
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU
MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
"Gini yah Kakak ku tersayang dengerin aku, kita jauh tapi saling mendoakan, kita juga bisa ke sini atau kalo engga kalian yang ke sana, jangan sedih-sedih." Ucap Shita menghibur, di akhir kalimat nya, Shita memeluk Kak Raina.
"Aku bakal kangen sama kalian." Ucap Raina dengan mata berkaca-kaca hendak menangis.
"Dah jangan nangis!." Cetus Shita dengan menangkup pipi Kak Raina yang sedikit cabby itu.
Selesai berkemas Rendra Shita dan lain nya tidur.
Pagi pukul 02.30 semua bangun dari tidur nya untuk sahur.
Sahur kali ini di lakukan di rumah Bang Idan Tika.
"Kalian jadi pulang hari ini?." Tanya Zarine.
"Jadi, ba'da subuh nanti kita pulang." Jawab Shita dengan tersenyum manis.
"Alifia? Jadi ikut?." Tanya Akifa.
"Hehehe... jadi dong Kak." Jawab Alifia dengan nyengir kuda.
"Betah emang?." Tanya Akifa yang ingin menggoyahkan niat Alifia tinggal didesa.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
"In syaa allah." Jawab Alifia dengan suara yang tertahan karena ragu.
"Cieee yang ragu." Goda Akifa sambil menahan tawa nya.
"Jangan terpengeruh Fia." Tegur Panji dengan menatap Akifa sinis.
"Takut di tinggal yah? Udah mulai jatuh cinta beneran yah?." Tanya Shita sambil berbisik di telinga Panji.
"Diem Lu!." Sahut Panji sewot.
"Siapa yang takut di tinggal siapa?." Tanya Alifia yang mendengar samar-samar bisik kan Shita.
"Ada deh." Shita menyembunyi kan bisik kan nya dari Alifia.
Alifia mendengus mendengar jawaban Shita di sertai memanyun kan bibir nya ke depan bak Bebek.
"Dah, jangan manyun, jelek kaya Bebek." Kata Panji acuh. Dalam hati sebenar nya Panji ingin tertawa melihat ekspresi merajuk yang di tunjuk kan Alifia.
Pukul 04.20 adzan subuh berkumandang tanda puasa telah di mulai. Rafka Zarine dan lain nya ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu' untuk sholat subuh.
Ba'da subuh lebih tepat nya pukul 04.45 semua orang sedang ada duduk di teras rumah Bang Rafa Kak Raina untuk bersiap mengantar kan Rendra Shita juga lain nya ke stasiun.
"Ini kita ngga pamit dulu sama tetuah Raf?." Tanya Rendra.
"Udah ngga usah, di sini udah ada Bunda, Lu pamit ama beliau sama aja pamit sama tetuah." Cetus Rafka yang di angguki lain nya.
"Ok deh kalo gitu." Jawab Rendra.
Setelah berpamitan pada Bunda dan Zarine juga lain nya, Rendra Shita juga lain nya hendak berangkat kestasiun.
Zarine, Akifa, Alfi, Tika, Kak Rain tak ikut mengantar karena para pria tak mengijin kan.
"Yang? Kita ikut dong." Akifa masih membujuk Abdiel untuk ikut.
"Ngga ada! Duduk rumah diam-diam." Tegas Abdiel berucap.
"Ck! Au ah!." Akifa merajuk, para wanita kemudian berlari kecil dan menubruk tubuh Shita, ternyata mereka ingin berpeluk kan.
"Hehehe... tenang... jangan sedih, kalo ada waktu lagi aku ke sini, atau kalo engga, kalian yang ke sana." Cetus Shita menghibur.
"Iya." Kompak para wanita menjawab.
Rendra Shita dan lain nya pun masuk mobil yang di kemudi kan Rafka, kendaraan roda empat itu melaju perlahan memecah jalanan yang masih jarang di lalui pengendara.
Se sampai nya di Stasiu. Semua orang dalam mobil keluar.
"Kalian langsung pulang juga ngga papa, bentar lagi kereta kita akan berangkat." Kata Rendra pada Bang Rafa juga lain nya.
"Kita bakal ikut sampai Lu masuk kereta, ayo." Ajak Bang Rafa yang memimpin jalan.
Pukul 05.10 menit kereta hendak berangkat. Rendra Shita juga lain nya sudah masuk dalam kereta dan duduk diam di kursi.
