
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
Mobil terus melaju membelah jalanan yang agak lenggang karena memang sekarang waktu nya bekerja dan sekolah.
Cindi terus menyanyi tak menghirau kan Haris yang tenang menyetir mobil.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Cukup lama mobil Haris membelah jalanan kota kini sampai lah dia di tempat tujuan yaitu jembatan yang sepi yang di bawah nya ada aliran sungai nya yang cukup deras.
Cindi dan Haris keluar dari mobil.
Cindi celingak celinguk melihat sekitar jembatan ini.
Haris yang melihat tingkah Cindi hanya terkekeh pelan, Haris paham aku yang di pikiran kan oleh gadis itu.
"Kata nya pengen banget teriak ya ini tempat yang paling pas buat teriak." Ujar Haris sambil menunjuk jembatan dengan dagu nya.
Cindi memicing kan mata nya curiga.
"Lu kagak mau berbuat aneh-aneh kan? Ama Gua?." Tanya Cindi curiga.
"Udah Gua bilang, Lu tuh ngga bikin Gua nafsu! Badan tepos kek gitu apa nya yang bikin Gua tertarik?." Haris lagi-lagi mengejek Cindi dengan tatapan menghina.
"Ya siapa tau aja Lu ada niat mau jorokin Gua ke sungai di bawah itu." Ungkap Cindi dengan nada polos nya.
"Jelek amat sih pikiran Lu Cindi! Ngga boleh gitu dosa loh!." Celutuk Haris menasehati.
"Ya kan was-was aja, tampang Lu tuh soal nya tampang preman alias tampang bajingan, jadi was-was di dekat Elu tuh wajib dan harus!." Ketus Cindi sambil melirik Haris dengan tatapan mata menghina di sertai dengan senyuman jijik.
Cindi menekan beberapa kalimat yang dia ucap kan tadi.
Haris melotot tak suka dengan omongan Cindi yang mengatai nya tampang preman alias bajingan.
"Tuh mulut pedes amat kalo ngomong! Emang yah lidah tuh ngga bertulang!." Sungut Haris jengkel pada gadis cantik yang berdiri di sebelah kiri nya ini.
"Maka nya jangan suka hina orang, sakit tau di hina tuh!." Sewot Cindi berucap.
"Dah lah berenti buang waktu! Sekarang mending Lu ke jembatan itu dan teriak dah sesuka hati Lu!." Suruh Haris pada Cindi.
"Tapi awas yah! Jangan Lu dorang! Kalo Gua mati Gua pastiin yang bakal Gua gentayangin itu Lu dulu!." Ancam Cindi sambil melotot kan mata nya tajam.
"Huhhh! Pikiran Lu jelek amat sih Cindi sama Gua?! Iya-iya kagak bakal Gua dorong! Kurang kerjaan banget Gua dorong-dorong Elu!." Seru Haris sambil mendengus jengkel.
Cindi berjalan dan sampai di tengah-tengah jembatan.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memasti kan bahwa di sekitar nya tak ada yang melihat atau mendengar suara teriak kan nya.
Di rasa di sana hanya ada diri nya dan Haris, Cindi bersiap untuk teriak.
Sekitaran jembatan itu memang sepi bahkan seperti tak ada kehidupan di sana. Jembatan ini seperti tempat terpencil, Cindi tak terlalu peduli dengan lingkungan di sekitaran jembatan itu dan memilih fokus pada apa yang akan dia lakukan.
Dia menarik nafas panjang lalu menghembus kan nya dengan perlahan dan... .
"MAMA!!! I LOVE YOU SO MUCH!!!." Teriak Cindi keras dan kencang.
Gadis itu sampai naik ke pembatas jembatan, suara nya meng udara dengan bebas nya sambil menggemah jauh.
Senyuman Cindi terbit dengan indah nya di bibir manis gadis itu.
Cindi kembali menarik nafas dan menghembus kan nya perlahan, dan lagi-lagi dia berteriak kencang.
"PAPA!!!! TOLONG KEMBALI SEPERTI DULU!!!!." Kata Cindi keras.
Haris yang melihat dan mendengar semua teriak kan kencang dari bibir Cindi, dia hanya tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya tak paham.
Di rasa unek-unek nya sudah tersalur kan dengan sempurna, Cindi berniat turun dari pembatas jembatan itu.
