
AKU MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.
******************************
-
-
"Kita di anggurin cuy." Bisik Bang Rafa di dekat telinga Rafka.
"Udah lah diem aja, dengerin." Cuek Rafka berbicara.
"Hiks! sedih amat sih Gua." Bang Rafa akting sedih meratapi nasib nya.
"Udah ngga usah lebay." Cetus Rafka ketus, dia mendarat kan bokong nya di atas sofa empuk di ruang santai milik nya.
Setelah lama menunggu 30 menit kemudian para cowok sudah pulang dengan membawa pesana para wanita.
Sebelum makan mereka semua sholat dzuhur berjamaah di mushollah rumah Rafka.
Sedari tadi pagi, Bunda pergi mengunjungi rumah lama nya yang dulu di tempati Bunda dengan Ayah.
Bunda dapat kabar dari kepala pelayan di sana, bahwa salah satu ART ada yang mencuri perhiasan Bunda dan sekarang ART itu sudah lari dari kediaman Bunda.
5 keluarga junior itu khusus nya para wanita asik memakan rujak buah nya, para pria tak mau makan itu dan memilih memesan makanan lewat aplikasi, siang ini Zarine tak masak jadi membuat para pria kelaparan.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Malam sudah menampak kan sinar bulan dan bintang nya.
Malam ini semua keluarga baik yang tua mau pun yang muda berkumpul di rumah Abhi Alfi, mereka tak kerumah Rafka Zarine karena bosan selalu berkumpul di sana.
Saat ini semua orang sedang duduk di ruang santai rumah Abhi Akfi sambil memakan bolu yang telah di sedia kan oleh tuan rumah.
"Kamu beli kah Al bolu ini?." Pertanyaan lolos dari bibir Mami Alfi.
"Ngg beli Mi, aku bikin sendiri dengan bantuan resep dari Zarine." Jawab jujur Alfi.
Mami hanya menjawab memanggut-manggut kan kepala nya paham.
"Eh? Mama mau tanya nih, usia kehamilan Zarine kan udah 3 bulan, ngga mau ada tasyakuran 3 bulanan kah? Kalo kalian berdua Akifa Alfi masih tinggal beberapa minggu lagi, ouh apa kalian bertiga pengen bareng tasyakuran nya?." Tanya Mama Abdiel.
"Emmmm... mau nya Zarine kita lakuin tasyakuran nya pas usia nya udah 7 bulan aja." Terang Zarine menjelas kan.
"He em... Aku juga setuju tuh." Cetus Akifa, Alfi hanya mengangguk kan kepala cepat sebagai jawaban, dia masih fokus sama bolu nya.
"Ya udah kita para orang tua ikut aja kemau an kalian aja, tapi kalo mau berubah pikiran juga ngga papa, biar kita siapin semua keperluan nya, dan kalian terima beres." Ujar Mama Rafka menyahut.
"Engga Ma, in syaa allah kita ngga akan berubah pikiran dan akan melanjut kan rencana yang sedari awal kita susun." Ucap yakin Zarine.
"Kalo ngomongin acara kaya gini... Bunda jadi ke inget sama Shita deh, gimana kabar nya Shita Rendra sama lain nya di desa Rain?." Tanya Bunda pada menantu nya yang sedang duduk di sebelah nya.
"Entah lah Bun, Rain juga ngga tau, Shita jarang online WhatsApp kalo pun dia aktif pasti cuma sebentar, kaya beberapa hari lalu, aku chat nya hari rabu jam 9 lebih 10 menit, dia jawab nya besok, itu pun dini hari." Jelas Raina detail.
"Dia sibuk sama dunia halu nya kali." Pikiran Akifa.
"Sesibuk-sibuk nya dia, biasanya kalo di chat tuh jawab nya cepet kok Fa, dia tuh... kaya... ngga sibuk sama dunia halu, dia kaya nya sibuk lagi ngurusin sesuatu." Pendapat Raina.