Dengan saling melambai kan tangan kereta perlahan bergerak menjauh dari stasiun dan berangkat ke tujuan.
"Ayo balik, Ibu Negara pasti udah mencak-mencak nih di rumah." Ajak Bang Idan pada Rafka dan lain nya.
"Tinggal Lu doang Bang." Cetus Abdiel yang di angguki lain nya.
Kini Bang Idan juga lain nya berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil dan meluncur pulang.
"Maksud Lu apa?." Tanya Bang Idan tak paham.
"Maksud Gua, tinggal kepergian Lu yang bakal kita anterin besok." Jelas Abdiel.
"Bener banget tuh, pasti banyak drama nya deh, apa lagi para Ibu Ratu kita." Rafka ikut menimpali.
"London." Sebut Bang Idan dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar satu mobil.
"Kalo aja si Frans bisa nanganin tuh perusahaan Gua kagak bakal dah repot-repot ke sana, mana perasaan Gua kaya ada yang ganjel gitu, hati Gua rasa nya ngga enak." Bang Idan tampak frustasi akibat masalah perusahaan nya dan diri nya yang berperang antara hati dan pikiran.
"Dah jangan terlalu di pikirin, lagian kan otak Lu encer, pasti ngga pake waktu lama udah beres masalah perusahaan Lu." Hibur Abhi yang di angguki oleh lain nya.
"Yang paling utama, jangan bawa frustasi Lu ke rumah, ada Tika di sana, Lu ngga mau si Tika ikut-ikutan mikirin perusaahan Lu kan? Meski dia bilang nya 'Bagi rasa sedih kamu sama aku' tapi masa Lu tega sih?." Tanya Abdiel.
"Tenang aja, Gua bisa kontrol raut muka Gua kalo di depan dia, walau dia terus tanya 'Are you ok Dear?' Dan jawaban Gua selalu 'Yes, I'm ok'." Terang Bang Idan.
"Dan kalo di sana usaha kan Lu punya waktu sama dia, kalo perlu bawa aja dia ke kantor, rumah Lu di sana segaban tapi ngga ada orang Bang, kasian si Tika kesepian." Ujar Rafka member saran.
"Kalo itu dah pasti, yang Gua utama in walau Gua sesibuk apa pun pasti si Tika." Jawab Bang Idan sambil tersenyum menanggapi omongan sang adik kandung nya ini.
Perjalanan pulang tak terasa sudah sampai rumah karena di habis kan dengan berbincang.
Sampai di rumah Rafka Zarine.
"Assallammu'allaikum?!." Seru para pria serempak.
Bunda datang sambil menempel kan jari telunjuk nya di bibir memberi tanda agar tak berisik.
"Wa'allaikum sallam." Jawab Bunda dengan suara pelan.
"Ada apa sih Bun? Kok bisik-bisik gitu?." Tanya Rafka.
"Istri kalian lagi tidur di ruang santai, jangan bising, gaduh nanti." Nasihat Bunda yang di angguki oleh Rafka dan lain nya.
"Udah berangkat itu Rendra Shita sama lain nya?." Tanya Bunda dengan mengikuti langkah Rafka juga lain nya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang santai.
"Udah Bun, kita sampai stasiun kereta nya udah mau berangkat tadi, jadi ngga lama-lama nunggu." Cerita Bang Rafa.
Bunda membalas nya dengan angguk kan kepala nya.
"Kalian angkat tidurin mereka di kamar aja, jangan di sofa gitu, ngga enak itu pasti posisi nya." Suruh Bunda pada para pria.
"Iya Bun." Balas mereka serempak.
__ADS_1
Tanpa Bunda suruh dua kali, para pria mengangkat tubuh wanita nya masing-masing untuk di pindah kan ke kamar.
"Bunda juga ikut masuk ke dalam kamar nya sendiri.
Di dalam kamar Bang Idan Tika.
"Maafin aku sayang." Ucap Bang Idan berbisik di telinga istri yang sangat di cintai nya ini.
"Maaf kenapa? Emang kamu punya salah apa sama aku?." Tanya Tika dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Udah ngga usah di pikirin, mending kamu tidur aja lagi, sini aku peluk." Kata Bang Idan mengalih kan pembicaraan.
"Huuuu kebiasaan!." Sungut Tika tak suka.
"Ngga penting Yang, udah tidur lagi ayo." Balas Bang Idan dengan bibir nya terkekeh pelan. Dia paham arti dari kebiasaan yang di layang kan istri nya ini.
