
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA AKUNYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏🙏.
******************************
-
-
"Dini?." Panggil Shita memasti kan.
"Hai Kak, salam jumpa lagi." Sapa nya ramah.
"Wah! Pucuk di cinta ulam pun tiba, yang nama nya jodoh emang ngga kemana yah, hahahaha... ." Shita tertawa keras karena ucapan nya sendiri.
"Jodoh kagak bakal kemana?." Bingung Bu Tini.
"Ouh iya ayo masuk." Shita mengalih kan pembicaraan.
Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
Tak bersalang lama Bu Wiwin datang membawa nampan berisi teh dan sepiring kue.
Ibu Wiwin ikut duduk.
"Ayo Dini, Bu Tini, silah kan di minum dulu teh nya, maaf yah cuma ada ini." Ucap Bu Wiwin tak enak hati.
"Hahaha... ini sudah cukup kok Bu Wiwin." Jawab Bu Tini, yang sesaat kemudian beliau juga Dini menyeruput teh hangat yang di buat kan oleh Ibu Wiwin.
"Jadi gini Ta, Bu Tini sama anak nya ini kan mau menetap dan tinggal di sini, tapi masih belum punya tempat tinggal, terus Bu Hadi tadi nyaranin buat tinggal di penginapan kamu sementara, menenurut kamu gimana?." Tanya Bu Wiwin menjelas kan panjang lebar kepada menantu nya ini.
"Wah! Boleh tuh, sekalian aja Ibu tinggal di sana deh, ngga usah cari kontrak kan, menetap di sana aja." Kata Shita antusias berucap.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"Wah boleh tuh nak Shita, Ibu harus bayar berapa untuk tempatin rumah kamu?." Tanya Bu Tini.
"Emm... sebener nya Shita ngga mau sewain Bu, Shita tulu mau bantu Ibu." Ungkap Shita tulus.
"Waduh, kalo ngga mau di bayar, maaf nak Shita, Ibu tolak tawaran kamu." Balas Bu Tini.
"Ya udah gini aja deh Bu, gimana kalo setiap bulan nya Ibu bayar 500 ribu." Usul Shita.
Sebenar nya istri Rendra ini tak tega, tapi dari pada Ibu Tini tak mendapat tempat tinggal, Shita terpaksa menetap kan harga dalam penempatan rumah nya itu.
"Ngga rugi nak Shita? Kok di hargai murah?." Tanya Bu Tini.
"Hehehe... untuk Ibu segitu aja deh, Ibu juga bisa kelolah penginapan yang ada di dekat rumah saya." Kata Shita.
"Ke... kelolah penginapan?." Tergagap Bu Tini berucap, beliau terkejut.
"Iya Bu, soal nya penginapan saya ngga ada yang ngurus." Ujar Shita.
"Apa nak Shita ngga papa?." Tanya Ibu Tini tak enak.
"Ngga papa Bu, kalo di biarin kosong tak berpenghuni nanti malah ngga baik, nanti masalah pembagian hasil penginapan, Ibu ambil semua nya saja, tapi yah gitu, penginapan ngga terlalu rame." Ujar Shita.
"Iya ngga papa Ta, makasih banyak ya nak Shita, alhamdulillah ya allah, baru pulang menginjak kan kaki di kampung halaman langsung di beri kelancaran dalam rezeki." Ucap Bu Tini senang.
"Ya udah Ibu sama Dini mau di sini dulu atau mau langsung ke rumah Shita?." Tanya Shita.
"Langsung aja deh Ta, soal nya Ibu sama Dini kan harus memberes kan barang-barang dulu nanti nya di rumah." Ujar Bu Tini yang di angguki oleh Shita.
"Ya sudah ayo Ibu saya antar ke rumah, sebentar saya mau ambil kunci rumah sama penginapan dulu." Pamit Shita.
Shita pergi ke kamar di depan TV, Rendra menegur.
"Siapa tamu kamu?." Tanya Rendra kepo.
"Dini sama Ibu nya." Jawab singkat Shita.
"Terus kamu mau kemana?." Tanya Rendra.
"Mau ambil kunci rumah sama penginapan, kaya nya doa kita terkabul deh." Ujar Shita.
"Maksud nya?." Tak mengerti Rendra.
"Ibu Dini sama Dini menetap dan kembali tinggal di sini, sesuai omongan aku tadi, beliau sama Dini bakal tinggal di rumah aku dan mengurus penginapan ku." Senang Shita.
"Alhamdulillah, Andi ngelamar nya ngga usah jauh-jauh kalo gitu, jadi deh dia nikah, hahaha... ." Tawa menggelegar Rendra.
"Huts! Berenti ketawa keras, kedengeran sampe depan tau tawa kamu yang kaya Mak Lampitu itu." Ketus Shita memperingat kan.