Saat akan turun dari pembatasan jembatan, kaki Cindi terpeleset dan hampir jatuh.
"Bocil awas!!!." Pekik Haris keras. Pemuda itu berlari dan memeluk pinggang kecil Cindi agar tidak jatuh.
Mereka berdua sampai terguling ke jembatan dan posisi mereka sangat intim. Di mana Haris di bawah dan Cindi di atas tubuh Haris, tak lupa tangan Haris memelihara pinggang ramping milik Cindi.
2 anak manusia itu saling pandang, mata tajam milik Haris bertemu dengan mata bulat milik Cindi.
'Kalo di liat-liat nih Bocil cakep juga, yaaaa kaya sebelas dua belas lah aman Agnez cewek nya Angkasa.' Batin Haris memuji Cindi.
'Bang Haris ganteng banget kalo dari dekat gini.' Cindi juga memuji ketampan Haris.
"Woy Bocil?! Mau sampe kapan Lu mau di atas Gua?!." Pekik Haris menyadar kan Cindi dari semua lamunan nya yang memenuhi otak nya.
Cindi yang sadar segera bangkit dari atas tubuh Haris, Cindi berdiri sambil merapi kan seragam nya yang sedikit tersingkap.
Haris bangun dari jatuh nya dan juga merapi kan seragam nya yang kusut.
2 orang ini di landa rasa canggung saat ini, mereka hanya diam saja satu sama lain nya.
Juga sesekali mereka saling melirik lewat ekor mata nya masing-masing.
Karena Cindi yang tak tahan dengan ke adaan canggung itu, dia berinisiatif memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Lepas tau dari mana lokasi terpencil kaya gini?." Tanya Cindi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengamati sekitar jembatan.
Cindi dan Haris tengah duduk di depan mobil saat ini.
Merasa bahwa Haris yang di tanyai, pemuda itu menjawab dengan singkat.
"Gua tau sendiri nih tempat." Jawab Haris tanpa menoleh pada Cindi yang duduk di sebelah kiri nya.
Cindi hanya mengangguk-angguk kan kepala nya tanda paham pada jawaban yang di beri kan Haris.
"Siapa aja yang pernah Lu ajak ke sini selain Gua?." Tanya Cindi penasaran.
"... ." Haris belum menjawab pertanyaan Cindi sengaja ingin membuat gadis kecil ini semakin penasaran.
__ADS_1
Karena lama tak mendapat jawaban, Cindi jengkel dan memukul lengan Haris cukup keras sampai pemuda itu mengadu ke sakitan.
Haris yang berhasil membuat Cindi penasaran tertawa terbahak-bahak karena merasa berhasil.
"Kagak boleh tau bikin orang penasaran, nanti Lu dapet pukulan lebih keras lagi." Kata Cindi mengancam Haris dengan melotot kan mata nya lebar-lebar.
"Iya-iya Gua bakal jawab, Gua kagak pernah bawa siapa pun ke sini, biasa nya kalo ke sini Gua sendirian!." Seru Haris menjawab pertanyaan dari Cindi tadi.
"Berarti... Gua orang yang pertama kali datang ke sini?." Tanya Cindi dengan pandangan tak percaya.
"Hmmm... ya gitu deh... ." Jawab Haris malu-malu.
Haris yang tengah malu memaling wajah nya ke arah kiri nya agar tak berpandangan dengan Cindi.
"Masa? Kok Gua ngga percaya sih ama omongan Lu?." Celutuk Cindi melirik Haris di iringi dengan senyum miring tak percaya nya.
"Ck! Lo kok ngeselin sih jadi Bocil!." Seru Haris kesal pada Cindi yang duduk di sebelah kiri nya ini.
"Hahahaha... ." Tawa Cindi terdengar pecah menggemah.
Haris yang gemas pada tingkah Bocil di sebelah nya ini menggeletiki pinggang ramping milik Cindi dan tawa Cindi pun semakin pecah di buat Haris.
"Hahahaha... udah Bang iya, iya deh iya Gua percaya sama omongan Lo." Kata Cindi sambil menggeliat-geliat kan tubuh nya meminta Haris berhenti menggeletiki tubuh nya.
