
"Capek sama kekenyangan ya? Ya udah tidur aja." Kata Rafka berbicara sendiri saat melihat istrinya tertidur disamping kursi kemudi dengan kepala kearah jendela mobil.
Rafka, Abhi, dan Abdiel pun meluncur pulang kerumah masing-masing.
-
-
-
Adzan dzuhur berkumandang, Rafka Zarine sudah sampai dirumah.
Zarine bangun dari tidur dan melihat sekelilingnya.
'Kamar? Rafka pasti yang pindahin.' Batin Zarine.
Zarine duduk bersandar pada ranjang.
Suara pintu kamar mandi terbuka oleh seseorang.
"Udah bangun ternyata, mandi gih, setelah itu kita sholat dzuhur berjamaah." Suruh Rafka yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
"Iya." Jawab Zarine singkat.
Zarine turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Baru memegang handle pintu, tangan Zarine dicekal oleh Rafka.
"Ouh ya, tadi siang kayanya ada yang ngerjain suaminya nih." Sindir Rafka pada sang istri.
"Hehehe maaf, aku minta maaf ya suamiku." Pinta Zarine dengan tulus sambil memeluk Rafka dan mengecup pipinya.
"Iya udah dimaafin, sana mandi." Balas Rafka sambil mengusap pucuk kepala Zarine dan membalas memeluknya sebentar.
Zarine mandi, berwudhu, ganti baju dan kemudian sholat berjamaah bedua yang di imami oleh suamianya.
-
-
-
Hari sudah beranjak sore.
Zarine membantu Mama mertuanya menyiram tanaman dihalaman depan.
Saat menyiram bunga yang ada disamping gerbang, Zarine melihat digerbang rumah tetangga, jarak 20 meter, ada seseorang berpakaian serba hitam sedang menatap kearahnya.
"Siapa dia? Kaya dia seorang cowok, tapi kenapa tatapannya tajam dan mengarah ke aku?." Tanya Zarine pada dirinya sendiri.
"Kamu liat apa sih Yang?." Kata Rafka tiba-tiba sudah ada disamping Zarine dengan mendekatkan wajahnya kewajah Zarine.
"Astaughfirullah!." Terkejut Zarine dengan menoleh kearah Rafka.
Wajah mereka hanya berjarak 1 inci.
Zarine menatap mata hitam Rafka dengan fokus, sama halnya dengan Rafka, dia juga menatap Zarine dengan fokus.
Jantung mereka dag dig dug berdisko ria didalam tubuh.
'Haduhh, ini jangtung kenapa sih? Sama suami sendiri juga, kok deg-deg an gini yah?." Sungut Zarine dalam hatinya
'Nikmat-Mu mana lagi yang telah kudustakan Ya Allah.' Batin Rafka dengan menelisuri pahatan wajah Zarine
Mereka berdua saling menatap setiap inci wajah masing-masing.
Disebelah gerbang tetangga tadi.
Seseorang masih mengawasi gerak-gerik Zarine dan Rafka.
"Puas-puasin deh bahagia dan saling tatap-tatapan gitu, tapi setelah ini, jangan harap bahagia akan berpihak pada kalian!." Seru Seseorang itu dengan berjalan meninggalkan lokasinya berdiri tadi.
Kurang lebih 5 menit Rafka Zarine saling tatap.
Rafka tersadar, kemudian dia meniup wajah Zarine.
Zarine mengerjapkan matanya, lalu dia tertunduk malu.
"Segitu gantengnya ya aku, sampek kamu ngga kedip gitu?." Rafka menggoda Zarine.
"Apa an sih." Jawab Zarine dengan pipi memerah malu.
"Kamu liatin apa sih Yang tadi? Kok sampe fokus banget gitu." Tanya Rafka
"Tadi ada seseorang yang ngawasin aku dari disebrang sana, loh?!... kok? Kemana dia?." Zarine terkejut dengan ketiadaan posisi orang yang tadi mengawasinya.
"Mana?." Tanya Rafka dengan menatap tempat yang ditunjuk oleh Zarine, istrinya.
Gerbang yang ditunjuk Zarine sepi tidak ada seorangpun.
"Pakai baju apa tadi?." Tanya Rafka.
"Serba hitam." Jawab singkat Zarine dengan masih mencari seseorang itu.
"Udah gak usah dicari, kamu salah liat kali, inikan mau maghrib jadi maklum kalo kamu melihat gituan." Kata Rafka.
"Gituan? Hantu gitu maksudnya? Dia jelas banget kalo manusia Yang, kakinya napak ketanah." Keukeuh Zarine memberi tahu.
"Udah ayo masuk, ngga usah kamu pikirin lagi seseorang itu." Kata Rafka menenangkan sang istri.
Zarin mengangguk lalu masuk kerumah.
