Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Twenty-eight


__ADS_3

Pagi ini rencana ke Mall benar-benar terlaksana dengan lancar.


Mereka belanja perlengkapan sekolah.


Walaupun sekolah masih dimulai 1 bulan lagi, bagi mereka lebih awal mempersiapkan segalanya maka akan lebih bagus.


Kalo membelinya saat mendekati hari masuk, harganya akan lebih mahal.


Zarine, Akifa, dan Alfi berjalan beriringan dan dengan bergandengan tangan.


Mereka bertiga berbicara dan bercanda ditengah berjalan didalam Mall.


Jarak 4 meter dari para perempuan.


Dibelakang mereka ada 3 laki-laki mengikuti dengan setia disetiap langkahnya.


"Mereka belanja atau keliling Mall sih?!." Tanya Abdiel gemas melihat istrinya juga 2 sahabat lainnya (Zarine, Alfi) yang sedang asyik tertawa melihat benda lucu ditoko pernak pernik.


"Sabar aja sih, kaya kagak tau Cewek aja Lo." Kata Abhi.


"Pegel kaki Gua Bhi." Sungut Abdiel.


"Udah jan ribut deh, rempong amat sih, yok lanjut, tuh mereka udah mulai jalan lagi, jangan sampe kehilangan jejak kaya tadi." Kata Rafka dengan menunjuk para perempuan yang diawasinya.


"Tuh! Contoh si Rafka, ngga ngeluh dan ngga rempong." Imbuh Abhi pada Abdiel.


"Iya iya." Jawab malas Abdiel.


Mereka bertiga kembali berjalan mengikuti istri-istrinya masing-masing.


Zarine, Akifa, dan Alfi sebenarnya sadar bahwa para suami mereka mengikuti.


Tapi mereka cuek dan terus melanjutkan kegiatan mereka sendiri.


"Apa mereka ngga capek ya?." Tanya Akifa dengan cekikikan.


"Hehehe, kasihan juga sih sebenarnya, ya udah yuk kita ke tempat makan, bentar lagi jam makan siang." Kata Zarine.


"Oklah kuy." Jawab Akifa yang diangguki Alfi.


Ditempat para laki-laki mengawasi istrinya.


Abdiel girang bahwa istrinya dan 2 temannya masuk Restaurant.


"Eh mereka masuk ke Restaurant tuh, alhamdulillah." Lega Abdiel.


"Kita jangan masuk dulu, tunggu beberapa menit sampe mereka kasih kabar ke kita biar mereka ngga curiga kalo kita udah ikutin." Kata Abhi.


"Iya, bener kata Abhi." Celutuk Rafka.


Didalam Restaurant para perempuan celingak celinguk mencari sang suami masing-masing.


"Mereka kok lama banget? Kemana ya mereka?." Tanya Zarine.


"Hehehe, mungkin mereka bersembunyi dulu biar kita ngga curiga kalo di ikuti, dasar kadal." Celutuk Akifa.


"Udah, pura-pura aja ngga tau." Tawa pelan Alfi.


"Ouh iya ayo kita kabari mereka posisi kita sekarang." Kata Akifa.


"Buat apa? Kan mereka ngikutin kita, pastinya tau dong kita dimana?." Jawab Zarine masih belum 'ngeh.'


"Aduh! Zarine sayang, kita kan lagi akting pura-pura, ya harus kasih kabar dong biar ngga ketahuan." Gemas Akifa menjawab.


"Ouh iya ya, hehehe." Zarine hanya terkekeh sambil nyengir kuda.


Mereka mengirim pesan pada suami masing-masing dengan tertawa.


"Hehehe, mereka itu lucu banget sih, kalian tadi liat ngga pas mereka kehilangan jejak kita, ya allah ekspresi Abdiel lucu banget." Tawa Akifa pelan.


"Abhi sama Rafka ngga kalah lucu tadi." Kekeh Alfi.


-


Flashback saat Rafka, Abhi, dan Abdiel kehilangan jejak istrinya masing-masing.


3 laki-laki itu mengintai para istri dari kejauhan.


Istri mereka sedang berada ditoko buku sekarang.


Dan jarak antara Zarine, Akifa, dan Alfi 4 meter dari suami-suami mereka.


Saat Para suami lengah dalam mengawasi Zarine, Akifa, Alfi, mereka ber 3 bersembunyi untuk mengerjai para suami


"Mereka kemana? Kok ilang? Ngga mungkin diculik kan?." Panik Abdiel dengan wajah ketakutan.


Zarine dan lainnya terkekeh geli melihat ekspresi mereka.


Didepan toko Buku, Rafka bertanya pada seorang satpam.


"Pak.. pak.. maaf, numpang tanya, tadi liat 3 cewek yang satu pake hijab lewat sini ngga?." Tanya Rafka.