5 menit kemudian 2 remaja ini pun berhenti bercanda dan suasana menjadi hening kembali. Mata ke dua orang ini menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Bang?." Panggil Cindi pelan.
"Hmmm?." Sahut Haris dengan melirik Cindi menggunakan ekor mata nya.
"... ." Cindi bukan nya bicara malah diam saja.
"Ck! Bocil?! Ada apa?." Tanya Haris jengkel.
"Lo... suka ama cewek yang mau Lu kasih coklat tadi kah?." Tanya Cindi sambil menoleh pada Haris dengan pelan-pelan.
"... ." Haris diam masih belum mau bersuara.
Cindi yang tak kunjung mendapat kan jawaban yang ia ingin kan hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-angguk kan kepala nya.
"Jadi benar Lu suka ama cewek itu?." Cindi mulai menyimpul kan sendiri atas pertanyaan nya.
"... ." Haris masih diam tanpa berniat mengeluar kan suara se kata pun.
"Kalo Lu diem aja berarti Gua bener, iya kan?." Kata Cindi berbicara sendiri.
"... ." Diam lagi. Itu lah yang di dapat Cindi dari Haris.
Kerana jengkel, Cindi mendengus kesal sambil memaling kan muka nya ke arah kiri.
Lagi-lagi keheningan hadir di tengah mereka yang duduk di depan mobil ini.
Sampai... .
"Lu kenapa kepo? Cemburu yak karena Gua kasih dia coklat sedang kan Lu kagak?." Goda Haris sambil melirik ke arah Cindi yang duduk memaling kan wajah nya tak mau menatap wajah tampan milik Haris.
Cindi tertegun malu dengan apa yang di ucap kan oleh Haris.
'Kenapa Gua tanya kaya tadi ama nih Abang-abang? Di kira cemburu kan jadi nya, padahal... emang iya sih Gua... engga! Gua kagak cemburu Gua tadi cuma... iri?.' Batin Cindi bersuara.
"Jadi benar nih Lu cemburu?." Tanya Haris sekali lagi.
"Kagak! Gua kagak cemburu! Gua cuman nanya aja ngga ada cemburu!." Sanggah Cindi keras dengan menoleh menatap wajah tampan milik Haris.
"Yakin? Kok ekspresi wajah Lo kaya beda sama yang Lo ucapin sih? Jadi ragu Gua ama omongan Lo." Haris menggoda Cindi dengan menaik turun kan ke dua alis nya.
"Hahahaha... ." Tawa Haris menggelegar sampai pemuda itu mengeluar kan setitik air mata di ujung kelopak mata nya.
Setelah lama tertawa Haris pun berhenti.
"Udah?!." Tanya Cindi sewot.
"Iya udah." Jawab Haris sambil masih tertawa pelan.
"Kagak ada yang lucu loh padahal, Lu ketawa kaya liat sesuatu yang luar biasa lucu nya aja." Kata Cindi jengah dengan sikap yang muncul di dalam diri Haris ini.
"Gua ngga suka sama dia, Gua bukan cowok murahan yang suka sama cewek orang, kaya Gua kagak laku aja sampe mau ngerebut cewek orang lain." Kata Haris dengan pandangan lurus ke depan.
Cindi menatap wajah tampan milik Haris dengan intens, bahkan gadis itu sampai tak berkedip melihat pria di samping kanan nya ini.
"Emm... kalo boleh tau motiv dari sandiwara Bang Haris nih apa an?." Tanya Cindi ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan punya Haris, pria yang baru saja dia kenal kemarin di atap sekolah.
"Kenapa Lu jadi kepo ama urusan orang? Kagak punya kerjaan lain emang?!." Jutek Haris berucap sambil melirik Cindi tajam.
"Cindi cuma mau tau dong kok, kagak ada niat apa pun, suer dah!." Cetus Cindi jujur sambil tangan Cindi membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengah nya.
Cindi berucap dengan menampak kan wajah nya yang polos.
Dan ekspresi itu mampu membuat pipi sampai telinga Haris memerah malu sendiri.
Pemuda itu sampai memaling kan wajah nya ke depan tak mau menatap wajah Cindi.
"Bang Haris?!." Pekik Cindi keras tepat di telinga Haris.
"Apa?!." Sahut Haris tak kalah keras.
