Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Seratus enampuluh tiga


__ADS_3

SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.


MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU


MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, MAAF SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.


******************************


-


-


"Capek nangis yah, maaf udah ngomelin kamu panjang lebar, habis nya kamu bahas nya yang engga-engga sih, jadi aku harus jelasi panjang lebar deh, jangan di ulangi Za, aku mohon ini yang terakhir, in syaa allah aku ngga akan ninggalin kamu kalo bukan Allah semdiri yang jemput aku." Rafak berbicara pada Zarine yang tengah tidur.


Setelah itu mobil kembali melaju meninggal kan tempat berhenti mereka tadi.


Mobil Bamg Rafa melaju di sebelah Rafka.


"Ada apa Raf?." Tanya Bang Rafa khawatir.


"Ngga ada papa." Jawab Rafka dengan di iringi senyum menenang kan sang kakak ipar nya ini.


"Kami ngga bohong kan Raf?." Tanya Raina yang khawatir.


"Bener Kak, aku sama Za ngga papa, noh dia lagi pules, kalian dulu aja gih, jangan bawa mobil jejer gini, di marahin sama pengguna jalan lain entar kita." Suruh Rafka pada ke dua Kakak ipar nya.


"Ok, hati-hati kita dulu an, assallammu'allaikum." Salam Bang Rafa dan Raina.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Rafka dan mobil Bang Rafa pun meluncur meninggal kan mobil Rafka.


'Khemmm huuuffhhh.' Helaan nafas lega terdengar dari Rafka.


-


-


-


...L A N J U T A N...


...P A R T...


...K E M A R I N . . ....


-


-


-


Bagi Rafka pertengkaran nya dengan Zarine jangan sampai di ketahui oleh siapa pun termasuk Bunda yang tinggal di rumah nya sekali pun.


Menurut Rafka permasalahan rumah tangga adalah hal privasi tak ada yang boleh tau sekali pun itu Ibu mereka.


(Thor?! Lu oon atau apa sih?! Nama nya masalah rumah tangga ya ngga boleh ada yang tau lah!). Rafka yang genteng.


(Hiks! Ya maklumi aja napa ngga usah keras gitu ngomong nya, iya-iya Gua salah, tuh nama Lu ngga cocok sama sekali). AuthorGesrek.


(Dah jan banyak bicit!). Rafka yang ganteng.


'Back Story.'


Mobil Rafka melaju kan mobil nya kembali.


Beberap menit kemudian mobil Rafka sampai di garasi rumah nya.


"Raf? Lu sama Zarine tadi kenapa berenti di pinggir jalan? Kalian ngga papa kan?." Tanya Abdiel yang tiba-tiba menghampiri Rafka sang sahabat.


"Iya Gua ama dia ngga papa, thank's udah khawatir." Ujar Rafka dengan menepuk pundak Abdiel sekali.


"Ya syukur deh kalo kalian ngga papa, Gua balik ke rumah dulu, assallammu'allaikum." Salam Abdiel dan kemudian suami Akifa ini pergi.


Rafak juga berlalu masuk ke dalam rumah sambil menggendong tubuh Zarine yang tertidur pulas di dalam mobil tadi.


"Assallammu'allaikum." Salam Rafka.


"Wa'allaikum salam, eh? Ini Za kenapa?." Tanya Bunda.


"Ketiduran Bun, biasa kita tadi dari pantai dia aktif banget sama lain nya jadi gini deh, molor pas di mobil, em... Bun? Rafka pamit mau ke kamar dulu, udah ngga kuat gendong, berat, hehehe permisi Bunda." Rafka pamit masuk ke dalam kamar nya setelah mendapat angguk kan dari Bunda mertua nya ini.


Sampai kamar, Rafka merebah kan sang istri dengan samgat hati-hati agar tak terbangun.


Segera Rafka mengganti kan baju Zarine. Sebelum memakai kan baju ganti, Rafka mengelap tubuh Zarine dengan kain basah pengganti mandi kemudian dia memakai kan baju pada sang istri tercinta nya ini dan ikut berbaring.