"Ngga liat tuh Mas, mungkin lagi dilantai lain kali, apa perlu saya laporin kekantor informasi?." Tawar Pak Satpam penjaga toko.


Setelah dirasa cukup mengerjai para suami, Zarine, Akifa, Alfi keluar dari persembunyian, dengan pura-pura keluar dari toko boneka.


"Itu mereka." Tunjuk Abhi.


"Makasih Pak, mereka udah ketemu, kami permisi dulu." Pamit Abdiel.


Rafka, Abhi, dan Abdiel lega karena sudah kembali melihat istrinya, mereka kembali mengikuti lagi langkah para istri dalam diam.

__ADS_1


Flashback off.


-


"Ahahaha." Tawa pelan Zarine, Akifa, dan Alfi.


"Udah ah, ngga usah ketawa terus, sakit nanti perut kalian." Putus Zarine menghentikan tawa Alfi dan Akifa.


10 menit menunggu, yang ditunggu pun akhirnya datang.


"Hai girls." Sapa Abdiel.


"Udah lama?." Tanya Rafka dengan duduk disamping istrinya.


"Lumayan." Jawab Zarine.


"Kalian udah pesan makanan belum?." Tanya Abhi.


"Belum, kita nunggu kalian datang." Jawab Alfi.


"Ya udah biar aku aja yang pesen." Kata Rafka.


"Sekalian traktir dong Raf." Celutuk Abdiel.


"Iya, gampanglah." Jawab Rafka.


Rafka memesan makanan, lalu setelah makanan datang, 6 sahabat yang kini telah menjadi pasangan memakannya dengan tenang.


Pukul 12.30 mereka pulang kerumah masing-masing dan langsung membersihkan diri lalu melaksanakan sholat dzuhur.


Selesai sholat Rafka Zarine berbaring malas diatas ranjang.


"Senin besok kita sekolah, semoga saja kita satu kelas lagi ya." Doa Zarine dengan tersenyum manis menatap Rafka suaminya.


"Hehehe, aamiin ya Allah." Jawab Rafka dengan terkekeh.


Setelah pembicaraan itu Zarine tertidur.


Rafka yang melihat istrinya tertidurpun ingin beranjak pergi.


Dia turun dari ranjang dengan hati-hati dan sangat pelan.


Saat sampai dipintu kamar, Rafka juga menutupnya dengan pelan tak menimbulkan suara.


Saat baru pulang dari Mall tadi, didepan pintu masuk Rafka langsung diberhentikan oleh Papanya untuk menemuinya dibalkon jendela lantai dua dekat kamarnya.


Rafka melihat Papanya telah menunggu di balkon jendela.


"Papa mau ngabarin soal dia kan? Gimana kabarnya sekarang?." Tanya Rafka pada Papanya.


Dia menanyakan kabar Sari dan Rendy.


"Sari mengalami gangguan kejiwaan, dia sekarang ada diruamah sakit kejiwaan ternama di Jakarta." Terang Papa.


"Dia belum ada kemunculan." Singkat Papa.


'Huufhh.' Helaan nafas lelah Rafka terdengar.


"Sabar, intinya kamu jagain Zarine aja, dan suruh lainnya juga waspada sama si Rendy, ingat! Kita belum lolos dari mara bahaya." Peringat Papa.


"Iya Pa siap." Tegas Rafka.


"Papa?! Rafka?!." Panggil Panik Bang Idan dari lantai dasar.


"Ada apa Bang?." Tanya Papa dan Rafka kompak.


"Terornya masih berlangsung!." Kata Bang Idan memberitahu dengan menunjukkan sebuah kotak ditangan kanannya.


"Baji**an!." Umpat Rafka marah.


Dia turun kelantai dasar lalu merebut kotak yang dibawah Bang Idan, dia langsung membuang ketempat sampah benda itu.


"Rendy." Gumam Rafka dengan muka merah menahan amarah.


"Udah cukup kita bermain." Kata Rafka dengan suara datar dan dingin.


"Secepatnya kita harus temukan dia." Bang Idan ikut menimpali ucapan Rafka.


Papa Rafka hanya diam memandang kedua anaknya itu.


Lalu kemudian dia mengangguk kan kepala pertanpa meng iya kan ucapan kedua anaknya.


Disebuah rumah yang besar dan megah.


Seorang pemuda berbadan tegap berdiri menghadap jendela kamarnya dengan pandangan kosong.


'Huuufhhh.'


"Kenapa endingnya sad sih? Kenapa Lo ngga sadar kalo yang Lo rasain itu bukan cinta Sar!, yang Lo rasain obsesi, bukan cinta, aahhhhk!!." Teriak pemuda itu.


"Tuan Roy?." Panggil asisten Roy.


"Apa?." Tanya Roy.


Roy telah mendengar bahwa Sari terkena gangguan jiwa dan sekarang sedang berada di RS.