"Kali-kali gitu kalo di tanya di jawab, ngga baik tau bikin orang penasaran." Cetus Tika sambil bibir nya mengerucut sebal.
"Ok, gini deh, aku aja yang tanya kamu harus jawab jujur tapi." Kata Bang Idan memberi syarat.
"Apa? Mau tanya apa? Iya aku janji bakal jawab jujur." Sepakat Tika.
Posisi Bang Idan Tika saat ini ialah, Bang Idan memeluk Tika sang istri dari belekang sambil mengusap-usap perut Tika.
"Kamu bahagia ngga sam aku sekarang?." Tanya Bang Idan yang membuat alis Tika hampir menyatu, dia tak suka pertanyaan itu.
"Ngga mau jawab, ngaco!." Sewot Tika.
"Lah? Hahahaha... ayo dong Yang jawab." Desak Bang Idan memaksa.
"Ini gara-gara perusahaan di London yah?." Tanya balik Tika yang tak mendapat jawaban Bang Idan.
"Perusahaan kamu tuh banyak, kalo bangkrut satu kamu juga ngga bakalan hidup susah, paling-paling cuma sedih, lagi an yah, mau kamu kaya atau ngga punya, aku bakal tetep terima apa ada nya, jangan pernah tanya hal konyol kaya gini lagi, tidur!." Seru Tika dengan dia membalik kan posisi berbaring nya menghadap Bang Idan dan menelusup kan kepala nya ke dada bidang Bang Idan.
"Jangan-jangan kamu lagi yang ngga bahagia sama aku." Celutuk Tika tiba-tiba sambil menyipit kan mata nya curiga.
"Sembarangan aja kalo ngomong!." Sembur Bang Idan tak suka.
"Aku bahagia lah, pak bangetttt!." Seru Bang Idan dengan mencium kening Tika lembut.
Lelah dengan perbincangan yang tak masuk akal itu, 2 sejoli ini tertidur dengan berpeluk kan.
Di kamar Rafka Zarine.
Rafka tengah berbaring dengan satu tangan menyangga kepala nya. Mata nya menatap Zarine sang istri yang tertidur pulas di samping nya.
"Duh, tidur nya betah yah Bun." Cetus Rafka kemudian di iringi kekehan nya.
Selisih 3 menit dari perkataan Rafka tadi, Zarine tiba-tiba bergerak menggeliat dan perlahan membuka mata nya sedikit.
Istri Rafka ini menetral kan pandangan nya dengan cahaya sinar matahari yang nyelinap masuk ke kamar yang dia tempati ini.
Rafka yang melihat tingkah Zarine itu gemas dan kemudian memeluk serta menciumi pipi cabby Zarine hingga Zarine kesal sendiri.
"Udah! Jangan cium-cium!." Sungut Zarine kesal dengan suara khas orang bangun tidur.
"Bangun dong maka nya, jangan tidur mulu, udah siang ini loh." Beri tahu Rafka dengan masih menoel-noel pipi Zarine.
"Tadi gimana nganter Shita nya?." Tanya Zarine.
"Ngga gimana-gimana, tadi kita ngga perlu nunggu lama pas udah sampai stasiun soal nya kereta nya udah mau berangkat." Cerita Rafka.
"Untung ngga telat, kalo telat, ngga tau deh gimana jadi nya." Tambah Zarine yang di angguki Rafka.
"Aku nanti sehari an mau bahas kerjaan sama Abdiel dan lain nya, kita ngga bakal kemana-mana cuma di rumah, ngga papa kan?." Tanya Rafka dengan menatap Zarine penuh cinta.
"Iys ngga papa." Jawsb Zarine dengan memasang senyum manis nya.
Pagi pukul 09.00 Rafka dan pria lain nya sibuk mengerja kan urusan kantor masing-masing.
Para wanita sibuk ngedrakor di depan tv.
"Hari ini kita bakal ke Cafe kan yah?." Tanya Alfi di sela menonton nya.
"Iya, kenapa?." Tanya balik Kak Raina.
"Kita sekalian kuy terawih di masjid dekat sana, aku mau di Cafe lebih lama soal nya." Kata Alfi mengungkap kan kata hati nya.
"Kita harus ijin sama Yang Mulia Raja, kalo mereka ngga ngijinin, kita ngga bakal bisa ke Cafe lama." Cetus Zarine memperingat kan.