"Gini aja deh, dari pada penasaran ngga jelas gini, mending kalian telfon aja Shita nya, tanya kabar langsung, ya siapa tau Shita sekarang lagi mempersiap kan pernikahan nya sama Rendra." Mama Rafka menebak-nebak juga.
"Ayo kita telfon dia." Cengir jahil Raina muncul.
Kakak sepupu Shita yang mendapat gelar istri Bang Rafa ini mengeluar kan ponsel nya, saat akan menekan tanda telepon pada layar ponsel, adzan isya' berkumandang nyaring.
"Kita tunda dulu, ayo kita sholat dulu." Ajak Papa Rafka.
Semua orang berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah mushollah rumah Abhi Alfi.
"Ini... para orang tua menginap kah?." Tanya Zarine sambil menatap Mama Papa Rafka dan lain nya.
"Engga Za, besok Papa Rafka sama lain nya bakal sibuk banget di kantor mulai dari pagi-pagi banget, sebelum kalian para junior terjun ke lapangan kerja, Papa-Papa kalian ini harus bekerja keras untuk tak membuat purasahaan berjalan normal." Jelas Mama Rafka.
"Yaa... kita para orang tua tak mau membuat kalian terjebak dalam masalah di perusahaan, intinya sekarang, kalian harus sekolah yang serius, itu semua nanti kan demi kebaikan kalian juga." Ujar Papi Alfi.
"In syaa allah kita ngga akan mengecewa kan kalian para orang tua, kita minta restu dan doa nya biar semua lancar aja." Pinta Rafka pada para orang tua di sana.
"Ya pasti dong kalo restu sama doa mah, dalam sujud kita doa buat kalian ngga pernah surut." Imbuh Mama Akifa.
"Hmm... bener banget tuh, doa kami menyertai langkah kalian buat terus melangkah ke depan, hanya semangat kalian aja yang harus di kobarin biar tambah mantap langkah ke depan nya." Kata Bunda sambil mengepal kan tangan kanan nya lalu mengangkat nya ke udara.
Rafka juga lain nya mengangguk semangat sambil tersenyum manis mendengar dorong para orang tua ini.
"Udah yuk ayo kita segera sholat, setelah itu kita ganggu in Shita, hihihi." Tawa Zarine pelan.
"Ayo kalo gitu." Antusias Akifa.
Beberapa menit kemudian mereka telah selesai menunai kan sholat isya', lalu mereka kembali duduk di ruang santai rumah Abhi Alfi.
Raina sudah siap dengan ponsel nya, dia menekan simbol gagang telefon pada layar, lalu panggilan pun terjadi.
'Tut... tut... tut... .' Memanggil.
'Tut... tut... tut... .' Berdering.
"Dia ngga lagi tidur kan?." Tanya Alfi dengan mata nya sibuk menatap layar ponsel Kak Rain.
"Beneran ke ajaiban kalo Shita tidur jam segini." Ucap Raina dengan tersenyum geli.
"Hahaha... ada-ada aja sih Kak Rain ih." Ujar Zarine sambil tertawa pelan.
Ponsel masih menampil kan tulisan berdering di sana.
"Adoyy... lama banget." Keluh Akifa.
"Tunggu bentar lagi." Ucap Alfi sabar menanti.
3 menit menunggu lalu... .
"Halo? Assallammu'allaikum." Suara Shita terdengar di seberang sana.
Kak Raina menspeaker panggilan nya agar semua orang mendengar suara Shita.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Zarine dan lain nya kompak.
"Kak Rain? Kita Video Call aja." Pinta Shita.
"Iya." Singkat Raina menjawab.
Panggilan telah beralih ke video call.
"Hai Shita? Apa kabar?." Tanya Zarine, Akifa, Tika kompak bertanya.
"Hai juga, alhamdulillah aku sehat wal'afiat di sini, kalian semua yang di sana apa kabar?." Tanya Shita, sangat kental di raut muka nya terukir senyum bahagia.