Rafka tidur menemani sang istri sampai tak terasa adzan dzuhur telah berkumandang.


Pukul 12.45 siang, baru Zarine bangun.


Dia menatap tangan kekar yang melingkar di perut nya, dan menatap wajah pemilik tangan kekar itu.


'Jahilin ngga masalah kan?.' Batin Zarine dengan senyum jahil nya.


Zarine menusuk-nusuk pipi Rafka dengan terkekeh kecil.


'Lucu banget, dia ngga bangun.' Batin Zarine gemas.


"Ehmm... Yang?." Tegur Rafka dengan menangkap ke dua tangan Zarine yang menusuk-nusuk pipi nya.


Kemudian Rafka menggigit kecil jari Zarine itu.


"Hehehe... ayo bangun, kita belum sholat dzuhur loh, ini udah hampir jam satu." Ajak Zarine pada Rafka.


"Hem bentar." Rafka meminta menunda dia malah memilih mengerat kan peluk kan nya pada sang istri.


Zarine yang mendapat peluk kan erat itu juga malah mencari posisi nyaman nya, istri Rafka ini menelusup kan wajah nya di leher Rafka.


Menghirup aroma khas milik Rafka yang menurut nya menenang kan.


"Yang? Kamu pake parfum apa sih? Bau nya wangi banget." Ujar Zarine memuji.


"Hah? Wangi? Aku belum mandi dan ngga pake parfum Yang, wangi dari mana nya sih? Ngaco kamu ah." Balas Rafka sambil terkekeh pelan mendengar perkataan sang istri yang sudah sering ia dengar jauh-jauh hari sebelum hari ini.


"Dah ayo mandi." Kata Rafka.


Dia melepas peluk kan nya dan bangun dari tidur nya, Rafka bersiap melangkah menuju kamar mandi.


Tiba-tiba... .


"Yang?." Panggil Zarine lembut.


"Apa sayang?." Sahut Rafka.


"Gendong." Manja Zarine meminta.


"Haishhh! Manja nya istri aku aku." Kata Rafka.


Dan... hap!.


Zarine ada di gendongan Rafka.


"Uh! Berat badan kamu berapa sih Yang?." Tanya Rafka dengan tertawa menggoda istri nya.


"Lupa, kemarin pas periksa aku ngga terlalu ingat, kata dokter nya naik ada 3 kilo an, kenapa? Jelek yah kalo aku gendut?." Tanya Zarine dengan wajah cemberut tertekuk ke bawah.


"Ish! Pikiran nya! Kamu canti tambah cantik tau di mata aku, ngga usah ngaco kalo ngomong!." Seru Rafka.


Setelah perdebatan yang tak ada habis nya itu selesai, 2 sejoli itu masuk kamar mandi dan mandi bersama di bawah guyuran air hangat dari shower.


Tentu saja kalo Rafka ikut mandi maka tak cukup jika hanya 10 menit, meski tak sampai jauh, Rafka menyempat kan diri menggoda sang istri lewat tangan dan bibir nya. Dan Zarine tentu saja membalas nya.


Selesai mandi, mereka berganti pakaian dan tentu saja langsung sholat dzuhur.


Pukul 13.30 siang, mereka makan siang, kali ini hanya berdua karena Bunda sudah makan dulu tadi.


Hari telah berganti.


Terhitung hanya tinggal 1 hari lagi resepsi pernikahan di gelar.


Kini 5 keluarga junior duduk di gubuk di dekat rumah Rafka Zarine.


Mereka berbincang tentang acara besok. Di tengah perbincangan, Kak Raina merenung diam tak berbicara sama sekali.

__ADS_1


Zarine sang adik ipar menatap Kakak Ipar nya ini dengan menghela nafas sedih.


'Pasti Kak Rain sedih karena Shita belum dateng.' Batin Zarine berbicara.


"Ada apa Yang?." Bisik Rafka tepat telinga Zarine.


"Kak Rain lagi sedih, oasti kepikiran sama Shita yang ngga dateng-dateng." Zarine menyampai kan isi hati nya.


