
Mentari bersinar terang diufuk timur.
Semua penghuni kediaman Fathan telah bangun dan sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Seperti lainnya Zarine juga sibuk didapur berkutat dengan alat masak.
Mama mertuanya belum bangun, mungkin beliau kecapean karena kemarin memasak untuk 6 keluarga.
Meski sudah dibantu oleh lainnya, tapi tetap saja rasa lelah hinggap.
Saat memotong bawang didapur, tiba-tiba dari belakang seseorang memeluk.
'Grep.'
"Pagi?." Sapa Zarine.
"Pagi juga." Sapa balik Rafka.
"Udah mandi?." Tanya Zarine.
"Udah, kamu kok masak sih Yang? Apa gunanya para ART?." Celutuk Rafka.
"Raf, selagi mampu, kenapa engga?." Kata Zarine dengan menolehkan kepalanya kearah suaminya yang sedang bersandar pada lehernya.
"Tapi ini dirumah, bukan diapart, kalo diapart kan cuma kita berdua, kalo disini banyak orang, kalo kamu capek gimana." Cerocos Rafka panjang lebar.
"Aku ngga papa Yang, emang masak berapa orang sih sampe capek? Kan cuma kita, Mama, Papa, sama Bang Idan, para ART sama lainnya masak sendiri." Balas Zarine.
"Iya sih, tapi kan...?." Perkataan Rafka terpotong karena bibirnya telah dibungkam oleh Zarine dengan kecupan.
"Morning kiss ya?." Tanya Rafka dengan memperdalam kecupan Zarine.
"Udah ah sana, kalo kamu disini aku ngga siap nanti masaknya, kamu duduk disana dimeja makan nanti sebentar lagi aku selesai." Bujuk Zarine pada suaminya yang manja ini.
"Engga, aku ngga mau, disini aja, posisinya udah pas soalnya." Tolak Rafka.
"Tapi aku susah geraknya Yang, dan lagi, malu tau kalo ada yang liat, kalo Mama atau Papa liat gimana? Terus Bang Idan liat gimana?." Tanya Zarine dengan nada agak khawatir.
"Biarin mereka liat, kita kan udah sah, jadi ngga papa dong?." Balas Rafka cuek.
Sekarang posisi Rafka Zarine memang menyilaukan mata saat dilihat orang jomblo😂.
Rafka memeluk perut Zarine dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipundak sebelah kanan Zarine.
Dari belakang, tiba-tiba seseorang memecah suasana yang manis itu.
"Astaghfirullah!! Mata Gua pagi-pagi liat ngga bener! Dosa kalian memperlihatkan keromantisan dirumah dan dilihat orang jomblo lagi." Ucap Bang Idan dengan memejamkan mata erat dan keluar dari dapur.
"Tuh kan, udah yaaa, kamu duduk dimeja makan aja, nanti aku bikinin teh." Bujuk Zarine dengan wajah sudah memerah malu karena terpergok.
Sebenernya Bang Idan itu hanya bercanda.
Tapi Zarine terlanjur malu dan salah tingkah.
"Ok kalo gitu." Kata Rafka menyetujui bujukan Zarine.
Dia pergi dari dapur lalu ikut duduk dengan Bang Idan dimeja makan.
"Ganggu aja Lo Bang." Sungut Rafka kesal.
"Hehehehe, habisnya masih pagi juga." Kekeh Bang Idan.
Rafka mendengus mendengar jawaban Bang Idan.
"Makanya nikah biar ngga jomblo." Celutuk Rafka.
"Butuh proses buat nemu calon." Balas Bang Idan dengan mendelikkan mtanya seperti ingin keluar, Rafka pun melakukan hal yang sama.
"Lah ini kenapa pagi-pagi kok udah pelotot-pelototan mata sih?." Tanya Mama yang baru memasuki dapur diikuti Papa.
"Ini Ma, Pa, masa pagi-pagi Rafka peluk-peluk Zarine didapur? Mesra ngga liat tempat emang." Adu Bang Idan.
"Ahahahaha, Bang Idan iri gitu? Kalo iri nikah Bang." Tawa Papa yang diikuti Mama.
"Bener tuh, lagian mereka udah nikah, ya wajar dong pelukan." Bela Mama.
"Ya kan bisa dikamar, jangan didapur." Sungut Bang Idan kesal yang tak mendapat pembelaan.
"Gua tadi saat peluk Za kondisi dapur sepi, terus Lo dateng, keganggu deh kegiatan kita." Balas Rafka cuek.
"Ahahaha, nikah Bang biar tau rasanya gangguin istri, seru tau." Kata Papa.
"Is!, Papa apaan sih?." Jawab Mama.
Zarine datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi 4 teh hangat.
"Za? Kamu masak?." Tanya Mama.
