
SEBELUM LANJUT BACA, TOLONG BACA YANG DI BAWAH INI.
MINTA MAAF BANGET SAMA KALIAN SEMUA KARENA CERITA KU MAKIN HARI MAKIN NGACO DAN NGGA NYAMBUNG, TERUTAMA MEMBOSAN KAN, AUTHOR MINTA MAAF YANG SEBESAR-BESAR NYA🙏🙏.
******************************
-
-
Dan... bisa di bayang kan apa yang terjadi selanjut nya? Yup! Cindi dan Haris tertangkap, sebenar nya Cindi sudah meminta agar Bagas melepas kan Haris, tapi Haris tetap ngotot minta ikut terlibat.
Flashback off.
-
-
-
...L A N J U T A N...
...P A R T...
...K E M A R I N . . ....
-
-
-
Di dalam mobil Haris.
Cindi hanya diam sambil menatap jalan dari jendela mobil sebelah kiri nya.
Haris sesekali melirik Cindi di sebelah nya ini.
"Bocil? Kalo Lu mau nangis keluarin aja, kagak perlu malu, anggap aja Gua ngga ada, anggap aja Lu lagi sendirian di sini." Kata Haris dengan nada suara yang lembut.
Cindi yang sedari tadi menatap ke kiri menoleh kan kepala nya pada Haris. Cindi tak menjawab omongan Haris, dia fokus menatap jalan di depan mata nya.
"Sorry yah Bang, di hari kedua kita temenan Lu malah terlibat masalah sama Gua, dan karena Gua." Ucap Cindi dengan perasaan yang tak enak.
"Ck! Lu ngomong apa sih Cindi? Yang nama nya temen ya gini, ngga cuma ada saat Lu lagi seneng doang, tapi ada juga saat Lu lagi susah." Kata Haris sambil melirik Cindi.
"Seharus nya Lu lari tadi pas Gua suruh, Lu malah sebalik nya." Sungut Cindi kesal dan jengkel pada Haris.
"Walau pun ini salah Lu, tapi Gua kan ikut andil juga, Gua yang ajakin Lu keluar dari sekolah, ya jadi semua salah kita, salah kita semua, yang kena marah ya harus kita berdua, kagak adil kalo cuma Lu doang yang kena marah." Panjang lebar Haris berucap.
"Tapi tetep aja, yang jadi sasaran mereka tuh sebener nya Gua doang, ngapain sih Lu ikut-ikutan? Gua tuh paling anti dan ngga mau ada orang yang ikut terlibat dalam masalah yang Gua alami, biarin Gua hadapi sendiri masalah Gua, kalo kaya gini Gua rasa nya ngga enak banget sama Lu Bang, ngerasa bersalah banget Gua sama Lu." Kata Cindi di akhiri helaan nafas panjang.
"Kalo ngga enak ya tinggal buang aja ke tempat sampah." Jawab Haris acuh tak acuh, dia tak menanggapi serius omongan panjang lebar Cindi.
"Bang Haris?! Gua tuh serius anjir! Gua ngga mau Lu terlibat dalam masalah Gua! Gua ngga mau Lu ikut di salah-salahin sama Bokap Gua! Lu ngerti ngga sih?!." Seru Cindi dengan suara bergetar karena menangis.
Melihat Cindi yang menangis, Haris menghenti kan mobil nya di pinggir jalan, lalu melepas sabuk pengaman nya dan menarik Cindi dalam pelukan nya.
"Tumpahin semua nya biar Lu lebih tenang, Gua ngga maksud ngga dengerin Elu, tapi emang Gua ngga suka dengerin omongan Elu tadi, kagak guna alias unfaedah." Kata Haris memberi penjelasan.
Cindi tak menjawab dan makin mengerat kan pelukan nya pada Haris. Mobil yang Haris kendarai ini berhenti di pinggir jalan tepat di depan gerbang rumah nya.
"Yang nama nya temen itu seneng susah barengan Cindi, kita ini temen kan?." Tanya Haris pada Cindi.
Gadis itu mengangguk kan kepala nya yang masih terbenam di dada bidang Haris.
"Meski pun kita baru 2 hari kenal, itu nama nya tetep temen." Cetus Haris dengan mengusap surai panjang dan hitam milik Cindi.