"Mereka pasti dateng, percaya deh." Rafka menghibur sang istri.


"Kak Rain?." Panggil Zarine pada Kakak Ipar nya itu.


Kak Raina yang melamun itu terkejut dan langsung menatap Zarine sambil menaik kan ke dua alis nya ke atas.


"Ada apa Za?." Tanya Kak Raina gelagapan.


"Jangan melamun aja Yang." Tegur Bang Rafa pada sang istri tercinta nya.


Kak Raina tersenyum manis menanggapi omongan sang suami tercinta nya itu.


"Mereka pasti datang Kak, percaya deh." Hibur Zarine di iringi senyum yang menyakin kan.


"Semoga." Gumam Kak Raina lirih.


"Pasti dateng." Bang Rafa memeluk sang istri dari samping sambil mencium pelipis nya lembut.


"Cuma Shita keluarga yang aku punya, kalo dia ngga dateng gimana?." Tanya Kak Raina, ke khawatiran terpampang jelas di ke dua mata nya terutama wajah nya.


'Tring... ring... ring... .' Ponsel Bang Rafa tiba-tiba berbunyi nyaring.


Dia melihat ponsel nya itu.


"Rendra nih telfon." Beri tahu Bang Rafa yang membuat Kak Raina sang istri bahagia.


"Angkat Yang." Seru nya yang di angguki Bang Rafa.


Bang Rafa menjawab panggilan dari Rendra dan tak lupa men speaker suara Rendra di seberang sana.


"Assallammu'allaikum?." Salam Shita dan Rendra bersamaan.


"Wa'allaikum sallam." Jawab Bang Rafa Kak Raina juga lain nya kompak.


"Wah lagi ngumpul yah?." Tanya Shita sangat heboh di sana.


"Dek? Kamu ke sini kan?." Tanya Kak Raina tak mengindah kan pertanyaan Shita sang adik sepupu nya tadi.


"Engga." Balas Shita datar tanpa dosa, kemudian terdengar kekehan di sana.


'Yang? Ish! Jangan suka gitu ah, ngga baik tau!.' Suara Rendra terdengar menegur Shita di sana.


"Hahahaha... iya-iya kita ber 5 ada di dalam kereta OTW ke sana." Kata Shita dengan tawa keras nya.


'Di kontrol Yang ketawa nya.' Suara teguran Rendra terdengar lagi dan itu membuat Kak Raina dan lain nya ketawa.


"Ck! Berisik! Diem!." Ketus Shita di sana.


"Jangan galak-galak Ta, kasian Rendra." Kata Kak Raina memperingatkan.


"Dia sih cerewet." Shita menyalah kan Rendra.


"Tolongin Gua Rain, di marahin terus Gua di sini." Adu Rendra pada Kakak sepupu istri nya ini.


"Cari yang baru Dra." Solusi yang bisa mendatang kan bencana di layang kan Abdiel.


"Boleh tuh, di sana pasti banyak yang bening-bening." Sahut Rendra meladeni dengan di sertai kekehan lirih.


"Coba aja cari, kalo ngga Gua lempar Lu ke laut jangan panggil nama Gua Shita Ayuningsih!." Seru Shita yang dengan judes.


"Hahahaha... ." Tawa dari Rendra dan lain nya pecah jadi satu.


"Eh? Ngomong-ngomong kalian tadi bilang kita ber 5, yang satu siapa?." Tanya Alfi.


"Yang satu nya siapa lagi kalo bukan calon nya Andi." Ujar Shita blak-blak an.


Dini yang kala itu duduk di sebelah Shita yang tentu saja mendengar pembicaraan Shita juga Kakak sepupu nya itu langsung menunduk kan kepala malu, wajah nya merah merona menahan malu.


Shita melirik Dini dan istri Rendra itu kemudian tertawa terbahak dengan pelan karena melihat gadis di samping nya malu.


"Ouh Dini? Wah kalo calon nya Andi, bentar lagi nikah dong?." Tanya Akifa senang di seberang sana.


