine yang di angguki lainnya.


"Kalo kamu ngga lagi ngadepin ujian aku bakal bawa kamu sekalian Yang, paling juga aku di sana paling lama 15 Hari." Jelas Bang Idan.


"Lama banget 15 hari?, awas aja kalo di sana kamu macem-macem." Peringat Tika keras.


"Ya engga bakal berani lah Yang aku macem-macem." Jawab Bang Idan tegas meyakinkan Tika.


"Udah kek dunia milik ber dua aja nih, yang lain pada ngontrak." Celutuk Abdiel.


"Hahahaha." Tawa pelan pecah se isi ruangan.


Di suatu tempat lain, tepatnya di taman rumah sakit kejiawaan ternama kota Jakarta, 2 orang sedang duduh sambil bercanda.


"Roy?, apa aku sudah boleh pulang?." Tanya Sari.


"Emmm, nanti di tanya kan sama dokter ya." Jawab Roy lembut.


Ini lah kegiatan Roy setiap hari minggu, menjenguk Sari mulai dari pagi hingga waktu makan siang, setelah Sari tidur, dia akan pergi dan akan kembali sore hari nya.


Sari sedang bersandar pada dada bidang Roy saat ini, selama mereka bersama tempat itu lah yang paling ternyaman bagi Sari.


Hanya perlu beberapa bulan saja untuk Sari sembuh dari sakit nya itu.


Dia tak perlu di rawat hingga bertahu-tahun, seperti kata dokter di awal dia masuk RS, yang dia perlu kan hanya dapat menerima sesuatu hal yang dulu nya berusaha dia dapat kan tapi tak bisa.


Sari sudah menerima bahwa Rafka tak bisa menjadi milik nya dan dia juga sadar, bahwa apa yang dia ingin kan tak semuanya akan terwujud.


Kesadaran itu membuat mental nya berangsur membaik dan tak lagi mengamuk tanpa sebab.


Walau dia tetap merasakan sakit nya di tolak oleh Rafka, tapi ia berusaha lapang dada.


Malaham sekarang dia seperti nya jatuh cinta pada Roy, laki-laki yang menemani masa-mada tersulitnya selain Mama dan Papa nya.


"Roy?." Panggil Sari sambil mendongak kan kepalanya menghadap sang empu nama.


"Hmmm?, ada apa?." Sahut Roy lembut sambil mengelus surai hitam Sari.


"Apa jika aku minta maaf ke Zarine dan lainnya, dia akan memaafkan?." Tanya Sari pada Roy.


Roy diam dan hanya menatap lurus kedepan belum menjawab.


Dia melamun memikirkan jawaban pertanyaan Sari.


'Apa Rafka dan lainnya akan memaafkan Sari?, kalo Zarine dia pasti akan memaafkan Sari, dia tipe orang yang tak suka menyimpan dendam.' Batin Roy berbicara.


1 menit menunggu... .


2 menit... .


3 menit kemudian dan Roy tetep diam.


"Roy?!." Panggil Sari sedikit berteriak.


"Hmmm?, oh tentang pertanyaan kamu tadi, pasti mereka maafin kamu, apa lagi Zarine, dia orang yang ngga pernah nyimpan dendam." Panjang Roy menjelaskan isi pikiran nya.


"Kalo engga gimana?." Khawatir Sari.


"Allah aja maha pemaaf, kenapa umatnya engga?, dan mereka juga pasti melupakan yang namanya masa lalu, asal kamu berjanji ngga akan ngulangin kesalahan yang udah kamu perbuat, mereka pasti maafin kamu, percaya deh sama aku." Kata Roy sambil tersenyum manis ke arah Sari.


"Makasih untuk semua hal yang udah kamu lakuin ke aku Kak Roy." Ucap Sari tulus dengan mengganti panggilan nya pada Roy.


"Huuu apa an sih." Sari mencubit lengan Roy pelan sambil menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Roy.


"Hahahaha." Tawa Roy pecah.


Dari kejauhan orang tua Sari tersenyum bahagia melihat kedekatan 2 anak manusia itu.


"Kaya nya ngga lama lagi Sari bakal ninggalin kita deh." Celutuk Papa nya.


"Sari emang harus begitu kan?, suatu saat dia akan nikah terus ikut suami." Sahut Mama.


"Tapi ini ngga mungkin lama deh, kita liat aja kapan terjadi nya hal itu." Kata Papa.


Suasana diam sesaat.


"Kalo itu terjadi di tahun ini Mama siap ngga?." Tanya Papa pada sang istri.


"Siap ngga siap harus siap." Singkat Mama Sari.


Mama Papa Sari tersenyum bahagia melihat tawa Roy dan Sari.


Dua sejoli itu berlarian di taman RS, Sari mengejar dan memukul Roy dengan boneka yang di bawa nya.


Tawa mereka renyah terdengar di telinga Mama Papa Sari.


Siang hari, waktu makan siang, Sari makan di suapi oleh Roy.


"Roy?, tanyakan pada Dokter kapan aku bisa pulang." Rengek Sari.


"Sabar Sayang, bentar lagi biar Mama dan Papa yang bicara in sama dokter." Sahut Mama tiba-tiba.