Saat mengatakan status mereka teman, hati Cindi dan Haris sedikit tak terima.
'Kenapa hati Gua rasa nya kagak terima kalo bibir ini bilang Cindi itu temen Gua?.' Tanya batin Haris.
'Kenapa hati Gua agak nyut-nyutan kagak terima yah pas Haris bilang kita temenan?.' Batin Cindi bersuara.
Buru-buru 2 orang itu mengenyah kan pikiran aneh mereka dan kembali pada kejadian sekarang.
Setelah lama menangis, Cindi pun bangkit dari dada bidang Haris.
Muka khas orang baru selesai menangis terlihat jelas di wajah Cindi, Haris yang melihat Cindi berantakan terkekeh pelan.
Cindi yang sadar di tertawa kan dia kesal dan memukul lengan Haris.
"Iya Gua emang jelek banget anak nya, apa lagi kalo udah nangis! Udah jangan di ketawain malu Gua nya tuh." Ucap Cindi dengan nada suara manja.
Saking malu nya dia sampai menenggelam kan lagi wajah nya ke dada bidang Haris.
"Hahahaha... iya-iya aku berenti ketawa." Ucap Haris sambil mengelus punggung kecil milik Cindi.
Setelah Haris berhenti tertawa, Cindi masih belum melepas kan pelukan nya pada tubuh Haris.
"Bocil?." Panggil Haris lembut sambil mengguncang tubuh kecil Cindi.
"... ." Tak ada balasan dari Cindi, seperti nya gadis itu ketiduran.
"Et dah! Si Bocil ketiduran, kecapean yak? Oke deh tidur aja deh sesuka hati Lu." Ucap Haris lembut.
Senyum di bibir manis Haris terbit dengan indah nya.
Tapi tiba-tiba... senyum itu sedikit meredup di ganti dengan tatapan bingung.
"Ini Gua keluar nya gimana cara nya?." Tanya Haris pada diri nya sendiri.
Dengan sekuat tenaga dan cara yang muncul dari otak Haris, dia bisa keluar dari mobil dengan Cindi berada di gendongan nya.
Hal menggendong Cindi seperti induk Koala menggendong anak nya.
"Cin? Lu di rumah masing-masing apaan sih? Kok berat badan Lu ringan gini? Lu suka makan kerupuk yak? Kek gendong karung kapas Gua, ringan bat." Cerocos Haris panjang lebar, dia berbicara sendiri.
Haris masuk rumah dengan di buka kan pintu oleh pelayan di dalam rumah.
"Selamat datang Tuan Muda." Ucap semua pelayan berbaris sambil menunduk kan kepala meng kompak.
Di bagian paling ujung barisan, ada Dimas asisten pribadi Haris.
"2 pelayan mari ikut aku ke kamar!." Perintah Haris yang langsung di angguki oleh para pelayan.
"Baik Tuan." Balas 2 pelayan yang di minta ikut.
"Dimas? Kau tunggu aku di ruang kerja." Perintah Haris lagi pada asisten nya itu.
"Baik Tuan." Balas Dimas sambil mengangguk hormat.
Haris di ikuti oleh 2 pelayan dan Dimas diri belakang nya naik ke lantai dua letak kamar nya berada.
Sampai di dalam kamar.
Haris merebah kan Cindi dengan perlahan di atas kasur king size nya.
"Kalian berdua ganti baju Nona Muda dengan se ada nya dulu di dalam lemari ku." Perintah Haris tegas dengan menatap wajah 2 pelayan itu tajam.
"Baik Tuan." Balas 2 pelayan itu bersamaan sambil mengangguk kan kepala.
'Nona Muda? Tuan Muda tidak pernah membawa pulang seorang gadis, sekali bawa dia langsung mengklaim bahwa gadis ini Nona Muda, benar-benar mengejut kan! Seperti pernah tahu aku dengan gadis kecil ini, tapi di mana?.' Batin Dimas bersuara.
"Dimas? Ayo ikut aku ke ruang kerja." Ajak Haris yang tentu saja menyadar kan Dimas dari Nona Muda yang di bawa oleh Haris ini.