Pipi Dini semakin merah mendengar omongan Akifa di sana.


"Ya pasti lah Fa, mereka pasti nikah, tapi ngga sekarang, 2 sejoli nih lagi ngambang soal nya hubungan nya, masih belum jelas mau di bawa ke mana hubungan nya." Panjang Shita menjelas kan.


"Hihi... kasian yah Dini di gantung." Cetus Tika terkekeh.


'Ngga di gantung, dia belum cukup umur kalo harus nikah, jadi mending gini aja deh.' Andi menyahuti omongan Tika itu dengan nada datar nya.


"Hmmm... masa sih? Hahahaha... ." Tawa Kak Raina terdengar di tempat Shita.


"Bosen tau Kak sebener nya denger kode-kode ngga jelas dari mereka." Cetus Shita mengutara kan isi hati nya yang sangat jujur itu.


"Ya maklum aja deh Ta, mereka kisah cinta nya ke se bar-bar kamu dulu, kalo kamu dulu kan ngungkapin ke Rendra, mereka kan masih malu-malu kucing." Kata Kak Raina dengan terkekeh kecil.


"Ck! Menurut ku yah, kalo suka yah bilang aja, entar kalo di embat orang kan berabe, ambyar lagi nanti, hadehhh ribet deh jadi nya, pusing." Tutur Shita yang memang niat hati memanas-manasi Andi.


"Dini? Situ ada Dini kan?." Tanya Akifa yang menanyakan Dini.


"Iya nih ada di sebelah aku anak nya Fa, ngomong aja dia denger kok." Titah Shita pada Akifa yang menanya kan Dini.


"Dini? Jangan mau di gantung, minta kepastian Din, kita kaum perempuan harus dapet kepastian dong, jangan cuma di anggurin doang." Bak orang demo Akifa menyeru kan suara nya pada Dini.


"Bener tuh Din, kalo ngga mau kasih kepastian mending tinggalin aja, masih banyak tau cowok yang ngantri buat kamu, kita yakin itu." Timpal Tika menasihati Dini.


"Dini masih kuat nunggu Kak, lagi pula kan kalo jodoh ngga kemana, hehehe... ." Jawab Dini dengan terkekeh pelan.


Dia mengatakan itu dengan tertunduk malu, dalam hati nya dia merutuki kata-kata nya sendiri yang seperti mengharap kepada Andi yang notabe nya sahabat dari Shita.


"Tunggu aja terossss sampe rambut ubanan." Sahut Abdiel di seberang sana.


"Hahaha... ya udah kita tutup dulu ya Kak Rain, in syaa allah kita sampe sana dzuhur atau kalo engga ba'da dzuhur, tunggu kita, Kak Rain ngga usah sedih, kita bakal dateng kok, percaya sama Shiya Kak, in syaa allah Shita ngga akan kecewa in Kakak." Jelas Shita panjang lebar.


"Iya Kakak percaya, ya udah kalo gitu, kalian nikmatin perjalanan nya deh, eh ngomong-ngomong, kalian ke sini naik apa?." Tanya Raina sebelum memutus kan sambungan telefon nya.


"Kita naik kereta, kalo motor ngga mungkin." Jawab Shita dengan cepat.


"Kenapa motor ngga mungkin?." Tanya Kak Rain dengan mengerut kan dahi nya dalam seolah Shita bisa melihat.


"Jauh Kak, mana mampu kita." Cetus Shita menjelas kan.


"Hahahaha... iya yah, ya udah deh kita tutup dulu, assallammu'allaikum sampai jumpa nanti." Pamit Kak Raina.


"Wa'allaikum sallam, iya." Jawab Shita dan panggilan pun berakhir.


"Udah lega Kak?." Tanya Zarine pada Kak Raina sang Kakak Ipar nya ini.


"Udah alhamdulillah." Jawab Kak Raina dengan pancaran kebahagiaan yang sangat jelas terlihat di mata nya.