"Iya Ma, maaf kalo nanti masakannya gak cocok sama selera Mama, Papa, dan Bang Idan." Kata Zarine.
"Pasti enaklah, udah selesai kah masaknya?." Tanya Mama lagi.
"Udah kok Ma, tinggal dibawa kesini aja." Jawab Zarine.
__ADS_1
Setelah itu Zarine dibantu ART membawa makanan kemeja makan.
Dimeja makan, Mama melayani Papa dan Zarine melayani Rafka.
"Nasib banget belum ada istri, apa-apa dinomer duakan." Celutuk Bang Idan pelan.
"Nikah sana kalo mau di nomer satukan." Balas Rafka yang mendengar celutukan Abangnya.
"Iya, nanti kalo Lo ama Zarine udah punya anak, Gua nikah." Balas Bang Idan.
"Bener nih Bang?." Tanya Mama.
"In syaa allah, hehehe." Kekeh Bang Idan.
Setelah itu, mereka memakan sarapan dengan tenang tanpa ada pembicaraan.
Selesai sarapan, mereka masih ada dimeja makan duduk mengobrol disana.
"Rafka? Zarine? Kapan kalian mulai program punya momongan?." Tanya Mama.
"Rencananya nanti Ma, pas kelas 3 semester 2." Jawab Rafka.
"Mama ngga maksa kalian kok, kalo kalian belum siap juga ngga papa, Mama maklumi soalnya kalian masih muda banget." Kata Mama.
"Makasih Ma, tapi beneran in syaa allah Zarine siap." Ucap Zarine.
"Kalo kamu hamil, ngga kuliah dong Dek?." Tanya Bang Idan.
"Aku ngga papa Bang, dan lagi emang itukan konsekuensinya kalo nikah muda? In syaa allah Zarine ikhlas." Balas Zarine.
Bang Idan hanya membalas senyuman mendengar perkataan Zarine.
'Adik ipar Gua emang beda dari yang lain.' Batin Bang Idan kagum dengan adik iparnya.
Sedang seru-serunya mengobrol.
Dari pintu ruang makan seseorang memberi salam.
"Assallammu'allaikum."
"Wa'allaikum sallam." Jawab semua orang yang ada dimeja makan.
"Eh, Rafa? Sini Raf duduk." Suruh Papa dengan menepuk kursi disebelahnya.
"Iya Om, Rafa ngga lama juga, Rafa ada kepentingan sama Zaidan bahas soal kerjaan." Kata Rafa.
"Kita bicarain diruang kerja Gua aja." Kata Bang Idan dengan berdiri dari duduknya.
"Lo keatas dulu aja sana, Gua pengen peluk Zarine dulu." Suruh Bang Rafa.
Bang Rafa menyapa Zarine dan memeluknya sebentar.
Rafka sudah memasang wajah kecutnya saat istrinya memeluk saudara kandungnya itu.
"Biasa muka Lo Raf, gak bakal Gua bawa pergi juga." Kata Bang Rafa setelah melepas pelukannya.
"Abang pergi dulu ya." Pamit Bang Rafa.
"Iya." Balas Zarine dengan mencium punggung tangan Abangnya.
"Possesive banget sih kamu Raf?." Goda Mama.
"Iya dong, kalo ngga nanti bisa diambil orang." Jawab Rafka yang membuat wajah Zarine menunuduk menyembunyikan muka merah malunya.
"Rafka sama Zarine kedepan dulu Ma Pa." Pamit Rafka dengan menarik tangan Zarine lembut.
"Iya sana deh." Kata Mama.
Rafka Zarine sampai teras rumah.
Keduanya duduk diayunan yang ada disana.
Dari arah gerbang depan suara ribut terdengar.
"Sana, Gua dulu Abdiel! Laki tuh ngalah ama yang perempuan." Kata Akifa.
"Ogah." Balas Abdiel.
"Udah kalian dari tadi dimobil ribut mulu perasaan." Lerai Alfi.
Dan setelah lama berdebat memasuki gerbang, ternyata Akifa dan Alfi yang masuk duluan.
"Ngalah Bro ama cewek, hehehe." Kata Abhi pada Abdiel yang mukanya sudah tertekuk.
"Assallammu'allaikum." Salam Alfi, Akifa, Abdiel dan Abhi bersamaan.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Rafka Zarine.
"Ada pa an nih?." Tanya Rafka to the point.
"Ngikut kita kuy, kita mau main kepantai lagi." Ajak Abdiel pada Rafka Zarine.
Yang diajak saling pandang.
__ADS_1
"Mau ya? Please?." Pinta Akifa memelas.
Rafka memandag Zarine meminta pendapat.
"Aku ikut kamu aja." Kata Zarine.