Haris sedari tadi memicing kan mata nya tajam saat tau Dimas sedang mengamati Cindi gadis kecil nya itu.
Dimas tanpa kata mengikuti Tuan Muda nya meninggal kan kamar.
__ADS_1
Sampai di ruang kerja Haris. Haris duduk di kursi kebesaran nya dengan Dimas berdiri di depan nya.
"Kenapa kau memandang Cindi seperti tadi? Apa kau pernah melihat nya atau mungkin bertemu dengan nya?." Tanya Haris menginterogasi Dimas.
"Maaf Tuan atas kelancangan saya, saya memang merasa pernah bertemu dengan Nona Muda Cindi, tapi saya lupa di mana dan kapan bertemu." Jawab jujur Dimas.
"Jangan ulangi menatap Cindi seperti tadi!." Peringat Haris tegas dan menatap tajam Dimas.
"Iya, mohon maaf atas kelancangan saya tadi Tuan Muda." Ucap Dimas sopan.
"Hmmm... tolong beli kan aku semua keperluan Cindi, dia akan menginap di sini sampai pada waktu tak dapat di tentu kan." Kata Haris meminta pertolongan Dimas.
"Baik Tuan." Jawab Dimas patuh.
Tanpa di perintah dua kali, asisten pribadi Haris itu melaksana kan perintah Haris.
Sepeninggalan Dimas.
Haris masih duduk di kursi kebesaran nya, menyandar kan punggung nya ke sandaran kursi nya.
Memejam kan mata nya sambil memijat pangkal hidung nya yang di landa pusing karena masalah Cindi.
"Hahhhh... ." Haris menghela nafas panjang.
"Mending Gua mandi aja dah, baju udah kotor banget nih kena air mata sama ingus nya si Bocil, lengket juga nih badan abis kejar-kejaran." Kata Haris pada diri nya sendiri.
Haris masuk ke dalam kamar mandi di dalam ruang kerja nya.
Sembari menunggu Haris mandi, meh sini merapat, AuthorGesrek mau cerita tentang kerja nya si Haris. Penasaran ngga sih? Hahaha pasti penasaran iya kan?.
Nih yaa... Papa nya Haris mendiri kan perusahaan lagi setelah keluar dari penjara atas nama Haris tentu saja. Nama perusahaan nya tuh Haris Grup, perusahaan yang bergerak di bidang properti, alhamdulillah perusahaan itu naik daun, sudah membuka beberapa cabang baik dalam negeri maubpun luar negeri.
Tapi tetap! Walau pun sudah naik daun, Papa Haris masih ingin membalas dendam kepada Daddy Rafka dan juga yang lain nya lewat Haris yang menjadi perantara nya.
Haris yang tidak mau di bodoh-bodohi mencari semua kebenaran nya agar tak salah langkah.
Kembali pada Haris.
Pemuda itu baru saja selesai mandi dan sekarang dia sedang berganti baju.
"Cindi udah selesai nih pasti ganti baju nya, Gua ke masuk kamar lah, capek pengen rebahan Gua." Monolog Haris.
Selesai memakai baju, pemuda itu beranjak dari ruang kerja dan berjalan menuju kamar nya.
'Ceklek!.' Haris membuka pintu kamar yang dengan perlahan. Terlihat di atas ranjang nya seorang gadis tergeletak dengan dengkuran halus dari hidung nya.
Haris masuk tak lupa mengunci pintu nya, kemudian ia ikut berbaring di sebelah kiri Cindi.
Haris memiring kan tubuh nya menatap wajah damai Cindi yang tengah tertidur pulas.
"Muka Lu kaya bayi aja kalo lagi tidur gini, gemes banget Gua rasa nya pengen cium." Kata Haris sambil terkekeh pelan.
"Eh? Ngomong-ngomong... boleh nggak sih kalo Gua cium? Boleh lah ya dikit doang kok, jangan bangun ya Bocil." Ucap Haris pada Cindi yang tengah tertidur pulas.
Haris mendekat kan wajah nya pada wajah Cindi, dan dengan hati-hati pemuda itu mendarat kan bibir nya di pipi kiri Cindi dengan perlahan.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Tak ada pergerakan dari Cindi, dia hanya bergerak menghadap kan badan nya pada Haris.