"Mama? Kapan datang?." Ceria Sari.


"Om?, Tante?." Sapa Roy sambil tersenyum, Mama Papa Sari ikut tersenyum sambil mengangguk kan kepala nya.


"Mama sama Papa udah dari tadi sebenernya ada di RS, cuma ngga mau ganggu waktu berdua kalian aja." Goda Mama.


"Emmmm, Mama apa an sih." Sari menanggapi dnegan pipi memerah malu.


"Hahaha, ya udah kita ke ruangan dokter Hamid dulu, Roy jaga in anak Tante ini yah." Pinta Mama.


"Siiap Te." Sahut Roy cepat sambil mengangkat tangan kanan nya di alis seperi orang hormat.


"Kalo aku boleh keluar hari ini juga, aku mau ke pasar malam sama kamu yah, please?." Sari memasang wajah memelas kepada Roy.


Roy tertawa pelan, kemudian dia mencubit pipi Sari gemas.


"Royyy...!! Sakit!!, lepas!." Seru Sari sambil medelik kan matanya


Sari cemberut dan makin kencang saja Roy tertawa.


"Udah ah jangan ketawa mulu." Sungut Sari.


"Iya deh iya kita bakal ke pasar malam." Janji Roy pada Sari.


Sari tersenyum ceria, dia makan dengan antusias dan semangat yang menggebu-gebu.


Roy kembali menyuapkan nasi kepada Sari, dia sangat telaten menyuapi Sari sampai nasi nya habis.


"Kok cepet sih habisnya?, kamu ikut makan ya?." Protes Sari.


"Dih... enak aja, kamu sendiri yang makan, kok malah aku yang di salahin sih?, hahaha." Roy tertawa sekali lagi.


'Huhm.' Sari mendengus kesal.


"Assallammu'allaikum." Salam Mama Papa bersama Dokter Hamid.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Roy dan Sari bersamaan.


"Kamu minta pulang sekarang, benar kah itu Sari?." Tanya Dokter Hamid sambil menatap Sari.


Sari mengangguk cepat sambil tersenyum manis.


Dokter ikut tersenyum dan mulai berbicara.


"Karena kondisi Sari yang membaik dan tak ada hal lain lagi yang perlu di cemaskan maka... Sari di perbolehkan pulang hari ini juga, tapi Sari... satu pesan saya buat kamu, jaga emosi kamu, jangan mudah marah, itu yang sampai sekarang sulit kamu kendalikan, sifat pemarah." Kata Dokter panjang lebar.

__ADS_1


"Siiap Dok, saya akan menjaga emosi saya." Jawab cepat Sari dengan yakin.


"Ya sudah saya permisi dulu, karena saya masih ada pasien lagi, assallammu'allaikum." Salam Dokter dan beliau pun pergi.


"Yeah!! Aku pulang!." Seru Sari bahagia.


"Ayo Mama bantu bersiap untuk pulang." Kata Mama.


2 perempuan itu sedang bersiap.


Roy dan Papa Sari menunggu di luar ruangan.


Roy sibuk dengan ponselnya hingga suara Papa Sari mengejutkan nya.


"Udah berapa lama suka sama Sari?." Tanya beliau tiba-tiba pada Roy.


"Uhuk... uhuk... ." Roy tersedak ludahnya sendiri.


Papa Sari menatap Roy dengan serius dan pandangan dingin.


Roy masih belum berhenti terbatuk.


3 menit kemudian Roy tenang.


"Ehem... Roy udah lama suka... ah... ralat, maksud nya mencintai, Roy udah lama mencintai Sari Om." Jelas Roy dengan jantung berdetak cepat, dia sedang di landa gugup saat ini.


Papa Sari mengangguk kan kepala paham.


Roy semakin cemas.


'Apa Gua terlalu mencolok yak?, tapi Gua rasa engga deh, Gua udah pinter kok nyimpen nya.' Roy membatin sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Maaf Om." Ucap Roy sambil menunduk.


Papa Sari bingung, beliau sampai mengernyitkan alisnya.


'Roy buat masalah apa sampai minta maaf?, dia ngga ngapa-ngapa in Sari kan?.' Batin Papa Sari bertanya-tanya.


Dari pada beliau penasaran, Papa Sari memutuskan bertanya pada Roy.


"Kamu punya salah apa ke saya sampai minta maaf?." Tanya Papa Sari memandang Roy yang sedang menunduk.


"Om pasti marah kan sama Roy, karena udah berani mencintai Sari yang masih sekolah?, makanya Om nanya in sejak kapan Roy suka sama Sari, iya kan Om?." Tebak Roy dengan memandang pria paruh baya di sampingnya ini.


"Pfft." Papa Sari menahan tawa nya agar tak pecah.


'Pro urusan bisnis tapi noob urusan cinta, dasar Roy.' Batin Papa Sari.


"Saya ngga marah Roy, saya cuma tanya, emang salah kalo saya ingin tau hubungan kamu sama Sari?, denger Roy Sari itu anak perempuan dan satu satunya pula, jadi saya harus tau dong gimana masalah percinta an nya." Jelas beliau.