Yang tadi Kak Raina sedih wajah nya murung, kini wajah murung itu terganti kan dengan senyum senang yang begitu memancar.


"Dah, masalah Shita udah selesai, sekarang mari kita bahas tentang Cafe yang udah jadi dan tinggal ngasih nama itu, mau di kasih nama apa nih?." Tanya Bang Idan mengubah topik pembicaraan.


"Nama Cafe yah?." 5 wanita ini berpikir dengan serius.


Mereka semua diam dan sibuk berpikir dengan otak nya itu.


"Gimana kalo ZaKi-AlNaKa? (Zarine Akifa Alfi Raina Tika)." Tanya Zarine.


"Apa an tuh?." Tanya Tika bingung dengan nama itu.


"ZaKi-AlNaKa arti nya Zarine, Akifa, Alfi, Kak Raina, dan Tika." Jelas Zarine panjang lebar.


"Ngga kepanjangan nama nya Yang?." Tanya Rafka.


"Nah itu dia masalah nya." Kata Zarine sambil tertawa pelan. Dia sadar bahwa nama yang ia usul kan terlalu panjang.


"Tapi bisa di pertimbangin kok nama itu." Timpal Alfi.


"Gimana kalo ZAARA Cafe?." Usul Kak Raina.


"ZAARA Cafe? Singkatan apa lagi itu?." Tanya Akifa.

__ADS_1


"Sama kaya punya Zarine tadi, arti nya ZAARA itu nama kita Zarine, Akifa, Alfi, Raina, Tika." Jelas Kak Raina.


Semua nya diam menimbang-nimbang usulan Kak Raina dan Zarine.


"Aku setuju ide punya Kak Raina." Keputusan Zarine lebih dahulu tersampai kan.


"Aku juga setuju." Timpal Akifa dengan angguk kan cepat dan semangat nya.


"Kami juga setuju." Seru Alfi dan Kak Raina kompak bersamaan.


"Kalian para cowok gimana?." Tanya Raina menanyakan pendapat para pria yang berjajar di belakang para wanita itu.


"Kami setuju aja selagi kalian setuju." Balas Bang Rafa yang di angguki oleh Rafka dan 3 pria lain nya.


"Jadi? Kapan pembukaan Cafe nya?." Tanya Akifa antusias.


"Secepat nya, tunggu papan nama nya udah kelar nanti." Jawab Abdiel dengan mencium pelipis Akifa.


"Lama ngga?." Tanya Akifa lagi.


"Mungkin besok udah jadi, pembukaan Cafe nya bisa kita laku in sambil buka bersama awal bulan puasa lusa." Jelas Abdiel yang di angguki sang istri tercinta juga lain nya.


"Kira-kira Shita Rendra ama lain nya berapa hari di sini yah?." Tanya Zarine.


"Kita tahan mereka pulang sampai acara pembukaan ZAARA Cafe." Kata Kak Raina dengan senyum devil nya.


"Hihi... seru nih." Cetus Akifa senang.


"Aku juga mau Dini lama-lama di sini." Timpal Alfi.


"Ahh iya Dini, kita introgasi dia nanti, kok bisa sih dia mau sama Andi? Di Andi itu kan sifat nya ngga bisa di tebak." Kata Kak Raina dengan muka cemberut nya.


"Dan yang paling aneh, kok bisa sih dia suka sama Andi?." Tanya Akifa heran.


"Masa cinta pandaang pertama sih? Ya kali." Ucap Alfi yang tak percaya cinta pada pandang pertama.


"Kita kan juga cinta pandang pertama asal Lo tau aja Al." Cetus Bang Rafa memberi tahu.


"Eh? Iya yah." Balas semua orang dan kemudian mereka tertawa.


Setelah membahas banyak hal, 5 keluarga kecil itu pulang ke kediaman masing-masing.


Waktu terus berputar.


Tak terasa jam sudah menunjuk kan waktu ba'da dzuhur.


"Yang? Ayo kita jemput Shita Rendra sama lain nya." Ajak Kak Raina semangat.


"Iya tunggu aku ganti baju dulu." Kata Bang Rafa.