"Hehehe... kaya nya mau minta lagi ya? Ketagihan yaa ama ciuman Gua? Hahaha ok deh ok Gua cium lagi." Kata Haris dengan tertawa pelan.
Emang dasar nya Haris suka mencuri kesempatan dari tidur nya Cindi, pemuda itu kembali melayang kan kecupan singkat di pipi kanan Cindi.
Setelah itu Haris tertawa pelan lagi, dia kembali merebah kan tubuh nya sambil menatap wajah Cindi.
Dia menarik Cindi dalam pelukan nya dan memeluk Cindi erat.
Waktu terus berjalan, adzan ashar menggemah di seluruh komplek perumahan Haris. Cindi bangun terlebih dahulu, gadis itu mengucek mata nya menghilang kan rasa kantuk nya.
Setelah sudah mampu mengumpul kan sedikit nyawa nya, Cindi menatap wajah tampan milik Haris tepat di depan nya.
"Lu ganteng banget sih Bang." Puji Cindi yang memang belum sadar sepenuh nya.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
"Ahhhkkkk!!! Ngapain Lu di kamar Gua? Segala peluk-peluk lagi!!." Pekik Cindi yang sadar akan posisi nya, dia langsung mendorong Haris hingga terjatuh di lantai yang dingin dan keras itu.
'Brugg!.' Bunyi tubuh Haris bersentuhan dengan lantai.
"Aduh... Bocil... kenapa Lu dorang Gua? Apa salah Gua sih sama Lu?." Tanya Haris kesal karena tidur nyenyak nya di ganggu.
"So... so... sory Bang, Gua refleks, habis nya Lu ngapain sih ada di dalam kamar Gua? Peluk-peluk lagi." Kata Cindi sambil membantu Haris naik kembali ke atas ranjang nya.
"Aduh... bokong Gua sakit nih Cin." Keluh Haris sambil mengelus bokong nya.
"Maaf Bang, maaf banget ya, Gua refleks beneran deh ngga bohong." Ucap Cindi sambil menunjuk kan dua jari membentuk huruf V.
"Refleks sih refleks, tapi jangan kenceng-kenceng napa dorong nya, lagian nih kamar punya Gua, Lu di rumah Gua kalo Lu lupa, inget-inget lagi dah kejadian dari awal." Kata Haris memberi penjelasan pada Bocil kesayangan nya ini.
Cindi diam dan mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang terjadi pada diri nya dan pada Haris tadi.
Beberapa detik kemudian... .
"Oh Allah!." Pekik Cindi yang sadar bahwa semua yang telah terjadi.
"Inget?." Tanya Haris yang langsung di angguki oleh Cindi, gadis itu menyengir kuda bak orang tanpa dosa. Kemudian dengan tidak tahu malu nya memeluk Haris dari arah belakang sambil menyandar kan daging nya pada pundak Haris.
Posisi duduk Haris saat ini adalah duduk di pinggiran ranjang membelakangi Cindi.
"Hehehe... sorry Bang Haris ganteng, Gua baru inget kalo ini rumah Elu, jangan marah ya, Gua beneran lupa, suer dah." Kata Cindi berusaha meyakin kan Haris.
"Iya Gua maafin, lain kali jangan gitu lagi." Peringat Haris tegas. Yang kontan saja di angguki oleh Cindi.
"Dah sekarang lepas pelukan Lo ini, leher Gua tercekik nih." Pinta Haris dengan melirik Cindi dari samping.
Tanpa di perintah dua kali, Cindi melepas pelukan nya dan Haris pun berdiri dari duduk nya.
"Masih sakit kah bokong nya?." Tanya Cindi khawatir.
"Udah engga kok, gih mandi sana, kita sholat ashar jamaah di mushollah rumah ini." Suruh Haris pada Cindi.
"Tapi Gua kagak-." Belum selesai Cindi berucap dia menatap diri nya sendiri.
"Loh? Baju seragam sekolah Gua mana? Engga bukan itu! Yang gantiin baju Gua siapa?." Tanya Cindi dengan suara pelan di akhir kalimat lalu dia menatap Haris dengan mata tajam nya dan menutupi bagian dada nya dengan menyilang kan kedua tangan nya di depan.