"Mau gimana lagi, masa aku ngga ikut sih? Aku kan juga pengen liat London, hehehe... ." Tika terkekeh.
"Ck! Jatuh nya liburan ini nama nya, bukan lagi kerja." Decak Akifa menananggapi omongan Tika.
"Emang nya kamu ngga pernah ke London?." Tanya Kak Raina.
"Boro-boro ke sana, Papa tuh possesive nya ngalah-ngalahin Kak Zaidan, beliau ngga ngijinin aku pergi jauh sampe keluar negeri sana, padahal aku mau banget, pengan banget." Ujar Tika mengingat diri nya di jaman dahulu saat berdebat dan merengek minta keluar negeri.
"Tapi sekarang ada Bang Idan, dia yang bakal ganti in Papa wujudin semua mau ku buat jalan-jalan ke luar negeri." Sambung Tika dengan nyengir kuda menampil kan deretan gigi putih dan rapi nya.
Para wanita bukan nya menonton drama malah asik berbincang sampe drama nya habis.
Kita pergi ke rumah Papa Rafka dan Mama Rafka.
Mama Rafka merajuk pada suami nya yang sedang menonton TV di ruang santai itu.
2 pasangan paruhbaya ini saling diam tak berbicara.
"Jangan cemberut gitu Ma, inget umur." Tegur Papa menggoda sang istri.
"Ck! Mama ngambek juga gara-gara Papa." Cetus Mama menyalah kan suami nya.
"Kenapa sih emang nya? Mama mau apa?." Tanga Papa lembut, beliau mengalih kan pandangan nya dari TV dan beralih menatap wanita yang memberi nya 2 anak ini.
"Ijinin Mama ikut ke Jerman." Mama serius mengata kan nya.
'Huuufffhhh... .' Papa Rafka dan Bang Idan itu menghembus kan nafas lelah nya sambil memejam kan mata nya pening.
Beliau sebenar nya sudah tau apa yang di mau sang istri tercinta nya ini, tapi beliau tidak dapat mengabul kan nya karena memang tidak mau mengajak nya.
"Kenapa Papa ngga mau ngajak Mama?." Tanya Mama Rafka dengan menatap sang suami lekat-lekat.
"Karena ini perjalana bisnis, bukan wisata." Lembut Papa berucap.
Mama masih manatap lekat sang suami.
"Lagi pula, Papa sama lain nya di sana ngga bakal lama, cuma 3 hari doang." Jelas Papa.
"Nak maka nya itu, kita juga liburan Pa sekali-kali, masa anak-anak doang sih yang liburan, kita ajak juga Bunda nya Zarine, dia pasti pengen jalan-jalan holiday, kita bentar lagi akan jadi Nenek, waktu liburan akan jarang, please lah Pa, Mama ikut." Mohon Mama Rafka dengan memasang wajah memelas nya pada sang suami.
"Alasan! Bilang aja kalo Mama, ngg bisa jauh dadi Papa." Ujar Papa Rafka ke ge-er an.
"Ck! Papa ge-er banget." Ketus Mama sambil berdecak menyangkal omongan dari sang suami tercinta nya ini.
"Kita runding kan nanti ba'da dzuhur sama lain nya di rumah Rafka Zarine, besok Tika sama Bang Idan mau berangkat ke London, kita habis kan waktu sama 2 pasangan itu." Keputusan Papa yang kemudian di angguki oleh Mama Rafka.
Waktu berputar tak terasa ba'da dzuhur pun tiba.
Para tetuah sudah berkumpul di rumah Rafka Zarine, tadi Mama Papa Rafka telah menghubungi bahwa mereka akan datang ke rumah.
Di ruang santai rumah Rafka Zarine.
"Ini Mama Papa ada sesuatu hal yang mau di sampai kan kah? Kok tumben ngumpul gini?." Tanya Zarine.
"Sebelum ngomongin sesutu hal itu... Papa mau tanya, nih Shita Rendra kemana?." Tanya Papa Rafka celinguk kan.
"Ouh iya, kita belum kasih tau kalian semua, Rendra Shita ba'da subuh tadi pulang ke Lumajang, sama Alifia juga ikut." Jelas Bang Idan detail.
"Mereka juga titip salam, maaf ngga bisa pamitan ke Mama Papa juga tetuah lain nya karena jadwal kereta yang akan berangkat." Ujar Rafka.
"Hmmm... gitu." Gumam Mama Rafka yang di angguki oleh tetauh lain nya.