Rendra hanya nyengir kuda.
"Yang? Ini udah hampir jam 9 juga, kita bersiap sekalian aja ke tempat anak-anak." Ujar Rendra yang di angguki Shita.
10 menit kemudian, Shita kembali ke ruang tamu di susul Rendra di belakang nya.
"Maaf Bu Tini lama, saya tadi sekalian bersiap mau keluar soal nya." Ucap Shita tak enak hati.
"Iya ngga papa Nak Shita." Balas Bu Tini dengan senyuman ramah nya.
"Ouh iya Bu Tini, kenalin ini suami saya anak nya Bu Wiwin, Remdra." Shita memperkenal kan Rendra pada Bu Tini, Rendra mengangguk kan kepala menyapa, lalu menyalami Bu Tini sopan.
"Ya sudah ayo Bu kita meluncur ke rumah saya." Ajak Shita.
Rendra Shita, Bu Tini, dan Dini pamit kepada Bu Wiwin untuk pergi.
Di jalan 4 orang itu di sapa oleh Andi dan Panji.
"Loh? Pada mau kemana? Ngga jadi ke Senduro nya?." Tanya Andi.
"Nganterin Bu Tini sama Dini dulu ke rumah, kalian sekalian ikut aja." Ajak Shita.
"Eh? Ngomong-ngomong barang udah naik mobil belum?." Tanya Rendra.
"Udah tinggal berangkat aja." Jawab Panji.
"Yang ngurus bengkel siapa?." Tanya Shita.
__ADS_1
"Ada anak-anak dari mabel yang jaga." Sahut Andi cepat yang di angguki paham oleh Shita.
Lama berjalan, mereka pun sampai di rumah Shita.
Sang empu rumah membuka pintu rumah dan mempersilah kan masuk.
Shita menjelas kan secara detail isi rumah itu dan segala nya, setelah menjelas kan rumah, Shita menjelas kan pengianapan yang letak nya 10 langkah dari rumah.
Beberapa menit menjelas kan Shita, Bu Tini dan Dini kembali ke teras rumah.
"Ini kunci nya saya serah kan sama Ibu yah, mohon di jaga dengan baik ya Bu, saya percaya sepenuh nya dengan Ibu." Ucap Shita tegas.
"Siiap Nak Shita, in syaa Allah Ibu orang nya amanah." Ucap Ibu Dini tak kalah tegas perkataannya.
"Ya sudah kami pamit dulu Bu Tini, nanti kalo ada apa-apa hubungi Shita aja, ouh iya lupa kita belum tukar nomor, Ibu punya ponsel kan?." Tanya Shita.
"Ibu ngga main gitu an Nak Shita, minta nomor nya Dini saja." Kata Bu Tini.
"Dini? Minta nomor nya yah." Pinta Shita ramah dan di angguki Dini.
Anak Bu Tini itu mengeluar kan ponsel nya lalu mulai menyebut kan 12 digit angka secara berurutan.
"Dah aku save udah aku whatsapp juga." Kata Shita.
"Iya Kak." Jawab Dini.
"Eh? Dini? Mau ikut kita ke Senduro ngga? Ikut aja yuk biar aku ada temen nya, boleh yah Bu?." Shita meminta ijin mengajak Dini ke Senduro.
Dini ikut memandang Ibu nya. Dengan senyuman manis nya Ibu Dini mengangguk kan kepala meng iya kan.
"Boleh, tapi saya titip Dini yah Nak Shita, tolong jaga in." Pinta Ibu Dini.
"In syaa allah kalo sama kita mah aman Bu." Ucap Shita antusias.
"Ya sudah kami pergi dulu Bu, assallammu'allaikum." Salam Shita dan lain nya kompak.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Ibu Dini, Rendra Shita, Dini, Andi juga Panji menyalami Bu Tini, mereka pun pergi ke tempat mobil terparkir.
"Din? Gimana sama desa ini?." Tanya Shita.
"Sejuk Kak, jauh banget dari kata kebisingan, dan aku kaya nya mulai betah di sini." Jujur Dini.
"Wah! Syukur alhamdulillah kalo gitu." Bahagia Shita menjawab.
"Din? Kamu kok ngga lupa sih sama kita? Padahal udah lama loh ngga ketemu." Cetus Rendra.
"Hehehe... Dini ngga bisa lupa kejadian di saqah waktu itu Kak, jadi yah Dini masih inget jelas sama kalian." Tutur Dini sambil nyengir kuda.
"Ada yang kamu kangenin ngga di antara kita ber 4?." Tanya Panji iseng sambil melirik Andi menggoda.
Pertanyaan Panji membuat Dini salah tingkah, pipi nya merona malu dan wajah tertunduk, sedang kan Andi? Pemuda satu itu menatap Panji teman nya ini dengan tatapan tajam nya.