Cindi memakai kemeja Haris yang kebesaran di tubuh nya dengan memakai celana pendek.
"Lo apain Gua hah?! Lo pasti berbuat mesum kan sama Gua?! Lo liat semua nya kan?! Dasar bia-." Belum selesai Cindi berucap Haris sudah mendekap mulut Cindi dengan tangan kanan nya.
Kontan saja Cindi diam tak bisa bicara lagi, dan hanya mampu menatap mata Haris yang menatap nya lembut, jarak mereka hanya beberapa cm saja, hidung mereka hampir saja bersentuhan.
"Dengerin kata-kata Gua, Gua bukan cowok penjahat kelamin yang bakal garap cewek pas dia lagi tidur, kalo Gua mau ngapa-ngapin Elu, Lu harus dalam keadaan sadar!." Seru Haris penuh penekanan di setiap kata nya.
Cindi tertegun dengan setiap kata yang di ucap kan oleh Haris. Dia spontan mengangguk kan kepala nya tanda paham.
Lalu Haris tersenyum manis dan melepas kan dekapan tangan nya dari mulut Cindi.
"Dah sana mandi!." Suruh Haris pada Cindi gadis kecil nya.
"Tapi Gua pakai baju apa habis mandi? Gua kagak bawa baju loh." Kata Cindi menatap Haris dengan tatapan polos nya.
__ADS_1
Haris mengacak rambut Cindi yang berantakan menjadi tambah tak karuan.
"Tunggu sini bentar, Gua ambilin dulu baju Lo." Kata Haris sambil terkekeh pelan melihat muka cemberut Cindi karena rambut nya di buat berantakan oleh tangan Haris.
Haris pergi dari kamar nya entah mau ke mana, Cindi tak tahu.
Di luar kamar.
Haris celinguk kan mencari keberadaan asisten Dimas.
"Dimas?." Panggil Haris sedikit keras, suara nya meng udara ke seluruh rumah.
Dimas yang duduk di balkon samping rumah berjalan cepat menuju Tuan Muda nya.
"Ada apa Tuan?." Tanya Dimas setelah sampai di depan Haris.
"Mana barang yang sudah ku suruh beli tadi?." Tanya Haris.
"Ouh barang itu ada di ruangan kerja anda Tuan Muda." Jawab Dimas sopan sambil menunjuk ke arah ruang kerja Haris.
"Apa kau beli dan pilih sendiri barang-barang itu?." Tanya Haris sambil memicing kan mata nya tajam.
"Tentu saja tidak Tuan Muda, saya pergi dengan pelayan yang membantu Nona Muda berganti baju tadi, dia yang memilih semua keperluan Nona Muda Cindi." Jawaban yang di berikan Dimas membuat Haris menghembus kan nafas lega.
"Ouh iya kau pergi lah ke rumah Papa Cindi jalan xxxx nomor xxxx di perumahan xxxx rumah pagar rendah berwarna putih." Terang Haris pada alamat rumah Cindi pada asisten pribadi nya ini.
"Saya melakukan apa di sana Tuan?." Tanya asisten pribadi Haris.
"Bilang sama Tuan rumah nya, ambil seragam Nona Muda Cindi, mereka pasti paham maksud nya." Suruh Haris pada Dimas.
"Baik Tuan laksanakan." Jawab Dimas sopan dengan menunduk kan kepala hormat.
"Hmmm... aku pergi ke dalam kamar dulu, siap kan makan malam nanti dengan menu istimewa." Pesan Haris pada Dimas.
Sekali lagi Dimas menjawab nya dengan anggukan kepala paham.
Haris pergi kembali ke dalam kamar dan Dimas melaksana kan perintah Haris Tuan Muda nya.
Di dalam kamar.
Haris melihat sesosok gadis mungil berdiri di jendela besar penghubung balkon, gadis itu memperlihat kan kaki kecil nya yang putih mulus tanpa alas kaki.
Haris cowok normal, pria normal mana yang tahan mendapat kan godaan seperti itu? Jika tidak mengingat almarhum sang Ibu, sudah di pasti kan kalau Cindi sudah habis di garap Haris, mungkin juga sekarang mereka masih main ada di atas ranjang.