"Ok lupa kan masalah Rendra Shita, sekarang... ini para tetuah ada apa?." Tanya Bang Rafa.
"Ingat kan bahwa tanggal 28 April kita akan ke Jerman?." Tanya Papa Rafka.
"Ingat." Jawab kompak para muda-muda.
"Ini Mama kalian mau ikut." Beri tahu Papa Rafka sambil menunjuk Ibu Rafka.
"Bukan cuma Mama nya Rafka doang yang ikut, kita juga mau ikut, Bunda Zarine juga jangan lupa." Cetus Mami Alfi menyahut.
"Kita tuh mau perjalanan bisnis, bukan liburan para Ibu-ibu yang cantik." Beri tahu Papa Abdiel menjelas kan dalam mode lembut.
"Tapi kita tuh juga pengen ikut, pengen jalan-jalan di sana, pengen ikut pokok nya." Seru Mama Abdiel bersuara.
__ADS_1
"Kalo mau ikut udah lah ikut aja liburan kali-kali kagak ada yang ngelarang kan." Ujar Papi Alfi pasrah.
"Kalo menurut kalian para muda-muda gimana?." Tanya Mama Rafka meminta dukungan dari para anak-anak muda di depan nya ini.
"Kalo menurut ku sih ok aja, soal nya wisata juga di perlu in dalam hidup." Jawab Abdiel yang setuju.
"Kami juga gitu." Jawab Rafka mewakili pria lain nya.
"Ini yang cewek? Ngga mau ngasih pendapat?." Tanya Mami Alfi.
5 Ibu Hamil muda itu saling pandang, ada guratan yang tak dapat di arti kan muncul di raut muka mereka.
"Kalo duduk di rumah bisa ngga Ma?." Tanya Tika dengan mata memandang lekat-lekat wajah sang Ibu.
"Kenapa?." Tanga Mama Tika dengan mengerut kan kening nya dalam.
"Kan lebih baik kalo nurutin apa kata suami." Imbuh Alfi yang di benar kan oleh lain nya.
Para orang tau tersenyum menatap 5 Ibu Hamil muda itu.
"Kita di sana ngga lama sayang, cuma 7 hari, pertemuan Papa kalian kan cuma sehari, sisa hari nya kami berniat ingin jalan-jalan, bentar lagi kami semua akan di sibuk kan dengan cucu-cucu, jadi selama masih belum lahir, kami mau menikmati sisa-sisa masa muda." Alasan Mama Tika yang di angguki oleh Mama Rafka juga lain nya.
"Halah! Alasan!." Cetus Papa Tika.
"Hmmmm... ok kalo gitu berenti bedebat hal ngga penting, ok kalian para calon Nenek boleh ikut, tapi kalo mau jalan-jalan kalian harus nunggu kita dulu." Keputusan final Papa Rafka pun keluar.
Para tetuah wanita bahagia, amat sangat bahagia.
"Nah gitu kek dari kemarin, jadi kita ngga usah susah-susah debat unfaedah gini, bener ngga?." Mama Rafka meminta persetujuan Mama Tika dan lain nya.
"Bener banget tuh." Jawab Mama Abdiel.
"Haduh... iya deh." Pasrah Papa Abdiel tak lagi bisa berkutik.
Zarine, Raina, Akifa, Alfi, Tika saling pandang kemudian mereka menatap para tertuah dengan pandangan yang tak dapat di baca.
'Perasaan apa ini? Kenapa aku gelisah? Apa akan terjadi sesuatu? Tidak! Lindungi kami semua ya Allah.' Doa Zarine juga lain nya.
"Untuk Bang Idan Tika? jadi besok kah berangkat nya?." Tanya Mama Tika dengan raut muka sedih.
"Iya Ma jadi, besok pukul 08.00 pagi kita berangkat." Jawab Bang idan memberi tahu jadwal penerbangan pesawat nya besok.
"Berapa bulan sih Bang kira-kira di sana?." Tanya Mama kepo.
"Ngga bisa di prediksi Ma, bisa-bisa kita tahunan juga ada di sana, soal nya kata Asisten aku krisis banget perasahaan aku yang di sana, kalo bisa di selesai kan beberapa bulan aja aku bisa pulang akhir tahun ini, tapi kalo ngga bisa bulanan, mungkin 1 tahunan 2 tahunan lagi aku pulang." Tutur Bang Idan mendetail tentang perusahaan nya.