Dia naik kekamar dengan Rafka.
Ambil wudhu, lalu sholat jamaah maghrib berdua dengan khusyuk dikamar.
Setelah sholat, mereka berdua makan malam.
Dimeja makan, makan malam kali ini, Rafka melamun memikirkan siapa seseorang yang mengawasi istrinya tadi.
Dia juga melihat seseorang berpakaian serba hitam itu tadi.
__ADS_1
Tapi Rafka mengelak berpura-pura tak melihatnya agar Zarine tak kepikiran.
'Dari postur tubuhnya Gua udah bisa ngenalin sih.' Batin Rafka dengan pandangan mata dingin.
Papa menyadari perubahan tatapan putranya itu, beliau buru-buru menyadarkannya.
'Ehem.' Dehem Papa dan Rafka menolehnya.
"Rafka temui Papa diruang kerja setelah sholat isya' nanti." Perintah Papa.
"Iya Pa." Jawab Rafka.
Makan malam telah usai.
Adzan isya' berkumandang.
Zarine tidak naik ranjang dengan segera.
Dia duduk disofa kamar menonton TV, dia berniat tidur menunggu Rafka.
"Kalo udah ngga kuat, kamu tidur duluan aja ya Yang, aku ngga tau sampe jam berapa obrolanku sama Papa nanti." Pesan Rafka.
"Iya, udah sana temuin Papa." Kata Zarine.
"Assallammu'allaikum." Salam Rafka.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine.
Rafka keluar kamar dan menemui Papanya diruang kerjanya.
"Assallammu'allaikum Pa." Salam Rafka setelah masuk ruangan.
"Wa'allaikum sallam, duduk." Suruh Papa dengan nada dingin.
Rafka duduk tanpa bicara.
"Ada apa?." Tanya Papa.
"Rendy mengintai Zarine petang tadi." Beritahu Rafka.
"Zarine melihatnya." Sambung Rafka.
'Huufffh.' Papa menghela nafas.
"Kamu hati-hati jika diluar rumah Raf, Zarine tanggung jawab kamu, apalagi Mama kamu, kalo sampe menantunya celaka, bisa habis kita berdua." Jelas Papa Rafka.
"Rafka juga ngga mau Za kenapa-napa Pa." Tegas Rafka pada Papanya.
2 laki-laki itu berbincang hingga larut malam.
Tepat pukul 11 malam baru selesai.
Rafka masuk kekamarnya.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Zarine tertidur diatas sofa dengn TV melihat dirinya.
"Hehehe, udah tidur aja ternyata." Kekeh Rafka.
"Tidur yang nyenyak sayangku." Ucap Rafka pada istrinya
-
-
-
Hari kedua sekolah seluruh siswa masih sangat antusias.
Dikelas 12 IPS 1, 6 serangkai sudah berkumpul.
"Gimana nanti siang? Jadi?." Tanya Abdiel.
"Jadi kemana?." Tanya Zarine yang tidak tau apa-apa.
"Nanti kamu juga tau, sepulang sekolah nanti." Kata Rafka pada istrinya.
Zarine hanya menganggukkan kepala pertanda mengerti.
Bel masuk berbunyi.
Siswa siswi IPS 1 duduk dibangku masing-masing.
5 menit setelah bel masuk, wali kelas masuk dengan membawa seorang murid cewek.
"Murid baru woy, gila cantik bat." Kata Abas, cowok yang duduk dibangku depan Abdiel.
Zarine, Akifa, dan Alfi menatap kearah depan sesaat setelah mendengar perkataan Abas.
"Semoga bukan pelakor." Gumam Alfi pelan.
Pasalnya Alfi melihat pandangan siswi baru itu mengarah ke Rafka.
Tapi saat ini pandangan mata Rafka, Abhi, dan Abdiel tak menatap kearah depan.
Mereka sibuk memandang wajah istrinya masing-masing.
3 laki-laki itu juga seakan tuli dan tak peduli mendengar Bu Siska (nama wali kelas Rafka) memperkenalkan siswi baru itu.
"Assallammu'allaikum pagi anak-anak?!." Sapa Bu Siska.
"Wa'allaikum sallam, pagi juga Bu." Jawab seluruh kelas.
"Anak-anak kenalin, disebelah kiri Ibu ini adalah Kania Larasati, pindahan dari SMA kota Surabaya, ada yang mau ditanyakan?." Kata Bu Siska to the point diakhiri dengan pertanyaan.
Setelah lama menunggu, tidak ada yang mengajukan pertanyaan Bu Siska kembali berbicara.
"Ya sudah, selebihnya kalian tanya sendiri saja sama orangnya, Kania? Kamu duduk dibangku sebelah utara satu bangku dengan Aurel (teman sekelas Rafka waktu kelas 11)." Tunjuk Bu Siska pada bangku Aurel.