Dalam hati Dini bersuara 'Ada, dan orang itu tak lain juga tak bukan ialah pemuda yang tiba-tiba memeluk ku waktu di sawah, Kak Andi.' Kurang lebih nya seperti itu.
Tapi Dini tak berani berbicara lantang, dia hanya menyimpan semua kata-kata itu dalam hati.
"Ada ngga Din?." Tanya Shita.
"Ada." Jawab Dini cepat, dia kembali mendongak kan kepala nya dan kini menatap Shita.
"Siapa?." Tanya Panji antusias.
"Kak Shita." Jawab Dini yang membuat Andi kecewa.
"Hahahaha... sabar Bro, nama nya aja masih BoCil, mana paham ama yang nama nya cinta." Panji meledek teman nya yang tengah kecewa ini.
Rendra Shita hanya terkekeh pelan melihat pertengkaran antara Andi dan Panji.
Sampai di tempat mobil pengantar barang, Rendra langsung naik ke bagian kemudi lalu di susul Shita yang naik di samping kemudi.
"Dini? Sini duduk sama aku di sini." Shita menepuk-nepuk tempat kosong di samping nya.
"Em... Kak? Kalo aku duduk di belakang sama Kak Andi, Kak Panji boleh ngga?." Tanya Dini.
"Ouh, iya boleh aja sih, tapi... kamu yakin?." Tanya Shita ragu dengan permintaan Dini yang tak meyakinkan.
"Yakin Kak, kalo aku di situ sama Kak Shita, nanti aku jadi obat nyamuk lagi." Kata Dini serius.
"Hahaha... jadi itu alasan kamu mau di belakang?." Tanya Shita yang di angguki polos oleh Dini.
"Tapi bukan itu juga, Dini mau liat pemandangan asri langsung dari luar, ngga cuma dari pembatas kaca doang." Ujar kejujuran Dini.
"Ya udah kalo gitu, naik gih, minta bantu sama Kak Andi atau Kak Panji." Suruh Rendra.
"Siiap Kak." Semangat Dini.
Gadis berusia hampir 18 tahun ini naik sendiri ke bagian belakang mobil pick up (Bener ngga sih tulisan nya😂 #AuthorGesrek).
"Loh kok di sini Din?." Tanya Andi lembut.
"Aku mau di sini aja, mau liat pemandangan secara langsung." Jawab Dini polos yang membuat Andi tersenyum karena nya.
'Waduh beneran jadi Jomblo Ngenes Gua kalo gini, yang nyetir udah ada bini, ini yang di depan OTW nikah, lah Gua kapan dong? Masa Gua bakal gendong ayam? Huhuhu... Makkk... .' Tangis Panji dalam hati nya melihat kemesraan Andi dan Dini di depan nya.
Ngga mesra sih, cuma... kalo di lihat terus-terus an bisa bikin orang kepanasan.
Tatapan memuja dari seorang Andi untuk Dini tuh kentel banget, dan itu bisa di rasain sama Panji.
'Bener kata kebanyakan orang, orang kalo udah jatuh cinta lupa ama yang nama nya daratan deh, dunia kek milik berdua lain nya ngontrak, astaghfirullah.' Istighfar Panji dalam batin nya sambil menggeleng-geleng kan kepala nya.
Panji yang merasa tak di anggap menyikut perut rata Andi.
"Wanjir!." Pekik Andi pelan karena terkejut.
"Ngagetin aja Lu Bambang!." Cetus Andi sewot.
"Ya abis nya Elu natap Dini gitu amat, Gua di sini kaya obat nyamuk kalian tau ngga? Diem liatin 2 nyamuk berbeda gender mesra-mesra an, kasiani Gua yang jones ini dong, kagak punya hati banget!." Sungut Panji berbisik di telinga Andi sambil mengerucut kan bibir nya ke depan.
"Itu bibir nya ngga usah di maju-maju in, kagak cocok Lu cowok ngambek kan, kalo Dini yang ngambek atau Shita yang ngambek Gua mau pake banget bujukin nya, tapi kalo Lo? Amit-amit, Gua masih doyan lubang, kagak doyan batangan, hahaha... ." Tawa Sndi terdengar mengejek Panji yang kini memasang wajah kecut nya.
"Wah... indah banget... ." Puji Dini melihat pemandangan di sisi kanan kiri nya.
"Iya kaya kamu indah nya." Celutuk Andi tanpa sadar, yang sontak membuat Dini salah tingkah dan menunduk kan kepala nya, pipi nya bersemu merah.
"Hah?!." Seru Dini terkejut tak percaya.
"Eh? Maaf Din, ngga maksud." Ujar Andi merasa malu sendiri.
Dia pun memaling kan wajah nya sambil memukul mulut nya sendiri dengan gerakan pelan.