"Di ajak ngobrol bukan nya jawab malah melengos! Lu jijik kah kalo liat muka Gua?! Apa muka Gua ini ada kotoran nya?!." Tanya Cindi jengkel, gadis itu tersinggung dengan sikap Haris.
"Iya sorry Gua ngga maksud kaya gitu, maaf banget Cindi." Ucap Haris dengan tulus.
Cindi sudah terlanjur marah, dia tak menghirau kan Haris yang tengah meminta maaf kepada nya.
Sekarang giliran Cindi yang melengos tak mau mendengar kan Haris bicara.
"Bocil? Gua tau Lu penasaran pake banget, tapi maaf ya, Gua kagak bisa cerita dulu ke Elu, mungkin suatu saat nanti Gua akan beber semua, semua nya deh, tanpa ada yang Gua tutup-tutupi." Kata Haris meyakin kan gadis manis ini.
"... ." Cindi tak meladeni Haris bicara tapi gadis itu mendengar dengan seksama omongan Haris.
"Oi? Bocil?." Panggil Haris sambil mencubit pipi cubby Cindi pelan.
Cindi masih diam tak menghirau kan Haris.
"Ck! Kalo Lu mau tetap ngambek kaya gini... Gua bakal... gelitikin Elu sampe nangis!." Ancam Haris yang membuat Cindi langsung menyahuti ucapan Haris.
"Iya nih Gua kagak ngambek lagi." Kata Cindi pasrah.
"Lagian nih ya, asal Lu tau aja, orang ambek kan tuh bisa bikin kita seret jodoh." Kata Haris menakut-nakuti Cindi.
"Beneran kaya gitu?." Tanya Cindi takut.
"Iya Gua kagak boong jujur Gua!." Seru Haris meyakin kan gadis manis di sebelah nya ini.
"Iya Gua kagak bakalan jadi cewek ambek kan lagi, takut kagak dapet jodoh entar." Cetus Cindi dengan tatapan mata polos nya.
Haris menahan tawa nya agar tak pecah dan ketahuan kalau dia sedang berbohong.
Setelah pembicaraan Haris dan Cindi selesai, kini mereka berdua bercanda di jembatan itu.
Jika 2 sejoli ini sedang bersenang-senang dan membolos, lain hal nya dengan 7 serangkai di SMA Merdeka.
__ADS_1
7 orang itu sekarang berada di ruang basket in door membicara kan agenda latihan.
Sebenar nya yang berkepentingan hanya 3 orang, tapi 4 orang lain nya di seret masuk oleh 3 orang itu.
Dan di sini lah mereka semua sekarang, duduk diam di tribun basket ini door.
"Ini kenapa kita semua ada di sini sih?." Sungut Pamungkas kesal.
"Udah lah biarin aja kita ngga akan lama kok di sini, sabar." Ucap Wulan menenang kan Pamungkas.
Tiba-tiba... .
'Cek satu dua di coba... ehem! Assalammu'allaikum semua nya! Di beri tahu kan pada seluruh anak murid SMA Merdeka dari kelas 10 sampai kelas 12 bahwa hari ini kalian pulang cepat di karena kan para guru ada rapat dadakan, kalian akan pulang setelah mendengar bel tanda pulang berbunyi, sekian terima kasih atas perhatian nya wassalammu'allaikum.'
'Tring... tring... tring... .' Bel tanda pulang pun berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah se saat pemberitahuan selesai.
"Alhamdulillah ya Allah kita pulang awal, bisa deh kita bantuin para tetuah siap-siap buat pindahan." Kata Kristal mengucap kan rasa syukur dengan tulus.
"Hmmm... bener banget tuh, kuy sekarang kita tungguin 3 orang itu di luar ruangan." Ajak Pamungkas pada para gadis yang langsung di angguki mereka secara kompak.
Saat akan berpamitan keluar ruangan basket in door Angkasa, Albhi, dan Damar tak memberi ijin.
"Duduk balik di tribun basket kaya tadi, jangan ke mana-mana! Bentar lagi kita semua juga selesai, dan kita pulang bareng-bareng." Kata Damar menatap 5 orang yang sedang berdiri tak jauh dari nya ini.
5 orang itu menghembus kan nafas pasrah dan menuruti perintah dari Damar.
Mereka kembali duduk diam di tempat asal dan menunggu Damar, Albhi, dan Angkasa selesai rapat membahas masalah basket.