Kania menganggukkan kepala dan berjalan kebangkunya.
Bu Siska pergi setelah mengabsen kelas.
__ADS_1
Semuanya ricuh dengan kehadiran Kania.
Sedangkan 6 orang dibangku selatan tak beranjak dari duduknya.
Mereka, ouh bukan mereka, tepatnya hanya Zarine, Akifa, dan Alfi.
Mereka bertiga hanya menatap Kania dari jauh.
Lalu pandangan Zarine jatuh kemata Rafka.
Dia tersenyum manis pada suaminya itu.
"Ada apa?." Tanya Zarine.
"Apa?." Tanya balik Rafka.
"Kenapa kamu liatin aku kaya gitu?." Tanya Zarine dengan ikut memandang Rafka.
"Sekitar aku ngga ada yang penting." Jawab acuh Rafka.
Alfi dan Akifa juga menatap suami mereka heran.
"Kamu kenapa natap aku kaya gitu juga Yang?." Tanya Akifa.
"Mataku ngga mau liat lainnya." Jawab Abdiel sekenanya.
Alfi tidak bertanya pada Abhi, karena dia sudah tau jawabannya.
Pasti tidak jauh dari jawaban Rafka dan Abdiel.
"Jangan natap aku kaya gitu, mau aku colok matanya?." Sungut Alfi.
"Sadis amat kamu sih?." Tanya Abhi dengan terkekeh pelan.
"Heran deh, kenapa kalian ngga kaya yang lainnya?." Tanya Akifa.
"Lainnya? Maksudnya?." Tanya Abdiel ngga 'ngeh.'
"Kita kedatengan temen cewek baru dikelas." Beritahu Zarine.
"Terus?." Tanya Rafka dengan lembut.
Rafka, Abhi, dan Abdiel tau kemana arah pembicaraan ini tapi mereka hanya diam, menunggu Zarine, Alfi, dan Akifa memberitau.
"Yaaaa temen cowok liannya kan langsung antusias kalo ada temen-."
"Kita sama mereka itu beda sayang." Rafka memotong ucapan Zarine.
"Ngga usah dan jangan pernah nyama-nyamain." Timpal Abdiel dengan mencubit hidung Akifa.
"Mereka ya mereka, kita ya kita." Abhi ikut berbicara.
Zarine, Alfi, dan Akifa bahagia mendengar ucapan suami-suami mereka.
Mereka ber 6 kemudian bercanda tak menghiraukan sekelilingnya.
Karena satu kelas hanya tau bahwa mereka ada hubungan yaitu berpacaran, hanya itu saja tidak lebih.
Kania yang melihat 6 orang dibangku selatan bercanda jadi penasaran dan bertanya pada Aurel.
"Mereka itu emang ngga peduli sekitarnya ya?." Tanya Kania.
"Mereka ber 6 sahabatan, tapi sekarang jadi cinta." Beritau Aurel.
"Berarti mereka duduk dengan pasangannya masing-masing?." Tanya Kania lagi.
"Iya." Jawab singkat Aurel.
"Siapa nama mereka semua?." Kania makin ingin tau.
"2 pasangan depan itu namanya Abdiel dan Akifa, yang tengah namanya Rafka dan Zarine, terus yang belakang itu namanya Alfi dan Abhi." Jelas Aurel.
"Hemmmm, udah lama emang mereka hubungan?." Tanya Kania.
"Kalo Rafka Zarine kayanya udah satu tahun deh, tapi kalo lainnya masih hitungan hari... 'kayanya'." Jelas Aurel.
"Ouh." Kania hanya ber ouh ria menjawab penjelasan Aurel.
"Saran aku, mending kamu cari sasaran lainnya aja kalo mau nge genet cowok." Celutuk Aurel dengan diakhiri kekehan.
"Kenapa emang?." Tanya Kania.
"Rafka, Abhi, dan Abdiel itu orangnya dingin kek es batu, meski kelihatannya Abdiel itu humoris parah, tapi kalo berhubungan dengan cewek dia ngga tanggepin." Jawab Aurel.
"Satu lagi, cewek yang namanya Alfi, dia punya sifat tempramen, ngga ada cewek bahkan cowok yang berani deket sama dia." Beritau Aurel lagi.
"Serem juga ya." Balas Kania.
"Kalo Akifa sama Zarine gimana sifatnya?." Tanya Kania.
"Zarine lebih kepenyabar dan lembut, kalo Akifa sebelas duabelas sama Alfi." Terang Aurel yang hanya diangguki oleh Kania.
Mereka berbicang hingga bel istirahat berbunyi.
-
-
-
-
-
Bersambung...
Maaf ngga nyambung😢🙏
Like & komennya ditunggu
Jaga kesehatan ya readers😊.
__ADS_1