"Ngga usah deh gitu an aja, kamu ganteng udah." Cegah Kak Raina, dia bermaksud tak mau menunggu lama.


"What?! Aku cuma pake celana pendek sama kaos oblong ini Yang." Cetus Bang Rafa yang menyebut kan apa yang tengah ia pakai saat ini.


"Kamu ngga telanjang kan? Ya udah ayo buruan." Kak Raina sampai mendorong-dorong tubuh tegap suami nya dan sayang nya itu tak membuat Bang Rafa bergerak satu centi pun.


"Kok ngga gerak sih?! Ayo Yang." Kak Raina jengkel hingga hampir menangis di buat Bang Rafa.


"Hahahaha... iya deh iya ayo berangkat, istri aku lucu banget kalo lagi merajuk gini." Goda Bang Rafa sambil mencubit pipi Kak Raina pelan.


"Dah ayo, ambil kunci mobil sana." Perintah Ibu Ratu yang sesegara mungkin di laksanakan Bang Rafa.


2 sejoli ini keluar menuju garasi.


"Kamu chat anak-anak, mau ikut jemput Rendra Shita ngga? Kalo mau suruh pake mobil sendiri-sendiri." Cetus Bang Rafa meminta tolong pada Kak Raina.


Sesuai permintaan sang suami, dia mengirim pesan pada Rafka Zarine dan lain nya untuk mengajak menjemput Rendra Shita.


3 menit kemudian.


"Gimana?." Tanya Bang Rafa. Kini posisi Bang Rafa dan Kak Rain duduk di dalam mobil siap meluncur meninggal rumah.


"Mereka ikut, mereka satu mobil sama punya Rafka kata nya." Beri tahu Kak Raina pada suami nya ini.


"Ok kalo gitu, cus kita meluncur ke stasiun!." Seru Bang Rafa.


Mobil Bang Rafa sudah di tunggu mobil Rafka di depan ternyata.


Bang Rafa memasang earphone di telinga nya dan menelepon Rafka di mobil nya.


"Halo? Assallammu'allaikum?." Salam Rafka dan lain nya.


"Wa'allaikum sallam, Raf? Lu jalan dulu an aja gih." Suruh Bang Rafa.


"Siiap dah." Balas Rafka.


Mobil mereka pun ber iringan keluar dari perumahan.


"Ini Shita ngga ada telfon Kak?." Tanya Zarine pada Kak Raina, panggilan sengaja mereka hidup kan untuk berbincang.


"Ngga ada tuh, aku padahal udah nunggu dia telfon." Ujar Kak Raina.


"Jangan-jangan mereka belum sampe lagi." Seru Akifa heboh.


"Ya ngga papa lah kita nunggu in, sekali an jajan di sana, hahahaha... ." Tawa jahat Alfi di dengar oleh semua nya.


"Kalian bawa dompet kan?." Tanya Tika menatap para pria di dalam mobil.


Semua pria mengecek kantong nya dan... .


'Huuufffhhh... .' Helaan nafas lega terdengar.


"Alhamdulillah bawa, tenang aja, mau jajan apa aja di stasiun entar kita beli in, mau segerobak-gerobak nya sekali pun kita iya in." Sombong Abdiel yang di iya kan oleh pria-pria lain nya.


"Kalo kita mau Abang yang jualan boleh dong." Goda Akifa.


"Tentu a-, tunggu! Abang yang jualan?! Ngga ada!." Seru para pria menolak, membuat para wanita terbahak.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Bersambung dulu ya guys😁.


Like & komennya ditunggu ya guys... .


Maaf ngga nyambung😢🙏.


Maaf kalo garing😢🙏.


Maaf typo di mana-mana🙏😢.


Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.


Maaf cerita nya membosan kan😢.


Maaf gantung cerita nya😂.


Di lanjut besok ya readers😂.


Jangan marah karena di gantung yak guys😂.


Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.


Jaga kesehatan selalu readers.


Salam sayang dari ViCa😍.

__ADS_1


__ADS_2