"Alhamdulillah kita juga baik di sini dek." Jawab Raina.
"Wah wah! muka nya penuh senyum bahagia... ada apa nih? Ada kabar bahagia apa nih?." Tanya Zarine.
"Hehehe... aku omongin sekarang aja deh, aku sama Rendra mau nikah satu minggu lagi." Ucap Shita sambil menampil kan senyum malu-malu.
"Alhamdulillah... selamat ya Taaa." Kata Tika pada Shita.
"Makasih, kalian semua kalo ngga bisa dateng it's ok kok, kita ngerti, dan sabaik nya emang janga ke sini, apa lagi dalam kondisi mengandung, duduk diem di rumah aja, in syaa allah nanti Aku sama Rendra nanti yang ke sana." Shita melarang Zarine dan lain nya datang ke Lumajang.
"Tapi kita pengen liat kamu duduk pelaminan dan foto bareng." Rengek Tika.
"Sekarang yang paling utama adalah kesehatan para bumil dulu yang di pentingin, ke sini nya bisa kapan-kapan." Terang Shita.
"Hmm... kamu bener banget, ya udah lah kota ikut saran kamu aja." Putus Raina kemudian.
__ADS_1
"Permisi yah, aku tinggal sebentar." Pamit Shita yang di angguki lain nya.
Ponsel Raina menghadap ke arah nya, Zarine, Akifa, Alfi, dan Tika.
Sedang kan lain nya duduk di seberang 5 wanita itu hanya mendengar kan pembicaraan.
"Udahan VC nya? Kok ngga ada suara nya Shita lagi?." Tanya Mama Rafka.
"Dia pamit entah kemana tadi Ma, bentar lagi juga bailk." Jawab Zarine.
3 menit kemudian, Shita kembali duduk di tempat nya.
"Maaf yah lama, aku mau ambil ini soal nya." Shita menunjuk kan sebuah undangan pernikahan yang sangat indah berwarna gold.
'Rendra & Shita.' tertulis dengan sangat indah di tengah-tengah.
"Udah di sebarin kah?." Tanya Alfi.
"Belum, undangan nya cuma masih setengah yang jadi." Jelas Shita.
"Ada berapa undangan emang rencana nya?." Tanya Raina.
"Berapa yah? Ada 500 orang lah kurang lebih." Jawab Shita dengan nada lesu.
"Lah? Kenapa lesu gitu?." Heran Zarine.
"Aku sebener nya ngga mau undang orang sampai 500 orang, tapi Rendra keukeuh mau nya 500 orang, malah kemarin dia minta nya 1000 orang, dasar gila emang tuh cowok." Shita mendumel kesal.
Mereka yang mendengar tertawa cekiki kan.
"Siapa aja emang yang dia undang?." Kepo Akifa.
"Kebanyakan sih temen jalanan nya dulu, dan dia juga mau ngundang para cowok yang dulu pernah nyatain perasaan nya ke aku, padahal aku berniat ngga ngundang mereka karena males." Panjang Shita menjelas kan.
"Dia mau pamer sama cowok yang pernah naksir kamu tuh Ta, dan biar mereka tau juga bahwa seorang Shita itu cuma punya Rendra seorang, hahaha... ." Tawa Raina terdengar.
"Yaaa... emang itu niat nya." Celutuk Shita sambil mengerucut kan bibir nya.
"Nikahan kamu sekalian sama resepsi yah?." Ingin tahu Kak Rain.
"Iya, Ijab Qobul nya jam 7 pagi, terus respsi nya ba'da dzuhur." Shita memberi tahu agenda pernikahan nya.
"Semoga lancar dan ngga ada hambatan ya Ta... kita ngga bisa hadir maaf." Ucap Zarine.
"Aamiin, iya ngga papa aku paham posisi kalian, biar aku sam Rendra aja yang ke sana hadirin respsi salah satu dari kalian, kalo di undang sih." Kata Shita.
"Pasti di undang dong Ta, kok hadir nya salah satu dari kita, kenapa ngga kita semua?." Cemberut Akifa.
