Nikah Muda Karena Perjodohan

Nikah Muda Karena Perjodohan
Fifty-one


__ADS_3

Di rumah sakit tempat Shita yang akan memeriksakan kondisi punggungnya.


Dia masuk ke ruang dokter di temani oleh Raina dan Rendra.


"Ayo coba Mbak Shita berdiri." Pinta dokter.


Shita menuruti perkataan dokter.


Dia berdiri.


"Apa terasa sakit?." Tanya dokter pada Shita.


"Agak ngilu dok." Jawab Shita.


"Coba jalan perlahan." Pinta dokter lagi.


Shita menurut.


Dia berjalan perlahan tapi pasti ke arah Rendra.


1 langkah.


2 langkah.


Sampai yang ke 3 kali melangkah, Shita hampir jatuh.


Untung saja Rendra sigap menangkap.


Setelah itu Shita kembali duduk di kursi rodanya.


Dokter pun menjelaskan kondisi pasien nya itu.


"Mbak Shita banyak-banyak latihan berjalan biar cepet sembuh, tapi jangan terlalu dipaksakan saat berjalan, se mampunya saja." Jelas dokter.


"Iya dok siiap." Jawab Shita senang karena sudah boleh berjalan.


"Dok besok saya akan membawa Shita ke Jakarta, apa tidak masalah jika dibawa berkendara jauh?." Tanya Raina.


"Boleh, tapi harus berhati-hati." Jawab dokter.


"Pasti dok, terima kasih dok." Ucap Raina.


Dokter mencatatkan sebuah resep obat yang kemudian di berikan kepada Raina untuk di tebus di apotik rumah sakit.


Bang Rafa, Raina, Shita, dan Rendra keluar dari ruangan dokter.


Setelah menebus obat di apotik mereka ber 4 pulang ke rumah.


Suasana mobil hening tidak ada di suara yang memecah kesunyian.


Shita sibuk memandang keluar jendela mobil.


"Jam berapa nih?." Tanya Rendra.


"Jam 11 kurang." Jawab Bang Rafa.


Hening kembali.


"Rain?, apa dia ngga bisa tinggal di sini aja?." Tanya Rendra.


"Engga!, dia di sini udah lama sendirian, Gua di sana kepikiran terus, jadi Gua putusin buat bawa dia ke sana." Jawab Raina tegas.


"Lo kalo mau sama dia nikahin aja Dra." Celutuk Bang Rafa.


"Terus abis nikah aku kasih makan apa anak orang?, batu?, aku belum kerja Kak." Terang Rendra.


"Ya udah ikut aja merantau ke Jakarta." Solusi dari Raina.


"Mak Gua gimana Rain?, si Anton ada di penjara, Gua ngga mau beliau terpuruk kalo sendirian." Jawab Rendra cepat.


"Ya udah Lo sukses aja di sini dulu, nanti baru jemput dia kesini lagi." Kata Raina.


"Itu yang Gua pikirin juga." Gumam Rendra lirih yang masih bisa di dengar Raina dan Bang Rafa.


"Gua yakin Shita bakal sabar nunggu Lo." Hibur Bang Rafa.


"Ngga usah sebut nama juga Rafa!." Sungut Raina.


"Shita nya ngga akan denger, dia lagi nglamun noh liat." Tunjuk Bang Rafa.


Raina dan Rendra menatap Shita.


"Ta?." Panggil pelan Rendra.


"Shita?." Kini giliran Raina.


"Shita Ayuningsih?!." Seru Rendra.


"Ha?!, apa?!, udah sampe ya?." Kejut Shita hingga dia gelapan.


Shita menatap semua orang di mobil.


"Maaf tadi kosentrasiku buyar, ada apa?." Tanya Shita tanpa berdosa.


"Apa yang Lo pikirin sih kuncaci?." Tanya Rendra.


"Ngga ada." Jawab singkat Shita.


"Jujur Ta." Tegas Raina.


"Aku ngga mau ikut ke Jakarta." Jawab lesu Shita.


