Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Twenty-seven


__ADS_3

Matahari sudah naik keatas.


Seluruh keluarga Fathan sedang sarapan pagi sekarang.


"Rafka, Bang Idan, setelah sarapan ikut Papa pergi, kita ada pertemuan dengan klien." Papa memberitau.


Sebenarnya Papa Rafka hanya beralasan saja ingin menemui klien.


Hal itu dilakukan agar Zarine tidak curiga dan terjadi drama ingin ikut.


Papa Rafka hari ini ingin mengunjungi kantor polisi untuk mengintrogasi lebih lanjut pelaku peneror Zarine yang di Villa dan dirumah itu.


Sekaligus ingin membicarakan kelanjutannya kasus.


"Iya Pa." Jawab kompak Rafka dan Bang Idan.


Mama dan Zarine hanya memandang dengan senyum kearah laki-laki yang mereka cintai.


"Ouh iya, kalian masuk tanggal 12 Juli yang berarti masih bulan depan kan?." Tanya Bang Idan.


"Iya Bang." Jawab Zarine.


"Ngga kerasa ya udah kelas 3 aja, rasanya baru kemarin kalian nasuk SMA." Kata Papa Rafka.


"Hehehehe, iya Papa bener." Timpal Mama.


Setelah sarapan selesai.


Sesuai yang dikatakan oleh Papa Rafka tadi, mereka akan pergi dengan Papa mememui klien (Sari).


"Aku pergi dulu, kamu ngga usah kemana-mana, diem dirumah, tunggu aku pulang ok?." Perintah Rafka dengan lembut.


"Iya." Jawab Zarine dengan tersenyum manis.


Lalu Zarine mencium punggung tangan Rafka dan Rafka mengecup kening Zarine.


"Assallammu'allaikum." Salam Rafka, Papa Rafka, dan Bang Idan bersamaan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine dan Mama Mertuanya kompak.


Lalu mereka berdua masuk kerumah.


Baru saja ingin duduk disofa ruang santai, tiba-tiba bel berbunyi.


'Ting... tong... .'


"Biar Za aja yang buka Ma." Kata Zarine yang sudah berjalan kepintu depan.


'Ceklek.'


"Assallammu'allaikum!!." Seru Akifa heboh.


"Wa'allaikum sallam, ayo masuk semuanya." Zarine senang melihat kedatangan orang tua dan teman-temannya.


Mama Abdiel, Akifa, Abhi, Mami Alfi, dan Bunda Zarine masuk dan langsung keruang santai duduk disofa.


Dari arah dapur, ART membawa nampan berisi 9 minuman dan 3 piring camilan untuk para tamu dan Tuan Rumah.


"Makasih Bi." Ucap Zarine mewakili semuanya.


"Sama-sama Non." Jawab Bi Cece (nama ART rumah Mama Rafka).


ART kembali kedapur.


Suasana diruang santai sungguh penuh tawa.


Setelah bosan bercanda semaunya diam tak berbicara.


"Kita nonton DraKor aja yuk biar bosennya ilang." Ajak Akifa pada penghuni ruang santai.


"Tapi Tante ngga punya DVD-nya Fa." Kata Mama Rafka.


"Hehe, tadaaaa." Akifa nyengir kuda dengan menunjukkan 10 buah DVD Drama Korea.


"Akifa bawa dari rumah, jadi tinggal pasang aja." Sambung Akifa memberitau.


"Ya udah pasang gih." Suruh Mama Akifa.


Akifa mengangguk lalu memasang salah satu DVD DraKor-nya.


Mereka semua pun larut dalam cerita sampai menangis jika ada adegan menyedihkan.


Disebuah kantor Polisi.


Papa Rafka dan lainnya sedang mengintrogasi Sari dengan Pak Polisi penjaganya.


Didalan ruangan juga sudah hadir orang tua Sari.


Beliau berdua sangat-sangat malu dengan perbuatan Sari.


Pasalnya, Mama Papa Sari selalu mengabulkan permintaan anaknya itu.


Kasih sayang keduanya juga tidak pernah luput untuk Sari putri semata wayang merek.


Tapi kenapa Sari malah mencelakai orang dan hampir membuat korbannya mengalami mental down.


Permintaan apa yang tidak Sari dapat hingga berbuat tidak baik seperti itu? Obsesi apa yang membuat Sari berbuat nekat dan membuat Mama Papanya malu?

__ADS_1


Pertanyaan itulah yang terngiang dikepala Mama Papa Sari.


Sudah sedari tadi Rafka dan lainnya bertanya pada Sari, tapi selalu saja jawaban Sari jauh dari topik.