"Hahaha... kalo hadirin semua berarti aku di sana berbulan-bulan dong, Ibu mertua aku di sini sendiri an ngga ada temen nya, kasian kalo di tinggal lama-lama." Beri tau Shita.
"Ajak aja sekalian Ta, atau titipin sama Andi Panji." Ujar Tika.
"Aku nya ngga tega, hahaha... ." Tawa Shita terdengar.
"Wah wah! Menantu baik banget sama mertua nya." Goda Kak Rain pada adik sepupu nya ini.
"Alhamdulillah, makasih pujian nya." Sahut Shita cepat sambil tersenyum malu-malu.
"Kamu ada dimana Ta? Lagi apa? Sama siapa?." Beruntun Raina bertanya.
"Aku ada di teras rumah, lagi nge teh sambil ngemil, aku sendiri an di sini." Detail Shita menjawab.
"Rendra ngga nemenin kamu?." Tanya Akifa.
"Engga, dia lagi sibuk sama kerjaan nya." Singkat Shita menjawab.
"Kasian sendiri an." Ejek Kak Rain.
Shita menjawab dengan memasang wajah konyol.
"Eh? Aku mau nyapa Bunda, dan lain nya dong, kalian semua pada ngumpul kan?." Tanya Shita.
"Iya nih kebetulan, bentar yah aku aturin dulu posisi nya."Kata Raina.
Tanpa menunggu jawaban, Raina menempat kan posisi ponsel nya agar para orang tua terlihta oleh Shita yang ingin menyapa.
"Assallammu'allaikum Ta?." Sapa Bunda.
"Wa'allaikum sallam, Bunda sama lain nya apa kabar?." Tanya Shita senang.
"Selamat buat pernikahan nya Shita." Ucap Mama Akifa.
"Makasih Te, in syaa allah aku akan kirim undangan nya ke sana, meski pun ngga bisa dateng tapi tetap undangan harus tersebar ke sana." Ujar Shita sambil tersenyum manis.
"Maaf ya Ta... kita ngga bisa ke sana." Terdengar nada tak enak hati dari Bunda.
"Ngga papa Bun, Shita ngerti, bumil muda jangan berkendara jauh dulu, mending duduk di rumah aja, in syaa allah aku sama Rendra ke sana kalo udah nikah nanti." Imbuh Shita.
"Iya deh, kita tunggu." Sahut Mami Alfi.
"Hmmm... kalian yang masih pelajar besok ujian yah?." Tanya Shita.
"Tau dari mana?." Tanya balik Tika.
"Di sini anak SMA juga UN besok, aku nebak aja kalo sama kaya kalian, hehehe... ngomong-ngomong soal ujian, semangat yah, jangan lupa doa dan usaha nya di imbangin, jangan lupa minta restu sama orang tua biar sukses nya maksimal." Shita memberi petuah pada 7 serangkai.
"Kasih tips dong Ta." Pinta Abdiel.
"Tips? Tips apa an dah?." Bingung Shita.
"Cara kita keluar ruangan buat ambil contek kan di kamar mandi." Ujar Akifa.
"Hahahaha... ada-ada aja kalian nih, kalian harus yakin sama otak kalian sendiri, jangan nyontek, ngga baik tau punya sifat kaya gitu." Beri tau Shita serius.
"Lo emang ngga pernah nyontek?." Sindir Abhi.
"Alhamdulillah engga, Gua kalo ujian usaha sendiri, ada nya temen-temen Gua yang nyontek." Jujur Shita menjawab.
"Masa?." Alfi tak percaya.
"Noh tanya sama Kak Raina aja biar tau jelas nya." Suruh Shita sambil menunjuk Raina dengan dagu nya.
7 serangkai menatap Raina meminta jawaban.
"Iya bener, Shita kalo ujian ngga pernah nyontek." Jujur Raina menjawab.
"Tuh kan, Gua ngga pernah boong tau." Cetus Shita sombong.