"Lo harus ikut, Lo sendirian di sini dan Gua khawatir setiap saat sama Lo Ta, sekali ini aja, please turutin Gua." Pinta Raina.


"Ok, Gua ngga mau jadi anak durhaka dan Gua tau kecemasan Lo." Pasrah Shita.


"Tunggu Gua, Lo bakal Gua jemput suatu saat nanti." Celutuk Rendra tegas pada Shita.

__ADS_1


Shita yang tak menanggapi serius hanya tersenyum menanggapi omongan Rendra.


Qiroah Dzuhur mobil yang di tumpangi 4 orang itu sudah sampai di halaman rumah.


Orang yang ada di teras sudah bubar masuk ke dalam penginapan.


"Waduh Andi ama Panji udah pulang, Gua juga pamit deh, assallammu'allaikum, sory Ta Gua ngga bisa bantu Lo masuk." Salam Rendra kemudian ber lari pulang.


"Wa'allaikum sallam!." Jawab 3 orang itu.


"Ayo masuk." Ajak Raina.


Bang Rafa mengangguk lalu masuk ke penginapan dan Raina Shita masuk ke rumah.


-


-


-


Malam menyambut.


Bintang dan bulan bersanding indah di atas langit yang gelap namun indah.


Sesuai rencana pagi tadi.


Semua orang sudah berkumpul di halaman rumah Shita dan melakukan barbeque.


Para laki-laki di tugaskan membakar.


Untuk para perempuan duduk melingkar dengan bernyanyi bahagia.


Suasana sangat menyenangkan dan sangat rugi jika terlewatkan momen ini.


Suara petik kan gitar, sangat kontras dengan suara merdu Shita.


'Terimalah lagu ini dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang ku punya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu🎶. (Maaf kalo liriknya salah😂).


Semua orang bertepuk tangan.


"Suaranya bagus!, kenapa ngga coba bikin channel you tube dan cover-cover lagu?." Tanya Akifa.


"Aku ngga terlalu suka nyanyi, paling kalo nyanyi biasanya cuma gabut atau iseng." Jawab Shita.


"Yaaa sayang banget, padahal suaranya bagus loh." Kata Alfi.


Shita hanya tersenyum menanggapi pujian semua orang.


Bukan hanya di rumah Shita.


Tapi juga di rumah-rumah tetangga ramai orang tidak tidur untuk menantikan waktu bergantinya tahun.


Di halaman rumah Shita.


Semua orang sedang berbahagia.


"Ehem, denger semuanya!." Seru Bang Idan.


"Ini nih yang ditunggu." Bisik Bang Rafa kepada Raina yang dibalas Raina hanya senyuman.


"Di malam yang akan berganti tahun ini, aku mau ungkapin sesuatu sama seseorang." Kata Bang Idan.


Semua bibir bungkam tak ada yang berbicara.


"Tika, di depan semua orang, dan kedua orang tua kamu, aku ungkapin... , Tika Ajeng Bram, aku Zaidan putra dari Yusuf Fathan mencintai kamu seorang gadis SMA teman adek aku, Tika?, apakah kamu mau menjadi istriku dan menjadi Ibu dari anak-anak kita nanti?." Ungkap Bang Idan tegas.


Tika bungkam tak dapat berbicara.


Di terpaku di tempat.


Mata Tika menatap kedua orang tuanya.


Beliau semua tersenyum dengan mengangguk kan kepala menyuruh Tika menjawab.


Mata Tika berkaca-kaca.


Dia tersenyum bahagia ke arah Bang Idan.


Dengan sekali tarikan nafas Tika menjawab.


"Iya, aku mau." Singkat tapi berarti.


Bang Idan langsung memeluk Tika dengan erat.


Sedangkan untuk Tika, dia sudah meneteskan air matanya deras.


"Tika juga mencintai Kak Zaidan." Lirih Tika yang hanya bisa di dengar telinga Bang Idan.


Bang Idan makin mengeratkan pelukannya.


Lalu, 3 menit kemudian dia melepas pelukan dan merogoh saku jaketnya.