Melihat kaki mungil Cindi yang terpampang nyata itu membuat Haris segera menggeleng-geleng kan menyadar kan pikiran dan hati nya.
"Bocil? Ngapain Lu?." Tanya Haris sambil berjalan menghampiri Cindi.
Sebelum menghampiri Cindi, pemuda itu meletak kan beberapa paper bag ke atas ranjang.
Kemudian pria itu kembali menghampiri Cindi dan memeluk Cindi erat dari belakang. Haris bahwa menumpu dagu nya di pundak Cindi.
"Kamar Lu deket ama taman, seneng aja Gua liatnya." Kata Cindi sambil tersenyum bahagia.
"Itu Gua buat untuk almarhum Mama, beliau juga seneng banget ama yang nama nya bunga dan taman." Jawab Haris kembali mengingat sang Ibunda.
"Maaf." Ucap Cindi tak enak hati karena telah mengingat kan Haris pada Ibunda nya.
"Kagak ngapa, sans ajalah." Kata Haris dengan menatap wajah Cindi dari samping.
"Terus? Papa Bang Haris ada dimana sekarang?." Tanya Cindi penasaran.
"Jauh, luar Jakarta tentu saja." Jawab Haris tak mau membahas sang Ayah. Terlihat dari dia yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan seputar Ayah nya.
Cindi tau itu, dia pun hanya membalas nya dengan anggukan kepala paham. Lalu Cindi memilih membahas hal-hal lainnya yang lebih seru.
"Bang? Besok masih sekolah kan kita? Seragam sekolah Gua gimana?." Tanya Cindi dengan tatapan polos nya.
"Tenang aja santai Baby asisten ku lagi ambek baju seragam kamu di rumah kamu, dah sekarang masuk kamar mandi terus mandi , habis tu kita sholat ashar jamaah." Perintah Haris sambil mendorong halus Cindi agar masuk ke dalam kamar mandi.
"Baju Gua mana?." Tanya Cindi sambil menoleh ke belakang.
"Tuh diatas ranjang." Jawab Haris melirik ke arah ranjang menunjuk beberapa paper bag.
"Itu yang beliin siapa?." Tanya Cindi pelan dengan suara rendah.
"Asisten aku, tapi yang pilihin pelayan wanita yang tadi membantu kamu ganti baju, tenang aja, aku masih punya dan paham batasan diantara kita, aku ngga akan macam-macam sama kamu, kecuali... kalo kamu mau di macam-macamin, hahaha... ." Tawa Haris pecah menertawa kan omongan nya sendiri.
Cindi hanya mendengus kesal mendengar tawa Haris.
"Mana ada cewek yang mau di macam-macamin?! Ngaco banget sih Bang pikiran Lu?! Gila emang! Dah kagak bener nih otak Lu!." Seru Cindi sambil memukul lengan Haris.
"Ada tau cewek yang mau dimacam-macamin." Kata Haris serius.
"Siapa?." Tanya Cindi ikut serius.
"Itu yang ada diclup malem, pake baju kurang bahan." Kata Haris dengan mengarah kan tatapan mata nya kearah luar.
"Ck! Kalo yang itu beda lagi, mereka kan di jual dan menjual." Balas Cindi menjelas kan perempuan yang ada di clup malam.
"Hmmm... ." Balas Haris hanya bergumam tak mau berbicara panjang.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung... .
Lanjut besok ya readers tersayang ku, tercinta ku, wkwkwk😁.
Like & komennya ditunggu ya guys... .
Maaf ngga nyambung😢🙏.
Maaf kalo garing😢🙏.
Maaf typo di mana-mana🙏😢.
Maaf banget kalo makin hari ceritaku makin ngga menarik.
Maaf cerita nya membosan kan😢.
Maaf gantung cerita nya😂.
Di lanjut besok ya readers😂.
Jangan marah karena di gantung yak guys😂.
Saya penulis yang masih pemula dan amatiran mohon memaklumi kalo banyak kekurangan nya yah🙏😊.
Jaga kesehatan selalu readers.
Salam sayang dari ViCa😍.
__ADS_1