"He eleh, huuuuu sombong amat Lu." Sorak Abdiel.
"Hahahaha... ." Tawa Shita menggelegar.
"Ta? kamu masih suka begadang ngga?." Tanya Zarine.
"Udah engga sih, jam tidur ku udab normal." Jawab Shita yang sudah berhenti tertawa.
"Beneran? Jam berapa tidur biasa nya?." Ingin tahu Kak Rain.
"Jam setengah 10 malem aku biasa nya udah ada di atas ranjang sambil pejamin mata terus ke alam mimpi deh." Detail menjawab.
"Novel nya gimana?." Kepo Mama Akifa.
"Udah jarang sama ngerjain itu Te, aku lebih fokus sama pesanan kue permintaan pembelk sekarang." Imbuh Shita.
"Up tergantung mood dong?." Tebak Alfi.
"Bener banget, sampe-sampe aku di spam chat ama penggemar minta up dan ngga jarang juga minta crazy up." Keluh Shita.
"Sabarrrr." Ucap Tika, Zarine, dan Akifa.
'Assallammu'allaikum.' Suara salan dari tempat Shita.
"Wa'allaikum sallam, masuk sini." Ajak Shita.
"Siapa Ta?." Tanya Kak Raina.
"Biasaaaa tamu datang tak di jemput pulang tak di antar." Ceplos Shita se enak nya sendiri.
"Lu kata kita pada Jaelangkung?! Kebangetan Lu." Sembur Panji prostes.
"Hahaha... ." Tawa Shita terdengar.
"Vidoe call ama siapa Lo malem-malem." Tanya Rendra yang bisa di dengar oleh Zarine dan lain nya.
"Yeeee kepo... ." Ledek Shita dengan wajah konyol nya.
__ADS_1
Terlihat di layar, wajah Rendra tak memberi respon apa pun, alias datar bin dingin.
"Hai kalian semua?." Sapa Kak Raina.
Kompak Rendra Shita, Panji, Andi menoleh ke arah sumber suara.
"Ouh! Elo ternyata Rain, apa kabar nih kalian semua?." Tanya Rendra menyapa.
"Alhamdulillah kita sehat wal'afiat." Jawab Bang Rafa.
"Dra? Maafin kita yah yang ngga bisa hadir di nikahan kamu." Ucap Bunda tulus.
"Ngga papa Bun, kita tau situasi di sana, biar saya sama Shita aja yang ke sana." Ucap Rendra memaklumi.
"Eh Andi? Lo masih kepikiran sama yang 'ono'?." Tanya Bang Idan sambil terkekeh pelan.
"Yang 'ono'? 'Ono' siapa?." Bingung Andi.
"Yang itu tuh, yang di puncak pas nikahan kita berdua." Jelas Bang Rafa.
"Dini maksud nya?." Tebak Andi.
"Cieer Andi masih inget nama nya." Ledek Raina.
Andi memutar bola mata nya malas.
"Gimana ngga inget, dia kan cantik, daun muda lagi, hahaha... ." Shita ikut meledek.
"Udah deh, jan bahan Dini, aku ama dia tuh jauh, kagak bakal pernah ketemu." Andi memutus perbincangan membahas Dini.
"Lo ngga mau coba cari?." Tanya Abhi.
"Buat apa? Buang tenaga." Acuh Andi berucap.
"Tapi aku doa in semoga Dini tiba-tiba ada di desa kalian, Aamiin." Doa Zarine sambil mengusap kan telapak tangan nya ke wajah nya.
"Aamiin." Balas semua orang menyahut doa Zarine untuk Andi.
"Aamiin ya Allah." Ucap Shita, Rendra, dan Panji.
Andi diam saja tak menyahut, dia bungkam dan mikih pura-pura tuli tak mendengar.
'Aamiin.' Batin Andi berucap.
"Ndi? Jangan diem aja napa, jawab Aamiin gitu." Celutuk Shita.