Roy kikuk dan malah menyengir kuda menutupi ke salah pahaman yang telah ia perbuat barusan.


"Kemu beneran ngga akan nyesel kalo sama Sari?, dia udah sering-." Ucapan Papa Sari terpotong.


"Itu masa lalu Sari Om, yang namanya masa lalu itu udah berlalu, semua orang juga punya masa lalu, contohnya aja Roy, aku dulu juga pernah berbuat salah dan di penjara selama 3 tahun, setelah bebas saya berubah dan bertaubat tak mengulangi kesalahan yang sama." Roy berbicara tegas dengan menceritakan kehidupan nya dulu.


"Maaf lancang karena menyela ucapan Om Adi." Ucap Roy.


"Iya ngga masalah, saya senang dengan jawaban tegas kamu, saya ngga akan pernah ragu lagi sama kamu Roy, tapi ingat! Kalo kamu berani macam-macam di belakang Sari, saya orang pertama yang akan menampar kamu." Ancam Papa Sari tegas.


"Saya janji Om, saya ngga akan sia-sia in Sari." Sahut Roy cepat menanggapi ancaman sang calon Papa mertua.


Boleh kah dia mengklaim beliau seperti itu?, beliau sudah memberi restu pada Roy secara tidak langsung tadi.


"Ehem... apa Om lagi ngerestui Roy sama Sari?." Tanya Roy hati-hati.


"Kata siapa?." Kata Papa Sari sambil menyeringai menaham tawa.


'Duarrr.' Hati Roy retak.


'Gua udah ke pe de an ini ceritanya.' Batin Roy.


"Hahaha." Tawa garing Roy terdengar.


Wajah Roy berubah sendu, Papa Sari yang melihat nya jadi tidak tega dan... .


"Buahahahaha." Tawa Papa Sari pecah.


Untung tempat parkir sepi, jadi Papa Sari tidak malu dilihat oleh orang, ya posisi 2 laki-laki berbeda usia ini sedang ada di parkiran RS menunggu Sari dan Mama Dewi (Mama Sari).


Roy terheran heran mendengar tawa pecah Papa Sari.


"Roy... Roy... kamu itu peka atau engga sih sebenernya?, ahahaha." Tawa masih menghiasi wajah Papa Sari.


'Ada apa sih ini?, kenapa beliau ketawa ngakak sampe segitunya?.' Bingung Roy.


"Roy... kalo saya sudah bertanya tentang perasaan kamu ke Sari dan mengatakan hal-hal tentang Sari seperti tadi, itu tandanya saya sudah merestui kalian, wah wah perlu belajar tentang cinta lebih dalam lagi kamu nih." Papa Sari menjelaskan sambil dengan sisa-sisa tawa nya.


Ekspresi Roy yang tadi nya sendu berubah menjadi semangat dan ada binar bahagia di matanya.


"Om... Om... Om Adi beneran kan?, ngga lagi jahilin Roy lagi kan?." Tanya Roy masih belum percaya.


"Iya, kali ini saya serius." Jawab Papa Sari bersungguh-sungguh.


"Makasih Om." Ucap Roy senang sampai memeluk Papa Sari dengan erat.


Beliau juga membalas pelukan Roy.


"Iya sama-sama." Balas Papa Sari atas ucapan Roy sang calon menantu.


Roy melepas pelukan Papa Sari dan beralih mencium punggung tangannya.


"Mulai sekarang berhenti panggil Om, tapi panggil Papa dan Mama." Pinta Papa.


Mengingat Mama, Roy menanyakan beliau.


"Emmm... apa Mama akan merestui Roy Pa?." Tanya Roy.


"Ya pastilah, beliau juga setuju jika Sari bersama kamu." Jawab Papa.


Roy tersenyum dan mengangguk paham.


Lalu dari arah masuk parkir, Sari berteriak.


"Roy?!, bantu in napa!." Seru nya meminta tolong.


2 orang wanita itu kesusahan melihat jalan karena saking banyak nya barang Sari.


"Kamu beli boneka nya tiap hari ya Roy?, kok sampe 2 kardus gini sih?." Tanya Mama Sari.


"Hehehe, engga tiap hari sih, cuma beberapa kali aja, tapi karena ukuran nya yang lumayan jadi keliatan nya jadi banyak." Alasan Roy.


"Ya sudah ayo pulang, letak itu di bagasi mobil Papa." Kata Papa Sari sambil mebuka bagasi dan masuk ke dalam mobil.


Mama meletak kan barang Sari setelah itu ikut masuk.


"Ma?, Pa?, Sari mau ikut mobil nya Roy aja ya." Pinta Sari.


"Iya udah sana, Roy? Baliknya jangan sore-sore." Peringat Papa tegas.


"Siiap 86 Komandan." Ucap Roy sambil hormat dan berdiri tegak bak prajurit negara.


"Mama Papa pulang dulu, assallammu'allaikum." Salam Papa Mama bersamaan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Roy dan Sari kompak.


-


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf ngga dapet feel nya


Maaf kalo garing😢🙏


Jaga kesehatan selalu readers

__ADS_1


Maaf typo di mana-mana🙏😢


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2