"Ok, ayo berangkat." Setuju Rafka.
"Kenapa kalian ngga ngabarin dari kemarin?." Tanya Rafka.
"HP lo ngga aktif, kita udah spam chat Lo masih ngga aktif juga ya udah deh baru pagi ini kita kasih kabar." Terang Akifa.
"Ngga bawa apa-apa nih ke pantai?." Tanya Zarine.
"Kita belanja disana aja." Kata Alfi.
Rafka Zarine mengangguk lalu masuk kerumah meminta ijin Mama Papa.
Mereka ngga ijin ke Bang Rafa dan Bang Idan karena ruang kerjanya ada tulisan 'Dilarang Masuk', jadi Rafka Zarine langsung berangkat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.
6 serangkai itupun sampai dipantai.
Mereka hanya duduk diatas pasir dengan melihat ombak yang berdebur pelan.
"Cuma diem aja nih?." Tanya Alfi.
"Mau ngapain kalo ngga duduk diam?." Tanya Zarine.
"Kuylah jalan-jalan." Ajak Akifa yang diangguki lainnya.
Rafka, Zarine, Abdiel, Akifa, Abhi, Alfi berjalan dipesisir pantai dengan bergandengan tangan.
"Wah... wah... wah, lagi liburan nih." Sapa Roy.
"Lo? Sama siapa disini?." Tanya Akifa.
"Gua sendiri kesini, eh iya mohon maaf lahir batin ya untuk kalian semua, maafin semua kelakuan Gua yang salah sama kalian semua." Kata Roy.
"Ok, kita juga mohon maaf lahir batin ama Lo." Balas Rafka mewakili lainnya.
"Ngomong-ngomong, Lo kemana aja beberapa bulan ini? Kok ngilang gitu aja setelah pertemuan kita bulan lalu?." Tanya Abhi.
"Hehehe, Gua sibuk banget sama kerjaan, harus keluar kota, keluar negeri, padet bangetlah pokoknya, ini aja lusa Gua ke luar kota lagi." Kata Roy menjelaskan kesibukannya.
Sedang seru-serunya mengobrol, dari arah belakang Roy seseorang menyapa.
"Jadi sekarang musuh udah akur nih?." Kata Sari dari arah belakang Roy.
"Udah Sar, ayo kita pergi." Ajak Tika.
"Dateng-dateng bukannya mohon maaf lahir batin malah nyibir." Kata Abdiel yang tak dihiraukan oleh Sari.
"Jadi udah utuh nih formasinya?." Tanya Sari lagi mengacuhkan ajak kan Tika.
"Dasar Medusa." Celutuk Akifa.
"Kenapa? Iri Lo sama kita semua?." Ledek Alfi.
"Cih, ngga sama sekali, ngapain iri? Ouh iya, kalian masih ingat sama peringatan Gua kan? Akan ada sesuatu besar akan terjadi, terutama buat Lo ja**ngtunggu aja!." Kata Sari dengan menunjuk Zarine.
Rafka hampir saja lepas kendali ketika mendengar hinaan Sari pada istrinya.
Tapi Zarine mencegah sambil berbisik... .
"Udah biarin aja dia mau ngomong apa, ngga usah dimasukin hati." Kata Zarine dengan berbisik.
"Sesuatu? Lo mau bunuh kita? Ouh atau Lo ngerencanain kecelakaan buat kita semua? Denger Medusa, kita semua ngga takut mati, karena semuanya juga akan ngerasain, Gua tunggu sesuatu itu." Kata Alfi yang dibalas putaran bola mata malas oleh Sari.
"Udah! Ayo Sar, kita disini mau liburan, bukan ngajak orang ribut." Lerai Tika.
"Ngga jadi liburan disini, dah males Gua, kita pulang aja, Rafka, aku pulang dulu ya." Pamit Sari dengan nada manja yang menjijikan menurut Rafka dan lainnya.
"Pergi ya pergi aja, ngga perlu pamit, ngga penting juga." Kata Rafka.
Setelah itu Sari pergi dengan perasaan kesal.
'Awas kalian semua, terutama Lo Zarine ja**ng.' Batin Sari.
"Pacar Lo tuh Roy." Kata Abhi.
"Bukanlah, dahlah jan bahas dia, lanjutin aja liburannya, Gua ngikut kalian yak?." Pinta Roy yang diangguki Rafka dan lainnya.
6 serangkai ditambah dengan Roy, bermain dipantai hingga sore hari.
Setelah melihat sunset baru mereka pulang kerumah masing-masing.
......Bersambung.........
...Like & Komennya ditunggu ya..😍...
...Ouh ya, jangan lupa mampir dinovel baruku......
__ADS_1
...Klik profilku aja😚...
...Salam sayang dari ViCa😋...