Seperti sekarang, sudah banyak kali Rafka menanyai apa tujuan Sari melakukan teror tapi jawaban Sari... .


"Ngapain sih kita bahas teror itu, mending bahas kapan kita nikah." Kara Sari yang membuat semua orang geram.


Mama Papa Sari juga sudah kehilangan kesabaran dengan perkataan nyleneh anaknya.


"Jawab pertanyaan Nak Rafka dengam benar Sari!!." Bentak Papanya Sari hingga membuat Sari terkejut dan memandang Papanya nanar.


"Kenapa Papa bentak Sari?!." Tanya Sari dengan pipi sudah basah mendengar suara keras Papanga.


"Jawab!!." Bentak Papanya lagi menyuruh Sari berbicara to the point.


"Aku mencintai Rafka, aku tidak mau jika dia bersama Zarine terus! Akan aku lakukan semua cara jika apa yang aku inginkan belum terwujud, Rafka hanya milikku, milik Sari Dewi Wijaya seorang!!." Beber Sari dengan berteriak.


"Harus Lo tau Medusa!! Gua ngga pernah mencintai Lo yang notabenya Cewek Obsesi tinggi, dan satu hal yang harus Lo catet diotak Lo itu, ZARINE ADALAH ISTRI GUA!!!." Seru Rafka tak kalah tinggi suaranya.


Deg..... .


Sari membeku ditempat duduknya.


"Engga, ini ngga mungkin! Kamu bohong kan Raf? Ini semau ngga benerkan?." Tanya Sari dengan pandangan nanar kepada Rafka.


"Ngga ada untungnya Gua bohongin Lo!." Sinis Rafka.


"Engga!! Itu ngga bener, kamu bohong." Sari menangis histeris lalu dia tak sadarkan diri.


Sari pun dibawa pergi untuk istirahat.


"Gini nih kalo cinta obsesi, dia juga ngga nerima kekalahan, apa yang dia ingin itu harus dapet, haduh, masih ada aja umat manusia yang kek dia." Kata Abdiel dengan menggelengkan kepala.


"Terus apakah kasus ini akan dibawa kemeja hijau Pak?." Tanya Pak Polisi.


"Gimana Raf?." Tanya Papa Rafka.


"Kita suruh orang tua Medusa buat periksakan Medusa ke Dokter kejiwaan aja dulu, kalo hasilnya seperti apa yang Rafka pikirkan, dia ngga usah dihukum, ngga usah dibawa ke meja hijau." Jelas Rafka.


"Buset, Lo ngira dia gila?." Tanya Abdiel.


"Bukan gila, dia itu kan obsesinya besar, siapa tau aja pikirannya blank, alias stres akibat mikirin gimana caranya nyelakain Zarine." Kata Rafka enteng.


"Ouh iya Pak, gimana kabarnya tersangka satunya?." Tanya Rafka.


"Masih dalam pencarian, dugaan tersangka masih berada didalam kota, tidak atau mungkin belum keluar kota." Jelas Pak Polisi.


"Gua yakin bakal ada hal yang dia rencana in, kita semua harus hati-hati, apalagi ini sasarannya istri kamu Raf." Peringat Bang Idan pada semaunya khususnya pada Rafka.


Papa Rafka dan lainnya pulang.


Sampai dirumah Rafka.


Papa Rafka turun dari mobil di ikuti Rafka dan Bang Idan.


Saat menoleh kebelakang.


"Lah? Kalian ngapain?." Tanya Papa Rafka heran karena melihat semua temannya dan anakny ikut turun dari mobil.


"Istri-istri kita pada kesini." Jawab Papa Abhi.


"Hmmm, oklah ayo masuk." Ajak Papa Rafka.


Didepan pintu masuk Papa Rafka dan lainnya mengucap salam.


"Assallammu'allaikum."


"Wa'allaikum sallam." Jawab para penghuni rumah.


"Wih pesta nih." Kata Abdiel yang ikut nimbrung duduk didekat Akifa.


"Hehehe, iya, emang mau ngapain lagi?." Jawab Akifa dengan mencium punggung tangan Abdiel.


Para pasangan suami istri lainnya juga melakukan hal yang sama.


Hanya Bang Idan dan Bang Rafa yang diam mencebikkan bibirnya.


"Hahaha jomblo yang sabar ya?." Ejek Abdiel yang mendapat delikan mata dari Bang Rafa dan Bang Idan sedangkan lainnya terkekeh melihat kelakuan 3 laki-laki beda usia itu.


"Sana gih pada mandi, setelah itu sholat dan kita makan siang bersama." Suruh Mama pada seluruh pria di ruang santai.