Andi menatap datar Shita dan itu membuat Shita makin gencar meledek sahabat nya ini.
"Andi tuh pura-pura tuli, asli nya dalam hati juga jawab Aamiin." Kata Bang Rafa ikut menggoda.
"Udah terserah kalian aja, aku ganteng aku diem." Perkataan Andi membuat 2 buah kepalan tangan melayang ke atas kepala nya.
"Huuuu... ke-pede-an Lu, dasar Andi-andi Lumut." Umpat Rendra.
"Andi-andi Lumut? Bukan nya Ande-ande Lumut yah?." Ralat Zarine.
"Nama dia kan Andi." Tunjuk Shita.
"Hahaha... ada ada aja kalian tuh." Suara tawa di ruang santai rumah Abhi Alfi terdengar menggelengar.
"Ta? Tadi tanggal nikah nya kapan yah? Aku ngga terlalu jelas tadi liat di undangan yang kamu tunjuk kan." Raina meminta Shita menyebut tangga pernikahan nya.
"Tanggal 16 April." Sebut Shita.
"Persiapan nya udah berapa persen siap nya?." Tanya Bunda.
"Udah 95% lah kurang lebih." Jawab Shita.
"Kalian nikah di gedung kah?." Tanya Rafka.
"Engga, kita Ijab Qobul nya di rumah ku, terus untuk respsi pelaminan nya ada di depan rumah ku juga." Jelas Rendra.
"Enak kaya gitu sih sebener nya, apa kita contoh mereka aja buat respsi kalian? Jadi ngga usah jauh-jauh ke hotel, di rumah aja cukup." Pendapat Mami Alfi.
"Sekalian resepsi nya di gabung aja, kita bikin pelamina sebesar-besar nya?." Tambah Mama Rafka.
"Kita omongin semua nya nanti aja pas mereka udah nyantai bebas dari ujian." Putus Papa Rafka.
"Hmm... iya deh." Mama Rafka setuju.
"Ouh iya, Panji? Kamu ngga mau nyusul Rendra Shita kah?." Mama Akifa teringat pada Panji yang duduk termenung hanya mendengar kan pembicaraan sambil bermain handphone.
"Hah?! Nyusul Rendra Shita? Gimana nyusul nya Te? Saya masih belum punya." Cetus Panji lesu.
"Kasian bat yak, JoNes, hahahaha... ." Ucap Bang Idan meledek.
"Bukan JoNes, emang belum ada yang mau aja." Bela Panji pada diri nya sendiri.
"Huuuuu ngeles ae Lu jemuran baju." Sorak Andi sambil melempar kacang yang hendak dia makan.
"Biarin, wlekkk!." Panji menjulur kan lidah nya, kacang yang di lempar Andi tadi dia tangkap dan memakan nya dengan memasang muka konyol.
"Panji jorok, Panji gila!." Umpat Shita.
"Hahahaha... udah udah, jan berantem." Lerai Kak Raina.
Mereka pun berbincang dengan sangat bahagia sampai tak ingat waktu, lalu pukul setengah 9 malam, Kak Raina memutus kan menyudahi vidoe call nya bersama sang sepupu.
Setelah itu, para orang tua memutus kan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Para keluarga junior pun sama, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah Rafka Zarine, tepat nya di dalam kamar.
"Yang? Kamu setuju ngga kalo resepsi nya di laksanakan di rumah kaya Rendra Shita?." Tanya Rafka sambil duduk bersandar di kelapa ranjang dan mengelus pucuk kepala Zarine yang tengah memeluk pinggang nya.
"Setuju aja sih, malah enak, ngga ribet." Jawab Zarine.
"Hmmm... kamu bener juga, ya udah lah kita bahas abis ujian aja, pusing nih kepala aku gara-gara mikir lain nya selain ujian." Tukas Rafka.
Dia pun kemudian merosot ikut berbaring di ranjang sebelah Zarine, memeluk istri tercinta nya kemudian mereka berdua tidur dengan lelap dan nyenyak nya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.