"Eh? Ngomong-ngomong... Haris tadi ke mana yak? Kemarin dia dah bolos sekolah loh, eh sekarang bolos lagi, kagak takut emang dia yak kalo di marahin sama Papa atau Mama nya?." Tanya Wulan pada Pamungkas, dan Kristal.
"Loh? Mas Haris tadi ndak masuk kelas to Mbak?." Tanya Agnez dengan muka polos nya.
"Engga Nez dia bolos." Jawab Kristal singkat.
"Udah kalian bertiga ngga usah ngurusin hidup si Haris! Biarin aja lah! Mau dia bolos kek mau dia berenti sekolah kek terserah dia aja udah! Lebih bagus sih kalo dia keluar dari sekolah ini." Ucap Pamungkas acuh tak acuh.
"Ish! Ndak boleh gitu loh Mas Pamungkas, ndak baik, emang e kenapa to Mas-mas ber empat ini ndak suka sama Mas Haris? Aku lihat orang e baik-baik aja kok." Cetus Agnez yang di angguki setuju oleh 2 gadis lain nya.
"Agnez? Pernah dengar peribahasa gini ngga? 'Jangan menilai buku hanya dari cover nya' pernah denger ngga?." Tanya Pamungkas penuh dengan kesabaran.
Agnez tak menjawab dengan kata-kata, tapi hanya dengan anggukan kepala cepat.
"Tau arti nya ngga?." Tanya Pamungkas lagi.
"Tau! Arti dari peribahasa itu adalah... jangan menilai seseorang hanya dari luar nya saja." Jawab Agnez dengan tatapan berbinar seneng karena bisa menjabar kan maksud peribahasa yang diucap kan oleh Pamungkas.
"Nah seperti itu, Agnez jangan terkecoh sama tampang luaran nya Haris, dia ngga sebaik cover nya." Kata Pamungkas menatap Agnez serius.
"Kita ini hanya manusia Bang bukan Allah yang menilai umat nya, kita ngga boleh nilai orang sembarangan, ngga baik." Nasihat panjang yang diucap kan oleh Wulan pada Pamungkas.
Kristal dan Agnez mengangguk kan kepala nya menyetujui nasihat yang diucap kan Wulan.
'Huuffhhh... ." Pamungkas hanya mampu menghembus kan nafas pasrah dan ikut mengangguk kan kepalanya membenarkan nasihat dari sepupunya tadi.
Lama menanti rapat tim basket, kini rapat itu pun selesai. 7 serangkai berjalan meninggal kan lapangan basket in door menuju tempat parkir sekolah SMA Merdeka sebelum menuju tempat parkir mereka mengambil tas punggung masing-masing didalam kelas.
Perjalanan pulang kali ini terasa makin ramai dengan di iringi suara sumbang dari 3 gadis di dalam mobil ini.
Lagu yang berjudul 'Suka-suka' itu menggemah diseluruh mobil.
Kristal dan Agnez yang paling mendominasi dalam menyanyikan kan lagu itu.
Wulan hanya menyangkut sesekali karena tak terlalu hafal.
Dibangku kemudi dan sebelah nya yang di huni oleh Damar sebagai supir dan Pamungkas di sebelah nya.
"Kas? Kita jemput Kak Rain dulu atau gimana nih?." Tanya Damar pada sepupu nya ini.
"Ngga usah jemput dah Gua tadi ada chating sama dia kata nya dia udah ada di rumah." Jawab Pamungkas sambil menatap wajah tampan Damar dari samping.
Setelah sekian lama berkendara akhir nya mobil yang di tumpangi 7 serangkai sampai didepan rumah Mommy Za dan Daddy Rafka.
Damar sebagai supir langsung memasuk kan mobil kedalam garasi samping rumah.
Para gadis memasuki rumah dengan mengucap kan salam dengan suara lantang.
"Assalammu'allaikum?!." Pekik para gadis heboh.
"Wa'allaikum sallam, loh?! Kok udah pada pulang sekolah? Ngga pada bolos kan ini?." Tanya para tetuah curiga.
"Kita ngga bolos kok Momm kita emang dipulangin cepat karena ada rapat dadakan disekolah." Jawab jujur Wulan di iringi senyuman serta angguk kan dari 2 gadis lain nya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1