Semua laki-laki menganggukkan kepala lalu beranjak pergi kekamar masing.


(Masih ingat kan kalo sahabat Papa Rafka itu sering menginap dirumah? Jadi mereka punya kamar sendiri.)


Para perempuan juga ikut masuk kekamar untuk menyiapkan pakaian para suaminya.


Disuatu kontrakan terpencil seorang laki-laki berusia 22 tahun sedang duduk termenung dimeja makan.


"Dasar Sari Bodoh." Umpat laki-laki itu.


"Sia-sia Gua kerja sama bareng dia, hasilnya Nol! Ujung-ujungnya Gua sendiri juga yang turun tangan." Gerutunya kesal.


"Tapi ingat Za Sayang, jangan panggil namaku Rendy, jika aku tak berhasil melakukan rencanaku padamu." Sambung Rendy lagi.


Rendy, laki-laki itu berhasil lolos dengan cara licik dari kejaran Polisi.

__ADS_1


Sekarang dia sudah siap dengan melancarkan rencana barunya.


Entah apa yang akan dia perbuat.


Hanya Allah dan hatinya yang tau.


Tapi kali ini dia juga harus waspada, karena tidak akan mudah lepas dari cengkraman Rafka dan lainnya.


"Ternyata si Rafka itu bukan pacarnya ya? Bagus kalo gitu, semakin erat ikatannya, maka semakin tersiksa jika Zarine akan meninggalkannya, bersiaplah mendapat hadiah surprise dari Gua kalian semua." Kata Rendy dengan seringai kejamnya.


Kembali ke kediaman Rafka.


Saat ini mereka sedang makan siang dengan diselingi obrolan ringan.


"Ouh iya Za, besok ikut kuy, kita mau ke Mall beli keperluan sekolah." Ajak Akifa.


"Cuma cewek yang boleh pergi." Serobot Alfi yang paham Rafka akan protes.


Rafka hanya memasang wajah kecut mendengar perkataan Alfi.


Zarine menatap Rafka meminta persetujuan.


"Gini aja, kita para cowok ikut pergi, tapi nanti jalannya sendiri-sendiri, kalo ngga mau, ngga usah pergi sekalian." Ancam Rafka juga.


Para orang tua hanya tersenyum mendengar perdebatan kecil itu.


"Bener tuh kata Rafka, kita ikut." Timpal Abdiel.


'Huuuufffh.' Helaan nafas pasrah terdengar dari Akifa dan Alfi.


"Oklah boleh." Putus Alfi akhirnya.


Lalu semuanya lanjut makan.


Selesai makan, 6 keluarga belum beranjak dari ruang makan.


Semuanya masih berbincang dengan memakan es buah.


"Emmm, ini rencananya anak-anak kalo kondisi sudah aman, mau tinggal dimana?." Tanya Ayah Zarine.


"Kalo Rafka pengennya masih disini tapi beda rumah." Kata Rafka mengutarakan pendapatnya.


"Bikin atau beli?." Tanya Papa Rafka.


"Bikin Pa." Jawab Rafka singkat.


"Terus ini 2 pengantin baru, gimana maunya." Tanya Papa Abhi.


"Sama kaya Rafka, dan kalo bisa rumah kita ber 3 bersebelahan." Jawab Abdeil.


"Gampang deh kalo itu, lahan komplek ini masih banyak yang kosong, jadi in syaa allah bisa lah kalo cuma 3 rumah mah." Kata Papi Akifa.


Mereka berbincang hingga pukul 2 siang, setelah itu mereka pulang kerumah masing-masing.


Soal keputusan membuat rumah, besok para Papa-papa mereka yang urus.


Hari sudah beranjak malam.


Semua penghuni rumah naik keranjang masing-masing untuk istirahat.


Tak terkecuali Rafka dan Zarine.


Mereka sudah rebahan dikasur dengan Zarine berada didalam dekapan sang suami.


"Yang?." Panggil Rafka.


"Hmmm?." Jawab Zarine.


"Aku mencintai kamu." Bisik Rafka tepat pada telinga istrinya.


Zarine mendongak lalu menenggelamkan lagi wajahnya.


"Aku juga mencintai kamu." Jawab Zarine dengan pelan.


"Ahahaha, udah tidur gih, biar besok ke Mallnya gak kesiangan." Kata Rafka.


Dan mereka berduapun tidur dengan nyenyak.


-


-


-


-


-


...Bersambung......


...Maaf ngga nyambung🙏😢...


...Like & komennya ditunggu😊...


...Salam sayang dari ViCa😚...


...Jaga kesehatan ya readers☺....

__ADS_1


__ADS_2