'Aduh... nih mulut kagak bisa di kontrol apa? Bikin malu aja.' Batin Andi.
'Aduh... Kak Andi bisa aja sih, duh pipi ku panas, pasti sekarang udah semerah tomat.' Suara hati Dini bergumam.
Panji di tengah-tengah mereka terkekeh pelan melihat 2 calon sejoli ini.
Suasana di atas pick up ini di landa canggung yang luar biasa.
__ADS_1
'Aduhhh... dua sejoli nih... kagak paham Gua, udah lah terserah kalian aja, Gua penonton cukup diam dan menyaksi kan.' Suara batin Panji.
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka pun sampai di sebuah rumah sederhana.
"Kok sepi?." Heran Shita.
"Tadi kalian udah telepon orang yang pesen kan?." Tanya Rendra pada anak buah nya yang masih ada di atas pick up belum turun.
"Udah kok, kata nya mereka nunggu di rumah." Jawab Andi yakin.
"Coba di ketuk aja Kak pintu rumah nya." Usul Dini.
"Yang ketuk!." Perintah Shita.
"Ok tunggu sini." Tegas Rendra berucap.
"Iya iya." Ucap Shita.
Dini turun dari pick up dengan loncat.
"Hati-hati Din!." Pekik Andi.
"Hehehe... iya Kak, makasih udah peduli." Dengan santai nya Dini berucap sambil cengar-cengir polos.
'Tok... tok... tok... assallammu'allaikum!!.' Seru Rendra.
"Wa'allaikum sallam, tunggu bentar!." Jawab seseorang yang di duga Rendra adalah seorang wanita.
'Ceklek!.' Pintu di buka.
"Mas nya... yang nganter lemari itu yah?." Tanya wanita oaruh baya yang di duga Rendra berusia seperti Ibu nya.
"Iya Bu benar, ini lemari nya di taruh sini aja atau di masukin sekalian?." Tanya Rendra.
"Kalo bisa tolong masukin sekalian yah Mas." Pinta Ibu nya.
"Iya Bu." Jawab Rendra.
Rendra di bantu Andi dan Panji menurun kan lemari dari mobil pick up.
"Kak Shita? Kita ngga bantu in nih?." Tanya Dini.
"Kita bantu in." Ujar Shita.
"Mana? Orang Lu cuma duduk doang nyantai." Timpal Panji.
"Kita bantu in doa dari sini." Lanjut Shita sambil terkekeh pelan melihat wajah kecut Panji.
Dini ikut tertawa pelan.
"Haduh terserah deh, cewek emang selalu bener." Cetus Panji mengalah.
Setelah menyelesai kan tugas mengantar lemari, kini mereka ber 5 meluncur pulang ke rumah.
"Kita main dulu kuy, jangan pulang dulu." Ajak Panji.
"Kemana mau kemana?." Tanya Andi.
"Ke tempat biasa pas kita pengen teriak aja." Ajak Shita.
"Kamu pengen teriak kah?." Tanya Rendra yang di jawab dengan angguk kan cepat dan antusias oleh Shita.
"Ada masalah apa Lu Ta pengen teriak?." Tanya Andi kepo.
"Emang kalo teriak tuh harus ada masalah nya dulu? Aku pengen aja ke sana, apa lagi personil kita tambah satu, Dini kan ngga penah tau rasa nya di sini, bener sih di tempat tinggal nya dulu juga desa, tapi kan aku yakin ngga seseru di sini, bener kan Dini?." Tanya Shita panjang lebar.
"Hmm... Kak Shita bener, di sana ngga seseru di sini, di sana terlalu banyak orang, aku aja kalo ada masalah terus mau teriak ngga bisa, jadi bisa nya cuma nangis sampe ketiduran, hahaha... ." Tawa Dini garing.
Shita Rendra, Panji, Andi hanya terkekeh pelan.
"Ouh iya, Din? Kamu... ke sini udah selesai ujian kan?." Tanya Shita khawatir.
"Udah kok Kak, bahkan aku udab terima Ijazah, hehehe... tinggal cari kerja aku sekarang." Senang Dini karena sudah lulus SMA.
"Kalo boleh tau, kamu dulu SMA apa SMK?." Tanya Panji.
"Aku SMK, ambil jurusan tata boga." Ujar Dini.
"Tata boga? Wawww... kebetulan yang sangat baik banget, aku buka toko kue di jalan besar deket desa Singo Joyo, kamu kerja sama aku aja mau ngga?." Tawar Shita pada Dini.
"Wah! Mau Kak aku mau!." Antusias Dini berucap dengan penuh semangat juga kepalan nya mengangguk dengan cepat, dia bahagia.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung dulu ya guys😁.
Sengaja Author up nya pagi buta soal nya Author pagi mulai pukul 8 mau nugas, ini udah 2500 kata loh😊.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.