"Teman yang membantu Nona Sari belum diketemukan, dia pindah dari kontrakan lamanya." Beritahu asisten Roy.


"Aahhhk!!!!." Teriak Roy makin marah.


"Dasar Rendy an**ng!!." Umpat Roy.

__ADS_1


"Lo ngga akan lepas dari Gua Rendy!!" Seru Roy marah.


"Ok, pergilah." Usir Roy pada asistennya.


Disisi Roy yang sedang emosi.


Seorang pemuda lainnya sedang bahagia.


"Permainan yang sesungguhnya akan Gua mulai, jangan anggap setelah tertangkapnya Sari, semuanya berakhir, tentu saja tak semudah itu Zarine Sayang." Kata Rendy berbicara pada foto Zarine.


"Sasaran Gua adalah Lo Zarine, dan apa yang udah Gua susun ngga akan semudah itu buat gagal, tunggu aja, tunggu semua hadiah dari Gua." Sambung Rendy dengan senyum sinisnya.


Siang berganti sore.


Dan sore berganti malam.


Pukul 22.00 malam, Rafka belum tidur dan sedang duduk dibalkon kamar menyusun rencana untuk Rendy.


"Gua udah nunggu waktu yang lama buat bisa menyatu sama istri Gua sekarang, dan Gua ngga akan pernah lepasin dia, selain Allah sendiri yang pisain kita." Gumam Rafka dengan mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih.


"Lo sendiri, yang mengibarkan bendera perang Rendy, dan Lo sendiri yang akan menanggung kekalahan itu." Sambung Rafka.


Lalu Rafka masuk kamar dan menutup pintu balkon.


Rafka naik keatas ranjang lalu berbaring disisi Zarine.


Dia menatap wajah tenang Zarine yang terpejam nyenyak.


"Apa yang udah jadi milik aku, maka selamanya akan jadi milik aku, kalau ada yang mengusik, berarti dia siap mati." Kata Rafka dengan nada lembut namun penuh ancaman.


Lalu Rafka ikut tidur dengan memeluk tubuh Zarine erat.


"Good night my wife." Ucap Rafka parau karena sudah mengantuk.


Pagi sudah menampakkan mentari indahnya.


Dirumah kediaman Fathan suasan cukup ramai.


Hari ini Bang Idan akan kembali ke luar negeri.


Tapi kali ini alhamdulillah tidak ada drama sahabat Mama Papanya kerumah mengucapkan selamat tinggal.


Bang Idan lega karena itu.


"Raf? Lo tenang aja, walaupun Gua harus kembali ke London, tapi tetap, Gua akan kirim orang kepercayaan Gua disana untuk ikut mencari dia." Kata Bang Idan.


"Ngga usah Bang, Gua sendiri juga bisa melakukan ini semua, Gua minta doanya aja dari Lo." Jawab Rafka pada Bang Idan.


"Itu pasti Raf." Angguk Bang Idan.


"Ya udah aku pamit Ma, Pa, Raf, ouh ya Zarine, pertemuan selanjutnya kalo bisa bawa berita bahagia ya, hehehe, Bang Idan tunggu." Lanjut Bang Idan dengan terkekeh pelan.


Zarine yang paham arah pembicaraan, dia menundukkan kepala dengan wajah memerah malu.


"Udah, ngga usah godain menantu Mama, kamu juga dipertemuan selanjutnya harus bawa berita bahagia, wajib!." Tegas Mama.


"In syaa allah." Jawab Bang Idan sekenanya.


"Ya udahlah aku pamit, assallammu'allaikum." Salam Bang Idan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang.


Bang Idan berangkat dengan diantar supir.


Mama, Papa, Rafka, dan Zarine memandang kepergian Bang Idan dengan senyum manis.


Lalu mereka masuk kerumah setelah mobil hilang dibelokan.


"Hahhhhh, sepi lagi deh." Kata Papa.


"Kitakan ada Pa." Celutuk Rafka.


"Kalo ada Abang kamu kan bisa lebih rame." Balas Papa.


"Emang kenapa sih Pa Bang Idan ngga mau menetap disini?." Tanya Rafka.


"Kakak Ipar kamu itu males denger permintaan kita untuk menikah, jadi dia memilih jauh." Jawab Papa.


"Hehehe, Bang Idan ngga tau aja enaknya nikah." Kekeh Mama.


"Kita sabar aja deh, Idan ngga mungkin ngga nikah, pasti nikah tapi ngga sekarang." Papa menimpali kekehan Istrinya.


Mereka ber 4 berbincang panjang lebar, membahas segala sesuatu yang membuat waktu terasa cepat berlalu rasanya.


-


-


-


-


-


...Bersambung......


...Maaf ngga nyambung😢🙏...


...Jangan bully ya☺...


...Like & komennya ditunggu😋...

__ADS_1


...Salam Sayang dari ViCa😚...


...Jaga kesehatan ya readers😍....


__ADS_2