"Kalo krisis kenapa ngga berangkat hari-hari lalu waktu resepsi selesai?." Tanya Mama Abdiel.
"Bang Idan pengen Tika hadirin pembukaan Cafe kemarin, jadi ngga berangkat deh, kalo besok in syaa allah berangkat." Kata Bang Idan meyakinkan.
Tiba-tiba... .
'Tring... ring... ring... .' Ponsel seseorang berdering.
"Ponsel siapa tuh?." Tanya Bunda.
"Ponsel Abang Bun." Jawab Bang Rafa sambil nyengir kuda.
Bang Rafa kemudian beranjak dari duduk nya dan pergi ke luar rumah untuk menerima telepon.
"Seperti nya penting banget deh, jarang-jarang soal nya Bang Rafa ngangkat telepon jauh dari kita." Cetus Abdiel dengan menatap punggung Bang Rafa yang berdiri dengan jarak lumayan jauh dari mereka.
Di ruang santai asik mengobrol dari mulai hal konyol sampai hal yang penting banget.
Sedang kan di tempat Bang Rafa.
"Halo? Assallammu'allaikum?." Salam Bang Rafa pada orang di seberang sana.
"Wa'allaikum sallam Pak Rafa, Pak gawat Pak, perusahaan kita di sini di tipu dan mengalami kerugian yang sangat besar Pak, dan ada musibah lain nya Pak, pabrik produksi alat-alat medis di salah satu kota di sini juga kebakaran dan merengguy korban sebanyak 2 orang." Beri tahu orang di seberang sana dengan suara cepat dan khawatir.
"Astahfirullah hal adzim... secepat nya saya ke sana tolong kamu urus dulu segala nya di sana yah." Perintah Bang Rafa pada Asisten nya itu.
Bang Rafa mengakhiri panggil itu, lalu dia mengusap wajah dan rambut nya kasar.
'Ya Allah ringan kan ujian-Mu ini.' Doa Bang Rafa dalam hati.
Suami Kak Raina ini bergegas masuk ke ruang santai Rumah Rafka Zarine lagi.
"Yang? Ayo bergegas pulang." Ajak Bang Rafa pada Kak Raina.
"Ada apa Bang?." Tanya Bunda cemas melihat raut muka Bang Rafa yang kacau.
"Perusahaan di Surabaya kena musibah Bun, ini genting banget Bun, Abang mau ke Surabaya sekarang, ayo Yang kita bersiap." Ajak Bang Rafa.
"Sebaik nya Kak Raina ada di sini aja sama Bunda." Seru Bunda memberi saran.
"Aku mau ikut Bang Rafa aja Bunda, kalo di sini Raina dan Bang Rafa di sana, aku makin ngga tenang, bawa an nya cemas mulu, boleh yah Bun." Ijin Kak Raina.
"Iya deh kalo itu mau kamu, tapi kalian naik apa?." Tanya Bunda.
"Mobil Bun." Jawab Bang Rafa cepat.
"Yakin Lu Bang? Jauh tuh woy." Beri tahu Abdiel, dia juga khawatir dengan sepasang suami istri ini.
"Kita bakal sering berhenti, Gua juga kagak mau bikin Raina capek duduk dalam mobil." Jawab Bang Rafa tagas.
Bang Rafa Kak Raina pun pulang untuk mengapak pakaian.
"Bawa seperlu nya aja Yang, di rumah sana semua nya udah tersedia, kamu beresin baju-baju kita, aku mau ngurusin mobil dulu, kalo udah panggil aku ok." Pesan Bang Rafa yang di angguki Kak Raina paham.
Di pintu kamar Kak Raina, Zarine juga lain nya tengah berdiri sambil menatap Kak Raina dengan mata berkaca-kaca.
Dan... .
'Grep!.' Zarine, Tika, Akifa, Alfi memeluk Kak Raian dengan air mata sudah menetes.
"Ck! Masa yang ngurus Cafe cuma 3 orang sih, ngga seru nih, Tika besok pergi, sekarang Kak Rain yang pergi." Rungut Zarine tak terima jika Kakak Ipar nya ini pergi dari sini.
"Doa in aja semoga kerjaan Abang kalian cepet selesai dan Kak Raina bisa balik ke sini cepet terus ngurus Cafe sama kalian." Ujar Kak Raina pada adik ipar nya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
B E R S A M B U N G . . .
Lanjut besok ya guys😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memahami nya😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
__ADS_1
Salam sayang dari ViCa😍.