Dia mengeluarkan kotak beludru berwarna merah.


Bang Idan mengambil isi kotak itu dan memakaikannya kepada Tika.


"Tuhkan bener Tika bakal nikah muda, hahaha?." Tawa Papa Bang Idan pecah.

__ADS_1


"Hahaha." Tawa semua orang menyusul.


Suasana malam ini makin membahagiakan dengan ungkapan cinta Bang Idan untuk Tika.


Tepat pukul 00.00 malem.


Kembang api memeriahkan langit malam yang indah.


Tahun sudah berganti.


Say good bye tahun lalu dan walcome tahun baru.


Semua orang berbahagia dan setelah kemeriahan itu mereka semua tidur pukul 1 dini hari.


Padahal beberapa jam lagi mereka berangkat pulang ke Jakarta tapi tidur mereka dini hari.


Semoga saja para laki-laki kuat untuk menyetir mobil nanti.


Matahari muncul dengan sinar yang menyilaukan mata.


Keberangkatan di undur menjadi siang hari pukul 8 pagi.


Sekarang mereka semua sedang bersiap-siap.


"Dra?, ini kunci rumah dan kunci penginapan, tolong jaga baik-baik." Pinta Shita.


"Iya pasti." Jawab Rendra.


Shita dan Rendra kemudian saling pandang lalu tersenyum.


"Ta?." Panggil Rendra.


"Hem?." Jawab Shita.


'Grep'.


Rendra memeluk Shita erat.


"Aku mencintai kamu, tunggu aku disana, aku bakal jemput kamu." Bisik Rendra.


Mereka melakukan adegan berpelukan itu di ruang tamu rumah Shita.


Shita membalas pelukan Rendra tak kalah erat.


Ternyata pernyataan Rendra di mobil kemarin itu nyata tidak hanya canda an.


Di bahagia.


"Aku juga mencintai kamu, jangan khawatir Ren, aku bakal tunggu kamu." Kata Shita.


"Jaga diri baik-baik disana." Pesan Rendra.


"Kamu juga." Balas Shita.


Barang-barang Shita sudah naik ke dalam bagasi mobil.


Raina juga lainnya hanya tinggal menunggu Shita.


5 menit menunggu Shita datang bersama Rendra.


"Kalian hati-hari di perjalanan, jangan kapok pernah kesini, kami mohon maaf karena selama kalian semua di sini selalu ada aja masalah yang melibatkan kalian, kami mohon maaf yang sebesar besarny." Ucap Rendra tulus dengan mengatubkan kedua tangannya di dada.


"Ngga papa Ren, itu semua kan sudah kehendak Allah, kita kan ngga tau kalo bakal ada kejadian itu." Kata Papa Rafka.


"Ya udah, ayo kita berangkat, kami semua pamit Rendra, Andi, dan Panji, terima kasih atas waktu kalian untuk melayani kami." Ucap Papi Alfi.


"Sama-sama Om, iya silahkan mulai perjalanan, hati-hati di jalan." Pesan Panji.


Semua orang bersalaman.


Saat giliran Shita.


Dia menatap Rendra dengan penuh air mata.


"Gua akan selalu nunggu in Lo disana." Kata Shita.


Kemudian Shita kembali memeluk Rendra.


"Jangan pernah berubah perasaan sama Gua Dra, Gua mencintai Lo ingat itu." Tegas Shita dengan sesenggukan.


"Iya, itu pasti, gih berangkat." Kata Rendra.


Shita masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju dengan perlahan.


Shita duduk dengan Zarine dan Raina.


"Udah, dia bakal dateng jemput Lo, sabar aja." Hibur Raina.


Dia mengangguk kan kepala lalu menyandarkan nya pada pundak Raina.


-


-


-


-


Bersambung...


Like & komennya ditunggu


Maaf ngga nyambung😢🙏


Maaf kalau ceritanya nyimpang sama judul😢🙏

__ADS_1


Jaga kesehatan selalu readers


Salam sayang dari ViCa😍.


__ADS_2